Seri Larut Dalam Cantiknya Bumi Flobamora : Flores dan Timor Barat

Custom Search

By Alex Anindito • Jun 14th, 2008 • Category: Indonesia, Kota - Kota, Petualangan

Episode : Dream beneath a desert sky in god’s country.

Langit biru luas dengan sedikit cumulus yang terapung di atas barisan bukit-bukit gersang kecoklatan di pulau-pulau antara Labuan Bajo sampai ke Pulau Komodo sempat menjadi mimpi yang tidak tahu kapan akan terwujud.
Sabtu, 17 Mei 2008 awal perjalanan mewujudkan salah satu mimpi perjalanan saya. Jam 12.35, Mandala RI 208 yang membawa Bitha dan saya mendarat mulus di Bandara El Tari, Kupang. Perjalanan selama empat setengah jam dengan transit di Surabaya membawa kami sampai di Pulau Timor. Selamat Datang di Kupang.

Mana ya panitia lokal yang akan jemput kita di bandara ? He…he…he… setelah telepon-teleponan akhirnya kita naik taxi menuju ke kost Jufe. Jufe datang tergopoh-gopoh menyambut kami, sedang banyak urusan sepertinya teman saya yang satu ini sehingga tidak sempat menjemput ke bandara.

Tidak lama datang satu lagi teman saya, Arief Ridwan a.k.a Tegar, dia berangkat naik motor jam 04.00 tadi dari Atambua dan setelah delapan jam di atas jok motor sampailah dia di kost Jufe. Anak Cibinong yang sedang merantau di Atambua ini teman baru saya, baru 13 tahun kita berteman. Lihat cengiran dan ketawanya membuat saya teringat banyak cerita yang berhubungan sama ke-semelekete-annya. Hampir komplit tim kami, tinggal tunggu Marni yang masih ada pelatihan di Kupang dan dia baru akan bergabung besok pagi di airport.

Kita makan siang di warung dekat kost Jufe. Saya pilih makan ikan, ikan kerapu goreng dengan banyak sayuran dan sedikit sambal. Nikmat sekali makan siang saya. Selesai makan Jufe mencari pinjaman satu motor lagi. Sore ini kita mau jalan-jalan ke Pantai Rumah Tujuh dan Pantai Kepala Satu.

Pantai Rumah Tujuh sekitar setengah jam perjalanan dari Kota Kupang. Wahhhhh kaya Jurassic Park he….he….he…. kaya pernah aja. Pohon-pohon lontar berjajar di bukit gersang di atas pantai, beberapa minggu sebelumnya Jufe bilang untuk masuk ke tempat ini masih tumbuh ilalang setinggi satu meteran yang menutupi seluruh bukit. Kiri kanan kita adalah pagar ilalang kalau kita datang dua minggu lalu.

Matahari belum lagi mau tenggelam tapi karena kita ingin berenang dan menikmati senja di Pantai Kelapa Satu kitapun pindah. Nggak jauh kok letaknya hanya sekitar 5 menit naik motor. Sedang surut sore ini, kalau pagi airnya bisa naik sampe 3 meter dan sampai di ujung tebing. Kita turun tebing untuk menuju ke pantai. Ganti seragam berenang langsung nyebur….. segar banget menghilangkan debu dan kotoran Jakarta. Lupa juga tadi pagi mandi nggak sih di rumah ? Kok pliket banget rasanya. Airnya dangkal bahkan sampai 200 meter ketengah kedalaman masih berkisar sekitar 1 meteran.

Saya mentas duluan dan dan naik ke tebing menunggu teman-teman selesai snorkelling dan berenang. Matahari tenggelam di balik bukit di pulau seberang. Ini sunset saya pertama di luar Jakarta setelah lebih dari enam bulan lalu bisa menikmati di Belitung.

Pelan-pelan bola hydrogen itu hilang di balik bukit menyisakan warna kuning dan orange. Kita tunggu sampai benar-benar hilang baru kita pamit dari Pantai Kepala Satu.

Tongkrongan berikutnya adalah Pantai Selam, Kupang. Tegar ada titipan dari Atambua yang harus diserahkan kepada sanak keluarga Ibu Kost-nya di Kupang. Tempat ini seperti pusat pergaulan, banyak anak muda jalan-jalan dan berbincang-bincang di sini. Saya nemu jajan favorit. Kacang rebus, tapi kok kacangnya kecil-kecil ya ? Bukannya harusnya ukuran jumbo isi tiga kalo di sini.

Makan malam kita ke daerah Tode, kalau siang ini jalan raya dan malam jadi tampat makan. Mau nyari makanan lokal tapi susah banget. Isinya nasi goreng, mie goreng, pecel lele atau bakso. Nemu satu tempat yang jualan Jagung Bose, nyobain ah.

Rasanya agak hambar, presentasinya seperti bubur kacang hijau tapi ini jagung pipilan yang berkuah. Jangan harap ini jagung manis ini jagung Timor yang rada keras untung setelah diolah jadi agak bisa dikunyah. Jagung Bose ini dimakan dengan lawar isinya teri mentah dikasih bawang. Kali ini pertama juga saya makan sambel Timor yang terkenal. Karena saya nggak suka pedas cukup dikit aja sekedar ingin mencoba. Jufe bilang,”Pedas, itu sambal. Tapi enak.”. Saya ambil sejumput kecil dan mencampur dengan ikan bakar. “Kok nggak pedes sih ?, biasa aja”kata ku sambil mengunyah. Jangan sombong dulu om, nggak lama langit-langit mulut memanas dan rasa pedas langsung menusuk ke kepala. Ampun…. air putih kemasan langsung habis dan minta tambah teh tawar hangat. Ampun… Saya lebih suka masakan pahit daripada pedas, masakan kalo sudah ada unsur pedasnya hilang rasa aslinya. He..he..he.. pembenaran aja buat orang yang tidak suka pedas.

Kembali ke kost Jufe sambil memutari kota Kupang yang agak gelap gulita, penerangan jalan kurang sepertinya. Mandi dan packing persiapan untuk besok berangkat pagi hari. Pesawat kita terjadwal terbang jam 06.00 WITA.

Sleep comes like a drug
In God’s Country

(In God’s Country dari album The Joshua Tree, U2, 1987)

Biaya :

Mandala : Jakarta – Kupang : Rp 622. 800,-

Airport Tax : Rp 30.000,-

Taxi ke Kost Jufe : Rp 50.000,- (untuk 2 orang)

Makan siang : Rp 15.000,-

Motor : Tegar dan Jufe

Pantai Rumah Tujuh dan Pantai Kelapa Satu : bebas biaya

Makan malam : Rp 15.000,-

Tagged as: , , , , , , ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.