Menikmati Batam Sampai Temaram 1

Custom Search

By sunaryo • Nov 9th, 2008 • Category: Indonesia, Wisata

Sekitar  akhir April 2008 saya mendapat tugas ke Pulau Batam untuk mengikuti pelatihan pendalaman juri mutu versi WKM (Wahana Kendali Mutu). Di sela waktu saya jelajahi Pulau Batam pada libur hari Minggu seharian dan mencoba menikmatinya.

Batam sekarang memang tidak seramai dan seterkenal dulu.  Batam dulu terkenal sebagai sorganya barang elektronik dan terkenal dengan harga murahnya karena mendapat insentif pajak. Sekarang tidak seberapa berbeda dengan daerah lain. Seumpama ada perbedaan harga mungkin hanya kecil saja. Tetapi untuk pilihan macam barang dan harganya saya masih suka berbelanja di Glodok, Mangga Dua atau Mall Ambasador, Jakarta. Untuk berbelanja parfum, tas dan beberapa asesoris buatan luar negeri Batam masih menjanjikan dengan banyak ruko-ruko yang bertebaran seantero daerah, khususnya kawasan Nagoya.

Untuk kunjungan wisata, Batam masih menjadi daerah ramai karena merupakan titik terdekat dengan Singapore yang mendapat limpahan pengunjung baik dari Singapura maupun yang ke Singapura melewati Batam. Ada 4 pelabuhan fery untuk penyeberangan ke Singapura yaitu Batam Centre, Sekupang, Water Front Batu Ampar, Nongsa Putra dengan skedul tiap jam dari sekitar jam 08.00 sampai jam 21.00. Tarif sekitar SGD 28 pergi pulang. Tiket pergi pulang lebih murah dibanding bila beli 1 kali jalan. Di Batam juga ada Bandara Internasional Hang Ngadiem yang melayani penerbangan ke berbagai kota. Saya menggunakan penerbangan Garuda Balikpapan-Jakarta pada jam 8.30 dan dilanjut dengan penerbangan Jakarta-Batam sekitar jam 11.00 WIB. Kami menginap di Hotel Good Way di Jl. Imam Bonjol, Nagoya.

Tersenyum di Bukit Senyum
Ada sebuah tips wisata ke Batam yang saya baca dari internet. Salah satunya, Jangan terlalu berharap mendapatkan pemandangan aduhai seperti yang bisa Anda saksikan di Bali atau Jogja. Ternyata hal tersebut ada benarnya dan saya alami sendiri.

Cobalah menelaah publikasi semacam ini. Bukit Senyum adalah sebuah lokasi perbukitan di Batam. Dari kawasan Bukit Senyum, masyarakat bisa memotret Singapura, yang seolah-olah jaraknya tidak jauh. Dari Bukit Senyum masyarakat bisa menyaksikan bangunan-bangunan bertingkat Singapura, dan dari Bukit Senyum masyarakat bisa leluasa memperhatikan lalu lalang kapal laut yang akan bepergian dari dan ke Batam-Singapura atau ke tujuan lain. Dari kawasan Bukit Senyum masyarakat juga bisa leluasa menyaksikan pesawat-pesawat dari Bandara Internasional Changi, Singapura, take off hingga ke atas kawasan Bukit Senyum. Dan, bila malam hari, indahnya Singapura jelas terlihat. Lampu-lampu kapal dan bangunan tinggi di Singapura tampak gemerlapan. Sementara di Bukit Senyum, Batam, masyarakat pelancong menyaksikan eksotisme Singapura itu dengan cara yang sangat sederhana, yaitu duduk-duduk di atas rumput, atau bangku-bangku darurat yang disediakan para pedagang setempat.

Bayangan saya Bukit Senyum adalah suatu tempat yang asri, banyak orang dan ada tempat yang asyik untuk nongkrong lengkap dengan penjual makanan. Pemandangan malamnya lumayan oke dengan dihiasi lampi di kejauhan. Saya sudah membayangkan akan makan malam di sini. Apa kenyataannya setelah ke sana? Ya seperti tip iklan di atas. Sebuah tempat sepi, di pinggir jalan dan tidak ada apa-apanya. Hanya ada beberapa rumah bedeng dari triplek yang berfungsi sebagai warung berderet. Sekitarnya ada semak-semak. Tak ada pengunjung lain selain kami. Pemandangan malam pun tidak terlalu jelas karena jauh jaraknya dari Singapura dengan pandangan mata.

Kami ke Bukit Senyum berempat dengan beberapa teman, Manik, Teguh dan Pak Ator dengan mencarter taksi Rp80rb per jam untuk melihat tempat ini. Saya pikir juga jauh jaraknya karena saya lihat daftar harga carter taksi hanya drop ke sana sekitar Rp45.000. Ternyata hanya perlu waktu sekitar 10 menit dari tempak kami menginap di kawasan Nagoya. Al hasil, kalau tidak membaca internet dan lewat di situ tak ada sedikitpun keinginan menengoknya. Tapi bukit senyum tak salah. Ya kami senyum-senyum saja sama teman-teman yang kecewa di Bukit Senyum he…he… Itung-itung dapat untuk merasakan dua hal yang berbeda, kala di Km 40 Jalan Bontang-Samarinda ada Bukit Menangis karena tanjakkan jalannya, sayapun sudah merasakan bukit tersenyum. Tak masalah.

Di hari berikutnya, kami mencarter taksi dari hasil kenalan sopir taksi dari Bandara Hang Ngadim. Sehari sewanya Rp400 ribu dan kalau keluar Batam tambah lagi Rp50.000. Harga itu masih lebih murah dari sewa mobil di hotel sekitar Rp750.000 sehari. Di Batam hampir semua taksi tak ada argonya. Biasanya mereka membawa daftar tarif. Atau tawar menawar. Kadang taksi seperti angkot, sudah dicarter kalau disetop penumpang lain tetapi saja diangkut dan diantar setelahnya. Maka kalau mau pakai taksi tergantung kesepakatan awal. Kalau mau dicarter ya bilang dicarter. Kalau mau pergi dengan jarak dekat dan tempat yang strategis, stop saja taksi yang jalan dan tawar harganya. Taksi seperti ini seolah angkot saja.

Kami melihat peta dan rasanya yang menarik pada sisi pantai Barat sampai Jembatan Barelang. Kami lalu putar-putar Batam, mulai dari pantai Utara lalu menyusuri pantai Baratnya. Mencoba menikmati Batam apa adanya.

Melihat Patung Dewi Kwan Im di Resort

Kami pergi ke KTM Resort di Tanjung Pinggir, pantai Utara Batam. Resort seperti komplek perumahan mewah dengan beberapa bungalow dari kayu. Pemandangan resort khas daerah pinggir laut dengan view laut dan ada beberapa pulau. Gedung-gedung di Singapura terlihat dari kejauhan. Tak banyak pengunjung pada hari itu. Hanya kami dan satu dua pengunjung. Di kawasan resort sendiri ada patung Nam hai Kwan Se Im atau dikenal sebagai Dewi Kwan Im (Umat Budha mengenalnya sebagai Bodhisatva Avalokitesvara) dan bangunan tempat ibadahnya.

Di depan patung ada beberapa tanaman lotus dalam pot besar. Bunganya yang besar berwarna pink membuat cantik suasana. Di belakangnya ada bangunan yang tak seberapa besar, seperti kelas dalam sekolah berbentuk huruf U, terbuka salah satu dindingnya. Di dinding satunya terdapat gambar para dewa dalam jumlah yang banyak dengan beberapa keterangan memakai huruf China. Ada gambar sosok budha, pendekar, sosok dewi, sosok prajurit dll. Di pojoknya terdapat satu ruangan tempat membakar hio. Ada buku-buku bergambar Dewi Kwan Im di situ. Di depan patung ada tempat membakar hio dan ada tempat untuk semacam sedekah. Ada beberapa hio yang sudah terbakar dan beberapa lembar uang kertas Rp5000-an beserta uang koin di situ. Rasanya hanya kami berempat sebagai pengunjung yang melihat patung tersebut. Mungkin memang bukan waktunya beribadah.

Dari tulisan yang sebagai keterangan di dekat patung tersebut. Patung tersebut dibangun oleh Kah Tiat Meng, seorang warga Negara Singapura kelahiran tahun 1935 sebagai rasa syukurnya atas kesuksesannya sebagai lambang cinta kasih abadi. Patung tersebut tingginya 21 meter, terbuat dari beton bertulang dengan berat 112 ton.

Saya juga mencari referensi di beberapa sumber bacaan. Kepercayaan tradisional Tionghoa adalah tradisi kepercayaan rakyat yang dipercaya oleh kebanyakan bangsa Tionghoa dari suku Han. Kepercayaan ini tidak mempunyai kitab suci resmi dan sering merupakan sinkretisme antara beberapa kepercayaan atau filsafat antara lain Buddhisme, Konfusianisme dan Taoisme. Kepercayaan tradisional Tionghoa ini juga mengutamakan lokalisme seperti dapat dilihat pada penghormatan pada datuk di kalangan Tionghoa di Sumatera sebagai pengaruh dari kebudayaan Melayu.
Secara umum, kepercayaan tradisional Tionghoa mementingkan ritual penghormatan yaitu penghormatan leluhur dan penghormatan dewa-dewi. Penghormatan leluhur adalah Penghormatan kepada nenek moyang yang merupakan intisari dalam kepercayaan tradisional Tionghoa. Ini dikarenakan pengaruh ajaran Konfusianisme yang mengutamakan bakti kepada orang tua termasuk leluhur jauh.
Penghormatan Dewa-dewi dalam kepercayaan tradisional Tionghoa tak terhitung jumlahnya, ini tergantung kepada popularitas sang dewa atau dewi. Mayoritas dewa atau dewi yang populer adalah dewa-dewi yang merupakan tokoh sejarah, kemudian dikultuskan sepeninggal mereka karena jasa yang besar bagi masyarakat Tionghoa di zaman mereka hidup.

Dewi Kwan Im (Avalokitesvara Bodhisattva) adalah Budha yg menolak masuk serta menikmati Nirwana dan memilih tinggal di dunia untuk membantu manusia. Saat Beliau berdiri hendak memasuki pintu gerbang Nirwana, Dia mendengar tangisan penderitaan dari dunia di bawah. Dengan meninggalkan tawaran kenikmatan abadi di Nirwana, Beliau kembali ke dunia dan menetap untuk membantu jiwa2 menderita yg butuh pertolongan. Ada 20 Ajaran Welas Asih Dewi Kwan Im, diantaranya Jika orang lain membuatmu susah, anggaplah itu tumpukan rejeki, menyenangkan hati orang lain, mengejar hari esok, membela yang benar, jangan mengecam kesalahan orang lain dll.
Kami mengambil foto beberapa pose. Kami berkeliling melihat-lihat sekitarnya. Ada fasilitas parkir luas, kolam renang, cafe, beberapa kamar menghadap laut, tempat terbuka dari kayu. Ruang parkir luas tersedia. Saat itu sedang ada persiapan sebuah pesta makan malam. Ada dua orang sedang merapikan meja panjang. Salah seorang berwajah sipit saya tanya, “Siapa pemilik resort ini?” “Investor dari Singapura,” jawabnya. “Lho, boleh to investor dari Singapura membangun resort di sini?,” tanya saya. Jawabannya tak mengenakkan didengar oleh orang Indonesia, “Apa yang tidak bisa di sini. Asal mempunyai uang juga bisa membangun…” Waduh! Temannya lalu memberi penjelasan kalau resort ini ada banyak kamar. Rate semalam di atas Rp350 ribu-an. Saya memandang laut lepas. Ada beberapa perahu lewat. Dalam jarak dekat ada sebuah pulau dan di kejauhan hotel-hotel di Singapura terlihat.
Kami lalu melanjutkan perjalanan setelah puas mengesplorasi tempat. Kami ke Marina di pinggir laut sisi Barat. Hanya perlu waktu belasan menit untuk mencapainya setelah melewati beberapa areal gedung dan pepohonan. Masuk ke kompleks Marina melewati gate dan dikenakan biaya karcis sekitar Rp 4000-an per orang. Marina hanya pantai laut dengan pinggir yang landai. Beberapa tempat di pinggir laut disusun batu untuk penahan air laut. Di kejauhan di pinggir laut ada bangunan dari kayu bergaya rumah gadang dengan atap yang tinggi. Pengunjung tak banyak dan pemandanganya tak seberapa bagus. Ada beberapa anak kecil dan keluarga yang bermain air. Udara sangat panas. Nampaknya tempat ini sudah lewat masa bagusnya. Beberapa fasilitas umum sudah tak berfungsi. Ada fasilitas mainan sepeda air berwujud bebek teronggok saja di pinggir laut. Agak jauh dari pinggir laut ada fasilitas arena balapan go kart.

Berlanjut ke http://www.indobackpacker.com/2008/11/menikmati-bata…mpai-temaram-2

Tagged as: ,

sunaryo is
Email this author | All posts by sunaryo

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.