Ereke, Buton Utara

Pagi hari, saya sudah janji dengan Hasri untuk berkeliling ke lokasi wisata yang lebih jauh. Perjalanan rencananya dimulai pukul 7 pagi dan sudah saya wanti-wanti untuk tidak pakai telat, atau saya tinggal. Pukul 6 pagi saya sudah siap, dan saya mengisi waktu keluar hotel menuju pasar. Sebuah mobil Kijang angkutan umum saya hampiri, dan saya pun memesan satu buah seat depan untuk perjalanan ke Baubau esok paginya [8]. Saya optimis hari ini semua target selesai, bukan apa-apa, walaupun saya travelling di musim penghujan, namun cuaca selama dua hari ini sangat cerah. Tidak ada yang membuat senang seorang backpacker seperti saya selain cuaca yang cerah dengan langit yang biru serta masyarakat sibuk hilir-mudik beraktivitas. Di pasar, saya bertemu dengan rombongan ibu-ibu dalam pakaian khas Buton membawa berbagai macam alat musik pukul mirip rebana dan gong. Rupanya rombongan ibu ini adalah para pengiring tarian daerah yang umum diadakan di acara pernikahan. Agak menyesal karena informasi ini saya lewatkan, cukuplah foto mereka menjadi pengobatnya. Pakaian merah menyala berenda keemasan dengan sarung oranye bergaris warna-warni tegas sungguh menarik mata. Dan, yang saya tahu, semua sarung Buton adalah tenunan buatan tangan.

Menuju pelabuhan Ereke, banyak kapal bersandar di kala surut. Di kejauhan, saya melihat sebuah kapal barang sedang dibangun. Saya yakin bahwa tipenya adalah Phinisi, dan dikuatkan oleh Pak Syafrudin yang mengaminkan bahwa si pembuat kapal adalah orang Bugis. Pak tua ini sebenarnya sedang sibuk menemani La Musu yang sedang menambal perahu tuanya. Celah-celah papan perahu bukanlah diisolasi dengan dempul untuk menahan air, tetapi dengan kulit kayu jenis tertentu. Sudah lama saya tahu hal ini, namun baru kali itu lah saya melihat langsung fisik kayu tersebut dan proses pengerjaannya. Kayu yang digunakan adalah kayu putih, yang banyak terdapat di Maluku dan disuling menjadi minyak kayu putih yang kita gunakan. Pak Syafrudin membeli kayu ini langsung dari pulau Buru seharga 40 ribu rupiah per kilogramnya. La Musu, dengan cekatan membuang kayu lama dan memasukkan kayu putih baru dengan padat. Di lapisan luarnya, diberi pelapis lem plastik, semata-mata hanya sebagai penahan supaya kayu putih tidak lepas keluar walau kemungkinannya kecil karena kayu tersebut akan mengembang begitu terkena air. Pemasangan yang rapi menggunakan kayu yang berkualitas dapat menahan gempuran air laut selama 5 tahun terus-menerus. Kembali ke hotel menunggu Hasri, saya sengaja berjalan menembus ramainya pasar tradisional dan membeli sebungkus besar ‘kue burung’ asli Kulisusu. Terbuat dari terigu, telur dan gula, kue ini dibentuk seperti tubuh burung lengkap dengan beberapa ‘coretan’ merah layaknya corak bulu. Selanjutnya dioven, tak banyak yang istimewa selain trademark-nya sebagai ‘kue tradisional’.

Matahari masih membayang di ufuk timur ketika kami sudah meluncur ke sisi timur menuju pantai Membuku. Sebenarnya pantai ini sangat cocok untuk mengejar sunrise karena matahari tepat muncul di tengah laut hadapannya. Pepohonan kelapa menaungi hampir seluruh bagian pulau, dan di bawahnya bernaung puluhan perahu nelayan beserta jaringnya. Sisi luar pantai sangat landai sehingga di saat air surut 100 meteran dasar pasir berganggang terungkap. Dibentengi tebing batukapur di tiap ujungnya, pantai ini tempat yang cocok sekali untuk duduk bersantai menikmati angin laut dan suara gagak yang bersahut-sahutan. Kok gagak? Ya saya sendiri tidak tahu kenapa, tetapi alih-alih burung laut, di pepohonan kelapa Membuku banyak sekali gagak yang beterbangan dengan suara paraunya itu. Setelah bertanya ke nelayan setempat, kami pun mulai mendaki tebing kecil di sisi barat pantai. Bukan apa-apa, tentu saja saya penasaran dengan keberadaan laguna yang ada di Membuku. Berjalan menunduk menerobos semak-belukar selama 5 menit, tampak samar-samar cekungan luas di sebelah kiri. Di tengahnya ada genangan air seluas 100 m persegi. Sepertinya ini lah tempatnya, karena di sekitar genangan itu tampak becek dan akar bakau muncul dimana-mana. Positif ini adalah laguna, karena posisi air laut sedang surut dan profil danau itu cocok sekali dengan kondisi itu. Namun, jangan membayangkan dengan laguna di Sempu, danau ini tidak jernih dan satu-satunya yang menarik adalah naungan pepohonan yang membuatnya teduh. Bergerak mendekat, langkah saya terhenti karena jalan setapak terhalang cabang kayu melintang dan plang dari papan bertuliskan : “Dilarang berjalan melewati, memasuki, dan atau menebang kayu di tempat ini bla bla bla…”. Menghindar dengan memutar ke sisi timur, saya pun menemui plang yang sama. Pantas saja tempat ini tampak jarang didatangi orang, sudah diproteksi pemiliknya ternyata, dan saya pun balik kanan.

Mata Rombia, dahulunya pasti sangat ramai dan indah sekali. Saya sempat melihat fotonya di tahun 2009 dan memang seumur-umur saya belum pernah melihat pemandian alami seindah itu. Air jernih menggenang tiga tingkat dan di kolam utama pepohonan rindang menjulang, dan itu semua hanya bisa saya saksikan sisa-sisanya saja. Kolam ini sudah kering, hanya air becek saja yang ada kecuali di kolam pertama tempat mata airnya. Masih tersisa bangunan-bangunan kayu memang, tapi kondisinya sudah rusak ringan dan kotor. Pepohonan yang sangat rindang dulunya, sudah ditebang meninggalkan bonggol buruk rupa di tengah kolam. Hasri berkata bahwa pohon ditebang karena daunnya yang sering mengotori kolam, sayang sekali. Namun seorang pengendara motor yang singgah beristirahat bercerita bahwa pohon ditebang karena memang mati. Salah kelola katanya, pembangunan modernisasi pemandian Mata Rombia membuat pepohonannya mati karena terkena pengaruh racun dari semen yang digunakan. Hilang pohon, hilang pula daya tariknya sehingga pemandian menjadi ditinggalkan penduduk dan akhirnya merana terbengkalai seperti saat ini. Labuhan Belanda, pantai yang dahulunya terkenal karena menjadi tempat mendaratnya kapal VOC harus saya buang jauh-jauh untuk dikunjungi karena berjarak dua jam ditempuh dengan sepeda motor dan masih harus disambung dengan perahu atau speedboat yang belum tentu setiap saat ada. Pantai Lanangi pun terpaksa kami lupakan karena juga harus ditempuh sejauh 2 jam perjalanan dengan jalan yang buruk dan tidak melewati daerah pemukiman. Selain Hasri memang belum tahu detil lokasinya, resiko tersasar dan pecah ban in the middle of nowhere dapat membuyarkan itinerary saya. Siang itu saya kembali pulang untuk beristirahat di hotel hingga pukul 1.30.

Kampung Lantagi, disebut di salah satu blog yang saya baca sebagai mysterious village. Konon, dahulu masyarakat seluruh desa tinggal di sebuah gua besar dan sekitar tahun 2000 mereka semua pindah ke kampung ini. Lokasi gua tersebut selalu dirahasiakan karena tidak ada satu penduduk pun yang bersedia buka mulut. Tentu saja, keunikan desa ini masuk dalam daftar incaran saya. Jalanan sudah lumayan baik sehingga jarak yang dahulu ditempuh selama dua jam dapat dijangkau selama 45 menit saja. Saya yang dari awal sudah membayangkan desa yang sangat tradisional dan terkurung di tengah-tengah lembah dibentengi perbukitan kapur, jadi kecele. Sebagian rumah di Lantagi sudah berbeton, namun masih tampak beberapa rumah kayu tua yang seragam bentuknya menandakan memang mereka dibangunkan rumah untuk dihuni. Bukit yang menyimpan gua misterius mereka tak tampak, alih-alih desa ini hanya berjarak 1 km saja dari pantai dengan topografi bergelombang lemah. Dua kali bercakap-cakap dengan penduduk, isu hijrah dari gua tersebut dibantah. Memang dahulunya mereka tinggal tersebar di kebun agak jauh ke hutan, namun tidak ada yang tinggal di gua. Mungkin ada satu dua keluarga tapi itu pun tidak sesungguhnya benar-benar ‘sebagai penghuni’ gua.

Memiliki arti yang kurang-lebih ‘air yang tampak di saat mentari muncul’ menyurutkan niat kami di sore itu untuk menemukan lokasi mata air E’e Mataoleo. Sebagai gantinya, saya meminta Hasri untuk kembali ke desa Bone yang kami lewati sebelumnya. Sunset di desa ini memang sudah menjadi incaran saya. Selain saya memang sudah berniat untuk membeli ikan bakar sebagai calon makan malam terakhir saya di hotel. Saya pun menghampiri sebuah pondok yang penuh asap, mereka sedang membakar dua buah kepala ikan tuna yang sangat besar. Hanya untuk dikonsumsi mereka sendiri, saya berpindah ke pondok di sebelahnya dan memang sudah rezeki sepertinya, dua deret penuh ikan bakar siap dijual masih panas mengebul-ngebul dengan aromanya yang khas. Tiga buah cakalang bakar berukuran besar (ikan asap di Maluku) dan sebuah cakalang yang lebih kecil [9] berpindah ke motor. Tiga ekor besar untuk Hasri dan keluarganya sedang satu yang kecil untuk saya, bukan main senangnya dia. Selama membeli ikan dan menunggu sunset itu, ramai sekali suasanya. Para ibu dan anak kecil sibuk untuk meminta difoto dan kaum lelakinya mengajak ngobrol dengan ramahnya. Syukurlah, berarti tampang saya tidak sesangar yang saya duga he he.

Sunset di desa Bone Lipu adalah salah satu sunset terindah yang pernah saya saksikan. Deretan pepohonan kelapa dan jejeran perahu yang ditambatkan menjadi foreground yang nyaris sempurna. Terlebih-lebih rona langit tampak membara dengan gradasi yang aduhai. Refleksinya membayang jelas di permukaan laut yang saat itu sangat tenang. Tak sadar, selama 15 menit itu saya sibuk berjalan hilir-mudik membawa kamera terpasang di tripod berpindah-pindah angle. Sekali terpaksa mengambil shot dengan tiarap di atas pasir, Ereke memang eksotis !

Habis – RHH

[1]. MV Cantika Inova melayani rute Kendari-Wa Ode Buri, berangkat pukul 09.00 dan kembali pukul 13.00 setiap hari. Ekonomi 90 ribu dan VIP 150 ribu, tiket dapat dibeli di sekitar pelabuhan atau hub 0401-3129747/081247009551.

[2]. Ojek pelabuhan Wa Ode Buri-kota Ereke, selalu ramai tersedia di setiap kedatangan dan keberangkatan kapal, ongkos 20 hingga 25 ribu rupiah.

[3]. Keliling dari pukul 3 hingga 7 sore ke berbagai tempat wisata radius 15 menit dari kota, 30 ribu. Keliling dari pukul 7 – 11 pagi dan 2 – 7 sore dengan berbagai tempat wisata radius 1 jam dari kota, 100 ribu. Rata-rata harga one way dalam kota 3 – 5 ribu rupiah, dan sewa sehari sekitar 70 – 80 ribu rupiah all in.

[4]. Kamar di Hotel Len Lin (Jl La Ode Sure, Kulisusu, 0403-22974) mulai dari 100 ribu double bed, tersedia pula yang twin bed. Hotel ini yang terbaik di Ereke namun setara dengan losmen biasa saja sebenarnya. Kamar mandi dengan baskom besar untuk menampung air, kipas angin tua dan ruangan yang tidak bisa dibilang bersih.

[5]. Bakso tenis isi telur dan beberapa bakso kecil lain dalam mangkuk besar, 13 ribu rupiah.

[6]. Pemandian di Ereke semuanya gratis tis tis.

[7]. Sate ayam, nasi, sup dan telur rebus 18 ribu

[8]. Ereke – Baubau dengan Kijang/APV menempuh perjalanan 6 – 7 jam dengan ongkos 100.000 rupiah. Berangkat menunggu penumpang penuh dan ada opsi dijemput di tempat, paling awal pukul 6 pagi hingga pukul 8.

[9]. Cakalang bakar ukuran paha remaja @25 ribu dan cakalang kecil ukuran dua telapak tangan dewasa @7 ribu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>