Menyusuri Prague hingga Vienna (1)
By rizkyselfira • Dec 22nd, 2008 • Category: Cerita Perjalanan, Mancanegara, Wisata

Perjalanan singkat ke Prague dan Vienna ini saya pake low cost airlines Skyeurope seharga EUR 49 one way, lumayan dapet last minute offer dari websitenya.. Hihi ternyata feeling saya kuat juga ya, maklum saya ketinggalan kereta pertama ke airport Schiphol. Jadi mesti nunggu kereta ke dua yang berangkat 06.25 padahal flight saya jam 9 pagi. Tapi saya ga deg degan ketinggalan flight yang berangkat jam 9 pagi. Lagian ternyata sesampainya di aiport ada info kalo flightnya delay 30 menit gara2 cuaca, asik saya bisa jalan2 keliling free duty shop dulu neh di lounge.
Ga belanja sih..cuman liat liat aja..tapi ada satu toko yang bikin saya bolak balik 3 kali, bukan bukan buat belanja..di sana ada sepiring gede tester Keju Gouda. Hiii karena belum sarapan saya tiga kali nyomot..Untung pramuniaganya lagi sibuk dan gak memperhatikan kalo saya bolak balik cuma ambil tester heee.. Ternyata ambil tester keju gratis harus saya bayar di dalam flight. Saya sempet kecele pramugaranya yang cakep menawari segelas air panas. Eh saya kira gratis tapi dia bilan, “Two Euro please.” Maaakk..saya lupa kalo low cos airlines dimana mana suka jualan..yah apa boleh buat karena malu saya bayar juga.
Tapi saya inget bawa beberapa sachet Energen di ransel yang saya bawa ke kabin,, hehe… So dicampurlah kedalam air panas seharga EUR 2 itu. Kurang lebih 1.5 jam kemudian pesawat udah mendarat di Prague Ruzyne Airport dengan cuaca local menyentuh minus 6 derajat. Bandaranya tidak begitu besar jadi saya dengan mudah bisa menemukan Tourist Information Center (TIC). Setelah menukar mata uang lokal saya lantas beli 24 Hours Daily Pass Ticket di TIC seharga Kc 100. Daily pass ini bisa digunakan untuk semua jenis transportasi umum dan inget mesti divalidasi dulu di mesin kuning untuk validasi tiket. Satu satunya bus umum menuju city center adalah bus nomer 119, kalo ga beli Daily pass bisa juga beli tiket transfer langsung dari supir bus.
Dari airport saya turun di Dejvicka untuk naek Metro ke Hradcanska. Ribet ya nyebutnya..Saking ribetnya katanya bahasa nasional republic Ceko ini termasuk salah satu yang tersulit di dunia. Setelah ngedrop ransel di tempat temen saya langsung ambil barang seperlunya berikut peta dan siap keliling kota. Prague Castle, tujuan pertama saya tidak begitu jauh dari stasiun metro Hrandcanska. Apalagi papan petunjuk informasi di jalan juga cukup informatif, sekitar 15 menit jalan kaki Castle cantik itu udah di depan mata. Et voila..saking excitednya saya lupa masukin sarung tangan ke dalam tas..aduhh saya kan bakal jalan sampai malem..Yah selamet kedinginan deh ntar.

Dingin yang dirasa jadi lupa gara gara liat dua penjaga kastil ganteng yang berdiri tegak di pintu masuk kastil. Saya udah liatin mukanya lima menitan tapi mereka tetep berdiri tegak kayak patung en sok cool.. Haaaa pengen poto bareng tapi ga da yang bisa dimintain tolong. Kompleks Prague castle terdiri dari St. Vitus Cathedral, The Royal Palace, St. George’s Basilica, Golden Lanedan berbagai bangunan antik di sekitarnya. Ga jauh dari situ mata saya langsung melongo liat antrian masuk yang panjangnya kurang lebih 20 meteran dan terbagi jadi dua jalur ke Saint Vitus Cathedral. Maklum juga sih karena masuk ke gereja ini gratis ga pake tiket, tapi winter gini Prague masih tetep berjubel sama turis. Temen saya bilang kalo summer bisa 6 kali lipatnya. Saya langsung nyempil di antara antrian masuk ke gereja yang konon peletakan pondasi batu pertamanya dilakukan tahun 1344 oleh King John dari Luxembourg dan anaknya yang terkenal Charles IV.
Periode pembangunan gereja Gothic yang pertama dipimpin oleh Matyas of Arras, lalu Peter Parler dilanjutkan oleh anaknya hingga tahun1399. Konon konstruksi arsitektur yang mengagumkan ini belum selesai hingga1929. Kebayang kan…berarti makan waktu hampir lima abad untuk menyelesaikannya. Hasilnya bisa dilihat dari interior di dalam yang mencolok mata. Antrian di luar rupanya cukup beralasan karena di dalam pun sama penuhnya. Apalagi banyak rombongan turis berbagai bahasa yang mengelilingi gereja ini. Saya sempet menyelinap di salah satu rombongan turis berbahasa Inggris. Abis penasaran pengen tau cerita versi guide-nya hihi..
Sayang yang gratisan cuma St. Vitus Cathedral, akhirnya saya beli tiket seharga Kc 250 untuk melihat ke seluruh isi kompleks Prague Castle, ditambah Kc 50 untuk kamera. Tapi dijamin ga nyesel deh. Di depan sebuah lapangan luas yang permukaannya dilapisi es tipis ada bangunan berwarna merah bata. Itulah St. George’s Basilica, bangunan gereja tertua di kastil ini. Struktur asli bangunan yang bergaya Romanesque selesai dibangun abad17. Hingga sekarang sebagai bagian dari Galeri Nasional, rupanya lebih sering digunakan eksibisi tetap berbagai seni Gothic Republic Ceko.
Setelah cukup menghangatkan diri di dalam, saya mengekor rombongan turis lain yang menuju ke Golden Lane. Jalanan menuju ke sana kesannya tuaaaa banget, mengingat rumah rumah imut di sekitarnya juga dibangun sekitar abad 16. Dulu penulis Franz Kafka pernah tinggal dan bekerja di rumah No. 22 pada tahun1917. Rumah itu letaknya berdempetan. Dari luar terlihat mini, sebagian besar sekarang berubah fungsi jadi toko toko yang menjual souvenir, galeri, dan refreshment bars.A da juga salah satu rumah dengan koleksi perlengkapan perang jaman kerajaan jadul..dari helm, senjata, baju perang, dan atribut lain dilengkapi dengan musik perang jadul juga ![]()
Ga kerasa hari udah hampir gelap waktu keluar kompleks kastil di sekitar Hradcanske Namesti.
Dari sini pemandangan kota Prague bisa terlihat jelas. Atap atap rumah dan bangunan yang terselimuti salju tipis melengkapi keindahan sore itu. Jalanan agak menurun melewati Nerudova menuju Lesser town, pusat kota yang jadi tujuan saya berikutnya. Jalanan sempit di sekitar Lesser Town banyak dipenuhi toko toko souvenir dan galeri seni. Dan lagi lagi timpukan salju makin lebat. Akhirnya saya mutusin berteduh ke salah satu gang yang sempit. Yang tidak lain adalah Kampa Island, restoran dengan Charles Bridge view. Cantik banget..tapi angin dingin membuat ga betah.

Ga lama sampailah di salah satu ujung Charles Bridge, banyak turis lalu lalang. Sekedar poto poto ato menikmati pemandangan lampu kota yang mulai nyala. Tapi saya balik arah menuju ke Old Town Hall terlebih dulu, penasaran mau liat jamnya bunyi. Bener aja 15 menitan sebelum teng udah banyak turis ngantri di depan Astronomical Clock. Padahal jamnya bunyi masih lumayan lama. Tapi yang udah bunyi duluan perut saya he he..Mata saya tertuju ke salah satu penjual roti di seberang jam. Roti yang panjangnya sekitar 15 cm-an dan bolong di tengahnya itu susah dieja, Starocesky Tredlnik. Sebuah roti harganya Kc 50, luarnya garing tapi dalemnya lumayan empuk plus rasa manis yang pas. Sebetulnya cukup banyak café yang jualan hot dog, hot chocolate, beer dan wine tapi cuman roti ini yang pas di kantong dan perut saya.
Sambil makan saya ngikut lagi di antara turis turis yang berdiri nunggu jam bunyi. Setiap jam ada pertunjukan mechanical parade of saints and sinners. Pertunjukan itu tentunya diakhiri tepuk tangan turis turis. Tak jauh dari situ ada Museum Alphons Mucha yang mengoleksi berbagai benda seni Art Nuveau Ceko. Hanya saja saya lebih excited muter balik ke Charles Bridge untuk poto poto. Jembatan yang dibangun sekitar abad 14 ini menghubungkan Star Mesto dan Kastil. Dalam kurun waktu hampir 650 tahun hingga sekarang Charles Bridge yang panjangnya 510 m sudah menjadi tujuan utama untuk pejalan kaki. Patung pertama, St. John of Nepomuk, diletakan di jembatan tahun 1683. Menyusul 21 patung lain yang dibangun antara1698 dan1713. Jumlahnya bertambah hingga 30 buah patung. Ketika sampai di ujung jembatan yang tidak lain adalah tower Old Town, belokan pertama dari sisi kanan terletak patung yang dibuat tahun 1848 dan ditujukan untuk Charles IV.
Makin malam pemandangan kota dari atas jembatan terlihat cantik, salju yang turun tiba tiba juga nambah suasana romantis. Tapi gelapnya langit malam membuat patung patung di sepanjang jembatan terlihat dingin dan angkuh. Sama dinginnya kayak tangan saya yang tanpa sarung tangan..
Bersambung di Menyusuri Prague hingga Vienna (2)
rizkyselfira is simply human being..:), love and appreciate my life and dreaming all impossible dream. I love good food, great music and exotic travels. Absolutely interesting to meet and comunicate with new people and culture, making friends. Currently I am learning how to make a good photograph and enjoy my live in every single day !
Email this author | All posts by rizkyselfira




nice tripp, .
bos,,really222 a nice trip
gw pgn bgt ke eropa timur cuman kepentok biaya,,kira22 brapa euro???
secara sekarang currency mahal bgt
thanks masgodel…
saya lebih suka eropa tengah-timur, etmosfernya buat saya lebih kerasa en ga ngebosenin. oya beberapa negara di eropa timur macam praha & budapest belum pake euro kok. mereka emang udah masuk uni eropa tapi buat mata uang belum ngikut euro. soal biaya tergantung mau berapa lama & kemana aja. klo udah tau mu kmn mungkin sy bisa share soal teknis n perkiraan budget =)
wah tripnya menyenangkan sekali