Dear teman-teman Indobackpackers,
Lebaran mungkin diasosiasikan sebagai upaya untuk pulang kampung. Terlepas dari kondisi transportasi di Indonesia, mudik adalah ritual perjalanan yang dilakukan entah dengan motivasi pribadi, agama, sosial ataupun sekedar memanfaatkan libur panjang (eh sekalian memperpanjang libur dengan alasan yang tepat).
Mungkin teman-teman bisa berbagi disini mudik tahun ini ataupun pengalaman mudik dan side-trip serta suka duka melampaui migrasi jutaan manusia. Entah dengan bis, kereta, pesawat, ferry, sampan, perahu, truk, road trip pake motor/harley/sepeda, numpang orang, travel, nyewa ataupun cukup ngendon di Jakarta sembari jaga gawang.
Perlukah kita mudik tiap tahun? Benarkah transportasi yang jelek dan mahal mematahkan semangat pulkam? Apakah teman-teman memilih backpacking non pulkam ketimbang menghadapi keribetan perjalanan di tanah air? Ataukah liburan dengan tinggal di hotel karena tidak ada pembantu?
Catatan: trend untuk memilih liburan karena tidak ada pembantu saya baca di artikel lama disini Jakarta Journal: http://www.nytimes.com/2009/09/28/world/asia/28jakarta.html
Pendapat, sharing, curhat, curcol tapi sopan silakan. Mohon maaf lahir dan batin.
Salam, Ambar
[Non-text portions of this message have been removed]