Seri Larut Dalam Cantiknya Bumi Flobamora : Flores dan Timor Barat (3)
By Alex Anindito • Jun 21st, 2008 • Category: Indonesia, Kota - Kota, Petualangan
Episode Still enchanted by the light you brought to me
Hari ke tiga. Senin, 19 Mei 2008. Moni – Kelimutu – Jopu – Nggela – Moni
Hari ini kita mulai dini hari lagi, saya sudah terbangun jam 03.00 dan tidak bisa tidur lagi padahal kemarin baru tidur jam 23.00. Walaupun hanya 4 jam tapi tidur saya nyenyak sekali. Ternyata Tegar juga kebangun dan siap-siap buat sholat. Hari ini kita akan dijemput jam 05.00 dengan tujuan melihat sun rise di Kelimutu. Sambil menunggu yang lain bangun, saya memasak air untuk bikin teh dan susu.
Satu persatu teman-teman bangun dan kamipun siap-siap untuk berangkat. Perlengkapan anti dingin sudah pasti dikenakan. Untuk perjalanan ini saya membawa perlengkapan mulai untuk udara dingin, untuk di pantai sampai untuk bawah air dan di atas air. Perlengkapan di atas air adalah pelampung. He…he..he… iya saya tergabung dalam anggota Jakarta Unswimming Club (JUC).
Perjajian dengan Pak Mat, yang akan menjemput kita, dilakukan lewat Andre.Kebetulan kemarin ketemu Andre dan dia menawarkan untuk mengantarkan ke Kelimutu. Biaya per orang Rp 50.000,- tapi karena kita berencana lanjut dari Kelimutu ke Desa Jopu dan Desa Nggela kita minta borongan saja. Disepakati harga Rp 450.000,- dengan perjanjian antar ke Kelimutu dan dilanjutkan jalan ke Jopu dan Nggela.
Kita tunggu sampai jam 04.45, Pak Mat belum juga datang menjemput. Coba telepon beberapa kali tidak diangkat juga. Wah…. jangan sampai kejadian kemarin pagi terulang lagi. Coba terus telepon akhirnya diangkat dan dalam lima menit Pak Mat sudah sampai di Sao Ria.
Perjalanan sejauh empat belas kilometer dari Sao Ria sampai di tempat parkir Kelimutu ditempuh dalam waktu sekitar tiga puluh menit. Turun di tempat parkir kita melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki langsung kearah kawah. Kurang lebih sepuluh menit, sampailah kami di tepi kawah dan di depan kami Tiwu Ata Polo, danau berwarna hitam, danau untuk tempat arwah orang jahat.
Rona jingga dan kuning sudah mulai muncul di balik gunung, kita duduk di pinggir kawah sambil foto-foto. Satu persatu teman-teman pindah tempat mencari lokasi memotret yang bagus. Dari tempat kami ini juga terlihat Danau Tiwu Nua Muri Koo Fai, danau berwarna hijau, danau untuk arwah orang muda yang baik.
Langit makin terang dengan pancaran warna yang menakjubkan. Dua danau kawah ini dengan latar belakang cahaya matahari terbit. Harus ada di sana untuk bisa merasakan keindahannya, saya tidak mampu merangkai kata karena keterbatasan perbendahaan kata-kata yang dapat menggambarkan keindahan Kelimutu dengan matahari terbit. I’m still enchanted by the light you brought to me.
Matahari mulai keluar dan ternyata Tegar dan Marni sudah sampai di tempat pemandangan tertinggi. Rupanya mereka dikasih tahu bapak penjual kopi kalo kita mau melihat semua danau langsung ke sana. Kita salah tadi, kok datang-datang langsung ke Danau tempat arwah orang jahat. He….he….he…..

Kurang dari lima belas menit sampailah kami di tempat pemandangan tertinggi. Danau ketiga, Tiwu Ata Mbupu, danau tempat arwah orang tua baik terletak di Barat dari tempat kami berdiri. Sementara dua danau lainnya ada di sisi Timur, bayangan saya tadi waktu kita menuju tempat pemandangan ini kita akan bisa melihat tiga danau ini dalam satu rangkaian. Ternyata tempat kami berdiri ini berada di tengah-tengah antara Danau Tiwu Ata Mbupu dan dua danau lainnya.
Jarum jam menunjukkan pukul 06.20, kabut mulai turun perlahan menutupi danau Kelimutu. Saya nikmati dinginnya udara sambil menghirup teh hangat. Jam 07.00 kabut terangkat dan matahari cerah menggantikan. Dimulailah sesi foto-foto, mulai foto diri sendiri tanpa bantuan orang lain, foto diri sendiri dengan bantuan orang lain, group foto tanpa tripod, group foto dengan tripod, foto panorama sampai foto loncat. Jam 09.00 baru kita turun ke tempat parkir, seharusnya kita lebih lama lagi di Danau Kelimutu, kurang empat jam untuk menikmati keindahan warna-warna.
Sampai di tempat parkir kita lihat-lihat penjual kain. Setelah puas melihat-lihat dan belanja perjalanan dilanjutkan ke Sao Ria. Pak Mat akan menjemput kami kembali jam 12.00 untuk perjalanan ke Desa Jopu dan Desa Nggela. Malas ke Restaurant Kelimutu untuk sarapan, Jufe langsung masak mie. Jufe ini penggemar Tabasco, semua masakan kalau diberi Tabasco jadi enak katanya. He…he…he…. Titipan Tabasco dari Jakarta langsung digunakan khusus buat mie Jufe saja karena yang lain menolak mentah-mentah.
Jam 11.45, Pak Mat datang menjemput. Perjalanan dimulai dengan alunan Bob Marley yang keluar dari tape mobil Pak Mat. Pak Mat sebenarnya nggak jauh beda usia dengan kami, tapi karena biasa memanggil pak jadi keterusan. Selera musik Pak Mat sangat cocok dengan kita. Koleksi lagu di handphone-nya yang diputar di tape mobil mengisi perjalanan ini. Dari Moni kita lewat jalan tembus ke Jopu jadi tidak perlu ke Wolowaru dulu. Jopu adalah desa tradisional dengan satu rumah adat yang menjadi pusat kegiatan ketika ada upacara. Kita masuk ke dalam rumah ditemani Ibu Maria yang menjelaskan secara detail dan menarik informasi tentang Jopu dan adat istiadat masyarakat setempat.
Kurang lebih satu jam kami berada di Desa Jopu ini. Selain mendengarkan cerita Ibu Maria kami melihat-lihat rumah adat dengan pondasi batu di sudut-sudut yang menopang struktur bangunan dan deretan tenunan yang dijemur.
Perjalanan selanjutnya ke Desa Nggela ada titipan dari Jakarta yang harus disampaikan di Nggela. Teman saya, Yuni, bapaknya asli dari Nggela tapi Yuni sendiri belum pernah ke Nggela. Titipan untuk saudaranya di Nggela terbungkus dalam kertas kado, selain itu saya juga membawa video message untuk saudaranya, Maria Leroux Sare. Perkiraan lama perjalanan kurang lebih satu jam dari Jopu sampai ke Nggela Sampai di Wolojita, 7 km sebelum Nggela, kami bertemu dengan rombongan SMPN Wolojita yang menang kejuaraan Orkes Suling Bambu Tingkat Propinsi. Penyambutan sang juara sangat meriah, tetua adat, perangkat desa menunggu di tengah jalan dipagari oleh penari-penari. Tim juara turun dari bis dan tepuk tangan membahana, musik makin kencang dan anak-anak itu banyak yang tersenyum malu. Tidak pernah saya melihat di Jakarta ungkapan penghargaan yang sangat meriah untuk sang juara . Kami berhenti cukup lama di sini.
Kondisi jalan antar Wolojita sampai di Nggela cukup aduhai, mendekati Nggela terlihat laut gradasi dari biru muda hingga biru tua dan di sebuah tanjung di tengah rimbunan pepohonan terbentang Nggela.
Sampai Nggela saya mencari Rumah Pak Yan Peke Pora ternyata beliau sedang sakit dan Ibu Maria Leroux Sare juga tidak ada ditempat. Kami hanya sebentar saja untuk menyerahkan titipan dari Jakarta.
Pamit dari rumah Pak Yan kami jalan-jalan di Nggela. Deretan rumah adat dengan makam batu di tengah-tengah pusat desa. Penduduk Nggela menawarkan kain tenunan mereka dengan agresif. Saya merasa terganggu dengan cara mereka dan memutuskan untuk keluar dari pusat desa kembali ke lapangan bola. Tidak lama kami berada di Desa Nggela.
Pulang dari Nggela kami makan siang di Wolowaru, 19 km dari Nggela. Nasi campur Jawa Timur. He…he…he… dengar nama Wolowaru aja saya belum ada 3 bulan tapi Jawa Timuran sudah ada disini. Mana masakan lokal ? Saya ingin sekali mencicipi masakan lokal.
Makan malam nanti, Pak Mat mengajak makan di tempat kerja Andre, Arwanty Cottages di Desa Moni. Arwanty Restaurant suasananya enak, bersama kita ada tiga orang Perancis yang makan juga. Tadi siang saya pesan moke muda, bukan moke tua yang kalo dibakar bisa menyala. Rasanya seperti jus. “Minuman bayi itu”, kata Pak Mat.
Pak Mat menuang Moke di atas meja dan langsung dibakar dengan korek api, nyala. Bayangin cairan kaya gitu yang akan ada diperut. “Tidak, ini dicampur dengan sprite nanti seperti Tequilla”, Pak Mat melanjutkan sambil menuang sprite dan moke dengan perbandingan 1:1 kemudian melumeri ujung gelas dengan garam dan mengucuri jeruk nipis. Saya coba dan rasanya menurut saya 100% sama seperti Jose Cuervo. Cuman masalahnya saya tidak tahu standar pembuatan dan efek lanjutannya cukup sekedar mencicipi saja tidak sampai menghabiskan satu botol.
Sambil minum, Pak Mat minta transfer lagu dari handphone saya, dia bilang lagu-lagu yang ada di handphone-nya juga beberapa dapat dari tamu, sebelumnya dia sudah dapat dari Marni. Bluetooth dinyalakan dan terdeteksi nama Moni Boyz taklama beberapa lagu ter-copy di Moni.
Selesai makan dilajutkan dengan studi banding Jai Timor dan Jai Flores. Jai adalah tarian yang biasa dimainkan dalam setiap acara. Jai di Moni ini dimainkan dengan musik dari Bajawa. Terdapat beberapa perbedaan antara Jai Timor yang diperagakan oleh Tegar dan Marni dan Jai Flores tapi dasar gerakannya masih sama.
Perut kenyang, hati senang, kita pamit pulang.
And I’m still enchanted by the light you brought to me.
(Stuck In A Moment dari album Stuck in a Moment You Can’t Get Out Of, U2, 2001).

Biaya :
Carter Moni – Kelimutu – Jopu – Nggela – Moni : Rp 450.000,- (untuk 5 orang)
Tiket masuk Kelimutu : Rp 20.000,- (termasuk mobil untuk 5 orang)
Makan pagi : masak mie
Donasi Jopu : Rp 50.000,-
Makan siang di Wolowaru : Rp 10.000,-
Moke muda : Rp 5.000,-
Makan malam di Arwanty, Spaghetti Bologna extra cheese : Rp 24.000,-
Contact :
Andre : 0813-394463247
Pak Mat (Moni Boyz) 0813-53895176
Alex Anindito is
Email this author | All posts by Alex Anindito



