Tag Archives: airport-tax-semarang

Menyusuri Jejak Sejarah Menuju Kaki Sagarmatha Bag 3

Ketika Nafas Hanya Sepenggal : Menyusuri Jejak Sejarah Menuju Kaki Sagarmatha Bagian 3

Sore itu pula saya bersiap dengan Nanung menuju pos klinik Himalayan Rescue Association –HRA di Periche. Pukul 3 nanti akan ada semacam kelas bagi para trekker tentang apa itu Altitute Sickness. Jalan ringan tadi pagi ternyata membuat badan lebih segar. Entah kenapa nafas berat yang saya rasakan ketika tiba kemaren sore seakan hilang. Nafsu makan masih susah, tapi nampaknya ini masalah mental. Untuk terus bertahan, energi harus terus dikonsumsi. Tidak bisa ditawar, makan adalah keharusan.

Setelah minum teh bergelas-gelas untuk mengganti cairan tubuh, saya bergegas menuju jalan setapak disamping penginapan. Sebenarnya desa Periche ini begitu kecil. Mungkin hanya 20an rumah yang sebagian besar adalah untuk akomodasi trekker. Konstruksi yang terbuat dari batu dengan pelapis kayu sederhana sekedar menghangatkan ruang didalam jika suhu turun drastis.

Seperti layaknya losmen di tea houses, kamar tidur hanya berupa dipan. Alas tidur seadanya dengan matras tipis yang entah sudah berapa ribu kali dipakai. Ruang kami ada di pojok hingga agak ekstra lebar. Ada tiga dipan, tapi kami putuskan salah satu digunakan untuk menampung alat dan barang. Dinding tripleks yang membatasi per kamar membuat saya bisa mendengarkan trekker lain yang terserang batuk terus menerus. Batuk (high altitude cough) adalah pertanda fungsi jalur pernafasan yang teriritasi. Untunglah Nanung mengikuti anjuran Ram untuk bernafas di uap panas. Kami meminta air panas di baskom. Dengan handuk dikepala Nanung membersihkan saluran nafasnya di atas uap tadi. “Sudah mendingan kok mbak, “ katanya meyakinkan. Ia juga membawa obat batuk dari Kathmandu yang menurutnya manjur membuat tidur. Saya sempat iri, semalam suara batuk membuat saya sulit memicingkan mata. Andai saja..

Tepat lima menit saya tiba di klinik. Ternyata tempat pertemuan dipindah di ruang kaca atau conservatory yang letaknya tak jauh. Biar hangat katanya. Di ruang berukuran 3x5m itu sudah berjajar kursi yang diset memutar. Begitu mendekati pukul 3, ruangan ini tiba-tiba penuh. Ruang berdinding kaca ini jadi tidak sedingin sebelumnya, terlebih sinar matahari mulai sembunyi di balik gunung nan tinggi.

Seorang laki-laki cukup berumur dengan jaket merah memperkenalkan diri. “My name Peter. Saya disini sebagai dokter sukarela yang dipekerjakan untuk membantu anda, para trekker jika menghadapi masalah kesehatan.”

Dr. Peter –yang ternyata dari Yorkshire Inggris ini melanjutkan session dengan gambar dan grafik untuk menjelaskan apa itu AMS (Acute Altitude Sickness). Tanya jawab dengan diselingi demonstrasi membuat waktu cepat berlalu. Salah satu yang ditunjukkannya adalah Gammow Bag, yakni alat semacam sleeping bag dengan diisin udara yang dikompresi memakai sepeda. Alat ini adalah salah satu bentuk treatment di lapangan jika terkena AMS dalam medan yang sulit untuk dievakuasi.

Menurut sang dokter, AMS adalah penyakit yang masih penuh misteri. Riset dan studi mengenai topik ini masih dilakukan. Bukti cukup meyakinkan kalau altitute sickness itu bukanlah masalah stamina. Tetapi bagaimana tubuh mampu menyesuaikan dengan cepat dalam perubahan lingkungan. Seorang yang nampak kuat kemungkinan akan mengalami AMS lebih fatal karena ia merasa percaya diri untuk mendaki dengan cepat.

Saya teringat kisah para penjelajah Everest. Dengan melalui perjuangan panjang mereka menghabiskan minggu hingga bulan tinggal di wilayah Himalaya. Membangun ketahanan tubuh akan ketinggian, membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa di udara tipis. Rupanya mereka belajar dari para penduduk local untuk membentengi tubuh dengan pertahanan sebelum menginjakkan kaki di lereng bebahaya.

Di era 1952 sebelum tim ketiga dari Inggris, seorang penduduk local bernama Tenzing membantu tim dari Swiss untuk membuka jalur melalui sisi Nepal di Mt. Everest. Dua tahun sebelumnya sisi Tibet yang digunakan para penjelajah ditutup oleh China akibat konflik politik. Meskipun gagal mencapai puncak, Tenzing mempunyai satu kelebihan yang tidak dipunyai pendaki dari Barat. Yakni darah dan tubuh dari Himalaya. Ia lahir dan besar di gunung dengan ketinggian yang memungkinkan altitute sickness menjadi tidak relevan. Kombinasi fisik dan kecerdasannya membuktikan bahwa ia bisa sederajat dengan para pendaki dari negara Barat.

Saat itu Tenzing sudah cukup terlatih. Ketika duo tim Inggris pertama Evans dan Bourdillon gagal, John Hunt –si manager tim akhirnya memilih Tenzing dan Hillary untuk melakukan percobaan kedua. Hillary, seorang New Zealand yang penuh gelora rupanya ingin membalaskan kegagalan tim2 sebelumnya. Riwayat Mallory mengilhaminya untuk mencapai puncak dan pulang dengan selamat menjadikan Tenzing dan Hillary orang pertama yang menaklukan Everest.

Benarkah begitu? Rupanya perdebatan masih sengit. Di tahun 2006, sebuah tim berhasil menemukan mayat George Mallory yang terkubur abadi. Tim yang dijuluki sebagai ‘detektif di ketinggian’ ini membuat spekulasi kemungkinan duo Mallory sampai ke puncak namun gagal ketika mendaki turun.

Dalam sejarah eksplorer, mungkin Everest-lah yang paling kontroversial dan melarutkan nyawa. Membuat sosoknya yang gagah, simbol ibu semesta terpatri di benak calon pendaki. Ia adalah tempat abadi, terindah untuk mati dan bukti kegagahan manusia. Namun juga monumen kegagalan, kepedihan dan keputusasaan untuk membuktikan egoisme, ambisi dan determinasi.

Di depan bara api kotoran yak yang menyesakkan di ruang tamu penginapan Periche, saya bercanda dengan calon pendaki Everest. Datang dari belahan dunia : Australia, Eropa Amerika Asia, mereka ini layaknya manusia biasa. Semakin saya dalam berbincang, semakin saya merasakan obsesi mereka. Gunung ini terlalu kuat mempengaruhi, terlalu menggoda untuk ditaklukan. Godaan yang mungkin menuntun sebagian menuju kematiannya. (end)

MENUJU KESANA Thai Airlines (www.thaiair.com dari SGD1106 inc tax- return flight) dan Silk Air (www.silkair.com dari SGD3010 inc tax-return flight) keduanya menawarkan penerbangan dengan frekuensi yang diandalkan dari Changi Singapura. Silk Air anak perusahaan Singaporean Airlines terbang langsung menuju Kathmandu, sedangkan Thai Airlines transit sebentar di Bangkok. Jet Airways (jetairways.com dari SGD 1690inc tax return) dari India menawarkan penerbangan dari Singapura –Delhi – Katmandu. Sedangkan alternatif lainnya adalah Malaysia Airlines bekerja sama dengan Nepal Airlines (dari SGD1787 inc tax-return flight). Alternatif untuk budget : Opsi 1. Airasia/Valuair/Jetstar ke Singapura dilanjut Silk Air/Thai Airways. Opsi 2. Airasia (www.airasia.com) ke Kualalumpur dilanjut Malaysia Airlines.

DOKUMEN PERJALANAN VISA Untuk paspor Indonesia mendapatkan Visa On Arrival (VOA) di bandara Tribuvan US$30 berlaku untuk 3 bulan (single entry). Persyaratan : paspor minimum 6 bulan valid, pas foto, informasi penerbangan dan uang.

RUTE TREKKING HIMALAYA Ada dua area sangat populer untuk trekking : bagian Everest (Sagarmatha National Park) dan bagian Annapurna (Annapurna Range). Pintu masuk Everest adalah Lukla (dengan pesawat domsetik www.yetiairlines.com atau www.royalnepal-airlines.com). Sedangkan Annapurna diakses melalui Pokhara lewat darat atau udara. Rute lainnya seperti

WAKTU TERBAIK Awal musim semi Maret-Mei adalah masa tersibuk untuk pendakian Mt. Everest, sedangkan musim gugur bulan September-November langit begitu cerah. Trekking bisa dilakukan sepanjang tahun kecuali jika melakukan pendakian (trekking summit, climbing). Untuk itu disarankan memakai peralatan yang memadai.

AGEN TREKKING Lebih baik merencanakan trekking sejak beberapa bulan untuk persiapan porter dan permit (ijin). Penulis menggunakan www.yalatour.com Contact person: info@yalatour.com

ALTITUTE SICKNESS Gejala akan terasa pada ketingginan 2500m. Penyebab utama adalah ketidak mampuan tubuh untuk menyesuaikan dengan kecepatan naik. Aklimatisasi adalah cara untuk mengurangi efek penyakit ketinggian agar tidak berubah menjadi akut (AMS –Acute Altitute Sickness). Proses aklimatisasi adalah membiarkan tubuh untuk menyesuaikan diri pada ketinggian tertentu dengan tinggal lebih lama sembari melakukan trekking ringan dalam level yang aman. Pencegahannya adalah dengan memonitor tubuh, mendaki dengan pelahan, ikuti petunjuk guide, minum banyak air, tidak minum alcohol dan pil tidur, aklimatisasi secara bertahap. Pengobatan AMS adalah dengan Diamox (acetazolamide 125-250gr) dan harus diturunkan dengan segera. Di jalur Evererst, satu2nya klinik dengan peralatan lengkap adalah di desa Periche oleh Himalayan Rescue Association (HRA). Tersedia obat, gammow bag, dan jasa helicopter jika emergency. Info selengkapnya www.himalayanrescue.org

REFERENSI UNTUK TREK : •Nepal : Lonely Planet Country Guide (Bradley Mayhew, Joe Bindloss, Stan Armington Edisi 7 Th 2006) •Trekking in the Nepal Himalaya : Lonely Planet Walking Guides (Stan Armington Edisi 8 Th 2001) •Everest Base Camp Map oleh National Geographic Adventure Maps. Skala 1:50,000 dan 1:250,000

Salam, Ambar

Skype ambarbriastuti | Gtalk ambar.briastuti | Flickr ambarbriastuti Adventures. Backpacking. Photography.™