Buspacking Laos 4 : Vang Vieng, rahasia Blue Lagoon

Custom Search

By Puguh • Oct 27th, 2008 • Category: Ekowisata / EcoTourism, Mancanegara, Petualangan
Bookmark and Share

Hari#7 – Vang Vieng
Pukul tiga pagi ketika turun dari bus, baru saya melihat ‘kerusakan’ yang terjadi. Ternyata sampai di lantai bus terlihat bekas genangan cairan asam lambung. Wah, untung banget, saya duduk jauh di belakang.

Waktu menurunkan saya, bus juga sekalian berhenti memperbaiki rem, tidak ada orang yang sanggup bertahan di atas bus, dan semua turun. Hampir satu jam bus berhenti, dan akhirnya mereka berangkat lagi, meninggalkan saya yang tertidur di bangku warung noodle soup yang kosong.

Waktu hari mulai terang saya jalan ke pasar. Untuk orientasi arah saya hanya bisa menebak dari tas belanjaan yang kosong. Doh suasana pasarnya, persis banget di Jawa. Cuman susah nemu lalat! Saya ngopi di tengah pasar, di mana para pedagang biasanya pada nongkrong dan pesen kopi. Asli lalat jarang banget! Dari tempat saya menghirup kopi tampak pasar Vang Vieng dilatarbelakangi bukit karst dengan kabut menggantung. Ternyata saya masih berada di luar Vang Vieng. Saya harus naik tuk-tuk menuju penginapan ‘le jar din’. Tidak ada yang salah dengan spasinya.

Saya menyewa sepeda mini untuk K10,000/hari/sepeda dan mulai merambah daerah karst yang membelakangi VV. Menarik, karena sangat touristy tetapi keaslian suasananya masih terjaga. Saya langsung mengindahkan gua-gua yang diiklankan di pinggir jalan dan langsung menuju ke Phou Kam yang katanya paling besar dan terdapat Blue Lagoon. Gua-gua kecil sepanjang jalan berusaha mati-matian mengiklankan keunikan guanya, termasuk menawarkan “natural swiming”. Terserah, gunakan sendiri imajinasi Anda.

Kendaraan umum untuk berkeliling di daerah karst ini adalah traktor sawah yang digunakan untuk menarik gerobak -an ultimate offroad machine.

Sampai di mulut goa Phou Kham, agak kecewa karena ongkos untuk melihat ke goa ‘digeser’ sedikit-sedikit. Ketika menyeberang Nam Song river, sepeda harus bayar tol jembatan K6,000. Untuk masuk kawasan gua, harus bayar K10,000, setelah itu disarankan menyewa Headlight, another K10,000, dan karena masuk ke dalam cukup jauh, yaitu sekitar 500 meter, disarankan untuk sewa guide. Males ah, saya cuma sampai di mulut goa untuk melihat patung reclining Budha. Sudah keburu kecewa karena Blue Lagoon yang digembar-gemborkan sejak awal menyeberang jembatan pertama hanyalah bagian sungai yang lewat di luar goa.

Waktu saya berangkat meninggalkan Vang Vieng, di satu sekolah tampak sedang diadakan acara yang melibatkan guru dan murid. Entah pemberian penghargaan atau semacamnya. Diikuti dengan makan siang noodle soup dan keliatan dari kejauhan botol Beer Lao disajikan di atas meja. Mungkin lebih mudah mengatur rakyat yang agak mabuk. Saya jadi ingat cerita tentang era victorian di Inggris, saat pub diizinkan menghidangkan minuman beralkohol dan dilarang menyajikan kopi. Karena kalau dengan kopi, orang jadi sepenuhnya sadar dan dapat berpikir jernih, yang tentu saja berbahaya bagi status quo.

“Pusat Kota” Vang Vieng sendiri berisi beberapa rumah makan dengan setting bangku lesehan, plus beberapa televisi yang memutar serial “Friends” siang-malam. Operator tubing dan kayaking tersebar di mana-mana. Sayangnya garis sepadan sungai Nam Song semuanya sudah dikuasai penginapan, sehingga tidak mungkin menikmati sungai Nam Song tanpa harus masuk ke restoran milik penginapan.

Hari#8 – Vang Vieng – Vientiane
Saya memutuskan untuk memperkaya perjalanan turun dari Vang Vieng menuju Vientiane dengan cara menyusur Sungai Nam Li menggunakan kayak (K180,000/orang incl. Lunch, vs K80,000 menggunakan bus-tanpa makan siang).

Setelah dipikir-pikir sebetulnya perjalanan ini tidak worth the time. VV-VT menggunakan bus normalnya makan waktu 3 jam. Dengan menggunakan kayak, 2 jam pertama saya menggunakan mobil pick up ke drop off point, kemudian 3 jam berkayak melalui sungai yang katanya grade-3, tetapi selama perjalanan beda muka air sungainya tidak ada yang lebih dari 50cm. Kemudian dilanjutkan 1,5 jam dengan Tuk-Tuk sampai ke Nam Phu Fountain.

Begitu turun dari tuk-tuk, saya langsung menyerbu JoMA Bakery and Café. Untuk merasakan kopi yang baik dan benar serta sepotong kue. Ini menjadi jajan saya paling mahal selama di Laos, senilai K37,000. Di sebelah JoMA Bakery ini terdapat penyewaan sepeda motor dengan pilihan cukup lengkap. Aussielander yang saya temui di Vang Vieng menyewa Yamaha Trail bermesin 4 tak 250cc untuk USD 25/hari.

Penginapan murah di sekitar Nam Phu semuanya penuh, lalu saya lanjut ke Rue Francois Nginn. Kamar paling murah seumur hidup: K25,000 per orang (Puri Agung di Popies I aja Rp 30.000) namun juga sekaligus kamar paling kotor seumur hidup. Dengan sarang laba-laba di mana-mana plus coretan di dinding dari backpacker sebelum saya. Kamar mandi ada di dalam kamar, literally, karena bentuknya adalah bilik semen yang tinggi dindingnya tidak mencapai langit-langit. Untungnya fan serta exhaust fan di kamar berjalan baik dan seprai bersih. Ya sudah, toh cuma buat rebahan sebentar.

Karena tahu saya dari Indonesia, si pengelola penginapan memberi tahu kalo Hare & Hound Bar di seberang jalan dikelola oleh pasangan pria Inggris dan wanita Indonesia. Ok-lah saya mampir kalo sempat.

Arah sungai Mekong terlihat keramaian. Rupanya hari-hari itu menjelang Boat Race Festival yang akan jatuh pada 15 Oktober. Sepanjang jalan di pinggir sungai Mekong dipenuhi pedagang dan permainan ketangkasan. Seperti melempar baskom ke botol minuman, Bingo, atau melempar panah untuk memecahkan balon dan kemudian nanti ditukar dengan hadiah. Judi? Bukan! Tapi permainan ketangkasan. Uniknya berbagai permainan ketangkasan ini juga digelar di depan halaman Wat.

Tepian Mekong sendiri tidak terlalu berkesan karena banyak sedimen lumpur. Kebanyakan sudah digunakan oleh restoran dengan bangku-bangku plastik.

Ketika saya akan kembali ke penginapan, saya mampir di Hare and Hound. Saya tidak menyangka bahwa perempuan yang berdiri di luar adalah pemiliknya: Mbak Utami. Saya panjang lebar ngobrol dengan beliau. Suaminya, John yang juga penerjun payung, dengan ramah menerima saya dan mempersilakan ngobrol. Hare and Hound diambil dari nama kelinci dan seekor hound dog, yang biasanya justru saling kejar-mengejar di arena pacuan anjing tapi tampak akur dalam gambar maskot bar ini.

Mbak Utami, sekarang berusia 26 tahun. Tinggal di Vientiane kurang lebih selama setahun setelah sebelumnya menjual usaha hamburger di daerah Kuta-Legian. Kalau Anda pernah strolling around dan melihat tanda dengan lambang serupa McDonald tetapi dipasang terbalik seperti huruf W, itulah tempat usaha Mbak Utami dan suami sebelum pergi ke Vientiane. Anak tertua dari tiga anaknya ditinggal bersama si Mbah di Jember, dan dua lagi ikut dengan dia di Vientiane. Mahal kalo harus ke sekolah internasional, karena itu Mbak Utami dan suami memilih untuk membayar guru homeschooling yang dibayar per jam. Pilihan lain adalah sekolah pemerintah di mana bahasa pengantarnya adalah bahasa Laos. “Yang penting bisa baca tulis sama ngitung, Mas…”

Pada awal dia tiba di Vientiane, Mbak Utami berjualan makanan Indonesia, tapi karena hanya dia sendiri yang bisa masak. Dan sifat masakan Indonesia yang kompleks, membuat dia dan suami memutuskan membuka Bar dan menyajikan makanan Eropa. Suaminya masak di dapur dan dia sendiri menjadi waitress melayani tamu.

“Susah mencari pekerja yang bisa diandalkan di Laos, Mas”. Kesulitan pertama adalah masalah bahasa Inggris dan komitmen waktu. Lain dari itu masyarakatnya juga cenderung konsumtif dan sulit menabung. Sedikit-sedikit “no problem”. Bisa dibayangkan kalo bar kehabisan stok bir dan harus menunggu keesokan paginya.

Mulai bekerja selepas sekolah pada usia 18 tahun.”Wah, saya sih biasa angon wedus habis sekolah”. Mbak Utami pertama kali bekerja bekerja sebagai tukang masak di sebuah lembaga pendidikan di Jember dengan gaji Rp 50.000 per bulan. Kemudian pindah ke studio foto dengan gaji Rp 250.000 per bulan. Dari situ dia bekerja di Malaysia tapi kemudian dia mendapat kesempatan kerja di Bali, mengurus rumah John, pria yang sekarang menjadi suaminya. Tapi karena rumahnya terlalu besar Mbak Utami mengambil sikap untuk berhenti dari pekerjaannya dan bekerja di toko furniture antik di Ubud. Tapi kemudian takdir mempertemukan mereka kembali dan akhirnya John memutuskan menyunting dia sebagai istri.

Ulet, sederhana, dan cerdas. Sempat ia mengeluh tentang kakaknya yang cuma tidur-tiduran di rumah dan masih ikut dengan ibunya yang bekerja sebagai bakul jamu di Jember. Minggu depan rencananya dia dan keluarga akan berlibur ke Udonthani menggunakan bus yang berangkat dari pasar pagi. “Murah cuma K20,000, dibanding membawa mobil sendiri yang untuk retribusi perbatasannya saja sudah K200,000.”

Mengenai etos kerja, Mbak Utami bercerita tentang pengalaman dia ketika tinggal di Bali, saat dia menawarkan untuk memberikan uang beberapa kali lipat kepada pengemis yang tampaknya sehat dan masih bisa bekerja dengan syarat si pengemis mencucikan motornya, tapi ditolak mentah-mentah oleh si pengemis. “Jadi bukan masalah gak ada kerjaan kan…”

Warga asing yang ingin hidup-resmi atau tak resmi dengan wanita Laos bukanlah sesuatu yang ‘murah’. Si pria asing harus membayar sejumlah uang tiap periode tertentu ke polisi dan harus menjamin tempat tinggal bagi si istri. Hal itu dialami oleh salah satu tamu reguler yang kebetulan orang Indonesia yang bekerja di tambang di luar kota Vientiane. Untuk tambah memperkeruh suasana, ayah perempuan yang dihamili pria Indonesia tersebut adalah petugas imigrasi Laos. You mess with the wrong person, Man!!!

Menurut versi mbak Utami, prostitusi di Laos hukumannya berat, itu sebabnya di Vientiane banyak bencong. Karena kalau orang asing ketahuan tidur dengan wanita yang bukan istri, akan berat akibat hukumnya. Sedangkan kalau dengan bencong secara hukum tidak ada aturan yang dilanggar.

Vientiane juga tidak seaman yang saya bayangkan. Hal itu menjelaskan kenapa di keranjang sepeda sewaan selalu terdapat keranjang tali untuk mempersulit pekerjaan jambret bermotor. Demikian juga dengan copet yang cukup banyak di masa festival seperti ini.

Saya menutup pembicaraan karena sudah pukul 11.30 malam, sambil Mbak Utami menutup payung tenda barnya.

Kalau ditanya; apa yang paling menyenangkan dari kunjungan saya di Laos? Jawabannya: naik bus antar kota! Terminalnya sederhana terkadang jorok, tapi bebas calo, tarif transparan, dan jam keberangkatan yang luar biasa tepat waktu.

Tuk-Tuk
Tentang Tuk-tuk, walaupun sekilas sama, ada dua kelas tuk-tuk. Yang pertama berbasis sepeda motor. Mesin sepeda motor dengan rantai yang diperpanjang untuk menggerakkan roda belakang. Si pengemudi seperti mengendalikan motor roda tiga. Yang kedua adalah yang berbasis kendaraan niaga sekelas Suzuki Carry. Jadi si pengemudi duduk diatas mesin empat silinder dan cara memindahkan giginya pun seperti mobil, hanya bagian depan diganti oleh kemudi model sepeda motor. Yang ini, mungkin lebih tepat disebut “mobil roda tiga”. Saya sendiri lebih senang menghentikan tuk-tuk yang strolling around, daripada yang mangkal di pangkalan tuk-tuk, karena biasanya negosiasi harganya lebih mudah dengan tuk-tuk yang sedang keliling.

Turis luar asia umumnya mengunjungi Laos sebagai bagian dari “Indochina Circuit”. Kebanyakan dari mereka menjadikan Bangkok, atau Beijing sebagai entry/exit point.

Hari#9 – Vientiane – Kuala Lumpur
Pagi hari, saya keluar penginapan dan menuju Nam Phu fountain. Sepanjang jalan saya berharap menemukan noodle soup. Ternyata tidak ada. “Terpaksalah saya sarapan di Scandinavian Bakery di putaran Nam Phu fountain. Asyiknya suasana pagi, dengan hot latte dan sepotong croissant…. dan melihat aktivitas rakyat negara jajahan.

Naik tuk-tuk dari Nam Phu ongkosnya K30,000,  dan dalam 20 menit sudah tiba di Wattay International Airport. Petugas keamanan di bandara luar biasa ramahnya. Bingung sedikit langsung disapa dan dijelaskan. Petugas loket check in tampaknya masih serba canggung menangani penumpang yang check in.

Sampai di Kuala Lumpur saya langsung menghubungi mantan kolega kantor yang sekarang menjadi teman. Rencana ketemu di tengah kota dibatalkan, karena justru dia mengundang saya datang ke rumahnya. Saya cukup naik kereta sampai stasiun KTM terdekat dari rumahnya dan akan dijemput.

Saya baru mengerti kenapa ia membatalkan rencana ketemuan di tengah kota dan justru mengundang berkunjung ke rumahnya. Hampir dua minggu lewat Idul Fitri, di Kuala Lumpur sesama teman saling berkunjung ke rumah rekan lainnya. Minggu pertama biasanya semua orang pulang kampung, baru minggu kedua punya kesempatan untuk berkunjung ke rumah teman dan tetangga. Hm… sama seperti di Indonesia, ketika dulu sekali.

Setiap tamu yang datang bertanya ke saya tentang asal saya, apa yang saya lakukan di Kuala Lumpur, dan setelah itu berbagi pengalaman mereka tentang Indonesia.

Agak memalukan, tapi laksa penang buatan Mak Cik enak, sehingga saya dua kali pulang pergi meja makan.

Hari#10 – Kuala Lumpur – Batu Cave – Jakarta
Pagi-pagi, saya sudah siap di daerah Pasar Seni, di depan Bangkok Bank, menunggu bus No.11 yang lewat Batu Cave untuk RM2. Saat ini mendekati Dipavali, jadi saya berharap akan ada lumayan banyak orang yang berdoa di Batu Cave. Walaupun tidak terlalu giat, pengelola Batu Cave tampak sedang mempersiapkan diri untuk perayaan Dipavali. Tangga masuk ke dalam gua sedang dibersihkan menggunakan deterjen.

Di tengah tangga menuju ke dalam Batu Cave yang berjumlah 250 buah lebih, sekarang Malaysian Torism Board membuka akses untuk wisata ke ‘Dark Cave’ www.darkcave.com.my. Smart banget, wisatawan datang ke Batu Cave banyak sekali, mereka tinggal ‘nyetop di tengah jalan’. Dark Cave waktu tahun 2003 masih tertutup pagar. Sekarang dibuka untuk umum. Dikelola oleh sebuah NGO – Malaysian Nature Society bekerjasama dengan Malaysian Torism Board. Asik ngobrol sama officernya; kelihatan mereka mengelola goa ini dengan passion bukan sekedar proyek dari departemen. Officer yang ini ternyata malah belum pernah ke Kinabalu. Ke Rinjani dulu aja, Mas… I bet my reputation that Rinjani is more stunning.

Diluar keterpaksaan saya untuk terbang langsung ke Vientiane, seluruh pengeluaran masih di dalam koridor yang dipatok oleh www.artoftravel.com. Di mana ‘land cost’ saya tidak lebih dari USD 25/hari.

(selesai)

Tagged as: , ,

Puguh is
Email this author | All posts by Puguh

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.