Bepergian ke Tempat yang Tak Terbayangkan, Pulau Galang

Custom Search

By sunaryo • Nov 27th, 2008 • Category: Budaya / Cultural, Cerita Perjalanan, Indonesia, Wisata

Pernahkah anda pergi ke suatu tempat yang tak terbayangkan sebelumnya? Ternyata saya mengalaminya sewaktu berkunjung ke Batam pada akhir April 2008. Sebelumnya sama sekali tak pernah berpikir akan sampai ke Pulau Galang dan tak tahu bahwa di Pulau Galang itu ada tempat komunitas pengungsi yang demikian lengkap. Saya pikir hanya barak sementara. Tak tahunya demikian komplet. Bisa dibayangkan ternyata jumlah pengungsi sekitar 250.000 dan mendiami pulau tersebut sekitar 15 tahun dan sempat beranak pinak. Jadi wajar memang menjadi sebuah perkampungan Vietnam lengkap dengan sarana komunitas dan tempat ibadah. Anggap saja seperti Little Vietnam atau seolah sudah pergi ke Vietnam tanpa harus ke Vietnam.

Melihat Vietnam di Pulau Galang
Perjalanan menuju ke Pulau Galang yang berjarak sekitar 60 km dari kota Batam memerlukan waktu sekitar 40 menit dengan transportasi darat ke arah Jembatan Barelang. Kami, berempat, mencarter taksi dari sopir taksi Bandara Hang Ngadim. Sehari sewanya Rp400 ribu dan kalau keluar Batam tambah lagi Rp50.000. Setelah melewati jembatan Barelang ke Pulau Tonton, kita akan menyusuri kawasan Pulau Nipah, Pulau Setoko dan Pulau Rempang. Di pulau-pulau ini tanahnya masih gersang dengan ditumbui belukar, ilalang dan pemukimannya jarang. Tetapi satu dua warung dijumpai di pinggir jalan. Beberapa tempat juga sudah ditanami pohon singkong dan jagung. Malah ada yang ditanami buah naga. Di penghujung jalan sesudah melewati jembatan Tuanku Tambusai dari Pulau Rempang, kita telah sampai di Pulau Galang. Tak akan sulit menemukan camp pengungsi yang dinamakan Vietnamese Refugee Camp. Sekitar 200 meter dari ujung jembatan di Pulau Galang akan dijumpai persimpangan di kiri jalan, terdapat pos penjagaan. Setelah membayar karcis masuk di pos penjagaan, maka kita akan diijinkan untuk berjalan–jalan melihat sekelilingnya. Beberapa kendaraan juga melakukan hal yang sama.
Nampaknya pemerintah setempat sudah mengelolanya menjadi daerah wisata. Beberapa obyek wisata sudah lengkap penunjuk jalannya dan keterangan tambahannya. Banyak bangunan kayu sebagian mulai lapuk tersisa di situ. Ada bangunan rumah sakit, ruang karantina, barak-barak, rumah penduduk, gedung pertemuan, kuburan, rumah ibadah dll di antara rimbunan pepohonan. Ada pohon jambu air yang berbuah lebat masih tersisa di situ.
Ada bangunan Gereja St Maria yang sebagian besar terbuat dari kayu itu masih berdiri kokoh. Sebuah jembatan terbuat dari kayu seakan mengajak pengunjung untuk terus menapakkan kaki melihat sebuah bangunan tua lebih dekat lagi. Beberapa bagian lainnya terbuat dari batu. Di atas atap bangunan tersebut tampak sebuah salib kayu. Di bawahnya terdapat gambar Bunda Maria. Di sisi kanan kiri terdapat dua jendela yang terkunci rapat. Ada beberapa burung merpati bertengger di situ.
Tidak jauh dari Gereja St Maria juga terdapat Patung Bunda Maria di atas perahu yang dibuat oleh pengungsi Vietnam selama mereka berada di Pulau Galang. Di areal Gereja St Maria juga terdapat sejumlah patung di antaranya Patung Bunda Maria yang di bawahnya terdapat bangku, patung seorang pastor yang tengah merangkul dua anak kecil serta sebuah Patung Rasul Paulus yang sedang membungkukkan diri. Gereja St Maria, Patung Bunda Maria, serta patung-patung lainnya merupakan jejak kecintaan para pengungsi Vietnam (boat people) terhadap Tuhan. Di dekatnya ada juga pagoda dengan bangunan baru. Ada juga gereja kristen protestan tetapi kondisinya sudah tak terawat dan ditumbuhi ilalang.


Di tengah himpitan, putus asa serta kesusahan yang luar biasa, para pengungsi Vietnam yang eksodus dari negerinya setelah jatuhnya Vietnam Selatan ke tangan kekuasaan Vietnam Utara atau biasa dikenal sebagai Vietkong itu dan akhirnya dikumpulkan di kamp pengungsi di Pulau Galang, tetap menaruh harapan mereka kepada Tuhan. Kerinduan mereka akan Tuhan yang hidup menjadi harapan para pengungsi di kamp pengungsian yang resmi digunakan tahun 1979. Pengungsi yang beragama Kristen Protestan pula membangun gereja. Begitu juga pengungsi yang beragama Buddha. Mereka juga membangun Pagoda.
Sejumlah bangunan lainnya seperti barak-barak pengungsian, bekas penjara, rumah sakit milik UNHCR (United Nation Human Commision Refugees), termasuk pula areal pemakaman Ngha Trang. Di sana dicampur makam pengungsi yang beragama Kristen Protestan, Katolik, serta Buddha. Tercatat sekitar 503 makam yang hingga kini masih berdiri tegar. Di pintu gerbang makam itu terdapat sebuah tugu bertuliskan “Dedicated to the people who died in the sea on the way to freedom.”
Menurut informasi dari berbagai sumber, keberadaan Gereja Katolik di Pulau Galang juga tidak lepas dari inisiatif dari pengungsi yang membentuk suatu komunitas umat Katolik Vietnam di Pulau Galang. Inisiatif itu kemudian dijawab dengan proaktif yang dilakukan Keuskupan bekerja sama dengan MAWI (sekarang KWI) dan LPPS ikut ambil bagian dalam pelayanan kepada para pengungsi di Pulau Galang. Di antara pengungsi ini, ada juga sejumlah imam, frater, suster Vietnam yang ikut melarikan diri dari negerinya. Mgr Leo Sukoto SJ selaku Sekjen MAWI yang berkenan datang ke Pulau Galang untuk memberkati gereja pariko St Yosef yang dibangun sendiri oleh pengungsi Vietnam. Sampai kamp pengungsi Pulau Galang ditutup tahun 1992 terdapat ratusan ribu pengungsi Vietnam yang pernah tinggal dan menjadi umat paroki, khusus pengungsi di Pulau Galang ini.
Sepenggal kisah sejarah tentang Pulau Galang. Nama Pulau Galang mungkin masih melekat dalam benak sebagian orang pada awal dekade 1980an. Indonesia yang secara geografis cukup dekat dengan negara Vietnam pernah menampung para pengungsi Vietnam pada periode antara bulan Maret - Juli tahun 1980 di Pulau Galang. Paling tidak sejumlah 45.000 jiwa warga Vietnam tinggal di Kepulauan Riau, dan total data tercatat secara keseluruhan yang pernah ditampung mencapai 250.000 jiwa. (Galang, Memory of a Past Tragedy).
Pengungsi Vietnam masuk ke Pulau Galang pada tahun 1979 setelah empat tahun ditempatkan di Pulau Natuna dan Tanjung Pinang. Gelombang pengungsian datang ke Kepulauan Riau ini dengan menggunakan perahu kayu. Itu terjadi akibat gejolak politik di negaranya akibat pecahnya Perang Vietnam pada tahun 1959 sampai 1975. Gelombang pengungsian pertama yang masuk sebanyak 24 orang pada 22 Mei 1975, tepatnya di Pulau Laut Bunguran bagian utara Pulau Natuna.
Dalam tempo singkat jumlah pengungsi bertambah mencapai 40.000 orang. Karena banyaknya jumlah pengungsi, Pemerintah Daerah (Pemda) Riau ketika itu menyebarkan mereka ke berbagai tempat seperti Tanjung Unggat, Air Raja dan Bintan Timur.
Namun, mengingat jumlahnya semakin besar, mencapai 250.000 orang, Pemda Riau kemudian menempatkannya di Pulau Galang di kawasan eks perkebunan nanas PT Mantrust. Mendapat perhatian dari UNHCR, secara berangsur-angsur para pengungsi akhirnya dikirim ke berbagai negara. Pemulangan terakhir dilakukan pada 2 September 1996 setelah tidak ada lagi negara ketiga yang mau menerima pengungsi.
Perang memang selalu membawa kesengsaraan bagi seluruh umat manusia di dunia, tak terkecuali pada perang antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Usaha perjanjian antara kedua negara tersebut untuk melakukan gencatan senjata yang telah disepakati di Paris pada tanggal 23 Januari 1973 rupanya tidak berjalan sesuai harapan. Pengambil alihan Saigon, ibukota Vietnam Selatan oleh Vietnam Utara atau Vietkong pada 30 April 1975 dan situasi kaostis di Kamboja memicu berulangnya kembali peperangan
Itu adalah suatu permulaan dari penderitaan berkepanjangan yang menyebabkan warganya hidup terpencar. Perang yang tak kunjung usai pun menimbulkan gelombang kecemasan serta rasa tidak aman yang luar biasa bagi warganya terutama di Vietnam bagian selatan, sehingga menggugah semangat mereka untuk melakukan eksodus besar-besaran ke negara tetangga terdekat seperti Thailand, Malaysia, termasuk Indonesia melalui Pulau Galang, yang dijadikan sebagai transit point bagi mereka sebelum dikirimkan ke negara ketiga. Karena itulah Pulau Galang yang mereka sebut sebagai ”land of hope” dianggap sebagai sebuah simbol solidaritas kemanusiaan di kancah internasional dan suatu bukti kepada dunia bahwa Indonesia memiliki komitmen tinggi dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang penting dalam sejarah peradaban modern di Asia Tenggara.


Gereja St Maria, dan Patung Bunda Maria hingga kini menjadi lokasi wisata religius yang dikunjungi para wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara, termasuk pula para pengungsi Vietnam yang kini telah menetap di sejumlah negara seperti AS, Kanada, Australia, dan sejumlah negara di Eropa. Banyak pengungsi yang reuni di Pulau Galang meneteskan air mata ketika melihat Gereja St Maria itu. Malah, pernah ada sepasang suami-istri yang mengaku menikah di dalam gereja tersebut. Para pengungsi Vietnam yang reuni itu juga mengajak anak dan cucunya untuk berfoto di depan Gereja St Maria dan Patung Bunda Maria.

Dalam sebuah klipingan koran yang berisi kesan mantan pengungsi Vietnam yang pernah ditampung di Pulau Galang dan terpampang di Kantor Perwakilan UNCHR di Pulau Galang yang kini menjadi Gedung P3V Office for Information Centre Museum menyebutkan: “Saya sangat haru dan ingat semua tempat rumah kami selama menetap di Pulau Galang sebagai pengungsi.” Pesan itu ditulis oleh LM Quang, 55 tahun. Mantan pengungsi Vietnam lainnya, Thanh Truong Ngoc, menuliskan kesannya : “Saya sulit untuk melupakan Pulau Galang. Di tempat inilah kami bertahan hidup dan menunggu hidup baru di negara lain yang siap menerima kami. Terima kasih kami sampaikan kepada Pemerintah dan rakyat Indonesia yang telah menampung kami di Pulau Galang.”
Sebanyak 500 orang eks pengungsi Vietnam di Pulau Galang melakukan reuni di kamp pengungsi Vietnam, Pulau Galang pada tahun 2005. Para pengungsi yang datang itu adalah mereka yang telah sukses mencari kehidupan di negara-negara ketiga yang menampung mereka seperti Amerika, Kanada, Australia dan Perancis. “Saya sangat haru dan ingat semua tempat rumah kami selama di Pulau Galang sebagai pengungsi,”kata Quang yang kini menimba ilmu di Australia bidang Biologi setibanya di Pulau Galang. L.M Quang tidak sendiri, ada ratusan bekas pengungsi Vietnam napak tilas ke kamp pengungsi di Galang, selain itu ada juga pengungsi Vietnam di Bidong, Malaysia. Pengungsi lain, Thanh Truong Ngoc, 54 tahun, menyatakan sangat terkesan dengan perhatian Pemerintah Indonesia yang memperhatikan bekas kamp pengungsi di Pulau Galang. Thanh berada di Galang dari 1981 - 1982 kemudian ke Australia. Kini lelaki beranak lima itu bekerja sebagai operator mesin di Australia dengan upah 600 dolar Australia per minggu. “Terima kasih kami pada Pemerintah dan rakyat Indonesia,”katanya. Seorang teman sewaktu pergi ke Hawai dan bertemu dengan sopir asli Vietnam alumni Pulau Galang juga menceritakan bahwa sopir tersebut sangat berterima kasih dengan pemerintah Indonesia. Dengan bertemu orang Indonesia di Hawai, sopir memperlihatkan rasa terima kasihnya dengan pelayanan yang memuaskan.
Menurut Dwi Joko Wiwoho, Humas Otorita Batam, keinginan bekas pengungsi untuk mengunjungi Pulau Galang tersebut setelah dua wartawan mendapat tawaran salah seorang bekas pengungsi di Singapura. “Ingin mengenang masa berada di pengungsian aja,”kata Joko. Tempat yang dikunjungi di Pulau Galang antara lain makam pengungsi, youth center, dan beberapa tempat ibadah serta patung raksasa Dewi Kwan Im atau Quan Nam Im.


Kami berkesempatan mengunjungi satu vihara Dewi Kwan-Im bekas peninggalan dari para pengungsi vietnam di pulau galang. Mereka mendirikan vihara Dewi Kwan-Im ini sebagai rasa terima kasih atas bimbingan Sang Dewi selama dalam perjalanan di tengah laut. Setiap hari mereka juga memohon berkah Sang Dewi Kwan-Im untuk menjaga mereka dari segala macam musibah dan halangan lainnya.
Kehidupan mereka di pulau galang akhirnya dapat berjalan lancar selama bertahun-tahun. Tidak terasa lebih dari belasan tahun telah terlewati, banyak pasangan muda yang menikah dan melahirkan anak di pulau galang ini, banyak pula orang-orang yang meninggal di pulau ini. Mereka telah menganggap bahwa pulau galang ini telah menjadi bagian kehidupan mereka.

Hingga akhir tahun 1997, pemerintah Indonesia mulai mengembalikan seluruh pengungsi vietnam kembali ke vietnam. Segala kegembiraan yang ada mendadak berubah menjadi kesedihan dan ketakutan. Trauma dari penderitaan yang mereka alami disaat mengungsi dari vietnam ke pulau galang kembali membayangi mereka. Trauma ini semakin hari semakin jelas timbul dan membekas dipikiran mereka kembali. Mereka mengalami kegoncangan dan penderitaan batin yang luar biasa.
Banyak dari para warga vietnam ini yang tetap berkemauan keras untuk tetap tinggal di pulau galang ini hingga akhir hayatnya, mereka memilih lebih baik meninggal disini daripada harus pulang kembali ke vietnam. Setiap saat mereka memohon perlindungan kepada Sang Dewi agar dapat dikabulkan permintaannya.
Tragisnya, banyak pula yang melakukan bunuh diri, seperti membakar diri, atau meminum racun. Sungguh suatu penderitaan yang sulit dibayangkan, Sang Dewi Putih sangat sedih hingga air matanya tidak dapat keluar lagi karena telah habis menyaksikan penderitaan dari para pengungsi vietnam di pulau ini.
Para pengungsi vietnam tersebut begitu yakin bilamana meninggal di sini tentunya Sang Dewi masih dapat membantu mereka untuk mencapai kehidupan akan datang yang lebih baik. Tetapi bilamana mereka meninggal didalam perjalanan atau ditempat lainnya, mereka merasa sulit untuk mendapatkan kehidupan akan datang yang lebih baik.
Berjemur di Pantai Menur

Tak lengkap rasanya kalau pergi ke P Galang tidak sampai ujung pulau. Ada 2 pantai di ujung pulau tetapi kami mengunjungi salah satunya yaitu Pantai Menur. Ada banyak pengunjung pada hari minggu dan rata-rata yang bertemu sewaktu melihat sisa peninggalan pengungsi Vietnam. Ada banyak warung dengan bangunan dari kayu. Pantainya sendiri sebenarnya indah, dengan garis pantai melengkung dan ombak beriak kecil. Pasirnya putih dan landai. Sangat cocok untuk bermain-main di pantai. Sayang sekali saat itu cuacanya panas terik dan hanya ada sedikit pengunjung bermain air. Kami juga tak lama di pantai ini.
Setelah sampai ujung pulau Galang kami kembali melewati jembatan Barelang. Suasana sore di jembatan lebih ramai. Bahkan di salah satu jembatan dijadikan arena balapan sepeda motor. Banyak sekali masyarakat yang melihat arena balap sehingga memacetkan jalanan. Di jembatan utama suasana lebih ramai dengan banyak pengunjung yang pada duduk di pinggir jembatan menikmati sore.

Akhirnya kami harus mengakhiri lawatan. Sopir mengantar ke hotel dan kami mengucapkan banyak terima kasih. Kami senang menyusuri Pulau Galang, sebuah tempat yang tak terbayangkan sebelumnya.

Tagged as: , ,

sunaryo is
Email this author | All posts by sunaryo

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.