Meyusuri jejak episode cinta Siti Noerbaya
By hmanginsela • May 20th, 2009 • Category: Cerita Perjalanan, Indonesia, Info Destinasi, Romantika, Wisata
Padang, 23 April 2009.
Entah Apa yang ada di benak seorang sastrawan besar, Marah Roesli, di tahun 1930an ketika menulis sebuah novel terkenal Siti Nurbaya, yang jelas ketika pagi ini aku menjejakan kaki di kampung yang belakangan di kenal dengan kampung siti nurbaya, aku bisa mengerti bagaimana seorang Marah Roesli bisa menuliskannya legenda itu dengan indah…karena keindahan alam di sini…keindahan cinta….subahannalah..itu saja yang bisa keluar dari mulutku.
Roman cinta abadi antara Siti Nurbaya dan Syamsul bahri yang terkenal kembali lewat siaran favorit TVRI di era tahun 1990, hampir seluruh orang di Indonesia pasti mengenal cerita cinta abadi ini…, tetapi barangkali sedikit orang yang sudah melihat jejak.., kampung kelahiran siti nurbaya, keindahan kampung halamannya…
Kampung siti Nurbaya, terletak sekitar 500 meter dari pusat kota Padang, Sumatera Barat. kampung ini sekarang dihubungkan dengan jembatan yang juga di beri nama dengan jembatan siti Nurbaya. Memasuki kampung ini dari arah pelabuhan teluk bayur padang, kita harus melewati jembatan ini. Pemandangan muara sungai batang Arau yang di penuhi kapal kapal tradisional sangat indah sekali.
Melewati jembatan ke arah perkampungan, kita kan melewati lapangan sepak bola, dari situ kita harus berjalan kaki melewati rumah penduduk, naik ke atas gunung padang, menuju puncaknya dimana terdapat taman yang konon dulunya tempat bermain siti nurbaya dan makan siti nurbaya.
Jalan menanjak di gunung padang ini mungkin sekitar 2KM, saat ini sudah dibuat anak tangga. di sepanjang jalan masih terlihat benteng tempat meletakkan meriam pda zaman Jepang, tidak hanya 1 benteng tapi terdapat banyak sekali. hanya sayang meriam itu sekarang tinggal 1 saja. dan benteng2 kecil itu sekarang banyak beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan barang oleh penduduk sekitar.
Sekitar 50 meter sebelum puncak , ada sebuah batu besar yang hampir menutupi jalan akses ke puncak gunung padang, kearah bawah batu ada sebuah lobang, dan anak tangga turun sekitar 20 meter ke tebing gunung, melewati lobang itulah terdapat makam, yang konon menurut masyarakat sekitar adalah makam siti Nurbaya, sebagian masyarakat setempat juga mengatakan itu sebenarnya adalah makam keramat seorang syeh. Terlepas dari siapa yang benar.., yang jelas makam itu terletak di pinggir tebing, disudut sebuah batu besar. Sebuah tulisan di dinding batu untuk melarang berfoto atau mencoret2 nisan.
Setelah mengucapkan salam bagi penghuni kubur, sedikit penasaran karena insting photografer aku mengarahkan kameraku, dan jepret. aneh..tiga kali jepret dan tiga tiganya buram…hitam.., entah setingan kameraku yang salah karena tempat yang agak gelap di tutup rimbunan pohon, ah…sudahlah kali ke empat aku berhasil mengambil photonya. menurut cerita syamsul bahri juga di kubur di bawah makan ini , jauh kebawah tebing mendekati laut. hanya saja kondisi tebing yg curam dan hutan yang lebat sepertinya tidak mungkin untuk turun ke bawah, setelah istirahat sejenak, aku melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung padang, yang konon ceritanya merupakan taman bermain siti nurbaya. Pemandangan di puncak sungguh luar biasa. kita bisa melihat keseluruhan kota padang dari atas sini, atau melihat ke arah pantai bungus atau ke arah batu Malin Kundang -sebuah cerita legenda masyarakat Padang
Sempat duduk di atas batu besar yang terdapat di puncak ini, memandang jauh ke arah laut..indah sekali…sejenak aku membayangkan barangkali bung Marah Roesli juga duduk di batu ini saat menulis bagian cerita itu…memandang keindahan di sini. disaat sekarang aku duduk disini tidak dengan pena dan kertas, tapi dengan kameraku…menulis keindahan disini dengan jepretanku…menikmati cinta abadi yang terasa disini di hati ini dengan jepretan kameraku…
heski @ padang April 2009
hmanginsela is male, 39 yrs, my hobby, traveling, photograf, cycling
Email this author | All posts by hmanginsela






