Tag Archives: perbedaan-lintah-degan-pacet

Jakarta-Kuala Lumpur-Melbourne, this and that

…sambungan dari catatan sebelumnya, Australia Part-1 and Part-2
Sedikit Flash Back Saya berangkat ke Australia atas ajakan dan undangan mbak Elok Dyah, a dear friend who is more like a sister to me – yang sudah merupakan salah satu master traveler yang sudah keliling Indonesia dan keliling dunia dengan berjuta pengalaman dan cerita. Elok dan suaminya, Arief, sudah dari beberapa bulan sebelumnya merencanakan trip ini dan dengan suksesnya jadi kompor Hitachi yang membuat saya tertarik untuk join mereka. Kendala saya sama seperti orang kebanyakan, minim di budget, alias nggak punya banyak duit tapi maunya banyak dan saya sendiri kebanyakan gaya. Maka akhirnya sayapun mencoba untuk menyusun beberapa strategy untuk menekan budget saya seminim2nya dengn mengurangi pengeluaran, salah satunya adalah dengan tidak mengeluarkan uang untuk penginapan alais menumpang dirumah teman-teman selama dua minggu keliling Australia-Malaysia-Singapore. Jadi, budget yang saya siapkan hanyalah tiket pesawat, uang makan dan transportasi dan sedikit uang pegangan untuk belanja belenji saja. Pengurusan Tiket Pesawat Terbang Step pertama yang saya lakukan setelah VISA di approve adalah mencari tiket yang sebenarnya (note : kalau tiket sebelumnya adalah tiket yang saya pesan melalui travel agent yang udah di booking tapi belum di issued) sedangkan tiket yang akan saya pilih dan beli adalah online ticket yang akan saya beli melalui internet. Kenapa harus online ticket ? karena harganya (jauh) lebih murah daripada harga yang kita beli dari tour & travel agent. Saya juga memutuskan ikut dengan mbak Elok kali ini karena mereka berangkatnya autumn (musim gugur), yang berarti tiketnya tentu saja jauh lebih murah daripada tiket yang dibeli pada musim panas (summer) atau musim liburan (peak seasons). Kenapa tiket autumn atau winter harganya lebih murah ? entahlah, tapi menurut logika saya, orang2 “normal” dan orang2 yang lebih punya duit cenderung malas untuk bepergian pada saat musim dingin sehingga musim dingin bukan merupakan musim favorit buat para pelancong, sedangkan orang2 murahan seperti saya, mau dingin kek-mau panas kek, selama harga tiketnya terjangkau (baca : murah) dan ada waktu (plus cuti di approved oleh Pak Boss tentunya ), kenapa tidak ? :-) Keuntungan lain beli tikcket secara online dan kalo kita rajin2 browsing adalah, kadang2 kita dapat 0 program alias harga awalnya 0, lalu ditambah tax & fuel surcharge, ending2nya paling bayar return ticket – satu tujuan domestik – di Australia nya cuman sekitar AUD $60. Akhirnya saya browsing ambil rute sesuai itinerary yang sudah dibuat dan disetujui sebelumnya Jakarta-Kuala Lumpur-Melbourne (Air Asia), Melbourne-Canberra (Tiger), Canberra-Sydney (Greyhorne-bus), Sydney- Blue Mountain (train), Blue Mountain-Sydney (train), Sydney-Wollongong (train), Wollongong-Sydney (train), Sydney-Melbourne (Value), Melbourne-Kuala Lumpur (Air Asia), Kuala Lumpur-Melaka (bus), Melaka-Singapore(bus), Singapore-Jakarta (Air Asia). Total perjalanan memakan waktu 12 hari dengan pesawat terbang, kereta api dan bis. Ok, setelah beberapa lama browsing dan dapet tiket2 murah( note : yang saya bayar online pakai credit card hanyalah tiket pesawat terbangnya aja, sedangkan tiket kereta api dan tiket bus selama disana beli – on the spot ), kemudian semua tiket tersebut saya issued dan saya print, lalu saya satukan tiket tersebut bersama dengan dokumen2 penting saya lainnya, dan saya pun siap untuk berangkat ke bandara. Jakarta– Kuala Lumpur – the departure Hari Selasa subuh saya sudah pesan taksi untuk menuju airport, dan bertemu dengan teman seperjalanan (travelmate) saya Toton, yang ingin belajar backpacking dan traveling ke benua lain. Pesawat yang kami gunakan ke menuju Melbourne adalah salah satu pesawat Low Cost Carrier (LCC), yaitu Air Asia, dan salah satu ke khas-an naik pesawat sejenis ini untuk penerbangan jarak jauh adalah jam keberangkatan (Estimate Time Departure/ETD) atau jam kedatangan nya (Estimate Time Arrival/ETA) suka ajaib!, either pagi2 banget atau malah malem2 banget. Yah, namanya juga pesawat murah, what do you expect ? :-) Sekedar catatan, untuk keberangkatan ke luar negri, sebaiknya kita sudah berada di airport 1,5 – 2 jam sebelum keberangkatan, karena kadang situasi dan kondisi di bandara tidak bisa di prediksikan, yang kadang bisa menyebabkan kita terlambat check in. Seperti contoh, pesawat kami harusnya take-off pada pukul 06.25pagi, dan saya sudah berangkat dari rumah jam 04.45am untuk perjalanan dari Lebak Bulus ke Bandara International Soekarno Hatta sekitar 30 menit (waktu subuh ya bo!). Tiba di bandara pukul 05.15, trus ketika mau masuk kedalam bandara, entah kenapa antrian dari pintu masuk airport ke counter check-in amat sangat panjang kayak antrian DuFan, sehingga ketika tiba di counter pada pukul 05.45pagi pagi, check in, mendapatkan boarding pas dan bayar airport tax Rp 150,000 (untuk keluar negri), kami sudah langsung diminta masuk untuk boarding. Tapi sebelum boarding, jangan lupa untuk pergi ke counter NPWP untuk memperlihatkan NPWP asli kita, lalu dapet cap bebas fiscal, dan saat itu kami terpaksa harus lari2 kecil kearah gerbang D-6 karena pesawat sebentar lagi take-off berangkat ke Melbourne melalui Kuala Lumpur , sedangkan jarak dari counter check in ke gerbang D-6 ternyata lumayan jauh. Oh ya, satu tips buat lagi new traveler, biarpun kita sudah datang pagi dan sudah check in, tapi selama kita menunggu pesawat sebelum boarding, sebaiknya jangan duduk terlalu jauh dari lokasi boarding karena di beberapa kota di beberapa negara, jarak dari tempat check in ke lokasi boarding pesawat amat sangat jauh dan membingungkan, apalagi kadang2 secara last minute mereka ganti gate – (misalnya waktu dari Melbourne ke KL, tadinya penumpang harus boarding masuk pesawat dari gate 1-9 mendadak dipindahkan ke gate 90-120 tanpa pemberitahuan sebelumnya – kami hanya di ”paging” atau dipanggil melalui pengeras suara di bandara sekitar 5 menit sebelum berangkat – sehingga kami harus sedikit berlari2 lagi – dan ada kemungkinan kita bisa ketinggalan pesawat karena mereka mendadak pindah boarding gate nya). Pesawat Air bus ini lumayan besar daripada pesawat Air Asia yang biasa saya pakai keliling Indonesia atau Asia . Dan kerennya lagi, ada nomor kursinya ! (note : kalo beli tiket Air Asia untuk penerbangan domestic kan nggak ada nomor tiketnya, jadi kalo mau masuk pesawat kita suka lari2 kayak naik bus rebutan duduk sama penumpang lainnya, biarpun semua penumpang PASTI kebagian tempat duduk, tapi kebiasaan orang Indonesia tidak pernah berubah, rebutan dan ngak mau antri, haha). Untung sekarang2 ini beli tiket online udah bisa milih kursi duduk, biarpun harus bayar extra – tapi saya lupa nambah berapa supaya dapet tempat duduk enak. Lalu ketika semua penumpang telah masuk, pesawat sudah jalan, ternyata pesawat harus “ngetem” sekitar 45 menit entah karena apa, yang saya ingat, rasanya saya udah ingin berdiri menanyakan kenapa pesawat nggak jalan2 juga, dan tau2 pesawat mulai mengambil ancang2 mau take-off, dan akhirnya pesawat kami take off juga pada pukul 07.40pagi. Delay oh delay. Transit di LCCT, Kuala Lumpur Tiba di Kuala Lumpur waktu telah menunjukkan pukul 09.30 waktu setempat. Sebagai pesawat yang original kepunyaan Malaysia, memang Air Asia harus transit ke Kuala Lumpur dulu kalo mau keluar negri, tapi satu hal penting yang perlu di ingat adalah, bahwa mulai tahun 2009 ini, SEMUA pesawat Air Asia sekarang ngetemnya di LCCT (Low Cost Carrier Terminal), jadi bukan di bandara KLIA lagi (Kuala Lumpur International Airport). LCCT terletak sedikit lebih jauh dari KLIA. (So buat yang mau ke Malaysia naik Air Asia, minta dijemputnya jangan di KLIA, tapi LCCT yaaaa). Lalu setelah landing di LCCT dan mengambil bagasi, kami menyempatkan diri untuk brunch di Mc. Donald’s alias makan tanggung (sarapan udah lewat, makan siang blom tiba) baru kemudian pada pukul 12.00 siang, saya dan teman saya kembali check-in di counter yang menuju Melbourne. Lalu di pintu masuk, setiap orang yang mau masuk ke ruang tunggu pesawat dicegat dan di interview sedikit oleh petugas bandara nya, ditanya2 personal, tapi rasanya semua pertanyaan nya standard, seperti “kenapa mau ke Australia, “mau kemana aja, disana tinggal sama siapa, etc etc”. Saya jawab semua pertanyaan dan tau2 petugas bertanya waktu saya berkunjung ke Australia terakhir kalinya, berapa lama saya tinggal disana. Saya heran, dia tau dari mana saya pernah berkunjung/tinggal di Australia, secara menurut saya di VISA atau di passport saya nggak ada keterangan apapun yang menyatakan bahwa saya sebelumnya pernah berkunjung atau tinggal di Australia (note : passport yang saya pegang sekarang passport ketiga saya yang masih blom banyak terisi, sedangkan VISA Australia nya kan cuma 1 buah ditempel di passport). Tapi petugas tersebut kemudian menjelaskan, bahwa VISA yang di approved di passport saya adalah VISA yang berlaku untuk 1 tahun itu biasanya hanya diberikan kepada orang2 yang pernah berkunjung atau tinggal di Australia sebelumnya, that’s how he knows that I’d been to Australia, sedangkan VISA teman seperjalanan saya cuman di approve untuk 3 bulan saja. Oh, sekarang saya jadi tambah mengerti. Anyway,pesawat take off pada pukul 13.40 siang, dan kami duduk manis di dalam pesawat. Departure & Arrival Card Biasanya, di imigrasi bandara atau diatas pesawat kita udah dikasih satu buah kartu yang merupakan “Departure Card dan Arrival Card” yaitu “Kartu Keberangkatan dan Kartu Kedatangan” yang jadi satu dokumen, dan kita harus mengisinya dengan lengkap. Jangan lupa tuliskan nama contact person berserta alamat mereka atau alamat tempat penginapan di negara yang akan kita kunjungi. Biasakan unttuk selalu isi departure/arrival card dengan teliti dan mengisinya di awal kepergian (misalnya ketika baru duduk di pesawat). Hal ini untuk menghindari pengisian terburu2 ketika akan landing sehingga mungkin isian kartu tidak komplit sehingga kita bisa membuang banyak waktu di imigrasi atau malah bisa mengacaukan jadwal perjalanan (salah isi/tidak komplit bisa bermasalah di imigrasi-more story after this later on). Declaration Declaration adalah pengakuan atau pernyataan atau laporan yang biasa dibuat oleh seorang traveler apabila dia keluar negri – yang kolomnya dicantumkan kedalam departure card apabila kita membawa barang2 atau makanan2 yang harus diperiksa layak atau tidaknya masuk ke suatu negara. Baca dan pelajari barang2 apa saja yang perlu kita laporkan, karena tiap negara punya peraturan yang berbeda. Kalo kita tidak membawa barang2 atau makanan2 yang dianggap tidak boleh dibawa masuk ke negara tersebut, tuliskan saja semua pertanyaan dengan jawaban NO. Tapi apabila kita membawa atau ragu2 dan tidak yakin, mendingan tulis YES daripada ntar ada random check dan sialnya kita bawa makanan2/barang2 yang ternyata harus di declare tapi ternyata kita nggak lapor, selain barang2nya akan langsung dibuang ke tempat sampah, nanti malah kita harus membayar denda ratusan bahkan ribuan dollar (misalnya bawa dua sloof rokok kretek atau bawa rendang emak buat bekel tapi tidak di declare). Saya suka sekali sama saos tomat dan saos sambel ABC dan sebagai orang pintar, saya juga sangat suka sekali minum tolak angin. I can not live without tolak angin and I always bring those items wherever I go. Sebenernya sih, saos tomat dan saos sambel banyak dijual di toko2 Asia yang ada di Australia, dan 1 sachet saos tersebut dijual cuma seharga 50c. Tapi rasa emang ngak bisa bohong yah bo, saya nggak suka saos2 buatan sana, rasanya nggak enak. Trus saos tomat dan saos sambel ABC atau produk2 buatan Indonesia hanya tersedia di toko2 tertentu yang jaraknya jauh, sehingga saya akan report mencarinya setiap kali mau makan, maka akhirnya saya memutuskan untuk membawanya sendiri dari Indonesia dalam bentuk sache atau kantong2 kecil yang bisa dibeli di Carrefour (jadi inget Alice-Olive Carrefour, apa kabar kalian ? kangen motret makro lagi euy!). Banyak yang bilang saos tomat sachet, saos sambel sachet dan tolak angin sachet dan sejenisnya nggak boleh dibawa ke Australia, tapi saya nekat tetep bawa. Tetapi tentu saja saya declare atau memberikan pernyataan dengan jawaban YES bahwa saya membawa barang2 yang harus diperiksa sebelum masuk ke negara tersebut. Trus sekarang2 ini, kalo bepergian keluar negri ada tambahan satu kartu kecil lagi yang namanya Health Declaration, atau laporan kesehatan, yang intinya sama aja, kalo kita mengeluh sakit, pusing, demam etc, wajib lapor kepada pihak yang bersangkutan. Itu aja. Ok, urusan pengisian semua dokumen2 tersebut akhirnya selesai, dan ingat, simpan dokumen nya baik2 ya, karena dokumen ini akan selalu ditanya setiap keluar masuk imigrasi (karena kalo kartu nya ilang, ber-urusan deh sana sama pihak imigrasi). Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Melbourne memakan waktu sekitar 8 jam, dan selama di perjalanan, saya mengeluarkan salah satu buku yang saya baca “JAVA musikindo presents WOW” by Adrie Subono. [ ini buku bagus, saya rekomendasikan untuk dibaca oleh para pecinta buku, karena beliau sharing bagaimana caranya menjadi promotor music yang baik dan benar, mulai dari nol sampai beliau sukses sekarang, juga dengan bumbu2 cerita dan pengalaman beliau selama menangani para penyanyi dan pemusik dari manca negara - tapi pada intinya, dia sharing rahasia kesuksesannya. Sebenernya, this book is NOT all about business, we could also learn a lot about life in there . Keterangan yang dia tulis sangat detail tapi dengan gaya bahasa yang enak buat dibaca dan banyak ilmu yang bisa diambil didalamnya (biarpun ternyata buku tersebut bukan ditulis langsung oleh Adrie, melainkan oleh Carry Nadeak) tetapi dengan membaca buku tersebut, saya makin kagum dengan sosok bung Adrie Subono] It is nice to finally get the time to read. I use to read a lot, but blame it to BlackBerry dan salahkan kemudahan internet, setelah kini dengan mudahnya bisa ber internet ria dengan menggunakan handphone, saya lebih suka browsing2 ke internet, update status facebook, update multiply, check dan reply email daripada membaca buku dan novel, salah satu hobby yang sudah lama saya tinggalkan (btw Puguh, ntar bawain lagi buku yang lain yak). Berhubung di atas pesawat kita tidak bisa menyalakan handphone, maka sayapun bernostalgia melakukan kegiatan lama, yaitu membaca buku hingga tak terasa di pesawat, satu buku tersebut pun habis dibaca. Pegal membaca buku, saya stretching dan jalan2 didalam pesawat, mulai dari depan sampai ke belakang melihat2 keadaan penumpang. Sebagian besar tidur (and it is amazing to see different styles of sleeping position on each individu. Ada yg tidurnya pelukan, ada yg tidurnya mulutnya menganga lebar, ada yg posisi tidurnya jungkir balik, seru deh pokoknya, haha), sebagian penumpang lainnya baca buku atau buka laptopnya main games atau nonton DVD dari layer komputer. Yang herannya, banyak penumpang yang makan dengan membawa makanan yang dibawa dari luar, biarpun peraturan Air Asia melarang penumpang bawa makanan dari luar karena mereka menjual makanan didalam pesawat. Tapi toh saya lihat banyak banget yang ngunyah apel, roti, biscuit, coklat, sandwich, etc etc yang bukan produk Air Asia. Dan yang makan/minum juga bukan hanya orang melayu nya aja, tapi juga para bule2nya. Saya jadi sedikit menyesal, tau gitu mendingan tadi saya beli makanan dari luar dan makan di pesawat biar bisa agak ngirit dikit, hehe. Then again, makanan minuman yang dijual di pesawat sebenarnya masih terjangkau harganya dan rasanya gurih. Harganya berkisar RM 6 – RM 20 ( 1RM = sekitar Rp 3,000) dan menunya antara lain roti jala kare ayam, nasi lemak dan sandwich, minumannya soft drink, milo atau mineral water alias air putih. Selama di pesawat, saya 2 kali makan dan beberapa jam kemudian, saya nggak tahan lagi untuk tidak menutup mata dan tiduuuurrr. Akhirnya, kami tiba di Melbourne pada pukul 21.40 dan dengan perbedaan waktu 4 jam dari Indonesia, itu berarti sudah pukul 01.40 pagi waktu setempat. Melbourne, finally Jadi, ketika landing sekitar pukul 01.40 pagi waktu setempat, kembali kami harus melewati sebuah lokasi dimana kita harus jalan berbaris secara perlahan satu persatu, dimana semua petugasnya memakai masker tutup hidung dan duduk di sebuah komputer yang layarnya canggih, dimana pada layar komputer itu tubuh kita akan terlihat abstract kayak alien seperti yang di film Predator nya Arnold Swazeneger (aduh! djadoel banget sih). Saya lewatin lorongnya dengan tenang, tapi begitu udah lewat areanya, langsung cepet2 balik badan dan nyamperin petugasnya yang melototin layar karena penasaran, seperti apa sih alat thermo heat itu dan saya juga mau tau suhu tubuh saya yang ada di layar computer tadi, ternyata 38 derajat celcius dan buru2 saya ditarik dan diusir petugas supaya jalan ke depan karena orang lain nggak bisa lewat. Pheeeww, jadi suhu 38 masih diangap OK. Kecuali yang baru mengunjungi negara Mexico dan America sebelumnya, berapapun suhu tubuhnya, pasti disuruh masuk keruangan khusus untuk diperiksa total oleh dokter ahli setempat, pengen tau apakah tubuhnya mengandung virus atau tidak. Kemudian setelah melewati area thermo heat tersebut, saya ngantri di imigrasi untuk pemeriksaan passport dan penyerahan kartu arrival, petugas langsung memisahkan saya dan para penumpang yang lain. Para penumpang lain keluar pintu exit sebelah kanan, sedangkan saya digiring ke pintu exist sebelah kiri. Sumpah saya deg2an digiring ke kiri. I mean, sebelumnya saya kan juga baru baca buku tentang Hollocoust Survivor (true story- mengenai orang2 yang hidup dan selamat pada saat pembasmian ras Yahudi di masa perang Nazy), dimana di cerita itu, kalo disuruh jalan dan disuruh ke sebelah kanan, artinya mereka masih boleh hidup dan bekerja rodi, sedangkan kalo disuruh ke sebelah kiri itu artinya kematian atau dikirim ke kamar gas. Dan pada saat itu, saya dikirim ke sebelah kiri, and in my case, it means trouble ! Lagu2 yang kayak di film2 horor sebagai latar belakang cerita saat itu kayaknya lucu juga. Tapi boro2 mikirin lagu, saya deg2an sedikit takut seakan2 saya lagi cari masalah di negara orang. Ternyata saya dibawa ke ruang declaration. Pheeeww, napas, napas, napas yang lega dee ! saya lupa, saya kan tadi nulis YES waktu ditanya apakah membawa barang2 atau makanan yang kemungkinan tidak boleh dibawa masuk ke Australia untuk untuk barang yang dianggap melebihi kapasitas yang diperbolehkan. Di ruangan besar ini ransel saya dibuka. Untung barang2 yang saya declare udah saya pisahin di kantong kiri dan kanan ransel jadi saya bisa mengeluarkan barang2 yang di declare tadi dengan cepat. Langsung aja ngapalin segala macem surat2 dan ayat2 yang saya ingat, menenangkan diri dan berdoa supaya nggak ada masalah dengan makanan2 yang saya bawa. I mean, mereka boleh buang saos tomat dan saos sambel sachet saya yang 1 bungkus gede itu,TAPI JANGAN BUANG TOLAK ANGIN SAYA !!! So langsung aja saya pasang muka malaikat dan senyum di manis2in biar nggak terlalu keliatan deg2an. Petugas wanita yang endut yang sudah setengah baya itu ternyata ramah sekali, dia tanya “what’s this, love ?” waktu dia pegang saos2 tersebut. Saya bilang “saos tomat dan saos sambel”. Petugasnya heran, trus dia bilang “Australia kan juga menjual banyak saos tomat dan saos sambel kaleeee”. Saya tetep ngeyel dan menjelaskan ”but I loveeeeeeeee this authentic Indonesian sauce and you don’t sell many in here”. Petugas ramah itu tersenyum dan mengembalikan saos saya. Berikutnya mbak petugas mengambil kotak tolak angin saya dan tanya lagi dengan tampang heran dengan bahasa Inggris secanggih Cinta Laura, “and what on earth – is this ????” trus saya jelaskan “ooowww, kalo ini sih, sejenis cairan supplement untuk mengembalikan tenaga yang sudah loyo dan bikin tidur kita enak dan rasanya juga seger kayak mint yang bikin hangat tenggorokan dan perut” . Kurang lebih seperti itu penjelasannya. Saya aja nggak tau darimana saya bisa ngejelasin segitu lancarnya tentang tolak angin . But I guess people will do or say just anything to keep things they wanna keep. Ternyata dia mengangguk2 maklum, lalu mengembalikan semua barang2 yang barusan diperiksa dan saya langsung diperbolehkan keluar. Lah ???!!! jadi ternyata cuman segitu aja ??? Padahal tadinya saya udah kebayang yang lebih heboh, para polisi pria yang gagah dan berbadan kotak2 akan mengelilingi saya dan menginterogasi saya diruang interogasi kayak di film2 FBI dan bertanya berbagai macam pertanyaan yang menakutkan dan menyudutkan. Then again, I think I’d been watching too much American movies, jadinya khayalan nya selangit, haha! Untung tadi antrian declaration nya nggak panjang ya, mungkin karena udah jam 01.40 pagi, jadinya nggak terlalu banyak orang yang diperiksa karena declare. Saya rasa, kalo saya landingnya pagi atau siang hari, pasti antriannya panjang banget ! Cuaca Kalo di Indonesia kita kan cuma punya musim panas dan musim hujan yah (plus musim duren dan musim jatuh cinta, aiiihh), lain lagi di Australia . Ada4 jenis musim di Australia : Spring, Summer, Autumn dan Winter. Tapi karena global warming, cuacanya menjadi sedikit tak menentu dan bergeser. Kamiberada di Australia pada awal bulan Mei 2009, tapi cuaca di sana udah dingin banget. Begitu juga ketika kami tiba di Melbourne setelah mengambil bagasi kami, udara diluar sekitar 8 derajat celcius. Sangat dingin untuk ukuran orang ndeso macam kami yang biasa dengan suhu 33-35 derajat celcius setiap harinya. Biarpun sudah pakai 2 sweater, tapi tetep aja kedinginan (iya We, ampun! gue tau loe mau nyela gue apa, *nutup mulut AWe pake plester, blah!*). Setelah ambil bagasi, kami pun bersiap2 mencari tempat penginapan. Penginapan, All Nations Backpacker Hostel Hari pertama di Melbourne memang saya tidak mendapatkan tumpangan menginap karena waktu nya mepet sekali dengan waktu keberangkatan. Tapi selama browsing internet, banyak sekali backpacker hostel disekitar area, dan semuanya available alias banyak kamar kosong, jadinya tenang2 aja. Lagipula, ketika kita keluar airport dekat dengan pintu keluar, ada information centre 24 jam dimana kita bisa nanya2, dan di sebelah meja kiri information centre terdapat suatu area dimana disana tersedia beberapa telp umum gratis yang didindingnya ada display nama2 hostel backpacker (low budget hostel) yang bisa di inapi. Saya telp satu hostel, katanya penuh. Hostel berikutnya juga penuh. Yang ketiga penuh juga, dan saya mulai sedikit panik. Padahal di internet tertulis available, tapi karena kita sebelumnya emang nggak booking melalui online booking, jadinya pas telp minta dijemput, hostelnya udah penuh. Padahal udah subuh, dan kami sama sekali blom tau mau menginap dimana. Mentok2 saya pikir, paling nginep dan tidur di bangku airport aja. Untung pada saat saya telp ke hostel yang ke empat, ternyata ada kamar kosong, ya udah kita memutuskan untuk nginep di All Nations Backpakcer Hostel, rate nya standard rate hostel backpacker yang ada disana, AUD $25. Dari pintu keluar bandara, saya dan teman saya naik Sky bus (bis nya ber operasi 24 jam, tapi kayaknya setelah jam 9 malam, berangkat nya hanya tiap 1 jam sekali), lalu kami turun di pemberhentian terakhir yaitu Southern Cross Station. Menurut Diana, mbak2 penjaga information centre nya tadi, tidak terlalu aman untuk backpakcer berjalanan kaki ke hostel untuk ukuran jam 02.00 pagi, apalagi katanya daerah tersebut gossipnya merupakan daerah lokasi drug dealers, jadi dia menyarankan kami untuk naik taksi aja. Diluar stasiun kereta api tersebut banyak sekali taksi ngetem (berasa di terminal Lebak Bulus, sumpah!), dan mungkin karena udah lewat tengah malem, taksinya nggak pake argo resmi. Jadi ketika kami tanya berapa ongkos untuk ke jalan Elizabeth Road, tempat All Nations hostel, dia bilang AUD $12, dan ketika saya nawar AUD $8 (jiwa Padangnya keluar, hihi) ternyata supir taksinya mau. Kemudian kami memasukkan barang2 kami ke taksi dan taksinya pun jalan. Kira2 baru dua kali napas, mendadak hostelnya udah keliatan di depan mata. Ya olooooooooooooo, ternyata jarak hostel dari stasiun nya cuman sekitar 700 meteran doang !!! kesel, kesel, keseeelll !!! Tapi yaitu tadi, karena kami ngak tau jalan (kalo di map kelihatan nya lokasinya agak jauh), plus saya nggak familiar dengan kota Melbourne, jadinya nggak berani jalan kaki subuh2 karena memikirkan safety nya. Anyway kami pun chek in, bayar AUD $25 plus nambah duit lagi AUD $4 untuk nyewa locker dan meletakkan barang2/dokumen2 penting (lockernya pakai password yang PIN nya hanya kita yang tau karena kita bisa create sendiri PIN nya). Karena saya orangnya curious, secapek2nya saya, setelah taro ransel dikamar, saya masih nyempet2in diri untuk berkeliling. Hostelnya sendiri ada kalo nggak salah ada 3 lantai, tempatnya not bad tapi nggak terlalu bagus (lebih keren tampilan nya yang di internet), ruangannya pengap, lantai karpetnya sedikit kumuh – ada banyak noda bekas bercak air, toiletnya nggak terlalu bersih, dan udaranya agak sedikit lembab. Kemudian saya kembali ke kamar, dimana saya tidur di dorm atau di kamar sejenis barak tentara dengan tempat tidur tingkat yang sharing 1 kamar dengan 8 orang lainnya, pria dan wanitanya dicampur di satu kamar. Akhirnya, saya meletakkan ransel saya yang cuman isi baju2 di samping tempat tidur dan menikmati moment2 beberapa detik dalam kegelapan dan kedinginan dengan para backpacker asing disekitar saya yang semuanya sudah terlelap – secara udah jam 03.00 subuh ya boooo, ayam aja bentar lagi bangun! (ayam beneran loh, bukan ayam yang ada di disko2). Lalu dengan mengucapkan syukur alhamdulillah kepada yang DIATAS karena telah tiba dengan selamat gemah ripah damai sentausa, saya ambil napas dalam2. Lelah sekali rasanya berangkat dari rumah jam 04,45 subuh sedangkan saya tiba di Melbourne jam 03.00 pagi, jadi tanpa cuci muka dan sikat gigi lagi karena udah capek, maka saya langsung cari posisi enak ditempat tidur, minum tolak angin dan langsung tiduuurrr !!! TO BE CONTINUED salam, Deedee Caniago *they don’t care how much you know until they know how much you care*