Tag Archives: backpacker-ke-pulau-pari

Traveling saat bulan Puasa

Hallo IBPers…mungkin pernah ada topik seperti ini tapi mungkin ada new member yg pernah punya pengalaman Traveling saat puasa. Walaupun di sebut sebagai Musafir yg tidak di wajibkan puasa tapi tetep berpuasa.

Saya yakin pasti banyak yang punya cerita seru yang bisa di sharing disini….Indahnya berbagi

Happy traveling

Thejapra

“the more you give is the more you get”

[Non-text portions of this message have been removed]

Paket Wisata Pulau Pari 3D 2N

Haii Para traveller..

Bentar Lagi bulai Mai ada loongweekend.
buat yang belum punya acara ayoo ambil cuti kerja, ajak keluarga, teman dan kekasih anda.
Yook gabung trip kepulau pari kepulauan seribu DKI Jakarta.

Kita bisa Snorkling melihat ikan-ikan & terumbu karang yang cantik cantik.
Kita juga dapat menikmati Pantai Pasir Perawan yg terkenal dengan ke elokan pantai pasir putihnya serta air yang jernih.

Dengan Fasilitas Paket

1. Kapal Perahu Penyebrangan Via Dermaga Rawa Saban (Belakang Bandara Soeta) PP
2. Pinginapan Wisma LIPI or Home Stay (AC)
3. Welcome Drink
4. 6x makan (makan siang, malam dan sarapan pagi)
5. Andong (alat angkut)
6. Alat Snorkling lengkap
7. Kapal snorkling tradisional
8. Jaket Pelampung
9. barbeque (prasmanan)
10. guide darat+laut
11. foto bawah air
12. mancing sederhana

Jangan Ketinggalan ya
Ayoo Gabung Kesempatan terbatas

kontak kami

ekky Spot Travel
08170009089 pin : 262A6E50

Sharing Pulau Pari

Halo teman-teman IBP, mau share sedikit nih tentang Pulau Pari.

 

Hari Sabtu-Minggu lalu, saya dan 2 orang teman pergi ke pulau pari menyusul 6 orang teman yang sudah lebih dulu ada di sana dari hari Jumat. Menurut info yang kami dapat untuk menuju ke Pulau Pari bisa dituju dari 2 tempat yaitu Marina, Ancol dan Muara Saban, Tangerang. Kami berangkat dari Marina Ancol. Ternyata memang benar kalau mau ke pulau seribu dari marina ancol ketika weekend harus dari pagi-pagi mengantri agar dapat tiket. 2 orang teman saya sudah mengantri dari jam 1 pagi dan ternyata memang sudah banyak yang mengantri di jam itu. Cara antrinya pun bukan kita berdiri, tetapi cukup menaruh tas apapun dan menempelkan kertas dengan tulisan nama kita di tas tersebut lalu oleh Satpam yang berjaga disana nama kita ditulis berdasarkan urutan.

 

Loket di marina baru dibuka jam 7 pagi, setelah petugasnya datang mereka memanggil satu persatu nama kita. Tiket untuk ke Pulau Pari hanya Rp. 25.000. Rute kapal yang kami tumpangi adalah Marina-Untung Jawa-Pari-Tidung. Tepat jam 8 kami berangkat dan tiba disana sekitar jam 9. Sepi itulah kata yang terlintas di pikiran saya begitu sampai. Suasana disana sangat jauh berbeda dibandingkan dengan P.Tidung. Kawasan ini memang lebih banyak dikenal oleh orang-orang sebagai tempat untuk memancing.

 

6 orang teman saya yang sudah ada di P.Pari dari hari Jumat punya kisah sendiri untuk sampai disana. Mereka naik kapal dari Muara Angke ke Tidung, karena ada informasi dari Tidung ada kapal yang menuju P.Pari. Ternyata setelah sampai di Tidung tidak ada angkutan kapal yang dimaksud melainkan harus sewa Rp. 250rb.

 

Tidak banyak yang bisa kami lakukan di sana kecuali bersantai di pinggir pantai. Karena memang sebenarnya suasana sepi dan santai itulah yang kami cari, menghilang sejenak dari kebisingan. Di hari Sabtu kami memutuskan untuk snorkeling dan menyewa kapal dengan harga Rp. 250rb untuk ke P.Payung. Di sana ada yang menyewakan alat-alat snorkeling tapi harus konfirmasi dahulu, karena alat-alat snorkeling harus diambil dari Tidung. Kami tdak sewa karena kami bawa sendiri dari Jakarta.

 

Begitu sampai di P.Payung sudah ramai oleh orang-orang yang snorkeling. Ini kedua kalinya saya snorkeling disini dan kali ini saya benar-benar beruntung karena saya bisa melihat kawanan ikan yang sangat banyak dan besar-besar, sangat susah untuk menemukan kawanan ikan yang banyak di P.Payung. Sulit bagi saya untuk mencoba mengikuti karena mereka bergerak sangat cepat dan berpindah-pindah.

 

Selesai snorkeling kami kembali dan menumpang mandi di rumah Pak Udin. Beliau memang terkenal biasa memberikan jasa dan informasi yang dibutuhkan oleh orang-orang yang ingin pergi kesana. Dia bisa membantu untuk mencarikan penginapan di rumah warga, sewa kapal, pesan makanan, dll. Biaya sewa rumah warga sekitar Rp. 150rb permalam yang bisa dihuni 10-15 orang. Kebanyakan warga di sini adalah nelayan rumput laut. Kita bisa pesan sama nelayan yang ada di sana ikan maupun kerang untuk barbeque. Ikan-ikan yang ditangkap ukurannya lumayan besar.

 

Jam 6 sore ketika kami sampai dari P.Payung, tidak ada warga yang di luar rumah. Malam harinya kami camping di pinggir pantai. Dari semua bagian P.Pari pantai yang paling bagus untuk mendirikan tenda ada di dekat Kantor LIPI tepatnya di belakang halaman rumah Pak Satir (masih saudara dengan Pak Udin). Kantor LIPI di situ merupakan pusat konservasi terumbu karang. Karena hari libur tidak ada orang atau kegiatan apa pun di sana.

 

Keesokan paginya air laut surut dan saya bisa melihat hamparan pantai yang luas. Pulau pari memiliki pantai  yang sangat landai sejauh 1 km. Tingginya air hanya selutut sampai sepinggang orang dewasa setelah itu pantai langsung curam. Karena itu sulit untuk berenang. Pantainya sangat bersih, banyak sekali kepiting kecil dan keong laut, dan juga pohon bakau yang tumbuh di sekitar pantai itu. Dari pagi-siang hari kami hanya duduk santai dan tiduran di pinggir pantai sambil masak ala camper. Oh iya di hari pertama, kami disuguhi kepiting rebus oleh warga. Kepitingnya kecil tetapi banyak. Tidak ada wisatawan selain kami di pantai itu, sehingga kami serasa berada di pulau pribadi.

 

Jam 11 kami segera kembali ke rumah Pak Udin untuk bersiap-siap pulang karena kapal Kerapu tiba di P.Pari jam 12. Sebagai informasi untuk amannya sehari sebelumnya kita harus booking terlebih dahulu kepada petugas yang ada di dermaga berapa orang yang akan ke Marina, agar mereka bisa koordinasi dengan petugas yang ada di Tidung untuk menyiapkan tempat bagi penumpang yang akan naik dari P.Pari. Harga tiket dari P.Pari ke Marina Rp. 28rb.

 

Kekurangan dari P.Pari adalah tidak adanya penjual makanan jadi, warung-warung di sana hanya menjual makanan kecil, minuman, mie instant dan jual pulsa. Apabila kita tidak ingin repot masak sendiri ala camper kita bisa memesan makanan lewat pak Udin. Tidak ada peyewaan sepeda sehingga kemana-mana jalan kaki, tetapi P.Pari tidak begitu besar, sehingga enak untuk dikelilingi. Warga di sana sangat ramah sehingga membuat kami ingin kembali segera.

 

Demikian info tentang P.Pari, mudah-mudahan bisa menjadi referensi untuk teman-teman.

 

Salam

 

Navy CP: Pak Udin 081310137711

[Non-text portions of this message have been removed]

Petualangan ke Bromo

Dear temen-temen semua,

Mau bagi cerita perjalanan ke Bromo. Baru aja pulang dari Surabaya dan sempatin ke Bromo untuk pertama kalinya tanggal 23 Juli 2010.

Saya dan adik saya memulai petualangan dari Surabaya dengan berangkat dari Terminal Bungur Asih ke Probolinggo dengan bis Ladju tujuan Jember. Kami berangkat pukul 1650 dan tiba di terminal Bayu Angga, Probolinggo pukul 1930. Ternyata angkutan ke Cemara Lawang terakhir dari Probolinggo itu pukul 4 sore, info ini saya dapatkan dri ibu pemilik rumah makan dan para pengojek. Jadi buat para backpackers sebaiknya berangkat lebih pagian lagi supaya gak kerepotan cari angkutan ke Cemara Lawang. Angkutan ini di sebut Bison dan bisa ditemui di sebelah terminal. Jalan sedikit ke arah sebelah kanan ntar akan ketemu banyak tempat makan dan mobil mobil bison itu nongkrong di depan rumah-rumah makan tersebut.

Berhubung tibanya kemalaman di Probolinggo, waktu nongkrong makan di salah satu rumah makan, si Ibu pemilik rumah makan menyarankan kami untuk menginap di Probolinggo karena lebih aman. Tapi berhubung teman saya di Jakarta uda cerita kalo dia nanjak ke Bromo sekitar pukul 2 ke 3 untuk liat matahari terbit jadi saya pikir lebih baik berangkat malam itu juga. Angkutan ke Cemara Lawang paling pagi itu jam tengah 4 menurut para supir charter di depan rumah-rumah makan tersebut.

Kepikiran untuk tetep usaha cari angkutan ke Cemara Lawang malam itu juga, berhubung charter mobil mahal banget (ditawarkan 350 ribu sekali jalan) jadi saya nongkrong di jalan raya kali aja ada mobil yang lewat unt ke Cemara Lawang. Salah satu pemilik mobil yang saya hentikan menolak karena supir yang dari tadi nawarin mobilnya untuk di charter langsung bicara ke mobil itu sambil teriak BUKAN ke Bromo. Langsung deh mikir pasti pasti gak akan ada mobil di depan mobil-mobil charteran ini. Berpikir untuk jalan kaki lebih jauh dikit ke arah SPBU karena saya perhatikan akan lebih besar kemungkinannya untuk dapat tumpangan.

Puji Tuhan, si supir mobil charter tadi kasian kali ya ngeliat saya sendirian berhentiin mobil untuk cari tumpangan ke Cemara Lawang akhirnya dia bilang gini : mbak, mobil putih tadi mau ke cemara lawang juga tapi bayar 100.000 untuk berdua. Setelah saya pastiin bahwa harga tersebut sampai di tempat tujuan dan yakin dan percaya bahwa akan berjalan baik maklum saya gak tau lokasi dan jalan yang mau di tuju melewati hutan ada sedikit rasa was was karena saya perempuan dan adik saya masih umur 18 tahun yang belum pernah melakukan perjalanan senekat ini :P .

Jam menunjukkan pukul 2045 saat berangkat dari Probolinggo menuju Cemara Lawang. Mobil di kemudikan oleh Pak BUdi ditemani oleh istrinya yang bernama ibu Swasti. Setelah ngobrol-ngobrol ternyata Pak Budi merupakan ketua asosiasi Jeep di Bromo, beruntung deh dapat harga nego untuk berdua 150.000 termasuk karcis masuk karena harga umumnya di patok 90.000. Tiba di Cemara Lawang sekitar pukul 930, udara dingin langsung menusuk tulang membuat tubuh bergetar seketika..ampun dahhh..gak pernah ngerasain udara sedingin ini padahal uda pake jaket. Pak Budi langsung nunjukin penginapan harganya emang cuman 100.000 tapi bagiku tempatnya gak nyaman dan kamar mandinya jorok :D . Akhirnya setelah berunding dengan adikku dan berpikir bahwa akan naik ke Bromo jam 4 pagi, kami memutuskan untuk nongkrong di warung sampe pagi menjelang. Setelah di utarakan niat untuk nongkrong di warung aja, Si bapak langsung nawarin untuk nginap di rumahnya aja. Puji Tuhan, keberuntungan selalu aja ada mengiringi kami ;) . Malam itu kami menginap di rumah Pak Budi, udara bener-bener super dingin, 2 selimut yang diberikan pak Budi dan jaket yang dipakai gak mampu menahan rasa dinginnya udara. Waktu berjalan sangat lambat karena udara dingin menusuk tidak bisa membuat saya tidur terlelap apalagi saya lupa bawa kaos kaki…hiksss….

Pagi Jam 410 bersama dengan 2 orang bule dan 2 orang lokal yang semuanya kami berjumlah 6 orang berangkat ke Bromo. Sampai di bromo ternyata kami sudah kalah cepat dengan pengunjung-pengunjung lainnya. Sampai di Penatapan, sudah ada puluhan orang yang menanti datangnya matahari terbit. Saran saya datanglah lebih pagi sebelum jam 4 sudah tiba di penatapan supaya dapat posisi yang bagus untuk ngeliat matahari terbit.

Sungguh pemandangan yang sangat indah. Matahari bersinar indahnya pagi itu. Gak percuma perjalanan penuh perjuangan ke Bromo berhadiah pemandangan indah :)

Selesai dari Penatapan, kami dibawa ke padang pasir yang terdapat pura di tengah padang pasir tersebut, selain itu pemandangan lain yang disuguhkan adalah bukit bukit berjejer seperti membentuk setengah lingkaran menutupi padang pasir. Perjalanan selanjutnya menuju kawah dilakukan dengan berjalan kaki atau naik kuda. Naik kuda sampai dengan tangga kawah ditawarkan dengan membayar 100.000. Kami memilih berjalan kaki sampai ke kawah tersebut. Lumayan, perjalanan cukup melelahkan apalagi di perjalanan di tangga menuju kawah pake acara macet karena di area kawah sudah banyak orang berdiri untuk memandangai kawah. Bau belerang sudah terasa setelah menapaki setengah deretan tangga menuju kawah. Karena waktu terbatas, sampai di atas saya hanya menyempatkan waktu 5 menit untuk ngeliat bentuk kawah. Poto-poto sebentar turun deh. Rasa lelah yang menghampiri membuat kami memutuskan untuk naik kuda sampai perbatasan parkiran mobil dengan membayar 80.000 untuk dua kuda.

Perjalanan berakhir dengan menyisakan kenangan indah dalam ingatan kami ketika kami harus kembali ke Probolinggo menumpang angkutan dengan berbiaya 25.000 per orang.

Untuk mempermudah rekan-rekan backpacker berikut ringkasan biaya perjalanan :

- Bis Ladju Surabaya – Probolinggo : 20.000 – Angkutan umum dari Probolinggo Cemara Lawang : 25.000 – Jeep : 90.000 – Kuda : 100.00 (Lapangan Parkir sampai dengan tangga PP)

Salam,

Siscaria

[Non-text portions of this message have been removed]

Phuket trip 13-17maret

Bookmark this category
Ada yg rencana kesana di tanggal ini? Bisa contact saya di rudi.prasetia@gmail.com Siapa tau bisa have fun bareng Saya rencana kesana dgn 3 orang tmn kantor..

– Sent from my mobile device