Tag Archives: apa-itu-mrt

Residence Permit Belanda dan Paspor

Rekan2,

Saya mau tanya, adakah yg pernah punya pengalaman ketika mengurus visa UK di consulate general UK di Amsterdam (paspor ditaruh di consulate general untuk issue visa) dan pada saat paspor berada di konsulat, anda harus bepergian ke luar Belanda?

Statusnya pada saat itu anda punya residence permit (verblijf) Belanda. Apakah bisa dengan residence permit ini saja kita keluar Belanda untuk ke Antwerp (Belgium) atau Lille (Prancis)? ataukah harus membawa residence permit DAN paspor alias bawa kedua2nya? Bisa-kah surat keterangan dari konsulat (kalau dikasih) berperan sebagai pengganti paspor (in case emang butuh paspor)?

Ada bbrp teman yg bilang bawa dua2nya, ada bbrp teman jg yg bilang residence permit (verblijf) Belanda saja cukup untuk keluar Belanda, asalkan masih di Schengen country.

Dari orang IND (imigrasi belanda) dibilangin udah ga ada border control lagi, tp disuruh tanya ke konsulat UK. Ada rekan2 yg punya pengalaman spt ini? ketika paspor tidak ada, perlu ke luar Belanda (anda punya residence permit Belanda) hanya dengan verblijf saja dan ada pemeriksaan di border. Apakah yg akan terjadi? dibiarin saja, disuruh balik ke Belanda?

Thanks, Ronald

————————————

Kunjungi website IBP: http://www.indobackpacker.com

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

SPAMMING atau forwarding tidak diperkenankan. Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT.

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian yang perlu saja.

Cara mengatur keanggotaan di milis ini:

Mengirim email ke grup: indobackpacker@yahoogroups.com (moderasi penuh) Mengirim email kepada para Moderator/Owner: indobackpacker-owner@yahoogroups.com Satu email perhari: indobackpacker-digest@yahoogroups.com No-email/web only: indobackpacker-nomail@yahoogroups.com Berhenti dari milist kirim email kosong: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com Bergabung kembali ke milist kirim email kosong: indobackpacker-subscribe@yahoogroups.com

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings: Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email: indobackpacker-digest@yahoogroups.com indobackpacker-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

Gunung Besar / Halau-halau (Kalimantan)

Malam mas/mba…

jujur saya belum pernah ke gunung Besar itu.tp saya punya kenalan seorang guide di Loksado yg sering memandu turis asing ke gunung itu. namanya Pak amat. telp nya 081348766573. harga guide tergantung nego sama beliau..bilang aja rekomendasi dari saya.

kalo gak salah Gunung Besar/Halau-halau ada di kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel. tiap agustusan, biasanya anak2 mapala seluruh Kalsel dan luar Kalsel akan mengadakan pendakian kesana…

saya pernah liat foto2 nya, dari puncak Gunung Besar itu, kawasan pegunungan Meratus, Kalsel sangat jelas terhampar luas…view nya bagus banget..

ini link foto nya :

http://farm5.static.flickr.com/4147/4993033918_843272d9d8.jpg

salam

Nasrudin Ansori http://kalimantanku.blogspot.com “amazing Kalimantan”

— In indobackpacker@yahoogroups.com, “gunungbagging” wrote: > > Selamat pagi > Ada seseorang yang sudah naik ke puncak Gunung Besar (1892mdpl) di Kalimantan Selatan? Ada informasi tentang rute pendakian dan pemandu? > Makasi banyak > Dan > danpquinn AT googlemail DOT com > www.gunungbagging.com >

————————————

Kunjungi website IBP: http://www.indobackpacker.com

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

SPAMMING atau forwarding tidak diperkenankan. Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT.

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian yang perlu saja.

Cara mengatur keanggotaan di milis ini:

Mengirim email ke grup: indobackpacker@yahoogroups.com (moderasi penuh) Mengirim email kepada para Moderator/Owner: indobackpacker-owner@yahoogroups.com Satu email perhari: indobackpacker-digest@yahoogroups.com No-email/web only: indobackpacker-nomail@yahoogroups.com Berhenti dari milist kirim email kosong: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com Bergabung kembali ke milist kirim email kosong: indobackpacker-subscribe@yahoogroups.com

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings: Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email: indobackpacker-digest@yahoogroups.com indobackpacker-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

nginep bandara hongkong

Teman2, mhn infonya donk : 1. Di airport hongkong boleh tidur pake sleeping bag gk? 2. Ada yg tau t4 penitipan koper/ransel di macau?

Thx b4

Rusanto

Hotel/penginapan di Klaten

Bookmark this category
Hallo Semua,

Mohon bantuan untuk info hotel or penginapan di Klaten, yang penting bersih. Kalau punya nama en no telponnya, please send to my email address.

Oya, kalau ada makanan yg wajib dicoba, juga boleh……………….. hehehe, ayam panggang Klaten kayaknya terkenal ya??? Dimana yang paling uinuk nya??? Thanks berats buat semua.

Selamat jalan2.

Mbak Edith

Eurafrika

Kebetulan atau tidak, 3 kali final Piala Champion terjadi pada saat saya jalan-jalan.  Semalam (27/5), menonton potongan pertandingan Barcelona – MU bersama puluhan orang di sebuah penginapan di Chefchaouen (baca: sefsawen) adalah sungguh pengalaman baru.  Saat gol pertama Barcelona terjadi saya yang lagi jalan di Plaza Uta el-Hammam (pusat kota lama Chefchaouen) hanya mendengar sorak-sorai membahana.  Yang agak mengherankan, hampir di setiap kerumunan sikap penonton dengan menyolok berpihak ke Barcelona.  Adakah lantaran adanya beberapa pemain Afrika (Eto’o, Tauore) terselip di tim asal Catalonia itu?
Saat kembali ke penginapan, situasi penonton tidak berubah.  Mayoritas suportadores Barcelona kecuali, tentu saja, beberapa backpacker asal Inggris.  Di akhir pertandingan semuanya jadi jelas berkat keterangan pegawai penginapan.  Katanya, “Dua tahun lalu presiden Barcelona berkunjung ke sini.  Mereka membangun banyak fasilitas untuk menarik pelancong.  Benar bahwa Maroko bagian dari Franco-African (negara Afrika yang memakai Francais sebagai bahasa kedua), tetapi kami, orang-orang Berber dari Chefchaouen, seperti didiskriminasi.  Kami bisa berbahasa Perancis tetapi lebih suka memakai bahasa Spanyol.  Jika kami menonton bola, siaran yang kami lihat lebih banyak La Liga.  Lihat, sebentar lagi orang-orang akan berpesta.”  Pagi tadi saat pertama kali bersua, pegawai tadi bilang, “orang-orang di cafe …. (saya lupa nama yang ia sebut) memotong 3 kambing.”
Pilihan berbahasa Spanyol dan dukungan pada Barcelona itu bisa dianggap sebagai anomali dari rumusan ‘jarak geografi tidak sebanding dengan jarak kultural’.  Eropa – Afrika hanya terpisah 13km.  Tetapi selat sempit yang bisa dilayari dengan barco rapido (kapal cepat) dalam 35 menit itu ternyata memisahkan hal-hal yang amat kontras.  Ini bukan hanya dalam hal-hal mendasar seperti agama, budaya, perilaku tetapi juga dalam hal (setidaknya dalam pikiran saya) semestinya universal.  Salah satu contohnya adalah keyboard komputer.  Di Spanyol keyboard yang ada di warnet susunannya sama dengan yang biasa saya pakai di rumah.  Di Tanger, keyboard yang saya pakai demikian berbeda.  Letak huruh a, q, m, w nya diubah.  Waktu pertama mencoba menulis cepat, yang tampil di layar seperti transliterasi aksara Jawi (Arab gundul) karena tanpa vokal … he-he.  Tak ada pilihan di luar menulis sembari memelototi papan kunci.
Malam ini adalah malam ketiga kami di Maroko.  Malam pertama kami lewatkan di Tanger, sementara kemarin dan malam ini di kota kecil di lereng Gunung Rif yang kerap dianggap kota tercantik di Maroko.  Ketika meninggalkan Granada sebenarnya kami ingin menyeberang lewat Algeciras.  Kebetulan di terminal bis Algeciras juga ada loket penjualan tiket penyeberangan.  Pejualnya bilang bahwa kapal terdekat yang akan bertolak dari Algeciras hanya kapal biasa yang perlu waktu sekitar 2,5 jam.  Lantaran kapal cepat terdekat hanya bertolak dari Tarifa, terpaksalah rute perjalanan saya beririsan dengan kisan Santiago, bocah pengembala asal Andalusia dalam cerita Paulo Coelho.  Punah pula harapan untuk melihat dari dekat bukit karang Gibraltar yang oleh Plato disebut pilar-pilar Hercules yang memandu jalan ke benua Atlantis.
Selat sempit (yang dulunya bendungan alam dan retakan bendungan itu menjadi penyebab banjir besar yang diabadikan dalam kitab-kitab suci agama samawi) itu berombak besar.  Di tengah kapal yang bergoyang ritmis penumpang antri berbaris untuk mencapai meja polisi imigrasi Maroko.  Sesampai di Tanger, ucapan polisi pemeriksa di pintu dermaga ‘Welcome to Africa’ bisa diartikan beraneka-rupa.  Waktu Maroko ternyata 2 jam lebih lambat dari waktu Spanyol.  Letak Tanger yang di pebukitan sebenarnya mejanjikan panorama unik.  Tapi ini bukan Eropa yang serba bersih dan gemerlap.  Tanger, kota yang melahirkan pengelana Ibnu Batuta, tidak seromantis yang digambarkan dalam buku panduan.
Jika Tanger terhitung besar dan bising, Chefchaoun seperti kebalikannya.  Kota berpenduduk 45 ribu orang ini sangat tenang dan aman.  Letaknya yang di lereng gunung mengingatkan pada Batu dan Dieng.  Pusat kotanya, meski seperti kota kuno lainnya yang lorong-lorongnya membentuk labirin, tidak menyebabkan pengunjung hilang orientasi.  Di lorong-lorong itu hampir semua bangunan dibalut warna biru-putih.  Jika dilihat dari puncak al kasaba (benteng kuno yang ada di pusat kota lama) panoramanya mengingatkan pada Santorini baik dari prototipe rumah maupun warna-warninya.  Bedanya hanya di sini jauh dari laut.  Yang agak di luar dugaan biru di Chefchaouen itu warna khas Yahudi!  Ratusan orang Yahudi setiap tahun rutin mendatangi Chafchaouen awal Mei.  Mereka malakukan perjalanan karavan 4-5 hari untuk menziarahi makam Rabbi Amrane ben Diwan.
Chaouen artinya puncak.  Chaouen itu nama asli saat kota didirikan Moulay Ali ben Rachid pada tahun 1471.  Chaouen berkembang pesat menyusul datangnya pengungsi muslim dan yahudi dari Granada.  Para pengungsi itulah yang hingga kini mewariskan aroma Andalusia pada wajah kota.  Sejak 1975 pemerintah Maroko menetapkan nama baru Chefchaouen (yang berarti memandang ke puncak) namun nama lama Chaouen tak kunjung dilupakan.
Salam dari Chefchaouen 28-Mei-2009
New Email names for you! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/