Tag Archives: gambar-pasar-modern-kabupaten-buton-utara

Ereke, Buton Utara

Penasaran dan tertunda, penasaran lagi dan tertunda lagi, terus berulang hingga lewat 3 tahun. Memang belum jodoh sepertinya bagi saya untuk pergi ke tempat itu. Namun rasa tak lengkap yang selalu singgah di hati akhirnya memaksa saya untuk main ke sana, apalagi memang lokasinya masih berada di radius ‘jajahan’ saya. Ereke, adalah nama ibukota kabupaten baru di Buton Utara, yang sempat berdiri di tengah konflik panas para penduduknya. Tak banyak informasi yang saya peroleh dari internet mengenai tempat ini, tapi cukuplah kalimat singkat : “Bagus Pak di sana !” dari beberapa teman setempat yang sudah pernah ke sana menjadi pegangan; apalagi mereka tahu persis selera wisata saya.

Kebetulan, jalur kapal cepat dari Kendari ke Buton Utara sudah dibuka kembali oleh MV Cantika Inova [1]. Dahulu di awal tahun sempat dibuka jalur serupa oleh MV Sagori Express tetapi lalu tutup entah kenapa, sehingga masyarakat kembali mengandalkan kapal penumpang kayu selama 5 jam perjalanan. Opsi lain adalah melalui jalan darat Baubau, yang di musim hujan dapat mengubah perjalanan 7 jam menjadi sehari semalam karena penumpang harus menginap di hutan menunggu jalanan kering. Kebetulan, saya sedang di Kendari dan sepertinya berbelok dahulu dua hari ke Ereke tak mengapa sebelum menuju Baubau. Lagipula pekerjaan saya di Asera, Konawe Utara sudah saya bereskan walau dengan badan remuk-redam. Malam sebelumnya saya pun memanggil tukang pijat ke mess Kendari, dan sepertinya pagi itu lebih enak diisi dengan tidur memulihkan fisik, bukan malah jalan-jalan! Memaksakan diri, saya pun sudah berada di atas kapal, sibuk menggerutu karena kapal terlambat berangkat satu jam.

Saya salah sangka, ternyata dari pelabuhan Wa Ode Buri masih harus menempuh perjalanan 15 km lagi untuk bisa tiba di Ereke. Dan melihat peta, memang tidak efisien untuk mendarat di pelabuhan Ereke karena kapal harus memutari tanjung dengan jarak yang sangat jauh. Mungkin perjalanan dari pelabuhan Ereke hanya efektif untuk tujuan-tujuan pelabuhan di sebelah timurnya, misal ke kota Wanci di Wakatobi atau Pasar Wajo di Buton sisi tenggara. Saya pun memilih Hasri, tukang ojek yang sopan menawarkan jasanya [2] begitu saya keluar dari kapal. Bukan apa-apa, eneg saja rasanya melihat rombongan ojek yang tiba-tiba menyeruak masuk dengan helm terpasang ke kapal berlawanan dengan arus penumpang keluar hanya untuk berteriak-teriak menawarkan ojeknya. Hasri ini tenang pembawaannya, dan saya tidak salah pilih, dia pun membawa bebek Shogun-nya dengan hati-hati pula. Selain jalanan sebagian masih aspal berlubang, mungkin juga karena motornya terasa berat dibawa mengingat berat badan saya 95 kg, ditambah dua tas seberat 14 kg dan badan dia yang beratnya 75 kg sendiri hahahaha…!

Saya minta diantar ke hotel terbaik di Ereke dan bicara punya bicara, saya sebenarnya sudah terpincut dengan Hasri ini. Begitu tiba di Hotel Len Lin, saya pun menawarkan dia untuk menemani saya keliling Ereke sore itu dan esoknya seharian mengunjungi lokasi wisata yang ada dan masih bisa terjangkau dengan aman dan nyaman, dia pun setuju [3]. Sempat berdebat karena dia tidak mau memberikan harga dan ‘ngikut’ saja, saya pun yang sudah tahu karakternya yang sungkan langsung tembak sengaja dengan harga di atas pasaran. Naik di kamar tingkat dua [4], setelah meletakkan barang saya pun segera mengisi perut yang sudah keroncongan. Tak banyak melihat warung makan walaupun hotel berada di sekitar pasar, saya pun lari ke warung bakso di depan dan kaget karena dihidangkan bakso tenis [5] dengan ditaburi kacang tanah utuh di kuahnya :D .

Pukul 3 lewat lima belas menit dan Hasri belum tampak batang hidungnya. Wah, lima belas menit lagi dia tidak muncul ya mohon maaf terpaksa saya harus cari orang lain. Syukurlah dia pun tiba di gerbang dan minta maaf karena tadi dapat penumpang ke Wa Ode Buri sehingga cukup memakan waktu dan dia tidak punya jam tangan, bahkan HP pun tidak. Oke lah, apologize accepted, saya pun segera meluncur ke barat menuju Keraton Lipu. Tidak seperti dugaan saya, keraton Lipu ini tak begitu luas dengan tembok pembatas yang sudah tidak begitu kentara. Di dalamnya, terdapat Mesjid Agung Kulisusu dan sebuah baruga sebagai tempat pertemuan. Tampak beberapa makam di sekitar lokasi dan sebuah pondok kecil bertuliskan Raha Bulelenga. Melihat wujud fisik keraton yang minim, saya pun menduga pondok itu adalah tempat menyimpan pusaka kerajaan. Di sebelah timur mesjid terdapat sebuah sumur batu, yang tidak berair dan dangkal saja berisi tanah. Sempat luput dari pengamatan saya, di tengah-tengahnya tampak belahan kulit kerang. Oh, baru saya tersadar jika sedang memandang ke ‘cikal-bakal’ tempat ini seperti yang dilegendakan. Dahulu kala, seorang pembesar di Raha rumahnya yang di pinggir laut selalu basah oleh semburan air kerang raksasa (susu). Karena tak sanggup mencungkil dan memindahkan kerang tersebut, diadakan sayembara ke seantero negri. Barang siapa sanggup memindahkan kerang tersebut akan diangkat menjadi menantunya. Syahdan, seorang pemuda sakti namun memiliki penyakit kulit dari Bungku berhasil mencungkil kerang raksasa tersebut dengan tombaknya sehingga terbelah dua dan terlontar jauh. Satu bagian kulit jatuh di Bungku, Sulawesi Tengah dan satu lagi di tempat ini sehingga lahirlah nama Kulisusu (kulit dari susu). Jangan pernah membayangkan yang aneh-aneh tentang legenda tersebut karena ‘kulit kerang raksasa’ yang saya lihat memiliki sisi terpanjang sekitar 40 cm saja. Kulisusu adalah salah satu dari empat Batara (Anak Negara) kerajaan Buton dahulunya dan ikut menjaga keutuhan negeri di masanya. Sekarang Kulisusu kemudian berkembang menjadi kecamatan dan berada di bawah naungan administrasi kota Ereke, Buton Utara.

Motor pun beralih ke jalan berbatu di pesisir, masuk ke pinggir pepohonan rindang dan kami berjalan kaki sebentar. Batu kapur bersisi runcing membuat kami harus berhati-hati melangkah. Desa Bone memiliki dua pemandian yang sangat terkenal, E’e yi Ngkapala dan E’e yi Nunu [6] (jangan pernah minder jika tidak bisa melafalkannya dengan benar, wong saya yang sudah mengulang-ulang dan bertanya pelafalan yang benar ke orang setempat saja masih salah-salah terus). Pemandian yang pertama sebenarnya terdiri dari buah dua kolam, namun kolam di depan sudah tidak digunakan. Entah alasannya kenapa, tetapi desas-desus munculnya buaya di kolam itu cukup ampuh membuat tempatnya sepi. Nah kolam kedua, lebih terang dan panjang dengan air yang tampak hijau gelap. Sebenarnya kolam ini berupa mata air yang muncul di celah batukapur, dan sedikit bercampur dengan intrusi laut sehingga rasanya mendekati payau. Kolam di sebelah utara desa, E’e yi Nunu lebih bersih dan lebih disukai anak-anak daripada orang dewasa, mungkin karena tempatnya jauh lebih terbuka. Sepanjang desa, rumah penduduk walau tampak sederhana namun tampak rapi dan bersih. Beberapa pondok depan rumah tampak berasap, pertanda kaum wanita sedang membakar ikan. Tak bisa berlama-lama, matahari sudah condong rendah ke barat ketika saya meminta Hasri sedikit ngebut mengejar sunset di Kampung Bajo.

Kaum Bajo adalah kaum perantau laut yang tangguh, mengembara hingga tersebar ke seantero Asia Tenggara. ‘Dimana laut diselami di situ langit dijunjung’, mungkin itu peribahasa yang cocok untuk menggambarkan kehidupan suku ini. Mereka dengan mudahnya berbaur dengan kehidupan masyarakat asli. Tidak pernah saya mendengar ada konflik antar suku di daerah yang melibatkan kelompok besar Bajo. Sekitar 100 rumah lebih, berdiri di atas tumpukan batu karang pinggir laut yang disusun rapi. Namun, desa ini telah modern. Jalan aspal dibangun dari daratan menuju kampung sedang jembatan kayu nan kokoh melintang di tengah desa menyambung rumah-rumah yang telah berparabola. Beberapa tumpuk agar-agar (rumput laut) teronggok di sudut kampung. Tiga anak kecil di kejauhan tampak menghantam-hantamkan seikat besar tali jemuran ke tumpukan kayu. Entah maksudnya apa, mungkin membuat tali plastik itu menjadi lembut untuk digunakan atau malah hendak melepas kulit pohon dari batang kayunya. Saya pun menunggu sunset ditemani seorang anak kecil yang dengan beraninya terjun ke laut gelap dengan riangnya, hebat! Malam hari, saya yang kelaparan mencari makan di depan pasar. Seporsi sate ayam menemani saya, berikut bonus semangkuk sup dan telur rebus [7] di dalamnya. Sepertinya untuk urusan menyajikan makanan memang orang-orang Ereke sedikit lebih kreatif :D .

bersambung…

RHH