Tag Archives: no-telepon-ranca-upas

Tanya Gn.Rinjani

Dear teman” IBP,

Mohon informasi teman” status kondisi terakhir Gn.Rinjani.. rencananya akhir bulan ini saya mau keLombok mendaki Gn.Rinjani. Terimakasih

Sura Powered by Telkomsel BlackBerry®

————————————

Kunjungi website IBP: http://www.indobackpacker.com

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

SPAMMING atau forwarding tidak diperkenankan. Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT.

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian yang perlu saja.

Cara mengatur keanggotaan di milis ini:

Mengirim email ke grup: indobackpacker@yahoogroups.com (moderasi penuh) Mengirim email kepada para Moderator/Owner: indobackpacker-owner@yahoogroups.com Satu email perhari: indobackpacker-digest@yahoogroups.com No-email/web only: indobackpacker-nomail@yahoogroups.com Berhenti dari milist kirim email kosong: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com Bergabung kembali ke milist kirim email kosong: indobackpacker-subscribe@yahoogroups.com

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings: Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email: indobackpacker-digest@yahoogroups.com indobackpacker-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

Wisata Aceh&Sabang-Casanemo

Hai Rusmin,

Saya rasa smua yang dibilang teman kita Melly tentang Banda dan Sabang dah lengkap, namun aku sedikit terganggu ketika membaca kata Casanemo itu. saya hanya mau berbagi cerita ama teman2 disini tentang pengalaman menginap di Cassanemo yang dimanajemeni oleh Freddy itu.

Jadi ceritanya tahun lalu saya ama teman2 berlibur si Sabang dan menginap di Casanemo. Salah seorang teman saya yg bekerja di Banda yang memesan tempat itu, katanya penginapan itu baru dan bagus, anak2 NGO sering nginep disana katanya. Ok lah kami pikir pasti bakal menyenangkan. Namun kesenangan kami terganggu pada waktu makan malam, karena waktu itu musim liburan jadi penginapan mereka pun full, dan sayangnya mereka tidak memperhitungkan jumlah tamu yang menginap dengan meja yang mereka punya. Jadi ketika kami sampai di resto, tidak ada meja yang tersisa untuk kami, jadi kami hanya berdiri disitu, berharap ada pelayan yang nyamperin atau sang pemilik yang sedang bersenda gurau dengan teman2 bulenya itu melihat kami dan berupaya sesuatu untuk tamunya. Namun sampai setengah jam kami (ada 4 orang) berdiri disitu dan tampaknya bahkan si pemilik tidak menyadari atau mungkin berpura2 tidak melihat kami. Akhirnya kami ngomong dengan salah satu pelayan untuk meminta menyediakan meja untuk kami, dan ini kata si pelayan: “maaf tapi meja kami penuh”, karna dah lapar dan lama menunggu tentu aja kami jengkel dengan jawabannya, dan kami bilang: “kami bisa liat kok bang, tapi kami kan juga tamu disini dan kami mau makan, usahain dong”. Si abang bingung tanpa tau harus buat apa, celingak celinguk seperti mau minta dukungan dari temen atau bosnya. Seandainya casanemo tidak jauh dr kota atau seandainya ada angkutan umum atau seandainya kami waktu itu menyewa mobil pasti kami akan cari makan diluar. Saya melihat klo si pemilik sesekali melirik ke arah kami namun tetap tidak buat apa2 dan terus ngobrol dengan temen2 bulenya. Casanemo memang terkesan tempat yang private tidak seperti di Iboih atau Gapang yg lebih terbuka karena itulah kami tidak mau sembarang gabung dengan kelompok lainnya yang ke semuanya adalah bule, hanya kami yang pribumi pd waktu itu. Akhirnya kami memberanikan diri utk mendekati seorang cwe bule (asal amerika, katanya dia guru b.inggris di jogya) menanyakan apakah dia sendiri saja di meja itu atau sedang menunggu temannya. Untungnya dia sangat welcome dan menawarkan makan bareng di mejanya. Dan keliatan si pelayan sangat lega dengan inisiatif kami.

Pagi harinya, setelah puas main di pantai kami ke resto cepat2 takut kehabisan meja lagi, namun untungnya sepi. Setelah perut penuh kami pun mulai menjelajah pulau Weh, snorkeling di Gapang, keliling pulau, belanja souvenir di kota dll dan malam hari sekitar pukul sepuluh baru kembali ke Casanemo. Namun, yang mengejutkan adalah di serambi kami ada sepasang kekasih yang sedang berpelukan (tampaknya bule Asia). Awalnya karena malam kami pikir kami salah ambil jalan dan itu bukan pondok kami. Tapi nama pondok itu adalah Kura-Kura, tempat tadi malam kami tidur. Kami mulai panik karena semua barang2 kami masih di dalam. Kami panggil pelayan dan menanyakan kenapa ada orang di pondok kami dan bagaimana dengan barang2 kami. Dan kami kaget setengah mati karena dia bilang kamar itu sudah di kasi ke orang lain dan barang2 kami udah di simpan di GUDANG. Marah, sakit hati, udah pasti itu yg kami rasakan, dan si pelayan pun tampaknya mengerti dan dengan nada menyesl bilang: gimana ya mbak saya kan cuma kerja disuruh beres2 ya saya beres2. Kami pun akhirnya menemui sipemilik yang berinisial B dan protes terhadap pelayanan penginapannya. Dan ini jawaban yg kami terima: “Saya memang pemilik tempat ini tapi bukan saya yang urus, kamu tanya aja Freddy soalnya dia yg urus semua”. Teman2 bisa bayangin gak sih gimana jengkelnya kami. Ketika barang2 kami dikeluarkan dari Gudang, yang buat tambah sakit hati lagi, barang kami ditumpuk semua jadi satu sehingga kami bingung utk cek barang masing2. Pakaian basah digabung dengan pakaian kering, yg lebih parah saya menemukan barang elektronik ada di plastik kresek yang di dalamnya juga ada sandal basah dan berpasir. Setelah ngotot2an mereka pun mendatang kan Freddy yang pada waktu itu ada di penginapan lainnya untuk menjelaskan duduk permasalahannya. Freddy, sedikit lebih ramah memang dr si pemilik dan meminta maaf karena staffnya telah membereskan barang kami dengan tidak layak. Namun tetap membenarkan tindakannya memberi kamar kami pada orang lain tanpa pemberitahuan karena kami hanya me reserve 1 malam saja dan katanya mereka tidak bisa menghubungi kami karena tidak tahu no kontak kami. Pernyataan yang aneh karena pada waktu memesan kamar sebelumnya jelas teman saya meninggalkan no telf. Sangat aneh mereka bisa menghubungi untuk memastikan kamar yang kami pesan sedangkan pada saat eksekusi barang2 mrk blg kami tidak menin ggalkan no kontak. Lagian menurut pengalaman saya, apabila kita tidak chek out sampai jam nya maka otomatis kita akan di charge utk malam berikutnya dan pihak penginapan pasti akan mengkonfirmasi lg berapa malam kita menginap begitu kita sampai, namun hal yg biasa ini tdk kami dapatkan. sejak menit pertama kami ada disitu kami tidak mendapat pelayanan seperti yang mereka berikan thdp tamu2 bule lainnya, ini yang membuat kami makin sakit hati. Untuk hal yang sangat sepele misalnya : ucapan selamat pagi dan seulas senyum basa basi pun tidak kami dapatkan, namun mereka sangat ramah thdp tamu bule. Dalam hati aku berteriak dia orang Indonesia dan ini masih tanah Indonesia dan yang paling penting kami juga bayar sama spt bule2 itu. Pada waktu ribut2 itu ternyata ada satu rombongan kecil dr Jakarta yg baru sampai dan mengalami hal yg hampir sama dengan kami, mereka jg pribumi. Mereka udah pesan tempat sbelumnya dan sialnya ketika mau masuk kamar gak bisa karena katanya kamar itu dah dipesan tamu bule lain tapi si bule itu blum datang. Akhirnya karena udah kecapekan dan lelah berdebat kami minta bill dan segera cabut dari situ utk cari penginapan lainnya. Catatan: saat itu udah setengah 12.

Jadi buat semua kawan lain yang mau berlibur di Sabang, dan khususnya pribumi, lebih baik berpikir ulang utk menginap di Casanemo, saya lebih menyarankan menginap di Iboih selain penginapannya lebih murah juga dekat dengan Gapang. Atau klo tetap mau menikmati daerah Sumur Tiga, bisa menginap di Tuna Paradise gak jauh dari Casanemo dan pemilik nya sangat ramah.

Salam, Ina

nb; maaf klo curhatnya kepanjangan

________________________________ Cc: indobackpacker@yahoogroups.com Sent: Fri, August 13, 2010 12:28:20 PM

Dear Rusmin,

kebetulan banget Senin kemarin saya baru aja kembali dari Aceh. Suasana Ramadhan di sana memang lebih kental, meski saya sendiri gak mengalaminya. Sehari sebelum puasa, mereka ada tradisi ‘meugang’, yaitu masak daging seperti rendang. Bisa juga coba tarawih di mesjid Baiturrahman, yang indah banget di malam hari. Suasana kota biasanya baru rame menjelang buka puasa dan selepas tarawih, karna sebagian besar rumah makan tutup dari pagi sampe siang.

Untuk tempat wisata, tentu nya bernuansa tsunami, seperti kapal PLN yang terdampar di tengah kompleks perumahan, kapal nelayan Lampulo yang nyangkut di atas rumah, museum tsunami (yang sayangnya terbengkalai) dan makam Belanda di sebelahnya.

Kalo kuliner sih, pastinya seafood, dan yang khas adalah ayam tangkap. Dan jangan lupa kopi! Karena kopi Aceh sangat mantapp..hehe..yg harus dicoba adalah kopi susu atau ‘sanger’, di warung kopi yang bertebaran di aceh.

Kalau sempat sih, nyebrang deh ke Sabang dengan kapal cepat (sktr 60rb) atau kapal lambat (sekitar 20/30rb). Di pantai ada bungalow Freddie’s dan Casanemo, cocok buat liburan yang bener-bener mo nyepi. Tarif kamar nya murah, 275rb – 290 ribu per malam. Untuk snorkeling (tapi puasa ya? ga mungkin dong ya, hehe) perjalanan sekitar 1,5 jam ke Iboh, indah banget. Mau ke titik nol km? Perjalanan sekitar setengah jam dari Sumur Tiga, katanya bisa dapet sertifikat kalo udah berkunjung ke situ, hehe. Oh ya, malemnya jangan lupa ke kota Sabang (yah kotanya cuman segitu aja sih, hehe) dan icipi mie kocok khas sana.

apa lagi ya? maaf kalo kepanjangan..ya baru segitu sih yang saya tau, semoga berkenan :)

happy traveling ! – Melly -

On 8/13/10, Rui wrote: > Dear rekan2 IBP > > Kebetulan besok saya ada tugas ke Sabang, Aceh. Mungkin teman2 disini ada yg > tahu info wisata budaya,tempat makan yg wajib dikunjungi atau obyek wisata > yg menarik di Aceh dan Sabang. Terutama terkait dengan bulan > Ramadhan,mungkin ada ritual yg hanya bisa ditemui di negeri serrambi mekkah > ini. Atas perhatian dan info teman2 saya ucapkan terimakasih > > Salam, > Rusmin > > >

[Non-text portions of this message have been removed]

Perjalanan ke Gunung Lesung dan Nagaloka

Catatan perjalanan Hari 1, Sabtu 19 Juni 2010

Setelah selama 2 tahun tertunda, pada akhirnya kami mendapatkan jadwal yang pas untuk menapak jalur dari Desa Jatiluwih menuju Danau Tamblingan dengan rentang jarak 20 km menembus hutan lindung. Rencana ini dimotori oleh Mas Puguh, yang kemudian kami sesuaikan dengan jadwal acara tahunan kantor kami. Akhirnya 7 orang berangkat ditemani oleh guide lokal yang bernama Pak Suwi. Tenda dan sleeping bag plus perbekalan kami persiapkan untuk jaga2 kalau kami harus menginap di hutan atau pinggir hutan.

Jam 10 pagi kami sudah berada di tepi hutan, kami naik dari Desa Soka, desa yang terletak sebelah timur dari Desa Jatiluwih. Hanya saja pintu hutan termasuk dalam wilayah Desa Jatiluwih. Setelah melaksanakan riutal sebentar, Pak Suwi memberikan penjelasan singkat mengenai tanaman yang berbahaya yang akan kami temui dan tanaman2 yang bisa kami makan. Beliau menunjukan kami batang keladi yang rasanya asem seperti belimbing buluh, asem tape enak. Dan kami juga mengumpulan bahan sayuran yang nanti kami hidangkan saat makan malam. Ada beberapa jenis pohon yang beracun dan menyebabkan gatal di kulit saat kita bergesekan dengan tanaman ini, nama lokalnya Tanaman Lateng, daunnya agak berbulu/duri halus, dan kalau bergesekan dengan kulit akan seperti tersengat. Untung salah satu dari kami ingat untuk membawa minyak tawon, sekali oles dah beres. Yang akan masalah mungkin adalah binatang pacet, binatang kecil mirip lintah yang melontarkan diri dari semak atau pucuk daun kalau ada yang lewat. Hampir semua dari kami akhirnya menyumbang darah ke binatang ini :-) )

Jalur yang kami tempuh adalah jalur di lembah antara beberapa gunung, yaitu Gunung Batukaru dan Gunung Pucuk/Sanghyang sebelah barat, Gunung Puun, Gunung Lesung dan Gunung Nagaloka di sebelah timur. Akan kelihatan lebih jelas dari Google. Kawasan ini berseberangan dengan kawasan pengeboran gas bumi yang tidak tahu bagaimana juntrungnya sekarang ini di area Bedugul. Menurut Pak Suwi, jalur ini adalah jalur tua, karena lebarnya sekitar 2 meter dan di beberapa tempat ada perkerasan. Menurutnya jalur ini dulu adalah jalur ekonomi, jalur yang menghubungkan daerah penghasil beras di pesisir selatan (Kabupaten Tabanan) dan penghasil kopi (palawija) di pesisir utara (kabupaten Buleleng). Dan pada saat perang kemerdekaan, jalur ini menjadi jalur penghubung para pejuang kita, demikian penuturan pak Suwi. Jalur dari Desa Soka ke Pura Gunung Puun harus dilalui agak menanjak sebelum akhirnya kita ketemu dengan sumber mata air, yang masih menjadi bagian dari Pura Gunung Puun. Kami istirahat sejenak dan mengisi perbekalan dengan air yang baru plus fresh. Makan siang kami tentukan di areal sekitar Pura.

Jalur datar, menanjak dan sesekali melintasi pohon2 yang tumbang karena rapuh. Melintasi hutan dengan lumut, hutan basah. Dan di jam 4 sore kami akhirnya sampai di batas hutan di area Danau Tamblingan. Berarti sudah 6 jam kami berjalan sepanjang itu. Istirahat sejenak dengan menikmati buah markisa yang kami dapatkan sekitar pinggir hutan. Dan kemudian Pak Suwi mengarahkan kami untuk menembus ladang penduduk sampai di tepi hutan Gunung Lesung untuk berkemah.

Jalur di hutan lindung itu agak ternoda oleh jalur yang dilalui oleh para penghobi motor kros. Agak kurang sreg bagi kami akan keberadaaan jejak2 kendaraan ini di hutan lindung yang asri.

Hari 2, Minggu 20 Juni 2010 Setelah melepas capek diperjalanan yang kemarin, jam 4 pagi kami putuskan untuk mulai naik ke Gunung Lesung dengan harapan kami akan mendapatkan sunrise yang aduhai. Perjalanan di pagi buta itu terasa segar kembali, jalur menanjak tinggi tanpa kami sadari, mungkin akan berbeda kalau kami naik di saat ada sinar matahari. Dan hasilnya kami sudah tiba di pelataran Pura Gunung Lesung di jam 5.45, saat ufuk timur masih merah. Lebih cepat 1 jam dari perkiraan Pak Suwi. Oya, perlengkapan yang tidak perlu kami tinggalkan dibawah (kami titipkan di rumah penduduk). Jadi kami naik dengan bekal seadanya.

Setelah melakukan ritual di Pura Gunung Lesung, kami putuskan untuk mencari spot untuk menunggu matahari terbit. Dari puncak ini sudah kelihatan Danau Buyan, pesisir utara Bali, dan lembah mati di Gunung Lesung disisi kanan (selatan). Pada akhirnya kami putuskan untuk tidak menunggu mentari terbit, akibat tergiur oleh pemandangan kawah mati berselimut kabut atau mungkin danau mati di puncak dari Gunung Lesung ini. Mungkin dulunya adalah sebuah kepundan atau memang danau yang sudah mengering. Tampak vegetasi dibawah yang tertutup oleh kabut. Kedalaman dari lereng (pura) kami perkirakan adalah maksimum 80 m, dengan tebing terjal bervegatasi yang hampir lingkaran penuh.

Dan akhirnya pelan2 kami menapak turun ke lembah sunyi ini, berpegangan pada dahan2 pohon, batang tanaman jalar, agak merosot karena turunan yang rada terjal, menyibak ilalang dan semak berduri. Akhirnya kami sampai dibawah, yang kami sangka adalah kawasan datar dengan rumput rendah ternyata semak setinggi leher kami. Dan Pak Suwi dengan parangnya menyibakan semak untuk jalur yang akan kami lalui. Kami putuskan untuk tidak naik ditempat yang sama, akan sulit karena turunnya yang sangat terjal, dan kami putuskan untuk membelah kawasan datar itu menuju ke lereng seberang, dengan harapan lebih landai. Ternyata tidak, malah sama terjalnya, pelan dan waspada kami naik ke puncak lereng diseberangnya.

Sampai jam 8.30 saat kami sampai di puncak seberang, kabut tetap menyelumuti kawah mati itu walau sinar matahari sudah mulai naik, ibarat tidak rela memperlihatkan misteri di dalamnya. Dan kami merasa bahwa kami telah nekat selama 2 jam untuk turun dan membelah kawasan sunyi itu. Dari puncak itu kami melalui jalur kami naik tadi menuju puncak Gunung Nagaloka untuk melihat langsung bagaimana goa vertikal dalam yang mungkin adalah kepundan yang sudah tidak aktif lagi. Menurut Pak Suwi, telah ada yang mencoba masuk kedalam goa vertikal itu, dengan tali sepanjang 150m dan belum juga bisa menyentuh dasarnya.

Dari Nagaloka kami turun kembali ke perkemahan. Jam 11 kami berpamitan dengan Pak Nuriada, penduduk yang kami titip tenda. Setelah itu menelusuri jalur pinggir hutan Gunung Lesung yang berseberangan dengan ladang2 penduduk menuju ke persimpangan jalur Danau Tamblingan, dimana kami dijemput oleh kendaraan disana.

Dana yang dibutuhkan untuk perjalanan ini adalah untuk biaya pemandu, biaya antar jemput dari Kota Tabanan dan biaya sekedarnya untuk menitipkan tenda dibawah Gunung Lesung. Masih dibawah 1 juta. Semoga jalur ini semakin populer kelak, karena jalur ini lebih sering dilalui oleh wisatawan mancanegara daripada domestik.

[Non-text portions of this message have been removed]

hotel murah di bandung

hi Chibi,
Ada youth hostel di GGM (Gelanggang Generasi Muda), semacam backpacker hostel yang lokasinya di Jalan Merdeka. Landmark terdekat adalah BIP (Bandung Indah Plaza) yang terletak tepat disebelahnya. Kamar yang tersedia ada yang model bunk bed dengan rate Rp30ribu/bed/malam minimum 4 bed (kamar mandi diluar), ada kamar berlima yang pernah disewa teman saya dengan susunan dua queen size bed & satu single bed dengan rate 240rb/kamar/malam (kamar mandi dalam), dan kamar untuk dua orang dengan queen size bed dengan rate 125rb/kamar/malam plus tv & kamar mandi dalam. Biasanya dia ga terima reservasi, langsung datang aja. Tapi kalo mo coba telpon bisa tanya penerangan Bandung di 022-108 (maaf rie lupa no telpon GGM).
regards,
ririe yudhinia.multiply.com

Palembang

jum’at ini mo berangkat ke palembang, ada yang bisa merekomend tempat yang bisa di kunjungi di sekitar kota palembang dan tempat wisata kulinernya. Mo nyicipi makanan khasnya seperti : mie celor, laksan, burgo, mpek2 panggang dan lenggang.
trims yaaaaaa …………….