Tag Archives: backpacker-ke-borobudur

Advanture di “jurasic park” (4/6)

“gimana puas lihat komodo”, sapa Kaptain Idrus. Wah…sangat puas. Ngga hanya lihat komodo tapi juga view-nya cakep. Ngga nyangka ya bisa lihat view cakep begini. “nanti akan lihat pemandangan bagus lagi dari pulau Komodo, ” kata Kaptain Idrus setelah mendengar serunya celotehan ku. Oya…? let’s go Kap, kataku sudah ngga sabaran.

Karena tadi hanya sarapan roti, di meja kami sudah tersedia santap pagi yang sebenarnya. Lumayan indome panas fresh from the oven. Pak Idrus segera menyalakan mesin kapal. Melanjutkan perjalanan menuju Pulau Komodo. Rencanan mampir untuk snorkling di Pantai Merah.

Perjalanan menuju lokasi sekitar 2 jam-an. Cuaca cerah, ombak tenang. Pasti tidak banyak goyangan. Sepanjang perjalanan kami mendapat suguhan landscape yang menurut ku sangat indah. Jejeran bukit-bukti savanah dengan berbagai bentuk, membangun corak artistik. Warna kuning, ke-emas-emas-an, di tambah lagi pesona biru laut Flores, adalah sejuta pesona yang aku jumpai sepanjang perjalanan. Seakan sayang melewatkan setiap jengkal pesona tanpa merekam di kamera. Pasti-nya juga menguras banyak memori. Ngga apa-apa.space memori masih banyak.

Pantai Merah

Kami tiba di Pantai Merah. Nama populernya Pink Beach. Di beberapa milis pernah ada postingan tentang pantai ini. Di namakan begitu karena butir pasir berwarna kemerah-merah-an. Memang terkadang karena pancaran terik matahari warna merah kurang jelas terlihat. Di saat tertentu terutama menjelang sore baru bisa kelihatan.

Keunikannya termasuk langka. Di dunia masih bisa di hitung pake jari. Berarti di di lingkungan “jurasiic park” ini sudah menemukan 2 kelangkaan. Pertama, Ora sebagai mahluk berstatus purba. Kedua, pantai merah ini. Oooo…beruntung sekali aku bisa disini.

Semua kapal tidak bisa merapat. Harus buang sauh sekitar 300 meter dari tepi pantai. Karena di sekeliling pantai terdapat sejumlah terumbu karang. Ini aset yang tidak boleh di rusak. Karenanya untuk mengenali letak Pantai Merah yang agak terpencil, menjorok ke teluk, cukup mudah. Lihat saja kapal-kapal yang parkir. Pasti di situlah letaknya.

Melihat terumbu karang yang masih segar, laut bening, rasanya sudah ngga sabaran untuk segera nyebur. Nanti dulu tunggu kapal berhenti. Saat parkir tidak boleh buang jangkar.

Begitu dapat aba-aba aman, fin/kaki katak sudah terpasang, masker sudah menutup mata, tanpa buang waktu lagi…byur… Surprise pertama begitu menyentuh air bukan karena rasanya asin, tapi airnya itu lho. Dingiiiiin, segaaaaar…

Ngaku aja sejak tadi pagi belum mandi. Sayang air tawarnya meski persediaan berlimpa dan di kapal bisa mandi. Rencananya memang di Pink Beach ini sekalian mandi pagi hahaha…

Untuk kepraktisan perlengkapan snorkling bisa minta di sediakan kepada awak kapal sebelum berangkat. Tentu sewa dan ngga gratis. Tega juga kalau nego menjadi satu paket dengan harga kapal. Meski kalau mau juga bisa.

Bagi yang ngga bisa renang, duch sayang banget ya ngga nyemplung. Lah kalau takut bagaimana? Simpan dulu rasa takut. Yang takut tenggelam, kedalamannya hanya sekitar 5 meter. Lagipula ada pelampung yang menjamin tidak akan hanyut. Masih takut juga, minta di dampingi awak kapal untuk jaga. Pasti mereka mau.

Di spot ini memang cocok untuk snorkling. Untuk diving juga bisa. Malah sudah menjadi spot diving populer. Ragam terumbu karang yang masih sehat. Warna-warni lagi. Ikan-ikan kecil seliweran. Cuek, seakan tidak merasa terganggu dengan kehadiran manusia. Kalau jeli bisa melihat Scorpion fish dan ikan-ikan kecil lain yang bentuknya lucu, warna-warni juga. Melihat kondisi begini jangan sekali-kali terpikir untuk ngambil karang atau comot se-ekor ikan pun.

Asyik snorkling mana lengkap kalau ngga nginjak pantai. Kayuh fin santai dan tenang. Berenang pelan-pelan menuju pantai. Sudah menjadi pemandangan biasa banyak bule-bule berjemur. Ada juga penjaga-nya. Entah petugas resmi atau warga setempat. Mereka mengawasi jangan sampai ada yang mencemari. Jangankan mengambil karang, mengambil pasir walau segenggam pun dilarang.

Dari pantai kembali ke kapal harus snorkling. Jangan menunggu jemputan kapal kecil. Kayuh kembali fin perlahan-lahan. Arahkan ke kapal. Geli juga sempat nyasar naik ke kapal lain kalau tidak panggil awak kapal. Lah kapal yang parkir lumayan banyak, gimana ngga mau nyasar. Ah itu karena ngga konsen aja sampai keliru mengenali kapal sendiri…hahaha….

Menuju Loh Liang

Kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pulau Komodo. Sebenarnya Pink Beach sudah berada di pulau Komodo. Sebagai gerbang masuk yang sudah tersedia dermaga melalui Loh Loang. Jaraknya sekitar sejam perjalanan.

Di perjalanan kami melihat sebuah perkampungan. Namanya Perkampungan Komodo. Penduduk asli setempat percaya nenek moyangnya masih satu saudara dengan satwa Komodo. Lho kog, gimana logikanya. Entah lah. Sulit di jelaskan. Aku hanya manggut-manggut heran di cerita-in begitu.

Yang menarik, cerita awak kapal, suatu hari penguasa Orde Baru berkunjung kesini. Tujuannya pasti melihat Komodo. Entah apa tujuan dan maksudnya, warga kampung Komodo harus menyingkir sementara. Anehnya saat sang penguasa datang tidak satu pun Ora yang di temukan. Padahal populasinya lebih banyak di banding di Pulau Rinca. Bisa dibayangkan para ajudan, pejabat setempat kalang kabut mencari Ora

Barangkali karena takut lalu sembunyi sama sang penguasa, sahut ku merespon cerita itu. Benar atau tidak kisah ini aku menangkap moral story-nya. Barangkali menunjukkan ke-erat-an pertalian antara warga setempat dengan Ora. Dampak pengusiran, kalau memang cerita itu benar, sang Ora “balas dendam” sengaja ngga mau muncul….hahahaha….

Teringat informasi beberapa waktu kalau di TNK ini ada tambang emas. Untuk meng-eksplorasinya sejumlah Ora di-ungsi-kan ke pulau lain. Berita ini sempat ramai di media massa. Mudah-mudahan hanya isu tidak benar. Jangan sampai lingkungan indah ini jadi rusak karena tambang. Meski alasan rupiah masih memikat, diperlukan setiap orang.

Yeee…kenapa tiba-tiba jadi geram begini ya. Ngapain juga mikirin yang begitu-an. Itu mah urusan para elite politik dan birokrat. Mengerti logika dagang walau tidak bisa di terima, menjual pesona alam seperti di TNK nilai rupiah ngga sebanding misalnya dengan menjual hasil tambang. Dalam hati hanya bisa mengutuk seandainya benar mahluk purba, pesona alam disini harus di cemari dengan beberapa gepok rupiah.

Jalur menuju Borobudur dari Yogya

dear IBP

mohon informasinya juga dong untuk 1. rute bis dari jogja ke candi Borobudur 2. penginapan / homestay di dekat candi borobudur 3. APakah jembatan yang menuju ke Magelang masih terputus atw ada alternatif jalan lainnya

Regards Uci duck Himura

membagi 2 trip

dear all,

halo salam kenal.. saya interest u/ jalan2 mumpung punya waktu luang, tapi minim informasi dan bingung membaginya ke dalam 2 trip. beberapa pilihan daerah yang ingin saya kunjungi: palembang, belitung, makassar, denpasar, surabaya, malang, kediri. homebase saya di bandung. kira-kira saya harus memulainya dari mana dulu ya, kalau saya membagi kota2 tersebut dalam 2 kali trip? Untuk angkutan yang mur-mer juga dipertimbangkan. Waktu untuk jalan-jalan ke daerah itu kira2 10 hari sampai 2 minggu. Kalau ada info untuk mengunjungi kota-kota lain yang mungkin berdekatan dengan kota2 di atas, boleh juga,,[?] Dan seperti biasa mohon informasinya u/ penginapan yang murah+aman+bersih dan tempat wisata di daerah tersebut.

many thanks -meniek-

[Non-text portions of this message have been removed]

Lebaran di Pulau Seribu

Saya dan keluarga berencana berlebaran bebas macet ditahun ini, dan pilihan dijatuhkan ke kepulauan seribu, kira2 dr rekan2 di milis ini Άda kah yang punya info atau pengalaman berlebaran di Kepulauan Seribu? Kira2 enaknya ke pulau yang mana ya? Kalau ada yang punya CP-nya juga kami akan merasa sangat terbantu.

Terima kasih atas bantuan teman-teman.

Salam Ratu

tentang Kupang

Dear BackPakers,

Dalam waktu dekat ini saya ada rencana untuk ke Kupang. Mungkin ada BP’ers yg pernah kesana atau yang dari sana. Saya ingin tau kehidupan seperti apa, meliputi Kota, budaya, biaya hidup, respon masrakat terhadap pendatang, dll.

Info tentang Kupang ini akan sangat berarti bagi saya,

Terimakasih banyak.

– Best Regards,

Mohammad Nur Hasan

[Non-text portions of this message have been removed]