Tag Archives: hasil-hasil-alam-daerah-ihamahu

Jalan-Jalan di Bumi Saparua

Note : Mencoba melanjutkan story solo traveling ke Ambon dan Saparua. Empat chapter ini merupakan bagian terakhir dari 16 chapter. Semoga masih tidak bosan membacanya. Semoga tulisan ini berguna khususnya bagi penggemar traveling.

“dolf.loe terkesan banget ya di Ambon? Tapi loe banyak cerita mengenai relation.mana dong tentang alam dan yang unik disana.”. Menghargai salah satu input positif dari seorang rekan. Terima kasih. Di chapter ini dan selanjutnya aku coba sharing tentang beberapa point of interest.

May be ada diantara kita masih menganggap Ambon dan sekitarnya ngga aman. Masih terbayang kerusuhan antar agama yang gaungnya sampai ke Jakarta. May be terbayang dengan profil khas orang Ambon yang ke-gagah-an bikin kita jadi segan alias takut. Itu juga salah satu alasan kenapa aku tidak pamit pergi kemana kepada orang tua. Ngga ingin dia khawatir.

Yeaaa…pada akhirnya aku senang kalau harus mengoreksi anggapan selama ini. Senang dengan fakta yang ternyata jauh berbeda dari bayangan sebelumnya. Lagi-lagi aku surprise yang ibaratnya di manjakan bukan hanya oleh pemandangan indah tetapi juga sikap ramah dan bersahabat dari orang-orang yang ku jumpai, ku ajak kenal, ku ajak ngobrol. Sangat kontras dengan kebiasaan di Jakarta yang terkenal dengan “loe-loe, gue-gue”.

Saparua Manise

Di chapter ini masih sharing di Saparua. Awal perkenalan dengan Pak Joni Pollatu berawal dari nama dan nomor hp yang tercantum di buku Gagas Ulung, Extremly Beautiful Maluku, halaman 219. Berhasil ku kontak dari Jakarta untuk menjadi guide ku selama di Saparua. Beliau bersedia. Sudah deal juga biaya selama 2 hari mengantar ku. Sebutlah 150 ribu sesuai yang dia minta. Oke…Aku ngga nawar. Karena rasanya harga segitu sudah masuk budget. Aku tambahin juga tuk meals, kita makan sama-sama aku yang bayar.

Sesuai hari yang di sepakati dia sudah menunggu di Pelabuhan Haria, Saparua. Tidak sulit mencari dia di tengah kerumunan driver ojek yang aktif menawarkan jasanya. Orangnya agak kecil, pendek, langsing. Masih mudah. Sepertinya usianya tidak sampai 30 tahun. Memang ada fotonya di bukunya Gagas Ulung, cuma dia lagi berpose di motor nya menggunakan helm. Kali ini aku melihat utuh. Obrolan sepanjang jalan, ternyata dia pernah ke Jakarta. Pernah bekerja sebagai debt collector. Ah kurang galak face-nya, kataku dalam hati. Ternyata dia juga bisa bahasa Inggris. Berhubung beberapa kali nganter tamu bule. Good….

Dari pelabuhan Haria lansung diantar ke penginapan. Di Saparua ada beberapa penginapan. Aku menginap di Penginapan Perdana. Berjarak 2 kilo dari Pelabuhan Haria. Harga per malam 150 ribu. Fasilitas kamar mandi dalam, AC, sarapan pagi. Cuma rupanya ada salah pengertian, aku disediakan kamar yang ada TV-nya. Berarti harganya 200 ribu. Oke dech selisih 50 ribu. Ngga masalah. Walau sebenarnya ngga butuh-butuh amat TV. Lagi pula sudah senang karena mendapat kamar yang tidak jauh dari laut.

Begitu tiba barulah aku menyampaikan daftar tempat-tempat yang ingin aku lihat kepada Pak Joni. Rencana yang sudah ku siapkan dari Jakarta adalah mengunjungi (1) Benteng Duurstede, (2) Museum/gedung Pattimura, (2) Desa Nolloth, disana ada gereja tua yang bayangan ku pasti artistik, (3) Desa Itawaka yang memiliki pantai cantik, (4) Desa Ihamahu tuk melihat produksi Bagea dan makanan khas Saparua. Di desa ini ada juga pantai dan pelabuhan Ihamahu yang cukup cantik, (5) benteng Ouw…yang katanya sudah terbengkalai tapi tetap ingin tahu aja. (6) dan lain-lain termasuk spot untuk sunset ‘n sunrise. Untuk makan siang, aku dapat refrensi di rumah makan SS. Di bukunya Gagas Ulung yang khas adalah Kepiting Kanari. Ehhhhmmm…bukankah termasuk yang dilindungi. Oke may be pilih meals yang lain. Pertanyaanya apakah bisa di jangkau semua sampai besok pagi? Oke…bisa dan gampang, kata Pak Joni. Yakin dengan yang disampaikan, segera kami meluncur setelah taruh barang.

Ternyata tidak jauh, kami sudah sampai di tempat yang wajib di kunjungi, Benteng Duurstede. Berdiri kokoh dan megah, yang dari atas bisa menikmati laut biru serta pulau Seram. Pertama kali di bangun oleh Portugistahun 1676. Diambil alih Belanda tahun 1691. Bangunan ini dulunya tempat tinggal tentara Belanda. Menjadi terkenal dan bersejarah tahun 1817, di bawah pimpinan Kapitan Pattimura berhasil menyerbu dan mengalahkan tentara Belanda. Sejak kemenangan yang berawal di benteng ini Kapitan Pattimura semakin di segani sekaligus di benci oleh kolonial Belanda.

Inilah icon utama wisata di Saparua. Pastinya belum ke Saparua kalau belum ke Duurstede. Overall secara fotografi benteng Duurstede menarik tuk obyek foto. Tidak terlalu luas. Cukup bersih. Jalan keliling sambil moto-moto sejam juga cukup. Yang menarik ya itu tadi, di atas benteng masih melihat meriam kuno yang infonya masih original. Lalu memandang pantai Duurstede yang pasirnya terlihat bersih, putih, serta hamparan laut biru. Turis asing kebanyakan dari Belanda yang datang ke Saparua pasti akan melihat benteng ini. Aku sempat berpapasan dengan satu orang bule dari Norwegia yang juga solo traveling. Tahu benteng ini dari buku Lonely Planet. Tidak ada tiket masuk. Kalau mau kasih uang se-sukarela-nya kepada penjaga.

Persis di seberang benteng terdapat gedung Pattimura. Di dalamnya terdapat diorama yang menggambarkan perjuangan rakyat Saparua di bawah pimpinan Kapitan Pattimura. Hanya sayang waktu aku datang ngga ada lampu. Jadi bergelap gulita di dalamnya.

Dari Benteng Duurstede beralih, dengan perjalanan sekitar setengah ke jam ke Benteng Ouw. Memang benar yang di Gagas Ulung. Keadaan benteng ini meski merupakan bangunan tua, sangat menyedihkan. Berada di tengah pemukiman Desa Ouw. Seakan-akan masuk ke salah satu rumah penduduk. Tidak terawat. Tidak ada bentuk sebagai benteng. Juga tidak ada informasi jelas perihal benteng ini. Yeaaa…aku merasa buang waktu sekitar satu jam bolak-balik ke benteng ini. Kalau ada rekan ke Saparua, akan sia-sia datang kesini. Kecuali jika ingin menikmati suasana pedesaan.

Dari benteng Ouw melanjutkan perjalanan ke Desa Nolloth. Di desa ini mayoritas penduduk beragama Nasrani. Kalau Natal atau paskah pasti rame dengan berbagai perayaaan. Sekalipun demikian bagi yang bukan beragama Nasrani tidak perlu khawatir. Tradisi Pela Gandong, persaudaraan antar umat beragama di kalangan warga Saparua yang sangat penuh toleransi merupakan jaminan wisata aman.

Di desa ini terdapat dua bangunan yang menarik. Pertama adalah Gereja tua yang dibangun tahun 1860. Letaknya di pinggir jalan. Keberadaannya cukup megah untuk ukuran desa kecil Nolloth. Hanya “sayang”nya sudah mengalami pemugaran total. Sehingga sulit melihat kondisi aslinya. Hanya saja bangunan yang terkesan modern masih menyisakan “potret” kecil awal pertama kali di dirikan.

Yang kedua yang cukup menarik adalah rumah adat yang disebut Baeleu. Ukurannya kurang lebih 15 meter x 25 meter. Modelnya berupa rumah panggung dari kayu dengan pondasi batu. Yang menarik konstruksinya tidak menggunakan paku. Bisa kokoh berdiri awet karena presisi sambungan antar kayu yang saling menopang satu sama lain.

Pantai Itawaka. Tidak jauh dari desa Nolloth. Kalau laut sedang pasang akan semakin jelas hamparan laut biru yang bikin mata sejuk. Dengan beberapa perahu nelayan menjadi obyek foto yang menarik. Kalau mau snorkling atau diving juga bisa. Hanya saja ngga dive center yang menyediakan alat. Aku pribadi suka dengan pantai ini. Tenang. Sejuk. Walau saat itu panas terik matahari, semilir angin bikin adem. Pak Joni ceritanya “buka kartu”. Dia kasih unjuk dimana Gagas Ulung mengambil foto yand dimuat bukunya.

Desa Ihamahu. Apa yang menarik dari desa ini…? ooo…ternyata di desa ini terdapat industri makanan khas Saparua. Namanya Kue Serut, Bagea. Kue Serut ada macamnya. Terbuat dari kelapa, namanya Serut Kelapa dan terbuat dari Kanari, namanya Serut Kanari. Demikian juga untuk Bagea, ada 2 jenis. Bagea Kelapa dan Bagea Kanari.

Pembuatannya dilakukan secara tradisional. Tidak menggunakan mesin meski di produksi secara masal. Untuk pembakaran menggunakan tungku dan kayu bakar. Sama sekali ngga pake kompor minyak tanah atau gas. Aku diantar ke salah satu rumah yang memproduknya. Saat aku datang ada yang lagi buat. Terlihat mereka merasa “aneh” sekaligus senang. Tuan rumah sangat terbuka perlihatkan bahan mentah, pengolahan, pembakarannya. Di jelaskan juga bagaimana mengkemasnya. Rasanya disini tidak ada “rahasia dapur” yang disembunyikan. Bahkan kalau mau ikutan nimbrung membuatnya juga boleh…hahahaha… Aku hanya motret mereka membuat. Itupun sudah senang saat di foto….Boleh juga meng-icip-i. Ternyata enak juga. Ah tiba-tiba muncul naluri tuk belanja. Ya sudah…mumpung di tempat asalnya aku “borong” aja tuk oleh-oleh.

Tidak jauh dari rumah produksi terdapat pelabuhan Ihamahu, sesuai nama desanya. Pelabuhan kecil yang aktif di singgahi speedboat. Dengan speedboat ini bisa nyebrang ke Pulau Seram sekitar sejam saja. Dari kejauhan terlihat cantik. Apalagi kalau bukan hamparan laut biru yang tenang dan bikin sejuk mata. Dari pelabuhan ini juga terlihat pulau Seram yang luaaas sekali.

Rasanya ngga sampai sore semua daftar tempat yang wajib aku datangi sudah terjangkau semua. Sebagai “bonus” yang memang tidak ada di list, Pak Joni mengajak ke pantai bernama Waisisil. Kalau saja tidak ada story sejarahnya barangkali pantai kurang menarik. Pinggir pantai di tutupi ilalalng dan rerumputan. Justru “value” atau arti penting pantai ini karena disinilah pernah terjadi pertempuran dengan hasil Belanda kalah. Terdapat sebuah tugu yang tidak terawat bertuliskan : “disinilah tempat Beta dan Kawan-kawan Berjuang Melawan Kolonial Belanda”, Waisisil, 20 Mei 1817, Kapitan Pattimura.

Meski demikian, dari pantai ini besok paginya Pak Joni membawa ku tuk motret sunrise (matahari terbit) sebelum melanjutkan ke Pelabuhan Haria. Pepohonan, disertai beberapa perahu kecil menjadi tambahan obyek menarik. Sehingga hasil foto pun tidak monoton.

“bonus” yang lain, Pak Joni membawa aku berkenalan dengan kampung nelayan di daerah Waisisil. Memang hanya di huni beberapa kepala keluarga. Saat berjumpa mereka welcome. Ramah. Ngga nolak waktu aku foto. Termasuk anak-anak yang asyik bermain di laut.

Kurang lebih itulah spot-spot menarik di pulau Saparua. Rasanya 2 hari 1 malam sudah cukup menikmati alam Saparua. Dalam arti tidak tergesa-gesa. Kecuali kalau kita ingin diving atau snorkling di pantai Itawaka. Karena rupanya jarak antar tempat tidak jauh. Yang ideal adalah naik motor atau sewa ojek. Meski kendaraan angkot pun juga ada. Tujuannya untuk memudahkan mobilitas. Berhubung kalau naik angkot, para driver karena ngga ingin rugi, harus nunggu penumpang penuh. Ya wajar.

Esoknya dengan perasaan lega dan puas aku meninggalkan pelabuhan Haria kembali ke Kota Ambon. Saparua, pulau yang penduduknya ramah. Masih teringat malam-malam Paparaja mengirim seorang warganya jemput ku di penginapan tuk makan malam bersama di rumahnya. Sudah ku tulis di Chapter 12. Kembali ke Ambon menggunakan kapal Express Bahari. Bertemu lagi dengan Pak “nakhoda” yang ku jumpai saat berangkat ke Saparua. Sempatkan hunting sunrise di Pelabuhan Haria. Terima kasih Pak Joni. Very good guide. Biasa antar tamu. Beberapa kali anter tamu bule. Bisa sedikit-dikit bahasa Inggris. Tahu tempat menarik. Kita jumpa lagi via sms ya.

Lanjut

Adolf