Menikmati New York di bulan Desember (4) Bertemu Perempuan Hijau
By Ambar • Dec 24th, 2008 • Category: Cerita Perjalanan, Kota - Kota, Mancanegara, Wisata
Day 3 Jumat 12 Desember 2008 Menuju Puncak New York
Hari ini saya berencana menikmati kota ini dari atas. Cuaca kebetulan membaik. Hujan berhenti, langit tampak biru. Matahari bersinar terik tapi suhu tetap saja dingin sekali. Menyentuh 2C membuat saya tidak mau melepaskan kaos tangan dan jaket. Saya ingin berkunjung ke gedung yang pernah menjadi skycraper tertinggi di dunia dan bertahan hingga empat puluh tahun.
Empire State Building adalah gedung berlantai sebanyak 102 dengan arsitektur art-deco. Yang membuat saya takjub adalah proses pembangunannya yang hanya memakan 14 bulan. Ini karena solidnya tanah atau batu di kota New York. Gedung ini juga memulai perlombaan pembuatan gedung tertinggi di dunia, menjadikan sebuah prestise bagi negara atau kota. Sebuah proklamasi kemampuan engineering dan keuangan.
Dari Upper East Side Manhattan kami naik subway ijo lagi menuju 33rd St stasiun. Dari sini tinggal jalan kaki saja. Saya sempat ngga mengenali, karena tampak muka gedung sedang diperbaiki di bagian entrance-nya. Antri untuk masuk sudah panjang,. Saya sebenarnya udah punya tiket City Pass, tapi karena mbak Nuki belum ada saya temani berbaris antrian. Begitu masuk gedung kami dibawa ke lantai 2, tempat kami antri lagi menuju ticketing. Siang itu banyak banget pengunjung disambut musik jazz live di dalam. Agak terhibur juga.
Setelah ticket kami melewati sekuriti, hingga diperbolehkan menaiki lift. Itupun antri lagi. Jadi rasanya buat yang punya City Pass seperti saya ini cukup membantu karena langsung menuju ke sekuriti tanpa melewati 3 antrian. Ada jalur khusus yang peruntukkan untuk pembawa tiket Reserved ini. Cara yang lain menghindari antri adalah beli secara online. Jadi tinggal print out dan langsung ke lantai 2.
Saya merasakan elemen gedung ini mulai dimakan usia. Maklum dikerjakan lebih dari 70 tahun yang lalu. Tapi dibandingkan dengan Chrysler Building, detail interiornya kalah jauh. Inilah resiko kerja ngebut, nilai kualitas jadi berkurang.
Lantai dibawah Observasi Deck juga dalam renovasi. Kami seperti melewati bangunan belum jadi. Namun begitu mencapai lantai tertinggi, saya lega melihat langit biru. Siang itu seluruh New York dan Borough atau wilayah disekitarnya terlihat jelas. Ada jembatan Broklyn, wilayah Queens, Bronx, pelabuhan besar New Jersey dan juga bentukan nyata Manhattan. New York jadi terlihat kecil.

Bertahan di puncak Empire State Building seperti ngetest ketangguhan badan. Angin kencang, dingin sekali. Telinga saya yang tertutup masih saja terasa membeku. Muka mulai kaku. Kami jadi beralih ke ruangan, menikmati New York dari balik kaca. Saya membayangkan menikmati disaat malam, pasti cantik sekali. Menikmati dari atas di saat siang berbeda dengan malam. Sianghari kita jadi detail melihat gedung, tetapi malam hari kita jadi menikmati siluet dan kemerlip lampu. Well, suatu hari saya ingin kembali disini. Memotret New York saat malam. Ohya Empire State Building terbuka sampai dini hari pukul 1:15 di hari biasa, tapi tutup tengah malam di hari Minggu.
Saya kecewa sebenarnya. Empire State ini sepertinya terlalu dikomersialisasi. Padahal masih banyak gedung tinggi di NY yang menawarkan view yang lumayan. Banyaknya antri juga membuat jadi males, apalagi melewati berbagai protocol. Melelahkan. Seingat saya di Petronas hanya antri di lift yang cukup lama, karena pembatasa jumlah pengunjung disesuaikan beban maksimum. Di Taipei 101 malah sepi, mungkin karena kami malam hari. Jadi rasanya strategi pemilihan waktu yang tepat cukup penting. Jika bisa hindari siang, coba pagi banget atau malah larut malam sekalian.
Begitu turun lift kami digiring ke toko cindera mata. Semenjak saya dalam budget terbatas saya putuskan membeli kartu pos saja. Potret hitam putih (sephia sebenarnya) menggambarkan para pekerja konstruksi Empire State Building memasang sekrup baja. Ngeri banget karena saya bisa lihat posisi mereka tergantung dengan New York dari ketinggian sebagai latar belakangnya.
Dari sini kami balik ke 33rd Street Station. Maunya kita menuju ke jalan East Houston Rd di daerah Lower East Side Manhattan. Kami ambil kereta V (V bukan lima) yakni wana orange. Karena asyik ngobrol kami malah nyampe daerah Brooklyn. Pantes banget kok jadi sepi. Saya amati juga terlihat polisi disana sini. Brooklyn apalagi subway agak rawan. Dari sini pengumuman di subway membilang bahwa kereta berganti arah mengikuti jalur A dan C (biru). Waduh kok jadi makin menjauh nih. Akhirnya saya putuskan turun di Chambers Station. Dari sini lebih baik ambil taxi saja. Wong tinggal beberapa blok.
Lha kok nyari taxi juga susah banget. Wah hari ini emang lagi ngga beruntung. Udah nyasar, taksi ngga mau ditumpangi. Aneh banget. Untunglah setelah sekian lama di luar dengan suhu menggigil dapet juga taksi. Saya langsung masuk saja setelah menanyakan supir. Saya amati taksi ini memakai bahan bakar campuran. Bentuknya juga seperti SUV ketimbang sedan. Dennis, supir muda nampak chatty. Kami ngobrol panjang terutama karena ia mengaku orang New York. Begitu kami minta ia ke E. Houston Rd langsung dia tancap. Saya jadi ingat perbincangan dengan Frank, suami mbak Nuki. New Yorker membunyikan “Houston” dengan house-ton ketimbang hus-ton. Ternyata aksen yang berbeda cukup bisa dikenali area mana di NY ini ia berasal dan juga immigrant dari negara mana. Dennis mengira kami Philiphinos. Saya ngga heran, sebagian besar orang Phillipine merantau disini ketika era Marcos dan kemudahan akses karena pangkalan militer di Clark-Subic.
Seperti Harry dan Sally
Saya minta diturunkan di pojokan jalan begitu melihat nama warung yang saya tuju. Benarlah, karena lapar saya ingin makan disini. Namanya Katz Delicattesen. Disinilah tempat scene paling terkenal dalam film When Harry Met Sally (1989) makan siang dengan adegan ‘menghebohkan’ itu. Saya penggemar Meg Ryan, dan film ini adalah awal kesukaan saya pada romantic comedy. Film klasik yang cerdas tentang bagaimana hubungan mutual itu sebenarnya.
Begitu masuk saya langsung mengenali tipikal café di Amerika yang luas dengan ornamen sana sini. Lampu menyala, tempat duduk kayu dengan konsep seperti kantin. Tadinya bingung juga, tapi di pintu kami diberi kupon yang harus terus dibawa hingga bayar di kasir begitu keluar. Oh..jadi makan dulu, bayar belakangan nih.
Tempatnya asyik, lapang dan homey. Yang terpenting sih ada WC-nya. Ohya salah satu kesulitan saya di NY adalah menemukan toilet. Biarpun masuk café belum tentu mereka menyediakan basic toilet. Yang mengundang saya adalah di dinding Katz Deli terpampang photo orang-orang terkenal yang pernah mampir dan makan disini. Salah satunya Bill Clinton. Si empunya Katz sempat ngobrol dengan meja sebelah, jadi kami mencuri dengar. Katanya untuk makan disini, para pekerja Katz harus diwawancarai Secret Service. Walau sebentar, ternyata Bill mendapatkan pengawalan super ketat.
Katz Deli adalah café untuk kaum Jahudi. Jadi makanan disana adalah kosher tanpa babi. Salah satu andalannya adalah pastrami yang terbuat dari daging beef yang diolah. Dalam bentuk tendon brisket, daging tadi dibumbui dengan aneka spices seperti, bawang, ketumbar, merica hitam, cengkeh, allspice, biji mustard dll. Kemudian diasap hingga warna daging terlihat kemerahan. Sebelum disajikan, daging tadi di kukus untuk memelihara kehangatannya.

Saya pilih sandwich pastrami dan juga mencoba sandwich roast beef (panggang) untuk melihat perbedaannya. Roti sandwich dibuat dari tepung rye, yang secara tradisional banyak dipakai oleh orang Eropa Timur. Pastrami adalah peninggalan gastronomi dari Jahudi Eropa khususnya Rumania yang dibawa para immigrant hingga New York. Tradisi ini rupanya dimodifikasi disajikan dengan dengan salad dan acar ketimun. Begitu melihat ukuran sandwich, saya jadi tertegun. Gede bangets! Perbandingan antara roti dan daging seperti 1:5 jadi seperti tumpukkan daging. Haduh mana kuwat nih makan segini banyaknya. Kami putuskan bawa separuh untuk dibawa pulang.
Dari Katz kami jalan sejenak ke stasiun subway di Lower East Side Station. Maunya sih ngejar ferry ke Liberty Island. Jadi kami ambil jalur V disambung dengan jalur ijo (4,5 atau 6) menuju Bowling Green Station. Begitu tiba kami jadi curiga. Kok sepi banget yah. Ngga ada orang antri. Bergegas kami menuju ticketing, bertemu dengan Ranger Taman Nasional. Katanya, ticket udah tutup pukul 4:00 tadi. Y owes..lah.
Kami malah jalan menuju pasar di dekat pintu ferry dan para penjual di taman Battery Park. Saya amati mereka ini kebanyakan para berkulit hitam dengan membawa tas koper. Seperti pekerja kantoran. Beberapa membawa segepok barang dibungkus seprei. Makin penasaran saya amati mereka. Oh setelah diamati mereka ini para penjual asongan gelap. Mereka menawarkan jam tangan atau lukisan ataupun photo untuk para turis yang lewat. Lha karena illegal mereka kudu bersiap jika digerebek. Jadi bawa koper itu aman banget. Halah..
Menyeberang kami jadi iseng melihat National Museum of Native American. Dari luar gedungnya besar sekali, terlihat megah. Tapi kok terlihat sepi. Begitu masuk kami diperingatkan bahwa hanya punya waktu 20 menit saja sebelum tutup. Wah …okelah semoga cukup.
Begitu masuk kami lantas ke eksibisi tentang pakaian dan pola baju dari para perempuan suku Indian. Nama eksibisi itu adalah Our Peoples : Giving Voice to Our Histories. Semenjak masuk tadi saya sudah takjub dengan gedungnya. Sayang banget terlihat kosong. Kami jadi mengeliling tampilan baju trasisional berikut video bagaimana membuat dan inter relasi dengan identitas perempuan Indian. Sempat juga mengintip sekilas karya artis terkenal Fritz Scholder. Lukisan2nya mengisahkan suku Indian dalam suasana kontemporer. Cara penyampaiannya yang sangat revolusioner ini cenderung tidak menampakkan ke-indiannya. Tetapi justru itu yang ingin dicapainya bahwa orang Amerika aslipun mampu membuat karya seni modern.
Sayang banget cuma sebentar, rasanya singkat. Kami bergegas pulang. Suhu dingin begini membuat ngga nyaman berada di luaran. Walau belum begitu malam saya putuskan untuk melanjutkan petualangan di hari terakhir saya besok.
Places to visit day 3
Empire State Building
350 5th Ave,
New York, NY 10118
($20 observatory only, udah termasuk City Pass), Peta disini
Katz Deli
205 E. Houston Street
New York, NY 10018,
($ agak mahal tapi worth to try), Peta disini
National Museum of Native American
1 Bowling Grn, New York, NY
(Free), Peta disini
Biaya :
Transport taxi (including tips) $8.5
Lunch di Katz Deli $23.68 (dua porsi)
Snack dan minum $5.5
Day 4 Sabtu 13 Desember 2008 Salam Perpisahan Dengan Perempuan Hijau.
Hari terakhir ini saya putuskan menuju pulau Liberty. Semoga cuaca bagus hari ini. Walaupun hujan berhenti sejak kemaren, saya mulai meragukan cuaca karena awan nampak bergelantungan ketika pulang. Ternyata hujan turun sebentar dan meninggalkan langit cerah di hari Sabtu.
Sebelum berangkat saya packing dulu. Siapa tahu waktunya mepet, jadi begitu pulang dari Liberty langsung angkat ransel menuju Grand Central Stasiun. Semalam saya telpon untuk meminta info soal service bis shuttle dari Manhattan menuju JFK. Semula saya pikir naik subway aja deh. Karena waktunya juga ngga lama, sekitar 1 jam kalau lancar. Tapi godaan untuk mencoba moda yang lain membuat saya batalkan saja. Walau sebenarnya aman banget loh nge-sub di New York.
Kali ini kami agak pagian. Langsung menuju Bowling Green Station. Lokasi pembelian tiket terletak didalam benteng kecil berbatasan dengan Battery Park. Dari namanya sudah jelas bahwa ini adalah bekas tempat meriam atau system pertahanan misil kelautan. Battery Park juga tempat yang strategis bagi suku Indian yang pertama kali mendiami lembah sungai Hudson ini. Mereka menamainya Capske Hook (dari Kapsee yang artinya tebing bebatuan). Di dekat sini pula Belanda mulai menancapkan pengaruhnya dengan nama Dutch West India Company. Kolonialis ini mendirikan pendudukan yang dinamai New Amsterdam di tahun 1625. Belanda pula yang membangun benteng pertama kali untuk melindungi wilayah kekuasaannya.
Di sini pula tempat para immigrant pertama kali mendapat tempat. Karena Battery Park dulu adalah tempat bagi agen Federal Amerika untuk memproses immigrant yang mengalir dari tahun 1855-1890 hingga mencapai 8 juta orang.
Karena itu banyak sekali peninggalan ataupun monument di Taman ini. Salah satu yang saya perhatikan adalah sebuah bola yang seperti tercabik, luluh lantak. Bola itu (disebut Sphere) adalah bola logam karya pematung Jerman yang dulunya berada di tengah kolam di sekitar World Trade Centre. Bola logam itu selamat dari bencana, namun nampak jelas bekas logam pesawat dan cabikan karena runtuhan baja WTC. Sphere tadi kemudian dipindahkan sementara ke Battery Park tanpa diperbaiki sedikitpun.

Kini Sphere itu menjadi object turis, sebagai perlambang kedamaian yang tak pupus. Tak jauh dari situ kemudian dibangun Eternal Flame atau api abadi sebagai penghormatan untuk korban peristiwa 11 September.
Tur ke Pulau Liberty adalah juga bagian dari City Pass. Jadi saya ngga perlu beli tiket lagi. Saya temani mbak Nuki ke konter. Ternyata tiketnya $12 tanpa audio. Jadi cuma tiket naik ferry saja puang balik. Untuk naik ke atas atau memasuki badan si perempuan ini kita harus bayar lagi $10 (termasuk saya pemegang tiket).
Antrian di tiket tidak banyak, tapi itu loh antrian kewat sekuriti yang luaaaamaaa banget. Seperti di airport saja. Tadinya sempat keder juga liat antrian ini, tapi saya tunjukkan tiket city pass sehingga kami bisa lewat jalur cepat. Ada semacam tenda yang dilengkapi pemanas (duh syukur banget deh, soalnya dingiiiin banget). Di dalam pemeriksaan dari sepatu hingga jaket dan slayer harus dilepas. Untung banget antriannya cepat dan lancar.
Saya jadi inget bahwa beberapa hari di NY, hampir semua tempat favorit turis ini selalu diperiksa ketat. Saya bukan teroris, tapi kalaupun iyah sasaran saya ya bukan patung Liberty. Kurang straegis dah. Memang setelah peristiwa delapan tahun lalu, Amerika jadi paranoia. Ataukah itu bukti ketidak pedean system sekuriti dalam negeri?
Kami lantas dipersilakan naik ferry. Dari jauh saya sebenarnya udah liat mbak Liberty ini. Ternyata tidak sebesar yang saya duga. Skala di kepala saya adalah 3 atau empat kalinya. Patung Liberty adalah hadiah dari rakyat Perancis untuk Amerika di tahun 1886. Sebagai bentuk persaudaraan dan juga simbol kemeredekaan. Ada empat orang yang bertanggung jawab terhadap pembangunannya. Frédéric Auguste Bartholdi sebagai pematung, Maurice Koechlin sebagai insinyur untuk desain struktur tubuhnya, Eugène Viollet-le-Duc penanggung jawab pemilihan tembaga dan terakhir si Gustave Eiffel. Loh kok si perencana Eiffel disini juga? Ternyata Maurice adalah bekerja untuk perusahaan Eiffel dalam bidang struktur baja.
Saya bisa menyaksikan tubuh hijau Liberty ini yang terpantul cahaya siang. Apalagi dengan background langit biru yang bersih, tanpa awan sedikitpun. Obor emasnya nampak terpantul menyala.
Ferry terisi segera. Saya memilih duduk di anjungan bagian atas. Hanya beberapa menit saja lantas saya balik. Ngga tahan euy ! Dingin banget. Angin laut juga kenceng banget. Kami kembali kedalam, hanya saja tidak ada tempat duduk tersisa. Yah udah duduk aja dilantai. Di samping saya nampak anak-anak duduk bergerombol. Mereka mulai menyanyikan Christmas Carol dengan tekun. Wah iya ya…saya jadi mencoba membayangkan New York white Christmas nih jika salju akhirnya menerpa East Coast akhir Desember.
Hanya sekitar 20 menit kemudian kami sampai di dermaga kecil pulau Liberty. Saat ini wilayah ini masuk dalam kekuasaan National Park atau Taman Nasional. Jadi para penjaganya adalah Park Ranger berikut para penjaga di ferry. Begitu turun kami langsung jalan mengitari pulau kecil ini. Semakin saya menyadari, Liberty ini ternyata kecil. He he he…ngga segede yang saya kira. Ada kontroversi ketika Liberty ini masuk daftar urutan 307 World Heritage versi Unesco di tahun 1984. Pengkatagoriannya juga membikin alis naik. Liberty dimasukkan dalam Situs Budaya atau Cultural Site. Untuk sejarawan, patung ini terhitung muda. Kalah jauh misalnya dengan patung Buddha Bamiyan di Afghanistan. Tapi begitulah. Yah kriteria dan pencaloan situs semata-mata adalah gerakan politik. Lobby dan meyakinkan Unesco adalah pekerjaan tak ringan untuk negara berkembang macam Indonesia misalnya.
Dari bawah Liberty bisa menikmati jejeran gedung tinggi Manhattan yang menjulang. Hanya dibatasi teluk sebelum menuju samudra bebas. Saya bisa melihat New Jersey dengan lebih jelas. Saya putuskan tidak menuju ke badan Liberty. Saya pikir perempuan ini lebih cantik dari jauh.
Jalan lagi kami sampai di halaman Taman Nasional. Ada empat patung yang terlihat berdiri sejajar. Tidak banyak yang tahu karena mungkin ngga penting. Tapi buat saya inilah tanda penghargaan pemerintah Amerika untuk para pembuat Liberty. Kerja yang panjang dan melelahkan hingga membawa potongan tubuhnya dengan kapal dari Perancis. Tiba di New York Harbor pada Juni 1885, kemudian terpaksa masih tersimpan selama 11 bulan sebelum bisa dipasang karena belum selesainya struktur bawah penopang. Selama empat bulan kemudian, bagian per bagian Liberty dibangun hingga akhirnya dibuka resmi oleh Presiden Grover Cleveland bulan October 1886.
Ngga tahan dengan suhu dingin yang menusuk saya putuskan untuk segera balik saja. Apalagi waktu sudah menunjukkan ssekitar pukul 1:30pm. Padahal rencana untuk mengejar bis adalah sebelum pukul tiga. Segera kami menuju dermaga ferry untuk kembali. Untunglah terkejar juga. Sebelum kembali ke dermaga di NY, kami diampirkan ke Pulau Ellis. Kalau mau menengok disana juga boleh. Tapi karena keburu ya udah deh terus aja.

Begitu sampai saya bergegas menyambar ransel. Setelah makan siang saya diantar Frank dan mbak Nuki menuju Grand Central Station. Ngga susah nyarinya karena terletak di di 41st Street. Untuk tiket shuttle bus cukup bayar ditempat. Sekali jalan $15 tapi untuk berangkat pulang adalah $27. Frekuensi bus juga tiap 20 menit. Jadi cukup lega, ngga perlu pesan dulu.
Perjalanan menuju bandara JFK membuat saya terpekur di bis. Sengaja saya nga pasang musik. Saya lihat dan amati ketika melewati wilayah Queens –salah satu Burough di NY yang sekarang sedang mekar. Suatu saat saya ingin kembali. Menjelajah NY hingga Bronx, Brooklyn ataupun Queens. Masih banyak diluar Manhattan yang bisa dinikmati.
Places to visit day 4
Liberty and Ellis Island National Park
($12, udah termasuk di City Pass), Peta disini
Biaya :
Transport shuttle bus dari Grand Central ke bandara JFK $15 one way.
Mampukah Mengalahkan Frugal Traveller?
Itu yang mengganjal saya, karena ada banyak elemen yang berbeda antara saya dan Matt Gross. Secara keseluruhan saya hanya menghabiskan $499.62 udah termasuk tiket pesawat dan buku Lonely Planet. Saya sendiri tidak tahu hitungan detail Matt tetapi tampaknya dia tidak memasukkan tiket karena travel dengan moda lain. Ia juga pergi dengan istrinya, tinggal di hotel legendaries Chelsea yang taripnya 3-4 kali harga hostel.
Disini karena saya mendapat tempat, jadi otomatis ngga bayar penginapan. Jadi rasanya saya sedikit ‘curang’. He he he…Dalam beberapa hal Matt juga mengunjungi tempat yang tidak terlalu banyak turis, karena ia memang menyusuri jejak ketika tinggal di New York. So ini bukan yang pertama untuknya. Sedangkan saya ini adalah beneran kinyis2 alias baru sekali datang. Faktor lainnya adalah saya nginap hampir 3 malam disini sedangkan Matt menghabiskan weekend. Perbedaan lama waktu itu cukup significant karena harga hotel/hostel di NY terbilang mahal.
Tantangannya adalah mencari alternatif tontonan yang gratis tapi meninggalkan kesan mendalam. Jalur subway yang tertata bisa diandalkan membuat gerakan saya di NY terbantu. Taxi adalah alternatif terakhir. Jika kita udah akrab dengan system kereta, ini adalah cara paling murah dan mudah untuk menjelajah New York dengan frugal.
Jadi apakah saya mengalahkan Matt? Hmm saya ingin mengklaimnya. Iyah saya ternyata bisa juga jadi super frugal New York Traveller. (selesai)






