<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesian Backpacker Community &#187; laos</title>
	<atom:link href="http://www.indobackpacker.com/tag/laos/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.indobackpacker.com</link>
	<description>Just another Option</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Aug 2010 03:23:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Buspacking Laos 4 : Vang Vieng, rahasia Blue Lagoon</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2008/10/buspacking-laos-4-vang-vieng-dan-rahasia-blue-lagoon/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2008/10/buspacking-laos-4-vang-vieng-dan-rahasia-blue-lagoon/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 16:58:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puguh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekowisata / EcoTourism]]></category>
		<category><![CDATA[Mancanegara]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[blue lagon]]></category>
		<category><![CDATA[laos]]></category>
		<category><![CDATA[van vieng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[Hari#7 &#8211; Vang Vieng Pukul tiga pagi ketika turun dari bus, baru saya melihat ‘kerusakan’ yang terjadi. Ternyata sampai di lantai bus terlihat bekas genangan cairan asam lambung. Wah, untung banget, saya duduk jauh di belakang. Waktu menurunkan saya, bus juga sekalian berhenti memperbaiki rem, tidak ada orang yang sanggup bertahan di atas bus, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hari#7 &#8211; Vang Vieng</strong><br />
Pukul tiga pagi ketika turun dari bus, baru saya melihat ‘kerusakan’ yang terjadi. Ternyata sampai di lantai bus terlihat bekas genangan cairan asam lambung. Wah, untung banget, saya duduk jauh di belakang.</p>
<p>Waktu menurunkan saya, bus juga sekalian berhenti memperbaiki rem, tidak ada orang yang sanggup bertahan di atas bus, dan semua turun. Hampir satu jam bus berhenti, dan akhirnya mereka berangkat lagi, meninggalkan saya yang tertidur di bangku warung noodle soup yang kosong.<span id="more-503"></span></p>
<p>Waktu hari mulai terang saya jalan ke pasar. Untuk orientasi arah saya hanya bisa menebak dari tas belanjaan yang kosong. Doh suasana pasarnya, persis banget di Jawa. Cuman susah nemu lalat! Saya ngopi di tengah pasar, di mana para pedagang biasanya pada nongkrong dan pesen kopi. Asli lalat jarang banget! Dari tempat saya menghirup kopi tampak pasar Vang Vieng dilatarbelakangi bukit karst dengan kabut menggantung. Ternyata saya masih berada di luar Vang Vieng. Saya harus naik tuk-tuk menuju penginapan <em>‘le jar din’</em>. Tidak ada yang salah dengan spasinya.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" title="Mekong Delta" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/pak-ou-21.jpg" alt="" width="540" height="378" /></p>
<p style="text-align: left;">Saya menyewa sepeda mini untuk K10,000/hari/sepeda dan mulai merambah daerah karst yang membelakangi VV. Menarik, karena sangat <em>touristy</em> tetapi keaslian suasananya masih terjaga. Saya langsung mengindahkan gua-gua yang diiklankan di pinggir jalan dan langsung menuju ke Phou Kam yang katanya paling besar dan terdapat Blue Lagoon. Gua-gua kecil sepanjang jalan berusaha mati-matian mengiklankan keunikan guanya, termasuk menawarkan “natural swiming”. Terserah, gunakan sendiri imajinasi Anda.</p>
<p>Kendaraan umum untuk berkeliling di daerah karst ini adalah traktor sawah yang digunakan untuk menarik gerobak <em>-an ultimate offroad machine</em>.</p>
<p>Sampai di mulut goa Phou Kham, agak kecewa karena ongkos untuk melihat ke goa ‘digeser’ sedikit-sedikit. Ketika menyeberang Nam Song river, sepeda harus bayar tol jembatan K6,000. Untuk masuk kawasan gua, harus bayar K10,000, setelah itu disarankan menyewa Headlight, another K10,000, dan karena masuk ke dalam cukup jauh, yaitu sekitar 500 meter, disarankan untuk sewa guide. Males ah, saya cuma sampai di mulut goa untuk melihat patung reclining Budha. Sudah keburu kecewa karena Blue Lagoon yang digembar-gemborkan sejak awal menyeberang jembatan pertama hanyalah bagian sungai yang lewat di luar goa.</p>
<p>Waktu saya berangkat meninggalkan Vang Vieng, di satu sekolah tampak sedang diadakan acara yang melibatkan guru dan murid. Entah pemberian penghargaan atau semacamnya. Diikuti dengan makan siang noodle soup dan keliatan dari kejauhan botol Beer Lao disajikan di atas meja. Mungkin lebih mudah mengatur rakyat yang agak mabuk. Saya jadi ingat cerita tentang era victorian di Inggris, saat pub diizinkan menghidangkan minuman beralkohol dan dilarang menyajikan kopi. Karena kalau dengan kopi, orang jadi sepenuhnya sadar dan dapat berpikir jernih, yang tentu saja berbahaya bagi status quo.</p>
<p>“Pusat Kota” Vang Vieng sendiri berisi beberapa rumah makan dengan setting bangku lesehan, plus beberapa televisi yang memutar serial “Friends” siang-malam. Operator tubing dan kayaking tersebar di mana-mana. Sayangnya garis sepadan sungai Nam Song semuanya sudah dikuasai penginapan, sehingga tidak mungkin menikmati sungai Nam Song tanpa harus masuk ke restoran milik penginapan.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Hari#8 &#8211; Vang Vieng – Vientiane</strong><br />
Saya memutuskan untuk memperkaya perjalanan turun dari Vang Vieng menuju Vientiane dengan cara menyusur Sungai Nam Li menggunakan kayak (K180,000/orang incl. Lunch, vs K80,000 menggunakan bus-tanpa makan siang).</p>
<p>Setelah dipikir-pikir sebetulnya perjalanan ini tidak worth the time. VV-VT menggunakan bus normalnya makan waktu 3 jam. Dengan menggunakan kayak, 2 jam pertama saya menggunakan mobil pick up ke drop off point, kemudian 3 jam berkayak melalui sungai yang katanya grade-3, tetapi selama perjalanan beda muka air sungainya tidak ada yang lebih dari 50cm. Kemudian dilanjutkan 1,5 jam dengan Tuk-Tuk sampai ke Nam Phu Fountain.</p>
<p>Begitu turun dari tuk-tuk, saya langsung menyerbu JoMA Bakery and Café. Untuk merasakan kopi yang baik dan benar serta sepotong kue. Ini menjadi jajan saya paling mahal selama di Laos, senilai K37,000. Di sebelah JoMA Bakery ini terdapat penyewaan sepeda motor dengan pilihan cukup lengkap. Aussielander yang saya temui di Vang Vieng menyewa Yamaha Trail bermesin 4 tak 250cc untuk USD 25/hari.</p>
<p>Penginapan murah di sekitar Nam Phu semuanya penuh, lalu saya lanjut ke Rue Francois Nginn. Kamar paling murah seumur hidup: K25,000 per orang (Puri Agung di Popies I aja Rp 30.000) namun juga sekaligus kamar paling kotor seumur hidup. Dengan sarang laba-laba di mana-mana plus coretan di dinding dari backpacker sebelum saya. Kamar mandi ada di dalam kamar, literally, karena bentuknya adalah bilik semen yang tinggi dindingnya tidak mencapai langit-langit. Untungnya fan serta exhaust fan di kamar berjalan baik dan seprai bersih. Ya sudah, toh cuma buat rebahan sebentar.</p>
<p>Karena tahu saya dari Indonesia, si pengelola penginapan memberi tahu kalo Hare &amp; Hound Bar di seberang jalan dikelola oleh pasangan pria Inggris dan wanita Indonesia. Ok-lah saya mampir kalo sempat.</p>
<p>Arah sungai Mekong terlihat keramaian. Rupanya hari-hari itu menjelang Boat Race Festival yang akan jatuh pada 15 Oktober. Sepanjang jalan di pinggir sungai Mekong dipenuhi pedagang dan permainan ketangkasan. Seperti melempar baskom ke botol minuman, Bingo, atau melempar panah untuk memecahkan balon dan kemudian nanti ditukar dengan hadiah. Judi? Bukan! Tapi permainan ketangkasan. Uniknya berbagai permainan ketangkasan ini juga digelar di depan halaman Wat.</p>
<p>Tepian Mekong sendiri tidak terlalu berkesan karena banyak sedimen lumpur. Kebanyakan sudah digunakan oleh restoran dengan bangku-bangku plastik.</p>
<p>Ketika saya akan kembali ke penginapan, saya mampir di Hare and Hound. Saya tidak menyangka bahwa perempuan yang berdiri di luar adalah pemiliknya: Mbak Utami. Saya panjang lebar ngobrol dengan beliau. Suaminya, John yang juga penerjun payung, dengan ramah menerima saya dan mempersilakan ngobrol. Hare and Hound diambil dari nama kelinci dan seekor hound dog, yang biasanya justru saling kejar-mengejar di arena pacuan anjing tapi tampak akur dalam gambar maskot bar ini.</p>
<p>Mbak Utami, sekarang berusia 26 tahun. Tinggal di Vientiane kurang lebih selama setahun setelah sebelumnya menjual usaha hamburger di daerah Kuta-Legian. Kalau Anda pernah <em>strolling around </em>dan melihat tanda dengan lambang serupa McDonald tetapi dipasang terbalik seperti huruf W, itulah tempat usaha Mbak Utami dan suami sebelum pergi ke Vientiane. Anak tertua dari tiga anaknya ditinggal bersama si Mbah di Jember, dan dua lagi ikut dengan dia di Vientiane. Mahal kalo harus ke sekolah internasional, karena itu Mbak Utami dan suami memilih untuk membayar guru homeschooling yang dibayar per jam. Pilihan lain adalah sekolah pemerintah di mana bahasa pengantarnya adalah bahasa Laos. “Yang penting bisa baca tulis sama ngitung, Mas&#8230;”</p>
<p>Pada awal dia tiba di Vientiane, Mbak Utami berjualan makanan Indonesia, tapi karena hanya dia sendiri yang bisa masak. Dan sifat masakan Indonesia yang kompleks, membuat dia dan suami memutuskan membuka Bar dan menyajikan makanan Eropa. Suaminya masak di dapur dan dia sendiri menjadi waitress melayani tamu.</p>
<p>“Susah mencari pekerja yang bisa diandalkan di Laos, Mas”. Kesulitan pertama adalah masalah bahasa Inggris dan komitmen waktu. Lain dari itu masyarakatnya juga cenderung konsumtif dan sulit menabung. Sedikit-sedikit “no problem”. Bisa dibayangkan kalo bar kehabisan stok bir dan harus menunggu keesokan paginya.</p>
<p>Mulai bekerja selepas sekolah pada usia 18 tahun.”Wah, saya sih biasa angon wedus habis sekolah”. Mbak Utami pertama kali bekerja bekerja sebagai tukang masak di sebuah lembaga pendidikan di Jember dengan gaji Rp 50.000 per bulan. Kemudian pindah ke studio foto dengan gaji Rp 250.000 per bulan. Dari situ dia bekerja di Malaysia tapi kemudian dia mendapat kesempatan kerja di Bali, mengurus rumah John, pria yang sekarang menjadi suaminya. Tapi karena rumahnya terlalu besar Mbak Utami mengambil sikap untuk berhenti dari pekerjaannya dan bekerja di toko furniture antik di Ubud. Tapi kemudian takdir mempertemukan mereka kembali dan akhirnya John memutuskan menyunting dia sebagai istri.</p>
<p>Ulet, sederhana, dan cerdas. Sempat ia mengeluh tentang kakaknya yang cuma tidur-tiduran di rumah dan masih ikut dengan ibunya yang bekerja sebagai bakul jamu di Jember. Minggu depan rencananya dia dan keluarga akan berlibur ke Udonthani menggunakan bus yang berangkat dari pasar pagi. “Murah cuma K20,000, dibanding membawa mobil sendiri yang untuk retribusi perbatasannya saja sudah K200,000.”</p>
<p>Mengenai etos kerja, Mbak Utami bercerita tentang pengalaman dia ketika tinggal di Bali, saat dia menawarkan untuk memberikan uang beberapa kali lipat kepada pengemis yang tampaknya sehat dan masih bisa bekerja dengan syarat si pengemis mencucikan motornya, tapi ditolak mentah-mentah oleh si pengemis. “Jadi bukan masalah gak ada kerjaan kan&#8230;”</p>
<p>Warga asing yang ingin hidup-resmi atau tak resmi dengan wanita Laos bukanlah sesuatu yang ‘murah’. Si pria asing harus membayar sejumlah uang tiap periode tertentu ke polisi dan harus menjamin tempat tinggal bagi si istri. Hal itu dialami oleh salah satu tamu reguler yang kebetulan orang Indonesia yang bekerja di tambang di luar kota Vientiane. Untuk tambah memperkeruh suasana, ayah perempuan yang dihamili pria Indonesia tersebut adalah petugas imigrasi Laos. <em>You mess with the wrong person, Man!!!<br />
</em><br />
Menurut versi mbak Utami, prostitusi di Laos hukumannya berat, itu sebabnya di Vientiane banyak bencong. Karena kalau orang asing ketahuan tidur dengan wanita yang bukan istri, akan berat akibat hukumnya. Sedangkan kalau dengan bencong secara hukum tidak ada aturan yang dilanggar.</p>
<p>Vientiane juga tidak seaman yang saya bayangkan. Hal itu menjelaskan kenapa di keranjang sepeda sewaan selalu terdapat keranjang tali untuk mempersulit pekerjaan jambret bermotor. Demikian juga dengan copet yang cukup banyak di masa festival seperti ini.</p>
<p>Saya menutup pembicaraan karena sudah pukul 11.30 malam, sambil Mbak Utami menutup payung tenda barnya.</p>
<p>Kalau ditanya; apa yang paling menyenangkan dari kunjungan saya di Laos? Jawabannya: naik bus antar kota! Terminalnya sederhana terkadang jorok, tapi bebas calo, tarif transparan, dan jam keberangkatan yang luar biasa tepat waktu.</p>
<p><strong>Tuk-Tuk</strong><br />
Tentang Tuk-tuk, walaupun sekilas sama, ada dua kelas tuk-tuk. Yang pertama berbasis sepeda motor. Mesin sepeda motor dengan rantai yang diperpanjang untuk menggerakkan roda belakang. Si pengemudi seperti mengendalikan motor roda tiga. Yang kedua adalah yang berbasis kendaraan niaga sekelas Suzuki Carry. Jadi si pengemudi duduk diatas mesin empat silinder dan cara memindahkan giginya pun seperti mobil, hanya bagian depan diganti oleh kemudi model sepeda motor. Yang ini, mungkin lebih tepat disebut “mobil roda tiga”. Saya sendiri lebih senang menghentikan tuk-tuk yang strolling around, daripada yang mangkal di pangkalan tuk-tuk, karena biasanya negosiasi harganya lebih mudah dengan tuk-tuk yang sedang keliling.</p>
<p>Turis luar asia umumnya mengunjungi Laos sebagai bagian dari “Indochina Circuit”. Kebanyakan dari mereka menjadikan Bangkok, atau Beijing sebagai entry/exit point.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Hari#9 &#8211; Vientiane – Kuala Lumpur</strong><br />
Pagi hari, saya keluar penginapan dan menuju Nam Phu fountain. Sepanjang jalan saya berharap menemukan noodle soup. Ternyata tidak ada. “Terpaksalah saya sarapan di Scandinavian Bakery di putaran Nam Phu fountain. Asyiknya suasana pagi, dengan hot latte dan sepotong croissant&#8230;. dan melihat aktivitas rakyat negara jajahan.</p>
<p>Naik tuk-tuk dari Nam Phu ongkosnya K30,000,  dan dalam 20 menit sudah tiba di Wattay International Airport. Petugas keamanan di bandara luar biasa ramahnya. Bingung sedikit langsung disapa dan dijelaskan. Petugas loket check in tampaknya masih serba canggung menangani penumpang yang check in.</p>
<p>Sampai di Kuala Lumpur saya langsung menghubungi mantan kolega kantor yang sekarang menjadi teman. Rencana ketemu di tengah kota dibatalkan, karena justru dia mengundang saya datang ke rumahnya. Saya cukup naik kereta sampai stasiun KTM terdekat dari rumahnya dan akan dijemput.</p>
<p>Saya baru mengerti kenapa ia membatalkan rencana ketemuan di tengah kota dan justru mengundang berkunjung ke rumahnya. Hampir dua minggu lewat Idul Fitri, di Kuala Lumpur sesama teman saling berkunjung ke rumah rekan lainnya. Minggu pertama biasanya semua orang pulang kampung, baru minggu kedua punya kesempatan untuk berkunjung ke rumah teman dan tetangga. Hm&#8230; sama seperti di Indonesia, ketika dulu sekali.</p>
<p>Setiap tamu yang datang bertanya ke saya tentang asal saya, apa yang saya lakukan di Kuala Lumpur, dan setelah itu berbagi pengalaman mereka tentang Indonesia.</p>
<p>Agak memalukan, tapi laksa penang buatan Mak Cik enak, sehingga saya dua kali pulang pergi meja makan.<strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Hari#10 &#8211; Kuala Lumpur – Batu Cave – Jakarta</strong><br />
Pagi-pagi, saya sudah siap di daerah Pasar Seni, di depan Bangkok Bank, menunggu bus No.11 yang lewat Batu Cave untuk RM2. Saat ini mendekati Dipavali, jadi saya berharap akan ada lumayan banyak orang yang berdoa di Batu Cave. Walaupun tidak terlalu giat, pengelola Batu Cave tampak sedang mempersiapkan diri untuk perayaan Dipavali. Tangga masuk ke dalam gua sedang dibersihkan menggunakan deterjen.</p>
<p>Di tengah tangga menuju ke dalam Batu Cave yang berjumlah 250 buah lebih, sekarang Malaysian Torism Board membuka akses untuk wisata ke ‘Dark Cave’ <a href="http://www.darkcave.com.my">www.darkcave.com.my</a>. Smart banget, wisatawan datang ke Batu Cave banyak sekali, mereka tinggal ‘nyetop di tengah jalan’. Dark Cave waktu tahun 2003 masih tertutup pagar. Sekarang dibuka untuk umum. Dikelola oleh sebuah NGO &#8211; Malaysian Nature Society bekerjasama dengan Malaysian Torism Board. Asik ngobrol sama officernya; kelihatan mereka mengelola goa ini dengan passion bukan sekedar proyek dari departemen. Officer yang ini ternyata malah belum pernah ke Kinabalu. Ke Rinjani dulu aja, Mas&#8230; <em>I bet my reputation that Rinjani is more stunning.<br />
</em><br />
Diluar keterpaksaan saya untuk terbang langsung ke Vientiane, seluruh pengeluaran masih di dalam koridor yang dipatok oleh <a href="http://www.artoftravel.com">www.artoftravel.com</a>. Di mana ‘land cost’ saya tidak lebih dari USD 25/hari.</p>
<p>(selesai)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2008/10/buspacking-laos-4-vang-vieng-dan-rahasia-blue-lagoon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buspacking Laos 3 : Phonsavan dan adrenalin junkies</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2008/10/buspacking-laos-3-phonsavan-dan-adrenalin-junkies/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2008/10/buspacking-laos-3-phonsavan-dan-adrenalin-junkies/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 16:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puguh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mancanegara]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[Tempat Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan Dunia / World Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[laos]]></category>
		<category><![CDATA[phonsavan]]></category>
		<category><![CDATA[plain of jar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[Hari#5 &#8211; Luang Prabang – Phonsavan Bus dari Luang Prabang menuju Phonsavan hanya tersedia untuk perjalanan siang hari. Mungkin ini menyangkut kondisi keamanan di jalur antara Luang Prabang sampai pertigaan menuju ke Phonsavan. Karena Vientiane- Phonsavan v.v. tersedia bus malam hari. Jalan yang menghubungkan Luang Prabang – Vientiane dikenal sebagai Route 13, yang di tengahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
Hari#5 &#8211; Luang Prabang – Phonsavan</strong><br />
Bus dari Luang Prabang menuju Phonsavan hanya tersedia untuk perjalanan siang hari. Mungkin ini menyangkut kondisi keamanan di jalur antara Luang Prabang sampai pertigaan menuju ke Phonsavan. Karena Vientiane- Phonsavan v.v. tersedia bus malam hari. Jalan yang menghubungkan Luang Prabang – Vientiane dikenal sebagai Route 13, yang di tengahnya terdapat pertigaan menuju Phonsavan.</p>
<p>Namun anehnya justru setelah melewati pertigaan dan masuk Route 7 ke arah Phonsavan, penumpang bus saya bertambah satu dengan naiknya seorang laki-laki yang menyandang senapan laras panjang.<span id="more-500"></span></p>
<p>Karena bangku di seberang gang kosong, maka si pria bersenjata tadi duduk persis di seberang saya. Saya perhatikan pelan-pelan senapannya. Tidak tampak ada magazin, tidak kelihatan ada <em>firing chamber</em> ataupun <em>loading mechanism</em>. Dudul&#8230; ini mah senapan angin model per!!! Kalo saya bisa bicara bahasa Laos, mungkin saya sudah tanya,”Mau nembak burung di mana, Mas? Tembak burung sendiri aja dulu&#8230;” Ceritanya beberapa ruas jalan memang belum sepenuhnya aman dari penghadangan, sehingga bus akan dikawal orang bersenjata.</p>
<p>Informasi yang saya dapat sebelum berangkat bilang, di jalur ini biasanya pengawalan dilakukan oleh orang sipil yang membawa senjata api paling tidak AK-47. Itu pun saya masih bertanya-tanya kira-kira apa prosedur yang akan dilakukan jika benar bus saya dihadang. Menghadang bus tidak mungkin dilakukan hanya dengan 2-3 orang. Dan didalam bus hanya ada satu orang dengan senjata. Rasanya mending ngomong baek-baek daripada menggunakan senjatanya. Dan kali ini, bus saya dikawal dengan senapan angin!</p>
<p>Sorenya sampai di terminal bus Phonsavan, langsung disergap oleh beberapa orang yang membawa plakat penginapan. Saya memilih penginapan di tengah kota dan direkomendasikan oleh buku panduan saya. Saya diangkut menggunakan van mewah buatan Korea menuju ke tengah kota.</p>
<p>Saya memesan tour keliling Plain of Jar untuk keesokan harinya seharga K100,000. Rasanya kalau Anda punya cukup waktu, lebih baik menyewa sepeda motor, agar bisa lebih lama di lokasi Plain of Jar. Dan untuk mengisi sore hari, saya mampir ke kantor MAG.</p>
<p>Foto-foto di kantor MAG cukup berkesan. Menggambarkan bagaimana daerah plateau sekitar Phonsavan adalah ladang bahan peledak. Mulai dari ranjau personel sampai bom udara yang tidak meledak. Beberapa menunjukkan bagaimana selongsong bom setinggi 1,5-2 meter sekarang digunakan sebagai pot atau tiang penyangga rumah. Dari petugas di kantor ini, saya tahu bahwa foto-foto tersebut diambil di desa Thajok.</p>
<p>Buat korban majalah gaya hidup yang sudah merasa sebagai ‘adrenaline junkies’ atau ‘fun-fearless-female’ harus coba membantu di garis depan teman-teman MAG (<a href="http://www.maginternational.org">www.maginternational.org</a>). <em>Adrenaline Rush Guaranteed!!!</em></p>
<p>Dari display di kantor MAG, saya dapati bahwa beberapa jenis ranjau sekilas seperti bola besi berdiameter 8-10 cm. Ini mengingatkan saya ketika sehari sebelumnya melihat sekelompok pria Laos bermain petanque. Benar-benar kombinasi buruk, kalau ada yang menemukan ranjau berbentuk bola besi yang belum meledak dan digunakan untuk bermain petanque.</p>
<p><strong>Hari#6 &#8211; Phonsavan – Plain of Jar – Vang Vieng</strong><br />
Pagi itu saya sarapan di restoran dekat kantor MAG dan melihat beberapa kendaraan four wheel drive besar dan kecil berseliweran mengangkut staff berbaju coklat muda. Di bagian luar kendaran tertulis “LAOS UXO”. Sebuah program pemerintah Laos untuk menjinakkan UXO (Unexploded Ordonance). MAG bekerja sama dengan LAOS UXO dalam menjalankan programnya. Ketika membaca aktivitas MAG, yang pertama kali terlintas adalah Mbah Kakung saya yang di era tahun 50-an, pekerjaannya persis seperti mereka. Cuma dari cerita si Mbah dulu, karena pada masa itu tidak ada prosedur yang ketat dan kadang daripada repot harus memasang sumbu dan bahan peledak, lebih mudah kalo si <em>unexploded ordonance</em> ditembaki dari jauh saja. Hmmm&#8230; sekarang saya tahu, dari mana saya dapat gen itu!</p>
<p>Sebuah Landrover Defender station wagon berhenti di depan kantor MAG dan orang-orang berbaju biru tua turun mengangkut beberapa perlengkapan. Kalau melihat gulungan kabel panjang yang dinaikkan ke atas roof rack, keliatannya mereka adalah tim yang bertugas melaksanakan peledakan.</p>
<p>Plain of Jar adalah tujuan utama saya dalam perjalanan ini untuk dua sebab, yaitu: tempayan batu ini adalah produk dari peradaban yang sama sekali musnah, dan kedua, karena tempayan batu yang dibuat oleh peradaban yang musnah juga terdapat di Lembah Bada,  Besoa dan Namu di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Namun secara simetri, dan kerapian, buatan nenek moyang orang Indonesia lebih rapi.</p>
<p>Ada tiga lokasi di mana terdapat sekumpulan tempayan batu. Yang kesemuanya dulunya merupakan daerah sasaran pesawat pembom yang ingin melemahkan pergerakan logistik Vietcong melalui “Ho Chi Mihn Trail”. Rasanya saya bisa membayangkan di udara sejuk dan pemandangan yang indah ini, pesawat pembom terbang di langit dan menjatuhkan isi perutnya.</p>
<p>Site 1 adalah site dengan jumlah tempayan paling banyak. Di balik bukit lokasi tempayan terlihat Phonsavan airport plus pesawat tempur yang dipakir di apronnya. Dari kejauhan sulit mengidentifikasi jenis pesawat tempurnya, tapi kata turis yang pernah terbang dari airport, jejeran pesawat itu adalah MIG buatan Rusia.</p>
<p>Site 2 jumlahnya lebih sedikit dan tersebar di dua lokasi.</p>
<p>Site 3 jumlah tempayan lebih banyak dari site 2 dan terkumpul hanya di satu lokasi.</p>
<p>Yang menjadi kesamaan diantara ketiga lokasi tersebut adalah ketiganya berada di tempat yang relatif tinggi sehingga dapat melihat jauh ke arah perbukitan.</p>
<p>Daya tarik lain area Phonsavan adalah adanya daerah Long Cheng (Long Chen). Saya coba cari di Wikimapia, daerah ini tidak ditandai, tetapi di google earth tampak ada spot ini walaupun tidak terlalu jelas.</p>
<p>Long Cheng adalah saksi bisu perang dingin. Jarak dari Phonsavan sekitar 60 km ke selatan. Menurut cerita di Lonely Planet, beberapa orang mencoba untuk masuk, tapi tempat ini masih dijaga ketat oleh angkatan bersenjata Laos karena masih difungsikan sebagai military base.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" title="Thajok kids" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/Thajok13.jpg" alt="" width="540" height="378" />Saya tanya ke guide saya apakah dia pernah sampai di tempat itu. Ternyata walaupun dia sendiri adalah orang Hmong, dia belum pernah sampai ke sana. Tetapi saudara laki-lakinya pernah sampai di sana. Katanya, <em>“It was so nice, there are stadium, air strip”.</em></p>
<p>Selesai tour Plain of Jar, saya berbagi tuk-tuk dengan seorang gadis Slovenia untuk menuju ke desa Thajok untuk K120,000 (di kemudian waktu saya beruntung supir tuk-tuk berganti kendaraan dengan minibus, karena letak desa Thajok hampir 30km di luar Phonsavan, dan jalanannya kalo menggunakan tuk-tuk, saya agak ragu apa bisa sampai). Saya menemukan tempat ini persis seperti foto-foto di kantor MAG. Ditambah orang-orang Hmong yang menyambut saya dengan dingin. Mungkin saya adalah rombongan kesekian yang datang membawa kamera, foto-foto, dan kemudian pergi tanpa pernah benar-benar mengubah hidup mereka.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Thajok house" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/Thajok33.jpg" alt="" width="378" height="540" /></p>
<p>Desain asli rumah orang Hmong tidak menggunakan jendela. Hanya barisan papan dan sedikit celah untuk pintu masuk. Tampaknya di tengah desa Thajok ini ada lembaga yang berusaha mendirikan contoh rumah sehat. Yang menyenangkan adalah, walaupun orang Hmong punya sejarah panjang dengan pemerintah Laos, desa mereka tetap mendapat pasokan listrik.</p>
<p>Karena sandal saya copot lem-lemannya, saya belanja super glue di pasar. Rata-rata barang impor di Laos adalah buatan Cina. Di Phonsavan sendiri ada pasar khusus yang disebut “Chinese Market”. Saya mendapat lem buatan China dengan merek “FUX”. Si Slovenian bilang, dalam bahasanya FUX berarti “Idiot”. Yah semoga juga mereka tidak memproduksi lem yang lebih kuat dengan merk “FUX YU”. Apa pun namanya, lem buatan Cina itu kuat banget, karena sandal saya selamat sampai Jakarta.</p>
<p>Teman Slovenia saya akan lanjut ke Hanoi dari Phonsavan besok. Sedangkan saya malamnya menumpang bus menuju Vientiane, tapi saya akan turun di Vang Vieng, tiga jam sebelum Vientiane. Kali ini saya beruntung go-show ke terminal dan masih dapat tempat duduk. Karena bus kali ini penuh sampai beberapa orang duduk di gang tengah dengan kursi plastik. Mungkin bukan cuma saya yang berpikir menghemat biaya perjalanan dengan ‘menginap di bus’.</p>
<p>Lepas 30 menit dari terminal bus Phonsavan, kernet bus mulai jalan bolak-balik di gang menawarkan <em>‘land sick bag’</em>. Benar saya, tak lebih dari satu jam di barisan depan mulai terdengar suara orang muntah. Kali ini dengan disertai suara yang ekspresif; beberapa kali ‘hoek-hoek-hoek, (disusul suara cairan tumpah)’ dan ditutup suara batuk-batuk. Karena duduk di dekat jendela, buat saya tidak terlalu masalah selama bus bergerak.</p>
<p>Putaran kedua ‘nyanyian lagu pengiring muntah’, ibu-ibu di bangku depan saya tidak bisa menahan ketawa. Selera humor yang aneh&#8230; tapi terus terang selama ada yang muntah-muntah di bangku deretan depan, saya juga tersenyum-senyum sambil menebak-nebak: siapa yang berikutnya kepancing??</p>
<p>Bus AC di Laos umumnya dilengkapi dengan TV yang terus-menerus memutar video karaoke musik pop. Agak sulit membedakan apakah musik pop Laos atau musik pop Thailand. Yang pasti, masih banyak <em>‘room for improvement’</em> di video klip pop musik Indochina. Terutama penari latarnya, adoh! Beberapa lagi video klipnya sangat membumi, seperti cerita tentang pemuda desa yang pindah ke kota dan meninggalkan kekasihnya di desa&#8230;.</p>
<p>berlanjut ke Buspacking Laos4 : Vang Vieng, rahasia Blue Lagoon</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2008/10/buspacking-laos-3-phonsavan-dan-adrenalin-junkies/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buspacking Laos 2 : Luang Prabang dan negeri para bhiku</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2008/10/buspacking-laos2/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2008/10/buspacking-laos2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 05:01:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puguh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mancanegara]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[Tempat Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan Dunia / World Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[laos]]></category>
		<category><![CDATA[luang prabang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Hari#3 &#8211; Luang Prabang Sambil naik bus malam saya berpikir; bus Vientiane – Luang Prabang, makan waktu 11-12 jam perjalanan, tarifnya K120,000, dengan harga solar K9,850. Dengan hitung-hitung konversi warung kopi: 1USD=K8, 500=Rp9.500) maka ongkos yang dibayar sama dengan naik bus Jakarta &#8211; Surabaya, ongkosnya Rp135.000 dengan harga solar Rp 10.835. Ekonomi biaya tinggi memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hari#3 &#8211; Luang Prabang</strong><br />
Sambil naik bus malam saya berpikir; bus Vientiane – Luang Prabang, makan waktu 11-12 jam perjalanan, tarifnya K120,000, dengan harga solar K9,850. Dengan hitung-hitung konversi warung kopi: 1USD=K8, 500=Rp9.500) maka ongkos yang dibayar sama dengan naik bus Jakarta &#8211; Surabaya, ongkosnya Rp135.000 dengan harga solar Rp 10.835. Ekonomi biaya tinggi memang seperti kentut, tak kelihatan tapi nyata baunya. Sejauh ini yang terasa mahal di Laos adalah: tarif WC terminal K2,000!!<span id="more-497"></span></p>
<p>Pagi-pagi saya disambut hujan di Terminal Bus Luang Prabang. Saya naik tuk-tuk K10,000/orang untuk masuk ke dalam kota. Di penginapan Choumkong, paling murah menurut LP namun memiliki ‘kamar mandi paling besih’. Lumayan, K50,000 per malam per kamar untuk kamar dengan fan dan kamar mandi luar.</p>
<p>Yang cukup mencolok mata sejak kedatangan di Luang Prabang adalah rambu dilarang merokok di Tuk-tuk dan di penginapan. Tampak stiker <em>“Luang Prabang – World Heritage without Smoke.” </em>Gile, Laos ini negara paling miskin di kawasan tapi warganya dilarang merokok! Merokok kan membantu melupakan kesulitan hidup dan lumayan buat pemasukan negara.</p>
<p><img class="alignleft" style="margin: 8px;" title="Luang Prabang Temple" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/Luang-Prabang-26.jpg" alt="" width="253" height="362" />Saya mengunjungi Istana Luang Prabang (K30,000) yang isinya adalah barang-barang milik kerajaan. Bangunan kerajaan di pinggir sungai besar begini, mengingatkan saya pada bangunan Kesultanan Kutai Kertanegara di Tenggarong. Dari sedikit koleksi buku yang dipamerkan, rata-rata adalah buku tentang pemikiran kiri.</p>
<p>Keluar dari bangunan istana, saya dipersilakan mengunjungi koleksi kendaraan Raja. Ada lima mobil: sebuah Land Cruiser tahun 60-an dengan boat trailer, Citroen, dan tiga unit Cadillac yang tertulis sebagai “Present from US Government” hehe&#8230;, kendaraan diplomasi atau diplomasi kendaraan nih?</p>
<p>Agak menyebalkan ketika mengumpulkan informasi masalah kuliner di Luang Prabang, karena kebanyakan hanya mendiskusikan betapa Luang Prabang menyediakan kemudahan untuk mendapatkan makanan Eropa. Lama-kelamaan saya sedikit mengerti, mungkin yang dijual dari Luang Prabang adalah memang romantisme era kolonialisme. Duduk di café, sambil memperhatikan aktifitas rakyat negara jajahan. Saat di coba sendiri, wuih memang enak loh!!</p>
<p>Saya makan di warung pinggir jalan yang menjual noodle soup. Saya mampir di situ karena kelihatan banyak warga setempat yang makan di warung itu. Bahasa tarzan ambil peranan kalo sudah begini. Pergi langsung ke dapurnya dan tunjuk apa yang dimau: Mie seperti kwetiau plus ayam. Biasanya penjual soup mi seperti ini menyediakan empat pilihan <em>topping</em>: Ayam, Sapi, Babi, Marus (Darah), atau campuran; biasanya Babi dan Marus, ditambah <em>generous</em> amount of vegetable sebagai side dish.</p>
<p>Saya memperhatikan di sayuran yang disajikan sebagai <em>sidedish</em> terdapat buncis dan di meja tersaji kemasan terasi udang. Awalnya terasi dan buncis saya celupkan ke dalam mangkok noodle. Setelah saya perhatikan, warga setempat mencolekkan buncis ke terasi udang dan langsung dimakan. Not bad juga loh rasanya, buncis yang agak pahit dan gurihnya terasi. Cobain di rumah deh! Saya berpikir, terasi udang pasti produk yang lumayan mewah dan diimpor dari luar Laos, karena Laos tidak punya garis pantai.</p>
<p>Kalau kurang kenyang, bisa minta disajikan <em>sticky rice</em> -nasi ketan yang dimakan bersama noodle soup. Cara makannya adalah dengan mengambil segenggam nasi ketan, dipenyet-penyet di tangan sehingga membentuk bola padat dan kemudian dicelupkan kedalam soup, kemudian diemplok. Setelah selesai makan tidak usah cuci tangan lagi, karena kotoran di tangan sudah pindah semua ke nasi ketan.</p>
<p>Sorenya saya naik tangga ke Wat Phushi, untuk bisa melihat seluruh kota Luang Prabang termasuk airport-nya. Luang Prabang adalah titik pertemuan sungai Nam Kham dengan ‘the mighty’ Mekong. Pemandangan ke arah Luang Prabang cukup cantik. Tapi ke arah Mekong harus terganggu oleh tiang listrik dan antena BTS.</p>
<p>Setiap malam, di depan Istana digelar pasar malam. Relatif sepi dibanding Pasar Malam di Chiang Mai. Tapi karena itu lebih bisa dinikmati. Yang menarik adalah desain barang-barang yang dijual. Walaupun menggunakan motif etnis Laos, barang kerajinan yang dijual, didesain dengan sangat baik menjadi taplak, bedcover, atau sarung bantal. Lampion berbentuk bola, accordion, atau kotak yang dijual dibuat untuk bisa dikemas dengan ringkas. Termasuk buku catatan yang terbuat dari kertas daur ulang. Buku catatan dari bahan kertas daur ulang ini dijual dengan harapan digunakan sebagai tempat untuk menempelkan tiket bus maupun obyek wisata yang dikunjungi selama perjalanan.</p>
<p>Harus diakui, institusi yang membina Luang Prabang sukses besar, menciptakan pasar malam, mengarahkan desain dan berbagai rantai produksi, dan tentu saja mendatangkan pembeli.</p>
<p>Urusan makan malam, ada gang di ujung pasar malam, tempat mangkal beberapa penjual ikan bakar. Ikan berukuran panjang hampir 25 cm, hanya dihargai K20,000.</p>
<p><img class="alignright" style="margin: 8px;" title="Luang Prabang Night Market" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/Luang-Prabang-30.jpg" alt="" width="336" height="480" />Kalau di Indonesia, kosmetik dijual dengan bingkai sebagai rahasia kecantikan putri-putri kraton, di Luang Prabang sebuah tempat pijat menjual etnis Khmu sebagai bingkainya. Dalam iklan, mereka bilang: ”Orang Khmu tinggal di gunung dan kerjaannya bertani, bayangin pegelnya mereka jalan kaki naik turun gunung dan bekerja di ladang. Pijat Khmu dikembangkan secara turun-menurun untuk menghilangkan penat setelah bekerja di ladang dan naik turun gunung. Datanglah ke tempat kami – Khmu Spa dan Pijat dan buktikan sendiri”. Anda mau bikin pijat Baduy di Jakarta?”</p>
<p><strong><br />
Hari#4 &#8211; Luang Prabang</strong><br />
Jam 6 pagi saya sudah nongkrong di depan Wat Xieng Thong, tempat para Bikhu akan memulai ritual sedekah pagi. Dalam perjalanan menuju ke sana saya melihat beberapa warga Luang Prabang sudah bersedia di pinggir jalan dengan tempat bambu berisi beras ketan, lauk, atau pisang.</p>
<p>Pukul enam, dari dalam Wat terdengar suara kentongan dengan irama seperti beduk pembuka azan di pulau Jawa. Para Bikhu mulai terlihat di lapangan Wat dan mulai berjalan keluar. Konon para Bhiku ini tidak makan selain apa yang mereka dapatkan saat ritual sedekah pagi.</p>
<p>Sehari sebelumnya, di beberapa tempat saya melihat banyak poster di penginapan dan tempat umum di Luang Prabang mengenai sikap yang harus dijaga para turis saat menyaksikan sedekah pagi; kepala tidak boleh lebih tinggi dari para Bikhu, dan tidak boleh memotret dari jarak yang terlalu dekat. Juga diingatkan para turis untuk tidak membeli nasi dan memberikan kepada Bhiku bila tidak yakin mengenai kualitas dari nasi tersebut. <em>“Respect our culture”</em> kalimat di akhir posternya. <em>You can pay doesn’t mean you can do anything you like! </em>– yang ini kalimat saya sendiri.</p>
<p>Beberapa turis kulit putih saya lihat ikut menikmati ‘sensasi memberi’. Mungkin di negara mereka, urusan memberi bisa jadi urusan rumit ketika apa yang mereka beri ternyata dianggap merugikan si penerima. Tentu hal ini tidak akan terjadi dengan para Bikhu yang menerima sedekah pagi. Dan yang pasti setelah memberi sedekah pagi, hal tersebut memberikan perasaan: <em>&#8220;Damn, I am a good person, huh&#8221;</em>. Sungguh memuakkan melihat turis memberikan sedekah pagi sambil menyuruh-nyuruh guide-nya untuk memotret ketika dia memasukkan beras ketan ke tempayan para Bikhu.</p>
<p>Para Bikhu yang berjumlah hampir 200 orang ini, melakukan satu putaran di semenanjung Luang Prabang sampai di Istana dan kembali ke Wat untuk memulai aktivitas.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Luang Prabang Monks" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/Luang-Prabang-18.jpg" alt="" width="540" height="378" /></p>
<p style="text-align: left;">Kalau sekali waktu anda berminat memotret prosesi sedekah pagi ini, pastikan anda melengkapi diri dengan peralatan yang sangat penting: sepeda sewaan. Para Bikhu hanya memperlambat jalan sambil membuka tempayan. Dalam waktu dari kurang satu jam, barisan sekian banyak Bikhu, akan sudah mengakhiri satu putaran rute sedekah pagi dan kembali ke Wat. Sepeda sewaan akan membantu mendapatkan momen yang bervariasi dalam satu pagi.</p>
<p style="text-align: left;">Setelah para Bikhu kembali ke dalam Wat, saya pergi ke pasar basah dan terpikat bau kopi. Karena kelihatan banyak warga lokal mampir ke situ, saya juga mulai sok tahu ikut nongkrong dan memesan kopi Laos. Ternyata yang duduk di situ adalah wisatawan dari Thailand. Mereka bercerita bahwa warung kopi ini sangat terkenal sampai ke Thailand. Ini juga dibuktikan dengan buku komentar yang bertumpuk. Sayang kebanyakan dalam aksara Thai sehingga saya tidak bisa membaca komentar-komentarnya.</p>
<p>Cara membuat kopi Laos tidak jauh berbeda seperti kopi di jazirah melayu. “Kopi kaos kaki” saya menyebutnya, karena biji kopi yang sudah digiling diletakkan di saringan panjang yang terbuat dari kain menyerupai kaos kaki. Meskipun begitu, susu kental manis yang sebelum diaduk hampir setinggi 2cm di dasar gelas, ketika diaduk dengan kopi tidak tampak bekas kehadiran susu kental manis tersebut karena saking pekatnya kopi.</p>
<p>Saya ngopi sambil membuka bungkusan daun pisang berisi ketan hitam, persis seperti yang dijual mbok penjual cendil di Jawa. Sejauh ini, di pasar basah, beberapa jajanan mak-pleg sama persis jajan pasar di Jawa. Ketan, singkong, rengginang, bahkan sempet lihat intip seperti di Solo.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" title="Luang Prabang coffee stall" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/000036.jpg" alt="" width="540" height="378" /></p>
<p style="text-align: left;">Saya sarapan di tempat noodle soup yang berbeda dengan kemarin. Kebetulan saya bertemu dengan pasangan yang mengelola warung ini. Mereka baru saja dikaruniai seorang anak dan akan melaksanakan selamatan. Dan makanan untuk kendurinya: noodle soup! Tapi dengan arrangement topping yang berbeda. Ketika saya memesan jenis noodle soup yang disajikan untuk kenduri, dijawab dengan sopan bahwa itu tidak untuk dijual. Choy, sang suami bekerja sebagai tour guide, sehingga bahasa Inggris-nya cukup baik. Hari ini dia libur karena akan ada kenduri. Dia dengan bangga menunjukkan album foto pernikahannya. Saya melihat gambar saat para Bikhu datang ke acara di rumah mereka. Ternyata sehari sebelum dilangsungkan ijab kabul, prosesi diawali dengan mengundang Bikhu ke rumah mempelai untuk memberi pemberkatan. Ya, kurang lebih seperti selametan di Jawa, yang mengundang ustad atau ibu-ibu pengajian.</p>
<p>Ketika saya tanya pandangan beliau tentang turis Perancis, dia menyampaikan ketidaksukaannya. <em>“They killed my anchestors!”</em>. Saya kira dengan melihat banyaknya bantuan yang diberikan, kemudian kantor-kantor pemerintahan dan sekolah yang masih mencantumkan bahasa Perancis di papan nama, hubungan emosional masyarakat Laos dan segala yang berbau Perancis sangat mesra. Seperti juga di Vietnam, dengan kalangan tua dan yang kelihatannya terdidik, biasanya bahasa Perancis bisa digunakan untuk komunikasi. Tapi tidak untuk di pasar.</p>
<p>Siangnya saya mencoba keluar dari daerah turis dengan sepeda, suasananya seperti kota kecamatan di jalur Pantura Jawa: berdebu, warung, bengkel, dan toko kelontong di mana-mana. Waktu mampir ke airport. Karena sempat salah jalan, saya hampir masuk ke runway dengan sepeda. Kayaknya memang bukan ide bagus menggunakan transportasi udara. Kalo sapi yang nyasar, gimana coba?</p>
<p>Pukul 3 sore, saya berbagi boat dengan pasangan Italia. Mereka datang ke Luang Prabang dari arah Huay Xai menelusuri Mekong selama dua hari. Untuk rute air menuju Luang Prabang, juga bisa menggunakan speed boat yang biasanya dijuluki Mekong Formula-1  dan hanya makan waktu hanya 6 jam.</p>
<p>Waktu tawar-menawar rasanya cukup kesal juga membayar K320,000 dibagi berempat  ke gua Pak Ou. Tapi tertebus oleh perjalanan sungai selama 2 jam menuju hulu dan satu jam turun. Di tengah perjalanan saya mampir ke satu desa yang “dikemas” dengan baik. Sebuah desa kecil dengan Wat kecil dan Bikhu-nya, ada pembuatan Lao Wiskey, dan banyak penjual cinderamata. Di beberapa toko dipajang alat tenun tradisional yang tampaknya tidak pernah dipakai. Tapi cukup untuk membuat pengunjung berpikir bahwa kain yang dijual dibuat dengan alat tenun tradisional.</p>
<p>Pak Ou Cave sendiri jauh dari <em>impresive</em>. Sedikit di atas permukaan air Sungai Mekong dan tidak seberapa jauh masuk kedalam. Memang banyak patung Budha berukuran kurang lebih 10-20  cm, jumlah yang saya ragukan mencapai 4.000 buah seperti diklaimnya.</p>
<p>Malam hari saya kembali <em>strolling around</em> pasar malam. Ada tiga wanita bercakap-cakap dengan “elo – gue”. Hmm, orang Indonesia apa bukan ya? Bodo ah, males negur-negur. Setelah satu putaran, ketemu lagi dengan mereka, dan masing menenteng kantong kresek besar penuh produk cinderamata! Sekarang saya yakin, mereka orang Indonesia!!! (dan memang benar orang Jakarta, karena teman saya memutuskan untuk menegur).</p>
<p>Makan lagi dengan menu ikan bakar di pasar basah. Waktu lagi duduk di bangku warung, kali ini saya ditegur duluan oleh seorang wanita yang ternyata berasal dari Ubud &#8211; Bali, dan sedang bekerja untuk peluncuran hotel group terkenal. “Enam bulan saya kerja di Luang Prabang, gak pernah ketemu orang Indonesia. Lah, malah di tengah pasar gini ketemu!” Iya lah, Mbak&#8230; <em>Law of fatal attraction&#8230;</em></p>
<p>Terus terang, melihat apa yang disajikan Luang Prabang, agak sakit hati kalo Bali tidak bisa menjadi World Heritage Site!</p>
<p>berlanjut ke Buspacking Laos3 : Phonsavan dan adrenalin junkies</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2008/10/buspacking-laos2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buspacking Laos 1: Vientiane dengan Jamia dan Azahara</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2008/10/buspacking-laos1/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2008/10/buspacking-laos1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 04:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puguh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mancanegara]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[Tempat Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan Dunia / World Heritage]]></category>
		<category><![CDATA[kualalumpur]]></category>
		<category><![CDATA[laos]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[vientiane]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Saya hanya punya waktu terbatas, sehingga harus memilih antara Plain of Jar (Luang Prabang) di Laos atau Angkor Wat di Kamboja. Keduanya sama-sama dinobatkan sebagai World Heritage Site oleh Unesco. Rasanya waktu saya cari di internet, catatan mengenai Angkor Wat dan Kamboja jauh lebih banyak dibanding Laos. Cuma satu orang yang saya kenal pernah berkunjung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya hanya punya waktu terbatas, sehingga harus memilih antara Plain of Jar (Luang Prabang) di Laos atau Angkor Wat di Kamboja. Keduanya sama-sama dinobatkan sebagai World Heritage Site oleh Unesco. Rasanya waktu saya cari di internet, catatan mengenai Angkor Wat dan Kamboja jauh lebih banyak dibanding Laos. Cuma satu orang yang saya kenal pernah berkunjung ke Laos sampai di Plain of Jar. Pembersihan ranjau di Plain of Jar di Laos belum sebersih Angkor Wat. Di Laos ada ‘Notorious Route 13’ jalanan antara Vientiane dan Luang Prabang di mana kernet bus selalu dibekali senjata api. Angkor Wat memiliki penjelasan siapa yang membangun sedangkan Plain of Jar dibuat oleh peradaban yang punah tanpa catatan apa pun dan secara fisik kurang lebih sama dengan tempayan batu di Lembah Bada – Sulawesi Tengah. Selain itu, Laos adalah negara ter&#8230;miskin di ASEAN&#8230; <em>statistically at least.<br />
</em><br />
So, kesimpulannya: <em>let’s go to Laos!</em><span id="more-494"></span></p>
<p>Setelah diingat dengan baik, kunjungan ke Laos adalah kunjungan kedua, setelah pernah dengan tidak resmi mengunjungi daerah Mae Sae &#8211; Golden Triangle, tempat boat dulu merapat ke sisi Laos.</p>
<p>Gambaran tentang orang Laos, dibandingkan dengan negara sekitarnya digambarkan oleh kolonial Perancis dengan kalimat: <em>“Vietnamese plant rice, Cambodian watch it, and Laotian listen to it growing”</em>&#8230; mungkin kalau sekarang perlu ditambahkan <em>“&#8230;and Indonesian import it, damaging their own domestic price”.<br />
</em><strong><br />
Hari#1 &#8211; Jakarta – Kuala Lumpur</strong><br />
Jalur biasa: AirAsia Jakarta – Kuala Lumpur. Penerbangan KUL-VTN hadir lima kali dalam seminggu kecuali Minggu dan Senin. Lumayan&#8230; sampai di Kuala Lumpur masih dalam suasana Lebaran, hingga jalanan di dalam kota sangat lengang. Demikian juga berbagai sarana transportasi umum. Bus LCCT-KL Sentral saya pesan melalui web, dan ternyata sedikit lebih murah dibandingkan membayar langsung di tempat.</p>
<p>Menarik melihat Air Asia mencoba menerapkan <em>fair price</em> bagi penumpangnya. Bagasi sekarang pun dihitung per buah, supaya <em>fair</em> bagi yang tidak membawa bagasi. Mungkin besok-besok penumpang harus membayar saat menggunakan toilet pesawat. Supaya <em>fair</em> bagi mereka yang sanggup menahan pipis di pesawat.</p>
<p>Saya tinggal di YMCA di daerah Brickfield (RM40/orang) dekat KL Sentral dengan pertimbangan akses ke bus menuju LCCT. Dari dulu, teman-teman penduduk KL selalu mengingatkan bahwa daerah ini agak rawan. Saya jalan pelan-pelan memperhatikan toko satu per satu, sampai tiba-tiba seorang perempuan membuka pintu sambil bilang dengan aksen Malay, <em>“Please, come in Cik</em>, ade yang Melayu, Cina, dan India&#8230;” pemandangan dalam gang masuk ke dalam remang-remang karena hanya diterangi lampu kerlap-kelip&#8230; he he he&#8230;, jualan makanan ya? Atau daging mentahnya??<br />
<strong><br />
Hari#2 &#8211; Kuala Lumpur &#8211; Vientiane</strong><br />
Bus bertama dari KL Sentral menuju LCCT beroperasi pukul 3.30 pagi dan setiap kelipatan 30 menit berikutnya. Butuh waktu sekitar 1 jam 15 menit untuk mencapai LCCT. Penerbangan ke Vientiane sendiri makan waktu 2,5 jam.</p>
<p>Melihat Vientiane dari udara seperti melihat kota kabupaten di Kalimantan. Lansekap datar dengan pemukiman yang tersebar dan sungai besar di dekatnya.</p>
<p>Turun dari pesawat, di depan loket visa berdiri beberapa officer perempuan yang disiapkan sebagai Liason Officer. Saya bertanya ke mereka, apakah warga sesama negara ASEAN memerlukan visa. Dan dijawab dengan yakin: NO! (Yakin loe&#8230;?)</p>
<p>Saya berusaha berpura-pura bodoh di depan loket imigrasi (ok deh, mungkin saya tidak perlu berpura-pura). Paspor saya polos tanpa visa. ”Kan sesama negara ASEAN, Sir?”. <em>“This is not official passport, pay your visa there!” </em>Yah&#8230; USD30 melayang untuk izin berada di Laos selama satu bulan. Dan ketika saya melihat daftar harga visa memang terdapat daftar negara-negara ASEAN. Beberapa turis kulit putih di depan saya tampak menyiapkan 2 lembar pecahan USD 1 di pembayaran visa mereka. Kalau saya sih modal senyum-senyum saja. Saya jadi orang terakhir yang keluar dari loket imigrasi dan menuju ke tempat pengambilan bagasi. Tidak ada pemeriksaan <em>Custom</em> setelahnya.</p>
<p>Sepi sekali untuk ukuran bandara internasional di ibukota negara. Saya keluar dan tidak banyak pilihan untuk ke kota selain dengan taksi dan membayar melalui konter resmi seharga USD7 (yeap, pembayaran dalam USD, dan kembalinya dalam USD) untuk sampai di Kedutaan Besar Republik Indonesia.. Saya ‘menawar’ harga taksi untuk berhenti dahulu di Northern Bus Terminal, untuk membeli tiket bus malam ke Luang Prabang sekalian menitipkan tas.</p>
<p>Belakangan saya tahu, kalau posisi airport ini tidak jauh dari jalan besar. Jadi kalau ingin modal malu jalan di siang bolong ke arah pintu keluar, akan segera dapat ketemu Tuk-Tuk.</p>
<p>Tanpa calo dan harga tiket transparan diumumkan di depan loket bus, saya membeli tiket bus tujuan Luang Prabang seharga K120,000 untuk keberangkatan pukul 19.00. Saya dipersilakan menitipkan tas di loket, tapi tanpa tanda terima apa-apa. Sudah untung boleh nitip, mungkin begitu pikir petugas loket.</p>
<p>Ada tiga kategori bus antar kota di Laos; Local Bus, AC, dan VIP. Saya perhatikan local bus tidak menggunakan AC, sedangkan VIP adalah bus double decker lengkap dengan AC. Mengingat kehandalan sistim AC bus di Laos, saya memilih bus AC, karena berpikir kalaupun AC tidak berfungsi masih ada jendela yang bisa dibuka. Dibandingkan dengan bus VIP yang jendelanya terbuat dari kaca rapat.</p>
<p>Setelah mendapat tiket bus malam, saya melanjutkan perjalanan ke KBRI, niatnya untuk lapor diri. Lokasi KBRI berada di daerah terbaik Vientiane, dekat dengan monumen Patuxai. Tapi karena hari itu adalah hari Sabtu, konsuler tutup dan saya hanya sempat berbicara melalui telepon dengan staff KBRI untuk mendapat gambaran apakah ada orang Indonesia yang tinggal di daerah yang akan saya kunjungi. Tampaknya tidak ada orang Indonesia yang tinggal di daerah Luang Prabang atau Phonsavan.</p>
<p>Saya bertanya kepada petugas keamanan kedutaan untuk meminta rekomendasi tempat makan yang enak dan diarahkan di satu jalan di belakang KBRI. Good recomendation. Noodle Soup with Chicken plus vegetables.</p>
<p>Keluar dari warung mie, saya beranikan jajan es, yang ternyata cincau hijau. Hebatnya biar jajanan pinggir jalan, batu es yang digunakan tampaknya memang diproduksi untuk dikonsumsi dan bukan pecahan batu es pendingin ikan. Karena semasa sekolah termasuk yang sering jajan jorok, saya hafal betul rasa es yang dibuat dari air mentah. Di kemudian hari, saya temukan bahkan sampai di kota kecil seperti Vang Vieng, terlihat industri rumahan yang memproduksi batu es untuk konsumsi.</p>
<p>Setelah itu saya melihat dari dekat monumen Paxutai yang idenya diinspirasi oleh Arc de Triomphe. Sebenarnya bangunan Paxutai ini paling bagus kalo dilihat dari jauh. Karena begitu dilihat dari dekat, bentuknya seperti monster semen (demikian yang tertulis di papan pengumumannya). Apalagi ketika kita masuk ke dalam (K3,000) tampak betul bahwa bangunan ini belum sepenuhnya selesai. Di lantai dua dan tiga menuju puncak menara dipenuhi oleh pedagang cinderamata dan t-shirt. Dari atas kelihatan mungkin hampir keseluruhan kota Vientiane yang datar dan belum banyak bangunan tinggi.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" title="Mekong Delta 2" src="http://i14.photobucket.com/albums/a328/ambarbriastuti/pak-ou-3.jpg" alt="" width="480" height="336" /></p>
<p style="text-align: left;">Dari monumen Paxutai saya berjalan sepanjang “Champ d’Ellysse” dengan mampir ke Talat Dao (pasar pagi) dan kemudian menuju Nam Phu Fountain.</p>
<p>Nam Phu Fountain adalah <em>roundabout</em> (bunderan) yang sudah ditutup untuk kendaran bermotor, dan dikelilingi oleh restoran bergaya Eropa yang siang itu kebanyakan masih tutup.</p>
<p>Agak bingung juga saya harus melihat apa untuk menunggu pukul 19.00, akhirnya diputuskan untuk melakukan kegiatan religius yaitu mengunjungi semua Masjid di Vientiane yang cuma ada dua. Masjid pertama adalah Masjid Jamia yang terletak sekitar 100 meter dari Nam Phu Fountain, dibangun oleh imigran Pakistan yang pindah ke Vientiane ketika tercipta konflik Pakistan – India.</p>
<p>Pikiran saya ketika memutuskan untuk mengunjungi masjid adalah bukan karena penyesuaian dengan isian agama di KTP, tapi lebih kepada fakta bahwa resminya Laos adalah negara komunis dan komunitas muslim Laos adalah minoritas. Dan hanya masyarakat beradab yang melindungi golongan minoritasnya.</p>
<p>Di Masjid Jamia, saya bertemu dengan beberapa warga Pakistan yang kebetulan sedang mampir, salah satu di antara mereka bekerja di perusahaan Korea dan pernah tinggal di Tanggerang selama enam bulan, dan saya disambut dengan hangat. Selain mereka, saya juga melihat warga Nigeria dan seorang warga Jepang yang tampaknya sudah lebih familiar dengan suasana masjid ini. Ketika dipersilakan Sholat, tentu saya menjawab ‘sudah’. Sudah pernah.</p>
<p>Masjid kedua adalah Masjid Azahara yang terletak agak jauh dari pusat kota. Salah satu warga yang saya temui di Masjid Jamia dengan senang hati menunjukkan arah dan ‘key word’ untuk bertanya ke warga Vientiane kalau-kalau saya nyasar. “Wat Islam/Wat Moslem.”</p>
<p>Jamaah Masjid Azahara ini kebanyakan adalah imigran Kamboja atau muslim Thailand yang bermigrasi ke Laos. Ustad Vina sendiri lancar berbicara Melayu sehingga tidak ada kesulitan bagi saya untuk berdiskusi dengannya. Beliau sendiri berasal dari Kamboja dan memperdalam dakwah di Malaysia. Menurut ceritanya, imigran muslim dari negerinya banyak yang menikah dengan warga asli Laos dan akhirnya memutuskan untuk berganti kepercayaan karena tidak adanya dakwah. Karena itu Ustad Vina bersedia ditempatkan di Laos.</p>
<p>Tepat ketika saya hendak meninggalkan Masjid untuk berangkat ke Terminal Bus menuju Luang Prabang, datang tamu lagi dengan aksen Amerika. Bicara ngalor ngidul. Entah kenapa saya merasakan Ustad Vina tidak ingin bicara lama-lama dengan orang ini. Dia lebih banyak diam.</p>
<p>Setelah saya ingat-ingat kemudian, mungkin salah satu penyebab ustad Vina tidak tertarik dengan obrolan orang ini adalah karena apa yang dia bicarakan tidak lebih menyebar konflik muslim dengan golongan lain walaupun dengan gaya sok membela umat. Dia bicara mengenai<em> “thousand of Moslem in Burma are sent to concentration camp”</em>, “kompetisi dagang antara Budhist and Moslem &#8211; masalah penjualan ternak potong”. Di Burma mah gak usah Muslim, Bikhu juga dikemplangin tentara!. Perasaan saya seperti dia bilang,’eh, di sono ada yang brantem, di sini brantem juga dong, ini antara kita dan mereka nih&#8230;. <em>Halah, mind your own war, Man!!</em></p>
<p>Malamnya saya tidur di dalam bus. Untungnya bulan-bulan ini adalah <em>low season</em> sehingga nomor tempat duduk tidak bernar-benar berlaku dan saya dapat dua tempat duduk per orang.</p>
<p>berlanjut ke Buspacking Laos2 : Luang Prabang dan negeri para bhiku</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2008/10/buspacking-laos1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
