Posts Tagged ‘backpacker-ke-manokwari’

Cari teman jalan ke Apo Kayan

Monday, March 28th, 2011

Written by:

Dear tmn2 IBP

Saya kepingin banget jalan ke apo kayan (dataran tinggi kayan) hulu sungai kayan, taman nasional kayan mentarang kaltim. Hanya saja belum ada temannya. Apabila ada 3 orang yang mau join saya akan merealisasikan rencana ini. Pengennya tgl 21-25 april. Starting dan ending point dari bandara temindung samarinda, kebetulan ada flight ke long ampung yang dilayani susi air dan disubsidi, PP kenanya 560.000 flat. Kalau saya jalan sendiri terlalu berat di charter ketinting di sana. Kira2 apakah ada teman yang mau diajak jalan bareng? Kalau ada mohon kiranya bisa japri saya untuk detail itenary nya. Sedikit sekali yang pernah menyambangi dataran tinggi apo kayan ini krn aksesnya mmg sulit sekali. 3.5 hari disana memang tidak banyak yang bisa dieksplore, tapi paling tidak kita sudah bisa melihat orang dayak pedalaman, berperahu melawan arus ke arah hulu, melihat jeram2 di sungai kayan dan air terjun, dan lamin2 yang masih banyak disana. Saya tunggu japrinya.

Salam Amsi

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Mengatasi rasa takut akan backpacking pertama kali

Friday, June 18th, 2010

Written by:

Nimbrung yah, soalnya diskusinya menarik

Backpacking sendiri itu sama menyenangkannya menurut saya dengan backpacking rame-rame dengan teman. Hanya saja tingkat adventurousnya yang berbeda. Backpacking sendiri benar lebih fleksibel dan free. Saya pikir ini saat yang bagus untuk kita mengeksplor diri kita sendiri.

Saya pertama melancong sendiri ke LN umur 21, excited! Agak deg-degan (beda definisi dengan takut) karena yang akan dikunjungi US, takut salah naik pesawat pas transit, takut ditanya macem-macem pas di imigrasi. Walaupun akhirnya lancar-lancar aja. Tentunya kalau kita sudah menggali informasi sebanyak-banyaknya hal-hal yang tadinya menurut kita sulit atau kelihatannya sulit dan nggak pasti Insya Allah bakal tercover. Karena katanya takut itu kan muncul kalau kita berada di dalam situasi yang nggak menentu / kita kuasai. Itu baru waktu melancong. Waktu beneran backpack sendiri ke Australi lebih deg-degan lagi (tanpa mengurangi rasa excited). Saya hanya diberi referensi dari seorang teman baik untuk menginap di rumah teman baiknya teman baik saya tadi, lalu begitu seterusnya waktu saya berpindah kota dari Adelaide ke Mildura, lalu dari Mildura ke Townsville, Townsville ke Magnetic Island. Semua hanya memberi referensi teman-teman baik mereka yang rumahnya bisa saya inapi (prinsip CS walaupun saya bukan komunitas tsb). Menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang orang-orang tersebut kemudian memberi kabar kepada teman baik saya di tanah air mengenai siapa-siapa saja yang akan saya inapi rumahnya dan kota-kota apa saja akan saya tuju berikutnya adalah yang biasa saya lakukan untuk mengantisipasi kemungkinan hal-hal buruk yang bisa terjadi. (Sebenernya saya cuma takut satu hal; takut ngerepotin orang karena makan saya banyak, hehe)

Untuk urusan sistim transportasi biasanya saya sudah search terlebih dahulu tentang ini, jadi begitu disana sudah nggak canggung lagi dan nggak khawatir ataupun was-was dan takut salah jurusan. Malah saya kadang lebih was-was dan jengkel kalo naik bis AKAP di negri sendiri. Eh tapi sebenernya kalo nyasar itu semakin seru loh, asal kita berbekal peta, nyasar-nyasar sedikit nggak apa-apalah jadi lebih tau banyak ketimbang jalannya mulus-mulus aja. Walaupun begitu pengalaman hampir ketinggalan pesawat dari Perth ke Jakarta nggak akan pernah saya lupakan. Awalnya dari hal sederhana saja, waktu check in saya sudah mepet sehingga membuat saya terburu-buru masuk waiting room, karena buru-buru saya pun menabrak orang (laki-laki kaukasia berbadan tegap), semua barang yang saya pegang jatuh berantakan (termasuk pasport) begitu pula dengan dia. Tanpa ba-bi-bu, selesai membereskan barang-barang saya pun ngacir ke loket imigrasi. Antrian udah panjang dan waktu makin mepet, begitu giliran saya hampir tiba, saya pun baru sadar kalo pasport yang saya pegang bukan punya saya, tapi punya laki-laki tadi…oh well, such a nice experience! (sampe harus nungguin orang itu di depan WC cowok)

Ketakutan berada di tengah keramaian dan ditipu orang pernah saya alami juga tapi berbekal dari pengalaman temen, saya hampir nggak pernah pasang muka bingung dan clingak clinguk. Ada baiknya bersikap seolah-olah seperti orang lokal asli, pasang muka ‘tahu segalanya’ padahal sebenernya bingung. Kalo mau nanya agak menjauh dulu dari keramaian baru deh pilih-pilih orang yang mau ditanya. Disinilah pentingnya informasi, jangan sampe bener-bener nggak tau apa-apa

Semoga bermanfaat

Gita — In indobackpacker@yahoogroups.com, yc1usb@… wrote: > > Dear teman-teman semua > > Wajar saja, kalo backpacking pertama kali ada rasa takut, cemas dsb. Ini mungkin juga karena menanti hari H nya hari demi hari. > Sebenarnya kalo dulu, memang akan sulit mencari informasi tentang daerah/negara yang dituju. Tapi kini, semua informasi tujuan dengan mudah bisa didapatkan hanya bertanya kepada “mbah Google” yg serba tau. > > Pengalaman pribadi waktu jalan sendiri pertama kali, itu kira2 20 tahun yg lalu memang ada juga rasa takut akan segalanya, mis bahasa, penginapan, bekal uang. Waktu itu, masih belum punya kartu kredit, jadi harus pintar membatasi pengeluaran dana. Saya sangat ingin mencoba sarana transport negara yang saya kunjungi. Jadi lebih sering nyasar, tapi inilah jadi “jalan-jalan” yang sebenarnya. > > Saran saya, mulailah travelling jarak dekat dulu (mis negara Asean). Ini untuk melatih rasa PD sehingga nanti punya pengalaman awal yang baik. Oh ya, saya dulu menyimpan uang dan dokumen penting di dalam kantong “rahasia” di dalam celana panjang. Jadi tetap aman saja, walau tidur dalam kamar yang sharing sekalipun. Ada baiknya mengambil kartu nama hotel/hostel tempat anda menginap untuk disimpan. Dalam keadaan darurat bisa tunjukan ke sopir taxi kalo tersesat “parah” untuk menghindari kendala bahasa. > > Cuma ini yang bisa saya sharing. Terima kasih > > Salam > Hendri Wijaya > Sent from my BlackBerry0…3 > powered by Sinyal Kuat INDOSAT >

[indobackpacker] semalam di singapore

Thursday, January 14th, 2010

Written by:

Bookmark this category
Nambahin aja,

Bisa juga ke Mustafa Center yang buka 24 jam…..pernah kesana jam 10 malam muter2 milih2 ga inget kalo udah jam 2.30 pagi hehehehe……

Ardi

— Pada Kam, 14/1/10, kurniawati setyaningrum menulis:

Dari: kurniawati setyaningrum Judul: [indobackpacker] semalam di singapore Kepada: indobackpacker@yahoogroups.com Tanggal: Kamis, 14 Januari, 2010, 10:35 AM