Tag Archives: manado

tanya Manado dan Bunaken

dear backpackers,

saya berencana menghabiskan long weekend 24-27 Januari di Manado. setelah browsing dan buka2 file lama di milis ini, saya menemukan informasi bahwa cara termurah menuju Bunaken adalah menggunakan public boat dari Pasar Jengki, Manado. hanya saja perjalanan tidak bisa dilakukan PP dalam satu hari karena public boat berangkat dari Manado sekitar pukul 2 siang dan kembali ke Manado pukul 7 atau 8 keesokan harinya.

yang ingin saya tanyakan: a. adakah alternatif penginapan murah di Bunaken dengan budget backpacker? syukur2 bisa di bawah 100 ribu.. :) b. untuk snorkeling di Bunaken apakah harus menggunakan guide atau cukup aman untuk snorkeling sendiri tanpa guide? c. saya mendarat di Manado menjelang tengah malam.. apakah bandara di Manado bisa digunakan untuk menginap? jika tidak, alternatif kendaraan apa yang bisa digunakan dari bandara ke kota? (keamanan menjadi faktor utama mengingat saya melakukan perjalanan hanya berdua dengan teman saya dan kami berdua perempuan) c. adakah teman-teman di grup ini yang melakukan perjalanan ke Manado pada tanggal yang sama? siapa tau bisa sharing sewa kapal :)

mohon pencerahan dari rekan-rekan sekalian dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Salam jalan-jalan,

~veRa

Penyeberangan Manado – Bunaken PP

Dear IBP’ers…

Saya sudah search untuk penyeberangan Manado – Bunaken PP baik di Milis ini maupun di Mr. Google tapi belum mendapat kan informasi yang terbaru untuk tahun 2012. (last posting tahun 2010 – an). Saya perlu informasi sebagai berikut: 1. Regular boat / kapal dari Menado – Bunaken v.v. yang bukan rental boat? 2. Pelabuhan penyeberangan ? 3. Jam penyeberangan Menado – Bunaken v.v?

Thanks a lot buat infonya ya.

Salam Lili

[Tanya] Transportasi di Chiang Rai

saya tahun lalu ke Chiangrai, klo pengalaman saya dulu naik bus dari Terminal 2 (yang di dalam kota ) ke Mae sae….bus nya kayak bus2 metromini, lupa berapa baht dulu…habis dari mae sae ke Tachilek (Myanmar) naik angkot (song tew). dari tachileik naik song thew lagi ke Golden Triangle….nah klo dari golden triangle banyak bus ke Chiang rai dan Chiang mae…. bisa juga ke Hou Xay (Laos). semoga membantu ……happy backpacking

[Non-text portions of this message have been removed]

Ada yang ke Manado

Dear Teman-Teman IBP,

Saya berencana ke Manado tanggal 30 November – 4 December, apakah ada diantara teman-teman yang juga mungkin kesana atau berada di sana pada periode tersebut? Jikalau ada, please info via japri ke purpl3star@yahoo.com

Siapa tahu bisa traveling bareng, jadi bisa share cost juga :)

Terima kasih sebelumnya…

Cheers/Lia

Catper Raja Ampat ( Penegasan bahwa Raja Ampat tak hanya utk diver aja)

Minggu pertama bulan April 2011, saya memutuskan untuk berkunjung ke Papua. Tempat yang selama ini saya mimpikan sebagai tempat menjajal hobi jalan-jalan. Bukan hanya saya saja, sangat banyak traveler Indonesia yang punya keinginan yang sama untuk menjelajah di bumi Papua. Sebuah lanskap alam, budaya, kuliner dan warga pribumi yang indah di ujung timur Indonesia. Tujuan saya adalah provinsi Papua Barat, tepat nya di Raja Ampat. Lokasi yang beberapa tahun belakangan ini santer terdengar sebagai destinasi kelas wahid untuk menyelam, island hopping, dan lain-lain.

Saya memilih jalur Surabaya untuk mengawali perjalanan menuju Papua. Penerbangan malam dari Banjarmasin adalah pilihan tepat, selain tiket nya murah juga sebagai solusi agar saya masih bisa bekerja pada siang hari nya. Pesawat berjalan mulus hingga saya tiba di Bandara Juanda, Surabaya. Bandara terbersih di Indonesia versi Angkasa Pura. Gedung terminal nya sangat etnik tapi mewah. Disanalah saya menginap untuk selanjutnya terbang besok pagi menuju Manado lalu Sorong, Papua Barat.

Dengan mengenakan sleeping bag hasil pinjaman, saya pun tidur di gedung terminal bandara. Ada beberapa pengunjung lain yang juga tidur di bandara. Bahkan saya juga menemui beberapa backpacker asing yang asik tidur di sudut lain bandara. Semakin malam suasana bandara makin sepi. Semakin membuat saya terlelap dalam tidur. Gerai Starbucks di pojok lain tak berhasil menggoda saya untuk mencicipi salah satu jenis kopi nya.

Adzan shubuh di mushola bandara membangunkan saya. Saya pun segera melaksanakan sholat shubuh berjamaah. Pagi menjelang, namun cuaca agak mendung. Saya segera menuju sebuah warung makan penyedia nasi rames, menghindari restoran mahal bandara di dalam gedung terminal.

Akhir nya pesawat berbadan besar yang saya tumpangi segera terbang menuju Manado di utara Sulawesi. Perjalanan sekitar 2 jam, namun seperti biasa pesawat langganan saya ini selalu tidak memberi jatah makan kepada penumpang nya. Tapi kelebihannya adalah armada pesawat mereka adalah jenis terbaru. Tiba di Manado, saya langsung berkeliling Bandara Sam Ratulangi nya. Bandara berukuran sedang namun sudah lama memiliki garbarata.

Saya segera menyewa jasa ojek untuk melihat suasana kota Manado. Banyak gereja besar disini, karena memang mayoritas penduduk Manado adalah warga Kristiani. Saya sempat mencicipi ikan cakalang dengan sayur woku, sangat enak. Dan tentu saja membeli kaos bertuliskan Manado. Saya pun kembali ke bandara untuk segera melanjutkan perjalanan ke Sorong, Papua.

Pesawat kecil yang akan saya tumpangi telah siap. Banyak turis asing yang juga menumpang pesawat ini. Teman sebangku saya adalah warga Fak Fak yang sangat ramah. Banyak info tentang Fak Fak yang saya dapatkan dari beliau. Perjalanan udara kali ini sangat menyadarkan saya betapa indah nya Indonesia bagian timur. Jejeran pulau di bawah sana jelas terlihat dari dalam pesawat. Karena pesawat yang saya tumpangi terbang rendah. Bahkan saya bisa menyaksikan kepulauan Raja Ampat dari atas. What a nice trip.

Tak terasa saya tiba di Bandara Eduard Domine Osok (EDO) Sorong. Saya kaget ketika melihat puluhan anak Papua berlarian mengejar pesawat saya ketika landing. Bandara EDO memang terbuka untuk umum, sehingga tak heran anak-anak Sorong dengan bebas bermain bola di sekitar landasan pacu pesawat.

Tak ada kesan suasana bandara yang saya temui di Bandara EDO. Gedung bercat kuning dengan fasilitas seadanya. Padahal bandara ini adalah pintu masuk Raja Ampat, sebuah destinasi andalan Indonesia di luar negeri selain Bali dan Lombok.

Niat saya memang bertualang ala backpacker, dengan anggaran secukup nya. Tawaran menginap di salah satu kenalan Facebook, tak saya tolak begitu saja. Ardi, pendatang dari Buton yang bekerja di Sorong mengajak saya menginap di rumah nya.

Keesokan hari nya saya langsung membeli tiket ferry tujuan Waisai, ibukota Kabupaten Raja Ampat. Harga tiket hanya Rp 100 ribu, dengan lama perjalanan sekitar 4 jam. Pemandangan laut dan jejeran pulau sangat indah. Meski mengantuk, saya paksakan untuk tetap berada di luar kabin kapal. Agar saya bisa menikmati keindahan Papua dari atas kapal. Saya menemukan banyak teman baru di ferry, diantara nya Regina yang asli Raja Ampat, Mervin, Wendy dan Palia dari Sorong. Mereka semua nya ramah dan bersahabat. Kami pun bertukar nomor ponsel dan akun Facebook. Dan saya juga kenalan dengan Pak Hans, traveler dari Jakarta yang juga mau ke Raja Ampat.

Waisai menyambut saya pada pukul 5 sore. Pelabuhan kecil nya berhasil saya jangkau. Inilah untuk pertama kali nya saya menginjakan kaki di Raja Ampat. Lokasi yang selama ini hanya sebatas impian saja. Saya tak sendiri ke Raja Ampat, tapi si Ardi si pemuda Sorong ikut menemani saya di Raja Ampat. Dengan menumpang mobil pick up, kami melaju menuju pusat Waisai. Bagi saya Waisai masih belum layak disebut kota, karena masih sangat kecil.

Senja menjelang, kami pun segera menuju Pantai Waisai Tercinta. Entah alasan apa yang melatarbelakangi penamaan pantai ini. Sebuah pantai yang tak jauh dari pusat Waisai. Pantai yang dibuat anjungan beton mirip di Pantai Losari, namun lebih sederhana. Disana lagi-lagi saya kenalan dengan teman baru, bernama Ridwan dan Muslim. Saya juga akhir nya bertemu dengan Trisna, mantan duta wisata Raja Ampat. Gadis yang ramah dan cerdas. Di rumah Muslim lah saya menginap di malam pertama di Raja Ampat. Memang rejeki takkan kemana, bagi seorang traveler ala murah meriah seperti saya ini.

Di rumah Muslim ternyata ayah nya menawarkan jasa kapal sewaan menuju beberapa pulau di sekitar Waisai. Seperti Pulau Mansuar, Pulau Paniki, Pulai Waiwo, Pulau Saonek, Pulau Saonek Monde dan lain-lain. Mahal adalah kesan pertama bagi siapapun tentang Raja Ampat. Termasuk saya saat ini. Namun itulah resiko jika memilih perjalanan di Raja Ampat. Ada barang ada harga.

Pagi hari diawali dengan persiapan mesin kapal dan BBM nya. Kami pun melaju menuju Pulau Mansuar, pulau pertama yang kami kunjungi. Dari atas kapal, saya menyaksikan betapa indah nya lanskap alam Papua khusus nya Raja Ampat. Tak ada kapal modern besar yang saya temui disini. Paling hanya kapal pinisi mewah yang disewa penyelam asing di sekitar Mansuar.

Mansuar adalah salah satu pulau utama di jejeran pulau-pulau andalan di Raja Ampat. Di pulau inilah dedengkot operator selam terkenal bernama Papua Diving berdomisili. Penyelam manapun yang mau ke Raja Ampat, bakal dipastikan mengenal Papua Diving.

Air jernih mirip tumpahan aqua raksasa mengitari Mansuar. Karang cantik dengan bebas tumbuh di sekitar nya. Ikan warna-warni cukup saya lihat dari atas kapal saja. Dapat dibayangkan, seperti apa indah nya jika saya snorkeling apalagi diving. Kapal pun terus mengitari pulau raksasa ini. Sangat indah. Saya jadi semakin heran kenapa banyak orang Indonesia lebih memilih berlibur ke Singapura dibanding Papua. Apa yang salah dengan Papua? Itulah pertanyaan besar saya.

Sebuah pantai non visitor di sisi Mansuar menjadi andalan saya untuk menikmati pulau indah ini. Benar-benar berasa seperti pantai pribadi. Pasir nya yang lembut mengalahkan pasir nya Pantai Tanjung Bira, Sulsel. Air jernih, terumbu karang yang alami, jejeran pohon kelapa dan pepohonan, tebing curam dan hamparan langit biru adalah pemandangan yang selama ini hanya saya lihat di kalender meja saja. Namun kali ini saya benar-benar menyaksikannya.

Puas di pantai nya, saya langsung meminta kepada joki kapal untuk pindah tempat. Kali ini adalah menyaksikan desa kecil di pulau lain di samping Mansuar. Saya lupa nama nya. Ini adalah desa terindah yang pernah saya lihat. Karena berlokasi di sekitar Mansuar. Surga dunia ada di depan mata warga nya setiap hari. Tak ada istilah polusi dan keruwetan kota di benak mereka. Damai apa ada nya.

Aktivitas selanjut nya adalah snorkeling di sisi lain Mansuar. Meski saya sangat phobia terhadap lautan, namun saya coba memberanikan diri bercebur di lautan Mansuar. Terumbu karang nya sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Bagi pecinta snorkeling, maka Mansuar adalah pilihan tepat. Karang berbagai bentuk dan warna ada disini. Meninggalkan Mansuar adalah hal terberat kedua selain meninggalkan orang tua saya di kampung halaman ketika saya bersekolah di kota lain pada beberapa tahun lalu.

Pulau selanjut nya adalah Pulau Paniki. Pulau yang tak kalah indah nya. Namun tak sebesar Mansuar. Tumpahan air mineral raksasa kembali saya temui disini. Benar-benar jernih. Hingga saya bisa melihat bintang laut cukup dari atas kapal. Pasir nya putih namun tak sehalus Mansuar. Terumbu karang nya juga sangat beragam. Kedalaman laut nya pun tidak membahayakan. Sehingga saya bebas ber snorkeling. Dalam bahasa lokal Paniki adalah kelelawar. Nah, alasan kenapa pulau ini dinamakan Pulau Paniki adalah karena banyak terdapat kelelawar di pulau indah ini. Tak ada turis disini. Saya kembali menemukan surga lain yang benar-benar indah.

Spot selanjutnya adalah Pantai Waewo. Pantai yang satu daratan dengan Waisai, pusat pemerintahan Raja Ampat. Pasir nya berwarna kekuningan. Tapi air nya sangat jernih. Ikan-ikan kecil bisa saya lihat dari dermaga nya. Di pantai ini terdapat resor bergaya tropis. Tarif nya cukup mahal. Resor ini juga punya restoran di dalam hutan, hingga saya merasa seperti berada di ruang makan Tarzan.

Pulau selanjut nya adalah Pulau Saonek. Pulau indah yang pernah dijadikan lokasi syuting film Mutiara Hitam. Pulau ini tadi nya adalah pusat pemerintahan Raja Ampat sebelum menjadi sebuah kabupaten baru di Papua Barat. Tak heran banyak pemukiman penduduk disini. Pantai di pesisir pulau nya adalah pantai yang sangat indah. Tak diragukan lagi, pantai disini jauh lebih indah dari Kuta, Bali.

Tak hanya mencicipi pantai dan laut nya, saya juga mencicipi makanan khas Saonek. Nama nya Garampati. Sebuah abon yang terbuat dari ikan laut seperti tenggiri dan cakalang. Saat mengitari perkampungan, tak sengaja saya menemui sebuah rumah sederhana yang asap dapur nya mengepul keatas. Ternyata si empu nya rumah sedang memasak garampati. Saya pun minta ijin untuk melihat proses memasaknya. Dan membeli sebungkus garampati untuk di bawa ke Kalimantan. Enak dan gurih.

Tak berhenti di Pulau Saonek saja, saya kembali menyinggahi pulau indah lainnya. Namanya Pulau Saonek Monde. Pulau tak berpenghuni. Terumbu karang disekitar nya tak kalah menarik dibanding pulau lainnya. Tapi pantai disini tidak sebagus pulau lainnya. Bagi yang suka snorkeling seperti saya, maka Saonek Monde adalah pilihan tepat. Terumbu karang nya terhampar luas di pesisir pulau. Cukup berenang sebentar dari bibir pantai, maka hamparan coral dan banyak nya ikan hias sudah bisa ditemui.

Pulau Saonek Monde adalah penutup trip island hopping hari ini. Malam nya saya langsung menyerbu warung makan dekat pasar Waisai. Ikan kakap merah kuah kuning adalah pilihan menu saya. Jangan heran jika segelas es teh di Waisai dan Sorong dihargai Rp. 5 ribu.

Keesokan hari nya, saya kembali menyewa kapal menuju pulau-pulau lainnya. Kali ini kapal yang berbeda. Lebih kecil dan lebih sederhana. Tujuan pertama saya adalah Teluk Manyailibit. Sebuah teluk yang sering jadi ikon Raja Ampat selain Wayag dan Mansuar. Disini terdapat 9 desa, ada desa khusus umat muslim dan ada juga kristiani. Desa-desa tersebut letaknya terpisah-pisah. Soal keindahan, jangan ditanya lagi. Bukan Raja Ampat nama nya kalau tidak indah. Desa Beo adalah desa yang menjadi pilihan bermalam saya. Saya seperti berada di dunia lain. Di ujung timur Indonesia.

Desa Mumis adalah desa lainnya yang saya sambangi. Desa ini hanya terdapat 20 kepala keluarga. Lagi-lagi hamparan terumbu karang nya membuat saya lupa jika saya mempunyai keterbatasan waktu di Raja Ampat. Jika misalnya nanti ada tawaran gratis ke Singapura sekaligus Malaysia, saya akan lebih memilih Raja Ampat saja. Indonesia bagi saya adalah supermarket keindahan alam dan budaya. Saya bersyukur sekali karena telah mencicipi sebagian keindahan Papua. Dari sini saya sadar jika wisatawan yang bukan penyelam pun bisa menikmati Raja Ampat. Saya ingin mematahkan pendapat banyak orang yang mengatakan Raja Ampat hanya cocok untuk penyelam saja.

Salam Indonesia

Banjarmasin, 11 Juni 2011

Nasrudin Ansori http://kalimantanku.blogspot.com “amazing Kalimantan”