Tag Archives: esta-outdoorsport

Catatan Kecil Gebyar Wisata Nusantara 2011

- Dimana letak Taman Nasional Danau Sentarum…?

- Siak…ada dimana…? memang disana ada apa…?

- Kabupaten Kuantan Singingi….? wah baru dengar…

- Apa yang menarik di Kota Sungai Penuh…?

- Bontang…Tarakan…terkenal kota minyak…betul…tapi ternyata….

- Nusa Tenggara Barat…identik dengan Lombok…setuju…?

Bukan bermaksud mengajak kembali membuka buku pelajaran geografi. Kalau kita bicara tujuan wisata di Indonesia tidak sedikit yang pertama kali disebut adalah Bali. Kedua, ketiga dan seterusnya sebutlah Medan, Makassar, Lombok, dan seterusnya. Jujur apakah nama kota-kota di awal tulisan ini akan disebutkan seperti halnya menyebut Bali. Tidak perlu malu kalau mengatakan tidak.Tidak perlu malu mengatakan baru dengar sekarang. Atau rasa heran spontan, lho ada ya kota ini…..

Perhelatan Gebyar Wisata Nusantara (GWN)sudah berakhir Minggu, 29 Mei, kemarin. Entah siapa yang menyelenggarakan event yang dimulai Kamis 26 Mei di Jakarta Convention Centre (JCC), patut bersyukur event ini kembali di adakan di tahun 2011. Tahun-tahun sebelumnya diadakan bulan April. Kali ini barangkali karena antrian tempat baru diadakan akhir bulan Mei. Saya tidak tahu sejak tahun berapa event ini diadakan. Saya “berkenalan” dengan event ini pertama kali tahun 2008. Berarti sudah 3 tahun berturut-turut tidak pernah absen mengunjungi.

Barangkali gebyar pameran wisata tidak se-gebyar event wisata lain yang juga diadakan di tempat yang sama. Beberapa event wisata selain GWN yang pernah saya lihat memang tampil wah. Sejumlah biro travel dari yang kelas premium sampai kelas medium ramai-ramai membuka stand. Tidak lupa menyediakan brosur promosi. Tidak ketinggalan Sales Promotion Girl yang sudah pasti tampil menarik. Selalu ramai meski tiket masuk 10 – 20 ribu ngga masalah.

Tetapi GWN memang beda. Lebih sederhana dibanding event lain. Tiket masuk free di tahun ini. Tahun lalu pun juga free. Semoga di tahun depan juga free. Mereka yang ingin menyapa para SPG di GWN akan siap-siap kecewa. Yang ada adalah sepasang muda-mudi dengan pakaian daerah, memberi senyum sekaligus mengundang berkunjung ke stand-nya. Di setiap stand hiasan daerah khas setempat menjadi ciri khas masing-masing stand.

Potret Indonesia Mini

Sepintas, seperti tahun-tahun sebelumnya GWN bukan dirancang sebagai event promosi yang sifatnya komersial. Memang ada penawaran paket wisata tetapi jumlahnya tidak banyak. Justru, sejauh pengamatan saya, yang di “jual” adalah informasi khas daerah setempat. Memang tidak mungkin menghadirkan seluruh daerah kabupaten di Indonesia untuk men-”jual” informasi potensi wisata setempat. Namun dari beberapa stand membuka mata ternyata destinasi wisata di negeri ini tidak hanya Bali. Inilah yang menurut saya menjadi daya tarik utama dari GWN.

Sovunir khas daerah setempat, pakaian, kerajinan tangan, bahkan makanan khas setempat menjadi bagian dari perhelatan. Jadi teringat. Saya penggemar getuk Magelang. Di stand Magelang ternyata bisa beli getuk kesukaan saya. hhhhmmm… puas. Kali ini saya kangen dengan dendeng Tivi khas Wonosobo. Hanya sayang lagi kosong. Syukurlah bisa terhibur dengan kehadiran Teh Tambi, produksi pabrik Teh di Wonosobo. Bagi penggemar batik, akan berjumpa keragaman batik khas beberapa tempat. Tidak hanya batik Solo atau Yogya saja. Daerah-daerah lain pun ternyata mampu menghasilkan corak batik yang khas.

Seorang pemuda dengan senyum ramah meski tidak bisa menutup wajah lelahnya, tidak segan-segan menceritakan daya tarik Taman Nasional Danau Sentarum. Ada yang sudah pernah kesana…? pun ada rasanya masih bisa dihitung pakai jari. Pertanyaan umum adalah letaknya dimana? Sang pemuda menjelaskan “how to go there”, yang ternyata tidak mudah. Dari Jakarta terbang ke Pontianak, lanjut lagi jalan darat, lanjut lagi dengan speedboat. Ck..ck..ck.. ribet juga ya. Ya begitulah. Namun katanya dengan rasa bangga rasa capek perjalanan panjang akan hilang begitu kita tiba dan merasakan denyut nadi alam Danau Sentarum.

Siak, Kuantan Singingi, Sungai Penuh, yang sudah disebutkan diawal tulisan adalah kota kecil nun jauh dari ibukota Jakarta. Event GWN membuka mata publik bahwa ternyata di daerah-daerah yang barangkali baru dengar sekarang menyimpan daya tarik yang layak tuk di datangi. Daya tarik itu bisa berupa alam, sejarah, budaya, dan lain-lain. Event GWN seakan ingin membuka mata publik berbagai keindahan dan daya tarik juga dimiliki daerah-daerah selain Bali.

Karimun…barangkali rekan-rekan merujuk ke Karimun Jawa yang banyak di gemari rekan-rekan penggemar traveling. Melalui event GWN kita diajak berkenalan dengan Karimun yang ada tempat lain. Membuka link www.kab-karimun.go.id kita tidak ajak melihat pesona wisata di utara pulau Jawa. Yang dimaksud menjadi bagian dari provinsi Kepulauan Riau. Berbagai obyek unik yang layak menjadi destinasi telah menanti kita.

Kota Bintan barangkali sudah pernah kita dengar. Bagaimana dengan Natuna. Identik dengan kota minyak seperti halnya Tarakan atau Bontang. Melalui event GWN kita diajak untuk melihat fakta yang menarik selain minyak. Ada bukit Senubing, Air Terjun 7 Tingkat, Pantai Matak Kecil, Selat Lampa, dan lain-lain. Ada yang sudah pernah kesana…? ah boro-boro pernah, baru sekarang dengar. Ya…tidak perlu malu mengakui kalau baru pertama kali dengar. Itulah salahg satu tujuan event GWN, mengajak kita berkenalan salah satu destinasi yang layak bergelar “The Hidden Paradise”.

Kita beralih ke kawasan Indonesia Timur. Ambon…sudah sering kita dengar. Bagaimana dengan Pulau Tanimbar, Pantai Ora, Pulau Aru, dan lain-lain di sekitar pulau Ambon…? apakah baru dengar sekarang…? GWN menjawab bahwa pulau-pulau itu bukan khayalan semata. Melihat foto dari brosur yang diberikan gratis sudah waktunya tuk mengagendakan kesana. Di stand provinsi Maluku, saya diajak “plesiran” ke Pulau Pumbo, Pantai Hunimua di Liang, Latuhalat yang banyak spot diving-nya. Wooouwww….Spontan. Yang selanjutnya menjadi tekad saya harus kesana. Semoga Tuhan mengabulkan.

Sederhana namun sarat informasi. Itulah GWN 2011. Meski dibanding tahun-tahun sebelumnya, kali ini pesertanya agak menurun namun sudah puas melihat sisi-sisi lain dari negeri ini yang jarang di sebutkan. Tadinya berharap bisa berjumpa dengan Nias, Mentawai, Gorontalodan lain-lain. Sayang tidak ada. Semoga tahun depan bisa berjumpa. Tetapi sudah terhibur dengan informasi dan skenario atau itinerary kalau ingin menuju Danau Poso.

Kalau tahun-tahun lalu stand Bali tampil megah, sarat brosur dan informasi. Kali ini Bali tampil low profile. Sudah sewajarnya. Rasanya Bali tidak perlu gencar lagi berpromosi. Publik sudah banyak mengenal Bali. Cukup bijak Bali memberikan kesempatan kepada daerah lain bersolek diri tuk menarik keingintahuan publik dengan berkunjung ke stand-nya. Tadinya berharap di stand Bali bisa berjumpa dengan informasi Taman Nasional Bali Barat. Ah sayang kali ini belum tampil. Demikian juga dengan sebuah desa nan asri, yang dalam penglihatan saya sebagai desa terbersih, terasri, memberikan kesana damai. Namanya Panglipuran. Sayang tidak atau tepatnya belum tampil.

Senang sekaligus Kecewa

Sebagai penggemar destinasi di negeri ini, tidak cukup sekali saja saya datang. Begitu sarat informasi yang membuat penasaran tuk mengetahui lebih lanjut. Itulah event GWN baik tahun ini maupun tahun sebelumnya seakan ingin mengatakan inilah untaian mutiara nan Indah yang ada di negeri ini. Inilah Indonesia yang begitu cantik. Berbagai keunikan dan keragaman ciri khas yang menyadarkan kita, semua itu ada di negeri ini.

Saya pribadi merasa berhutang budi dengan event ini. Tahun 2008 di event ini saya berkenalan sehingga menjadi tertarik dengan namanya Danau Tiga Warna yang sangat memikat,Kelimutu. Dua tahun kemudian di tahun 2010 keinginan itu baru terwujud. Sayang tahun ini informasi Kelimutu tidak hadir. Semoga tahun depan bisa berjumpa kembali.

Di hari terakhir sejuta terima kasih kepada panitia atas terselenggaranya event ini. Berpuluh-puluh brosur gratis dan beberapa VCD termasuk DVD dari stand tertentu sebagai oleh-oleh GWN dari tahun-tahun sebelumnya masih saya simpan rapi. Setiap kali saya membuka kembali brosur informasi selalu muncul pertanyaan kapan saya bisa ke sini. Apakah tahun ini…? semoga. Atau tahun depan, ya semoga.

Hanya saja tidak menutup rasa kecewa karena hanya diadakan sekali saja dalam setahun. Beberapa kali saya kecele dengan penyelenggaraan event wisata lain di tahun yang sama. Saya berpikir seperti GWN. Ternyata sebuah “pasar” tempat berkumpulnya para travel biro yang justru banyak mempromosikan destinasi nun jauh di belahan benua sana. Semoga rasa kecewa tidak akan menjadi kenyataan manakala tahun depan event ini ternyata absen dari publik. Semoga tidak. Lebih baik setahun sekali daripada tidak sama sekali. Saya menunggu lagi tahun depan.

Adolf