Thailand – Northeastern (Isan)

Custom Search

By el01173 • Jan 6th, 2009 • Category: Budaya / Cultural, Cerita Perjalanan, Info Destinasi, Mancanegara, Wisata
Bookmark and Share

by Ronald Alexander Indra

Ubon Rachattani merupakan kota yang penting, mengapa? Karena ini kampung halamannya Aun, sehingga disini dapat dibilang saya dan Poli makan gratis dan tidur gratis (selain di Bangkok). Bedanya dengan di Bangkok, transportasi disini selalu gratis, karena orangtua Aun benar2 tuan rumah yang baik . Kita semua dianterin kemana2 =). Kami tinggal di Ubon Rachattani 3 hari 2 malam. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Chiang Mai.

Kalau di hadapan kita ada Thailand, Ubon Rachatthani terletak di daerah timur laut Thailand, atau di bagian kanan peta anda dekat dengan perbatasan ke Laos. Daerah ini yg populer dengan nama Isan di kalangan orang lokal dan punya bahasa daerah sendiri yg agak berbeda dengan dialek orang2 Bangkok.

Perkenalan singkat tentang Aun dan Poly. Mereka berdua sama ikutan student exchange bareng saya di salah satu universitas di Tokyo. Aun dari Thailand sedangkan Poli dari Bulgaria. Untuk menghabiskan libur musim panas 2006, kami (dan beberapa teman lainnya) memutuskan untuk backpacking ke Thailand selama 3 minggu.

Kami naik kereta malam dari Bangkok (salah satu stasiun deket Dong Muang Airport), sampe di Ubon di pagi hari. Night trainnya Thailand ada “ranjangnya”. Sampe saat ini saya blm menemukan kereta api yg ada ranjang di Indonesia. Semua kereta malam tipenya duduk semua. Saat malam hari kursi dapat jadi ranjang, pake mekanisme tertentu, begitu pagi hari, dikembalikan lagi fungsi semulanya sebagai kursi. Dari segi kenyamanan (AC dkk) masih menang kereta2 Argo, terutama yg jauh2 sampe Surabaya. Dari segi bisa tidur terlentang di atas kasur -> disini kereta Thailand menang.

Sampe disana dijemput ayahnya Aun, yg menurut saya orangnya jarang ngomong banget dan badannya segede rata2 orang Indo, mungkin 160an cm.

Kita menginap di rumah Aun, yg tanahnya luas banget, dan selain rumah utama, ada juga bangunan baru yg berisi kamar2 kost yang disewakan. Kadangkala orang bule nginep disitu, dan umumnya mereka murid salah satu kuil di deket situ. Setelah sekian lama sharing kamar, kali ini satu orang satu kamar =) Ada lagi, kita dipinjemin sepeda buat ke tempat sarapan, yg Poli suka banget, membuat dia merasa di surga, karena isinya sayur semua (Poli = vegetarian). Di tempat ini saya disangka orang Jepang, kronologinya

Saya : excuse me Sir, where is the toilet?

Orang Thai: achira desu (polite Japanese yg artinya di sebelah sana)

Saya : , thank you

OK, saya sampe mikir2, kenapa saya disangka orang Jepang di Thailand? emang sih, pada saat itu saya hampir setahun di Jepang, tapi logat English saya ga nggak pake logat Jepang. Pas saya cerita ke Poli, jawaban dia simple banget. “Look at your shirt”. Pantesan aja saya disangka orang Jepang. Saya pake kaos yg ada emblem kecil di kiri atas “Tokyo University”. That’s explains.

Pusat Ubon ternyata adalah patung gede berwarna emas yg berbentuk orang (mempunyai 2 payudara dan perut six-pack, aneh ya….) berkepala burung, tapi kakinya bersisik kaya ikan plus di belakangnya ada lilin raksasa. Nggak jelas sih hewan apa. Pokoke ada “candle festival” tiap tahun yg terkenal di tempat patung ini. Setelah sarapan di “nirwana”-nya Poli, kita dibawa kesini. Actually selain patung gede ini (yg jadi symbol kota Ubon), ada museum dan kuil di sekitar patung ini. Ubon Rachatani National museum bisa dibilang kecil, kecil banget malah menurut saya . Setengah jam diputerin jg bisa. Isinya? Arca-arca kecil, sejarah Ubon, etc. Dari situ kita ke kuil. Aun sembahyang di dalam kuil sementara kita menunggu disitu jg sambil foto2 ditemani oleh anjing yg jg sedang berlindung dari derasnya hujan. Actually kita terjebak karena di luar hujan =( . Ouw, after that kita makan siang di restoran Vietnam favoritnya Aun, rasanya??? Coba aja sendiri =).

Besoknya kita dibawa keliling Isan (atau Northeast Thailand). Pertama2 dibawa ke Sang Chan Waterfall. What is so special about this waterfall? Hal yg bikin beda adalah air terjun ini seolah2 keluar dari batu yang berlubang. Tampaknya ribuan tahun ditetesi air, ada lempengan yg berlubang, jadi begitu kita ngeliat ke atas, pasti komentar “wow bolong” dan dari tempat yg bolong itulah air terjun mengalir.

Setelah Sang Chan Waterfall, kita dibawa ke Stonehedge-nya Thailand, tahu kan batu2 gede yg ada di Inggris? Rupanya Thailand juga punya. Dalam perjalanan kesini, ada sedikit gangguan, mobil mogok, kenapa?? Seinget saya gara2 kehabisan bensin dan kehabisan air radiator =P hehehe. Akhirnya ayahnya Aun mencegat motor dan membeli bensin plus minta air seember ke penduduk lokal. Problem solved. Oke back to stonehedge Thailand. Kesan saya ?? Saya seolah2 ngeliat jamur raksasa, dari berbagai jenis. Kenapa bisa jamur? Emang bentuknya mirip2 jamur yg persegi sih (ada ga jamur persegi?)

Disini juga ada Lan Hin Tak (The Divide Stone), saya jg rada nggak jelas, sebenarnya ini apa sih? Menurut papan informasi, di kaki kita ada batu yang gede banget, dan batu itu terbelah sepanjang 100 meter sejak ratusan (atau ribuan) tahun yang lalu. OK, boleh lah buat dijual jadi objek wisata, saya tertariknya sama stonehedgenya aja =) gpp kan

Setelah itu kita ke Pha Taem. Tahu kan lagu “dari Sabang sampai Merauke”? kalo penciptanya ada di Thailand, dia pasti nyiptain lagu “dari XYZ sampai Pha Taem”. Bener sekali, Pha Taem itu tempat paling timur di Thailand. Makanya mereka berani nulis gede2 di batu “See the first sunset in Thailand”. Pha Tam sih ngaku2nya “The biggest prehistoric rock painting site in Thailand”. Believe it or not? Terserah….

Mari kita telusuri etimologis kata “Pha Taem”. Di bahasa Thai, Pha artinya “Cliff” dan Taem artinya “Painting”, kalo digabung artinya painting on cliff. Ternyata, profesi seniman udah ada sejak ribuan tahun yang lalu, at least di Thailand. kalo jaman sekarang orang suka bikin mural di jalan2, nenek moyang kita (or at least orang Thai) sudah melakukannya di cliff (kayanya artinya tebing). Ini lebih ekstrim dari seniman2 kita. Berarti nenek moyang orang Thailand sudah menekuni olahraga panjat tebing sambil bikin painting, berbeda sekali dengan nenek moyang orang Indonesia yg (katanya) pelaut. Gambarnya ada gajah (yang ga terlalu mirip gajah, saya kenalin dari belalainya aja), ikan, hewan berkaki 4 (antara kebo atau sapi), telapak tangan pre-historic man, dan gambar2 yg saya nggak tahu gambar apakah itu. Well, kita harus menghargai cita rasa seni orang2 pre-historic yg membuat Thailand punya objek wisata yg bisa dijual.

Aun “Ronald, you can see Lao from here”. Dia bener banget, perbatasan Thailand dan Laos berupa sungai Mekong, dan dari sini kita bisa lihat Sungai Mekong dan di seberang sungai Mekong ini ada Laos. Di deket Pha Taem juga ada site Two Color River alias bagian sungai Mekong yg mempunyai dua warna. Actually pada saat itu saya hanya liat one Color River, brown.

Intermezzo, di tempat ini pula saya tahu “Tak ada cicak di Bulgaria”.

Poli : “Hey, what is that” (sambil nunjuk2 di dinding)

Saya : “it’s electricity stuff, don’t you have it in Bulgaria”. (saya berusaha jelasin, kalo ini turun berarti u mesti naikin stekernya biar listrik u nyala lagi”

Poli: “not that one, this small lizard on the wall”

Saya : “? U nggak pernah liat cicak?”

Dari situlah saya mengambil kesimpulan “Tak ada cicak di Bulgaria”.

Dari two coler river, kita ke satu kuil yg mempunyai biksu yang sangat terkenal di daerah ini (sebelum beliau meninggal). Sampe kesana kuilnya sudah tutup. Nyokapnya Aun berhasil membujuk pemegang kunci bahwa ada turis dari jauh yg pengen liat “biksu” itu. Seinget saya dari cerita Aun, ketika beliau dikremasi baunya harum gitu. Abunya akhirnya disimpan di kuil. Oh ya, keunikan kuil ini, sebagian kuil ini terletak di dalam gua yg lumayan gede. Our journey today ends at this temple.

Keesokannya kita dibawa ke tempatpengawetan”. Bangunannya cukup modern dan begitu masuk ada sekumpulan ikan koi. Horrornya di pintu masuk ada janin yg diawetkan. Ada toples gede berisi janin yg dipajang. Sumpah deh. Di lantai dua ada lagi biksu (posisi lagi duduk di kursi) – benar, gambar di sebelah -  yang diawetkan. Ada ruangan yg berisi uang2 kertas dan koin dari seluruh dunia. Guess what? Tak ada Rupiah disitu, jadi di kotak sumbangan saya kasih aja duit rupiah, hitung2 nambah koleksi mereka.

Dari sini kita dibawa ke “Kuil saya lupa namanya” yang terbagus dari kuil2 yg saya kunjungi selama di Ubon. The sky was so blue, dan saya punya beberapa gambar bagus tentang kuil ini. Di dalamnya benar2 sunyi sepi dan super bersih. Disini pula kita foto full team, Aun, kedua orangtuanya, Poli, dan saya. Keluar dari kuil ini, ada jejeran warung yg menjual aneka snack. Saya ngeliat ada semprong(???).

Foreign monks monastery merupakan tujuan berikut. Kenapa foreign

monks? Karena emang disini biksu2nya bule2 semua. Saya pas baca profile beberapa biksu yg dipajang di papan pengumuman, benar2 terkesima. Ada salah satu biksu yg lulusan Cambridge University (ngambil physics kalo ga salah) wow….dan doi mengabdikan hidupnya untuk menjadi biksu. Kami akhirnya ketemu satu biksu bule disini dan ngobrol2 sama dia. Dia cerita tentang kenapa dia memutuskan jadi biksu. Rupanya biksu itu hidupnya ketat banget deh (jadi inget para suster2 Katolik di SMP dan SMA saya ). Mereka mesti bangun pagi banget, meditasi, abis itu keluar kuil sambil bawa mangkuk nyari makan, baca doa, etc. Udah gitu dia mesti membuat bahan pakaiannya sendiri dan mewarnai pakaiannya itu sendiri (pake daun2an). Warnanya jingga yg agak kusam gitu. Hebatnya bener2 semua hal dipenuhi oleh diri sendiri.

Aun ternyata pernah menjadi biksu juga pas masih kecil, semacam internship. Ketika itu, Aun mengikuti biksu senior, berkeliling kota sambil bawa mangkuk. Biasanya ada orang yg ngasih makan para biksu ini. OK, back to biksu bule tadi. Ternyata doi dari Jerman dan udah bertahun tahun tinggal disini. He even can speak local language (yang bikin Aun terkesima). Bahkan logatnya juga. Aun sampe ngomong ke saya “F**K man, his local language is even better than me”. Biksu ini ternyata dari Jerman dan mengetahui banyak hal tentang agama2 lain. So we had interesting conversation back there sampe2 kita dikasih CD dan buku2 tentang Budha juga (akhirnya itu saya kasih temen saya yg Budhist setelah kembali ke Bandung).

Keluar dari kompleks foreign monks, ada lagi tempat jajanan. Ternyata disini ada semacam nasi jah (yg dari menado), tapi rasanya beda. Tampaknya sama2 dibakar di atas bambu. Murah lagi =)

Berhubung kita ngejar bus ke ChiangMai yg berangkatnya sore, dari foreign monks monastery ini kita balik ke rumah Aun, packing. Disini saya dan Poly dikasih cinderamata dari ibunya Aun, saya dikasih kemeja kuning Thailand (kuning itu royal color), dari tantenya Aun saya dikasih kalung bergambar biksu. So, akhirnya kita dianter ke terminal bus antarkotanya Ubon Rachattani dan here we go, about 16 hours inside bus.

***

Some of the picture can be seen here

http://el01173.multiply.com/photos/album/95/Thailand_Northeast_and_North

Tagged as: , , ,

el01173 is At this moment, I'm a student in the Netherlands, in a small city called Delft
Email this author | All posts by el01173

Bookmark and Share

2 Responses »

  1. duh gwe berapa kali ke thailan tapi ngk bisa ceit kaya lho good luck

  2. @ dao, Thanks. btw daerah ini memang jarang dikunjungi turis lho

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.