Tag Archives: jarak-bekasi-tangerang

book hotel/hostel lebih baik lewat mana?

haloosalam kenal saya Sheila, berhubung saya masih amatir mau nanya nih sama bapak/ibu, kakak/adik dan teman-teman yang sudh lebih berpengalaman,biasanya booking hotel lewat mana ya yang lebih terpercaya?saya sudah cari2 di archive milis sepertinya setiap layanan ada kekurangan dan kelebihan ya. kalo di booking.com nampak jarang menemui masalah tapi harga masih agak mahal menurut saya (maklum kantong mahasiswa) melaui Hostel Wordl (HW) harganya sangat menggiurkan tapi sempat menemukan ada beberapa rekan yang mengalami masalah sperti kamarnya penuh atau dipindahkan ke hotel lainatau melalui agoda.com kah yang lebih oke? mungkin ada teman-teman yang bersedia berbagi? saya mohon petunjuknya.

salam Sheila Kartika

[Non-text portions of this message have been removed]

AirAsia free seat

Dear all,
AirAsia ada free seat lagi tuh untuk pembelian: Booking Period : 11 May 2009- 15 May 2009 Travel Period : 5 Jan 2010 – 30 Apr 2010 Kalau ada jadwal libur 2010 paling tidak sampai April 2010 tolong di share donks lumayan nih….?
rgds,

Wisata Sosiologis Jakarta

Wisata Sosiologis Jakarta

Oleh Yudhi Widdyantoro

Waktu saya mengirim tulisan review film Slumdog Millionaire ke milis indobackpackers, ada yang menanggapi, katanya saya seperti melihat kuman di seberang lautan, tapi tutup mata untuk melihat gajah yang sudah ada di depan mata, karena, katanya kekumuhan dan kekacauan Jakarta lebih parah dari Mumbay. Mungkin mas (maaf saya lupa namanya) penanggap itu benar karena dia pernah pergi ke Mumbay, dan saya memang tidak terlalu tahu tentang Jakarta. Hidup saya agak monoton: dari rumah saya di Utan Kayu, hampir tiap hari saya naik motor ke tempat kerja saya di bilangan Blok M,melulu begitu, apalagi Mumbay yang jauh di negeri orang saya makin takpaham. Tapi, dari hidup yang monoton itu, saya mencoba mengenali wajah kota yang saya tinggali ini. Dan inilah kesan-kesan saya.

Bagi kebanyakan orang di luar Jakarta yang akan eksodus dan bermukim di ibukota atau hanya sekadar jalan-jalan, mungkin perlu dipikirkan kembali karena perkembangan kehidupan di kota metropolitan Jakarta akan manjadi jauh dari harapan “kota ideal” untuk ditinggali. Perkembangannya seperti rumah berlantai dua, dengan satu lantainya berada di bawah tanah. Bangunan yang nampak di permukaan akan jelas terlihat: gemerlap dan terawat dengan detail, sementara ruang-ruang yang berada di lantai bawah nampak suram dan gelap, nyaris tidak terurus dan kurang mendapat perhatian. Pembangunan fisik: kompleks perumahan, apartemen, pusat perbelanjaan dan sarana hiburan, dan juga tempat ibadah terus bermunculan dan saling berkejaran memenuhi langit ibu kota. Itulah perumpamaan sebuah bangunan rumah yang ada di atas permukaan tanah. Sementara pembangunan di bidang sosial-kemasyarakatan masih menyisakan sisi gelap. Sering kita saksikan perselisihan antar-warga yang disertai dengan tindak kekerasan. Perbedaan yang mencolok antara sebagian masyarakat yang hidup mewah berlebih dengan yang mengais-ngais untuk sekadar dapat bertahan hidup di tengah krisis finansial adalah pemandangan yang tidak bisa dielakkan. Sikap serakah dan mementingkan diri sendiri masih menguasai hati sebagian besar warga kota yang katanya sebagai barometer negeri. Ditambah dengan adanya pihak tertentu yang ingin memaksakan nilai kebenaran menurut versinya, belum lagi semakin sulitnya akses untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan, polusi serta kemacetan jalan raya yang semakin parah menambah runyam hidup di Jakarta ini. Ruang publik bagi warga kota yang dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keakraban antar-warga menjadi semakin sedikit dan sesak. Mari coba kita lihat anatomi Jakarta dari ragam bidang kehidupan dan sebaran daerah tinggal dalam kajian Ruang Publik, Wisata Kuliner dan Agama dan Spiritual.

Ruang Publik

Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan fisik yang pesat di satu pihak, dan karena luas wilayah Jakarta yang sulit untuk dimekarkan lagi, sementara tuntutan kebutuhan untuk berkembang sebagai kodrat suatu kota juga tidak dapat dielakkan, maka pilihannya adalah membangun secara vertikal menjulang ke atas atau melebar secara horisontal tapi harus ada yang tergusur. Ruang publik dan pemukiman penduduk yang berganti rupa adalah harga yang harus dibayar dari proyek-proyek pembangunan property seperti pusat perbelanjaan, kompleks perkantoran dan perumahan. Tentu saja perubahan tata ruang di dalam kota ini akan mengubah juga pola relasi dan komunikasi antaranggota masyarakat. Adanya pergeseran orientasi hidup bermasyarakat dan dalam dunia kerja dengan sangat baik ditulis oleh Lea Jelinek, peneliti Australia dalam bukunya Seperti Roda Berputar, LP3ES, 1997.

Adolf Heuken, sejarahwan Belanda penulis buku Menteng, Kota Taman Pertama di Indonesia, 2001 sangat prihatin pada perkembangan kawasan elite dan ikon kelas atas Jakarta ini. Dia yang telah tinggal di Menteng sejak tahun 60-an, menyatakan bahwa pembangunan Menteng saat ini adalah pelecehan budaya kota karena telah merusak identitras kota dan suatu daerah kota yang khas.

Heuken mencatat, bangunan khas kolonial Belanda semakin hari semakin hilang berganti menjadi bangunan modern dengan pagar tinggi yang angkuh. Pohon-pohon besar dan rindang telah banyak terpangkas. Bahkan pohon buah menteng, dimana nama daerah ini bermula, hanya tinggal satu batang yang tegak, yaitu di halaman SD Menteng (bekas sekolah Barack Obama, presiden AS), demikian juga taman-taman kota, seperti Taman Menteng, Taman Suropati, atau taman lingkungan (Taman Kodok, Taman Panarukan) sudah lebih panas walau nampak terlihat “modern” karena ada sarana permainan anak-anak, dan ada ruang penuh kaca, seperti di Taman Menteng.

Bergeser sedikit ke arah selatan, kompleks perkantoran Sampoerna Strategic, halaman dan tamannya memang menjadi indah dan segar karena banyaknya pohon dan bunga sebagai ganti ruang terbuka berlantai tegel gersang ketika masih menjadi plasa Danamon, tapi keberadaan pohon dan bunga itu terkurung dalam pagar kokoh yang tinggi. Sebelum bersalin rupa, walau gersang, plasa itu adalah tempat yang baik dan lapang untuk menunggu bis, taxi, atau jemputan sepulang orang bekerja yang tak jarang mereka lakukan sambil bergerombol, bersendagurau, berpacaran, juga bisa sambil makan. Lebih dramatis, di plasa ini, di masa ramai reformasi, sering kali aktivis pro-demokrasi dan mahasiswa menggelar orasi dan demonstrasi di sini. Jika membaca sejarah pergerakan, di Tiananmen, Gdank, Paris 1968, tokoh-tokoh mahasiswa yang berdemo di kemudian hari menjadi politisi dan pemimpin, demikian juga di Jakarta ini. Banyak dari mereka yang ikut berorasi dan domonstrasi di plasa ini tahun 1998 berkiprah di partai politik dan melenggang ke parlemen Senayan.

Lebih ke selatan lagi, perkebunan karet telah lama bersalin rupa menjadi pemukiman real estate mewah seperti Pondok Indah, atau terminal bis dan stadion Lebak Bulus. Dulu untuk masuk ke kebun karet, orang dengan leluasa bisa sambil berlari, makan, piknic, atau juga kencing, sekarang untuk masuk orang harus meninggalkan KTP di Perumahan Bukit Golf dengan tatapan mata satpam yang penuh curiga, atau waswas dipalak preman di terminal. Banyak juga perumahan mewah dan mal baru di bangun dekat sungai atau waduk yang tentunya telah memangkas pepohonan rindang di sekelilingnya.

Jalan menuju ke kampung Kebagusan, daerah di dekat Kebon Binatang Ragunan, sejak sekitar 12 tahun lalu menjadi jauh lebih mulus. Harga tanah sekitar daerah itu merangkak naik seiring dengan dibangunnya proyek-proyek perumahan. Ada magnet besar yang menarik perusahaan property untuk berinvestasi di daerah ini, yaitu karena Megawati si calon presiden ketika itu, dan kemudian menjadi presiden bermukim di sini. Begitu juga yang terjadi di daerah tenggara Jakarta, dari Cibubur dan Cikeas, karena di sinilah ada “istana kecil” yang bernama Puri Cikeas tempat tinggal pribadi Presiden SBY. Jalan menuju Cikeas ini menjadi mulus dan lebih lebar, selain rumah dan tempat usaha yang berlomba berdiri yang tentu saja akan mengusik harga-harga untuk bangun. Megawati dan SBY bagi developer dilihat seperti neon yang akan menarik para laron. Baik pengikut fanatik ataupun oportunis akan segera merapat ketika berkuasa. Kekuasaan cenderung akan membuat inflasi pengikut. Rupanya benar kalau ada teori ekonomi tentang inflasi yang mengatakan bahwa cost push inflation atau price pull inflation.

Ke arah timur, seperti Pulogadung, karena dekat dengan kawasan industri dan pabrik, banyak berdiri rumah kecil dan padat yang menampung buruh yang banyak datang dari luar Jakarta. Sedikit ke utara dari Pulogadung, ada suatu enclave, rumah-rumah mewah di tengah pemukiman kumuh, menyisakan pemandangan yang kontras. Jika kita coba lihat dari atas, seperti karya seni instalasi Cristo yang penuh warna, permukaan yang tak berarutaran sesuai contour tanah, dan kemudian ditutup oleh kain. Ini adalah daerah Kelapa Gading.

Politik Orde Baru yang tidak memperkenankan etnis Cina ikut terlibat dalam percaturan politik Indonesia, membuat mereka berkonsentrasi di bidang ekonomi, selain disengaja untuk memposisikan mereka sebagai “sapi perah” dan “mesin ATM” bagi kekuasaan. Daerah-daerah seperti Pulo Gadung dan Green Garden, Kebin Jeruk di Jakarta Barat atau Pluit dan Pantai Indah Kapuk di Jakarta Utara adalah seperti ghetto, yaitu tempat terkonsentasinya pemukiman penduduk karena adanya kesamaan etnis atau agama, seperti pemukiman yahudi di Venesia pada pemerinahan gereja Italia abad pertengahan (seperti dalam film Merchant of Venice).

Menyempitnya ruang olah raga dan permainan sebagai sarana menyehatkan ini, diakali dengan cukup cerdas oleh pemilik modal, seperti membangun lapangan futsal sebagai pengganti tanah 110 x 90 m2 yang diperlukan untuk bermain olah raga paling populer, sepak bola. Tempat berolah raga sekarang bisa dijumpai di pusat perbelanjaan.

Jakarta adalah melting pot, tempat becampurnya orang dari beragam latar belakang suku bangsa dan agama. Dengan sejarah yang panjang, kota ini telah punya pengalaman dalam berinteraksi dengan budaya internasional. Karena posisinya sangat strategis sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, Jakarta telah banyak menyedot orang dari berbagai daerah di tanah air untuk bertaruh hidup dan mencari nafkah. Penduduk Jakarta menjadi demikian beragam, meski demikian, ada sekelompok orang yang merasa paling berhak “memiliki” wilayah kota hanya karena “merasa asli”, seperti FBR, Forum Betawi Rempug.

Ruang publik bukanlah sesuatu yang terberi. Dia harus diperebutkan. Ruang publik ada hanya karena ada publik yang mendiami dan mengisinya, yaitu masyarakat luas. Jika saja tempat-tempat seperti itu, dimana semua orang dapat ikut menjadi bagian dengan melakukan aktifitas tanpa harus ada hambatan mental dan finansial, seperti selalu diawasi satpam atau harus membayar kalau masuk area tersebut karena kemudian menjadi hanya dimiliki oleh pribadi atau company, maka kita harus mempertanyakan itu, dan tugas Pemda, atau institusi pendidikan dan mungkin juga partai politik untuk membuat agar pertanyaan-pertanyaan kritis seperti itu bisa ditanyakan.

Wisata Kuliner

Mungkin perlu dibuat penelitian lebih dalam korelasi antara suku bangsa dengan budaya makan bersama di luar, atau lebih populer disebut wisata kuliner. Di daerah yang moyoritasnya didiami etnis Cina, adalah menjadi surga untuk memanjakan lidah dan membuat jembar perut, yaitu makan. Kelapa Gading, sejak berubah dari rawa menjadi pemukiman, daerah ini menjadi terkenal untuk mencoba beragam makanan. Demikian juga di derah Jakarta Barat atau Utara yang pada umumnya banyak dijumpai warga etnis Cina, bertebaran tempat-tempat makan dari yang di gedung mewah berpendingin, sampai yang di emperan pinggir jalan ber-AC, air continue, makan campur asap knalpot. Walau demikian, mereka tetap dengan nikmat menyantap hidangan itu.

Warga Jakarta, bahkan juga seluruh bangsa Indonesia seharusnya berterimakasih pada etnis Cina dalam hal mengkonservasi makanan. Banyak hasil kerja yang dilakukan, baik secara sadar atau hanya untuk urusan dagang, telah memperkaya khasanah kuliner Indonesia, sebut saja Gado-gado Boplo, Gado-gado Bonbin, Bakmi Toko Tiga, Tahu Yun Yi, untuk hanya sekadar menyebut beberapa nama, yang kalau alpa, bukan tidak mungkin hilang dan dilupakan oleh karena evolusi dan serbuan makanan cepat saji dan junk food dari negara kapitalis utama.

Mencari tampat makan di luar rumah, bukan hanya seperti yang telah di sebut di atas. Untuk wisata kuliner, sekarang, seiring dengan makin banyaknya mal, upacara manjakan lidah bisa dilakukan di food court setiap mal yang sudah cukup berbaik hati dalam menyediakan keragaman panganan.

Agama dan Spiritual

Sekarang ini, di daerah-daerah di Jakarta yang luas dan menyebar ini, sepertinya orang mempunyai agamanya sendiri-sendiri. Di Mabes Polri, MAngga BESar POL belok kiRI, yang terkenal sebagai tempat prostitusi kelas menengah-atas, penghuninya, pekerja seks komersial, pengguna atau juga pengunjung setianya dipastikan mengkaku beragama, tapi di sini, yang perempuan bisa berpakaian minim, seronok, bahkan seks diperdagangkan dengan gamblang, walaupun jelas-jelas oleh agamanya dilarang, dan akan dikutuk oleh anggota partai politik atau kelompok pendukung Undang-undang Anti Pornografi. Di sini juga transaksi narkoba, minuman keras, atau hanya sekadar merokok bisa dengan mudah ditemukan, walaupun ada fatwa haram dari Majelis Ulama.

Sementara di Mabes Polri seperti itu keadaannya, di Tanah Abang, markas Front Pembela Islam, di Mampang, markas Hisbut Tahrir, juga PKS, atau di Jln Proklamasi kantor MUI, dan banyak kelompok pengajian Jamah Tarbiyah, wacana negara yag berdasarkan agama sudah menjadi perbincangan sehari-hari, dari yang jelas-jelas ingin mewujudkan keinginan itu, sampai yang secara smooth bergerak pelan-pelan dengan tujuan yang sama. Pada sisi lain, yang bisa dikatakan berseberangan dengan kelompok-kelompok yang disebutkan di atas, dalam agama yang sama, ada sekelompok orang yang melaksanakan agamanya dengan sangat liberal, bahkan kerap pula melakukan otokritik pada agamanya sendiri, khususnya pada ummat atau kelompok yang dianggapnya terlampau keras dalam menerapkan ideologi agama, atau tidak toleran pada orang-orang yang oleh kelompok pertama dianggap berada di luar garis ideologisnya. Yang berada di seberang itu, adalah JIL, Jaringan Islam Liberal, atau Paramadina dengan Cak Nur sebagai patronnya. Bisa dimasukkan di sini, Gus Dur dan para fans-nya, warga NU.

Selain agama yang terorganisir (organized religion), seperti enam agama besar yang diakui negara: Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, dalam dunia spiritual, kelompok-kelompok yang masuk dalam terminologi ini cukup aktif dan eksis. Dalam membicarakan spiritual, untuk sementara dibatasi pada hal yang tidak kasat mata, suatu sistem nilai kepercayaan pada kebenaran mutlak yang melampaui kepercayaan yang telah diusung oleh agama-agama terorganisir tesebut, seperti yoga dan meditasi.

Dalam empat tahun terakhir ini, perkembangan tempat berlatih yoga (untuk selanjutnya disebut yoga center) di Jakarta meningkat dengan pesat. Bahkan jika dibanding dengan kota-kota besar di negara Asia Tenggara, bahkan Hongkong, Jakarta jauh meninggali kota metropolitan lainnya. Animo dan kegandrungan orang Jakarta yang berpenduduk delan juta lebih untuk beryoga menunjukkan grafik yang meningkat. Pemberitaan dan publikasi yoga di media, baik cetak maupun elektronik seperti terus mengalir tiada henti.

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari maraknya gaya hidup beragama di tanah air. Sebagian orang beranggapan, adalah karena adanya peningkatan kesadaran orang yang beragama tersebut pada hal-hal yang subtil sifatnya. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami hanya sebatas simbol dan teks, lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasarahanya pada kebenaran mutlak. Dalam bahasa Cak Nur, Nurcholish Madjid, sebagai al-hanifiyyat al-samhah, mencari kebenaran yang lapang dan toleran serta jauh dari sifat fanatik dalam beragama. Mereka yang sepaham dengan cara berpikir Cak Nur agak alergi pada gejala fundamentalisme, karena mereka terbiasa beragama dengan cara inklusif. Kajian mereka lebih filosofis, karenanya, perjumpaan atau dialog dengan agama lain bukan sesuatu yang tabu. Adanya semacam proses emanasi spiritualitas ini, menjadi awal pembawa berkah bagi perkembangan yoga. Orang-orang seperti ini akan dengan ringan melangkahkan kakinya “melompati pagar tabu agama” untuk mengunjungi aktivitas keagamaan atau kegiatan spiritualitas dari agama atau tradisi yang berbeda.

Yang hampir sama dengan derap perkembangan keagamaan, adalah sebuah gelombang kultural yang sangat konsern pada spiritualitas, yang biasa disebut New Age. Walaupun di barat New Age sudah marak di era 60-an hingga 70-an, namun, entah bagaimana di sini, di Indonesia pada era 90-an gelombang New Age ini mulai dirayakan lagi. Panggilan “pengembaraan ke Timur” seperti suara-suara yang didengungkan kembali.

Hal lain yang menjadi vitamin perkembangan yoga adalah kebiasaan yang dibawa dari anak-anak Indonesia yang pernah belajar di luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Anak-anak dari keluarga A+ atau menengah-atas yang ketika sekolah atau tinggal di Amerika sudah mengenal dan berlatih yoga dan kemudian merasakan manfaatnya, meneruskan pola hidup itu di tanah air. Selain mereka, tentunya banyak juga orang Indonesia yang walaupun tidak ke Amerika tapi cukup terbuka pada perkembangan gaya hidup dunia, turut menjadi amunisi bagi ledakan yoga di kota-kota besar Indonesia.

Publikasi dan pemberitaan di media bahwa para pesohor, celebrity Hollywood berlatih yoga menjadi hal penting bagi perkembangan yoga global. Para celebrity itu, sebut saja Madonna, Christy Turlington, Cyndy Crowford, Sarah “Sex City” Jessica Parker, Breatny Spears, Gwyneet Paltrow (gak tau nih, udeh bener belum tulisannya. Ini anak, cakep2 tapi susah bener nyebutin namanya.) dan Sting adalah para trendsetter yang setiap kegiatannya mendapat sorotan media dan publik yang membuat segala apa yang mereka ucapkan, lakukan, atau kenakan di tubuhnya akan dengan mudah diikuti banyak orang. Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia, pola perkembangannya mengikuti pola di Amerika itu. Para pesohor Indonesia referensinya celebrity Hollywood yang mendunia itu. Ada juga keinginan tersembunyi dari para pesohor Indonesia untuk diakui dan seterkenal bintang Hollywood. Celebrity, dan golongan menengah atas, khusnya yang paling atas, atau A+ adalah orang-orang yang sangat peduli pada citra diri atau image, oleh karenanya tubuh menjadi titik perhatian utama. Dengan perjuangan ekstra keras, mereka berusaha untuk mendapatkan tubuh permai dan penampilan yang aduhai, termasuk ramai-ramai berlatih yoga. Dan, virus demam yoga ini menjangkiti pikiran banyak manusia urban yang sangat peduli pada bentuk tubuh, seperti orang-orang di Jakarta ini.

Tubuh masyarakat urban adalah arena pertarungan interior (diri sendiri empunya tubuh) maupun ekterior (obyek pasar) yang empuk bagi produk-produk industri modern. Untuk mendapatkan “cantik” seperti dalam pandangan masyarakat umum modern, si empunya tubuh merelakan dirinya menjadi sadomasokis, menyakiti dirinya sendiri untuk mengejar kenikmatan diri. Para pemuja tubuh ini, dalam waktu yang bersamaan menjadi narsisitis, mencintai dirinya sendiri. Setiap saat mematut diri untuk meyakinkan dirinya sendiri tetap ada dalam koridor “cantik sesuai pandangan umum”. Di sini ada konflik internal secara psikis, antara pikiran dan tubuhnya sendiri. Pikiran mengkooptasi, melulu menuntut tubuh agar selalu sesuai dengan keinginannya, sementara tubuh mempunyai logika perkembangannya sendiri yang mengikuti hukum alam. Tubuh pun bagi orang yang jeli akan dilihat sebagai target market untuk mamasarkan produk yang telah atau akan dihasilkannya. Secara masif para industrialis produk kecantikan melihat tubuh masyarakat urban sebagai arena ekstensifikasi modal yang menjanjikan keuntungan berganda. Dengan kecerdikannya pula, mereka, para pelaku di industri ini dengan sengaja mengkonstruksi pengertian cantik ini setiap saat.

Dari sebagian para sosialita Jakarta yang berlatih yoga, dan kebetulan mereka juga punya uang, melihat peluang berinvestasi mendirikan yoga center sebagai upaya diversifikasi dari aktifitas bisnis sebelumnya. Semula mereka meniatkan agar dirinya sendiri dan juga teman-teman terdekatnya dapat terus melanjutkan latihannya yang sebelumnya mereka lakukan di rumah sendiri, sambil untuk mengkanalisasi gairah orang Jakarta beryogaria. Dalam waktu yang relatif singkat, kegiatan yoga mereka menyebar ke segala penjuru kota, merambah dari studio yoga ke gedung-gedung perkantoran, perumahan, dan mall.

Di atas telah disinggung bahwa perkembangan yoga di Jakarta tidak terlepas dari gaya hidup beragama di tanah air. Yoga adalah seni hidup, art of living dan bukan, atau diakui sebagai agama, tapi dapat juga (sementara) dimasukkan dalam genre yang sama, karena di dalamnya ada kepercayaan (belief system) dan semacam ritual, berupa laku (practice). Dalam teks klasik yoga, per definisi dikatakan, yoga yang artinya union dalam bahasa Sanskrit, adalah menyatunya keinginan kita (our will) dengan keinginan Tuhan (the will of God). Atman (jiwa manusia biasa) dengan Brahman (jiwa utama, supreme soul, Tuhan sang pencipta), seperti konsep manunggaling kawulo-Gusti dalam kepercayaan Jawa, atau “menyatu dalam Tuhan” pada agama-agama Abrahamic-monoteis, Yahudi, Kristen dan Islam. Konsep “manusia utama”, insan kamil dalam konteks ini, juga agama Hindu adalah adanya unsur “kemenyatuan” itu, seperti juga dalam pengertian samadhi dalam yoga: “when our soul merge with the soul of universe”.

Sebelum menjadi insan kamil, manusia utama, untuk menjembatani jurang Tuhan sang pencipta dan manusia yang diciptakan, diproduksi ideologi berupa agama atau budaya dan seni. Dalam ruang kosong yang menghubungkan Tuhan dan manusia dibangun jembatan hermeneutik sebagai penghubung karena Tuhan berbicara dalam bahasa wahyu yang termanifestasi dalam kitab suci. Dalam cara beragama di masa modern ini, ruang kosong itu diisi oleh para interpretator kitab suci yang sudah pasti ada “kekuasaan” (dan juga ambisi pribadi) yang sifatnya hirarkis-parokial yang terwujud pada pemimpin atau tokoh-tokoh agama. Dari tuturan para pemimpin spiritual dan tokoh agama, dibangun dogma yang menuntut ditegakkannya disiplin menjalankan tertib hukum agama sambil merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan sang Pencipta. Seperti dalam teori termodinamika dimana arus kecil akan tersedot arus besar. Untuk dapat “diterima” Tuhan, manusia harus merendah serendah-rendahnya, sehingga cara beragamanya seperti imperatif yang berbunyi: “semakin larangan dijauhi dan perintah dipatuhi, orang bukan makin lega, malah justru makin gelisah dalam rasa dosa dan bersalah, yang darinya akan meningkat kualitas kesalehan”, seperti selesai orang minum coca cola: diminum, hilang dahaga dan segar (sejenak), tapi kemudian timbul rasa haus yang menjadi-jadi. Hal ini nampak nyata pada pertemuan keagamaan dalam skala besar. Para pemimpin agama sering menggambarkan kengerian hasil perbuatan buruk manusia di dunia pada hari pembalasan atau kiamat (judgement day), hari ketika dunia dihancurkan oleh kuasa Tuhan. Sepertinya omongan agama melulu diproyeksikan untuk kehidupan masa depan, akhirat atau kematian dan bukan merayakan hari ini. Walaupun demikian, kengerian yang digambarkan tokoh-tokoh agama tersebut, toh tidak menyurutkan minat orang untuk mendatangi tempat ibadah pada hari-hari mereka lazim berkumpul.

Yang menarik diamati dari perkembangan kehidupan keagamaan di tanah air ini adalah, bersama dengan meningkatnya kesalehan orang beragama, dan atau aktif pada kegiatan spiritual, kegiatan ekonomi kapitalis juga menonjol, kalau tidak dikatakan sangat agresif. Kegiatan perekonomian (neo) liberal ini sudah semakin telanjang dan menyebar ke segala penjuru. Peran dan daya kontrol negara pada penguasaan sumber daya alam kekayaan bangsa yang menjadi hajat hidup orang banyak sudah mengendur daya cengkeramnya, even pada konstitusi dikatakan bahwa negara berhak menguasainya. Bagaimana penjelasan perselingkuhan logika kapitalisme dan agama quasi spiritual ini?

Inti logika kapitalisme ada pada etika Protestanisme, seperti dikatakan Max Weber dalam kredo Summum Bonum, “Bekerjalah segiat mungkin, tapi jangan kau umbar hasilnya agar kau dapat mendapat Kasih Tuhan, jadi nikmati hasilnya sesedikit mungkin”. Adanya represi pemuasan kenikmatan memperjelas adanya aura transendental kapitalisme di sini, seperti dalam agama Islam yang mengatakan bahwa pada setiap harta yang dimiliki oleh ummat, ada terkandung hak untuk anak-anak miskin yang kurang beruntung. Asketisme agama ini, sebagai salah satu jalan masuk adanya perselingkuhan kapitalisme dengan dunia spiritual. Berbeda dengan Weber yang merayakan agama secara positif, Karl Marx beranggapan agama bersifat intsrumental terhadap kapitalisme atas pengamatannya pada kerja dan cara menikmatinya karena adanya jurang antagonisme kelas buruh vs pemodal yang mengakibatkan alienasi buruh, dan kemudian melarikan diri pada Tuhan atau agama. Tuhan sebagai proyeksi atas keinginan-keinginan manusia marjinal yang telah teralienasi. Adanya krisis kepercayaan diri membuat banyak orang merasa perlu dan membutuhkan Messiah, Ratu Adil, seseorang yang dapat membawa mereka pada jalan kebahagaian. Krisis sosial ekonomi pada jaman kontemporer ini menyebabkan orang-orang yang mengalaminya mencari-cari penyelesaiannya lewat berbagai cara sepanjang dapat menentramkan kegundahannya, baik lewat tokoh spiritual, atau aktivitas bernuansa agama dan spiritual, atau juga pelatihan motivasi diri dan hipnotis. Karena itu, tokoh spiritual seperti Anand Krishna menjadi orang yang sangat digandrungi, demikian juga para tokoh agama yang omongannya menjadi seperti mantra amat sakti yang diikuti walau rela mati. Derivasi atau turunan dari ralasi Tuhan – tokoh – ummat ini bisa juga dilihat dalam produk seni dan budaya sebagai interpretasi atau penjelasan pola pikir seperti itu. Tidak heran bila film-film hantu menakutkan, siksa kubur, atau religius romantis seperti Ayat-ayat Cinta menjadi sangat diminati, dan pelatihan motivasi diri menjadi sangat laku. Tokoh-tokoh pelatihan motivasi seperti Tung Desem Waringin, Ary Ginanjar menjadi seperti selebritis dengan penghasilan seperti pemain sepak bola liga Inggris. Jika melihat pola kerja di atas, mungkin bisa juga diberi perhatian bisnis MLM (multi level marketing) yang tak kalah gegap-gempitanya menjalar pada kelompok-kelompok agama.

Dalam dunia yoga pun, tidak jauh beda situasinya. Selain bahwa yoga center telah menjadi ikon perselingkuhan kapitalisme dan spiritualitas, di yoga center pun telah terjadi reproduksi ideologi yang ilusif, karena peran guru sering dianggap suci seperti tokoh agama atau spiritual itu. Banyak murid menempatkan guru mereka pada posisi jauh tinggi di atas batas rasionalitas. Yoga menjadi seperti agama dengan menciptakan adiksi sendiri. Tak heran kalau dalam dunia yoga, terjadi juga fenomena groupies, seperti perempuan-perempuan yang ngintil kemana rocker atau pemain band yang sedang ngetop pergi. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana sesungguhnya seorang yogi terlahir? Pertanyaan ini dicobajawab lewat pendekatan sosio-kultur melalui pengamatan pada tempat dimana yogi dilahirkan dan ditempa, yaitu yoga center.

Dari demikian banyaknya yoga center, jika dilihat dari peran mereka dalam membuat demam yoga melanda Jakarta, akan terlihat beberapa perbedaannya. Ada yang seperti warung kue subuh di Pasar Senen, karena kue-kue yang mereka jual akan dijual lagi di toko tingkat kampung. Yoga center yang seperti toko kue Pasar Senen contohnya Jawaharlal Nehru Indian Cultural Center (JNICC), Ananda Marga, Rumah Yoga dan Art of Living. Yoga centers ini bisa dibilang sebagai perintis yoga center sesungguhnya di Jakarta, dalam arti, kalau dianalogikan dengan komoditas barang dagangan, yang mereka “dagangkan” hanya satu komoditas, yaitu yoga. Banyak peserta yoga yang berlatih di sini yang merasa sudah pintar, dengan rutin beratih dalam jangka waktu tertentu, walau tanpa melalui proses pelatihan menjadi guru (teacher training) mereka memberanikan diri melatih di kelas-kelas yang mereka bangun. Seperti pedagang kue di kampung yang belanja subuh-subuh di Pasar Senen, mereka mendagangkan kue tersebut di kampung daerah mereka tinggal, atau mengajar berdasar permintaan, mirip seperti pengasong keliling. Mereka tidak mempunyai ikatan pada asosiasi atau satu center tertentu. Materi yang diberikan pun tidak ketat, bisa dikembangkan atau digabung dengan tradisi atau latihan sport lainnya, baik itu pilates, taebo, senam jazz dan lain sebagainya sesuai hasil pengembaraan guru-guru tersebut. Karena ada selisih waktu, tentunya pembeli di kampung tidak akan memakan kue se-fresh kalau beli subuh hari dan langsung makan di tempat, belum lagi ada margin keuntungan yang diambil dari pedagang antara tersebut.

Sedang dari kelas yang ditawarkan, beberapa center memfasilitasi beragam aliran atau style yoga dari beragam tradisi dalam Hattha Yoga: baik Hatha yoga klasik, Ashtanga yoga, Bikram, atau Iyengar yoga, dan lainnya lagi, tapi ada juga yang mengkhususkan hanya mengajar satu style dengan ketat memegang tradisi, lebih mirip seperti agen tunggal pemegang merek (ATPM) yang gurunya menerapkan aturan dengan keras dan menuntut kesetiaan pada tradisi yang telah bertahun-tahun di jalani oleh tempat dia belajar, termasuk harus persis sama titik komanya dengan yang di India sana. Sementara pada sisi lain, telah membuka jendelanya menjadi “partai terbuka”. Tentang keterbukaan center, beberapa yoga center bergerak ke ekstrem satunya dibanding dengan ATPM, center-center ini bahkan cenderung menjadi Hypermarket dimana yoga hanya menjadi salah satu dari beragam kegiatan oleh raga, seperti pada fitnes center model Celebrity Fitness, Fitness First, sekadar menyebutkan sebagian saja. Yoga yang diajarkan di sini menjadi sangat compact, dimodifikasi dengan olah fisik lainnya dan disesuaikan dengan iklim dan suasana di tempat itu, seperti penggunaan musik, gerak yang harus dinamis, waku berlatih yang menjadi lebih singkat. Peserta yoga yang berlatih di sini harus mengikuti aturan yang tidak tertulis, yaitu bawa mereka harus siapkan mental untuk “melihat dan sekaligus dilihat”.

Jika beberapa waktu lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram yoga bagi ummat Islam, untuk beberapa saat memang berdampak pada menurunnya animo orang untuk beryoga, studio menjadi sepi, namun seperti hangat tahi ayam, fatwa itu seperti tidak efektif, yoga center kembali didatangi orang yag nota bene banyak pesertanya ummat muslim, seperti mayoritas bangsa Indonesia. Mungkin juga berkah dari fatwa haram MUI itu, penyelenggaran yoga menjadi variatif dan penuh ide kreatif yang tentunya bagus bagi perkembangan yoga dalam arti lebih luas, seperti studio yang kerap membuat workshop dengan mendatangkan guru bereputasi internasional, tayangan di tivi dan liputan di media cetak. Bahkan ada festival yoga yang mengakomodir guru-guru yoga dari tanah air untuk tampil berdampingan dengan yogi dari luar negeri.

Jika di Jln. Praklamasi ada seruan untuk melarang beryoga, di beberapa tempat, seperti di Museum Stovia di Kwitang, di Pejaten, atau di Kebayoran, ada sekelompok anak muda yang tergabung dalam Social Yoga Club berlatih yoga dengan riang gembira tanpa terkungkung oleh dogma-dogma, baik tradisi atau aliran yoga, atau kepercayaan pada agama. Mereka rutin membuat Yoga Gembira. Pelaksanaan latihan yoga ini seperti acara rekreasi keluarga, karena peserta yang sudah berkeluarga bisa juga membawa serta anak-anaknya. Setelah berlatih, mereka makan dan minum hidangan ringan bersama, dan tidak jarang kebersamaan itu berlanjut dengan nontong bareng ke bioskop atau clubbing. Mereka sadar, atas kenyataan keluasan persepsi orang pada sesuatu hal interpretasi pada kebenaran agama yang diperlihatkan dari banyaknya kelompok atau grup agama yang sering menjadi sumber pertengkaran, karenanya meraka sadar untuk tidak mencontoh pola relasi di agama yang berpegang teguh pada dogma, yoga di sini menjadi sangat independen dan toleran. Dalam perkembangannya, kelompok ini juga menjadi sarana untuk menambah ilmu dan mengumpul derma, yaitu lewat sharing ilmu du luar yoga dari pembicara tamu, dan bahwa iuran yang peserta beri, mereka sisihkan 20% untuk disumbangkan sebagai empati pada anak-anak yang tidak mampu untuk membiayai bidang kesehatan dan pendidikan.

[Non-text portions of this message have been removed]