Tag Archives: jalan-dr-otten-bandung

(Tanya) airterjun 7 tingkat Bengkulu

Teman,

Adakah yang punya informasi rute menuju objek wisata airterjun 7 tingkat dibengkulu, transportasi apa menuju kesana dari kota begkulu, juga ada obyek wisata alam apa saja disekitar sana yang sekaligus bisa dikunjungi

Terimakasih Indraji

[Non-text portions of this message have been removed]

————————————

Kunjungi website IBP: http://www.indobackpacker.com

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

SPAMMING atau forwarding tidak diperkenankan. Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT.

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian yang perlu saja.

Cara mengatur keanggotaan di milis ini:

Mengirim email ke grup: indobackpacker@yahoogroups.com (moderasi penuh) Mengirim email kepada para Moderator/Owner: indobackpacker-owner@yahoogroups.com Satu email perhari: indobackpacker-digest@yahoogroups.com No-email/web only: indobackpacker-nomail@yahoogroups.com Berhenti dari milist kirim email kosong: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com Bergabung kembali ke milist kirim email kosong: indobackpacker-subscribe@yahoogroups.com

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings: Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email: indobackpacker-digest@yahoogroups.com indobackpacker-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

plang iklan truly Malay (Surat Cinta Kepada Kementrian Kebudayaan Malaysia)

Maaf kalau ikut nimbrung, dan sedikit opini dari saya dibawah ini tidak bermaksud untuk menciptakan debat.
IMHO, dalam banyak hal saya setuju sekali dengan apa yang diutarakan Mbak Ambar. Hanya saja saya melihat kasus menjual budaya negeri asing sebagai salah satu atraksi pariwisata adalah kasus yang berbeda sama sekali dengan tindakan mengklaim budaya negeri asing sebagai budaya negeri sendiri seperti apa yang dilakukan Malaysia.
Kalau seandainya hari ini ada kampung Indonesia di seluruh belahan dunia, dan pemerintah lokal di negara yang bersangkutan mencantumkan eksistensi kampung Indonesia sebagai salah satu atraksi budaya yang mereka miliki di dalam promosi pariwisatanya, saya kira seluruh orang Indonesia akan bertepuk dada, bangga karena budaya khas Indonesia sedemikian memiliki daya jual dan terbukti bahkan laku keras di tanah lain.
Tetapi apa yang dilakukan Malaysia jelas adalah mencaplok budaya bangsa lain dan mengklaim sebagai budaya sendiri, bukan sekedar meminjam budaya negeri lain untuk dijual sebagai salah satu atraksi budaya. Sah-sah saja bahwa Malaysia mengambil slogan “Malaysia Truly Asia” untuk menunjukkan aspek keanekaragaman budaya yang mereka miliki dengan memiliki 3 kelompok etnis besar (Melayu, Tionghoa & Tamil), hanya saja alangkah lebih terhormat apabila mereka mendalami asal usul produk budaya tsb sebelum mereka mendengungkannya sebagai produk budaya bangsa sendiri secara membabi buta.
Kalau produk budaya yang diklaim sebagai milik sendiri adalah hasil perbauran atau hasil evolusi dari produk budaya negeri lain seperti halnya beberapa produk budaya Indonesia yang terpengaruh oleh budaya Hindu (baca : India), mungkin hal ini masih dapat diterima. Tetapi kalau sebuah lagu daerah dengan irama dan syair yang sama dicaplok persis berikut judulnya kemudian diklaim sebagai milik sendiri, jelas ini sebuah tindakan tidak tahu malu.
Tetapi kembali lagi, mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya adalah kita telah bertindak lamban dalam mempromosikan budaya kita sendiri. Kenapa lamban? Jelas karena kebanggaan dan apresiasi terhadap budaya sendiri masih jauh dari yang diharapkan.
Kalau kebanggaan, rasa memiliki dan apresiasi terhadap budaya negeri sendiri masih belum kuat sehingga menjual kepada bangsa sendiri saja masih susah, tidak perlu berharap akan muncul kampung Indonesia di tanah bangsa lain.
Sekedar opini pribadi.
Djohan http://flashpackerindonesia.wordpress.com