Pagi ini saya minum kopi kental. Suara perkutut bersahutan. Saya duduk di beranda atau lanai. Di depan saya terhampar pepohonan lamtoro. Angin dari laut Pasifik masih semilir. Ah ya..rasanya saya seperti di kampung Gunungkidul saja. Ilusi sesaat yang kemudian menyadarkan bahwa saya berada di sebuah pulau bernama Big Island atau Hawai’i.
Tidak banyak yang tahu bahwa nama Hawai’i adalah sebuah pulau, bukan kepulauan apalagi negara bagian. (pulau=satu, kepulauan=banyak). Hampir pasti akan menunjuk Honolulu sebagai maskot Hawai’i. Sedangkan pulau ini kemudian kehilangan identitas diambil alih oleh Honolulu yang senyatanya berada di pulau bernama Oahu. Hawai’i kemudian disebut sebagai Big Island atau singkat saja seperti namanya Pulau Besar.
Alasan berkunjung ke pulau ini adalah dua hal: gunung api paling aktif didunia Kilauea dan puncak gunung Mauna Kea.
Kilauea hanya mungkin bisa dikalahkan oleh Merapi (USGS-HVO Hawai’i Volcanoes Observatory tidak berani mengklaim tetapi Kilauea meletus tanpa henti saat ini sudah 19tahun!). Berbeda dengan gunung-gunung api di Indonesia, Kilauea dan empat gunung di Big Island lainnya adalah produk hot spot, bukan bentukan dari Ring of Fire. Big Island sendiri adalah produk dari muntahan lahar gunung api jutaan tahun silam. So, kesempatan terbaik untuk menyaksikan lava pijar menyala, keluar dari perut bumi ada disini. Letak pijaran aktif bisa dinikmati di Hawai’i Volcanoes National Park di sisi selatan Big Island. Saya sempatkan menikmati muntahan magma menuju ke lautan lepas. Lava di Hawai’i juga sangat berbeda dengan lava di Merapi. Dari tingkat konsistensi, pijaran di Hawai’i lebih encer karena kandungan silika. Acara jalan saya tambah asyik karena didampingi geologist amatir (latar belakang geology tetapi tidak bekerja secara profesional). Darinya saya banyak sekali diceritakan perbedaan letusan gunung api didunia lain seperti Mt. Edna dan tentu diajak berburu bebatuan.
Mauna Kea adalah gunung mati, puncak tertinggi di Big Island. Diukur dari permukaan laut ‘hanya’ 4,205mdpl. Tetapi yang membuat puncak ini terkenal adalah karena akses kesana yang bisa dicapai dalam beberapa jam saja dengan kendaraan. Efek altitude sickness akan sangat terasa jika tidak melakukan aklimatisasi. Mauna Kea juga rumah bagi teleskop terbesar saat ini yakni Keck Observatory, plus beberapa teleskop milik negara lain seperti Jepang (Subaru- diambil dari gugusan Maia Nebula-Seven Sisters), NASA, UK, Canada-France-Hawai’i. Alasan utama menempatkan teleskop di puncak Mauna Kea tentu saja karena ketinggian, juga posisi yang terhindar dari awan berarak dan minimnya cahaya buatan yang bisa mengganggu pengamatan bintang. Praktis jika berada di puncak Mauna Kea seperti berada negeri diatas awan. Pemandangan sunset di puncak gunung ini sangat spektakuler. Plus dingin banget dan berangin kencang.
Saya sendiri memilih tidak ngikut tur selama di Big Island. Dua aktivitas diatas kebanyakan bisa dilakukan independen. Hanya untuk akses ke puncak Mauna Kea butuh kendaraan 4WD. Pihak autoritas hanya memperbolehkan bagi yang usia diatas 16th, tidak hamil, tidak ada gangguan sistem pernafasan, tidak melakukan diving dalam tempo 24jam sebelumnya. Ini karena efek ketinggian bisa membahayakan bagi individu dengan kondisi tsb. Apakah jalannya berbahaya? Bisa dibilang begitu karena dalam ketinggian 2,700an mdpl menuju puncak hanya berkisar 30menit saja, tikungan dan gradien tajam. Saya memilih bergabung dengan sukarelawan astronom Mauna Kea yang diadakan tiap Sabtu dan Minggu (free plus akses ke Keck Observatory).
Sedangkan Volcanoes National Park dihitung US$10 per kendaraan udah termasuk penumpang berlaku untuk 7hari. Jadi jika masih ngga puas, bisa disambung hari berikutnya. Hanya saja untuk melihat lava pijar yang menuju ke laut saat ini butuh kapal untuk bisa menonton dalam jarak dekat. Sedangkan akses dari National Park hanya bisa melihat kawah Halema’uma’u yang nampak berasap. Ohya Volcanoes National Park buka 24 jam, so menikmati kawah malam hari sangat menarik.
Lepas dari itu semua, duduk di beranda dengan segelas kopi nan lembut dari Kona, wilayah dimana saya tinggal ini tidaklah berbeda dengan Jawa. Saya jadi ingat ketika di perbincangan di milis. Ngapain sih jauh-jauh travel, kemudian menjumpai tempat yang seperti di tanah air?
Ini membuat saya bisa memahami kenapa ibunda Obama, Ann Dunham memilih tinggal di Hawai’i. Tempat ini betul-betul seperti Indonesia. (Ann Dunham doktor thesisnya adalah tentang anthropologi tenun/batik dan pandai besi di Jawa). Dari panas terik, nyamuk yang berkeliaran, suara ‘kung’ perkutut dan burung dara tanpa henti. Rasanya Big Island bukanlah Amerika. Ini adalah bagian Jawa di tengah Pasifik.
Buat saya, sebuah perjalanan tidak bisa dinikmati sepotong-potong. Disini saya menemui makanan, tanaman, cuaca dan mungkin landscape seperti Jawa. Tapi bukankah itu menandakan bahwa Big Island punya korelasi dengan Indonesia? Burung perkutut diceritakan berkembang biak karena dibawa imigran asal Jawa Tengah. Bahkan ketika menyusuri Waipio Valley, cerita disana adalah adanya orang Kalimantan yang menetap dan menjadi pekerja perkebunan talas di tahun 70′an atau terlibat sukarelawan tim perdamaian PBB.
Jadi setiap tempat punya cerita, biarpun landscapes sama. Ada pohon jambu air, jambu kluthuk, buah pace, alpukat, mlanding, pepaya. Tapi siapa yang menanamnya, siapa yang dibalik itu adalah perjalanan itu sendiri. Sebagai backpacker, kita tidak cuma menjadi penonton.
Mahalo!
Ambar
Skype ambarbriastuti | Gtalk ambar.briastuti | Gvoice +1 (408) 940-5013 Adventures. Backpacking. Photography.™
Tautan: Kilauea USGS http://hvo.wr.usgs.gov/kilauea/ Hawai’i Volcanoes National Park http://www.nps.gov/havo/ Mauna Kea Observatories http://www.ifa.hawaii.edu/mko/
[Non-text portions of this message have been removed]
————————————
Kunjungi website IBP: http://www.indobackpacker.com
Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.
SPAMMING atau forwarding tidak diperkenankan. Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT.
Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian yang perlu saja.
Cara mengatur keanggotaan di milis ini:
Mengirim email ke grup: indobackpacker@yahoogroups.com (moderasi penuh) Mengirim email kepada para Moderator/Owner: indobackpacker-owner@yahoogroups.com Satu email perhari: indobackpacker-digest@yahoogroups.com No-email/web only: indobackpacker-nomail@yahoogroups.com Berhenti dari milist kirim email kosong: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com Bergabung kembali ke milist kirim email kosong: indobackpacker-subscribe@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/
<*> Your email settings: Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join (Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email: indobackpacker-digest@yahoogroups.com indobackpacker-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/