Buspacking Laos 1: Vientiane dengan Jamia dan Azahara

Custom Search

By Puguh • Oct 26th, 2008 • Category: Mancanegara, Petualangan, Tempat Bersejarah, Warisan Dunia / World Heritage
Bookmark and Share

Saya hanya punya waktu terbatas, sehingga harus memilih antara Plain of Jar (Luang Prabang) di Laos atau Angkor Wat di Kamboja. Keduanya sama-sama dinobatkan sebagai World Heritage Site oleh Unesco. Rasanya waktu saya cari di internet, catatan mengenai Angkor Wat dan Kamboja jauh lebih banyak dibanding Laos. Cuma satu orang yang saya kenal pernah berkunjung ke Laos sampai di Plain of Jar. Pembersihan ranjau di Plain of Jar di Laos belum sebersih Angkor Wat. Di Laos ada ‘Notorious Route 13’ jalanan antara Vientiane dan Luang Prabang di mana kernet bus selalu dibekali senjata api. Angkor Wat memiliki penjelasan siapa yang membangun sedangkan Plain of Jar dibuat oleh peradaban yang punah tanpa catatan apa pun dan secara fisik kurang lebih sama dengan tempayan batu di Lembah Bada – Sulawesi Tengah. Selain itu, Laos adalah negara ter…miskin di ASEAN… statistically at least.

So, kesimpulannya: let’s go to Laos!

Setelah diingat dengan baik, kunjungan ke Laos adalah kunjungan kedua, setelah pernah dengan tidak resmi mengunjungi daerah Mae Sae - Golden Triangle, tempat boat dulu merapat ke sisi Laos.

Gambaran tentang orang Laos, dibandingkan dengan negara sekitarnya digambarkan oleh kolonial Perancis dengan kalimat: “Vietnamese plant rice, Cambodian watch it, and Laotian listen to it growing”… mungkin kalau sekarang perlu ditambahkan “…and Indonesian import it, damaging their own domestic price”.

Hari#1 - Jakarta – Kuala Lumpur

Jalur biasa: AirAsia Jakarta – Kuala Lumpur. Penerbangan KUL-VTN hadir lima kali dalam seminggu kecuali Minggu dan Senin. Lumayan… sampai di Kuala Lumpur masih dalam suasana Lebaran, hingga jalanan di dalam kota sangat lengang. Demikian juga berbagai sarana transportasi umum. Bus LCCT-KL Sentral saya pesan melalui web, dan ternyata sedikit lebih murah dibandingkan membayar langsung di tempat.

Menarik melihat Air Asia mencoba menerapkan fair price bagi penumpangnya. Bagasi sekarang pun dihitung per buah, supaya fair bagi yang tidak membawa bagasi. Mungkin besok-besok penumpang harus membayar saat menggunakan toilet pesawat. Supaya fair bagi mereka yang sanggup menahan pipis di pesawat.

Saya tinggal di YMCA di daerah Brickfield (RM40/orang) dekat KL Sentral dengan pertimbangan akses ke bus menuju LCCT. Dari dulu, teman-teman penduduk KL selalu mengingatkan bahwa daerah ini agak rawan. Saya jalan pelan-pelan memperhatikan toko satu per satu, sampai tiba-tiba seorang perempuan membuka pintu sambil bilang dengan aksen Malay, “Please, come in Cik, ade yang Melayu, Cina, dan India…” pemandangan dalam gang masuk ke dalam remang-remang karena hanya diterangi lampu kerlap-kelip… he he he…, jualan makanan ya? Atau daging mentahnya??

Hari#2 - Kuala Lumpur - Vientiane

Bus bertama dari KL Sentral menuju LCCT beroperasi pukul 3.30 pagi dan setiap kelipatan 30 menit berikutnya. Butuh waktu sekitar 1 jam 15 menit untuk mencapai LCCT. Penerbangan ke Vientiane sendiri makan waktu 2,5 jam.

Melihat Vientiane dari udara seperti melihat kota kabupaten di Kalimantan. Lansekap datar dengan pemukiman yang tersebar dan sungai besar di dekatnya.

Turun dari pesawat, di depan loket visa berdiri beberapa officer perempuan yang disiapkan sebagai Liason Officer. Saya bertanya ke mereka, apakah warga sesama negara ASEAN memerlukan visa. Dan dijawab dengan yakin: NO! (Yakin loe…?)

Saya berusaha berpura-pura bodoh di depan loket imigrasi (ok deh, mungkin saya tidak perlu berpura-pura). Paspor saya polos tanpa visa. ”Kan sesama negara ASEAN, Sir?”. “This is not official passport, pay your visa there!” Yah… USD30 melayang untuk izin berada di Laos selama satu bulan. Dan ketika saya melihat daftar harga visa memang terdapat daftar negara-negara ASEAN. Beberapa turis kulit putih di depan saya tampak menyiapkan 2 lembar pecahan USD 1 di pembayaran visa mereka. Kalau saya sih modal senyum-senyum saja. Saya jadi orang terakhir yang keluar dari loket imigrasi dan menuju ke tempat pengambilan bagasi. Tidak ada pemeriksaan Custom setelahnya.

Sepi sekali untuk ukuran bandara internasional di ibukota negara. Saya keluar dan tidak banyak pilihan untuk ke kota selain dengan taksi dan membayar melalui konter resmi seharga USD7 (yeap, pembayaran dalam USD, dan kembalinya dalam USD) untuk sampai di Kedutaan Besar Republik Indonesia.. Saya ‘menawar’ harga taksi untuk berhenti dahulu di Northern Bus Terminal, untuk membeli tiket bus malam ke Luang Prabang sekalian menitipkan tas.

Belakangan saya tahu, kalau posisi airport ini tidak jauh dari jalan besar. Jadi kalau ingin modal malu jalan di siang bolong ke arah pintu keluar, akan segera dapat ketemu Tuk-Tuk.

Tanpa calo dan harga tiket transparan diumumkan di depan loket bus, saya membeli tiket bus tujuan Luang Prabang seharga K120,000 untuk keberangkatan pukul 19.00. Saya dipersilakan menitipkan tas di loket, tapi tanpa tanda terima apa-apa. Sudah untung boleh nitip, mungkin begitu pikir petugas loket.

Ada tiga kategori bus antar kota di Laos; Local Bus, AC, dan VIP. Saya perhatikan local bus tidak menggunakan AC, sedangkan VIP adalah bus double decker lengkap dengan AC. Mengingat kehandalan sistim AC bus di Laos, saya memilih bus AC, karena berpikir kalaupun AC tidak berfungsi masih ada jendela yang bisa dibuka. Dibandingkan dengan bus VIP yang jendelanya terbuat dari kaca rapat.

Setelah mendapat tiket bus malam, saya melanjutkan perjalanan ke KBRI, niatnya untuk lapor diri. Lokasi KBRI berada di daerah terbaik Vientiane, dekat dengan monumen Patuxai. Tapi karena hari itu adalah hari Sabtu, konsuler tutup dan saya hanya sempat berbicara melalui telepon dengan staff KBRI untuk mendapat gambaran apakah ada orang Indonesia yang tinggal di daerah yang akan saya kunjungi. Tampaknya tidak ada orang Indonesia yang tinggal di daerah Luang Prabang atau Phonsavan.

Saya bertanya kepada petugas keamanan kedutaan untuk meminta rekomendasi tempat makan yang enak dan diarahkan di satu jalan di belakang KBRI. Good recomendation. Noodle Soup with Chicken plus vegetables.

Keluar dari warung mie, saya beranikan jajan es, yang ternyata cincau hijau. Hebatnya biar jajanan pinggir jalan, batu es yang digunakan tampaknya memang diproduksi untuk dikonsumsi dan bukan pecahan batu es pendingin ikan. Karena semasa sekolah termasuk yang sering jajan jorok, saya hafal betul rasa es yang dibuat dari air mentah. Di kemudian hari, saya temukan bahkan sampai di kota kecil seperti Vang Vieng, terlihat industri rumahan yang memproduksi batu es untuk konsumsi.

Setelah itu saya melihat dari dekat monumen Paxutai yang idenya diinspirasi oleh Arc de Triomphe. Sebenarnya bangunan Paxutai ini paling bagus kalo dilihat dari jauh. Karena begitu dilihat dari dekat, bentuknya seperti monster semen (demikian yang tertulis di papan pengumumannya). Apalagi ketika kita masuk ke dalam (K3,000) tampak betul bahwa bangunan ini belum sepenuhnya selesai. Di lantai dua dan tiga menuju puncak menara dipenuhi oleh pedagang cinderamata dan t-shirt. Dari atas kelihatan mungkin hampir keseluruhan kota Vientiane yang datar dan belum banyak bangunan tinggi.

Dari monumen Paxutai saya berjalan sepanjang “Champ d’Ellysse” dengan mampir ke Talat Dao (pasar pagi) dan kemudian menuju Nam Phu Fountain.

Nam Phu Fountain adalah roundabout (bunderan) yang sudah ditutup untuk kendaran bermotor, dan dikelilingi oleh restoran bergaya Eropa yang siang itu kebanyakan masih tutup.

Agak bingung juga saya harus melihat apa untuk menunggu pukul 19.00, akhirnya diputuskan untuk melakukan kegiatan religius yaitu mengunjungi semua Masjid di Vientiane yang cuma ada dua. Masjid pertama adalah Masjid Jamia yang terletak sekitar 100 meter dari Nam Phu Fountain, dibangun oleh imigran Pakistan yang pindah ke Vientiane ketika tercipta konflik Pakistan – India.

Pikiran saya ketika memutuskan untuk mengunjungi masjid adalah bukan karena penyesuaian dengan isian agama di KTP, tapi lebih kepada fakta bahwa resminya Laos adalah negara komunis dan komunitas muslim Laos adalah minoritas. Dan hanya masyarakat beradab yang melindungi golongan minoritasnya.

Di Masjid Jamia, saya bertemu dengan beberapa warga Pakistan yang kebetulan sedang mampir, salah satu di antara mereka bekerja di perusahaan Korea dan pernah tinggal di Tanggerang selama enam bulan, dan saya disambut dengan hangat. Selain mereka, saya juga melihat warga Nigeria dan seorang warga Jepang yang tampaknya sudah lebih familiar dengan suasana masjid ini. Ketika dipersilakan Sholat, tentu saya menjawab ‘sudah’. Sudah pernah.

Masjid kedua adalah Masjid Azahara yang terletak agak jauh dari pusat kota. Salah satu warga yang saya temui di Masjid Jamia dengan senang hati menunjukkan arah dan ‘key word’ untuk bertanya ke warga Vientiane kalau-kalau saya nyasar. “Wat Islam/Wat Moslem.”

Jamaah Masjid Azahara ini kebanyakan adalah imigran Kamboja atau muslim Thailand yang bermigrasi ke Laos. Ustad Vina sendiri lancar berbicara Melayu sehingga tidak ada kesulitan bagi saya untuk berdiskusi dengannya. Beliau sendiri berasal dari Kamboja dan memperdalam dakwah di Malaysia. Menurut ceritanya, imigran muslim dari negerinya banyak yang menikah dengan warga asli Laos dan akhirnya memutuskan untuk berganti kepercayaan karena tidak adanya dakwah. Karena itu Ustad Vina bersedia ditempatkan di Laos.

Tepat ketika saya hendak meninggalkan Masjid untuk berangkat ke Terminal Bus menuju Luang Prabang, datang tamu lagi dengan aksen Amerika. Bicara ngalor ngidul. Entah kenapa saya merasakan Ustad Vina tidak ingin bicara lama-lama dengan orang ini. Dia lebih banyak diam.

Setelah saya ingat-ingat kemudian, mungkin salah satu penyebab ustad Vina tidak tertarik dengan obrolan orang ini adalah karena apa yang dia bicarakan tidak lebih menyebar konflik muslim dengan golongan lain walaupun dengan gaya sok membela umat. Dia bicara mengenai “thousand of Moslem in Burma are sent to concentration camp”, “kompetisi dagang antara Budhist and Moslem - masalah penjualan ternak potong”. Di Burma mah gak usah Muslim, Bikhu juga dikemplangin tentara!. Perasaan saya seperti dia bilang,’eh, di sono ada yang brantem, di sini brantem juga dong, ini antara kita dan mereka nih…. Halah, mind your own war, Man!!

Malamnya saya tidur di dalam bus. Untungnya bulan-bulan ini adalah low season sehingga nomor tempat duduk tidak bernar-benar berlaku dan saya dapat dua tempat duduk per orang.

berlanjut ke Buspacking Laos2 : Luang Prabang dan negeri para bhiku

Tagged as: , , ,

Puguh is
Email this author | All posts by Puguh

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.