Derawan via Darat

Custom Search

By bonang aditya • Aug 12th, 2008 • Category: Cerita Perjalanan, Wisata

Perjalanan ke pulau kalimantan selalu mempunya banyak cerita. Untuk ke dua kalinya saya dan seorang teman pergi ke kalimantan, tepatnya kalimantan timur. Perjalanan kesana sebenarnya untuk melakukan sebuah penelitian, tepatnya mencoba mencari data-data untuk keperluan skripsi pada sebuah perusahan batu bara di sangatta, Kutai Timur, Kaltim kira-kira selama 1 minggu dan 1 minggu lagi untuk jalan-jalan ke Pulau Derawan.

Hari itu 7 juli 2008, aku pergi dari bandung jam 02:00 pagi menuju bandara Soekarno-Hatta, lumayan lah tidak begitu terasa dengan menggunakan bus Primajasa perjalanan sekitar 3 jam pada subuh, karena saya sudah terbiasa. Akhirnya sekitar jam 05:30 sampai di bandara, setelah menunggu beberapa saat akhirnya kami chek-in dan menunggu beberapa saat untuk masuk ke pesawat. Pada jam 06:30 akhirnya kami pergi meninggalkan jakarta.

Perjalanan menggunakan pesawat jakarta – balikpapan sekitar 2,5 jam, cukup cepat lah bagi kami yang biasa menggunakan jalan darat, dan akhirnya kami tiba di Balikpapan sekitar jam 10 karena adanya perbedaan waktu 1 jam antara indonesia barat dan indonesia tengah. Setibanya di Balikpapan kami memutuskan untuk menghampiri seorang teman yang kebetulan sedang berada di Kaltim untuk bertanding di PON di jalan Sudirman Balikpapan dekat Balikpapan Plaza untuk beristirahat sejenak karena cuaca Balikpapan yang lumayan panas dibandingkan dengan Bandung. Dari Bandara Sepinggan kami naik angkot dengan no trayek 07 sampai pasar manggar (kalo ga salah) terus lanjut dengan angkot 06 menuju Balikpapan Plaza, awalnya cukup kaget juga sih karena ongkos disana jauh-dekat Rp 3.000. Disana kami bertemu dan kami beristirahat untuk melanjutkan perjalanan ke Sangatta pada sore harinya. Lumayan lah bisa dapat kamar AC gratis untuk tidur siang.

Sore harinya kami meneruskan perjalanan ke Sangatta menggunakan travel, kami memilih naik travel karena lumayan nyaman dan bisa diantar sampai tempat tujuan, kami memilih travel karena tidak ada bus yang langsung ke Sangatta dari Balikpapan sehingga kami harus transit dulu di Samarinda untuk kemudian melanjutkan ke Sangatta. Travel tersebut menggunakan kijang inova dengan biaya 125 ribu, dan kami di jemput di tempat kami istirahat. Kami pun mulai berangkat jam 7 malam, setelah menjemput beberapa penumpang lain yang rata-rata orang-orang yang bekerja di Sangatta dan sekitarnya. Dari Balikpapan bersama 2 orang penumpang lain kami memulai perjalanan, jadi hanya ada 5 orang di dalam mobil cukup nyaman kan?. Perjalanan antara Balikpapan-Samarinda cukup nyaman dengan jalan yang sangat mulus dengan jalan yang naik turun ketika melewati wilayah bukit suharto yang rindang bila siang hari karena tertutupi pohon-pohon dan cukup terang pada malam hari karena adanya lampu disepanjang jalan. Kami sampai di samarinda sekitar jam 9:30 malam, suasana kota yang cukup ramai karena pada saat itu sedang berlangsung PON Kaltim.

Di Samarinda kami menjemput dua orang lain, perjalanan kami ke Sangatta pun menjadi 7 orang. Jalan ke Sangatta dari Samarinda melalui jalan poros Samarinda-Bontang dengan jalan yang cukup mulus walau cukup bergelombang dan kadang banyak terdapat lubang. Perjalanan yang cukup melelahkan karena mobil sering bergoyang untuk menghindari lubang ketika melaju dengan kecepatan tinggi. Satu jam setelah melewati Samarinda akhirnya mobil memutuskan untuk beristirahat dan makan malam karena dari Balikpapan kami belum berhenti untuk istirahat. Kami berhenti di jalan poros Samarinda-Bontang pada sebuah rumah makan dimana Travel biasa berhenti (duh lupa daerahnya).

Kami pun beristirahat sekitar 1 jam untuk makan dan meluruskan punggung yang pegal karena hampir 5 jam duduk, dan ini hampir dilakukan oleh seluruh penumpang yang terlihat kecapaian.

Kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan menuju Sangatta sangat melelahkan dan jalan setelah pertigaan Samarinda-Bontang-Sangatta itu rusak parah karena banyak di lewati kendaraan besar sarat dengan muatan. Kondisi jalan yang rusak parah tersebut membuat kami yang di dalam mobil tidak bisa tidur dan harus menahan goncangan kadang rem mendadak. Perjalanan Samarinda-Sangatta yang memakan waktu kurang-lebih 5 jam kami rasa sangat menyiksa. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat kembali di daerah sangkimah untuk membuang kantuk dan rasa pegal sekitar setengah jam. Setelah badan terasa enak, kami pun melanjutkan perjalanan dengan kondisi jalan yang rusak parah.

Jalan poros Sangatta-Bontang yang membelah kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) ini terlihat sungguh tragis, dimana kawasan TNK yang terlihat sepanjang jalan hanya tinggal semak belukar akibat pembukan lahan dan ilegal logging oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Sekitar jam 02:30 akhirnya kami masuk wilayah Sangatta, setelah melakukan perjalanan sekitar 8 jam. Kami pun sampai dengan kondisi sangat melelahkan.

Kami tinggal di Sangatta selama 2 minggu dan memutuskan untuk beristirahat selama 2 hari sebelum melanjutkan penelitian dan mengurus segala keperluan perizinan. Akhirnya pada tanggal 14 juli kami pergi ke Rantau Pulung, sebuah kecamatan yang bersebelahan langsung dengan lokasi penambang batu bara di perusahaan tempat saya melakukan penelitian. Perjalanan ke Rantau Pulung memakan waktu sekitar 3 jam melalui jalan trans kalimantan ke arah Muara Wahau atau Bengalon. Kondisi jalan tidak jauh berbeda dengan jalan poros Sangatta-Bontang yang rusak parah. Sesampainya di daerah Km 110, kami berbelok menuju Rantau Pulung dengan kondisi jalan tanah merah yang bila hujan hampir tak mungkin bisa dilewati oleh kendaraan biasa.

Saya disana selama 4 hari dan tinggal di kantor perusahaan tersebut. Kondisi daerah Rantau Pulung yang merupakan daerah trasmigran dengan kondisi yang serba terbatas. Daerah tersebut direncanakan menjadi daerah agrobisnis dengan produk andalan jeruk dan sawit. Pada 17 juli saya kembali ke Sangatta bersama Pa Sugeng, kordinator community development wilayah Rantau Pulung pada perusahan batu bara tempat saya melakukan penelitian. Kali ini kamu kembali ke Sangatta tidak melewati jalan tras kalimantan tetapi malalui jalan logging diantara tambang dan TNK. Jalan tersebut merupakan jalan yang dimiliki sebuah perusahaan kayu dengan kondisi jalan yang berlumpur. Jalan tersebut mungkin lebih cocok bila dibilang jalan offroad karena sangat licin dan banyak kubangan lumpur, tapi untungnya kami memakai mobil jenis petualang yaitu Strada, jadi ga perlu takut dan khawatir dengan kondisi jalan yang seperti itu. Akhirnya kami sampai Sangatta setelah offroad hampir 2 jam.

Setelah selesai melakukan penelitian dan kami pun beristirahat selama 3 hari dan berencana melakukan refreshing ke Pulau Derawan, dan kami pun mencari informasi mengenai trasportasi kesana. Akhirnya kami memilih kendaraan kesana berupa travel seperti waktu kami dari Balikpapan dengan pertimbangan kenyamanan dan lamanya waktu tempuh diperjalanan.

Akhirnya pada senin sore tanggal 27, kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Redeb yaitu Ibu Kota Kab Berau dengan menggunakan kijang. Kami berangkat dari Sangatta, biaya dari Sangatta-Tnjg Redeb (Berau) mengunakan travel 200 ribu/orang sedangkan bila mengunakan bus 125-150 ribu/orang. Untuk bekal diperjalanan kami pun harus membeli segala keperluan seperti air dan cemilan karena sangat sulit untuk menemukan tempat peristirahatan.

Akhirnya jam 7 kamu pun mulai berangkat, jalan yang kami lalui sama seperti waktu kami ke Rantau Pulung dan terus ke Kuara Wahau. Perjalanan malam yang sepi itu sangat menyiksa, hanya bis-bis ¾ yang bisa melaju kencang dengan menghajar lubang tentunya. Sepanjang jalan kami hanya bisa melihat gelapnya malam. Setelah kira-kira 5 jam perjalanan akhirnya kami pun tiba di Muara Wahau, yaitu sebuah kecamatan yang cukup besar dan agak ramai. Di Wahau kami berhenti untuk makan malam dan membeli bensin eceran, karena satu-satunya pom bensin sebelum Wahau sudah tutup saat kami melintas sekitar jam 11 malam dan tidak ada pom bensin lagi di sepanjang parjalanan ke Berau. Kami pun melintasi berbagai macam jalan, mulai dari jalan aspal yang rusak dimana-mana sampai jalan tanah atau batu yang baru dikeraskan. Dalam perjalanan kami pun tertidur karena tak kuat menahan kantuk dan lelah. Entah berapa lama kami tidur bangun tidur bangun mengharapkan segera sampai. Akhirnya sekitar jam setengah 5 pagi kami sampai di kelay sebuah kecamatan di Berau untuk beristirahat. Kami beristirahat di sebuah rumah makan tepat di sisi sungai kelay yang cukup besar dengan pemandangan yang cukup indah. Setelah istirahat selama ½ jam dan badan cukup segar, kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan kali ini lumayan nyaman dengan jalan aspal membelah hutan sepanjang + 30 Km. Ketika memasuki daerah hutan produksi jalan aspal pun berakhir, kami harus kembali melewati jalan tanah+batu yang sedang dalam proses pengerasan sepanjang + 40 Km, cukup menyiksa karena mobil kami sempat terjebak dalam kubangan lumpur! Kami pun bersama seluruh penumpang terpaksa harus mendorong mobil agar biasa keluar dari genangan lumpur. Seluruh penumpang pun kotor akibat lumpur ketika mendorong mobil, untungnya kami bisa melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami pun masuk daerah Labanan sekitar jam 9an, dimana jalan sudah kembali beraspal mulus karena baru saja di hot mix. Jalan yang mulus tentu saja mobil yang kami tumpangi bisa berjalan dengan cepat. Pada jam 10 kami pun sampai Tnjg Redeb dengan pemandangan jalan yang ada disisi sungai, cukup indah. Kami pun turun di pelabuhan Tjng Redeb dan coba mencari boat ke derawan, tetapi kami kesulitan mencari informasi. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari masjid untuk membersihkan badan, akibat mendorong mobil sambil mencari info. Di masjid pun kami bertemu dengan penjaga masjid yang memberitahu kalo kederawan lebih mudah bila ke Tanjung Batu dulu, karena disana merupakan pelabuhan terdekat yang biasa di pakai menyebrang ke pulau Derawa dan sekitarnya. Setelah beristirahat sekitar 1 jam di mesjid, kami pun berjalan menuju terminal bis dengan cuaca yang sangat panas. Kami pun memilih untuk berjalan ke terminal sambil melihat kota.

Sesampainya di terminal ternyata angkutan ke Tanjung Batu tidak ada kami pun harus menunggu dengan tidak pasti dengan para calo yang cukup membuat kami khawatir. Dengan alasan tidak ada penumpang lain para calo menawari kami untuk mencarter angkutan tersebut sebesar 250 ribu. Wow angka yang cukup fantastis bagi kami. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya kami pun bertemu dengan 2 penumpang lain, sambil menunggu angkutan. Setelah menunggu + ½ jam akhirnya angkutan ke Tanjung Batu pun datang, angkutan tersebut tidak akan berangkat bila penumpang kurang dari 5 orang dengan alasan biaya bensin yang cukup mahal (tentu saja di Tanjung Redeb untuk membeli bensin di pom Pertamina harus antri seharian dan bila beli eceran harga per liter nya 10 ribu, apalagi angkutannya mengunakan Kijang inova). Tak lama setelah itu datanglah sepasang wisatawan asal Prancis yang dengan tujuan Derawan juga, dan kami pun berangkat. Ongkos ke Tnjng Batu-Tnjng Redeb sebenarnya 50 ribu/orang, tetapi karena adanya calo mau ga mau kami semua harus bayar 70 ribu/orang. Perjalanan ke Tnjng Batu membutuhkan waktu sekitar 2 jam dengan jalan aspal yang mulus dan berkelok-kelok (mungkin karena PON, jalannya sangat mulus?). Sesampainya di pelabuhan Tnjg Batu, kami diantar sampai dermaga. Di dermaga kami langsung mencarter speedboat, harga sekali jalan 300 ribu, bila naik per orangnya sekitar 50 tapi harus nunggu penumpang lain yang tidak tentu darangnya. Untungnya kami berempat dengan 2 turis asal Prancis jadi bisa patungan boat agar lebih murah, satu boat bisa memuat 4-6 orang. Perjalanan ke Derawan dari Tnjg Batu memakan waktu sekitar 15- 20 menit.

Setelah lumayan terguncang di boat akhirnya kami ber4 sampai di Derawan jam 3 sore. Begitu sampai kami langsung mencari penginapan, tentunya yang murah dan cukup nyaman. Sambil berjalan menyusuri perumahan penduduk, kami pun menemukan penginapan yang cukup nyaman dan murah. Nama penginapan tersebut Wisma Danakan, dengan harga kamar 20-150 ribu per malamnya, sebenarnya banyak penginapan serupa dengan harga yang tidak jauh berbeda.

Setelah kami mendapatkan kamar kami langsung jalan-jalan ke pantai untuk bersnorkling sambil melihat penyu di sekitar pantai di sekitar venue PON kemarin, dengan menyewa alat snokrling di tempat penyewaan di tempat kami menginap seharaga 50ribu/hari. Besoknya kami kembali bersnorkling sekitar jam 9 pagi untuk melihat penyu berenang di sekitar penginapan kami yang menjorok ke laut. Malamnya sekitar jam 7-8an kami melihat anak penyu yang menetas hasil dari konservasi WWF yang ada di Pulau Derawan, kemudian kami berlima ditemani seorang petugas WWF menyusuri pantai untuk mencari penyu yang sedang bertelur di sekitar pantai. Pada sekitar jam 11 malam akhirnya kami menemukan penyu yang cukup besar sedang bertelur di pantai, dengan di kelilingi sekitar + 6 orang yang ingin mengambil telur penyu tersebut. Untuk saja kami bersama 3 orang turis, sehingga orang-orang tersebut agak risih dan akhirnya pergi satu persatu.

Proses bertelurnya penyu tersebut cukup lama mulai dari menggali lubang sampai menutup lubang membutuhkan waktu lebih dari tiga jam. Kami menemukannya penyu tersebut ketika hampir selesai bertelur, cukup lama kami mengamatinya sambil penyu tersebut menutup lubang sambil menyamarkan lubang telurnya. Karena terlalu lama dan hari semakain malam, kira-kira jam 1 malam kami pun memutuskan kembali ke penginapan.

Besoknya sorenya, jumat 25 juli kami mencoban untuk bersnorkling untuk melihat terumbu karang yang ada di sekitar pantai. Cukup lumayan indah terumbu karang yang ada di bawah laut, sekitar 2 jam kami mengitari pantai untuk melihat berbagai macam kendahan bawah laut. Cukup melelahkan bagi yang tidak biasa melakukan aktifitas di air, apa lagi ditambah arus yang cukup kencang.

Pada malamnya kami pun merencanakan untuk pulang, bersama 2 orang turis wanita asal Hongaria yang kebetulan akan meneruskan perjalananya ke TNK di sangatta dan kami pun sepakat untuk meninggalkan Derawan keesokan harinya sekitar pukul 1 siang.

Kami meninggalkan Derawan jam satu siang dengan menggunakan Speedboat langsung ke Tjng Redeb dengan harga perboat 700 ribu, hasil kami nego dengan boat man yang bernama Hamka. Ya lumayan lah bisa menikmati perjalanan laut dengan harga yang lumayan murah, apalagi ongkos boat kami bagi 4. Perjalanan dari Derawan ke Tnjg Redeb memakan waktu sekitar 2 jam, di perjalanan kami dapat melihat sisi lain keindahan kalimantan terutama bagian pesisir dan sungai yang menjadi jalan masuk ke Tjng Redeb. Sepajang perjalana kami bisa melihat monyet dan buaya muara yang terdapat di sungai dengan latar belakang hutan mangrove, cukup mengasyikan untuk yang pertama kali melewatinya. Kami pun sampai di pelabuhan Tjng Redeb tepatnya di Jl A. Yani, dengan udara yang panas dan matahari yang sangat terik.

Sesampainya di Tjng Redeb, kami mencari angkutan untuk perjalanan pulang ke Balikpapan. Akhirnya kami memutuskan untuk memilih travel kembali dengan pertimbangan harus mengantar 2 wanita Hongaria tersebut ke Sangatta. Atas bantuan Hamka (boatman) kami pun mendapatkan travel yang kami cari seharga 1.2 juta. Harga tersebut cukup mahal karena kami memilih 1 mobil avanza hanya untuk kami berempat, tentunya dengan pertimbangan didalan kami dapat leluasa di dalam mobil.

Kami pun berangkat dari Tjng Redeb pukul 7 malam, dengan perasaan was-was karena semenjak sore hujan sangat lebat dan khawatir jalan tidak bisa dilewati karena licin. Karena telah melewati jalan tersebut kami tidak terlalu kaget, berbeda dengan orang Hongaria tersebut mereka sangat terkejut. Jalan pun terasa sangat licin dan akhirnya kami pun terjebak dalam kubangan lumpur bersama 3 mobil lain, terpaksa kami bergotong royong untuk mendorong mobil satu persatu. Perjalanan pun dapat kami lanjutkan, akhirnya sekitar jam 12 malam kami beristirahat di daerah Kelay untuk makan malam selama 1 jam dan kembali melanjutkan perjalanan dengan kabut di sepanjang jalan sampai Wahau. Di Wahau kami pun beristirahat jam 3 subuh untuk meluluskan pinggang selama ½ jam dan kembali meneruskan perjalanan, akhirnya kami sampai Sangatta sekitar jam 8 pagi.

Di Sangatta kami mengantar 2 wanita Hongaria tersebut ke daerah Sangatta lama untuk menemui penjaga TNK dan belanja keperluan mereka selama 2 hari disana, setelah itu kami menuju Kampung Kabo salah satu jalan masuk ke TNK melalui sungai sangatta.

Sebagai informasi ke TNK melalui Sangatta mengunakan perahu dari kampung kabo dengan biaya 300 ribu sampai kamp TNK pp, biaya guide 50 ribu sekali jalan, biaya menginap di kamp 50 ribu. Disana kita bisa melihat jalan-jalan melihat taman nasional dan orangutan .

Sekitar jam 11 kami pun untuk melanjutkan perjalanan ke Samarinda, dengan melewati rute yang sama pada waktu pergi. Di Samarinda kami memutuskan untuk langsung ke Balikpapan dengan menambah biaya travel 50 ribu/orang, dan kami pun sampai Balikpapan sekitar jam 5 sore.

Di Balikapapan kami berencana tinggal semalam, karena jadwal pesawat yang kami dapat hari senin tangal 28 jam 6 sore. Kami pun turun di Balikpapan di daerah sekitar pasar manggar, dan kemudian berusaha untuk mencari penginapan untuk semalam. Sembil berjalan dan muter-muter di Balikpapan kami mencari penginapan yang bernama Murni. Kami berjalan menyusuri Jl. A yani dari depan Plaza Balikpapan sampai kedepan hotel Murni, ternyata cukup jauh. Akhirnya kami menemukan hotel Murni di jl A. Yani daerah dekat tugu Adipura.

Biaya menginap semalan disana cukup murah, yaitu 80 ribu/kamar untuk 2 orang. Dengan fasilitas seadanya, ya lumayan untuk kami yang telah kehabisan uang. Setelah mandi karena seharian lebih kami tidak mandi, kami pun berjalan-jalan untuk mencari makan malam di daerah pasar di pinggir pantai. Besoknya kami sekitar jam 10 dan kemudian mencari makan siang di daerah Kebun Sayur atas rekomendasi seseorang yang kami temui di Derawan bahwa ada masakan china di dekat perempatan kebun sayur. Dengan cuaca hujan sepanjang hari kamu berjalan mencari tempat tempat yang kami maksud, setelah berjalan hampur kurang 1 jam lebih akhirnya kami menemukan tempat makan yang dimaksud. Tempat makan tersebut teletak di perempatan kebun sayur, kalo dari arah Jl. A.yani, pas sebelum Kebun Sayur belok kanan dan tempatnya tidak jauh dari perempatan tersebut. Setelah makan kami pun langsung ke bandara sepingan sekitar jam 3 siang karena tidak ada tujuan lagi dan keuangan yang semakin menipis. Akhirnya kami pun kembali ke jakarta sekitar jam 8 malam, setelah sebelumnya karena cuaca buruk sepanjang hari maka penerbangan kami di delay selama 2 jam.

Tagged as:

bonang aditya is suka traveling ma pengen terus travelng ke liling indonesia
Email this author | All posts by bonang aditya

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.