Tag Archives: jadwal-bis-bandung-yogyakarta

Traveling tips dari paulo coelho)

Bookmark this category
Mungkin Paulo Coelho sengaja menganalogikan sebuah kota sebagai seorang perempuan. Bukankan kota adalah jiwa, tak hanya fisik?

“Don’t try to see the world in a month. It is far better to stay in a city for four or five days than to visit five cities in a week. A city is like a capricious woman: she takes time to be seduced and to reveal herself completely.”

Karena itu pertanyaan benarkah mengunjungi banyak kota memberikan kepuasan (lahir dan batiniah)? Waw..ini sepertinya akan menjadi: benarkah mengencani banyak wanita membuat hidup berarti? Hehehe?

Para backpacker sebagian menyatakan bahwa keterbatasan membuat kunjungan ke sebuah kota menjadi tidak lama. Waktu dan uang adalah alasan yang disampaikan. Ambisi untuk mendapat sebanyak mungkin dengan less effort ini rupanya yang mendorong Ade untuk bertanya di milis apakah mungkin mengunjungi 5 negara dalam 8 hari. Walau kenyataanya Ade kemudian hanya berkunjung di 3 negara tetapi ia menganggap masih banyak tempat untuk dieksplor. Baginya ” dengan waktu yang lebih longgar kita banyak waktu untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat, mencicipi makanan khas, merasakan transportasi lokal dll.”

Ivan Reynaldo berpendapat lain. “Sebisa mungkin saya dapetin banyak t4 sekaligus, karena mungkin saja saya tidak punya kesempatan lagi ke t4 yang saya datangi ini.” Sebuah pendapat yang diamini oleh Dheva Ibnu.

Uang juga menjadi kendala utama terutama jika makin lama tinggal di suatu tempat membuat ongkos hidup lebih tinggi. Makan, akomodasi dan juga biaya kliling2. Ray Indra memberikan opini bahwa mungkin traveler seperti Paulo Coelho melakukan perjalanan beberapa kali sebelum akhirnya menyecap suasana. “Mungkin karena keterbatasan dana dan waktu juga ya. Si bapak Coelho juga saya rasa awalnya seperti ini, tapi mungkin sudah ia lakukan sejak muda atau malah sejak anak-anak pergi bareng orangtuanya, jadi garis besar negara yang ia kunjungi sudah tahu.”

Tapi rupanya ada backpacker yang merasakan keterbatasan tadi membawa hikmah. Sari Handayani yang mengaku terpaksa tinggal lebih lama di Paris, merasakan bahwa kota ini tidaklah segemerlap yang diceritakan. “terutama dari para imigrannya, cobalah datang ke kawasan Bellville.”

Kualitas vs Kuantitas

Rupanya kadar kepuasan lebih ditentukan oleh ekpektasi dari masing-masing pejalan. Ada yang melongok sebuah kota merasa sudah sah. Seperti diungkapkan Iyok yang merasa tak perlu berlama-lama tinggal di satu kota atau negara. “Asal sudah tau seperti apa kota atau negara tsb sdh cukup,”

Beberapa rekan backpacker ternyata mengungkapkan sebaliknya. Muliady Nasution bahkan ing berlama-lama untuk foto (aih kalau ini sih kudu), mencari tahu sejarah atau fakta2 dibalik icon atau landmark sebuah kota. Elly dari Surabaya mengaku lebih banyak menghabiskan waktu untuk memotret bangunan tua ketika mengeliling kota2 di Vietnam. Baginya dengan memakai targer jumlah membuat acara jalan menjadi puyeng dan bikin capek. Ia bersikukuh bahwa, “Dengan tipe kualitas kita bisa lebih merasakan ‘flavour’ suatu kota.”

Pengalaman menikmati kota dan berbaur dengan penduduk local dialami oleh muzzlicious. Dalam perjalanan 5 hari di Hong Kong bisa menjelajah kota dengan leluasa, tidak capek kudu packing dan upacking. Hanya saja ia menambahkan bahwa itu bergantung pada karakter kota itu sendiri. Menurutnya, “Macau memang tidak ada apa2, satu hari aja cukup.”

Ini juga dialami Desi yang menghabiskan 5 hari hanya di Sumatera Barat karena banyak banget tempat yang menarik. Dan tentu gimana agar dapet foto yang unik. Tinggal lebih lama juga ternyata bisa memberikan pengalaman menarik seperti yang dituturkan Sari Handayani. Yakni makin mengenal budaya setempay, atau mencoba praktek bahasa serta terlibat lebih dalam dengan kegiatan penduduk. Toh karena karakter kota yang berbeda dan ketertarikan masing2 pejalan maka Mayawati menyebutnya sebagai jalan suka-suka. Ia tidak pernah mematok sekian hari untuk berapa kota ataupun merasa mewajibkan tinggal lama di suatu tempat hanya untuk merasakan jiwa sebuah kota. ” Pokoknya sefleksibel mungkin deh.”

Tujuan travelling dan keinginan masing-masing

Nampaknya sebagian besar menunjuk pada tujuan perjalanan itu sendiri. Ada yang pengen mendalami budaya setempat atau hanya sekedar menengok, datang, foto dan selesai. Rasanya untuk 1 hari di sebuah kota, tidaklah cukup. Ini ditegaskan oleh Heri Sugiarto bahwa, “Untuk merasakan suasana dan menyatu dengan penduduk lokal tidak bisa dalam waktu singkat alias numpang lewat dalam negara/ kota itu.”

Ia memberikan contoh trip keliling asean yang digabung dalam satu kali perjalanan akan memberikan kepuasan mengunjungi banyak negara, tetapi, “kekurangannya kita hanya numpang lewat ke beberapa objek menarik saja, tidak explore secara mendalam.” Ini mungkin seperti yang diungkapkan Noni yang mengaku memakai buku Paulo Coelho sebagai panduan ziarahnya ke Eropa. Walau mengikuti jejak Coelho, Noni mengaku “tidak merasakan bonding emosional jd gak pengen balik.”

Ketatnya jadwal trip dengan itinerary yang nyaris tanpa ada waktu jeda menurut Aswin bisa beresiko pada stamina fisik dan juga ‘membunuh’ salahsatu tempat yang akan kita kunjungi bila tidak tersedia waktu luang. Karena itu ia memberikan saran untuk mempertimbangkan faktor jadwal pesawat, musim atau cuaca yang mungkin mengganggu rencana.

Luciana lebih memilih untuk enjoy menikmati tempat terutama bagi solo traveler yang lebih fleksibel waktu. Ia menegaskan bahwa “walau ke tempat / spot yang sama, pada kesempatan yang berbeda, tetep kok dapat pengalaman yang berbeda dan tentunya teman2 baru yang lebih banyak lagi.”

Paulo Coelho sendiri menuliskan tips-nya ini sebagai “Travelling Differently” alias jalan-jalan dengan cara yang berbeda. Cukup menjawab kenapa baginya menyelami kota adalah proses alamiah, lembut dan mengalir perlahan. Bukannya “brute force” atau asal tembak. Baginya kota adalah seperti wanita, yang akan menarik jika diselami. Terkadang muncul kekuatannya sendiri. Seperti yang digambarkan teman-teman yang mampu menangkap aura kota ketika membaui jalanan, menciumi aroma masakan dan terkadang melakoni seperti penduduk setempat.

So jika pengen backpacking yang `stylist ala Coelho’ mungkin adalah menghayati kota dengan lebih observasi, seperti yang diungkapkannya “it will reveals itself completely.”

Thanks buat teman-teman atas diskusi yang menarik.

Salam, ambar

infor ke rusia (moscow)

Dear temans, mohon infonya dunk, mungkin ada yang pernah/tahu, kalo mau ke Rusia (moscow) bagaimana pengurusan visa, rute penerbangan, jenis kartu kredit yang umumnya diterima dalam bertransaksi di Rusia (moscow), apakah aman kalo bertransaksi dgn kartu kredit di sana ?
tq in advance
duma
[Non-text portions of this message have been removed]