Menikmati New York di bulan Desember (3) : Ketika Kota Ini Menghirup Tragedi
By Ambar • Dec 24th, 2008 • Category: Cerita Perjalanan, Mancanegara, Wisata
Day 2 Kamis 11 Desember 2008
“I was nobody until I killed the biggest somebody on earth”. –Mark Chapman
Rupanya hujan tidak berhenti juga hingga keesokan harinya. Bahkan suhu turun dengan drastis berkisar 40F atau 4C. Akibatnya bangun juga males, apalagi jalan. Rupanya beda 3 jam antara pantai barat dan timur membuat saya melek ekstra. Akibatnya capek sekali. Kamis ini karena masih ujan, kami berencana melihat Museum dan jalan ringan di Lower Manhattan.
Dari 79th St kami jalan kaki saja ke tujuan, yakni Metropolitan Museum of Art. Sambil terus berpayung kami menuju ruang utama. Saya pikir wah bakalan sepi nih. Udah dingin, ujan deres lagi. Eh ternyata saya salah besar. Begitu melewati sekuriti saya berada di Great Hall tempat tiket dan lobby utama. Ternyata tempat ini penuh! Waw…ngga musim panas atau dingin New York tetep dibanjiri pengunjung. Saya menuju bagian Reserved untuk menukar City Pass Voucher. Saya diberi pin kecil sebagai penanda yang harus dipakai didalam Museum. Sembari menggenggam peta museum saya segera memindai koleksi mana yang pengen dilihat. Tujuan saya adalah American Wing, yakni melihat koleksi sejarah negeri ini. Tapi bagian ini dalam proses renovasi. Agak kecewa sih tapi berdua mencoba melihat Islamic Art. Wah yang ini juga ternyata ditampilkan sedikit sekali, kebanyakan peninggalan kerajaan Islam di India (Deccan). Dalam periode abad 15 dan 16 Masehi, ada tiga kerajaan Islam di dunia yakni Ottoman di Timur Tengah dan Afrika, kerajaan Safavid di Iran dan Moghul di Asia Selatan (India-Pakistan-Bangladesh-Afghanistan).
Koleksi seperti Quran kuno, piringan keramik dan kayu juga lukisan detail tentang pemerintahan kerajaan Deccan (Dakshina). Lukisan adalah media menarik karena gaya lukis yang khas dengan manusia dan lansekap cantik. Sedikit terpengaruh dengan lukis tinta di China.

Dari koleksi Islam, kami bergeser ke lukisan Eropa. Koleksi beragam, sebagian bisa dibilang muda seperti gaya Impresionis Perancis seperti Monet dan Sisley. Di sudut ada Renoir dan juga Van Gogh. Koleksi seperti Self Potrait with Straw Hat (1887/8) dan Cypresses (1889) juga Two Cut Sunflowers (1887) menjadi kebanggaan Mets -sebutan pendek Metropolitan Arts Museum. Bahkan lukisan self potrait ditempatkan tersendiri dengan ekstra keamanan tentunya.
Dari sini kami turun ke lantai satu untuk melihat Temple of Dendur peninggalan abad 15 sebelum Masehi yang dibangun orang Romawi ketika menguasai Mesir. Kami malah jadi mengunjungi koleksi Yunani dan Romawi. Setelah muter barulah bertemu candi ini. Met Museum mendapatkan koleksi hibah dari Mesir lewat bantuan Jacqueline Kennedy Onnasis. Temple of Dendur diselamatkan dari lokasi asli di Mesir saat pembangunan dam raksasa Aswan.
Saya memahami kalau dibiarkan, bisa-bisa sehari habis di Museum. Karena itu biasanya saya pilih2 terutama koleksi atu eksibisi yang dimiliki. Saat bersamaan di MoMa (The Museum of Modern Art) di NY juga sedang mengadakan eksibisi lukisan Van Gogh. Saya memilih Mets semata-mata karena lebih variatif. Saya agak memerlukan energi untuk mengapresiasi seni kontemporer. Saya inget mengunjungi Tate Modern. Rasanya agak absurd ketika sebuah instalasi karya Doris Salcedo berjudul Shibboleth. Bentuknya adalah seperti efek gempa dengan tanah yang merekah sepanjang hall utama. Jadi sementara saya biarkan MeMo untuk kunjungan New York berikutnya.
Begitu keluar Mets, kami jalan kaki lagi ke arah Utara. Sebenarnya saya menyusuri tepi Central Park –taman besar ditengah kota Manhattan. Sebelah timurnya sering disebut Mueum Street di sepanjang Fifth Ave. Tepatnya ada 8 museum dengan tema beraneka ragam. Saya memilih Guggenheim Museum, gedung dengan arsitektur menarik. Ini adalah karya arsitek Frank Lloyd Wright pertama yang saya bisa lihat langsung. Dikenal sebagai organic arsitek, maka menyaksikan bentuk Guggenheim Museum yang terbuat dari beton seperti ironi. Karena dengan karya inilah yang dianggap sebagai masterpiece dari Wright. Mungkin dilihat dari skala anggaran dan level internasionalnya.
Begitu tiba di pintu dua orang staf yang keluar hendak makan siang memberi tahu bahwa museum tutup pada hari Kamis. Waduh! Padahal pengen banget. Akhirnya sebagai obat, kami makan siang di café, dengan hidangan sup. Lumayan sebagai pengusir dingin yang makin menggila.
Tragedi demi tragedi
Saya mengajak mbak Nuki menuju 72nd St. yang letaknya di seberang Central Park. Kalau cuaca cerah sih saya bisa jalan ditengah taman besar ini. Tapi sekarang dalam cuaca begini nampaknya ngga akan terlaksana. Saya putuskan naik taksi saja. Toh ngga jauh. Sambil ngeplang tangan tinggal masuk ke yellow cab. Tarip sekali buka $2.50 dan hampir semua pake meter. Sopir taksi saya bersama Henry, setengah tua tapi terlihat lincah. Katanya ia berasal dari kepulauan Karibia, hanya 4 jam terbang dari NY. Kami jadi bertukar cerita. Ia rupanya penggemar Karnaval, terutama dansa yang okeh. Ia mengaku sudah pernah ke Rio di Brazil dan Notting Hill di London untuk sekedar menikmati goyang samba ini.
Kami diturunkan di sudut 72nd St berbatasan dengan Central Park West tepatnya di Dakota Apartemen. Disinilah 28 tahun plus 2 hari yang silam, mantan anggota Beatles John Lennon ditembak oleh seorang Mark Chapman. Empat peluru bersarang di tubuhnya. Saat itu pukul 10.40 malam, begitu keluar dari limo, Yoko kemudian John berjalan menuju pintu gerbang apartemen. Mark Chapman yang beberapa jam sebelumnya sempat meminta tanda tangan John ternyata membututi. Ia menarik senjata dan menghujam lima peluru. John meninggal begitu tiba di rumah sakit terdekat. Tubuhnya kehilangan 80% darah menunjukkan betapa fatalnya tembakan Mark Chapman. Dunia terhenyak berkabung dengan salah satu tokoh musik. John Lennon saat itu sedang berada di tengah kampanye perdamaian. Menggaungkan hak perempuan dan hak sipil.
Dakota Apartemen ini dijaga oleh seorang yang berpayung. Tubuhnya besar. Kami minta ijin untuk memotret disini. Nyaris tidak ada yang berubah. Dua tahun lalu saya berkunjung ke Beatles Story di Liverpool –kota kelahiran mereka. Salah satu sudut museum disitu dibuat mirip dengan video musik lagu Imagine, yaitu serba putih. Saya teringat rasa itu, John bernyanyi di depan piano putih. Berada di Dakota ini seperti membuat desiran tersendiri. Impian John pada dunia yang damai seperti sebuah utopia. Berakhir dengan kekerasan. Pedih.

Sebentar kemudian kami nyebrang jalan menuju Central Park. Adalah Strawberry Field –sebuah memorial yang dibangun untuk memberikan penghormatan pada John Lennon. Tidak ada penguburan resmi, karena jasad Lennon dikremasi dua hari setelah kematiannya. Nama Strawberry Field diambil dari salah satu lagu Beatles sekedar untuk mengingatkan. Senyatanya ngga ada tananaman strawberry disini.
Kami ditemani tetesan air hujan. Saya merasakan ada aura kedukaan disini. Central Park di bulan Desember seperti membawa nafas pedih. Daun berguguran. Jadi coklat dan hitam, lenyap membusuk di tanah. Saya bergegas menuju pertigaan jalan setapak. Disanalah mosaik batu marmer bertuliskan Imagine menjadi pusatnya. Tidak ada keindahan bunga mawar ataupun rhododendron yang biasa tampak di musim semi. Juga tidak ada karangan bunga atau ucapan kedukaan untuk Lennon. Nihil, kosong.
Tepat diluar Dakota Apartemen ada stasiun subway 72nd St. Kami menuju ke downtown tepatnya di Chambers Stasiun dengan kereta nomer 1. Tujuan selanjutnya adalah World Trade Centre. Saya tidak berharap. Tempat itu tinggal kenangan. Delapan tahun lalu pada 11 September peristiwa runtuhnya simbol kekuatan finansial New York ini menjadi awal berbagai kekerasan di dunia atas nama Perang Melawan Terorisme. (War on Terrorism). Sebuah bentuk peperangan yang tidak terbayangkan oleh seorang John Lennon.
Agak ironis juga perjalanan saya. Semula saya mengira keingintahuan bakal mampu menanggulangi ingatan buruk tentang WTC. Tapi saya berubah niat. Tempat ini walau sudah bersih adalah kuburan massal. Ada perasaan tidak nyaman. Saya batalkan menuju Tribute WTC –tempat pengunjung bisa melihat dan mendengar peristiwa September 11 secara detail.
Walau saat ini lokasi WTC telah dipagari rapat untuk pembangunan konstruksi besar-besaran pengganti gedung yang lama. Namun saya masih mengintip didalamnya. Ternyata pekerjaan fondasi dan jaringan struktur bawah sedang dilakukan. Menara Crane melebihi tinggi bangunan di Financial District ini terlihat aktif. Bukan satu dua tapi saya hitung sekitar delapan dengan berbagai ukuran.
Gedung baru itu akan dinamai Freedom Tower karya arsitek Daniel Libeskind. Selanjutnya akan dikelilingi empat buah menara dalam satu kompleks. Semacam proklamasi bahwa Amerika menyembuhkan luka dan bangkit dari kedukaan panjang. Saya mulai serius berpikir, apakah setiap negara harus melewati tragedy untuk menjadi lebih baik? Tampaknya tragedy Amerika belum berakhir disitu. Awan kelabu ekonomi saat ini mencengkeram tiap orang di US. Sebagian menyalahkan perang Afghan dan Iraq sebagai derivasi Perang Melawan Terorisme, sebagian menyalahkan ketidak becusan mengatur negara. Well, bukankah seharusnya bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari kesalahan?
Derasnya air hujan membuat kami bergegas menuju Wall St. Meski hanya dipisahkan beberapa blok, kami harus mencari arah. Tempat disini seperti belantara gedung tinggi. Sangat susah mencari orientasi terlebih ketika hari menjelang gelap. Cahaya lampu dan kemerlip lampu hiasan natal cukup membantu.

Saya menemukan Trinity Church, gereja yang letaknya berbatasan dengan Wall St. Tinggal belok kiri saja. Saya mulai yakin ini jalan yang benar setelah pandangan mata terpaku pada beberapa mobil polisi. Bukan satu tapi banyak yang tersebar di setiap sudut gedung di Wall St. Disinilah jantung perekonomian dunia berdenyut. Arus kapital dari tingkat korporasi hingga perwakilan negara. Di tahun 1929 Bursa Saham Amerika mengalami kolaps yang mengantarkan pada Great Depression.
Kami berhenti di pertemuan Wall St dengan Pearl St, tepat didepan NY Stock Exchange dan Federal Hall. Kantor bursa saham NY ini dibagian depan gedung dibuat bendera US dari cahaya lampu. Lebih cantik dari bendera biasa menurut saya. Pas banget dengan jalanan yang basah. Di gedung Federal Hall adalah tempat bersejarah yakni George Washington sang presiden pertama US diambil sumpahnya pada 30 April 1789. Di depan gedung ini terbujur patung George Washington dengan gagah. Posisi tangan kanannya seperti memberi perintah. Matanya menatap gedung Stock Exchange didepannya. Hmm…benarkah pergulatan Wall St (kapitalism) vs Main St (politik) sudah disiratkan oleh para pendiri negeri adidaya ini? Akankah pertarungan akan abadi?
Menghirup tragedy di kota New York membuat saya merenung. Akankan suatu saat terjadi lebih besar lagi. Banyak skenarion Hollywood mengisahkan bencana alam menimpa kota ini. Ektrem dingin dalam The day After Tomorrow, invasi alien atau object luar angkasa (Armageddon, Independence Day, Deep Impact, Cloverfield, The Day the Earth Stood Still etc) atau tsunami karena gempa bumi.
Skenario itu mungkin hanya fiksi tetapi terkadang kita melupakan tragedi yang terjadi sebenarnya. Yang dialami ratusan ribuan orang berikut generasi mendatang. Rupanya kita harus terus diingatkan.
Places to visit day 2
Metropolitan Museum of Art
1000 Fifth Avenue Fifth Ave at 82nd Street
New York, NY 10028-0198
($20 tiket masuk, termasuk City Pass), Peta disini
Guggenheim Museum
1071 Fifth Avenue
New York, NY 10128-0173
($20 tiket masuk, termasuk City Pass), Peta disini
Dakota Apartment and Strawberry Field
72nd Street and W Central Park
New York, NY
(Free), Peta disini
Tribute to WTC
120 Libert St
New York, NY
($10), Peta disini
Biaya :
Lunch $8.5 at Guggenheim Museum café
Transport $8 (termasuk tip) taxi Guggenheim-Dakota
Besambung ke bagian 4 Bertemu Perempuan Hijau




[...] http://www.indobackpacker.com/2008/12/menikmati-new-york-di-bulan-desember-3-ketika-kota-ini-menghir... [...]