Tag Archives: diagram-titik

Menatap Pele di Kaliuea

Kalau anda pernah begitu terpesona dengan iklan pariwisata dan memutuskan ingin melakukan hal yang sama, anda ngga sendiri. Sayalah salah satu korbannya.

Iklan tsb adalah melihat dari dekat aliran lava gunung berapi Kilauea di Big Island, Hawai’i. Gambarannya romantis banget. Sejoli di atas perahu sekelas yacht dengan air laut nan tenang disaat temaram sunset. Kamera mengambil dari belakang, jadi siluet mereka terlihat jelas dengan aliran panas memerah lava di kejauhan. Nampak garang dengan view yang mungkin tak akan terlupakan. Siapa yang ngga ngiler?

Keputusan untuk mengunjungi Big Island sebenarnya dirancang jauh hari [1]. Tapi melihat lava secara live adalah persyaratan khusus. Hawaii tidak hanya pantai-bikini-surfing, tapi posisinya yang unik sebagai kepulauan aktif gunung api adalah sasaran yang paling diincar. Kalau anda penggemar batu alias geologi/geographi/vulkanologi disinilah tempat untuk memahami perilaku buncahan lava nan unik.

Lantas apa sih istimewanya si Kilauea (baca: Kila-u-we-ya) ini? Berbeda dengan Iceland ataupun Ring of Fire-nya Indonesia, Kilauea adalah salah satu titik magma yang terus menerus mengeluarkan lava sejak 1983. Meletus dan mengalir sejauh 11 km menuju lautan lepas. Dalam mitologi Hawaii, gunung Kilauea adalah rumah Pele, sang Dewa Gunung dimana ia berperang dengan Dewa Hujan Kamapua. Sang Dewa Hujan menantang Pele untuk membuat aliran lava dari tanah. Pertarungan berakhir imbang, ketika menyadari salah satu tidak ada artinya tanpa keberadaan yang lain. (kisah ini mengingatkan saya pada mitologi Yunani, Poseidon sang Dewa Laut dan Gempa).

Keistimewaan Kilauea tidak hanya sebagai salah satu gunung api paling aktif, tetapi lokasi dan sifat semburannya yang unik. Setiap gunung api di dunia ini mempunyai karakter letusan tersendiri. Ada yang menyembur luar biasa hingga ke angkasa, ataupun hanya meluber dengan tingkatan deposit yang berbeda. Membandingkan misalnya Gunung Pinatubo di Philippines [2] atau Gunung Merapi di Jogjakarta maka Kilauea tidak sedramatis itu. Tapi menyaksikan dari dekat kekuatan alam dengan mata kepala sendiri adalah bujukan manis yang sulit dielakkan.

Menuju Kilauea

Pilihan untuk melihat Kilauea ada beberapa. Lewat laut dengan perahu (berasa romantis, bisa dilakukan keluarga), lewat udara dengan helikopter (mahal di ongkos, lebih cepat dan nyaman) atau lewat darat dengan jalan kaki (murah meriah, tapi berbahaya karena letusannya). Sebagai catatan, aliran Kilauea saat ini sudah berada diluar Taman Nasional Gunung Api Hawaii (Hawai’i Volcanoes National Park). Jadi tur kesana hanya bisa dilakukan private, tidak bisa lewat penjaga Taman Nasional. [3]

Saya diperkenalkan dengan kapten Roy oleh pemilik rumah yang saya tinggali sementara di Kona, Big Island. Ia rupanya juga berpengalaman membawa photographers ataupun videographers untuk mengabadikan dari dekat letusan lava. Saya disarankan untuk melihat saat sunset ketimbang sunrise. [3] Faktor cahaya dan cuaca rupanya menjadi pertimbangan utama. Hari itu saya berasa seperti di iklan. Tapi tidak memakai yacht, cuma kapal cepat biasa.

Saya diminta standby di pantai Pohoiki, daerah Kalapana. Cuaca sore itu lumayan berawan, ombak terlihat sedikit ganas. Ini terlihat dari beberapa surfer di pantai yang mencobai sisi selatan. Kami diminta menunggu untuk sang Kapten mempersiapkan kapal. berikut konfigurasi. Dengan satu orang asisten, total hanya enam orang diatas kapal.

Pengalaman saya memotret objek bergerak diatas kapal tidak terlalu banyak. Saya putuskan dengan video saja. [4] Meski begitu piranti kamera kami bawa lengkap. Kami bergerak ketika hari masih terang sekitar pukul 430 sore. Kapten Roy menempatkan saya yang dianggap muda untuk berdiri saja. Seperti diduga, perjalanan hampir 30menit dengan kapal cepat tidaklah mulus. Saya bisa merasakan gelombang dan deraan. Rute yang dipakai adalah menyusuri pantai, lebih aman dan gelombang lebih mudah diatasi. Untung mabok laut bukan bawaan, tapi terpaksa saya akui dengan kapal nelayan biasa rasanya lebih nikmat.

Lebih indah dari iklan

Dari kejauhan saya bisa melihat asap membumbung tinggi. Rupanya view yang saya idamkan akan muncul sebentar lagi. Sebelumnya saya riset film dan photo tentang tempat ini, jadi ekpektasi rasanya terlalu tinggi. Tapi begitu melihat lava di depan saya, rasanya terpesona. Sampai memutar tombol ‘on’ pun tak sempat. Kilauan kemerahan, panas yang terasakan di muka menyadarkan saya ini adalah volcano aktif. Lelehannya membuncah, kadang meletup tak terkendali begitu bersentuhan dengan air laut. Suara yang menggema di bawah kapal, derakan lava yang membuncah dan menggelinding bisa terdengar jelas. Nyala makin terang begitu matahari bergeser ke peraduan. Saya putuskan berhenti mengambil gambar, dan terdiam terpaku. Biarlah saya menjadi saksi bisu, setiap detik, setiap letupan menyadarkan bahwa bumi ini tidaklah diam.

Kapten Roy membawa kami cukup dekat walau tidak sedekat kapal lain. Gelombang lokal yang diakibatkan letupan lava masuk laut cukup merepotkannya. Jika tidak berhati-hati, bagian bawah kapal bisa meleleh, ataupun kita sebagai penumpang terkena muncratan panas. Faktor kecepatan kapal juga jadi kunci agar kami bisa mengambil gambar dengan nyaman. Saya senang dengan safety yang diterapkan Kapten ini. Perjuangan dengan gelombang, angin lumayan kencang dan cahaya yang rendah membuat pemotretan lava dipenuhi faktor kesulitan.

Saya jadi ingat iklan pariwisata itu. Memang tidak setenang dan seromantis itu, tapi kedasyatan gunung api ini hanya bisa dirasakan ketika kita disana. Betul, saya adalah korban kesekian.

Video pendek di Kaliuea bisa dilihat di http://youtu.be/EqiTrN2Pukc

Catatan kaki: [1] Perjalanan saya ini sekitar Agustus tahun lalu (2010) mendarat di Kona, Big Island. Seperti namanya, Big Island adalah pulau terbesar di kepulauan Hawai’i.

[2] Sekilas photo perjalanan saya ke krater Gunung Pinatubo (2007) berikut deposit debu puluhan meter bisa dilihat disini: http://www.flickr.com//photos/ambarbriastuti/sets/72157603361698239/show/

[3] Hawai’i Volcanoes National Park hanya memperkenankan melihat krater Halema’uma’u yang juga stasiun pengamatan gunung api USGS ( http://hvo.wr.usgs.gov/kilauea/)

[4] Ada beberapa operator yang mengantar ke Kilauea, tapi hanya dua yang cukup aktif. Kapal dari Lava Roy (http://volcanooceanadventures.com/) ini tidak banyak mengangkut penumpang dan tidak terlalu ‘daredevil’ dalam perspektif saya. Ini penting dalam sisi keselamatan terutama karena saya bersama dengan orang sepuh.

[5] Cerita memotret ikan paus di lautan lepas di Monterey Bay, California US bisa dibaca di arsip milis Indobackpacker disini: Andai Saya Seperti Paikea http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/message/29175

* *

Salam, Ambar

Skype ambarbriastuti | Gtalk ambar.briastuti | Flickr ambarbriastuti Adventures. Backpacking. Photography.™

“…there is a difference between knowing the path and walking the path” -Morpheus

[Non-text portions of this message have been removed]