Menikmati Batam Sampai Temaram 2
By sunaryo • Nov 9th, 2008 • Category: Indonesia, Wisata

Melihat Maha Vihara Duta Maitreya
Hari menjelang tengah hari. Kami bertanya ke sopir tempat mana lagi yang layak untuk dikunjungi. Kami lalu dibawa mengunjungi vihara terbesar se-Asia Tenggara, Maha Vihara Duta Maitreya di Batam Centre. Vihara ini memang besar sekali dan terdiri dari 3-4 lantai. Ada beberapa hall untuk tempat ibadah.
Tempatnya bersih dan sejuk karena bangunannya berdinding tinggi. Ada patung-patung dewa dalam ukuran besar dan kecil dan gambar di dinding pada tiap hall. Ada beberapa pengunjung baik untuk beribadah maupun hanya untuk melihat-lihat. Yang beribadah kebanyakan masyarakat China. Banyak juga kaum muda dan remajanya. Kami juga leluasa melihat vihara sambil berfoto-foto sedang mereka beribadah. Mereka beribadah di depan patung besar dan kakinya menekuk dengan lutut yang bersandar pada meja rendah. Mereka khusuk. Kadang kepala mereka mengangguk-angguk berulang kali. Ada juga sambil berdiri di depan patung pada hall lain. Mereka menyedekapkan kedua tangannya pada dada sambil menjepit hio yang terbakar. Mereka yang beribadah tak terganggu dengan kedatangan kami. Ada beberapa fasilitas di vihara ini yaitu restaurant vegetarian, auditorium, souvenir shop, kelas-kelas untuk pelatihan dll. Di vihara ini menggelar acara khusus ”Jamuan Vegetarian” gratis dan terbuka untuk umum.
Graha Maitreya, merupakan graha dengan fungsi utama, tempat umat Maitreya melakukan kebaktian tiga kali sehari kepada Tuhan Yang Maha Esa, Buddha Maitreya dan para Buddha/Bodhisatva. Memiliki daya tampung 2000 orang. Ada beberapa hall yang mempunyai fungsi tersendiri. Graha Sakyamuni (Sidharta Gautama) merupakan graha kebaktian kepada Hyang Buddha Gautama, Buddha Amitabha, Buddha Baisayaguru, Bodhisatva Manjusri dan Bodhisatva Samantabhadra. Graha Patriat Merupakan graha bakti puja kepada para Buddha/Bodhisatva, yang sekaligus berfungsi sebagai aula pendidikan dan pelatihan serta Dharmasala. Graha Bodhisatva Avalokitesvara merupakan graha bakti puja kepada Bodhisatva Avalokitesvara.
Visi dan misi utama Maha Vihara Duta Maitreya adalah mengembangkan Maha Tao Maitreya. Ada beberapa ajaran Buddha Maitreya, diantaranya Mengagungkan Kasih sebagai doktrin utama, Menjadikan Senyuman Kasih kunci kesukesan dalam bertugas dan berelasi antar sesama manusia, Jiwa kasih sebagai teknik pembinaan batin dan pengendalian pikiran, Prilaku Kasih sebagai pedoman budi pekerti dan akhlak, Menempatkan Kebahagiaan Semesta dan “Semangat dipukul tak melawan, dimarah tak membalas” sebagai puncak kesempurnaan pembinaan diri dll.

Semua patung Maitreya mengekspresikan tawa-ria. Begitu dipandang, terasa nuansa hidup yang menyambut hangat, seolah-olah Maitreya berkata: “Welcome To The Loving World”. Misi Maitreya bergulir sesuai dengan revolusi alam dan tuntutan zaman. Ia menuntun semua manusia memasuki dunia baru, hidup dengan damai dan bahagia.
Latar Belakang pendirian gedung tersebut adalah sebagai berikut. Pulau Batam bagaikan bunga teratai yang tumbuh di tengah kolam, pulau yang diberkati, sepetak tanah yang menyimpan sejuta harapan. Ahli Geomansi menilai pendirian sebuah maha vihara akan memberikan nilai khusus bagi masyarakat luas. Pada tahun 1986, Pimpinan Maha Tao Maitreya Sedunia, YA. MS. Gao Shan Yu Ren tiba di Batam untuk memberikan bimbingan Kebangkitan Nurani. Beliau mengatakan Pulau Batam adalah Pulau Teratai, sebuah pulau mustika, yang kelak di atas pulau ini akan berdiri sebuah maha vihara. Dalam kesempatan itu, YA. MS. Gao Shan memberikan pesan kepada Pandita Muda Harun untuk segera mencarikan sebidang tanah yang cocok untuk dijadikan lokasi pembangunan maha vihara.
Pandita Muda Harun adalah seorang umat Maitreya yang taat dan seorang pengusaha uang sukses. Dalam usaha pencarian lokasi tanah, Pandita Muda Harun beberapa kali mengalami fenomena spriritual. Dalam mimpi ia didatangi Bodhisatva Avalokitesvara, yang memberikan pesan, betapapun sulitnya ia harus segera mendapatkan tempat ideal bagi pembangunan sebuah maha vihara. Bodhisatva Avalokitesvara juga berwelas asih akan selalu memberkatinya. Tiga bulan kemudian, sebidang tanah yang ideal telah ditemukan, berlokasi di Bukit Beruntung, Batam Centre. Dan pada tanggal 2 November 1991, dilaksanakan upacara pemancangan tiang pembangunan Maha Vihara Duta Maitreya oleh YA. MS. Gao Sahan Yu Ren dan Dewan Pengurus MAPANBUMI. Dana pembangunannya berasal dari swadaya umat Maitreya di seluruh nusantara dan para dermawan. Keseluruhan bangunan rampung 80% hingga waktu peresmian pada tanggal 23 Januari 1999. Peresmiannya dilakukan oleh Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya, Marzuki Usman dan Menteri Agama, Malik Fadjar tanggal 23 Januari 1999.
Vihara Maha Vihara Duta Maitreya terbesar di Asia Tenggara, dan pada setiap perayaan-perayaan agama Buddha menjadi salah satu tempat ibadah yang ramai, sedang di hari-hari biasa rutin dikunjungi wisatawan dari dalam dan luar negeri, seperti Korea, Singapura dan Malaysia. Peringatan Hari Raya Waisak meliputi tiga ritual, yaitu mendengarkan khotbah, serta pesan Waisak, memandikan Buddha Rupang Sakya Murti, dan menyalakan pelita.
Di vihara tersebut juga dilaksanakan Diklat Budaya Maitreya sampai angkatan ke-14. Para peserta diklat budaya maitreya akan mempelajari bahasa mandarin dengan memperdalam kemampuan mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Selain itu juga mempelajari seni kasih semesta serta mendapat bimbingan rohani sebagai bekal dalam menjalani kehidupan yang sesuai kebenaran sebagai manusia. Para peserta adalah umat atau aktivis Vihara Maitreya yang mengerti etika dasar di Vihara Maitreya dengan membayar sejumlah uang untuk mengikuti diklat. Dalam penutupn diklat biasanya diadakan pagelaran malam kesenian untuk mengenang Yang Arya Hao Ci Da Di sekaligus merupakan malam syukuran/kesenian. Keseluruhan acara tersebut dibawakan oleh siswa-siswi kelas diklat budaya maitreya dengan sangat meriah. Dimulai dengan persembahan tarian kasih alam “Huan Yin Ge” (Tembang Selamat Datang) sebagai sambutan kepada seluruh hadirin yang berjumlah lebih dari 500 orang. Penonton sepontan memberikan aplus setelah tarian berakhir dan MC memasuki panggung. Disusul persembahan senam sehat ceria ala kelas “Ci Yu” dengan lagu “San Zi Song” (Pujian Gunung).
Rasanya kami seperti berwisata spiritual saja. Setelah melihat vihara kami melaksanakan kwajiban kami sholat dhuhur dan ashar di Masjid Batam Centre. Masjidnya megah dan artistik dengan menara menjulang tinggi. Ada beberapa lantai dan tempat sholatnya ada di lantai 2. Lantai lain digunakan untuk ruang-ruang fungsional antara lain toko kelontong, toko buku, restoran, beberapa kantor, kelas pelatihan dan ruangan besar untuk tempat pertemuan. Saat itu baru ada acara resepsi pernikahan.
Makan Siang di Golden Prawn
Berulang kali sopir mengajak makan siang di suatu restoran yang ditawarkan. Kami juga ingin makan dengan manu khas daerah tersebut dan karena restoran yang diceritakan mirip yang kami maksud kami kami setuju ke restoran tersebut, sebuah restoran sea food. Lokasinya di pinggir laut. Restorannya besar sekali dan ada banyak meja kursi untuk pengunjung. Ada beberapa ruang terbuka dindingnya. Juga ruangan untuk acara khusus dengan tempat karaoke.
Kami memilih menu. Ternyata bahan yang dipilih masih mentah. Ada banyak ikan, banyak kerang, udang, cumi-cumi, kepiting dll dalam kolam kecil atau aquarium. Kerang ternyata jenisnya banyak sekali, juga udang macam-macam. Tinggal pilih lalu akan dimasaknya. Ada ikan hiu kecil juga ditawarkan. Karena saya pernah makan hiu bakar dan rasanya tak enak saya tak memilihnya. Harganya wow lumayan mahal terpampang di dinding kolam.
Kami memilih ikan kerapu dengan dimasak steam dan ikan bakar lainnya beserta sayurnya. Ikan setong sekitar Rp170.000 per kg. Harga kerapu Rp190.000 per kg, dan rasanya menjadi ikan termahal di situ. Kerapu jenis apa? Penasaran juga. Padahal di Bontang harga kerapu tak lebih dari Rp10.000 per kg. Tak apa kami ingin merasakan juga. Dan ternyata masakannya memang enak. Entah karena perut kami yang lapar.
Rasanya lucu dengan menu makan siang kami. Kami jauh-jauh dari Bontang ke Batam beli ikan kerapu dengan harga berlipat-lipat dengan ikan yang sama dengan di Bontang. Dengan begini supaya merasakan ternyata di Bontang itu ada juga yang murah yaitu kerapu. Kami bercanda juga sambil menghabiskan makan. ”Itu harganya masih Rp20 ribu he..he…,” komentar Teguh melihat masih ada tempelan daging di tulang ikan.
Sebelum makan saya ajak sopir untuk makan bersama. Dia menghilang sendiri. Ternyata dia juga mendapat fasilitas makan gratis. Saya tanya kenapa tadi tidak makan bersama, dia menjawab kalau banyak temannya di sini. Itu adalah jawaban kenapa tadi dia antusias menawarkan restoran tersebut. Ternyata restoran ini networkingnya dengan para sopir yang kebanyakan asal Padang.
Pasar Sekend di Bengkong Laut
Di Batam adalah sorganya barang sekon dari Singapura. Seumpama mau membangun rumah dengan semua barang sekend rasanya bisa dilakukan di Batam. Di situs internet juga disebutkan obyek wisata pasar sekend ini. Kami mengunjunginya setelah perut kenyang.
Ternyata lebih dari yang saya bayangkan. Memang di beberapa tempat lainnya ada semacam toko barang sekend antara lain sepatu, celana, baju, tas dll. Ya seperti tempat penjualan babe (barang bekas) di Bandung. Tak terlalu banyak. Tetapi pasar sekend di Bengkong laut itu bukan pasar lagi tetapi seluruh kampung sepanjang jalan sejauh sekitar 5 km dipenuhi barang sekend. Rumah bagian depan pinggir jalan menjadi show roomnya. Tersedia hampir semua barang rumah tangga, antara lain TV, Kulkas, AC, kipas angin, setrika, mesin cuci, komputer, alat olah raga, sepeda, motor, pintu, jendela, lemari, kasur busa sampai spring bed, karpet dll. Barangnya lumayan bagus. Kebanyakan memang barang elektronik. Seperti TV banyak terpajang TV plasma atau TV flat. Monitor komputer layar lcd juga banyak tersedia. Kata sopir harganya murah sekali. Untuk TV flat harganya bisa di bawah Rp1 juta.
Pada waktu kami ke sana tak banyak pengunjung. Kamipun tak terlalu berminat membelinya karena disamping mempertanyakan mutunya, juga bagaimana membawanya ke Bontang. Mobil bekas di Batam juga terkenal murah. Tandanya bila nomor polisi ada kode huruf x berarti mobilnya sekend dari Singapura. Mobil ini hanya boleh dipakai di Batam tak boleh keluar pulau. Banyak mobil mewah seperti jaguar, mercy, BMW bertebaran di Batam. Juga ada mobil mirip Toyota Kijang tetapi mereknya lain berseliweran.
Kawasan Nagoya, Kawasan Parfum dan Kuliner
Sudah lama di Batam terkenal dengan parfum, tas dan barang elektronik. Di kawasan Nagoya banyak sekali ruko-ruko yang menyediakan berbagai parfum, tas, souvenir Singapura, jam, kaca mata, kaos, baju dll. Tinggal pilih dan sebaiknya menawar karena memang harganya harus ditawar. Tidak ada patokan harga berapa penawarannya. Dalam beberapa informasi disebutkan tawar setengah dari harga yang ditawarkan tetapi kenyataannya setelah saya ke sana ternyata tidak boleh. Yang paling enak ya tanya harga di beberapa toko, tawar dan bandingkan dengan toko di dekatnya. Biar cepat, setelah ketemu barang yang cocok, langsung saja bilang ke penjualnya berapa harga termurah yang bisa dilepas. Mereka akan menghitung betulan. Setelah ketemu patokannya, bandingkan dengan beberapa toko di dekatnya, cari yang termurah.
Kami jalan-jalan di kawasan Nagoya, yang merupaka pusat perbelanjaan. Ada banyak mall di sekitar itu dan lengkap dengan toko-toko dalam ruko. Ada beberapa tempat sebagai pusat elektronik tetapi ada juga pusat parfum. Jangan terlalu percaya denga penjelasan sopir taksi tentang toko yang murah. Beberapa sopir taksi mengatakan hal yang berbeda. Sepertinya sudah kerja sama dengan para sopir atau agen tour. Yang paling aman ya membandingkan saja. Hasil beberapa pengamatan sewaktu membeli oleh-oleh. Parfum Escada moon spark 100 ml seharga Rp370.000. Lancome miracle 100 ml seharga Rp480.000, Flower dari Kenzo 50 ml Rp230.000. Harga di atas sudah susah ditawar lagi. Untuk parfum sample dalam kemasan kecil dengan merek Bulgari harga rata-rata Rp50.0000. Tetapi yang Bulgari aqua marine dengan cairan berwarna biru harga sekitar Rp70.000.
Untuk kuliner yang terkenal di Batam adalah sup ikan. Banyak restoran menyediakan menu ini di sekitar Nagoya. Kami biasanya makan malam dengan menu ini. Harganya lumayan murah sekitar Rp25.000 satu porsi dengan juice buahnya. Rasanya enak. Tak ada rasa amisnya.
Menyusuri Jembatan Barelang
Akhirnya sebagai destinasi utama kami ke jembatan Barelang yang merupakan ikon wisata di Batam. Jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang) menghubungkan lima pulau dan berakhir di Pulau Galang yang digagas oleh Habibie dalam rangka mengembangkan wilayah industri di Batam.
Jaraknya sekitar 20 km dari pusat kota. Dari jauh kita dapat melihat rangkaian dari enam jembatan yang kalau dihubungkan secara total memiliki panjang mencapai 2 km. Seluruh jembatan ini selesai dibangun sekitar tahun 1992, dan memiliki nama yang diambil dari nama raja-raja yang dulunya berkuasa di Melayu-Riau (abad 15-18). Jembatan Tengku Fisabilillah yang menghubungkan P. Batam dengan P. Tonton dan memiliki lebar tinggi 642 x 350 x 38 meter. Jembatan ini mirip goldengatenya San Fransisco lantaran cable staynya menjuntai dari atas ke bawah dengan megahnya. Jembatan Narasinga, menghubungkan P. Tonton dengan P. Nipah, berbentuk lurus tanpa lengkungan dan memiliki panjang lebar tinggi 420 x 160 x 15 meter. Jembatan Ali Haji, menghubungkan P. Nipah dengan P. Setokok dan memiliki panjang lebar tinggi 270 x 45 x 15 meter. Jembatan Sultan Zainal Abidin, menghubungkan P. Setokok dengan P. Rempang dan memiliki panjang lebar tinggi 365 x 145 x 16.5 meter. Jembatan Tuanku Tambusai, menghubungkan P.Rempang dengan P. Galang dan memiliki panjang lebar tinggi 385 x 245 x 31 meter. Jembatan Raja Kecil, menghubungkan P. Galang dengan P. Galang Baru dan memiliki panjang lebar tinggi 180 x 45 x 9.5 meter. Di Pulau Galang sekitar 30 tahun lalu pernah menjadi tempat penampungan 250 ribu “manusia perahu” yang mengungsi dari Vietnam. Mereka menjadi penghuni di P. Galang sejak 1975 sampai 1996.
Ada sekitar 50 km jarak antara Batam sampai Pulau Galang. Cuaca sudah sangat panas. Kami turun di jembatan pertama yang bernama Jembatan Tengku Fisabilillah. Jembatan sangat artistik dengan pilar-pilar menghiasinya. Ada beberapa pengunjung terutama pasangan muda-mudi. Juga penjual makanan antara lain peyek udang, kepiting, lotis, dan beberapa gorengan lain. Mereka berdatangan menawarkan dagangannya begitu kami datang. Di ujung jembatan banyak rumah-rumah bedeng di pinggir jalan yang menjual jagung bakar. Tak lama kami mampir. Hanya melihat keadaan. Memandang laut lepas dan beberapa pulau.
Sebenarnya sebuah pemandangan cantik, tetapi sayang infrastruktur dan fasilitas untuk pariwisata belum dibangun. Jadi, kesannya masih pulau sendiri dan gersang. Lalu kami pergi ke arah Pulau Galang. Kami masuki Pulau Rempang. Jembatan dengan type berbeda dan sudah mlai ukuran kecil sesuai jarak antar pulau. Jalanan cukup mulus dan tak banyak mobil berseliweran. Di kiri kanan jalan seperti masih tanah tak bertuan, gersang. Hanya tanaman perdu dan ilalang. Tetapi satu dua tempat sudah digarap untuk pertanian antara lain singkong, jagung dan juga tanaman buah naga. Wow, di sini sudah ada buah naga? Berarti pendatang sudah mulai berdatangan.
Setelah sampai ujung, kami kembali melewati jembatan Barelang. Suasana sore di jembatan lebih ramai. Bahkan di salah satu jembatan dijadikan arena balapan sepeda motor. Banyak sekali masyarakat yang melihat arena balap sehingga memacetkan jalanan. Di jembatan utama suasana lebih ramai dengan banyak pengunjung yang pada duduk di pinggir jembatan menikmati sore.
Kami harus mengakhiri lawatan kami selama seharian. Sopir mengantar kami ke hotel dan kami mengucapkan banyak terima kasih. Kami puas menyusuri Pulau Batam sampai temaram, bahkan menjelang malam. *
sunaryo is
Email this author | All posts by sunaryo



