Tag Archives: jarak-shen-zhen-ke-guangzhou-naik-bus

Safety di Kapal Motor

Musibah yang menimpa Kapal Motor “Teratai Prima 0” di perairan Majene dan paparan pakar Teknik Perkapalan ITS di METRO TV, Kamis,15-Januari-2009, patut disimak rekan-rekan yang kerap bepergian dengan kapal.  Kapal yang saya maksud di sini meliputi seluruh jenis.  Mulai dari perahu nelayan hingga armada PELNI yang rutin mengitari perairan Nusantara.  Berkaca pada paparan pakar itu, saya pun merasa mendapat teguran.   Banyak hal yang dulu saya lakukan ternyata jauh dari standar keselamatan (safety)  yang layak.  Ukuran layak di situ baru saya sadari 10 tahun belakangan yang lantaran terkait pekerjaan, setiap hari saya berinteraksi dengan isyu-isyu safety.   Pakar ITS tadi menyebut bahwa lebih dari 90% musibah di laut diakibatkan faktor manusia.  Data ini setara dengan pendapat seorang pakar safety (Dupont) bahwa manusia menyumbang 96% dari setiap musibah yang mereka alami.  Dalam hal musibah kapal, faktor manusia itu rentangnya besar sekali.  Yang terhitung ringan, misalnya, tidak mengindahkan himbauan untuk menutup pintu pada saat kapal berlayar atau tidak mengikat mobil-truk yang diparkir di lambung kapal.   Yang dikategorikan berat dan hanya diketahui para pakar antara lain desain kapal yang tidak memadai.   Penumpang yang naik kapal dengan desain tidak layak sama artinya telah memasuki pertaruhan hidup tanpa mereka sadari.   Kapal  memiliki kemiripan sifat dengan moda transportasi darat dan udara.  Karena kondisi rel yang seperti sekarang, sebagai padanan, mustahil kereta PJKA bisa ‘nggeblas’ secepat kereta Eurail.  Di jalan makadam, sebuah contoh lain, tak mungkin orang bisa melaju dengan kecepatan 70 kilo per jam.   Coba bayangkan ‘penderitaan’ para penumpang  jika pesawat budget flight (dengan jarak kursi yang rapat itu) harus di udara lebih dari 5 jam.  Desain kapal pun harus disesuaikan dengan kedalaman laut yang diarungi.  Kapal-kapal PELNI ukuran besar (punya kelas 1 s.d. 4 dan ekonomi) berani berlayar di ‘tengah’ laut.  Sementara kapal kecil (tak punya kelas 3 dan 4) biasanya mengambil jalur tak jauh dari pantai.  Pernah ferry yang saya naiki antara Lembar – Padang Bai juga mengantar saya menyeberang Gunung Sitoli – Sibolga setahun kemudian.  Apakah rotasi semacam ini juga berlaku untuk ferry-ferry di jalur lain?  Jika benar begitu, sudahkah kedalaman laut di perairan Indonesia bagian barat dan bagian timur yang amat berbeda ikut dipertimbangkan?   Desain kapal yang standar harus diuji lewat belasan sertifikasi sebelum akhirnya dinyatakan layak berlayar.  Jika kapal dianggap tidak standar, syahbandar tempat kapal bersandar berhak menahan kapal agar tetap di pelabuhan.  Apakah aturan baku seperti itu selalu diterapkan?  Desain kapal yang standar dan lolos uji semua sertifikasi pasti akan sangat mahal.  Pertanyaannya: pantaskah sesuatu dikatakan mahal jika itu terkait dengan keselamatan nyawa manusia?   Dalam prakteknya, faktor manusia penyebab kecelakaan (baca: kecerobohan yang dilakukan) beranak-pinak.  Kapal yang diragukan kelayakan desainnya diisi penumpang dengan jumlah melebih kapasitas.  Di atas kapal tidak ada peragaam pemakaian pelampung, malah pemberitahuan di mana pelampung disimpan pun tidak disampaikan.  Ini belum menyoal apakah pelampungnya dalam kondisi bagus terawat dan sesuai berat badan si pemakai.  Salah seorang penumpang KM ‘Teratai Prima 0’ yang selamat (Kompas, 14-Jan-2009, hal. 21) mengaku tidak tahu bahwa benda warna oranye berbentuk gulungan yang ditarik saat terjun dari kapal sebenarnya pelampung.  Atas musibah ini dengan enteng seseorang berkomentar (Kompas, 15-Jan-2009, hal. 22) bahwa kapal sedang apes lantaran tidak setiap hari terjadi kecelakaan laut!   Benar apes?  Nanti dulu.  Jika semua syarat (minimal) keselamatan tidak dipenuhi, musibah ibarat tinggal menunggu waktu.  Jika semua syarat keselamatan sudah dipenuhi dalam skala maksimal dan di tengah jalan tetap celaka, itu baru namanya takdir.   Hingga medio 80-an Padang Bai – Lembar dalam sehari hanya dilayani sebuah ferry.  Suasana di pengalaman pertama menyeberang Selat Lombok itu masih saya ingat.  Penumpang berjubel mirip sarden diatur dalam kaleng.  Ruang di antara mobil terparkir pun dimanfaatkan.  Di mana letak penyimpanan pelampung, berapa jumlahnya, berapa daya angkut maksimal ferry saya tidak tahu.  Karena itu satu-satunya sarana angkutan yang ada, saya bersyukur masih bisa mendapat kapling di atas ferry.  Setelah 20-an tahun lewat, saya menganggap yang saya lakukan dulu itu nekat dan tanpa perhitungan.  Adakah kenekatan itu bagian dan bumbu penyedap bagi sebuah petualangan?   Kiranya apa yang saya hadapi dulu tidak jauh berbeda dengan para penumpang yang ada di dalam perut kapal ‘Teratai Prima 0’.  Selama tidak ada pilihan lain, bicara soal safety (keselamatan) hanya satu kemewahan.  Ironis tetapi memang beginilah keadaannya.  Para migran gelap dari Afrika Barat yang nekad menyelundup ke Eropa sadar dihadapkan pada 2 pilihan: barsa atau barsah.  Barsa itu untuk Barcelona jika perahunya tak karam diremuk gelombang Atlantik.  Jika tidak tiba di barsa, mereka akan sampai ke barsah, ke alam keabadian.   Salam dari Sangatta 18-Januari-2009
New Email names for you! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/
[Non-text portions of this message have been removed]