Catper KL - Langkawi - Phuket - BKK - Ayutthaya - ChiangMai
By desyreviani • Nov 14th, 2008 • Category: Cerita Perjalanan, Mancanegara, Travel Tips, Wisata
Preparation
Persiapan perjalan di mulai 4 bulan yang lalu. Dimulai dari menentukan tujuan, budget & waktu cuti yang di dapat. Juga menyepakatkan visi & misi diantara kami 4 orang peserta, untuk meminimise konflik2 yang dapat terjadi dalam perjalanan. Browsing sana sini untuk mencari rute yang pas dengan kebutuhan kita. Karna selain tujuannya liburan murah, kami juga berniat untuk mengunjungi sahabat yang ada di KL & Bangkok. Setelah bongkar pasang rute, membuat detail rundown & budget, dan membeli tiket pesawat, maka tujuan yang akan kami tempuh adalah : Kuala Lumpur, Malaka, Genting,
Langkawi, Phuket, Phiphi Islands, Bangkok, Ayutthaya, Chiang Mai. Lama
perjalanan 10 hari. Tanggal perjalanan 24 Oktober s/d 2 November 2008.
Pesertanya 4 orang perempuan .
Untuk Akomodasi, kami menggunakan budget airlines, Air Asia round trip untuk 7 kali penerbangan, 1 kali naik kereta api & 1 kali day tour di Phiphi. Untuk penginapan, ada yang menginap di rumah teman, guesthouse & memakai fasilitas staff benefit yang dimiliki oleh salah seorang dari kami, Dewi yang bekerja di di Four Seasons Hotel di Jimbaran. Rencana awal, untuk Bangkok, tadinya kami sudah memilih salah satu hostel yang di Khaosan Road.
Kami juga membuat sebuah buku perjalanan ukuran setengah A4 yang isinya:
detail tentang sejarah, tempat2 wisata dari masing2 kota yang akan kami kunjungi, rundown schedule, copy tiket pesawat, copy konfirmasi reservasi hotel, tourist map yg kami download dari internet, emergency contact & halaman kosong untuk expenses. Untuk detail touristmap, selanjutnya kami dapatkan saat di airport atau stasiun di kota yang kami datangi.
1 bulan sebelumnya, kami telah menyepakati barang-barang apa saja yang harus kami bawa, agar tidak terlalu berat & tidak terlalu banyak excess ketika pulangnya. 2 minggu sebelum berangkat, tiba saatnya kami mulai menjaga stamina & minum vitamin. 3 hari sebelum berangkat kami sudah menukarkan uang ringgit & baht, menyelesaikan packing barang-barang, print tiket pesawat & konfirmasi hotel, dan menjilid buku perjalanan.
Perjalanan
Day 1, 24 oktober 2008, Jakarta – Kuala Lumpur
Di Bandara SH Jakarta, saya mendapat mengalaman kurang mengenakan, ketika di imigrasi. Gak tau ya, sepertinya mereka biasa membentak TKI/TKW. Lembar “Departure” belum kami isi, dan mereka nyuruh ngisi nya sambil membentak-bentak dan mengusir kami. Evy, Salah seorang teman saya marah, dan bilang “gak bisa ya ngomong nya ga bentak2” … itulah, agak menyedihkan, di bentak2 oleh bangsa sendiri, padahal sepanjang 10 hari perjalanan kami, kami selalu diperlakukan sangat baik oleh imigrasi negara lain, walaupun saya sempat kehilangan lembar “Departure” untuk keluar Malaysia.
Berangkat dari Jakarta, jam 12.20 dan tiba di Kuala Lumpur, sekitar pukul 15.30 waktu setempat. Setelah melalui imigrasi, Butet, sahabat kami di KL sudah menjemput. Lunch di perjalanan dengan roti canai, roti jala, kari kambing & teh tarik. Kami langsung menuju Malaka, kota bersejarah Malaysia.
Perjalanan memakan waktu selama 2 jam lewat tol. Kami melewati gerbang Malaka, mengunjungi kompleks Stadthuys. Bangunan berwarna merah marun ini dibangun pada tahun 1650 & dulu menjadi pusat kota dan pusat pemerintahan.
Sekarang dijadikan museum sejarah dan museum kebudayaan, di dalamnya terdapat juga Gereja. Trus kita naik becak wisata. Becak di Malaka unik, abangnya ada di samping kanan kita, penumpangnya bisa berdua. Seluruh becaknya penuh dihiasi bunga-bunga plastik warna warni mirip pelaminan berjalan & full music!!…Keren deh pokoknya. Perjalanan sekitar 7 menit, kami menikmati becak sambil senyum-senyum, gak tau deh karna exciting dengan pemandangan ato karna serasa pengantin sunat
…..
Kami naik becak biayanya RM 10, dari depan Stadthuys ke benteng A Famosa, yang dibangun oleh bangsa Portugis pada 1511 untuk menahan serangan Belanda yang menyerbu ke daerah Malaka.Di depan benteng ada meriamnya juga. Setelah dari A Famosa, kami mampir sebentar ke Mall Dataran Pahlawan yang ada diseberangnya, untuk liat-liat, siapa tau ada yang bisa dibelanjain.
Setelah itu, kami makan malam seafood di Kampung Portugis,dari benteng A Famosa, kira-kira 10 menit perjalanan dengan mobil. Menunya, kepiting asam manis, lala rebus (semacam kerang), ikan steam & udang goreng mentega. Kami makan ber 6, total RM 128. Kepiting asam manisnya enak banget, ikan steam nya juga, rasanya enak & segar.
Sekitar jam 9 malam, kami kembali ke Kuala lumpur, menginap di rumah Butet di daerah Kajang. Di perjalanan kita sempat nyobain durian Malaysia, kecil2, dagingnya ga terlalu tebal tapi rasanya legit.
Day 2, 25 Oktober 2008, Kuala Lumpur city tour
Jam 6.30 pagi di Kuala Lumpur masih gelap. Baru aja subuh ….
Kita berangkat dari rumah jam 9 pagi, tujuan pertama kami adalah Putra jaya.
Putra jaya adalah pusat administrasi Malaysia yang baru. Jalan-jalan di daerah ini sangat bersih, rapih dan tertata apik. Kami berfoto di Dataran Kemerdekaan, Masjid Putra & Istana Kebangsaan. Kami brunch di foodcourt yang ada di sana. Jam 11 kami menuju KL, ke Suria KLCC-Twin Tower. Lumayan lama kita berada di KLCC ini, keliling, makan, sholat & borong Vincci. Oiya, untuk turis, kalo mau beli Vincci, di KLCC ada diskon 10%, tinggal tunjukkan passport ke information center, tukarkan voucher. Gak tau di toko2 lain bisa diskon juga atau tidak.
Setelah itu kita ke Gedung Parlemen dan Lapangan Merdeka, yang bagus banget & indah, melewati daerah Masjid India, Masjid Raya, beli souvenir di Central Market, dan menghabiskan malam di Bukit Bintang.
Daerah Bukit Bintang kalo malam bagus, berlampu-lampu. Bisa berjalan kaki di sepanjang daerah ini & banyak show2 kecil seperti pengamen gitu, tapi versi keren nya. Kalau mau cobain rasa Timur Tengah, bisa nyobain shawerma seharga RM 8 & es krim Turki yang 2 scoop nya RM 5. Enak. Atau mau makan nasi lemak & cane juga banyak. Untuk hunting oleh-oleh, di daerah ini juga banya toko & mall.
Pulangnya kira-kira jam 11.30 malam, kami masih mampir dan makan lagi roti cane, roti nan & beberapa macam roti lainya dan beberapa macam jenis kuah kari. Udah kenyang sih, tapi tetap aja kami lahap makannya….
Tips : kalau mau naik ke Skybridge Twin Tower, antri tiket dari pagi, kalau sudah agak siang, sudah habis. Kalau waktu di KL tidak banyak, hanya 1 atau
2 hari, rute di atas bisa di jadikan referensi dengan tujuan akhir hari itu adalah Bukit Bintang. Untuk kendaraan kebetulan teman kami ada mobil. Naik mobil LCCT-KLCC kira-kira 1 jam. Pilihan naik bis atau LRT juga bisa, kalau rame-rame, mungkin sewa mobil lebih murah jatuhnya. Sekedar informasi LCCT – KL Sentral bisa naik Air Asia Shuttle,bis merah tinggal cari di terminal kedatangan. Harganya RM 9/orang/way. Trus dari KL Sentral, kalo mau langsung ke KLCC, bisa naik LRT Putra, turun di KLCC, kalo gak salah harganya RM 2.
Day 3, 26 Oktober 2008, Langkawi
Di hari ketiga, jam 6.30 pagi kami berangkat menuju LCCT untuk penerbangan ke Langkawi. Dari Kajang ke LCCT sekitar 45 menit, dengan mobil. Flight kita ontime berangkat. Dan tiba di langkawi pukul 9.30 pagi. Kita langsung keluar dan mencari penyewaan mobil. Kami menyewa mobil jenis Kancil di luar airport sebesar RM 60 untuk 24 jam & mengisi bensin RM 20. Lebih mahal dari Bali, tapi anyway okelah, mobilnya juga lumayan, walau kopling berat banget. Di dalam airport ada juga counter2 sewa2 an mobil,harganya sedikit lebih mahal.
Jadi tinggal kita pilih. Evy bertugas nyetir hari itu. Kami sarapan di warung sekitar airport dengan menu sederhana telur , sayur & teh hangat, seharga RM 14 untuk ber empat.
Setelah sarapan, kita langsung jalan keliling, tujuan pertama adalah Langkawi Cable Car. Sepanjang perjalanan kita melewati pantai2. Salah satunya adalah Pantai Kok. Relatif kurang berombak, karna terhalang pulau-pulau kecil di sekitarnya, pasirnya putih, viewnya pulau-pulau kecil, yacht & mercusuar. Indah yaaa…
Tidak sampai 30 menit kemudian, kami tiba di cable car. Cable Car ini berada di kaki gunung Mat Chincang. Saat kami ke sana, bertepatan dengan long weekend Depavali di Malaysia, jadi penuh banget. Tiket naik cable car per orang seharga RM 25, dan ngantri kayak di Dufan kira-kira 1.5 jam. Tiket gak boleh hilang karna pas masuk & selesai harus swipe di mesin. 1 cable car dapat di isi maksimal 6 orang. Tidak boleh membawa minuman di tangan & gak boleh minum(boleh asal gak keliatan). Jadi kalo bawa air, sebaiknya di simpan di dalam tas.
Tibalah saat kami naik ke dalam cable car. Walau excited, tetep aja deg-deg kan, satu meter pertama aja, saya udah deg-deg kan….uhh…..makin tinggi…..sumpe keringet dingin….gak sampai 10 menit, kami tiba di Setopan pertama di ketinggian 652.5 meter, kita turun dari cable car. Terlihat dari atas pulau2 kecil di sekitar langkawi dengan airnya yang hijau & main island
langkawi. Cantik sekali.
Setelah itu kita teruskan lagi naik cable car ke puncak, menuju ke setopan kedua diketinggian 710 meter, wuihh..serem juga pas di cable car, apalagi pas perpindahan tiang, tahan napas. Juga pas kita mau sampai ke puncak, itu rasanya curam banget perjalanannya, karna harus melawan tebing gunung. Total jarak tempuh cable car ini dari terminal di bawah kira-kira 2km.
Sepanjang perjalanan di atas cable car, di bawah kita bisa lihat air terjun & hutan langkawi di gunung Mat Chincang yang masih bersih. Di setopan kedua, view tetap sama, hanya lebih tinggi.
Dari cable car, kami menuju Dataran Lang/Eagle Square, perjalanan kira-kira 20 menit. Untuk foto di landmarknya Langkawi. Eagle Square ini letaknya bersebelahan dengan Kuah Jetty. Kami makan siang di Kuah Town dan sempat berkunjung ke Duty Free shop di sana. Setelah itu kita melewati jalan tengah pulau, Jl. Air Hangat, menuju utara untuk check-in di Four Seasons Hotel yang ada di daerah Tanjung Rhu. Desain hotel bagus sekali dan bergaya timur tengah, tipe kamarnya Villa semua dan besar. Kalo nginep di sini, jangan lupa berfoto di 99 lampu gantung yang ada di foyer depan. Keren banget.
Sepanjang sore dan malam itu kami habiskan untuk menikmati fasilitas hotel nan sangat nyaman dan tak lupa menunggu sunset di Pantai. Pantai Tanjung Rhu, pasirnya putih halus,gak nempel di badan.Di sepanjang pantai kita masih banyak menemukan rumah kerang-kerang kecil. Banyak sekali dan modelnya bermacam-macam. Mirip di sepanjang pantai Ujung Genteng,ketika susur pantai, kita juga banyak menemukan rumah kerang, tapi biasanya sudah patah/tidak utuh. Yang utuh & masih bagus, biasanya udah ada di warung sekitar untuk di jual
….
Day 4 3, 27 Oktober 2008, Langkawi – KL
Kita gak begadang dan tidur nyaman banget, cukup untuk recovery. Pagi2 setelah kembali menikmati pantai, dan kami bersiap untuk check out, untuk kembali menuju KL. Kami start dari hotel jam 9.30 pagi, kali ini saya bertugas nyetir. Enak juga, jalanannya sepi banget. Di perjalanan kita sering bertemu monyet, karena masih banyak banget hutan.
Mobil kami kembalikan di Aiport. Caranya mirip kalo kita sewa mobil di Bali, SIM kita dipegang sama mereka dan dikembalikan saat pengembalian mobil di Airport. Dari pengalaman kemarin, SIM Indonesia bisa dibawa dan berlaku di Langkawi.
Flight Langkawi-KL kali ini pun sangat ontime. Pesawat Malaysia Air Asia kayaknya besar-besar semua, yang kami naiki pp KL-Langkawi, keduanya jenis Airbus. Oiya, kami juga punya favorit minuman di pesawat ini, Milo. Cobain deh. Setelah mencoba di setiap penerbangan dalam trip ini, Hot Chocolate Milo Malt, yang disediakan Malaysia Air Asia sebesar RM4/THB40/Rp 12000 per gelas adalah yang paling enak.
Kami sampai di LCCT pukul 13.00, langsung ke naik taksi kembali ke rumah Butet di Kajang, untuk mengambil koper, sholat dan makan siang.
Karena ada delay sekitar 6 jam, pesawat kami ke Phuket yang harusnya berangkat pukul 15.00, delay menjadi 21.00. Siang itu kami isi dengan mengunjungi Stasiun Lama, Tugu Pahlawan, KL Sentral & membeli oleh2 coklat.
Kami di antar sampai KL Sentral. Dari sini kami memakai Air Asia airport shuttle. Bis ini berwarna merah. Harga 1 kali jalan menuju airport RM 9 per orang.
Di sini tadinya kami sempat merubah schedule, dan rencana hari ini ke Genting, tapi karna hari ini adalah hari terakhir long weekend Depavali di Malaysia, maka di prediksikan jalanan menuju dan pulang dari sana akan macet banget. Takut ketinggalan pesawat, akhirnya kami putuskan untuk tidak ke Genting.
Kami tiba di Phuket pukul 22.00, dari airport kita naik minibus, dapat harga THB 150 per orang per way. Katanya sih “we leave now” tapi kita nunggu kira-kira 20 menit, baru berangkat. Isi minibus 11 orang, 4 kami Indonesia, sisanya bule. 2 orang diantaranya, sebelum berangkat ke Phuket baru saja membatalkan keberangkatan ke Bali, karna travel warning dari pemerintah Australia, padahal udah hold tiket air asia dari 3 bulan sebelumnya. Tadinya dari KL-DPS, akhirnya mereka beli lagi & rubah jadi KL-Phuket. Sayang ya…padahal Bali nggak kalah cantik…
Kami sempat mampir ke sebuah tour & travel dulu untuk ditawari hotel & tour, karna kami sudah punya, jadi kami menunggu saja di mobil. Akhirnya tiba di penginapan. Kita menginap di Som Guesthouse di daerah Patong. Rekomendasi penginapan ini saya dapatkan dari internet. Ternyata betul, tempatnya bersih & baru. Kamar mandinya bersih. Dan Bapak yang punya penginapan baiiikkkk sekali. Orang korea. Sebelumnya saya sudah memberitahu mereka, kalau saya late check-in karna pesawat delay. Pihak minibus yg kita tumpangi sempat menelepon guesthouse untuk menanyakan alamat pastinya. Dan ternyata Si Opa menunggu kita di pinggir jalan. Ketika kita sampai, Opa sudah melambai-lambai di sebrang jalan…”Welcome Miss Dewilina & friends..” Duh, baiknya. Feels like home…
Di sini kami sekalian membooking Day Tour untuk ke Phiphi Island keesokan harinya.
Dari jalan raya, Som Guesthouse terletak kira-kira 20 meter masuk ke dalam.
Untuk menginap 2 malam, harga per orang THB 600. Sebelum membayar kami dipersilahkan ,melihat dulu kamarnya. alamatnya: Som Guesthouse, 52/14 Rat-u-thit Rd, Patong, Kathu. telp : +66 872667140, email :
Setelah menaruh barang di kamar, kami mencari makan. Kita makan di Patong Food Park, kira2 berjalan 3 menit dari guesthouse. Kami memesan Ikan steam & Tomyam. Tomyam nya enak & maknyus. Porsinya besar. Ikan steamnya juga enak dan segar, hanya agak pedas. Setelah itu balik ke hotel & istirahat.
Day 5, 28 Oktober 2008, Phiphi Island Day Tour
Pagi-pagi jam 7.30 pihak tour telah menjemput. Kami menggunakan Paket Tour dari Phuket Siam Seacanoe. Pemilihan ini kami dapat dari rekomendasi di internet. Harganya THB 1400 per orang, termasuk boat, English speaking guide, cookies & softdrinks selama di perjalanan, snorkel mask & life jacket di pinjamkan, tapi gak boleh hilang. Kalo hilang denda THB 1000. Kalo mau sewa fin THB 100 per pasang, beli roti untuk makanan ikan THB 25.
Sepertinya Tour ini gak punya web, tapi kalo perlu, alamatnya: 48/6 Moo 9 T Chalong, A.Muang Phuket 83130, telp : 66-76-280678, 66-76-280732.
Phiphi Island atao Koh Phiphi adalah kepulauan yang masuk dalam Taman Nasional Thailand, terletak di Laut Andaman, sebelah barat propinsi Phuket dan Krabi. Ada dua pulau utama yang sering di kunjungi. Yaitu Phiphi Don dan Phiphi Ley. Kalau kita naik boat dari Phuket, kira-kira perjalanan selama 45 menit. Kalau memang berlibur khusus ke Phiphi ini, bisa menginap di hotel-hotel yang ada di Phiphi Don dan island hopping ke beberapa pulau di sekitarnya. Salah satu keunikan daerah ini yang tidak ditemui di pantai lain adalah karena di beberapa pantai ada sejenis algae yang tumbuh di dasar laut, yang membuat warna air lautnya menjadi hijau tosca.
Ketika musim hujan & cuaca buruk, kita tidak dapat mengunjungi pulau ini.
Alhamdulillah hari itu cuaca cerah, walaupun pagi2 sempat gerimis. Setelah menjemput beberapa peserta, kami berkumpul di Rasada Pier. Kami diberi label boat/nomor minibus yang harus kami ingat.Minibus kami nomor 20, dan boat kami nomor 8. Pagi itu dari tour yang sama kira-kira ada sekitar 10 boat yang berangkat, dengan kapasitas masing-masing boat sekitar 30 orang.
Peserta tour sebagian besar bule-bule, ada juga orang jepang, korea & arab.
Kayaknya hari itu, hanya kami berempat yang berasal dari Indonesia. Sambil menunggu nomor boat kami dipanggil kira-kira 20 menit, kami berganti pakaian renang & minum kopi yang gratis disediakan.
Kapten kapal kami sebut Mr. Eight. Ha..haa…ha..kenapa?? karena suaranya lantang & very friendly. Jadi kalo memanggil kita bila waktu berkunjung telah habis, maka dia akan berteriak bahas inggris dengan logat thai nya yang khas….”Hellooowww, boat number eight…number eight…..number eight”….begitu berulang-ulang, sambil mencek kami satu persatu dan memastikan semuanya telah naik kembali ke atas boat.
Semangat sekali, jadi kita yang jadi penumpangnya juga semangat. Juga ketika kita akan makan siang. Tetap dengan logatnya yang khas. “Everyone, we will have lunch at phiphi don, leave your bag in the boat, its safe.Just bring your camera & wallet, because after lunch you will go walking-walking & chopping-chopping”…. Belanje maksudnya ….:D…..
Pulau pertama yang kami sambangi adalah Maya Bay, tempat syuting film The Beach nya mas Leonardo DiCaprio, airnya hijau. Walau ramai turis, tetap saja indah. Juga view gunung di Maya Bay, bagus. Kita di Maya Bay kira-kira selama 30 menit.
Kemudian kita ke Viking Cave & Pileh Cove, kemudian mampir di Monkey Beach.
Lalu snorkeling di Loh Samah Bay, berhenti di sini selama 30 menit. Salah seorang dari kami, Dewi, berenangnya jago banget di laut, kayak lele.
Lumayan dalam, kira-kira 6 meter, dia berenang gak pake pelampung, ada kali
15 menit. Di tempat ini kita juga bisa feeding fish. Dari boat kita lemparkan roti, trus ikan kecil berebutan makan. Feeding fish sambil snorkel juga bisa. Terumbu karang di sini yang kami lihat hampir semua rusak, mungkin karna tsunami ya.
Setelah itu kita lunch di Phiphi Don. Di dalam area restaurant, telah tersedia puluhan meja bundar isi 10 orang, berikut makanannya sepenuh meja.
Entah karena kita lapar atau memang enak, rasa makanannya lezat sekali. Yang pasti sih semuanya fresh. Ada menu seperti sayur capcai, itu jagung muda & wortel nya pas kita makan masih garing2.Ada tomyam juga, ada spaghetti, ayam pake kacang mede, banyaklah menunya. Setelah makan, kita berkeliling di Phiphi Don, yang penuh dengan toko-toko. 1 jam kemudian terdengar lah… “Number eight….Boat Number Eight”….he..heeee…tibalah saat nya kita untuk naik boat. Kali ini perjalanan selama 20 menit, menuju Raya Island. Di pulau ini kita berhenti selama 2 jam. Keren abis. Pulau ini kecil banget, dikelilingin cumen 10 menit. Hanya terdapat beberapa toko2 yang jual pakaian pantai, toilet & payung+kursi pantai. Payung & kursi pantai ini disewakan sebesar THB150/kursi. Kalau mau menghabiskan waktu leyeh2 sambil berjemur, silahkan sewa kursi ini. Atau bisa berenang di pinggir pantai, snorkeling agak ke tengah dan sambil memberi makan ikan. Seru banget, kita taro roti di telapak tangan, ikan2 tersebut langsung berebutan… Kita juga dapet free buah potong (semangka & nanas) yang bisa di ambil di stall yang disediakan oleh pihak Tour.
2 jam lebih bermain, gak terasa, tibalah saatnya…”Number eight……number eight…boat number eight…heloowww”…. ..Kita kembali ke Boat, dan perjalanan pulang ke Rasada Pier di Phuket memakan waktu sekitar 45 menit..
Jam 5 kami tiba di Chalong Bay. Dan minibus telah menunggu untuk mengantar pulang, 1 jam kemudian kita tiba di Som Guesthouse.
Day Tour ke Phiphi Island ini merupakan salah satu highlight liburan kali ini… puas banget, sampe item..tem..
CU again Mr. Eight… semangatnya memandu, bikin seneng…
Malamnya kita dari Som Guesthouse, kita jalan kaki ke Patong Seafood, untuk dinner. Lumayan jauh, jalan sekitar 30 menit. Di Patong Seafood kita makan Tomyam yang nggak spicy & Ikan bumbu garlic & butter enak, habisnya lumayan mahal, total kira-kira 1800THB. Setelah makan, kita jalan ke Bangla.
Kawasan ini kalau malam rame nya minta ampun, banyak café, toko dan jualan kaki lima. 2 jam berjalan kita pegel-pegel, trus kita balik ke hotel sekitar jam 1 malam.
Day 6, 29 Oktober 2008 Recovery Day
Lelah dari Phiphi kemarin, hari ini kita fokuskan untuk tidak memadatkan jadwal. Kita leyeh2 di penginapan, sambil brosing & kirim-kirim foto :D.
….Oiya, di Som Guesthouse ini free wifi. Just bring your laptop. Sekitar jam
11 siang kita baru berangkat. Kita masih ada waktu sampai jam 18.00, waktunya ke airport untuk menuju Bangkok.
Kita nyobain Sticky Rice Mango, harga nya 1 porsi THB 30 sate ayam chicken wings & cumi bakar, yang harganya THB 10/tusuk.Walaupun makanan pinggir jalan, tapi rasanya enak.
Siang itu kita berjalan kaki di sekitar Patong, Rad-U-tit Road & ke Junceylon Mall. Mall terbesar di phuket. Untuk makan siang, belanja sedikit oleh2, dan menambah sedikit perlengkapan & berbekalan perjalanan selanjutnya. Kita lunch sempet nyobain kacang panjang , udang di tumis agak pedas & padthai. Rasanya lumayan, total biaya makan kali ini THB 230. Kami pun sempat mencicipi menu makanan timur tengah di sana, Makaroni berbumbu arab, seharga THB 200 per porsi, lumayan banyak, bisa makan berempat.
Sore harinya setelah sholat magrib kami berangkat menuju airport.
Menggunakan taksi dengan biaya THB 500. Kami memakai taksinya jenis mobil biasa. bukan taksi meter. Mobilnya bagus & nyaman. Bisa didapatkan di hotel atau toko/travel di daerah sana.
Flight kami Phuket – Bangkok berangkat pada pukul 20.30, dan tiba di Bangkok pada pukul 21.30. Wah takjub banget liat airport Suvarnabhumi. Besar banget ya…. selain bangunannya 3 lantai, jalanannya pun juga di buat 3 lapis. Kami menggunakan bukan taksi meter. Seharga THB 400. Kebetulan drivernya suka ngobrol, walaupun bahasa inggrisnya minim, tapi dia berusaha untuk bisa.
Hasilnya obrolan kami pun bercampur dengan bahasa tarzan. Dia nggak tau di mana Indonesia. Tapi ketika kami sebutkan “Bali”… tiba-tiba dia berteriak “ah ya ya bommm….ya..yaa…Bali Bomm” ……Haddoh…masa’ yang di inget cumen bom nya ajjah seh…
Yuni dan Evy pun susah payah menjelaskan, saat sang driver penasaran, apa sih pekerjaan kami di Jakarta. Dia seneng banget ketika Dewi memberi selembar uang Rp. 5000.
Sampai hotel pukul 11 malam, kita langsung istirahat. Karena besoknya harus bangun pagi. Hotel Four Seasons Bangkok ini terletak di Ratchadamri Road, nggak jauh dari perempatan erawan shrine, Siam discovery & siam paragon.
Lobbynya bagus, klasik dan penuh bunga anggrek bulan. Satu hal yang keingetan terus, harum lemongrass/serai yang selalu tercium di seantero lobby hotel. Kami mendapat kamar bersebelahan dengan connecting door, kamarnya juga enak, luas dan nyaman… :D…
Tips: Untuk taksi dari airport ini, kalau kita menggunakan taksi meter, bisa sedikit lebih murah, ini kita buktikan saat dari Hotel menuju airport.
Day 7, 30 Oktober 2008, Ayutthaya
Di hari ketujuh ini, perjalanan cukup berat. Untuk efisiensi waktu & biaya saya memutuskan untuk mengambil rute dari Bangkok naik kereta di Stasiun Hua Lampong, kemudian turun di Ayutthaya. Day trip di Ayuthaya, lalu lanjut ke Chiang Mai, karna kedua kota tersebut memang di lewati jalur kereta api yang sama, Northern Line. Akhirnya kami mencoba jalur itu. Dari hotel di Ratchadamri kami naik taksi meter THB 120 ke stasiun. Sesampainya di stasiun Hua Lampong, kami langsung menuju counter untuk membeli tiket. Petugas mengatakan kereta akan berangkat dalam 15 menit. Tanpa bertanya lebih jauh, kami pun membeli 4 buah tiket seharga THB 80. Wahhh, kami pikir, murah juga ya untuk perjalanan 2.5 jam kami hanya membayar sekitar Rp. 6,000.- per orang.
Kereta ini ekonomi, tapi seperti kereta kelas bisnis di Jakarta. Lumayan bersih dan tanpa AC. Gerbong kami adalah gerbong terakhir dari 5 gerbong.
Sambil menunggu berangkat, Evy & Yuni tinggal di kursi, saya & Dewi berinisiatif untuk melihat gerbong lain, ah siapa tau gerbong depan lebih bagus. Kami berdua turun, dan naik di gerbong ke 3. Ternyata gerbong ini lebih bagus, seperti kereta eksekutif di Jakarta, banyak turis nya juga.
Wah, Dewi langsung berfikir, mungkin di sini lah seharusnya kami duduk.
Secara kan turis yeee… walopun kepikir, murah juga ya tiketnya. Waktu dia mau lompat memanggil teman yang lain, saya tarik, “sstt..tanya dulu ke petugas, ini gerbong kita atau bukan”. Kami pun bertanya ke petugas, sang petugas menunjuk-nunjuk ke gerbong belakangnya (gerbong ke 4), kami pun ke sana, jenis gerbong sama seperti eksekutif juga. Untuk memastikan, kami pun kembali bertanya, wah ternyata si Petugas juga menggelengkan kepala, dan menunjuk ke gerbong belakang (gerbong ke 5). He..hee..heee…itu kan gerbong ekonomi tadi..nasib…
Kereta berangkat 10 menit lebih telat dari jadwal. Yang seru adalah ketika berhenti di stasiun kedua setelah hua lampong, tiba-tiba ada 3 orang berbicara kepada kami dalam bahasa Thai sambil menunjuk-nunjuk nomor seat yang tertera di dinding kereta dekat jendela. Deg!…. kami langsung melihat ke tiket. Jangan2…..mmhhh…kursi orang neh… selagi salah satu dari kami mengecek tiket kami, saya melihat ke tiket 3 orang tersebut dan memang benar, bahwa mereka berhak duduk di kursi yang kami duduki. Kalau begitu, kami salah duduk dong, sementara semua kursi sudah penuh. Saya pun bersiap-siap untuk mencari dan meminta orang lain yg menduduki tempat duduk kami, untuk bangun. Setelah di lihat, ternyata di tiket yang kami pegang tulisannya “NO SEAT”…hah? …..sumpe deh… tapi kami masih berpositif thinking.
Oh, mungkin maksudnya silahkan duduk dimana saja, kecuali yang sudah dipesan orang. Kami pun kemudian diberikan tempat duduk oleh warga dalam kereta yang melihat kalau kami agak bingung. Baru 5 menit duduk dengan tenang, kereta pun berhenti di stasiun selanjutnya. Sodara-sodara, kami pun kembali di suruh bangun oleh yang empunya tempat duduk yang baru aja naik…. Akhirnya kami pun menamakan stasiun-stasiun selanjutnya dengan “Stasiun Kecemasan”….:D …setiap di kasih duduk lagi oleh orang lain, dan berhenti di stasiun selanjutnya, kami cemas takut di suruh berdiri….. NO SEAT artinya ya gak ada hak duduk, alias berdiri aje….
Tipsnya :
Dari Bangkok ke Ayutthaya bisa di gunakan 3 cara. Pertama dengan bis, perjalanan sekitar 1.5 jam, naik nya dari daerah dekat pasar Chatuchak.
Kedua dengan kereta api, dari stasiun Hua Lampong. Yang ketiga bisa pake boat atau cruise menyusuri Sungai Chao Praya, jaraknya mencapai 137km. Kalo mau santai dan budget banyak, bisa pake cara yang ketiga. Kalau mau lebih hemat, gunakan cara pertama & kedua, kira-kira jaraknya 75km.
Ketika memilih kereta di Stasiun Hua Lampong, tanya benar ke counter & beli tiket yang ada seatnya. At least detailnya seperti apa. Atau kalau mau murah meriah, ya seperti itu. Kalau dapat hari sepi, ya kita gak akan di usir suruh berdiri, tapi kalau lagi ramai, ya nasib deh..
Incase perlu, Bangkok HuaLampong main Railways Station, tel (02) 223-3762,
224-7788
Sesampainya di Stasiun Ayutthaya, kami pun membeli tiket Ayuttahya – Chiang Mai. Ada pilihan Sleeper yang ada kompartemen nya. Tapi saat kami mau pesan ternyata habis. Di luar perkiraan, karna kita pikir sedang low season, jadi pastilah nggak penuh, eh ternyata penuh. Jadi lah kami pesan tiket seat biasa, untuk 4 orang seharga THB 2433.
Tidak lama kami pun keluar dari stasiun dan mulai memilih tuk-tuk untuk keliling Ayuthaya. Kami dapatkan tuktuk yang nyetirin seorang perempuan, kami menyewanya selama 4 jam dengan harga THB 800.
Ayutthaya dulunya adalah ibukoa kerajaan Siam selama 417 tahun, terletak sekitar 72 kilometer di utara kota Bangkok. Kota ini luasnya 2,556sqm.
Dilalui oleh 3 sungai besar, Lopburi di utara, Pasak di timur dan sungai Chao Phya di sisi barat dan selatan. Rata-rata turis yang day trip ke daerah ini, akan menghabiskan waktu selama 3 – 4 jam. Kalo forografer, kayaknya bakalan mesti nginep, abis banyak angle bagus.
Selama 417 tahun menjadi ibukota, Ayutthaya dipimpin oleh 33 raja dari 5 dinarsi kerajaan. Sejak 13 Desember 1991, Ayutthaya menjadi “UNESCO Wolrd Heritage”.
Ada banyak sekali wat di kota ini. Tapi kalau waktu terbatas, cukup beberapa yang besar saja.
Wat pertama yang kami kunjungi, kira-kira 5 menit perjalanan dengan tuktuk dari stasiun, adalah Wat Yai Chai-mongkol. Wai ini dibangun tahun 1357 oleh King U-Thong dan ramai dikunjungi orang beribadah. Di Wat ini ada juga patung Buddha tidur.
Selanjutnya adalah Wat Maha That. Dibangun tahun 1374 pada waktu pemerintahan King Borom Rachathirat 1. Dulunya, tempat ini adalah biara kerajaan dan pusat spiritual kota Ayutthaya. Di Wat ini ada kepala Buddha yang terbungkus akar pohon Bodhi. Warna dari akar kepala Buddha ini sama dengan warna akarnya, menarik sekali.
Setelah itu kami dibawa ke Phra Mongkonbophit, sebuah Wat yang sangat ramai oleh orang beribadah. Dan seperti rumah adat bentuknya. Di tempat ini terdapat patung Buddha yang sangat besar dibuat tahun 1538. Patung tersebut berada di sana sejak tahun 1610 atas perintah King Songtham.
Tiidak jauh dari Phra Mongkonbophit adalah Wat Phra Si Sanphet.Dibangun oleh King Boromatrailokanat di tahun 1448. Yang utama dari kawasan ini adalah terdapatnya tiga chedis di tengah-tengah. Di tiga chedis tersebut disimpan abu dari King Boromatrailokanat & kedua anaknya, King Ramathibodhi dan King Boromatrailokanat II. Terus ada batu yang mirip banget dengan dua orang sedang bersentuhan kening.
Terakhir adalah Wat Chai Watthanaram. Salah satu Wate yang paling indah di Ayutthaya ini mulai dibangun tahun 1630 atas permintaan dari King Prasat Thong sebagai peringatan untuk ibunya.
Di Ayutthaya, kami menemukan makanan favorit. Gak tau namanya dalam bahasa lokal apa. Kami menyebutnya martabak pisang. Yang jual biasanya wanita muslim keturunan Pakistan. Jenisnya kayak martabak. Tapi isinya pisang, telur & susu. Enak banget rasanya.Seharian itu, kami makan sampai 3 kali.
Makan siang kami hari itu dengan nasi ketan & sate ayam. Sate ayamnya enak, bumbunya mirip bumbu chicken wing.
Sore setelah keliling wat-wat, kami pun early dinner di restaurant yang tidak jauh dari stasiun, di pinggir sungai Chao Praya. Menunya tomyam & seafood platter. Rasanya nggak istimewa sih, biasa aja, harga lumayan, THB 600 untuk berempat.
Kami berbelanja sedikit keperluan di seven eleven, setelah itu kita menunggu di stasiun.
Kira-kira jam 6 sore, tiba-tiba kami di kejutkan oleh lagu kebangsaan Thailand yang diputar melalui pengeras suara, semua orang berd
desyreviani is
Email this author | All posts by desyreviani



