Tag Archives: mongolia-dan-jalur-sutra

Menyusuri Titik Awal Jalan Sutra (3)

Jejak Peninggalan Jalan Sutra

Jalan sempit menuju Muslim Quarter tersembunyi dari keriuhan Xiyang Ji. Bau tanah basah di bebatuan mosaik yang menghiasi jalur jalan menyentuh pagi. Beberapa toko mulai membuka gelaran. Penjual kacang walnut mulai memanggang. Asinan buah plum warna merah menyala digelar. Kurma dijejer di keranjang depan. Aneka souvenir dari buku Mao Tse Tung hingga kaos bergambar Tintin in Tibet.

Tak jauh saya berjumpa penjual roti yang segera mengingatkan saya pada naan, roti tipis yang dibakar di oven tandoor seperti di India atau Negara Asia Tengah. Bentuknya mirip, tipis dengan tekstur yang sangat rustik. Bukankah China hanya mengenal mie, nasi putih atau dumpling?

Saya lantas menyadari bahwa disinilah saya akan bisa menemui sisa-sisa jejak Jalan Sutra, sebuah jaringan perdagangan internasional yang telah ada sejak dinasti Han. Xi’an adalah kota terakhir atau pertama untuk melakukan perjalanan panjang beribu kilometer dari tlatah Asia menuju Eropa Timur. Walaupun telah ada sejak era Konstantinopel (kota Instambul sekarang) di era Romawi hingga abad Masehi Kisah perjalanan panjang Marco Polo, seorang pedagang dari Venesia melalui Baghdad-Kashgar-Beijing dan bertemu Kubilai Khan menjadi sangat legendaris di tahun 1266.

Seorang eksplorer besar medieval, Ibnu Battuta juga mencicip Jalan Sutra dengan rute yang berbeda yakni melewati Bukhara-Samarkand-Pakistan-India-Burma-Vietnam dan akhirnya mampir sebentar di kota China Fujian-Quangzhou-Hangzhou hingga menembus Beijing. Rute panjang yang dilakukan Ibnu Battuta dilakukakannya di tahun 1332-1346 ini bahkan mencapai pulau Sumatra.

Di era dinasti Yuan ini dimana para kaisar raja adalah Khan dari Mongolian, negeri China menjadi menarik untuk dijelajahi bagi pedagang muslim. Mereka menjual berbagai bumbu seperti pala, lada, kayu manis hingga komoditi paling berharga saat itu, kain sutra. Munculnya komunitas muslim besar di China seperti Kanton dan Quánzhōu, memberikan kesempatan yang luas untuk membuka masjid, rumahsakit, biara untuk sufi (khanqa) dan pasar (bazaar). Era keemasan Islam di Asia ini menular hingga ke Semenanjung Malaka, disaat Ibnu Battuta menjejakkan kaki disana di abad 13.

*“*During my stay in China, whenever I saw any muslim I always felt as though I were meeting my own family and close kinsmen.”[4]

Dari Ibn Battuta & Ibn Juzayy dalam buku catatan Rihla (Tuḥfat An-Naẓār Fī Gharā’ib Al-Amṣār Wa ʻAjā’ib Al-Asfār).

Memasuki jalan Beiyuanmen di Xi’an ini adalah seperti merasakan gairah dan kesibukan para penjelajah dulu. Disinilah etnis Hui dan Kazakh menjual dagangan halal. Mereka ini adalah dua etnis minoritas di China dari 56 etnis yang ada menyebar dari wilayah utara di Urumqi, Barat di Tibet, Selatan di Yunnan hingga Timur di Beijing. Ciri khas suku Hui selain sebagai muslim dengan jilbab dan kopiah putih juga makanan yang lebih berbau India, Afghanistan, bahkan campuran dengan makanan Xinjiang, wilayah China berbatasan langsung dengan Rusia dan Mongolia. Jejak Jalan Sutra masih bisa saya nikamti dengan suguhan kuliner yang mencerminkan negeri-negeri yang dilalui oleh para pedagang yang menyeberang Asia (China) hingga ke Eropa Timur (Turki).

Di gang saya melewati penjual sate kambing yang berbau harum. Sangat kaya dengan bumbu pedas ala cabe dan paprika, dibalut jintan dan garam yang berlebih. Tidak ada kecap seperti sate Madura, tetapi entahlah dengan rasa yang asin diatas rata-rata membuat saya ingin lagi. Proses pembakaran yang cepat dan intens membuat perut lapar makin terasa.

Dua kuliner yang lain sebagai ciri khas kota Xi’an adalah Raochuan* *atau burger (naan kecil bulat) yang diisi daging kambing, sapi atau domba (mutton) dan Yang rou Paomo atau sup kambing. Saya bahkan mampir sebentar di tempat pembuat roti burger dan diperagakan bagaimana membakarnya. Si anak muda menempatkan bulatan pipih adonan di sebentuk wajan datar lebar yang kemudian ditutup dengan papan kayu. Antara mengukus dan membakar, roti matang dalam waktu hanya 10 menit.

Untuk menikmati sup kambing, saya diberi roti burger lagi. Kali ini harus dipotong kecil-kecil atau disuwir ke dalam mangkok sebelum kuah dan daging dimasukkan. Roti akan mengembang dan disajikan panas-panas dengan tambahan sambal dan asinan bawang putih. Hari itu saya tidak menemukan nasi ataupun mie seperti halnya kuliner di China. Jalan Sutra masih bisa saya nikmati, walau hanya sedikit saja.

Masjid dengan Pagoda**

Selintas jika tidak melihat papan nama saya bisa tersesat. Celingukan mencari dimanakah masjid Xi’an yang terkenal itu. Masjid?

Selama perjalanan saya melintasi China selama tiga minggu dari Beijing-Chengdu-Tibet hingga Xi’an ini saya bertemu komunitas muslim. Bahkan di ibukota Tibet, di Lhasa pun tetap ada dan bergairah. Di Beijing komunitas ini bisa ditemui di Niujie, di distrik Xuanwu [5]. Sedangkan di Xi’an ini selain masjid terbesar juga tertua di China juga Hui Muslim Quarter yang mengelilingi kompleksnya. Dibangun di era Dinasti Ming ketika arsitektur China bersintesa dengan arsitektur masjid yang tercermin dari bentukan pagoda seperti kelenteng Budha.

Masjid Besar atau Hua Jue Xiang di kota Xi’an didirikan oleh penjelajah dan pelaut Haji Cheng Ho, diperkirakan telah ada sekitar abad 7. Bentukan gedung dan hall di kompleks masjid sekarang ini adalah hasil penambahan selama Dinasti Ming dan Qing. Berukuran 48x248m ini dipagari tembok tinggi mencakup areal 12.000m persegi. Berbeda dengan masjid di China lain, Masjid Besar Xi’an mempunyai poros utama yang menghubungkan paviliun dengan pagoda (menara). Tapi berbeda dengan kelenteng Budha, masjid besar mengambil poros timur barat menghadap qiblat. Secara general, arsitekturnya adalah mencerminkan pagoda, dengan lantai bertingkat, lima jenis residen, dan bagian utama untuk beribadah. Sebagian besar bangunan menggunakan bentukan atap M seperti halnya tradisi di Asia Tengah.

Saya menyusuri bagian-demi bagian masjid, menapaki obelisk (batu penanda) berasal dari Arab dan Persia. Ukiran di dinding batu dan kayu mencerminkan syahadat dan petikan Qur’an dipadu dengan huruf berkarakter China.

Begitu panggilan iqamah dilantunkan, puluhan lelaki segera beranjak berjamaah di ruang utama. Dhuhur rupanya telah tiba, dan memanggil para pedagang dan musafir untuk sejenak menghadap Sang Kuasa.

Bergegas saya beranjak pergi. Kota Xi’an tak ubahnya seperti Jalan Sutra ribuan tahun yang silam. (end)

***

Catatan kaki:

[4] “Selama saya berada di negeri China saat saya bertemu sesama muslim, saya merasa seperti berjumpa dengan keluarga dan saudara terdekat.”

[5] Komunitas muslim di Beijing ini cukup dinamis dengan masjid yang mirip di Xi’an. Hanya saja secara sejarah masjid di Xi’an dianggap tertua dan mempunyai kaitan yang dalam dengan Kaisar-kaisar China. Untuk memasuki masjid biasanya tidak diminta tiket tetapi lebih sebagai sumbangan.

HAL-HAL PRAKTIS

Menuju Ke Lokasi**

Ada beberapa rute menuju Xi’an. Terbang Jakarta (CGK)-Shenzhen (XIY) disambung domestik baik dengan pesawat atau kereta Shenzhen-Xi’an. Harga ke Shenzen untuk travel April 2011 diakses per Desember 2010: China Southern Airlines (5.0juta pp), Hainan Airlines (6.6juta pp), China Eastern Airlines (7.0juta pp), Garuda Indonesia (8.5juta). Agregat untuk mencari tiket murah buka wego.com/flights

Tiket pesawat/kereta domestik Shenzhen-Xian bisa dilihat di eLong.com, 9588.com, chinahighlight.com. Alternatif lain bisa melalui Hongkong ( http://www.dragonair.com/), Singapura via Kunming. Alternatif termurah adalah Jakarta-Kualalumpur (1.3juta pp) disambung KualaLumpur-Shenzhen (964MYR atau 2.7juta pp) dengan Airasia. Dilanjut Shenzhen-Xi’an (1300RMB atau 1.7juta one way). Catatan: harga lebih murah jika dibeli jauh hari sebelumnya.

Waktu Terbaik**

Suhu rata-rata di Xi’an adalah 13C. Musim hujan atau musim panas antara Juni hingga Agustus umumnya panas dan basah berkisar 25-31C. Musim dingin berawal pada minggu terakhir Oktober dengan udara sangat kering dan mengigil. Bulan Januari adalah paling dingin dengan suhu mencapai -1C. Waktu terbaik adalah antara bulan April dan Oktober ketika matahari bersinar terang dengan biru langit yang bersih.

Dokumen Perjalanan/Visa**

Dibutuhkan visa untuk berkunjung ke negeri China. Informasi tentang jenis visa, formulir dan biaya untuk memperoleh visa dari Kedutaan China di Jakarta dan Service Center.

China Visa Application Service Center http://www.visaforchina.co.id/

Alamat Kedutaan China

Unit 6, 2nd Floor East Building, JI. Lingkar Mega Kuningan Blok E.3.2 Kav 1, Jakarta 12950, Indonesia

Phone: +62 21-57938655 Fax: +62 21-57938659

E-mail: jakartacentre@visaforchina.org

REFERENSI**

– China : Lonely Planet Country Guide (Damian Harper dkk Edisi 11 Terbitan Mei 2009). – The Adventures of Ibn Batutta: A Muslim Traveler of the Fourteenth Century (Ross E Dunn. University of California terbitan Desember 2004). – Great Mosque of Xian, Islamic Architecture in China (Cheng Jin Qi. Archnet Digital Library).

Salam, Ambar

Skype ambarbriastuti | Gtalk ambar.briastuti | Flickr ambarbriastuti Adventures. Backpacking. Photography.™

[Non-text portions of this message have been removed]