Turki Selatan – mencicip Mediterania
By Aity Meivers • May 20th, 2009 • Category: Cerita Perjalanan, Mancanegara, Wisata

Menemukan tawaran murah meriah untuk liburan di Turki pada musim dingin di Eropa bukanlah hal yang istimewa. Inilah yang menyentil kami untuk mengambil paket liburan ke Turki Selatan, tepatnya ke daerah Side di laut Mediterania.
Sebenarnya tujuan wisata di laut Mediterania Turki itu banyak sekali. Mulai dari selatan Istanbul kearah Bodrum, terus melewati pegunungan Taurus hingga ke Antalya dan sampai ke Alanya. Kota besar terakhir di selatan Turki adalah Adana. Semua kota-kota ini memiliki sisa-sisa kejayaan Romawi di masa lampau yang amat layak untuk dinikmati.
Menjejakkan kaki di Antalya international airport di bulan Maret, kami disambut oleh dinginnya angin dan curahan hujan yang cukup deras. Suhu sekitar 12 derajat Celcius saat itu. Bus yang membawa kami ke hotel termasuk kategori sangat bagus, bersih dan modern. Jalan raya sepanjang pantai yang akan membawa kami ke Side cukup besar. Sekedar informasi, sampai saat ini di Turki Selatan belum ada jalan tol. Jalan tol di Turki baru ada di Istanbul yang menuju ke Ankara.
Hotel yang kami ambil pada liburan kali ini termasuk kategori club hotel yang berarti kami bebas menggunakan semua fasilitas yang ada di hotel ini. Termasuk semua makanan dan minuman yang ada (kecuali minuman beralkohol yang diimport) bisa kami konsumsi tanpa kena tambahan biaya lagi. Kebanyakan hotel di pantai Turki sudah menggunakan standard seperti ini. Sayang memang, karena menurut kami hal ini cukup ‘merusak’ pasar restoran lokal yang ada di sekitar hotel. Hotel ini terletak di Sorgun, sekitar 6 km dari Side.
Side sendiri adalah sebuah kota tua yang cantik. Mudah dicapai dari hotel yang kami tempati dengan menggunakan Dolmus (penulisan aslinya menggunakan koma dibawah huruf s, dibaca Dolmusch). Dolmus sendiri merupakan kendaraan umum khas Turki, seperti mini bus di Indonesia. Tarifnya pun tidak terlalu mahal. Info tambahan, harga bahan bakar di Turki per liter-nya lebih mahal daripada harga bahan bakar di Jerman!

Side memiliki sebuah amphitheather yang kondisinya hanya setengah hancur. Jika ingin memasuki kompleks amphitheatre ini, tarifnya 6 Euro atau 12 Lira Turki. Jangan heran, Turki Selatan memang banyak sekali dikunjungi turis dari Eropa terutama dari Jerman sehingga kebanyakan orang Turki disini mengerti bahasa Jerman. Turis lainnya kebanyakan datang dari Rusia. Bagi anda yang hanya menguasai bahasa Inggris, kadang diperlukan usaha lebih jika ingin berkomunikasi dengan penduduk sini. Para penjual di Turki-pun lebih suka berjualan dengan harga Euro. Sebenarnya in imerupakan trik para penjual untuk mendapatkan keuntungan 2 kali lipat. Contohnya, saat kami ingin membeli es krim yang harganya tertera di papan dengan harga Lira. Tiba-tiba datang penjaga toko membawa papan lain yang tertera harga dalam Euro yang jelas-jelas jumlahnya sama dengan harga Lira! Serentak kami langsung balik badan dan mencari toko lain yang mau menjual es krim dengan harga Lira pada kami.

Yang patut dilihat di Side selain amphitheater-nya tentu saja Apollo Temple yang terletak di tepi laut. Reruntuhan ini sangat indah terutama jika dipandang dari pantai lain diterangi dengan sinar matahari saat terbenam. Bagi anda yang menyukai kunjungan ke pasar lokal yang ada seminggu sekali, di Side pasar ini digelar pada hari Sabtu. Namun lokasinya tidak tepat di kota tua Side, melainkan sekitar 3 km di luar kota dekat masjid besar. Pasar di Side tidak telalu besar, namun cukup nyaman untuk cuci mata. Barang yang dijual kebanyakan tekstil mulai dari pakaian sampai sarung bantal dan taplak meja. Namun ada juga sebagian kecil yang menjual sayuran, bumbu dapur dan juga souvenir.
Kota lain yang terdekat dari Side adalah Manavgat. Manavgat termasuk kota modern di Turki, karena tidak memiliki reruntuhan tua peninggalan zaman Romawi. Jika anda berniat belanja, sebaiknya habiskan uang anda di toko-toko lokal disini dibandingkan di pasar yang ada tiap hari Senin dan Kamis di Manavgat. Harga yang mereka berikan sangat fair dan tertera di label, sehingga harga tersebut adalah benar-benar harga lokal.
Manavgat dibelah oleh sungai yang berwarna kehijauan. Di tepi sungai banyak orang menawarkan perjalanan mengarungi sungai dengan kapal yang kadang tarifnya termasuk tarif makan siang, yang tujuannya adalah menyaksikan indahnya air terjun besar di Manavgat.

Jika sudah sampai di Turki Selatan, tentu saja kota yang tidak boleh dilewatkan adalah Antalya. Antalya memiliki pelabuhan tua yang cantik dan sangat mengundang untuk hanya sekedar duduk di tepi dinding beton-nya sambil memandangi kapal-kapal layer yang keluar masuk pelabuhan. Antalya sendiri salah satu sisinya dilindungi oleh pegunungan Taurus sehingga memiliki klima yang lebih bersahabat dibandingkan kota lain dibalik pegunungan Taurus ini. Jika pada bulan Maret di Antalya suhunya berkisar 18 derajat Celcius, di balik pegunungan Taurus masih bersalju.
Bagian kota tua Antalya yang terdekat dengan pelabuhan memiliki rumah-rumah kecil di gang-gang sempit diselingi dengan toko-toko yang menjual souvenir. Hati-hati dengan para penjual kacang disini. Mereka memiliki trik memberi ‘tes’ gratis, lalu menarik tangan anda dan menyebutkan harga yang terdengar cukup baik per 100 gr. Namun saat anda meminta hanya sedikit, mereka akan langsung memenuhi kantong kertas mereka dengan berbagai jenis kacang-kacangan, cepat menimbang dan langsung menyebutkan tiba-tiba kantong tersebut berisi satu kilo kacang yang mungkin sebenarnya tidak anda inginkan! Kami sempat harus menarik urat leher dengan para penjual disini. Sayang sekali….
Dikarenakan dengan klimanya yang bersahabat, Antalya juga terkenal dengan produksi sayuran dan buah-buahan terutama jeruk. Rasa jeruknya hmmmm… enak sekali! Lambang dari kota inipun dihiasi dengan buah jeruk. Kami juga menyempatkan diri mengunjungi 2 dari beberapa air terjun di Antalya. Air terjun Duden terletak tidak jauh dari airport, di tepi jalan raya. Ketinggiannya 60 meter jatuh langsung ke laut. Selain itu air terjun Kursunlu yang terletak di sebuah taman yang indah dan tenang.
Highlight daerah ini yang tidak boleh dilewatkan adalah Theater Aspendos yang terletak sekitar 50 km sebelah timur Antalya. Amphitheater yang besar ini dibangun kira-kira pada tahun 200.Masehi Saat ini 1800 tahun setelahnya masih dalam kondisi bagus, bahkan tiap tahun di musim panas ada pagelaran teater disana. Tahun ini dipertunjukkan 2 judul yaitu Troy dan Fire of Anatolia. Aspendos memiliki kapasitas sekitar 13000 orang. Sangat mengagumkan bahwa teater kuno ini memiliki akustik yang sangat bagus. Aspendos adalah salah satu theater di Turki yang banyak dikunjungi selain amphitheater di Efesus.

Di dekat Aspendos ada juga salah satu sisa kejayaan zaman Romawi yaitu Aquaduct, sebuah jalan berupa jembatan tinggi dari batu sepanjang beberapa kilometer yang dulu digunakan sebagai jalan untuk memudahkan penduduk di kota untuk memperoleh air dari pegunungan.
Selain itu kota antik bernama Perge juga merupakan kota yang patut dikunjungi. Kota ini memiliki reruntuhan yang cukup jelas penggunaannya. Kota ini dibangun kira-kira 4000 tahun SM dan sudah memiliki kebudayaan yang sangat tinggi. Di Perge dapat dilihat adanya pemandian thermal yang sudah memiliki pemanas lantai dan aslinya seluruh bangunannya dilapisi marmor. Diceritakan bahwa para wanita harus membayar tiket lebih mahal untuk memasuki pemandian thermal ini dikarenakan para wanita selalu membawa anak-anak mereka turut serta.
Selain itu ada juga sisa bangunan besar yang dulunya merupakan tempat bertemunya pada penduduk, bahkan masih ada papan permainan dari marmor yang digunakan para lelaki untuk menghabiskan waktu.
Masih banyak lagi yang dapat dilihat di Turki Selatan. Bagi anda yang menyukai alam dapat mengadakan trekking ke Pegunungan Taurus. Bagi anda yang suka perhiasan dan pakaian berbahan kulit, disini juga banyak pabriknya. Anda yang suka berlayar dapat memesan perjalanan dengan menggunakan kapal layar menyusuri laut mediterania. Semua tentu saja tergantung budget anda.

Saat ini memang kami mengambil paket hotel dan penerbangan. Namun semua tour kami ambil langsung di tempat. Tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan semua perjalanan sendiri dengan menggunakan kendaraan umum karena bus dan dolmus juga merupakan jantung transportasi masyarakat turki pada umumnya. Supir taksi juga banyak yang menawarkan jasanya untuk mengantar ke obyek-obyek wisata dan tentu saja harganya bisa ditawar. Namun menurut pengalaman kami, tawar menawar di Turki agak berbeda dengan di Asia. Mereka lebih keras dan kurang humoris dalam tawar menawar.
Turki dengan segala kelebihan dan kekurangannya membuat kami ingin kembali lagi suatu hari. Masih banyak yang harus kami lihat dan coba, dan tentu saja kembali menikmati nikmatnya teh turki ditemani sepotong baklava, serta menikmati kebab dan juga nasi yang dibungkus daun anggur hmmm…






