Buspacking Laos 3 : Phonsavan dan adrenalin junkies
By Puguh • Oct 27th, 2008 • Category: Mancanegara, Petualangan, Tempat Bersejarah, Warisan Dunia / World Heritage
Warning: htmlspecialchars_decode() expects parameter 1 to be string, NULL given in /hsphere/local/home/odesya/indobackpacker.com/wp-includes/compat.php on line 113
Hari#5 – Luang Prabang – Phonsavan
Bus dari Luang Prabang menuju Phonsavan hanya tersedia untuk perjalanan siang hari. Mungkin ini menyangkut kondisi keamanan di jalur antara Luang Prabang sampai pertigaan menuju ke Phonsavan. Karena Vientiane- Phonsavan v.v. tersedia bus malam hari. Jalan yang menghubungkan Luang Prabang – Vientiane dikenal sebagai Route 13, yang di tengahnya terdapat pertigaan menuju Phonsavan.
Namun anehnya justru setelah melewati pertigaan dan masuk Route 7 ke arah Phonsavan, penumpang bus saya bertambah satu dengan naiknya seorang laki-laki yang menyandang senapan laras panjang.
Karena bangku di seberang gang kosong, maka si pria bersenjata tadi duduk persis di seberang saya. Saya perhatikan pelan-pelan senapannya. Tidak tampak ada magazin, tidak kelihatan ada firing chamber ataupun loading mechanism. Dudul… ini mah senapan angin model per!!! Kalo saya bisa bicara bahasa Laos, mungkin saya sudah tanya,”Mau nembak burung di mana, Mas? Tembak burung sendiri aja dulu…” Ceritanya beberapa ruas jalan memang belum sepenuhnya aman dari penghadangan, sehingga bus akan dikawal orang bersenjata.
Informasi yang saya dapat sebelum berangkat bilang, di jalur ini biasanya pengawalan dilakukan oleh orang sipil yang membawa senjata api paling tidak AK-47. Itu pun saya masih bertanya-tanya kira-kira apa prosedur yang akan dilakukan jika benar bus saya dihadang. Menghadang bus tidak mungkin dilakukan hanya dengan 2-3 orang. Dan didalam bus hanya ada satu orang dengan senjata. Rasanya mending ngomong baek-baek daripada menggunakan senjatanya. Dan kali ini, bus saya dikawal dengan senapan angin!
Sorenya sampai di terminal bus Phonsavan, langsung disergap oleh beberapa orang yang membawa plakat penginapan. Saya memilih penginapan di tengah kota dan direkomendasikan oleh buku panduan saya. Saya diangkut menggunakan van mewah buatan Korea menuju ke tengah kota.
Saya memesan tour keliling Plain of Jar untuk keesokan harinya seharga K100,000. Rasanya kalau Anda punya cukup waktu, lebih baik menyewa sepeda motor, agar bisa lebih lama di lokasi Plain of Jar. Dan untuk mengisi sore hari, saya mampir ke kantor MAG.
Foto-foto di kantor MAG cukup berkesan. Menggambarkan bagaimana daerah plateau sekitar Phonsavan adalah ladang bahan peledak. Mulai dari ranjau personel sampai bom udara yang tidak meledak. Beberapa menunjukkan bagaimana selongsong bom setinggi 1,5-2 meter sekarang digunakan sebagai pot atau tiang penyangga rumah. Dari petugas di kantor ini, saya tahu bahwa foto-foto tersebut diambil di desa Thajok.
Buat korban majalah gaya hidup yang sudah merasa sebagai ‘adrenaline junkies’ atau ‘fun-fearless-female’ harus coba membantu di garis depan teman-teman MAG (www.maginternational.org). Adrenaline Rush Guaranteed!!!
Dari display di kantor MAG, saya dapati bahwa beberapa jenis ranjau sekilas seperti bola besi berdiameter 8-10 cm. Ini mengingatkan saya ketika sehari sebelumnya melihat sekelompok pria Laos bermain petanque. Benar-benar kombinasi buruk, kalau ada yang menemukan ranjau berbentuk bola besi yang belum meledak dan digunakan untuk bermain petanque.
Hari#6 – Phonsavan – Plain of Jar – Vang Vieng
Pagi itu saya sarapan di restoran dekat kantor MAG dan melihat beberapa kendaraan four wheel drive besar dan kecil berseliweran mengangkut staff berbaju coklat muda. Di bagian luar kendaran tertulis “LAOS UXO”. Sebuah program pemerintah Laos untuk menjinakkan UXO (Unexploded Ordonance). MAG bekerja sama dengan LAOS UXO dalam menjalankan programnya. Ketika membaca aktivitas MAG, yang pertama kali terlintas adalah Mbah Kakung saya yang di era tahun 50-an, pekerjaannya persis seperti mereka. Cuma dari cerita si Mbah dulu, karena pada masa itu tidak ada prosedur yang ketat dan kadang daripada repot harus memasang sumbu dan bahan peledak, lebih mudah kalo si unexploded ordonance ditembaki dari jauh saja. Hmmm… sekarang saya tahu, dari mana saya dapat gen itu!
Sebuah Landrover Defender station wagon berhenti di depan kantor MAG dan orang-orang berbaju biru tua turun mengangkut beberapa perlengkapan. Kalau melihat gulungan kabel panjang yang dinaikkan ke atas roof rack, keliatannya mereka adalah tim yang bertugas melaksanakan peledakan.
Plain of Jar adalah tujuan utama saya dalam perjalanan ini untuk dua sebab, yaitu: tempayan batu ini adalah produk dari peradaban yang sama sekali musnah, dan kedua, karena tempayan batu yang dibuat oleh peradaban yang musnah juga terdapat di Lembah Bada, Besoa dan Namu di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Namun secara simetri, dan kerapian, buatan nenek moyang orang Indonesia lebih rapi.
Ada tiga lokasi di mana terdapat sekumpulan tempayan batu. Yang kesemuanya dulunya merupakan daerah sasaran pesawat pembom yang ingin melemahkan pergerakan logistik Vietcong melalui “Ho Chi Mihn Trail”. Rasanya saya bisa membayangkan di udara sejuk dan pemandangan yang indah ini, pesawat pembom terbang di langit dan menjatuhkan isi perutnya.
Site 1 adalah site dengan jumlah tempayan paling banyak. Di balik bukit lokasi tempayan terlihat Phonsavan airport plus pesawat tempur yang dipakir di apronnya. Dari kejauhan sulit mengidentifikasi jenis pesawat tempurnya, tapi kata turis yang pernah terbang dari airport, jejeran pesawat itu adalah MIG buatan Rusia.
Site 2 jumlahnya lebih sedikit dan tersebar di dua lokasi.
Site 3 jumlah tempayan lebih banyak dari site 2 dan terkumpul hanya di satu lokasi.
Yang menjadi kesamaan diantara ketiga lokasi tersebut adalah ketiganya berada di tempat yang relatif tinggi sehingga dapat melihat jauh ke arah perbukitan.
Daya tarik lain area Phonsavan adalah adanya daerah Long Cheng (Long Chen). Saya coba cari di Wikimapia, daerah ini tidak ditandai, tetapi di google earth tampak ada spot ini walaupun tidak terlalu jelas.
Long Cheng adalah saksi bisu perang dingin. Jarak dari Phonsavan sekitar 60 km ke selatan. Menurut cerita di Lonely Planet, beberapa orang mencoba untuk masuk, tapi tempat ini masih dijaga ketat oleh angkatan bersenjata Laos karena masih difungsikan sebagai military base.
Saya tanya ke guide saya apakah dia pernah sampai di tempat itu. Ternyata walaupun dia sendiri adalah orang Hmong, dia belum pernah sampai ke sana. Tetapi saudara laki-lakinya pernah sampai di sana. Katanya, “It was so nice, there are stadium, air strip”.
Selesai tour Plain of Jar, saya berbagi tuk-tuk dengan seorang gadis Slovenia untuk menuju ke desa Thajok untuk K120,000 (di kemudian waktu saya beruntung supir tuk-tuk berganti kendaraan dengan minibus, karena letak desa Thajok hampir 30km di luar Phonsavan, dan jalanannya kalo menggunakan tuk-tuk, saya agak ragu apa bisa sampai). Saya menemukan tempat ini persis seperti foto-foto di kantor MAG. Ditambah orang-orang Hmong yang menyambut saya dengan dingin. Mungkin saya adalah rombongan kesekian yang datang membawa kamera, foto-foto, dan kemudian pergi tanpa pernah benar-benar mengubah hidup mereka.

Desain asli rumah orang Hmong tidak menggunakan jendela. Hanya barisan papan dan sedikit celah untuk pintu masuk. Tampaknya di tengah desa Thajok ini ada lembaga yang berusaha mendirikan contoh rumah sehat. Yang menyenangkan adalah, walaupun orang Hmong punya sejarah panjang dengan pemerintah Laos, desa mereka tetap mendapat pasokan listrik.
Karena sandal saya copot lem-lemannya, saya belanja super glue di pasar. Rata-rata barang impor di Laos adalah buatan Cina. Di Phonsavan sendiri ada pasar khusus yang disebut “Chinese Market”. Saya mendapat lem buatan China dengan merek “FUX”. Si Slovenian bilang, dalam bahasanya FUX berarti “Idiot”. Yah semoga juga mereka tidak memproduksi lem yang lebih kuat dengan merk “FUX YU”. Apa pun namanya, lem buatan Cina itu kuat banget, karena sandal saya selamat sampai Jakarta.
Teman Slovenia saya akan lanjut ke Hanoi dari Phonsavan besok. Sedangkan saya malamnya menumpang bus menuju Vientiane, tapi saya akan turun di Vang Vieng, tiga jam sebelum Vientiane. Kali ini saya beruntung go-show ke terminal dan masih dapat tempat duduk. Karena bus kali ini penuh sampai beberapa orang duduk di gang tengah dengan kursi plastik. Mungkin bukan cuma saya yang berpikir menghemat biaya perjalanan dengan ‘menginap di bus’.
Lepas 30 menit dari terminal bus Phonsavan, kernet bus mulai jalan bolak-balik di gang menawarkan ‘land sick bag’. Benar saya, tak lebih dari satu jam di barisan depan mulai terdengar suara orang muntah. Kali ini dengan disertai suara yang ekspresif; beberapa kali ‘hoek-hoek-hoek, (disusul suara cairan tumpah)’ dan ditutup suara batuk-batuk. Karena duduk di dekat jendela, buat saya tidak terlalu masalah selama bus bergerak.
Putaran kedua ‘nyanyian lagu pengiring muntah’, ibu-ibu di bangku depan saya tidak bisa menahan ketawa. Selera humor yang aneh… tapi terus terang selama ada yang muntah-muntah di bangku deretan depan, saya juga tersenyum-senyum sambil menebak-nebak: siapa yang berikutnya kepancing??
Bus AC di Laos umumnya dilengkapi dengan TV yang terus-menerus memutar video karaoke musik pop. Agak sulit membedakan apakah musik pop Laos atau musik pop Thailand. Yang pasti, masih banyak ‘room for improvement’ di video klip pop musik Indochina. Terutama penari latarnya, adoh! Beberapa lagi video klipnya sangat membumi, seperti cerita tentang pemuda desa yang pindah ke kota dan meninggalkan kekasihnya di desa….
berlanjut ke Buspacking Laos4 : Vang Vieng, rahasia Blue Lagoon



