Menyusuri Prague hingga Vienna (2)
By rizkyselfira • Dec 22nd, 2008 • Category: Cerita Perjalanan, Mancanegara, Wisata

Bangun agak telat tapi ga lupa sarapan dulu, sayang bukan bubur ayam ati ampela kesukaan saya..hi hi..hanya youghurt dan roti atuh ..agak molor dari rencana tapi tak mengapa. Semangat jalan tetep tinggi. Hujan salju semalem kayaknya lumayan deras. Iseng bikin jejak foot prints di sepanjang jalan. Kali ini saya naek metro ke Mustek, dengan jalan kaki 5 menit dari stasiun metro Mustek saya sampai di Municipal House.
Letaknya kurleb di ujung jalan Na Príkope, di pertengahan area perbelanjaan. Bangunan cantik ini awalnya berfungsi jadi Royal Court (Ruang Pertemuan Kerajaan) tapi katanya hampir satu decade yang lalu direkonstruksi lagi. Sekarang jadi tempat pertunjukan Prague Symphony Orchestra sepanjang tahun. Lagi lagi di sepanjang trotoar banyak terlihat rombongan turis Asia. Saya kan di Praha bukan Asia. Masih meding kali ya. Beberapa taun lalu waktu taun baruan di Singapura di sepanjang jalan Orchard road banyak orang ngomong bahasa Jawa..welehh berasa di Suroboyo
)
Ga jauh dari Municipal House ada Powder Gate. Sebetulnya gerbang ini dibuka untuk umum pada musim panas, jadi bisa naek ke atas menara melewati 186 anak tangga. Tapi winter kayak gini ditutup deh..dan jalanan dari Powder Gate ini juga berujung ke Old Town Square (Taman Kota Tua).
Ternyata siang hari area ini makin dipenuhi turis, apalagi yang nunggu jam Astronomical bunyi tiap jam. Teng..Kali ini saya bisa ngeliat jelas patung patung di sepanjang Charles Bridge walau sebagian jembatan sedang direnovasi. Jadinya sebagian jalan agak penuh oleh pejalan kaki dan penjual jalanan.
Tukang jualan di sepanjang jembatan jadi daya tarik tersendiri. Item yang dijual sangat unik, mulai dari lukisan tangan dari berbagai tempat menarik di Prague sampai pelukis karikatur jalanan. Dari sana saya jalan ke arah Lesser Town dan nemu pasar tradisional. Hanya saja saya kurang tau persis itu pasar tradisional biasa ato Xmast market. Soalnya beberapa kios menjual pernak pernik natal. Barang barang yang dijual di sini harganya lebih murah dari toko toko di sepanjang Lesser Town. Mau beli sih tapi apa daya kantong tidak mengijinkan he he..
Saya malah nyoba makanan Soft Nougat rasa coklat. Harganya lumayan murah Kc 30, rasanya mirip dodol coklat tapi buat lidah saya terlalu manis. Sambil ngemil nougat saya naek metro ke arah Maiselova Street.
Ini salah satu dari dua jalan utama di Jewish quarter,yang ditemukan tahun 1254. Maksud hati hendak melihat area Synagogue dan Jewish Quarter tapi saya diburu waktu buat ngejar kereta ke Vienna. Jadinya cuman sempet poto poto di sekeliling aja.
Setelah ambil ransel sambil lari lari saya naek metro ke Nadrazi Holesovice atau Stasiun Praha Holesovice. Ini adalah stasiun kereta api terbesar ke dua di Prague. Rata-rata melayani kereta ke Eropa bagian barat dan utara seperti Berlin. Juga kereta ke Eropa Tengah dan Timur seperti Budapest dan Bratislavia.
Beruntung saya dapet tiket dengan harga terjangkau EUR 19.00 ke Vienna. Lama perjalanan dengan kereta ini sekitar 4 jam sampai di Stasiun Wien Sudbahnhof, Vienna. Keretanya cukup nyaman, yah setara dengan harga sih. Di dalam kereta ada dua orang cewe US yang baru balik dari Jerman. Sempet ngobrol dikit, abis salah satu cewe itu nempatin nomer kursi yang udah saya reserved. Tapi saya relakan saja. Kereta saya ini sempat berhenti di beberapa stasiun lain untuk menambah penumpang masuk. Kali ini sekelompok anak muda pake ransel segede gaban. Wah jadi penuh deh..
Jam 10.30 malem kereta sampai di Wien Sudbahnhof, sama dinginnya..tapi mendinglah masih nol derajat. Saya sempet muter2 nyari loket tiket ato Kios Tabak yang buka tapi udah pada tutup. Tadinya mau beli daily pass buat transport. Karena ga da yang buka, yasud saya siapin uang aja di saku trus nyari stasiun tram D ke Augasse tempat saya nebeng nginep. Sempet muter2 en melototin peta nyari stasiun tramnya.. Abis udah gelap sih. Beruntung banget 10 menit kemudian tramnya dateng. Tapi kok supirnya ga keliatan ya, ditutupin pintu gituh. Trus gimana beli tiketnya? jadi deh saya agak deg degan takut ada yang meriksa tiket. Tapi sampai Augasse dengan total 15 stop halte ga da yang meriksa tuh..hihiiii malem ini selamet deh numpang gratis.

Masih terbuai sama cerita sejarah di Schonnbrunn Palace kemaren, jadilah hari ini ke Hofburg Palace. Baru ke luar dari Stasiun subway Herrengasse, ada suara orang bersiul. Kenceng bener ya. Tapi siulan ini bukan sembarang siul. Bernada. enak didenger..ah ternyata suara siulan itu berasal dari Mozart palsu yang nangkring di depan gerbang masuk Hofburg Palace. Pikir saya Mozart palsu ini kuat juga ya..udah seluruh badan dicat warna emas, trus berdiri tegak kayak Adi MS lagi mimpin orkestranya..sambil bersiul sepanjang hari. Yang jelas dia ini jadi atraksi tersendiri buat pengunjung Hofburg.
Tiket masuk ke sini juga dapet diskon kalo nunjukin Vienna Card, harganya jadi EUR 8.50 lumayan lah..ada tiga bagian kunjungan. Museum Perak, Museum Sisi dan Apartemen Imperial.
Museum Perak buat saya ngebosenin, yah apalagi kalo bukan koleksi perak dari jaman kerajaan. Yang bikin agak terhibur malah gambar2 di piring piringnya..abis banyak gambar semi nudist hi hiii…
Saya heran..giliran masuk ke objek yang bagus aja ga boleh poto lagi termasuk ketika masuk ke Museum Sisi & Imperial Apartemen. Lighting dan koleksinya sedap dipandang mata. Apalagi sambil dengerin audio guide tentang kisah tragis Putri Sisi di Istana Hofburg. Istana-istana di Vienna emang indah tapi tetep aja rasanya kaku dan dingin. Sama halnya waktu ngeliat Belvedere Palace di wilayah Schloss Belvedere.
Biarpun waktu itu matahari bersinar terang dan langit biru dengan cuaca nol derajat. Letaknya ga jauh dari stasiun WienSudbahnhof, saya agak males masuk ke dalam karena udah kebayang aja koleksinya. Saya pikir hampir sama seperti dua istana yang saya liat kemaren. Taman luas nan gede di Lower Belvedere bikin betah. Tanaman yang disusun kayak karpet, ditambah patung patung artistic berwarna putih dimana mana. Malah ada patung Sphinx juga..tapi ko rasanya lama lama mata saya kenyang juga liat bangunan istana mulu.

Kunjungan singkat saya ini diakhiri dengan jalan sepanjang Sungai Danube ke Hundertwasser Villageand Hundertwasserhaus. Saya penasaran sama istilah The Playful Architecture of Hundertwasserhaus. Desa ini kompleks rumah tinggal biasa yang eksterior dan interiornya sengaja dibuat sedemikian rupa untuk nyolok mata dan menarik perhatian turis. Warna warni dan interior yang tidak biasa. Bayangin aja lantai di salah satu rumahnya sengaja dibuat tidak rata, aga semi berbukit hihidi tembok ada tempelan botol ato benda benda lain, biarpun segala ada tapi tetep terlihat artistic. Desa ini sendiri dibuka tahun 1985 oleh pemerintah kota setempat. Ada sekitar 52 unit tempat tinggal yang di seberang jalannya terletak toko toko souvenir. Tokonya sendiri juga tak kalah artistic, pokoknya melengkapi The playful Architecture di sekitar Desa Hundertwasserhaus.
Perasaan geli, lucu tapi takjub mengakhiri perjalanan saya di kota Vienna yang dingin ini.. Ga kerasa pegel juga gendong ransel muter muter setengah hari, saya langsung ke Stasiun Wien-Mitte. Ada kereta khusus dari dan menuju Airport dengan durasi perjalanan cukup cepet 16 menit saja. Tiket untuk naik City Airport Train (CAT) harga normalnya $3.90, tapi karena saya masih punya Vienna Card yang valid harganya diskon jadi $1.75 hii lumayan kan, jadi bisa beli cemilan pancake kentang buat ngemil di jalan. Stasiun keretanya sendiri terpisah sama Wien-Mitte, tapi ada penunjuk jalan besar dan jelas berwarna hijau terang ke stasiun CAT. Ada juga kok fasilitas City Check in tapi hanya untuk Austrian Airlines.
Sesampainya di airport saya agak bingung nyari Check ini counter Sky Europe. akhirnya sampe nanya dua kali ke information center lokasi check in counternya. Katanya saya bisa langsung ke Lounge aja, di sana dapet boarding pass. Hmmmagak aneh sih, tapi karena udah nanya dua kali saya ke lounge aja. Sambil duduk dilounge saya baru nyadar kalo hampir semua petugas Ground Handling di situ pakai seragam warna merah..hii meriah uy.. Rupanya pesawat parkir cukup jauh dari lounge. Jadi ada shuttle bus khusus yang nganterin semua penumpang naek ke pesawat. sampai tiba waktunya boarding saya sempet bingung habis saya lihat penumpang yang lain pada bawa boarding pass.
Akhirnya saya disuruh nunggu petugasnya di antrian terakhir….sang petugas juga tampak kebingungan dengan informasi yang saya kasih. Bahwa saya disuruh petugas informasi langsung ke lounge untuk mendapat boarding pass. Padahal ga banget…akhirnya dia tanya apakah saya punya pulpen. lahhh..ini petugas kok ga bawa pulpen piye?dan dengan tergesa gesa menulis nomer tempat duduk pesawat di E-Ticket saya. Sesampai di pesawat pun si pramugari cuek aja saya ga punya boarding pass. sambil dudul di barisan paling depan saya mikir, “ternyata terbang ga mesti pake boarding pass ya…”
Oya untuk foto foto barangkali ada yang mau ngintip: http://duniamungil.multiply.com/photos
rizkyselfira is simply human being..:), love and appreciate my life and dreaming all impossible dream. I love good food, great music and exotic travels. Absolutely interesting to meet and comunicate with new people and culture, making friends. Currently I am learning how to make a good photograph and enjoy my live in every single day !
Email this author | All posts by rizkyselfira




[...] di Menyusuri Prague hingga Vienna (2) Tagged as: europe, prague, praha, [...]
Kereeeennn, gw pingin ke Salzburg……ada info?