Menikmati New York di Bulan Desember (2) Pengalaman dengan si Merah dan Mencicip Subway
By Ambar • Dec 24th, 2008 • Category: Cerita Perjalanan, Kota - Kota, Mancanegara, Wisata
Strategi saya yang lain adalah milih terbang malam. Begitu nyampe NY pagi hari saya bisa langsung berkeliaran. Akhirnya pilihan saya jatuh ke Virgin Amerika. Soalnya si merah ini mengingatkan saya sama Airasia sih. Persis. Murahnya juga.
Selain itu system check-inonline membuat saya ngerasa gampang. Boarding pass tinggal diprint, naruh tas di bagian drop bag, langsung ke sekuriti. Seperti airlines domestik Amerika yang lain, Virgin juga membatasi jumlah tas bagasi. Kalau lebih dari satu (dengan berat maksimum 70pounds atau 35kg-an) maka kudu bayar US$25. Sedang tas ransel saya yang satu berisi kamera dan komputer yang biasa saya angkut ke kabin. Beratnya mencapai 9kg. Untung banget ngga ditimbang.
Yang menjadi perhatian saya adalah semua elemen service kudu bayar termasuk headphone. Staf Virgin cukup naruh kotak di depan pintu boarding. Kalau perlu tinggal masukin duit $2 dan ambil headphone sendiri. Ngga ada yang jagain. Soal makan minum juga begitu. Teh dan kopi sih gratis, itupun selama 6jam cuma lewat sekali aja. Selebihny pesan lewat layar entertainment didepan tempat duduk. Pesan lewat layar? Yup tinggal pencet dan pesen. Sedang snack dan makan bayar sekitar $2-$7.
Urusan entertainment juga bayar. Khusus film terbaru dihargai $7, kalau mau yang gratisan ada TV, radio atau music video. Yah untuk TV lumayan karena menyiarkan live seperti CNN, CNBC atau Fox. Saya pilih Current TV karena topiknya menarik. Pameran senjata di Texas. Ngeri juga lihat rakyat sipil bisa punya UZI atau AKA. Negeri ini memang mencintai senjata api.
Terbang lintas benua Amerika dari tepi barat ke timur ini kerasa cepat. Subuh saya bisa lihat cahaya menyeruak, yang berarti saya mendekati New York. Bandara JFK letaknya di timur, memandang teluk Jamaica. Kalau dilihat dari atas, Manhattan adalah sebuah pulau. Iyah, pulau yang dikeliling sungai dan samudra. Tak banyak yang menyadarinya. Itulah kenapa lembah yang subur ini disukai suku2 Indian sebelum diambil alih oleh Belanda kemudian imperialis Inggris. Sungai Hudson yang membatasi New York dengan New Jersey adalah pembawa mineral yang subur untuk pertanian.
Saya turun di Terminal 4 yang sebenarnya adalah Internasional pukul 7.30am. Saya ngga pasti kenapa diturunkan sini, tapi tampaknya karena Virgin adalah perusahaan dari Inggris sehingga dianggap penerbangan asing. Total ada delapan terminal disini. Weh…kalau ngga lihat jadwal bisa tersesat nih. Kesan saya tentang JFK, lha kok kalah megah sama terminal di Miri Malaysia. Yah mungkin karena cuma melihat sebagian kecil aja. Begitu keluar saya segera mencari tanda menuju Airtrain. Kereta ini di peta subway ditunjukkan dengan warna kuning menyala adalah khusus untuk penghubung antara JFK dengan subway kota. Harga tiketnya dipukul rata yakni $5. Biar dibilang LP mahal, toh lebih murah ketimbang ambil taksi yang bisa jadi mencapai $45-$50 sampai Manhattan.

Ada dua service Airtrain yakni track 1 menuju Howard Beach Station dan track 2 menuju Jamaica. Tujuan saya adalah stasiun subway Jamaica Centre. Di peta Airtrain ngga disebutkan track itu, tetapi di Terminal cukup mudah diketahui. Apalagi banyak kok selebaran gratis peta yang uptodate. Kedua track itu juga muterin semua terminal.
Saya ambil track 2 bersama sekitar 25 orang lainnya. Kereta-nya sih kecil, cuma beberapa gerbong. Bekerja dengan magnetic membuat ia sangat lembut secara akustik dan movement. Hanya saja di tengah jalan, gerbong kami macet. Membuat dua petugas terpaksa membuka pintu dan mengarahkan Airtrain balik ke terminal terdekat.
Perjalanan jadi molor. Belum lagi cuaca mendung dan gerimis datang. Pagi-pagi begini saya jadi ingat kalau belum sarapan. Begitu tiba di Jamaica, saya segera menuju mesin tiket. Bayarnya disini, yakni dengan membeli Metro Card. Biarpun cuma $5 tapi saya isi $10 karena saya perlu untuk subway. Sekali naik, subway dipukul rata sebesar $2.
Saya ambil jalur E (biru). Lumayan panjang karena kemudian mencapai downtown di Lexinton Avenue untuk ganti ke jurusan Uptown sebelah Timur. Kalau dilihat di peta, sisi barat dan timur ini dipisahkan oleh taman besar Central Park. Untuk memahami pembagian wilayah di Manhattan sangat krusial terutama tiap wilayah tadi punya keunikan dan sejarah yang berbeda.
Dari Lexington Ave stasiun saya ambil jalur 4 (hijau) menuju utara. Senyatanya ada tiga buah jalur yang diwarnai hijau yakni 4, 5 dan 6. Arahnya sama, hanya tujuan akhir beda. Dari sini saya bisa memahami kenapa orang Amerika menyebut pusat kota sebagai “downtown”. Itu adalah bahasa New Yorker karena lokasi semua aktivitas ada dibawah (Selatan). Tepatnya diujung pulau. Anehnya kok jadi diadaptasi untuk semua pusat kota entah itu arah sebelah mana. He he he….
Saya merasa ngga ada kesulitan memahami subway di NY. Mungkin tingkat kompleksitasnya nyaris seperti London Tube. Tapi secara ticketing lebih sederhana. Pagi itu mendekati pukul 9.30 subway sudah longgar dari para komuter. Kesan saya, gerbongnya ya sama tuanya seperti di Paris atau London. Tapi yang ini agak lumayan bersih. Saya duduk di pojok sambil masih nyangklong dua tas ransel di depan dan belakang. Beberapa orang melirik. Sekilas tadi saya baca pengumuman eletronik bahwa para pembawa ransel adalah target utama pemeriksaan terutama setelah ancaman bom dua minggu lalu. Saya juga sempat memperhatikan beberapa polisi berpatroli. Tapi ngga satupun menghentikan saya. He he he…mungkin tas saya kebesaran untuk bawa bom.
Yang pasti struktur stasiunnya sangat berbeda. Jarak dari level jalan menuju bawah tidaklah dalam. Yang bikin kagum adalah cuma ditopang oleh baja yang usianya ratusan tahun. New York ini dikaruniai lapisan tanah yang solid, bisa dibilang batu. Hampir satu juta orang hilir mudik perharinya menggunakan subway ini, bergerak diantara Borough (wilayah bagian) di New York selama 24jam.
Sementara hujan seperti tidak ada hentinya. Saya memilih sarapan di warung bagel, di dekat stasiun 77th St. Bagel ada ciri khas roti kaum Jahudi , yang aslinya dari negeri Jerman sana.. Bentuknya seperti donat yang kemudian diiris dua, lantas dilapis dengan apa aja. Bagel terbuat dari tepung gandum yang direbus baru kemudian dibakar. Agak kenyal. Saya sendiri baru doyan jika yang polosan. Karena belum sarapan, saya memilih lapis telor dan keju, plus jus segar. Total sarapan pagi itu $6.50. Begitu kenyang saya segera menuju alamat kawan saya, mbak Nuki.
Siang itu petualangan saya dengan kereta tidak berhenti disini.
Day 1 Rabu 10 Desember 2008.
Suhu ternyata ‘hangat’ berkisar 13C atau 56F, hujan makin deras mendung terus menerus. Setelah dijamu the hangat, saya dan kawan segera menuju downtown lagi. Tujuannya adalah Grand Central Terminal. Pukul 12.30 ada free tour yang diadakan Municipal Arts Society. Komunitas ini menawarkan jalan bareng atau free guide ke beberapa tempat di NY terutama berkaitan masalah arsitektur, urban planning dsb.
Karena ngga tau tur gratisan dimulai dimana, kami bergegas menuju Main Concourse, yakni lobby utama. Ditengah ruang yang luas banget ini ada jam dengan empat muka menunjukkan arah. Cantik dan antik sekali. Sedangkan langit-langit dan detail sisi nya sangat anggun, tampak meriah dengan cahaya laser show yang siang itu diadakan tiap setengah jam. Disinilah setengah juta manusia berseliweran saban harinya, menjadikan stasiun paling sibuk sedunia.

Di bulan Januari 2008, sebuah bentuk pertunjukkan massal dari Improv Everywhere megejutkan penumpang di Grand Central. Sekitar 200 orang yang berada di Main Concourse tiba-tiba berhenti bergerak selama lima menit tepat pukul 2.30 siang. Peristiwa ini direkam dan menjadi hits di Youtube. Karena unik, belum pernah terjadi sebelumnya membuat kejutan bagi orang yang berlalu lalang. Reaksi orang yang menyaksikan sangat menarik. Para agent (orang yang terlibat langsung) ada yang sedang menggandeng pacar, makan pisang atau membaca koran berubah menjadi patung. He he he menghibur banget.
Tur berjalan cukup lambat. Beberapa aspek yang dijelaskan adalah renovasi lukisan di langit (mural) Main Concourse. Gambar disana adalah konstelasi bintang hasil karya artis Perancis Paul César Helleu. Yang jelas lukisan tadi letaknya terbalik, juga ngga menunjukkan skala yang benar. Ketika kesalahan ini diketahui, keluarga Vanderbilt yang membiayai pembuatan lukisan itu menggunakan alasan lain supaya disuruh benerin. Lha iyalah, udah jadi kok baru diprotes.
Konsep Grand Central yang terlihat sekarang adalah meniru arsitektur Tudor sebuah project ambisius untuk menggantikan system kereta uap menjadi listrik. Anggarannya adalah sekitar $80 juta atau mendekati $2milyar. Untuk membiayai project William Wilgus si insinyur sipil mengusulkan untuk menjual ‘hak ruang’ yakni menjual bagian vertical Grand Central dan sekitarnya untuk pembangunan apartemen dan kompleks bisnis. Pembangunan ini selesai 1931 merubah blok ini menjadi bagian New York yang paling digemari.
Saya mendapat tips bagaimana cara menyeberang jalan seperti orang New York dari guide di Grand Central. Ada dua cara, yakni melihat tanda lalu lintas. Jika ada tulisan WALK maka jalan dengan cepat. Nah cara kedua ini yang agak beda. Katanya, ndak perlu menunggu lampu. Pokoknya kalau semua kendaraan berhenti yah itulah saatnya kita jalan. Aneh banget, tapi begitu saya praktekkan kemudian saya bisa memahami. New York seperti halnya kota urban di dunia, mengalami masalah yang sama. Kemacetan,.
Usai dari Grand Central kami jalan kaki saja menuju Chrysler Building, gedung nan anggun peninggalan art-deco. Saya selalu mengagumi gedung ini. Paling anggun dan sangat feminim. Berbeda dengan gedung tinggi yang pernah saya kunjungi (Petronas, Eiffel, Taipei101) Chrysler terlihat berbeda diantara ribuan gedung tinggi di Manhattan. Dengan tinggi 319m adalah gedung tertinggi di tahun 1931 sebelum disalip oleh Empire State Building.
Sebenarnya dari Grand Central terlihat jelas, bahkan saya bisa melihat detail ornamen berbentuk kepala elang. Saya masih ingat photo hitam putih karya Margareth Brouke-White yang menggambarkan pekerja sedang membuat kepala elang ini tanpa pengaman! Sayangnya hanya bisa dinikmati di lobby utama, itupun nyaris terlewat karena tidak ada petunjuk yang jelas. Tapi dari lobby-pun kita bisa menyaksikan detail gedung ini yang sangat menawan. Lift dibuat dengan ornamen kecoklatan dari marmer Afrika, dengan pencahayaan memanjang yang temaram. Kayu kecoklatan menjadi ciri utama dengan ukiran indah panel dengan plat keemasan di sekelilingnya.
Langkah saya teruskan. Kali kami hanya menuruti kaki. Kata mbak Nuki, gedung di depan saya ini adalah Perpustakaan New York (Public Library) bersebelahan dengan Bryant Park. He he he… karena gratis kami iseng masuk, terlebih ngga tahan dengan hujan yang mengguyur. Setelah melewati sekuriti, lha kok ada pameran Art Deco Design : Rhythm and Verve berisi design printing yang jarang diperlihatkan umum. Terlihat sekali pengaruh Perancis yang menjadi tempat kelahiran style ini. Amerika rupanya mengadopsi dari sana ketika mencapai puncaknya di tahun 1925.
Puas kami keluar perpustakaan. Rupanya langit mulai gelap. Walaupun jam masih menunjukkan pukul 3 siang. Sebenarnya kami ini menyusuri Midtown sebelah timur. Lantas bergerak menyusuri Fifth Avenue menuju West 47th St. Disitulah yang dinamakan Diamond District di New York, yakni tempat para penjual permata dan batu berharga. Di kanan kiri berderet toko dan pekerja yang sibuk melayani. Diamond District sangat terkenal sebagai jaringan bisnis kaum Jahudi di NY. Jadi jam segitu, para pekerja keluar sambil ngobrol. Pakaian hitam dengan topi dan rambut memanjang terlihat khas. Rambut di samping kanan kiri topi terlihat kriwil-kriwil dengan jambang dan janggut yang dibiarkan. Beberapa bahkan dengan kippah (seperti kupluk) yang bertengger mungil, terutama yang masih muda. Tak jauh dari sini saya melewati Chabad Lubavitch of Midtown, semacam rumah singgah bagi Yahudi yang di jalan. Disamping tersedia makanan yang kosher (halal dalam muslim –non babi) juga tempat untuk membaca Taurat seperti kelas dan seminar.
Karena cuma lewat saja kami akhirnya nyampe juga di Rockefeller Centre. Tapi begitu kami menginjak perempatan, hujan deras mengucur ngga tanggung2. Daripada sakit, saya mengajak mbak Nuki mampir minum sembari berteduh. Sambil ditunjukknya café kecil di pojokan langsung pesen minum. Saya kok jadi laper. Baru ingat kalau perlu nambah energi sedikit. Saya pilih salad, sambil duo makannya. Abis gede banget porsinya. Mana kuwat lah… Baru saya sadari betapa mahalnya makanan di sini. Total sekitar $18 sekian. Saya amati, apa sih yang bikin mahal. Oalah ternyata juice guava yang saya minum adalah perasan langsung, begitu juga saladnya udah disiapkan. He he he..pelajaran berharga untuk ngirit biaya makan.

Setelah kenyang dan hujan menipis, kami menuju Rockefeller Centre. Kenapa sih saya ngebet kesini? Ah ya di bulan Desember tempat ini sangat cantik dengan pohon natal nan besar. Cahaya dari lampu berkelip membuat suasana syahdu, terlebih deretan patung malaikat yang terbuat dari anyaman tanaman, terlihat berjajar memberikan selamat datang. Karena dari samping saya bisa menikmati sepenuhnya setelah bergerak memutar. Sore itu ketika matahari mulai menuju peraduan dengan ditemani tetes hujan, saya menatap di pohon setinggi hampir 27m diterangi 18ribu lampu LED. Tradisi ini sudah dilakukan sejak tahun 1931 oleh para pekerja konstruksi bangunan membuat pohon natal dari bahan seadanya seperti bekas kaleng makanan, ranting2 pohon dan kertas.
Entahlah jalan di New York sejak dari Chrysler Building tadi mengingatkan saya pada depresi besar (Great Depression) yang terjadi di Amerika dan seluruh dunia era pertengahan 1920-1930. Diawali dengan hancurnya pasar modal di Wall St tahun 1929 disusul kegagalan pemerintah untuk mempertahankan arus kapital. Era kegelapan Amerika ini melahirkan seorang presiden besar Franklin D Roosevelt atau dikenal FDR.
Rasanya hari ini, saat ini di akhir tahun 2008 peristiwa itu berulang lagi. Amerika menghadapi persoalan yang sama. Utang yang berjibun, produksi manufaktur yang turun, banyaknya pengangguran dan suplai makanan yang menipis. Harapan tertumpu pada presiden terpilih Barack H Obama. Bahkan media mulai membandingkan strategi ekonomi antara keduanya. Salah satu yang akan diikuti Obama adalah membuat proyek konstruksi besar2an untuk membuka lapangan kerja. Persis di era 30an ketika New York mulai membangun gedung-gedung tinggi dan jalan raya sebagai upaya keluar dari Great Depression.
Perhatian saya beralih ke Rockefeller Centre kembali. Dibawah Plaza ada arena es skating. Tapi sore ini tidak ada yang mencoba. Lha wong penuh dengan genangan air hujan. Beberapa pekerja nampak berusaha mengurangi banjir. Banyak sekali pengunjung yang memilih berfoto saja, ataupun sekedar mengagumi tempat ini. Sebenarnya ada tempat pengamatan (Observation Deck) disebut Top Of The Rock yang bisa lihat pemandangan NY dari ketinggian malam itu. Saya memilih pulang saja.
Tapi ada satu tempat yang pengen saya kunjungi. Letaknya juga di kawasan belanja Fifth Avenue. Lebih tepatnya sebuah toko. Walau ngga belanja saya bertekad kesana. Tempat ini harus saya intip karena menjadi ikon modern.
Mengunjungi Apple di Big Apple

Kisah New York disebut Big Apple ternyata lumayan panjang. Ditulis pertama tahun 1920an oleh kolumnis pacuan kuda John F. FitzGerald di harian The Morning Telegraph. Sebenarnya “The Big Apple” merujuk pada pacuan yang diramalkan menjadi seru. Hubungannya dengan kuda? Lhah apel itu kan makanan kuda he he he… Sepuluh tahun kemudian nama itu diadopsi para musisi Jazz terutama daerah hitam Harlem yang menghubungkan The Big Apple dengan kota New York. Bahkan jadi nama dance yang diiring music jazz dalam format melingkar dinamis. Kemudian di tahun 70an dijadikan merk jual bagi promosi pariwisata kota New York.
Sedangkan Apple Computer berawal dari Silicon Valley, California tak jauh dari tempat saya. Jadi rupanya ikatan batin itu adalah nama jenis apel, McIntosh. New York dan Mac berawal dari sebiji apel.
Entahlah sudah berapa Apple Store yang saya kunjungi. Dari kampung halamannya di Palo Alto University Ave hingga London di Regent Street kebanyakan adalah seperti toko biasa. Tapi di New York ini sungguh istimewa, yakni ruang kotak kaca transparan sebagai pintu masuk. Sedangkan gerainya sendiri terletak di bawah tanah.
Sekilas dari jalan Fifth Avenue seperti kosong melompong. Hanya terlihat simbol buah apel di kaca. Desain Apple Store ini mengingatkan saya dengan piramida kaca karya arsitek IM Pei di Museum Louvre, Paris. Hanya Apple Store lebih sederhana, dilengkapi dengan satu fitur lagi yang menarik yaitu tangga kaca spiral.
Kami langsung masuk. Seorang staf berdiri di dekat pintu memberikan tas plastik pelapis untuk payung. Ruangan dibawah ternyata sangat lebar dan lega. Sore itu biarpun hujan, para pengunjung lumayan berjubel. Saya ndak beli apapun, saya sibuk mengamati konstruksi bangunannya. Di samping tangga ada lift berbentuk bulat. Dari bawah saya menatap ke atas, tembus keluar. Memang dari luar seperti tersembunyi, tapi di bawah sini ngga kalah ramenya.
Hanya sebentar saya melanjutkan langkah pulang. Dari sini tinggal ambil subway di 59th St arah Uptown. Berbareng dengan jam sibuk pulang saya berdesakkan dengan para New Yorker.
Places to visit day 1
Grand Central Terminal
15 Vanderbilt Ave
New York, NY 10017
(Free, Rabu tiap 12:30), Peta disini
Chrysler Building
405 Lexington Ave
New York, NY 10174
(Free, hanya sampai lobby), Peta disini
NY Public Library
Fifth Avenue at 42nd Street,
New York, NY 10018-2788
(Free, termasuk eksibisi), Peta disini
Rockefeller Center
W 49th St & 5th Ave
New York, NY 10020
(Free di Plaza, bayar $20 di Top of the Rocks), Peta disini
Apple Store, Fifth Avenue
767 Fifth Ave.
New York City, NY 10153
(Free, kecuali klo mo beli –inget harga belum termasuk tax), Peta Disini
Biaya :
Transport $30 (termasuk $5 Airtrain) Metro Card cukup untuk 4 hari
Breakfast $6.5 at Pick a Bagel, 1101 Lexington Ave. at 77th St.,
Lunch $18.95 at Dean Deluca Cafe at 9 Rockefeller Plaza, New York City, NY 10020
Bersambung bagian 3 Ketika Kota Ini Menghirup Tragedi.






