Tag Archives: angkot-di-batam

lalu lintas menuju citatih/citarik

dear all,

barangkali ada yang mau bantu, saya mau nanya niy… apakah ada yang tau kondisi lalu lintas jalur menuju area rafting sungai citatih/citatih pasca lebaran kira2 bagaimana? apakah macet? btw saya berangkat dari bandung

thank you in advance for your respond

best regards,

[Arif]

[Non-text portions of this message have been removed]

————————————

Kunjungi website IBP: http://www.indobackpacker.com

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

SPAMMING atau forwarding tidak diperkenankan. Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT.

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian yang perlu saja.

Cara mengatur keanggotaan di milis ini:

Mengirim email ke grup: indobackpacker@yahoogroups.com (moderasi penuh) Mengirim email kepada para Moderator/Owner: indobackpacker-owner@yahoogroups.com Satu email perhari: indobackpacker-digest@yahoogroups.com No-email/web only: indobackpacker-nomail@yahoogroups.com Berhenti dari milist kirim email kosong: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com Bergabung kembali ke milist kirim email kosong: indobackpacker-subscribe@yahoogroups.com

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings: Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email: indobackpacker-digest@yahoogroups.com indobackpacker-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

Granada

  Kadang yang disebut mass tourist destination tidak semata-mata masal yang mana orang bisa ke sana dengan mudahnya.  Asal ada uang, praktis tujuan bisa tercapai.  Ternyata ada beberapa yang perlu upaya ekstra.  Upaya di sini utamanya terkait dengan kuota yang ditetapkan pengelola setempat dan jadual yang ketat.  Ini pertama kali saya alami ketika hendak ke Machu Picchu, Peru.  Biasanya mereka yang ikut paket datang pagi hari dengan kereta dari Cuzco ke Aguas Calientes, disambung bis dari Aguas Calientes ke Machu Picchu.  Selanjutnya mereka pulang dengan kereta paling sore.  Dengan cara ini praktis pengunjung tidak dapat apa-apa karena hanya di situs sekitar 1,5-2 jam.
Karena juga ingin mendaki Huayna Picchu, saya rela melewatkan semalam di Agus Calientes agar bisa memburu bis terpagi.  Untuk itu saya mesti bangun jam 04.00.  Sampai situs langit masih gelap.  Menyeberangi situs dari kawasan pertanian, kawasan pemukiman, lalu kawasan ibadah sendiri perlu kurang-lebih 45 menit.  Begitu tiba di pintu antrian pendakian, saya sudah dapat nomor urut lebih dari 300 padahal jatah seharinya hanya 400.  Sudah begitu, saya terlalu taat aturan.  Yang mendaki Huayna Picchu tidak boleh membawa makanan atau minuman.  Aturan itu saya patuhi.  Setiba di puncak?  Ah banyak orang yang buakn hanya membawa minuman tetapi juga makanan.
Upaya ekstra semacam itu saya alami pagi tadi.  Setiap hari jatah untuk masuk Alhambra (orang Spanyol membacanya Alambra) dibatasi 2000 pengunjung.  Untuk jatah sebanyak itu sebagian tiket dijual lewat internet, dipesan oleh paket tour, dan sebagian lagi dipesan lewat telepon.  Satu-satunya kesempatan bagi kami (saya sekeluarga) tentunya mencari tiket lewat direct sale secara cash.  Untuk itu saya mesti ke luar dari hostel jam sekita jam 08.00.  Saya sudah sampaikan ke anak bahwa hari ini jadual ketat dan jalan agak berat.  Untunglah dia mengerti.  Jalan hampir sekilo mendaki anak tidak mengeluh.  Tiba di tempat antrian, panjang antrian kira-kira ´hanya´ 30-an meter.  Ternyata 30m itu lambat sekali bergerak.  Lalu secara rutin ada pengumuman jumlah kuota tersisa.  Saya sempat mengeluh pada istri, ¨Kita nggak bisa apa-apa padahal anak sudah capek jalan dan berdiri antri, belum lagi nanti di dalam sana.¨
Masih sekitar 5 baris dari loket, ada pengumuman tiket untuk pagi hari tinggal 20 lembar.  Untunglah, setiba di depan loket kami dapat jatah terakhir.  3 lembar tiket (untuk anak gratis) dengan jadual masuk ke Palacio de Nazaries jam 13.30.  Benar itu tiket terakhir.  Tiket untuk saya dan istri diberi jadual 13.30, sementara tiket anak (yang gratis) ditulis 15.30!  Perlu diketahui, tiket masuk Alhambra memuat jadual kapan si pemegang tiket diperbolehkan masuk ke Palacio de Nazaries.  Slot ini berlaku 30 menit dari jadual yang tertera dalam tiket.  Lebih dari itu si pemegang tiket disilakan balik kanan.  Tiket Alhambra ada 2 macam.  Untuk keseluruhan (taman Generalife dan Alcazaba) harganya E12.  Jika hanya masuk Generalife harganya E6.
Meski saya lihat ada rambu bertulisan ´no comida´ kali ini saya menawar.  Bukan untuk saya pribadi tapi demi anak.  Istri membawa serta makan siang anak.  Untunglah ini bukan pelanggaran mengingat di dalam (baik di Generalife maupun di Alcazaba) ada beberapa tempat di mana pengunjung diijinkan makan dan minum.  Berkat makan siang anak yang terbawa itulah kami bisa jalan sepuasnya hingga ke luar situs sekitar jam 15.45.  Tentang eloknya taman Generalife (dari kata Arab: Yanat al-Arief) dan dahsyatnya interior Alcazaba rasanya teman-teman bisa membacanya lebih lengkap di internet.
Sore ini, meski tahu tempatnya sudah tutup, saya paksakan jalan mencari Lavanderia di calle Paz.  Ini sekadar menggampangkan jika Senin (24/5) kami ke sana untuk ´lavar y secar´ (mencuci dan mengeringkan).  Sengaja saya tidak membawa kamera dan agaknya kesengajaan ini harus saya sesali.  Hanya dalam beberapa menit ada beberapa kejadian yang sungguh sayang tidak bisa terekam.  Tak sengaja saya berpapasan dengan demonstrasi.  Demo ini dikawal ketat policia.  Policia mengawali barisan dan mengunci barisan.  Mereka meneriakkan yel-yel yang tidak saya tangkap maknanya.  Spanduk yang mereka bawa bertulisan ´su sistema nuestra crisis´.  Agaknya ini tak beda dengan yang diomongkan kenalan saya kemarin bahwa di Spanyol saat ini agak banyak pengangguran terkait dengan krisis finansial global.
Setelah barisan demo berlalu saya belokkan langkah ke lorong di seputar katedral.  Di sana bertebaran penjual jasa kaligrafi.  Tergelar lembar-lembar kertas bertulisan Arab dengan tulisan nama-nama Spanyol dalam Latin di bawahnya.  ´Tu nombre en Arab E2´ (nama Anda dalam Arab) begitu papan reklame yang terpasang di sana.  Saya jalan terus melewati deretan toko souvenir.  Begitu membelok, tepat di gerbang katedral, plaza (lapangan terbuka) penuh dengan orang-orang berbusana serba rapi.  Agaknya misa baru saja selesai (kata Indonesia ´misa´ itu import dari kata yang sama bunyi dan artinya dalam bahasa Spanyol).  Di pinggir plaza terparkir mobil berhiasan.  Apakah ada acara pemberkatan pengantin?  Kalau melihat taburan potongan kertas warna-warni di depan gerbang katedral sepertinya demikian.  Namun mengapa pasangan pengantin tidak segera muncul?
Barang 10-an menit menunggu tanpa hasil, alunan musik barang 1 blok dari plaza itu segera menarik perhatian.  Di sebuah plaza lain ada acara live music.  Acara itu diikuti oleh dansa-dansi utamanya oleh warga sepuh.  Sempat saya nikmati 4 lagu sebelum ke warnet untuk menulis email ini.  2 lagu pertama, dengan ciri bunyi akordeon yang menghentak, berirama Tango.  Tentu saja pasangan sepuh yang menarikannya tidak meliukkan badan sebagaimana yang dilakukan oleh Gabriella Anwar (bersama Al Pacion) dalam ´The Scent of Woman´.  Lagu ke-3 dan ke-4 yang lebih populer juga diikuti tak kalah semangatnya.
Salam dari Granada 22-Mayo-2009