Menikmati Pesona Pantai Baron, Gunung Kidul
By Heru Hendarto • Feb 1st, 2009 • Category: Pantai dan Wisata Laut, Wisata
Baron, nama yang mirip dengan istilah nobleman dari daratan Eropa ini sudah lama terdengar gaungnya sebagai tempat wisata alternatif di Yogyakarta. Baron adalah nama pantai yang terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, 23 kilometer selatan Wonosari. Wonosari sendiri adalah ibukota Kabupaten Gunung Kidul yang berjarak kurang dari 50 km dan bisa di tempuh selama 45 menit dari Yogyakarta. Kami mendatangi tempat ini untuk mengulang kembali perjalanan lama menyusuri pantai selatan Gunung Kidul yang terakhir dilakukan di akhir tahun 2002. Niatnya, kami akan menikmati suasana pantai sambil mencari momen fotografi yang indah serta mendirikan tenda bermalam di pantai ini sambil berpesta ikan bakar.
Pukul 16.15 kami tiba di Baron, suasana saat itu masih dingin selepas hujan yang mengguyur semenjak siang hari. Langit mendung masih menggantung menyisakan rona kelabu di langit. Saat kami memasuki pelataran parkir, sebagian besar pengunjung dan pedagang sudah pulang sehingga suasana pantai menjadi sepi. Tidak mau ambil resiko kekurangan logistik dan kelaparan, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari warung yang buka hingga malam dan segera memesan ikan segar dan bumbunya untuk dibakar malam harinya. “Berapa semuanya Bu?”, tanya Hendar temanku. “Tujuh puluh enam ribu semuanya Mas….,” timpal sang Ibu. “Hanya untuk minyak tanah kami ndak punya, ndak ada yang stok di sini..”, sambungnya dalam nada kesal. Oalah, ternyata karena program pengalihan energi dari pemerintah menyebabkan minyak tanah menjadi sangat langka di sini. Bahkan rakyat kecil seperti nelayan dan pedagang yang memerlukan minyak tanah untuk campuran bensin sebagai bahan bakar engine perahu dan untuk penyulut kayu bakar pun jadi kesulitan. Sambil tersenyum Hendar menyodorkan uang yang diminta Ibu. Harga standar untuk satu kilo lebih ikan segar, bumbu ikan bakar, nasi, sayur, telur dan dua buah minuman mineral kemasan besar beserta arang dan pinjaman pemanggangnya. Kesemuanya akan dipersiapkan si Ibu dan kami ambil saat malam menjelang.
Naik ke bukit sebelah kiri pantai, kami menyaksikan keindahan Baron dari atas. Sesungguhnya, pantai ini lebih tepat disebut teluk karena posisinya yang terlindung dua buah bukit dan menjorok ke dalam daratan. Keindahan pantai Baron lebih kepada panoramanya, yang walaupun dihampari dengan pasir hitam namun lengkungan teluknya serta ombak yang menghantam di tepian bukit amat mempesona. Di sisi kanan pantai terdapat muara aliran sungai bawah tanah, membawa arus air tawar yang menyegarkan dan dimanfaatkan pemerintah sebagai pusat distribusi air bersih di kawasan itu. Secara geologi, Gunung Kidul yang berlitologi batugamping tidaklah seratus persen kering-kerontang. Di bawah datarannya yang tandus, mengalir sumber air dengan debit luar biasa yang melimpah-ruah. Satu-satunya cara untuk memanfaatkan sumber daya berharga itu adalah dengan mengeksploitasi sungai bawah tanah melalui pompa-pompa besar yang menaikkan air ke permukaan sehingga dapat dikonsumsi warga. Sekilas mata, tidak tampak batas antara campuran semburan air tawar sungai bawah tanah Baron dengan air laut Samudera Hindia yang asin. Namun, aku pernah menyaksikan citra Landsat IR yang merekam kenampakan Baron di pagi hari. Jelas sekali terlihat pada lembaran foto tersebut batas perbedaan dari rona antara air tawar dan air laut. Di pagi hari, air tawar yang keluar dari daratan bersuhu lebih dingin daripada air laut yang sudah terpanggang matahari dan perbedaan suhu inilah yang dibaca oleh sensor citra satelit.
Rasa-rasanya tidak banyak yang berubah dari tempat ini semenjak terakhir aku mendatanginya di tahun 2002. Sepertinya hanya tampak lebih padat akan rumah dan warung serta tambahan berupa kehadiran sebuah menara mercu suar. Tidak seperti stereotype mercu suar di daerah lain, mercu suar ini berkonstruksi besi mirip seperti menara BTS dengan ketinggian kurang-lebih 80 m. Pagarnya sudah rusak sebagian dan tangga ke atas tidak terkunci. Sambil senyum-senyum aku pun menawari Hendar, seandainya dia mau naik ke atas nanti akan kupotret dari bawah biar kelihatan gagah. Tertawa mengejek, gantian dia menawari aku hal yang sama dan berhubung kami berdua masih waras akhirnya kami langsung melangkahkan kaki menuju pondok kecil di ujung tebing.
Melayangkan pandangan ke arah timur, pemandangan yang tersaji sunguh menawan. Tampak ombak laut selatan yang terkenal ganas menghantam pantai berbukit dan pecah berbuih putih menyusuri pesisirnya. Pandangan luas di sini menyajikan deretan pantai Kukup, Sepanjang, Ndrini, Krakal, dan Sundak. Sementara di bagian barat Baron terdapat tebing-tebing terjal bukit-bukit batugamping yang menjadi tempat favorit para pemancing. Lama kami menghabiskan waktu sambil menunggu matahari terbenam di tempat ini. Pandangan kami pun menyapu ke ujung laut selatan yang tiada bertepi, menyimpulkan kekaguman akan kebesaran Yang Kuasa di dalam hati.
Sebelumnya kami sempat pesimis akan mendapatkan momen sunset yang indah. Namun dengan sabar kami pun menunggu hingga matahari hilang di balik awan yang bergumpal. Beberapa menit setelah matahari sepenuhnya hilang di ufuk barat, aku pun berteriak :“Ndar, siap-siap lho…! Bentar lagi bakalan bagus ni sunset-nya..”. Kebetulan aku sudah sering mengejar sunset di berbagai tempat sehingga ada beberapa ciri kukenali yang biasanya akan berujung ke panorama sunset yang indah. Merekam sunset yang indah tidak hanya semata berupa momen matahari bulat yang terekam kamera, namun momen sesudahnya pun masih akan menjanjikan. Seringkali muncul rona yang menakjubkan ataupun semburat ray of lights di ufuk barat setelah matahari hilang sepenuhnya. Dugaanku pun terbukti, saat itu awan yang menggantung rendah berubah merona merah jingga dan langit bersih di atasnya masih memunculkan rona biru pucat. Sungguh paduan warna kontras yang menarik sehingga kami berduapun asyik memancangkan kamera menghadap ke barat.
Mendekati Isya, kami turun menuju ke warung si Ibu. Setelah menunaikan sholat dan bersih-bersih, kami menyantap kelapa muda sambil menunggu ibu mengemasi pesanan kami. Tenda dome kami keluarkan dan sambil membawa pesanan, kami pun berjalan mencari tempat untuk camping. Bingung pun menghinggapi, di tengah pantai banyak sekali perahu berjejeran sedangkan di tepian tebing pantai sudah penuh oleh warung-warung semi permanen. “Masak kami mau dirikan tenda di sebelah warung kosong?”, pikirku. Akhirnya kami memilih tempat di tengah pantai di pinggir tembok pembatas taman. Sepertinya cukup luas di situ dan posisinya di atas jejeran perahu sehingga dipastikan aman dari hempasan pasang laut.
Saat mendirikan tenda, dua orang bapak muda menghampiri. “ Berdua saja Mas?”, sapa mereka. Kami pun segera terlibat pembicaraan akrab sambil bersama-sama bergotong-royong mendirikan tenda. Obrolan dari jenis tenda, cara mendirikannya, waktu nelayan pergi ke laut, jenis dan harga perahu, korban keganasan ombak dan tips mengarungi lautan menjadi pengisi waktu. “Biasanya kami melaut melawan ombak pake hitungan Mas…” kata salah seorang dari mereka yang ternyata juga tim SAR setempat. “Lho, hitungan gimana Pak?”, tanyaku tidak mengerti. “Biasanya, ombak besar datang 5 kali terus disusul ombak kecil 4 kali, jadi pas 5 pertama kami rem selanjutnya 4 kedua perahu kami gas pol..!”, katanya dalam logat Jawa yang kental. Kami pun mengiyakan dan kagum, hal-hal yang seperti ini tidak bakalan didapat di buku manapun. “Ombak sini besar-besar Mas, terakhir dua orang hilang di Kukup, ketemu setelah dua dan delapan hari dengan badan sudah protholan” tambah mereka. Protholan adalah istilah Jawa untuk menggambarkan kondisi tubuh yang sudah tidak utuh alias sudah lepas-lepas. Tenda berdiri dan mereka pun pamit untuk beristirahat karena pukul dua pagi sudah harus bersiap-siap melaut.
Dengan sigap kami membuat api dari arang dan membakar ikan yang cukup banyak tersaji. Masih tersisa dua ekor ikan bakar namun perut kami sudah tidak mampu menerima apa-apa. Segera kami pinggirkan sisa makanan dan bersantai di dalam tenda. Seperti biasa, pembicaraan kalau sedang berada di alam luar tidak lepas dari cerita mistis dan horor. Tanpa terasa, waktu berlalu dan kami segera terlelap. Sekitar pukul 00.30, aku terbangun oleh suara berisik tepat di luar tenda. Terpengaruh oleh cerita orang gila yang sering berkeliaran di situ, segera kutepuk Hendar supaya bangun. Kira-kira lima belas menit kami tegang menunggu hanya untuk mengetahui bahwa suara itu muncul dari kucing yang sedang mengais-ngais sisa ikan bakar kami, dasar! Segera kami terlelap, namun itu hanya sebagai permulaan dari mimpi burukku. Saat itu, aku merasa tiba-tiba dicekik orang. Refleks kutangkap tangannya dan kubanting dan segera aku terlibat perkelahian hebat dengan orang misterius itu dan beberapa temannya hinggaa tenda rubuh. Setelah menang, aku pun terbangun dan hanya mendapati Hendar sedang ngorok dengan damainya di sampingku, huh! Cuaca saat itu mendung dan tidak ada angin berhembus sehingga panas sekali kurasa. Hendar pun terbangun dan kami pun buka pintu tenda sehingga udara masuk dan bersirkulasi. Saat itu pukul 02.00 dan mulai banyak sepeda motor berdatangan membawa nelayan yang hendak melaut. Tanpa terasa kami pun kembali terlelap lagi dan terbangun pukul 05.00.
Pagi itu jejeran perahu nelayan sudah berkurang 2/3-nya, sehingga pantai Baron kelihatannya menjadi sangat lapang. Setelah merampungkan packing tenda, kami kembali naik ke bukit sisi timur pantai.Tampak beberapa nelayan masih berangkat melaut di pagi itu dan kami berharap matahari pagi segera memberikan bersit sinarnya memecah mendung pagi yang masih bergelayut ringan. Dari atas, kami pun menuruni bukit dan bergabung dengan para nelayan yang masih tertinggal di pantai. Sebagian tampak memperbaiki jala dan sebagian lagi tampak bergerombol di pinggir memperbaiki perahu mereka. Suasana pantai mulai ramai, pengunjung mulai berdatangan dan sebagian tampak membawa joran pancing di punggungnya. TPI setempat pun mulai ramai dengan pedagang yang menyiapkan keranjangnya. Ibu-ibu penjaga warung mulai menyapu halaman depannya. Sungguh terasa damai sekali pagi itu dan setelah beberapa saat menghabiskan waktu pukul 08.00 kami pun meninggalkan Pantai Baron dengan hati penuh kesan yang mendalam.










ajib tuh tmprnya, asli keren n nyaman lah.
klo lo ad yg mau k situ lo caling gua aj, ntr gua antrin seluruh pantai yg ad d stu.
gua stand by d jogja. 0274-9188486 ( plenyun )