Tag Archives: aisyah-homestay-di-makassar

Roemah Emak – Karimun Jawa

Dear all,

mau tanya dong, ada yang pernah coba menginap di Roemah Emak Karimun Jawa ? Boleh share reviewnya kah Aku planning untuk pergi tanggal 23 – 29 Juli, tapi masih bingung mau nginep di mana. Optionnya kayaknya Roemah Emak atau di Wisma apung.

(btw, untuk Afni – kayaknya aku ga jadi join yang tanggal 24-28 june… ga dapet cuti nih… :( , tapi aku nanti tetep tanya2 ya¬†)

Mungkin ada yang mau berangkat juga tanggal segitu ?

Thanks yaaa :)

Rgds,

Mandee

[Non-text portions of this message have been removed]

Trip Kaltim

Bookmark this category
Trip Kaltim : Kebersamaan , Alam, Budaya & Kuliner

Berbekal tiket sederhana keluaran PO. Pulau Indah Jaya seharga Rp 110 ribu, saya mantabkan niat menuju provinsi kaya raya di timur pulau Borneo, yakni Kaltim. Bukan berniat menjadi juragan batubara ataupun menjadi pengusaha amplang kuku macan, tapi tujuan utama saya adalah berkeliling ke 4 kota di Kaltim. Yakni Balikpapan, Samarinda, Bontang & Tenggarong.

Libur akhir pekan yang lumayan panjang bagi saya yang hanya berstatus karyawan ini, tak bisa saya sia-siakan begitu saja. Saya harus memanfaatkan waktu libur tersebut sebaik mungkin. Pilihan saya jatuh pada provinsi yang berjuluk Bumi Etam tersebut. Sudah sejak lama sekali saya punya niat berkunjung ke Kaltim. Sama hal nya saat saya berniat berkunjung ke Tana Toraja, Sulsel yang sudah terlaksana bulan maret lalu.

Bis berwarna kuning keemasan berbadan bongsor telah menunggu penumpang di Terminal Induk Pal 6 Banjarmasin. Jam tangan milik saya menunjukan tepat pukul 6 sore saat saya tiba di terminal. Matahari terbenam nampak sangat indah di sebelah barat. Semakin semangat rasanya memulai perjalanan.

Meski jam berangkat yang tertulis di tiket menunjuk pada jam 18.30, tapi yang namanya di Indonesia budaya jam karet tetap langgeng dimana-mana. Saya benar-benar meninggalkan Banjarmasin tepat pukul 19.00. Namun ada baiknya juga keterlambatan tersebut, karena saya masih bisa melaksanakan sholat maghrib dan isya sekaligus di satu waktu.

Bis meluncur mulus hingga Kota Intan, Martapura. Tepat di depan halaman Masjid Agung Al Karomah, sopir bis menjemput penumpang lain yang menunggu di Martapura. Perjalanan lalu dilanjutkan hingga Kota Minyak, Balikpapan. Sekitar pukul 8 pagi besoknya saya tiba di pelabuhan penyeberangan kapal ferry di Penajam, Kaltim. Jam 9 lewat 15 menit, saya akhirnya menginjakkan kaki di Balikpapan, kota bermaskot Beruang Madu.

Disana telah ada En Hikmah dan suami nya Burhan serta kenalan saya di milis backpacker Amsi Rahmanta. Segelas es teh menawarkan sensasi sejuk di tenggorokan setelah berjam-jam di dalam bis non AC. Perkenalan dan obrolan pun tak bisa dihindarkan. Suasana akrab langsung saya alami meski saya baru mengenal mereka.

Tak membuang waktu lama, kami segera meninggalkan terminal. Tujuan pertama adalah Pasar Inpres Kebun Sayur. Sebuah komplek pertokoan yang ramai menjajakan oleh-oleh khas Kaltim. Mulai dari gelang, kalung, Mandau hingga kaos bergambar Dayak Kenyah Kaltim. Disana saya membeli 4 lembar kaos. Harga kaos sebesar Rp 25 ribu, cukup murah mengingat Balikpapan merupakan kota termahal di Indonesia. Kampung Atas Air merupakan kunjungan kami selanjutnya. Sebuah perkampungan nelayan yang berada di atas air. Dari kampung ini, saya bisa menyaksikan barisan pipa raksasa yang menancap ke tanah milik Pertamina. Jika malam hari, kilang minyak milik BUMN tersebut akan menyala karena banyaknya lampu-lampu.

Seorang sahabat, Mas Apri menelpon saya. Karyawan salah satu perusahaan minyak asal luar negeri tersebut mengajak saya dan kawan-kawan makan siang di Torani. Sebuah rumah makan yang menyediakan aneka hidangan makanan laut. Saat saya tiba, aneka menu sudah tersaji rapi di atas meja panjang. Saat disantap, hidangan tersebut ternyata jauh lebih enak dari apa yang saya bayangkan. Kelar makan siang, kami segera menuju ke rumah Mas Apri di kawasan Pramuka atas Balikpapan. Kami hanya sebentar di rumah nyaman nan asri tersebut. Sempat bertemu dengan keluarga kecil Mas Apri. Selanjutnya, mobil Kijang Inova yang kami tumpangi meluncur ke Jalan Soekarno Hatta yang menghubungkan Balikpapan ke Samarinda. Kiri kanan jalan tampak pembangunan ruko dan gedung mendominasi pemandangan. Sesekali kami menemui taman asri dan pepohonan rindang.

Di kawasan Samboja, mobil membelok ke arah Bukit Bangkirai. Dari sini, jarak yang harus kami tempuh masih sekitar 20 kilometer lagi. Pemandangan berubah menjadi hijau, karena jalur meliuk-liuk ini membelah perbukitan yang diatas nya banyak pepohonan. Meski sisa-sisa penjarahan hutan masih terlihat. Menyedihkan memang.

Pintu gerbang bergaya etnik, menyambut saya dan kawan-kawan. Sejumlah retribusi segera kami setor. Untuk selanjutnya trekking selama sekitar 15 menit menuju spot popular di Bukit Bangkirai, Canopy Bridge. Sebuah wahana menaiki jembatan dari kayu yang terhubung ke beberapa pohon raksasa yakni pohon Bangkirai. Dari atas jembatan, pemandangan hutan khas Kalimantan sangat jelas terlihat. Karena kawasan sekitar nya telah steril dari aksi pembalakan hutan. Keterbatasan waktu mengharuskan saya segera melanjutkan perjalanan ke Samarinda. Saya ditemani Amsi Rahmanta. Sedangkan Mas Apri, Hikmah & Burhan kembali ke Balikpapan. Dengan menumpang bis kami lanjutkan perjalanan ke Kota Tepian yang merupakan ibukota Kaltim. Sekitar 1,5 jam kemudian kami tiba di Jembatan Mahakam. Dari atas jembatan megah ini, saya bisa menyaksikan indahnya Samarinda malam hari. Lampu-lampu perkotaaan mirip jutaan kunang-kunang di malam gelap.

Di sekitar jembatan saya bertemu kembali dengan Gunadi, sahabat baik yang saya pernah melakukan petualangan bersama di Pulau Sebuku, Kab. Kotabaru Kalsel beberapa bulan lalu. Istirahat sebentar untuk melakukan mandi & sholat, kami langsung menghadang bis menuju Bontang di sekitar Islamic Center. Tapi hingga pukul 11 malam bis yang kami cari tidak ada yang lewat. Kami pun menghalau truk lewat, tapi juga gagal. Maka, dengan nekad kami menggunakan sepeda motor menuju Bontang. Saya, Gunadi, Amsi & Deny memulai perjalanan sekitar jam 12 malam. Jalur menuju Bontang ternyata juga meliuk-liuk.

Rasa capek dan kantuk yang luar biasa, memaksa kami untuk tidak melanjutkan perjalanan. Di Tanjung Santan kami menginap di rumah kawan bernama Budi. Kasur busa di pojok rumah menggoda saya untuk segera tidur. Hingga pagi keesokan hari nya. Mie rebus dan teh hangat mengawali pagi kami yang sangat cerah. Menambah semangat saja. Aksi mencegat truk, pick up dan jenis mobil lain kembali kami lakukan. Ternyata gagal kembali. Sepeda motor kembali kami pilih menuju Bontang.

Pemandangan perbukitan, jalanan yang lengang, rumah-rumah tradisional berbentuk panggung dengan latar langit biru seakan-akan menjadi paket cantik hadiah dari Tuhan. Beberapa puluh menit kemudian, pintu gerbang megah menyambut kami. Menandakan kami telah tiba di Bontang. Janji bertemu dengan Mas Rully Andrianto dan kawan-kawan di Bontang Kuala menjadi tujuan utama kami. Di perkampungan atas air itulah kali kedua saya dan Mas Rully bertemu, setelah sebelumnya bertemu di Banjarmasin. Bontang Kuala ternyata jauh lebih menarik dari pada apa yang saya pikirkan. Kampung diatas air yang dilengkapi masjid, pertokoan, rumah makan dan panggung hiburan. Benar-benar seperti sebuah kota dalam kota. Nilai tambah bagi Bontang Kuala adalah kebersihan nya yang sangat terjaga.

Tujuan selanjutnya adalah Pulau Beras Basah. Sebuah kawasan wisata bahari andalan Bontang. Dengan menggunakan kapal kayu kami segera melaju diatas air laut. Beberapa pulau tak berpenghuni dan kampung nelayan diatas air lautan kami lalui.Anehnya kampung air tersebut tidak terhubung sama sekali dengan daratan. Maka tak heran satu-satunya cara untuk terhubung ke daratan, para penghuni nya harus mempunyai kapal.

40 menit perjalanan membawa kami di Pulau Beras Basah. Pasir putih, air jernih, mercusuar yang megah dan jembatan kayu menyambut kedatangan kami. Akhirnya, pulau cantik ini berhasil saya kunjungi setelah selama ini hanya bisa menyaksikan melalui foto-foto di internet.

Tak sabar rasanya membidikan lensa kamera, menginjakan kaki di pasir putih nya, menceburkan kaki di air jernih nya serta menikmati matahari pagi yang cerah. Sekitar jam 1 kami segera menyudahi trip Pulau Beras Basah. Untuk selanjutnya kembali ke Bontang Kuala. Disana saya menikmati seporsi Sokko khas Bontang Kuala. Kuliner yang isinya ketan rebus, parutan kelapa dan ikan berbumbu yang agak pedas. Jenis ikan yang digunakan adalah ikan kakap dan ikan tenggiri. Harga per porsi nya sangat masuk akal dan agak sedikit mengagetkan, hanya Rp 2 ribu saja.

Kenyang makan Sokko, kami lalu menuju rumah Mas Rully di kawasan Komplek Pupuk Kaltim (PKT). Sebuah perumahan karyawan PKT yang asri dan sangat bersih. Di rumah nyaman nya Mas Rully, saya dan kawan-kawan segera beristirahat. Disana pun saya kembali bertemu dengan Dhani. Wanita asal Semarang yang pernah saya ajak jalan-jalan ke Jembatan Barito, Banjarmasin beberapa bulan lalu. Dhani juga memiliki hobi jalan-jalan. Persahabatan memang tak pernah hilang, meski jarak dan waktu terbilang jauh.

Malam hari nya, atas usul Mas Rully kami makan di RM Sari Laut Surabaya. Menu andalannya adalah kepiting goreng mentega kriuk. Tak salah memang jika Mas Rully merekomendasikan makanan super nikmat ini. Tak hanya nikmat tapi bikin kenyang. Kelar makan, Amsi dan Deny kembali ke Samarinda malam itu juga. Saya dan Gunadi menginap 1 malam di rumah Mas Rully. Niat memandang pabrik PKT di malam hari akhirnya terwujud. Sekilas mirip Hongkong di malam hari, karena begitu banyaknya lampu pabrik. Bahkan dari rumah Dhani, pemandangan spektakuler tersebut jelas terlihat.

Bangun pagi, saya disuguhi mie godok buatan Mba Zetta istri nya Mas Rully. Mie kuah yang isinya dilengkapi kuah berbumbu, suwiran daging ayam dan aneka sayuran. Terasa nikmat di penghujung kunjungan saya di Bontang. Dengan berat hati, saya dan Gunadi kembali ke Tanjung Santan. Terima kasih tak terhingga buat Mas Rully dan keluarga. Kebersamaan ini sungguh berkesan bagi saya.

Di Tanjung Santan, kami kembali disuguhi makan siang yang juga enak. Ikan bandeng goreng, sayur bening dan tahu goreng dilengkap cocolan sambal tomat. Mas Budi memang salah satu kawan baik yang saya temui selama berpetualang di Kaltim. Kelar makan, kami lajukan sepeda motor menuju Karang Mumus. Sebuah kecamatan yang di dalam nya terdapat beberapa buah perkampungan suku Dayak Kenyah.

Desa pertama yang saya kunjungi adalah Sungai Bawang. Desa terpencil yang sederhana. Akses nya hanya berupa jalan tanah tak tersentuh aspal. Disana saya sempat bertemu dengen nenek bernama Pebuang. Nenek renta yang memiliki telinga super panjang. Anting berwarna kuning keemasan tampak mendominan di kiri kanan telinga panjangnya. Tato tampak melekat di kedua tangannya yang sudah agak keriput termakan usia.

Meski tak sempat menjepret nenek Pebuang, tapi saya sangat bersyukur ambisi saya bertemu langsung dengan suku Dayak bertelinga panjang akhir nya terwujud. Terima kasih Tuhan. Benar-benar pengalaman yang sulit dilupakan. Saya dan Gunadi segera beranjak ke desa selanjutnya. Desa Pampang namanya, desa yang sudah lama dijadikan sebagai desa wisata budaya. Tak heran jika banyak turis asing dan lokal di sekitar Pampang. Tepat jam 2 siang, aneka jenis tarian khas suku Dayak dipertunjukan. Dengan biaya Rp 15 ribu, saya bisa sepuasnya menyaksikan tarian tersebut.

Disana saya juga bertemu dengan kawan-kawan sesama forumer di situs skyscrapercity. Sebuah situs yang isinya membahas tentang perkembangan sebuah kota di seluruh dunia, termasuk kota-kota di Indonesia. Adalah Jundan, Era, Daru dan Adi Rahmadi yang saya jumpai disana. Teman yang selama ini saya kenal hanya melalui internet. Di penghujung kunjungan di Pampang, saya berhasil memotret seorang nenek Dayak bertelinga panjang. Sebuah kebanggaan bagi saya, karena bisa bertemu dan mengabadikan produk budaya yang sangat tak ternilai tersebut. Saya juga berhasil memotret anak-anak asli suku Dayak Kenyah.

Spot selanjutnya adalah Islamic Center yang sangat-sangat megah. Arsitektur yang sungguh menawan berpadu apik dengan pewarnaan bangunan masjid yang elegan. Tak sulit dibayangkan jika ternyata masjid ini menjadi salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara. Kunjungan selanjutnya adalah kota Tenggarong, Kutai Kartanegara. Kabupaten terkaya di negeri ini, dengan PAD trilyunan rupiah. Tak heran jika Tenggarong memiliki jembatan dan stadion megah di dalam kota kecil nya. Jembatan Kartanegara menjadi atraksi paling menarik di malam hari. Lampu-lampu yang sengaja di pasang di setiap detail bangunan jembatan, menjadikan nya tampak sangat cantik. Pulau Kumala di malam hari tampak samar-samar terlihat. Patung Lembuswana yang seperti raksasa terlihat anggun disinari cahaya lampu. Kami juga sempat melihat bangunan Kedaton, Musemum Mulawarman serta komplek makam raja-raja Kutai. Makan malam di tepian Sungai Mahakam menjadi paket terakhir malam itu. Sungguh menjadi pengalaman yang tak ternilai.

Di hari terakhir, saya manfaatkan berkunjung ke masjid bersejarah di Samarinda. Namanya Masjid Shirathal Mustaqiem di Jalan Pangeran Bendahara. Masjid yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Tak berapa lama, saya, Yudasmoro dan Ria segera melanjutkan perjalanan menuju komplek Stadion Utama Palaran. Sebuah komplek olahraga termegah di Indonesia. Meski kami tak bisa memasuki area stadion, tapi kami tetap puas bisa menyaksikan banyaknya gedung megah dengan arsitektur apik milik Kaltim tersebut.

Citra Niaga menjadi lokasi selanjutnya di hari terakhir saya di Kaltim. Merupakan sebuah kawasan pertokoan yang menyediakan aneka souvenir khas Kaltim. Disana saya membeli beberapa buah gelang serta baju kaos bergambar Dayak Kaltim. Rata-rata baju kaos dipatok sekitar Rp 15 hingga 25 ribu. Cukup murah memang.

Rasa lapar memaksa kami segera menyudahi kunjungan di Citra Niaga. Bersama Yudasmoro, Jundan dan Ria, saya makan di RM. Prambanan. Menu bebek goreng, ayam bakar dan nasi goreng menjadi kuliner penutup selama saya menjelajah Kaltim. Terimakasih banyak atas ajakan Jundan makan enak di tempat ini.

Tepat jam 13.30 Wita bis Pulau Indah Jaya membawa saya menuju Bumi Lambung Mangkurat, Kalsel. Terasa berat memang meninggalkan banyak kesan selama di Kaltim. Baik sahabat, tempat-tempat unik, budaya dan kuliner yang enak.

Terimakasih tak terhingga atas kebaikan kawan-kawan di Kaltim yang sudah menjadi tuan rumah sekaligus teman jalan. Baik itu Mas Rully, Gunadi, Mas Apri, Amsi Rahmanta, Jundan, Ria, Hikmah dan suami, Deny, Budi, Ria, Daru, Adi Rahmadi, Yudasmoro, Dhani serta kawan-kawan lain yang tak bisa disebutkan satu persatu. Berawal dari pertemanan di internet (milis backpacker/IBP, facebook, skyscrapercity, blog, dll) menjadikan kebersamaan kita benar-benar terwujud selama di Kaltim. Sebuah kesan mendalam yang rasanya sulit saya lupakan begitu saja. Durasi trip : 4 hari 3 malam

Spot : Balikpapan (Kebun Sayur, Kampung atas Air, Kilang Minyak, RM Torani, Bukit Bangkirai) Samarinda (Desa Pampang, desa Sungai Bawang, Islamic center, Jembatan Mahakam, Masjid Tua, Palaran, Citra Niaga) Bontang (Pulau Beras Basah, PKT, Bontang Kuala, RM. Sari Laut) Tenggarong (Jembatan Kartanegera, Museum Mulawarman, Makam raja2 Kutai, Kedaton) Informasi akomodasi : Bis Pulau Indah di Samarinda, 0541-260918, Balikpapan 0542-420289 Bis samarinda Lestari dr Balikpapan tujuan Bontang 0542-732287 Bukit Bangkirai 0542-734644 RM Sari Laut Bontang, 0548-24909

Foto-foto dapat di cek di :

http://pegatan.multiply.com/photos/album/25/Amazing_Kaltim

Banjarmasin, 7 April 2010.

Nasrudin Ansori http://kalimantanku.blogspot.com “amazing Kalimantan”