Tag Archives: nama-nama-jalan-di-singapore

Saya Bukan dari Philippine

Dulu, sewaktu masih tinggal di Singapura setiap kali saya memakai taksi selalu ditanya oleh sopirnya.”Which motorway do you want to go? PIE or ECP?” [1]

Menentukan rute dengan taksi di negeri ini ternyata dipengaruhi oleh a). penumpang jika mau ngirit dari tarip jam sibuk atau terpaksa bayar Electronic Road Pricing aka ERP dan b). sang sopir jika anda ingin muter2 menikmati suasana. Saya selalu mengira bahwa taksi adalah moda transport yang paling cepat berdasarkan pertimbangan bahwa didasarkan point-to-point. Artinya kagak ada transit alias mampir. Sopir taksi pun seharusnya mempunyai kredo bahwa penumpang menginginkan sampai ke tujuan dengan segera. Ternyata saya salah besar. Paling tidak untuk negeri bernama Singapura.

Perbedaan yang paling mencolok dari sopir taksi di London adalah kemampuan membaca rute. Jangankan menghapal, terkadang ada GPS di dashboard itu pun hanya digunakan untuk pajangan. Semuanya adalah dikembalikan dari niatan awal. Mau cepat atau mau ngaret.

Pernah suatu ketika saya menunjukkan jalur tikus pada sopir taksi karena ia tidak tahu jalan pintas saat ada konstruksi jalur baru MRT. Saya eyel2an karena ia mengingkari ‘janji’ untuk membawa saya lewat PIE yang berujung membengkaknya tarip. (Tips: jika merasa ditipu, catat nama dan nomor. Laporkan). Ia akhirnya memotong tarip setelah melalui debat panjang. Yang membuat saya tidak habis pikir adalah sebagian besar sopir taksi Singapura bertanya rute yang diinginkan penumpangnya. Bayangkan jika anda belum pernah ke Singapura. Mau lewat PIE? Dipastikan anda akan bengong. Apaan tuh, emangnya kue?

Ini mungkin yang paling menjengkelkan dari sopir taksi di Singapura. Kalau dihitung-hitung sebenarnya ongkos menghindari ERP [2] sama saja dengan muter-muter. Tarip ERP ini akan terlihat di meteran taksi. Jadi ada dua meteran: satu menunjukkan jarak pakai sedang satunya menunjukkan biaya ERP. Total biaya taksi ditambahkan keduanya plus jika anda pesan dulu, plus jika naik taksi lewat tengah malam. Kalau pas tidak jam sibuk, perbedaan itu tidaklah besar.

Dibandingkan London, taksi di Singapura jumlahnya terlalu banyak. Sangat banyak menurut saya. Untuk negara Singapura, ongkos bensin dan tetek bengek penggunaannya masih jauh lebih murah. Bayangkan, di Inggris harga bensin adalah £1.48/liter (US$2.37/liter), di Singapura S$2.90/liter(US$1.67/liter) dan di Malaysia MYR2.90/liter (US$0.61/liter) [3]. Sudah jadi rahasia umum bahwa kendaraan di Singapura nyebrang ke Johor Bahru untuk isi bensin karena bisa ngirit banyak. Lebih dari 60%. Sampai-sampai pihak imigrasi Singapura di perbatasan Singapura-Malaysia menerapkan aturan 3/4 tangki mobil harus terisi sebelum melintas. Jika ketahuan, bisa jadi kena denda S$100 atau S$500.

Satu hal yang saya kemudian tahu adalah taksi di Singapura tidak boleh melintas ke Malaysia. Begitu pula sebaliknya, kecuali taksi gelap dan taksi khusus (VIP). Ini saya alami waktu menuju bandara Senai di Johor Bahru. Saya mendapat taksi gelap plat Malaysia berbagi dengan backpacker lain. Mobilnya Proton lama. Bersih dan fungsional. Sewaktu kembali ke Singapura, saya mencoba taksi VIP. Kenapa disebut khusus, ternyata taksi ini meminta ongkos khusus pula. Mobilnya juga oke, Mercy terbaru warna putih. Biasanya tersedia di bandara melalui konter resmi. Lumayan mahal sekitar MYR250, tapi untuk yang diburu waktu terutama ngga mau ribet di kontrol imigrasi maka ini alternatif terbaik.

Reputasi sopir taksi Singapura memang baik dan ramah. Sangat ramah malahan, hingga terkadang membuat tidak enak. Saya justru curiga jika ia langsung bertanya, “Are you from Philippine?” atau “Oh anda dari Indonesia ya. Pasti punya kondominium disini.” Doh! Seperti ratusan ribu orang Indonesia yang kesini, saya ‘dibaca’ sejak masuk kedalam taksi. Bahkan sejak saya ngeplang di jalan. Apakah saya terlihat seperti PRT? Bagaimana bahasa Inggris saya? Apakah bahasa Jawa atau Melayu? Apakah terlihat ‘semarak’ dengan bling-bling handbags, sepatu, kosmetik atau gadget? Semua ini membuat profile saya sebagai penumpang taksi menjadi lengkap. Pembicaraan selanjutnya adalah tergantung dari hasil pembacaan karakter tadi.

Nampaknya saya ini mewakili karakter yang membingungkan. Bahasa Inggris saya bukan Sing-Lish jadi pastilah bukan orang Melayu Singapura atau Malaysia. Kemungkinan adalah Phillipina atau Thai. Tapi kok hitam dan terlihat ndeso? Kalau saya meminta turun di daerah tempat tinggal saya dulu, terkadang saya harus meyakinkan sopir taksi. “Are you living in those area?” katanya setengah ngga percaya. Saya bilang iyah. So what gituloh.

Ada cara agar tidak mudah dikibulin sopir taksi Singapura adalah tahu rute tercepat bahkan sebelum anda mengambil taksi. Hapalin nama jalan dan buat catatan. Google Maps Direction bisa jadi contoh yang bagus. Bahkan sekarang punya alternatif rute yang bisa dipilih. Tips lain adalah berlakulah seperti sudah terbiasa melancong di negeri Singa. Sok ngerti, sok tahu situasi. Ditanggung ini lebih aman daripada kena tipu-tipu.

Yang saya perhatikan, kebanyakan sopir taksi di Singapura berusia lanjut. Paling tidak diatas 50tahun. Etnis-nya pun mewakili negeri itu. Ada Chinese, Indian, Melayu. Sopir Chinese dibagi menjadi dua: yang nyetel radio lagu inggris easy listening dan satunya nyetel radio lagu mandarin. Kalau Melayu bisa diharap terdengar Peter Pan atau Sheila Majid. Pernah saya disopiri seorang India yang fasih berbahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu loh ya. Ia bercerita ketika melancong di Jogjakarta dengan membeli paket liburan 3H2M lengkap pesawat dan hotel. Tempat menginapnya juga ngga tanggung-tanggung. Di Hotel Hyatt yang berbintang 5. Ketika ditanya pekerjaan oleh bagian concierge di Hyatt, ia pun mengaku sopir taksi. Katanya,”Tidak ada yang percaya kalau saya ini sopir taksi di Singapura.” Ia menirukan kesan orang terhadapnya,”Bapak bohong.” [masih dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar].

Pembicaraan tadi membuat saya tersadar. Penampilan terkadang menipu.

Keterangan:

[1] Singkatan dari PIE Pan Island Expressway dan ECP East Coast Parkway [2] ERP seperti membayar tol tetapi otomatis terlihat di taksi. Bisa dikatagorikan sebagai congerstion charge atau biaya macet seperti di London karena diterapkan hanya pada jam sibuk dan daerah-daerah tertentu. [3] Data dari Wikipedia http://en.wikipedia.org/wiki/Gasoline_and_diesel_usage_and_pricing dan tambahan dari The Economist http://tinyurl.com/pumpaction

Salam, Ambar

YouTube ceritaambar | Gtalk ambar.briastuti | Flickr ambarbriastuti Adventures. Backpacking. Photography.™

“You don’t stop climbing because you grow old. You grow old because you stop climbing”

[Non-text portions of this message have been removed]