Tag Archives: foto-danau-kelimutu

Wonderfull Trip (5) – Menuju Puncak Bromo, Puncak Trip (Selesai)

Jam 2 pagi rencana akan start dari rumah Pak Mulyadi menuju Bromo sebagai puncak Trip kami. Pagi-pagi sekali…? iya. Perjalanan dari rumbah Pak Mulyadi menuju Bromo sekitar 2 jam. Kita harus tiba lebih awal supaya bisa kebagian tempat, baik untuk parkir mobil maupun untuk melihat sunrise. Begitu pesan Pak Mulyadi. Tidur pulas kami terselesaikan sekitar jam 1 dinihari. Entah siapa dari 10 orang yang bangun dulu, yang pasti sudah ada pergerakan dech. Bu Mulyadi rupanya tidak tidur. Beliau ngalah kamarnya dipakai kami. Beliau menyiapkan sarapan pagi tuk di Bromo berupa mie Goreng. Terdengar Pak Mulyadi ’n mas Dani menyiapkan mobilnya. Rasanya mereka pun kurang tidur juga. Tapi sudah biasa ngakunya. Tidak lama persiapan…sebelum jam 2 pagi kami sudah di mobil tuk siap berangkat. Di mobil kami, Opi yang gampang sekali melanjutkan tidur-nya, di temani boneka bebeknya yang setia bersamanya. Rasanya kalau itu boneka di umpetin bakalan ngga bisa tidur ya….

Memang masih ngantuk tetapi perjalanan dinihari menembus kegelapan lagi-lagi susah membuat mata terpejam. Melewati jalan kecil dan jurang, 2 jeep konvoi berjalan pelan dan pasti. Sudah pasti ada rasa ngeri juga. Tetapi kami percaya dengan keandalan Pak Mul dan mas Dani. Lagipula mereka khan orang sana berarti sudah paham medannya. Cuaca cerah…langit bersih tidak berawan, bertabuan jutaan bintang-bintang. Asyik juga menikmati nuansa malam. Sambil memantai GPS kami melewati padang pasir Bromo yang terkenal. Sayangnya karena gelap kami tidak ngga bisa lihat apa-apa. Sepanjang perjalanan menuju Penanjakan praktis hanya 2 mobil kami saja. Sampai menjelang Pananjakan kami tidak menjumpai kendaraan kami. Setelah melewati gurun pasir, kami melewati jalan menanjak yang sangat terjal. Rasanya kalau ngga pake jeep, tidak pengalaman, susah tuk bisa mulus melewati jalan ini. Juga kalau kami tidak yakin dengan kemampuan Pak Mul ’n mas Dani, rasanya sulit menikmati perjalanan. Sebaliknya perasaan ngeri aja…..

Gunung Pananjakan

Ke Bromo akan tidak lengkap kalau ngga sampai nginjak Pananjakan. Dari brosur informasi resmi disebut Gunung. Lokasinyi di bibir kaldera Tengger. Karena letaknya paling tinggi diantara gugusan gunung-gunung di kawasan TN BTS, dari tempat ini bisa melihat Gunung Batok, Gunung Semeru, dan lain-lain. Benar-benar menyajikan view yang sangat cantik. Bikin takjub tuk yang baru pertama kali kesini. Biasanya oleh para tour operator menjadi persinggahan pertama dalam rangka melihat dan menikmati sunrise setelah itu melanjutkan ke tempat-tempat lain di Boromo.

Saya pribadi punya tekad ingin ”balas dendam”. Pasalnya terahir ke sini tahun 2003 siang hari. Itu pun nyuri-nyuri waktu di sela-sela tugas kantor. Jadi ya ngga bisa melihat ’n menikmati sunset. Tekad melihat ’n menikmati sunrise muncul kala menikmati sunrise di Danau Kelimutu agustus lalu. Saya ingin compare dengan nuansa di Kelimutu.

Tiba di Penanjakan kurang lebih jam 4 subuh. Masih gelap memang. Tetapi suasananya sudah mulai rame. Banyak warung-warung yang rupanya stand by 24 jam. Teringat terakhir ke sini tahun 2003. Sudah banyak perubahan…Turun dari mobil kami disambut yang menawarkan jasa menyewa jaket. Memang rombongan kami sedari awal akan nyewa jaket aja. Untuk kepraktisan dan menghemat biaya bagi yang belum punya lebih baik nyewa. Tokh hanya 10 ribu aja. Bandingkan kalau harus beli baru yang harganya ratusan ribu. Lagipula dipakainya hanya sekitar 2 jam aja. Dengan nyewa berarti ransel ngga perlu penuh isi jaket. Cuma hati-hati, jangan naruh hp di jaket. Kalau kelupaan dan kebablasan ya susah di usutnya, begitu pesan Pak Mulyadi. Mas Dani cerita orang-orang disini (Penanjakan) banyak yang ”memanfaatkan” hp yang tidak bertuan. Alias hp yang ditaruh di jaket yang disewa ’n kelupaan di ambil.

Untungnya waktu kami kami datang ngga hujan ’n ngga banyak angin. Coba kalau banyak angin, ”ancaman” bakalan nyentuh 0 derajat bakalan terjadi. Mungkin karena sudah demikian terkenal, sudah banyak tercantum di brosur-brosur wisata, mudah dijangkau, dan menjadi destinasi wisata, beda dengan Kelimutu suasana di Pananjakan sudah rame. Jangan khawatir urusan makanan ’n minuman hangat. Saya tadinya ingin bawa termos berisi air hangat. Melihat warung segera kami menghangat kan badan dulu dengan minum kopi atau minuman hangat lainnya. Hhhhmmmm….nikmat…

Di anjungan untuk melihat sunrise sudah banyak wisatawan. Beda dengan Kelimutu yang justru banyak bule-nya ketimbang lokal, di Pananjakan campur lokal maupun asing. Mungkin ada ratusan wisatawan menunggu datangnya sunrise. Tempat-tempat di pinggir yang sekiranya oke tuk mengambil foto sudah di ”booking”. Termasuk rombongan kami sudah ”booking” tempat yang ideal tuk motret. Saya juga teringat iklan salah satu maskapai penerbangan nasional yang mengambil lokasi disini tuk sunrise. Sekitar jam 5 pagi langit mulai tampak terang…perlahan matahari mulai mengeluarkan wujudnya. Memang indah walau bukan yang paling indah. Segera kamera beraksi. Kalau boleh jujur compare dengan Kelimutu, ah rasanya sunrise di Kelimutu walau obyeknya sama, lebih bagus ya…. Tapi ngga masalah. Missi sudah tercapai, ”balas dendam” sudah tuntas. Bergeser dari tempat kami mengambil foto sunrsei tersaji view indah Gunung Batok dengan latar belakang gunung Semeru. Spot tempat ini bagus tuk foto-foto. Saya teringat kata-kata Pak Don Hasman, sudah terlalu banyak foto-foto yang diambil dari spot ini. Tapi ngga apa-apa…walau motret bukan dalam rangka lomba foto sebagai dokumentasi ’n kenang-kenangan no problem….

Sekitar pukul 6 pagi kami sudah beranjak dari Pananjakan. Sudah puas, untuk selanjutnya ke gunung Bromo-nya. Beda waktu berangkat yang masih gelap, perjalanan menuju Bromo sebaliknya, jalan menurun. Baru kelihatan betapa terjalnya jurang yang kami lewati. Turunan terjal kami lewati dengan aman. Itu karena mas Dani ’n Pak Mul sudah pengalaman. Jadi kami merasa aman-aman saja. Dari atas kami diperlihatkan ke bawah, beberapa jeep yang kelihatan kecil seperti semut yang sudah di bawah….Gileee….tinggi juga ya.

Menuju Bromo, melewati gurun pasir yang katanya paling luas di Indonesia, menyajikan view unik dan khas. Saat melewati gurun pasir, teringat pereli nasional Tinton Suprapto pernah berlatih dalam rangka persiapan mengikuti reli dunia Paris-Dakar. Karena disinilah tempat ideal yang mendekati medan gurun pasir di Afrika. Gunung Batok, sebagai satu-satu gunung yang bentuknya masih utuh dari semua gunung-gunung di kawasan Tengger seakan tidak bosan menyaksikan kunjungan ribuan wisatawan.

Tiba di parkiran, sejumlah penyewa kuda segera menyambut kami. Mobil harus parkir disini. Tidak bisa terus mendekati Pura Ponten dan tanggal menuju Gn Bromo. Transportasi kuda menjadi satu-satunya kendaraan. Tetapi kalau mau jalan kaki asal kuat ya ngga masalah. Note : salut dengan mbak Ita yang berani tidak berkuda dari parkiran mobil, naik ke Bromo, sampai kembali ke parkiran mobi. Saking gencar-nya mereka menawarkan jasa kuda, sempat membuat kesal juga akhirnya kami jadi terganggu. Ya begitulah ciri khas cara dagang mereka. Tidak hanya di Bromo tetapi juga di obyek wisata lain. Tapi masih mending lah di Bromo, di tempat lain ada juga yang cenderung maksa.

Muncul berbagai ”masalah”

Naik Kuda…meskipun belum pernah tetapi di Bromo ini wajib di coba. Lolo termasuk yang paling semangat tuk mencoba. Tanpa ragu dia lansung naik kuda. Walau belum pernah ngga ada kesulitan tuk nunggangi. Beda dengan saya, yang sempat ngeri juga. Walau sudah di ”hibur” dengan di sediain kuda yang besar, hitam, gagah, barangkali sesuai postur badan, tetap aja ngeri. Apalagi ngga pake diajari apalagi di kasih contoh. Walau akhirnya sukses naik ke punggung kuda, tetap aja ngeri. Pun saat kuda berjalan…lho kog ini pantat menggok kiri-kanan…berasa miring…pak…pak…jatuh ngga nich…teriak saya. Si empunya kuda yang jalan kaki sambil menuntun kuda dengan agak cuek hanya bilang, santai aja…kudanya jinak… Melewati jalan menanjak tambah rasanya jantung lebih kencang berdegup. Kog dudukan mau melorot ke bawah ya…Dalam hati berdoa semoga ngga jatuh. Ngga berani kebayang beberapa accident baik yang ringan sampai parah gara-gara jatuh dari kuda.

Tiba di anak tangga menuju Bromo, problem kecil muncul…bagaimana cara turunnya dari kuda. Kalau minta di contoh-i atau di peraga-in ngga mungkin. Akhirnya hanya pasrah mengikuti petunjuk singkat aja. Cuma waktu 2 kaki genap menginjak tanah, landing berasa cukup keras. Mungkin karena sambil loncat kali ya. Pergelangan kaki terasa ngilu. Duch semoga ngga keseleo. Untung hanya sebentar aja ngilurnya. Belakangan, setelah tiba, baru tahu ada rekan kami yang terpaksa harus jatuh dari kuda. Bukannya dia yang jatuh, tapi kudanya tiba-tiba kepleset, jadinya ikut jatuh. Hasilnya, bukan kakinya terkilir tapi tangannya….my god…Gw ngeri ah naik kuda lagi….hahahaha….

Lagi-lagi ”problem” muncul saat melewati anak tanggal menuju Bromo setelah turun dari kuda. Antara naik atau tidak. Padahal ke Bromo rasanya ngga lengkap kalau juga kalau belum naik anak tangga yang katanya sudah dibuat di jaman Belanda. Malah jumlah anak tangga menjadi bahan hitungan pengunjung. Ada yang mengatakan 250…ada juga setelah menghitung ada kurang dari 250 atau malah lebih. Entah lah kog bisa bisa beda menghitungnya. Gugusan tanggal ini cukup indah. Dari brosur-brosur wisata sampai kaos sovenir di pasang foto anak tangga ini.

Oke sekarang kembali ke problem yang saya alami yaitu gamang, alias takut ketinggian. Sebenarnya perasaan yang sama pernah terjadi saat melewati anak tangga menuju puncak Kelimutu. Rasanya kalau melihat ketinggiannya hampir sama dengan Kalimutu. Cuma waktu itu tekad membara dan sedikit memaksa harus sampai puncak. Percuma udah jauh-jauh dengan biaya besar kog ngga sampai ke puncaknya. Lah kali ini tiba-tiba nyali kog ciut…Ah iri juga ngelihat Lolo, Opi, yang sudah enjoy sampai di atas. Lah saya masih berkutat dengan problem satu ini. Entah kenapa kog gw lupa pernah mengalahkan rasa takut ketinggian saat tandem paralayang di Puncak maupun di Timbis beberapa bulan lalu. Ngga ada supporter yang menyemangati. Karenanya harus support diri sendiri. Harus di coba. Ok…satu per satu melewati anak sambil pegangan erat ke dinding di sebelahnya. Rasanya wajib pegangan ke tembok. Coba kalau ngga ada dinding pegangan udah ngga kepikir tuk naik dech. Sambil melewati anak tangga satu persatu boro-boro mau ngitung, konsentrasi tuk menjaga keseimbangan badan supaya ngga ”kolaps” udah perjuangan. Beberapa kali berhenti. Dasar stupid…malah nengok ke belakang, ngelihat view, walau bagus kog kaki jadi bergetar…wah gawat nich… Tapi…ngeliat Ita, Sese, dan teman-teman yang nyusul dari bawah, coba memberanikan diri. Ah masa sich mereka bisa gw kagak bisa. Malu donk…yuk lanjut lagi…sudah setengahnya…sebentar lagi nyampe.

Sambil membesarkan hati tuk tetap menapak satu per satu anak tangga akhirnya sampai juga ke atas….Tuntas dech….Thanks GOD, kataku dalam hati. weeeee…..akhirnya sampai juga, sambut Lolo yang sudah di atas. Cuek dengan pujian Lolo, langsung nempel di dinding kawah. Segera ambil kamera dan poto-poto tuk dokumentasi. Masih kena problem gamang sama sekali ngga kepikir tuk jalan-jalan di sepanjang bibir kawah. Yang penting sudah lega sampai di atas…Setelah beberapa shoot kawah Bromo, segera memutuskan tuk turun. Permintaan Lolo, Opi, tuk di foto-in tuk di foto terpaksa cuek-in. Masalahnya ya gamang itu tadi….sementara tangan ini masih terus pegang tembok pagar pemisah. Tapi…kepingin juga ada kenang-kenangan foto di atas. ”cepetan Lo, loe foto gw….!!!. Akhirnya jadilah foto dengan mimik lucu yang lagi gamang…hahaha…

Overall kawah Bromo memang punya keunikan tersendiri walau saya pribadi masih kurang paham dengan keunikannya. Asap mengepul walau tidak pekat. Belakangan kami mendapat informasi kalau kawah ini tertutup untuk wisawatan karena meningkatnya aktivitas vulkanik. Saat upacara tertentu berbondong-bondong warga yang mengikuti upacara tersebut melempar baik itu sayur-sayur-an dan lain-lain sebagai pemberian untuk para penunggunya. Saya hanya bisa menyimak singkat penuturan Pak Mulyadi perihal upacara tersebut. Ngga berani cerita banyak berhubung takut keliru.

Sebenarnya foto ke bawah dari puncak Bromo ini oke juga. Teringat salah satu pemenang lomba foto tingkat nasional rupanya di shoot dari spot ini. Pura Ponten yang terlihat kecil namun cantik…gurun pasir…apalagi kalau lagi berkabut…wooouwww…ya seperti itulah kira-kira nuansa foto yang jadi pemenang. Waktu menuruni anak tangga, meski di depan terhampar view cantik, nanti dulu dech mau foto…Barulah setelah sukses melewati anak tangga terakhir perasaan lega…Sebuah pengalaman berkesan yang tidak akan terlupakan.

Tuntas di Bromo rasanya sudah mencapai puncak trip kami. Sudah berhasil melewati rasa tegang ’n seru. Masih melanjutkan perjalanan ke spot yang pernah menjadi shooting film yang di bintangi Dian Sastro. Tidak jauh, hanya kurang lebih 15 menit tiba di lokasi. Sebenarnya hanya view pasir yang sudah kami lihat sebelumnya. Cuma menjadi terkenal sesuai judul film yang mendapat penghargaan, Pasir Berbisik. Di tempat ini kami manfaat kan tuk foto-foto, sarapan pagi. Memang hamparan pasir yang sangat luas, beberapa jeep terlihat kecil dari kejauhan. Kami juga melihat kelompok yang sedang mengadakan shooting film. Informasinya dari salah satu stasiun televisi yang sudah seminggu shooting disini….

Setelah puas sarapan pagi, foto keluarga, kami melanjutkan menuju Bukit Teletubies. Kurang terbayang sebelumnya seperti apa bukit tersebut. Maklum walau sering dengar Tinki Winki, Lala, Dipsy, ’n Poo…karena penayangannya bertepatan jam kantor sulit untuk nonton. Bayangan bodoh saya adalah bukit-bukit yang bentuknya mirip tokoh anak-anak tersebut. Begitu populernya bukit ini karenanya patut di datangi atau paling tidak tuk foto-foto.

Jeep melaju melewati padang Savanah. Sekitar 15 menit mas Dani bilang bukit Teletubies berada di balik bukit. Mulai terbayang seperti apa bentuk-nya. ”Itulah bukit Teletubies”, kata mas Dani sambil menghentikan kendaraannya. Oalaaa…seperti ini yang dinamakan bukit Teletubies. Ada beberapa gundukan yang dari jauh kelihatan halus. Rerumputan yang dominan berwarna kuning menghiasi gundukan tersebut. Cantik….!!! Segera memutar memori ke film populer tersebut…iya memang mirip yang di film. Pantas aja di sebut bukit teletubies. Opi segera pasang aksi. Demikian juga Lolo, Lian, Sese, Murni. Sayang ngga bisa mendekat. Sulit foto persis di atas bukit tersebut. Namun kami puas bisa foto-foto. Kepuasan kami menjadi lengkap setelah bisa motret dari atas saat menuju Ranu Pane.

Ngga bisa lama-lama kami segera melanjutkan ke tujuan akhir kami yaitu Ranu Pane. Perjalanan dari bukit Teletubies tidak kalah menegangkan. Melewati jalan menanjak dan berliuk-liuk. Jalan sempit hanya bisa dilewati satu mobil saja. Tetapi pengalaman dan cekatan Pak Mulyadi ’n mas Dani tidak membuat kami khawatir. Sekitar setengah jam kemudian kami tiba di Ranu Pane. Terkenal sebagai tempat start bagi yang akan mendaki ke Gunung Semeru. Ada kantor dimana para pendaki wajib melapor dan minta ijin sebelum melakukan pendakian. Kantor tersebut juga berfungsi sebagai posko rescue apabila terjadi sesuatu yang tidak di-ingin-kan seperti hilang, tersesat, kehilangan barang, sakit, selama pendakian. Karenanya wajib melapor baik sebelum atau setelah pendakian.

Say Good Bye

Yang khas di Ranu Pani adanya sebuah danau. Sebenarnya danaunya indah. Sayang airnya tidak sejernih dulu. Telah banyak terjadi pendangkalan akibat pembuangan limbah rumah tangga masyarakat di sekitar danau. Rombongan kami pun mungkin karena sudah letih dan puas meliat Bromo hanya sebentar dan sekedar foto-foto aja. Setelah itu kembali ke rumah Pak Mulyadi.

Puas melihat Ranu Pani berarti tuntas sudah wisata kami ke Bromo. Singkat namun padat. Beberapa tempat wajib yang populer di kunjungi sudah kami datangi. Seru dengan medan perjalanan yang berliku-liku. Itulah Bromo yang mungkin tidak terdapat di obyek wisata lain. Selain senang dengan keunikan dan keindahan Bromo, kami bisa mengenal warga Desa Ngadas. Merasakan keramahan dan keterbukaan Pak Mulyadi sebagai salah satu tokoh Desa Ngadas. Sudah pasti suatu saat kami ingin datang lagi. Ingin tinggal lebih lama di Desa Ngadas.

Akhir kata, terima kasih kepada Bapak ’n Ibu Mulyadi, serta putranya mas Dani, yang sudah menerima kami. Selain itu sudah mengurus semua keperluan kami. Sehingga kami bisa senang wisata di Bromo. Bisa mendapat pengalaman yang unik yang tentu saja tidak akan terlupakan. Dedikasi rangkaian tulisan ini untuk rekan-rekan seperjalanan sebutlah : Lolo, Ita, Opi, Jho, Gamet, Sese, Andri, Murni dan Lian. Semoga kita bisa jalan bareng lagi. Tidak lupa kepada rekan-rekan pencinta traveling. Walaupun sudah banyak yang pernah ke Bromo, sudah banyak juga catatan perjalanan, harapan saya ngga muluk-muluk semoga rangkaian sharing ini bisa menjadi ”bab pelengkap” traveling di Bromo.

Salam

Adolf

————————————

Kunjungi website IBP: http://www.indobackpacker.com

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

SPAMMING atau forwarding tidak diperkenankan. Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT.

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian yang perlu saja.

Cara mengatur keanggotaan di milis ini:

Mengirim email ke grup: indobackpacker@yahoogroups.com (moderasi penuh) Mengirim email kepada para Moderator/Owner: indobackpacker-owner@yahoogroups.com Satu email perhari: indobackpacker-digest@yahoogroups.com No-email/web only: indobackpacker-nomail@yahoogroups.com Berhenti dari milist kirim email kosong: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com Bergabung kembali ke milist kirim email kosong: indobackpacker-subscribe@yahoogroups.com

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings: Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email: indobackpacker-digest@yahoogroups.com indobackpacker-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/