Tag Archives: cara-mendapatkan-tiket-damri

Mimpi Indah Telah Berakhir

Aku percaya.sangat percaya Tuhan Maha Baik. Pertama, Tuhan tidak menghukum atas “kenakalan” ku menghindar dari anjuran dokter yang mengharuskan aku berobat/terbaring di Rumah sakit untuk menurunkan tensi yang melambung. Malah disana sekali aku mampir hanya untuk periksa tensi…eeee…sudah normal. Bukti kebaikan Tuhan. Entah nanti kalau sudah kembali, bakalan naik lagi sehubungan dengan berbagai stress dikerjaan.

Kedua. Percaya Tuhan tidak akan marah manakala aku enggan memberitahu kepada orang tua kemana aku “menghilang” selama beberapa hari. Tokh aku sudah berjanji akan kembali dalam kondisi utuh. Tidak bawa beban masalah karena bikin ulah disana.

Selama 5 hari 4 malam adalah sebuah anugerah. Hadiah di penghujung tahun. Gimana tidak mau dikatakan sebagai anugerah. Masih terbayang bagaimana rasa surprise merasakan suasana Pela Gandong baik di kota Ambon maupun khususnya di Saparua. Merasakan sendiri keramahtamahan yang sifatnya spontan dari warga yang aku jumpai. Bertanya kepada satu orang saat di bis Damri, yang jawab 3 orang. Driver Damri yang tidak mau terima tips meski ia sudah membantu ku. Ah…tega sekali diri ini kalau begitu mudah tuk melupakan. Tidak akan ku maafkan diri ini jika sampai melupakan itu.

Keamanan sudah pasti. Malah aku merasa fine-fine, merasa aman jalan malam-malam sendiri sambil nenteng kamera di sepanjang jalan. Menyewa becak keliling beberapa sudut kota sendirian saja di malam terakhir.

Sangat kontras dengan aktivitas di belantara beton kota besar Jakarta. Teringat bagaimana tidak sadar dan tidak sengaja aku saling bertatap muka dengan salah satu penumpang. Kalau di Jakarta sangatlah mungkin akan di tanya, “apa loe dari tadi lihat gue…? nantang ya…?”. Tetapi yang ku jumpai malah sebaliknya. Sapaan selamat pagi dari orang yang ku tatap dan perhatikan. Menanyakan dengan tutur kata yang halus, asal dari mana dan hendak kemana. Itulah awal perkenalan dengan Pak Ongen, warga Saparua. Yang sejak itu aku rajin sms untuk saling memberikan kabar.

Good Bye Paradise

Saat roda burung besi mendarat cukup keras di bandara Soekarno Hatta, lamunan kembali buyar. Aku sudah kembali lagi ke “sorga” semu bernama Jakarta. Ingin protes kenapa waktu berputar demikian cepat. Tetapi tetap bersyukur masih diberikan kesempatan menng-icip-i sebuah sorga yang tidak semu. Ah lebai….. Bodo amat dibilang begitu.

Terbiasa beberapa hari disana menggiring aku untuk bersikap ramah. Ku sapa Selamat siang dengan tutur kata sehalus mungkin saat membeli tiket bis Damri di bandara Soekarno hatta. Bukan balasan yang sama seperti di Ambon, melainkan “ada uang pas…? bayar uang pas aja…”. ooo Gitu. Demikian juga saat akan naik bis Damri, ku sapa kepada sang driver, Selamat Siang… Yang di sapa cuek. Hanya melongo dengan tatapan mata dingin.

Opppssss….baru sadar. Inilah kehidupan riil Jakarta. Seiring laju perjalanan bis menuju terminal Rawamangun, sulit tuk memejamkan mata meski rasa kantuk masih menyisakan. Seketika aku di-ingat-kan kembali. MIMPI INDAH SUDAH BERAKHIR. Kesejukan mata memandang laut biru sudah berganti pandangan belantara beton, lambang kemakmuran semu kota Jakarta. Good Bye Paradise. Pasti aku kangen kembali….

Selesai

Adolf