Everest Base Camp & Gokyo Trek (4) Gokyo Ri: Hard…hard…headache…headache…
By Puguh • Sep 29th, 2009 • Category: Budaya / Cultural, Cerita Perjalanan, Gunung / Mountain, Hiking, Mancanegara, Taman Nasional / National Park, Trekking

Day 19, 17 July 2009: Periche – Portche – Portche Tenga
Keluar dari penginapan kami bertemu dengan dua orang pedagang asongan. Menurut Sona, mereka adalah pedagang pelintas batas dari Tibet. Mereka berjalan kaki melintasi Himalaya hanya untuk menjual barang dagangan yang ada dipunggung mereka. Isinya pun tidak luar biasa; beberapa kelengkapan dapur, sepatu, beberapa potong pakaian, slayer.
Siang hari sekitar pukul 14, kami tiba di Portche. Setelah melihat Khumjung, Portche adalah sebuah Shangrila yang lain. Sekitar limapuluh rumah batu dengan kebun kentang diantaranya, dibidang tanah yang miring dan dibagian paling atas terdapat biara.
Saat meninggalkan Gorak Shep, kami bercita-cita untuk naik ke Gokyo dengan menyusur sisi Timur Dudh Khosi melalui Thore, dan menyeberang Na Pass diujung sungai glacier. Namun sesampainya di Portche, tanya-punya-tanya, ternyata terdengar kabar bahwa jembatan di ujung sungai juga hanyut terbawa arus sungai yang membesar.
Maka untuk memperkecil resiko tidak dapat menyeberang, kami pun memutuskan untuk menyeberang Dudh Khosi di Porthce Tenga didasar ceruk sungai. Ternyata hanya satu penginapan yang buka dan kalau dibanding Periche, Portche Tenga yang terletak didasar ceruk lembah di ketinggian 3600m dpl ini terhitung hangat.
Day 20, 18 July 2009: Portche Tenga – Gokyo
Karena temperature yang relatif hangat dibanding penginapan beberapa hari sebelumnya, pagi hari saya memberanikan diri memcuci rambut dengan air dingin, dan hasilnya kepala terasa ditekan dari segala arah.
Hari ini kami rencananya akan berjalan sampai di Marchemo. Perjalanan awal cukup berat karena kami harus menggapai kembali ketinggian menuju sisi punggungan bukit. Satu persatu desa kami lalui. Dan ternyata jam satu siang kami sudah mencapai Marchemo. Kami mendapat informasi bahwa ke Gokyo hanya tinggal 5 jam berjalan kaki. Dengan sedikit tantangan, Sona akhirnya setuju untuk melanjutkan perjalanan. Lagi pula cuaca cukup cerah berangin saat itu.
Jadilah kami terus berjalan menelusuri lembah yang semakin sedikit tumbuhannya. Dan sampai di pertemuan antara sungai dari Danau Gokyo dan Sungai Glacier Ngozumpa, setelah itu benar-benar tandus dan dingin. Kami berjalan bersampingan dengan sungai sambil melewati dua buah danau, sampai akhirnya tiba di Danau Gokyo.
Kebanyakan penginapan di Gokyo sedang tutup atau dalam perbaikan. Satu-satunya yang buka adalah Gokyo Resort yang terletak paling atas. Satuan pemukiman di Gokyo ada memang hanya untuk menopang kebutuhan trekker.
Gokyo Resort yang beroperasi sejak 1991 dijalankan oleh seorang bapak etnis Gurung. Menarik juga seorang gurung bisa sampai disitu. Ternyata ia sudah malang melintang di Khumbu semenjak 30 tahun yang lalu, dan sempat bekerja sebagai karyawan di Everest View Hotel yang dijalankan oleh warga negara Jepang.
Temperatur rendah, hujan rintik-rintik dan awan yang menggantung rendah ternyata cukup membuat perasaan tertekan. Gokyo Ri yang rencananya besok saya daki tidak tampak dari bawah.
Ketika akan tidur, Sona masuk kekamar dengan dahi berbalur bawang putih. “Headache, headache” ujarnya. Saya bertanya apakah dia merasakan gejala AMS, menurut dia kali ini lebih disebabkan oleh angin dingin yang menerpa mukanya.
Yah, sherpa saya sakit…
Day 21, 19 July 2009: Gokyo – Gokyo Ri – Portche Tenga

Jadilah pukul 5 pagi saya keluar penginapan sendirian untuk mulai mendaki Gokyo Ri. Ternyata butuh waktu hampir 3,5 jam untuk sampai dipuncak Gokyo Ri. Sama seperti di Kala Pattar, yang terlihat dari kaki bukit adalah teras pertama, bukan puncak Gokyo.
Kondisi yang berkabut sejak saya meninggalkan penginapan. Begitu matahari sedikit memberi sinar, tampak warna putih halus di puncak. Salju tipis masih bertengger di gundukan rumput
Puncak Gokyo ditandai dengan prayer’s flag. Salju tipis masih menggantung di tali prayer’s flag saat saya sampai. Dari titik ini seharusnya Everest dan berbagai puncak di Himalayan bisa terlihat. Tapi hari ini cuaca tidak bersahabat dengan saya.
Perjalanan turun yang saya harapkan akan cerah ternyata tidak menjadi kenyataan. Awan masih menggantung rendah menutupi puncak dinding yang membelakangi danau Gokyo.
Kami langsung bersiap turun dan rencananya berhenti di Dole. Ternyata kami berjalan cukup cepat. Kami sampai di Dole pukul 15. Kami berhenti di sebuah penginapan untuk minum teh.
Rupanya Didi yang menjaga penginapan ini sangat simpatik. Saya berpikir Sona akan memutuskan untuk menginap disini. Ternyata dia mengajak saya untuk melanjutkan perjalanan.
Selepas penginapan sambil berjalan Sona berkata;”Stay in hotel, hard, hard.” Loh saya tanya kenapa, bukannya penginapannya cukup terawat dan pengurusnya baik? “Didi nice, hard, hard” jawab Sona sambil meletakkan tangannya didada… Hayah!!! Jangan melankolis deh…hayoh jalan lagi!!
Akhirnya ketika matahari mulai redup, sekitar pukul 19, kami sampai lagi di Portche Tenga.
Day 22, 20 July 2009: Portche Tenga – Namche Bazaar

Sewaktu kami berada di Portche, kami sempat melihat di seberang bukit, jalan dari Portche Tenga menuju ke Namche. Cukup menciutkan kaki yang sudah lelah.
Dari ceruk sungai, kami mulai menanjak lagi. Kami berpisah jalan, karena Sona memilih jalan yang lebih datar melalui Sanasa, sedangkan saya masih ingin melalui Khumjung. Mendekati Khumjung Gomba (biara) warga kembali menawarkan untuk melihat benda yang konon adalah kulit kepala yak. Namun daripada memperkuat mithos yang tidak didukung fakta ilmiah (menurut guntingan koran di musium budaya sherpa, melalui test DNA diketahui lebih mirip dengan kulit yak daripada DNA primata)
Day 23, 21 July 2009: Namche Bazaar – Lukla
Kami kembali menginap di Everest Hotel, untuk sekalian mengambil sisa barang yang kami titipkan. Tampaknya pemilik Everest Hotel ini adalah seorang Tibetan Budhist yang taat. Pagi itu saya lihat dia sedang membersihkan cangkir-cangkir air untuk persembahan. Di kamar porter juga selalu tampak dupa yang dibakar. Untuknya saya tinggalkan post card bergambar Borobudur dan Stupa Budha, serta dua bungkus teh dari Indonesia.
Kami makan siang di Toktok, ditempat yang sama ketika kami menginap waktu naik ke Namche. Kentang rebus dengan saus ulegan cabe, garam, dan ermang segar cukup untuk mengisi kembali tenaga kami.

Maoist
Di Toktok ini saya menemukan poster undangan untuk datang ke acara May Day. Di poster itu juga terpampang foto-foto sekitar tigapuluh orang, yang menurut Sona adalah aktifis Maoist yang hilang tanpa bekas.
Sepanjang jalan sekarang sudah tidak ada lagi retribusi sumbangan untuk kegiatan perjuangan Maoist. Sekarang Maoist sudah menguasai parlemen dengan 250 kursi dari 600 kursi yang ada. Tentu pengumpulan dana melalui proyek-proyek pemerintah lebih menarik daripada retribusi ‘perjuangan’ melalui turis.
Ketika saya tanya Sona mengenai apakah ada pengurus partai Maoist di kampungnya, dia mengiyakan. Apakah dia suka dengan pengurus partai Maoist? Dia tertawa skeptis.
Dari koran usang di Namche, saya ketahui bahwa besok adalah jadwal gerhana matahari. Yang hanya akan terjadi dalam hitungan 100 tahun lagi. Wadoh, sudah seperti Tintin dalam episode ‘Tawanan Dewa Matahari’ nih.
Perjalanan turun ke Lukla terasa berat ternyata. Walaupun secara keseluruhan Lukla berada dibawah Namche, namun perjalanan yang waktu naik ditempuh dalam dua hari sekarang di singkat menjadi satu hari.
Yak, gentle yet unpredictable
Setiap terdengar suara lonceng leher Yak, Sona selalu naik ke tempat yang lebih tinggi. Demikian juga kalau kami harus melintas didepan Yak yang sedang merumput. Sona selalu mengusir terlebih dahulu baru melintas.
Pengalaman di Periche saat melihat warga mengeluarkan Yak dari halaman untuk digiring ke ladang penggembalaan sedikit banyak memberikan gambaran temperamen Yak yang agak sulit di tebak. Dan dengan masa tubuhnya, tentu bukan saingan manusia.
Kami menyalib rombongan yak yang sedang membawa beban. Sona memberi aba-aba untuk terus berjalan sampai saat kita bertemu dengan seekor yak dimana Sona tampak berhenti sebentar untuk memberi jarak yang lebih jauh.”This Yak, naughty!”. Hey, Yak is Yak…kenapa yang sebelumnya ok-ok saja untuk dilewati dan yang satu ini harus hati-hati? Rupanya walaupun yak ini membelakangi kami, dari samping terlihat tali yang terikat di tanduknya. Tali ini diikatkan ke hidung yang telah dilubangi menembus sisi kanan dan kiri lubang hidungnya. Rupanya kalau terdapat yak yang berkarakter buruk, maka pemiliknya akan memcocok hidungnya dan memasang tali. Dengan demikian kalau yak ini berulah, tinggal di tarik talinya.
Jenis yak sendiri terdiri dari ‘low altitude’ dan ‘high altitude’ yak. Mereka masing-masing punya range ketinggian kerja dimana mereka akan beroperasi secara optimal.
Di Lukla saya menginap di Khumbu Resort. Pemilik penginapan di Namche telah membantu saya mendapatkan tiket Yeti Air untuk besok pagi.
Saya membayar penerbangan esok hari untuk USD 113. Tanpa tanda terima dan tiket, hanya modal percaya.
Jam 4 sore saya berpisah dengan Sona. Dia memutuskan untuk lanjut berjalan ke Surkey, karena di Lukla segalanya serba mahal. Saya peluk Sona untuk perjalanan berkesan, dan kemungkinan besar kita tidak akan bertemu lagi sepanjang sisa hidup.
Saya tuliskan alamat email saya di postcard bergambar stupa Budha di Borobudur. Semoga sebentar lagi Sete terjangkau internet dan Sona bisa kontak email saya. Kalo mengingat semua penginapan yang saya lalui selama 19 hari, semua sudah memiliki listrik dan cakupan telepon CDMA, bukannya tak mungkin internet akan masuk sebentar lagi.
Day 24, 22 July 2009: Lukla – Kathmandu
Jam 6 pagi ditemani pegawai Khumbu Resort saya sudah nongkrong di airport. Tetap tanpa tiket, tahu-tahu saya mendapat boarding pass dan semoga nama saya disebut dalam manifes, paling tidak untuk keperluan asuransi. Paling tidak pesawat Dornier ini tidak kelebihan penumpang.
Pukul 6.30, langit yang semula mulai terang, kembali menjadi temaram. Saya berada dalam area gerhana matahari. Sayangnya matahari belum benar-benar muncul dari ufuk.
Dimusim sepi turis seperti ini, pesawat datang dari Kathmandu relatif kosong penumpang. Karena itu pesawat diisi dengan berbagai kebutuhan pokok seperti beras dan kacang-kacangan termasuk bir kalengan.

Airport Lukla adalah ‘gravity-assisted runway’. Letak runwaynya miring, sehingga ketika pesawat mendarat akan terbantu untuk pengereman, dan ketika take off grafitasi akan membantu memacu pesawat berlari lebih cepat. Diujung runway pesawat menggerung kencang menaikkan putaran baling-baling. Dan pastinya tak ada kesempatan kedua, karena diujung runway langsung jurang. Dan saya perhatikan pesawat benar-benar airborne tak jauh dari ujung landasan.
Saya tak sempat memeriksa, tapi rasanya pelampung dibawah tempat duduk untuk keadaan darurat tidak akan berguna banyak di penerbangan Lukla-Kathmandu. Kita selalu terbang diatas bukit, dan kalaupun ada sungai, pasti terletak didasar bukit dan dipenuhi batu-batu. Hampir tidak ada tempat datar untuk crash landing.
Tak sampai 45 menit terbang, terlihat lembah Kathmandu dengan kotanya yang padat.
Mendarat di Tribhuana Airport tidak terlalu berkesan, karena runway yang lebar dan panjang. Yang lebih menarik melihat koleksi pesawat terbang buatan timur; Antonov dan Mil-Mi yang terparkir di hanggar.
Terminal kedatangan untuk penerbangan domestik rupanya berupa atap seng berukuran 5×10 meter. Bus yang membawa kami dari tempat parkir pesawat juga berfungsi sebagai penarik kereta bagasi dengan petugas bagasi yang duduk diatasnya.
Tentang trekking sendirian
![]()
Sekilas trekking di Everest region memang mudah dilakukan seorang diri. Jarak antar kampung yang relatif dekat dan dalam sehari dipastikan kita bisa bertemu penginapan. Namun pada kenyataannya ada beberapa cabang jalan yang sulit di baca kemana harus diambil. Sebelum mulai trekking ada baiknya mampir di Thamel untuk membeli peta trekking dengan skala yang lumayan detail. Peta trekking tersebut biasanya memberi informasi topografis yang cukup baik sehingga bisa melakukan visualisasi trek yang akan dilalui.
Lalu apakah trekking sendirian menjadi benar2 aman? Pengalaman menunjukkan tidak demikian. Secara pribadi saya tidak merekomendasikan jalan sendiri, lain daripada alasan keselamatan, anda akan kehilangan kesempatan lebih dalam bersentuhan dengan budaya setempat.
Di daerah Khari Pass limabelas tahun yang lalu turis dan guidenya hilang tanpa jejak dan tubuh mereka tak pernah diketemukan. Dirute Lukla sampai ke Gorak Shep, dapat ditemui poster yang dilengkapi foto Alexandr Ryanzantsev, orang hilang asal Rusia. Di penginapan di Portche Tenga, ditumpukan majalan saya melihat log book trekker yang didistribusikan oleh keluarga yang berduka [www.garethkochlostinnepal.co.uk] Terutama di daerah diatas Tengboche, dimana vegetasi sub-alpine dan beberapa kali menyeberangi sungai glacier, porter-guide akan sangat membantu untuk menilai kondisi. Apakah aman atau harus berhenti, atau harus mencari jalur alternatif. Dan tentu dengan kemampuan bahasanya, porter/guide dapat membantu membuat “a well-informed decision”.
Hari pertama sampai hari ketiga, saya berjalan seorang diri. Sampai di Sete saya memutuskan untuk menyewa jasa porter, setelah menyadari saya datang untuk menikmati pemandangan dan bukan menikmati aktifitas membawa barang. Hal itu juga saya lakukan mengingat sempat sekali nyasar ke kebun warga dan beberapa kali melalui persimpangan yang saya tidak bisa tentukan arah dan terpaksa menunggu sampai ada orang lewat.
‘Timing to commit’ dengan porter/guide adalah saat yang sangat menentukan untuk kesehatan kantong kita. Di Thamel pastinya seabreg agency yang bisa melakukan pengaturan perjalanan kita. Saat saya ngemper di Durbar Square, seorang sherpa mendekati saya untuk menawarkan jasa mountain guiding. Pasang Sherpa mengeluarkan ‘portfolio’ lengkap dari dalam tasnya; surat rekomendasi dari mantan klien yang puas atas jasanya, dan foto-foto dia melintas di jalur-jalur populer termasuk Chola Pass. Sebenernya Pasang Sherpa adalah pribadi yang menyenangkan, hanya saja kalau saya harus membawa dia dari Kathmandu, kantong saya yang akan menjerit.
Rencana saya untuk membanggakan Bali kepada pemilik penginapan Century Lodge bubar sudah.
“I like Bali!!” ujarnya. Rupanya sekitar tahun 2005 pasangan suami-istri ini melakukan perjalanan panjang Kathmandu – Bangkok – KL – Bali. Mereka juga bertanya, selain Bali, mana lagi yang harus dikunjungi di Indonesia, karena pada akhir tahun 2009 mereka akan melakukan perjalanan panjang ke Australia dan rencananya akan kembali mampir di Indonesia.
Anak pasangan ini sekarang tinggal dan bekerja di Australia. Anak-anak mereka sudah tidak ingin pulang. Mereka justru akan mengundang orang tuanya ke Australia untuk liburan musim panas. “Yah beginilah, di Kathmandu listrik byar pret, tidak ada supermarket, jadi anak2 kami memilih tinggal di Australia”. Listrik mungkin dapat diperbaiki, tapi kalau memilih supermarket diatas pasar tradisional rasanya bisa menjadi ‘bunuh diri kota’, mengingat Kathmandu hidup diatas jalur distribusi barang melalui pasar tradisional.
Seorang kolumnis di Kathmandu Post menulis tentang bagaimana negara donor gemar memberi bantuan berupa infrastruktur jalan raya. Mereka tak ada yang tertarik mendanai transportasi publik. Tentu saja, karena mereka ingin menjual produk otomotifnya di Kathmandu. Peduli setan kualitas udara Kathmandu yang makin buruk.
Bersama kami bergabung pasangan dari New Zealand yang sedang dalam business trip mereka. Yang mereka lakukan adalah mengimport wool dari Nepal ke NZ. What??? Yoi, woolnya tetap berasal dari NZ, diprosess di Nepal dan kembali dikirim ke NZ. Dan tetap lebih murah biayanya dibanding proses menggunakan mesin di NZ? Iya, menurut pengakuan mereka. Yang tak sempat saya tanya lebih jauh, apakah biaya proses wool di Nepal lebih murah saat memasukkan biaya externalities seperti pencemaran air dan udara?
Pasangan NZ ini adalah regular customer di Century Lodge. Demikian pula dengan konsumen asal Inggris eksentrik disebelah kamar saya, yang selalu menggunakan bebat kepala dan celana cingkrang warna pink. Menurut pemilik lodge, orang ini sudah menjadi langganan mereka semenjak awal ‘90an. (**)
‘Rules of thumb’ pengeluaran di Nepal.
Pembayaran dalam Nepali Rupee, USD 1 = Rs 75 = Rp 10,000
Tiket Jakarta – Bangkok – Kathmandu pp: USD 720 (Musim liburan, low season bisa USD 550)
Biaya hidup Kathmandu: USD 5-10/hari (penginapan saya di tujuh terakhir USD 2.6/hari, Daal Bad USD 0.8/sesi, Kari dengan 3 potong roti nan; USD 1.2/piring)
Guide/Porter: Jiri – Namche: USD 14/hari, diatas Namche: USD 18/hari
Penginapan: Jiri – Namche: USD 0.8/hari, diatas Namche: USD 1.3/hari
Daal Bhat: Jiri – Namche: Rata-rata USD 3.3/sesi, diatas Namche: USD 6.5/sesi (1 sesi: makan sekenyangnya)
Dudh Cia (teh susu) Kathmandu(pinggir jalan: USD 0,01) Jiri – Namche: Rata-rata USD 0.25/cup, diatas Namche: USD 0.50/cup.
Total Pengeluaran selama 30 hari di Nepal (termasuk 19 hari trekking ke Everest Base Camp, Kala Pattar, dan Gokyo Ri, dan terbang pulang dari Lukla ke Kathmandu) : USD 750.





