Tag Archives: nama-nama-pelabuhan-hongkong

Krakatau dan Way Kambas (diganti Mutun!)

Dear all, Sorry nih, kami baru tulis pengalaman kami, 26-30 July ybs, sewaktu kami pergi ke Krakatau. Kami sekeluarga 3 orang (2 dewasa, saya dan suami, serta anak cowoq kami yang berumur 10 thn). Ini perjalanan yang sudah kami rencanakan sejak setahun yang lalu, the dream comes true!

26 July: – Setelah planning dan searching pengalaman berbagai orang, kami berangkat jam 9 malam melalui Terminal Leuwipanjang (Bandung). Setahu kami bis yang bagus adalah Arimbi, tapi ternyata sudah penuh, bis berikutnya bukan Arimbi. Semula agak ragu untuk naik, tetapi daripada nganggur di terminal, kami putuskan untuk naik. Harga karcis Rp.50rb. Bis ini (Kalau gak salah Putra Jaya, waktu itu catatan saya keselip jadi tidak catat secara detil) ternyata lumayan cepat, Cuma 4 jam kami sudah sampai di Merak, tapi kursinya agak keras, jadi leher saya agak sakit, walau demikian kami bisa tidur cukup lama di bis.

27 July – dini hari jam 1 an tiba di Merak, langsung beli karcis kapal ekonomi (dewasa Rp.10rb, anak Rp.6rb), kami dapat kapal Jemla. Kapal ini peraturannya tidak ketat, asal tidak penuh, kita bisa masuk ke ruang AC tanpa perlu membayar karcis tambahan. Kursinya keras dan dingin, tapi suasana tenang sehingga kami bisa beristirahat cukup (bandingkan dengan Jatra II dalam perjalanan pulang kami di bawah!) – tiba di Bakauheni sekitar jam 5 an. Semula mau naik bis besar yang menuju Bandar Lampung, turun Kalianda(@Rp22rb). Akhirnya memutuskan untuk carter angkot (Rp.150ribu), supaya bisa lebih cepat sampai tidak perlu berputar-putar. – Tiba di Canti jam 6:30 an. Ada sebuah warung yang terletak di sebelah dok pelabuhan. Pemiliknya Pak Ismail (hp 081279175347). Bersama istri dan iparnya mengelola warung nasi. Mereka sangat ramah, dan memberi informasi bahwa kapal menuju P. Sebesi akan tiba sekitar jam 11 an. Di sini kami baru sadar bahwa dalam sehari hanya ada satu kapal yang datang dari P. Sebesi, membawa petani yang hendak menjual hasil pertanian mereka (kopra, pisang, kakao) dan mau membeli berbagai keperluan di Pasar Kalianda. Jadi kapal akan menunggu mereka, dan balik ke Sebesi sekitar pukul 13.00! Parahnya lagi, karena hari itu hujan, mereka telat, sekitar jam 11 baru tiba di Canti, dan akhirnya kami berangkat sekitar pukul 14.30 an! Untunglah suasana di sana juga cukup menghibur, kami bisa memandang laut lepas. Apalagi pak Ismail dan keluarga cukup ramah. – Sewaktu naik kapal berkenalan dengan Pak Chandra (pemilik kapal) yang juga sangat ramah. Sebenarnya kalau kita mau mencarter kapal (kapal beliau bisa muat s/d 40 orang, sekitar 1.8 juta Rp. bahkan tidur di rumah penduduk, bisa kontak Pak Chandra (hp: 081369686243). Kami sendiri sudah pesen kamar di Indonesian Travel Board. – Perjalanan agak menegangkan, karena hari itu hujan angin, maka ombak besar (menurut kami), tetapi kapten kapal menenangkan bahwa itu masih termasuk ombak kecil! – Sebelum ke Sebesi, kapal mampir di P. Sebuku, menurunkan para petani yang tinggal di sana. Surprise! Sebuku tidak memiliki pelabuhan, jadi kapal merapat ke pantai, dan para petani mengangkut barang-barang miliknya, terjun ke air setinggi kurang lebih selutut. – Akhirnya sekitar jam 5 kami merapat di Sebesi. Diantar oleh Pak Chandra ke penginapan Indonesian Tourism Board (ITB) di pinggir pantai yang dikelola oleh Pak Hayun (HP. 08187013757). Kamarnya kecil, dengan kamar mandi di dalam, ada dua ruangan. Listrik di sini hanya ada dari jam 18:00 s/d 24.00. Penginapan ITB memiliki generator, sehingga di sini kita bisa menikmati listrik s/d jam 6 pagi. Istri Pak Hayun bisa memasakkan makanan bagi kita dengan biaya Rp.10rb/org. – Setelah membereskan barang-barang diantar jalan-jalan berkeliling sebagian P. Sebesi. Ternyata di sini ada sekitar 4000 penduduk, dan memiliki sekolah sampai jenjang SMA, bahkan hendak dicoba mendirikan universitas. – Kami memutuskan kalau besok cuaca tetap buruk, kami tidak pergi ke Krakatau, hanya berenang di pantai sekitar Sebesi. – 19:30, karena super lelah, kami semua tidur pulas!

28 July – Bangun jam 8.30, langsung melongok keluar, Puji Tuhan! Cuaca baik sekali. Jadi kami memutuskan untuk menyewa perahu jukung yang bisa memuat 5 orang. Memutuskan tidak memanjat sampai ke dekat kawah, sehingga tidak perlu ditemani ranger (biaya ranger Rp.200rb) – Memesan kelapa muda pada Pak Hayun, dan dijawab bahwa setelah kami pulang dari Krakatau baru bisa dapatkan, karena ia harus mencari seorang anak untuk memanjat pohon kelapa dan memetiknya! Fresh from the tree! – Sekitar jam 9 berangkat ke Krakatau! The dream comes true! – Berenang di sekitar Anak Krakatau. Saat itu tidak terlalu aktif, hanya menyemburkan uap panas. – Pulang dari sana sempat melihat terumbu karang yang indah dan buesarrr! – Jam 5 sore, tiba kembali di Sebesi, makan kelapa muda yang tadi pagi kami pesan, sekalian memesan makan malam pada Ibu Hayun. – Jam 19.30 tidur!

29 July – Jam 5 sudah bangun, rencana setelah beres-beres barang, berenang sebentar di Pantai. – Ternyata kami tidur lagi sampai jam 6 (kapal berangkat jam 7), jadi akhirnya setelah beres-beres, hanya bisa berjalan-jalan di pantai. – Dalam perjalanan, banyak sekali kopra, kakao dan pisang yang diangkut hari itu! Saya sendiri menikmati naik kapal ini dan berbincang dengan penduduk setempat. Tetapi saran saya kalau memang mau naik kapal ini, sebaiknya membawa alas duduk plastic, supaya pakaian tidak kotor. Celana jeans saya terkena semacam getah kuning di beberapa tempat, yang setiba di Bandar Lampung langsung saya rendam dengan deterjen dan disikat setengah mati, untung bisa hilang. – Setiba di Canti, makan dulu di warung pak Ismail, kemudian bersama Pak Hayun dan dua motor ojeg (@ Rp.15rb, pergi ke suatu tempat bernama Fajar, di mana kami bisa naik travel (kami bertiga 2 dewasa dan 1 anak Rp.70rb), menuju Bandar Lampung, di mana kami hendak mengunjungi teman kami di sana, dan berencana ke Way Kambas. – Jam 11:30 tiba di Jl. WR. Supratman menemui teman kami, lalu makan siang bersama. – Kami bermalam di tempat teman. Surprise! Kami makan malam dengan aneka hidangan laut! Nyam¡­ nyam¡­.

30 July – Jam 8 berangkat ke Way Kambas. Sebenarnya agak ragu, karena dari internet tidak mendapat gambaran yang jelas bagaimana bisa mencapai tempat tersebut dengan kendaraan umum. Tapi kalau bisa ke Krakatau masakan tidak bisa ke Way Kambas? Itu tekad kami. – Rute yang kami tempuh: Rumah ¨C terminal rajabasa (2 kali angkot) ¨C metro (naik bus) ¨C Way Kambas. – Sampai jam 11, kami masih 45 km dari Way Kambas. Ketika kami Tanya supir bus, apakah dalam waktu setengah jam bisa sampai, beliau menjawab: ¡°paling cepat satu setengah jam¡±! 45 km selama satu setengah jam! – Kami membuat perhitungan: * Karena kami berencana Sabtu sudah sampai di Bandung: kalau tetap ke Way Kambas, berarti sekitar jam 13 baru tiba, mungkin lebih. Kemungkinan harus bermalam, besoknya (Sabtu siang) baru bisa kembali ke Bandar Lampung, hari Minggu siang baru bisa sampai di Bandung. Oleh karena kami berdua mempunyai tugas di gereja, maka kami harus menelpon teman-teman di Bandung untuk menggantikan tugas kami. * Segera balik ke Bandar Lampung dan pergi ke Pantai Mutun, malam hari naik bus ke Bakauheni, untuk kembali ke Bandung sesuai rencana semula. – Setelah berpikir sejenak kami memutuskan untuk mengambil keputusan ke dua. Cukup kecewa juga, karena kami beranggapan Krakatau lebih terpencil, tapi ternyata lebih mudah di capai! Perjalanan ke Way Kambas ini telah memakan biaya sebesar Rp.80.000! – Jadi kami kontak teman-teman untuk siap-siap ke Pantai Mutun. – Dalam perjalanan pulang, kami makan siang di sebuah cafeteria, lalu langsung menjemput teman-teman yang mau ke Mutun bersama kami. – Sewa angkot ke Mutun RP.100rb, di sana ada karcis masuk @ Rp.5000, mobil Rp.10rb. – Di sana cukup menyenangkan, kami naik kapal, ongkos @Rp.10rb. Di sana berenang dan makan kelapa muda (Lagi!) – Jam 17 kami berangkat pulang, tiba di rumah langsung berberes barang, pamitan, dan berangkat ke Rajabasa. – Terjadi kejadian yang cukup menegangkan. Supir angkot kami sepertinya ditawarkan minuman super keras oleh temannya di suatu setopan. Setelah menenggak minuman tersebut dia jadi beringas, serampangan mengemudi ¡­ tetapi akhirnya kami bisa sampai dengan selamat di Rajabasa! – Dari Rajabasa ke Bakauheni mencoba naik bus non-AC (Rp.17rb). Wah¡­ cukup pengap (karena jendela yang terbuka hanya bagian atas), dan sempit. Tapi bolehlah. Supirnya juga menjalankan mobil dengan cukup baik. – Jam 00:30 tiba di Bakauheni, beli karcis dan mendapat Jatra II. Semula cukup senang karena ruang AC di kapal ini tempat duduknya seperti sofa! Walaupun ternyata harus menambah Rp.6000/org dewasa untuk fasilitas ini, dengan harapan dapat beristirahat dengan baik, kami setujui. Sesaat setelah kami bayar karcis ¡­ dimulai pertunjukkan nyanyi dangdut! Saya bukan anti dangdut, malahan menurut saya kualitas suara mereka cukup bagus, boleh juga daftar Indonesia Mencari Bakat ¡­ MASALAHNYA KAMI INGIN ISTIRAHAT! Pertunjukkan terus berlangsung sampai kapal merapat jam 4:30! Cukup membuat kami keki, apalagi anjuran kepada pegawai kapal untuk mengecilkan suara diiyakan saja tanpa dijalankan, dengan alasan pemain musiknya tidak mau mengecilkan! Kami tidak langsung protes ke pemain music, karena banyak juga penumpang yang rupanya menggemari pertunjukkan tersebut. Yah¡­ apa boleh buat, akhirnya suami saya menjaga barang-barang, sedangkan saya dan anak naik ke dek atas. Kasihan juga Josiah, sudah lelah, gak bisa tidur, sampai akhirnya dia masuk lagi ke ruang duduk, dan di tengah hinggar binger music itu, dia tertidur¡­. – Di Merak kami mendapat bis Arimbi, yang memang ingin juga kami rasakan. Kursinya lebih empuk, sehingga tubuh lebih nyaman, tetapi jarak antar bangku lebih sempit. Selain itu¡­ rutenya ternyata berputar-putar! Kalau waktu berangkat hanya 4 jam perjalanan, perjalanan pulang mencapai 6 jam! Jadi kalau mau memilih, mungkin bisa dipikirkan mau cepat, atau mau duduknya enak! Oh ya, WC Arimbi juga lebih keren, karena ada pintu kaca pembatas ke tempat duduk penumpang, sehingga hawa tak sedap tidak berkeliaran di bagian penumpang.

Begitulah perjalanan kami. Ini untuk pertamakali kami bertualang dengan pergi ke suatu tempat sendiri, dan dengan cara termurah! Capek, tapi menyenangkan dan mungkin akan kami ulangi dengan ke Aceh tahun depan!

Yohana and fam

Tempat – tempat Menarik di Malaka dan Phuket (via postie)

Bookmark this category
Dear Rekan2 semua,

Sekitar 2 bulan lagi saya dan teman berencana backpacking ke Malaka (Malaysia) dan ke Phuket. Mohon saran/rekomendasi dari rekan-rekan tempat-tempat yang menarik dan wajib dikunjungi disana, tentunya dengan budget ala backpacker. Thanks.

Regards, Dani