Tag Archives: sejarah-pela-haruku-dan-nolloth

“Berobat”

Dr Cipto yang sudah lama ku kenal geleng-geleng kepala sambil melepaskan stetoskop. Dokter senior ini baru saja mengukur tensi darah ku. “Pasti sering pusing ya. pernah jatuh berapa kali…?”, tanyanya. Ngga heran ia tanya begitu. Hanya saja aku sedikit bohong mengatakan hanya sesekali saja pusing dan tidak pernah kolaps. Padahal sich beberapa kali pusing dan 2 kali blackout walau sebentar. “Ngga mungkin…120-220 pasti pernah kolaps…”. Dalam hati ketahuan ngibulnya juga. Nekad juga sich ngibulin dokter senior. Ah bodo amat. Simpan rasa malu ketahuan bohong. Ngga pernah dok kolaps, anugerah Tuhan dok, kataku tuk pembenaran kebohongan sekaligus menutup malu. Ia hanya tersenyum, seakan mengatakan ngibul loe ya. Ia pasti sudah tahu aku sebagai pasien lama sejak remaja.

Tanpa banyak bicara ia mengeluarkan surat. Kali ini idak menulis resep. Lebih parah, surat pengantar untuk opname…! “Segera anda opname sebelum lebih parah. Ngga mau khan anda masih muda sudah kena stroke. Nanti saya sendiri yang tangani anda”, sambil melipat dan menyerahkan surat. Yeaaa….dalam hati tertawa terbahak-bahak. Noway…!! Tujuan ke dokter hanya tuk dapetin surat sakit aja, lalu kenapa di kasih surat tuk mondok.

“Dianter naik mobil khan?jangan nyetir sendiri apalagi bawa motor. Tensi segitu bisa kolaps di jalan”, pesannya sambil membuka pintu untuk persilahkan ku keluar. Dalam hati, yeeeee…motor gue gimana dong kalau pulang di suruh naik mobil. Tadi datang memang naik motor. Lalu pulang disuruh naik taksi. Siapa yang bisa disuruh ambil motor gue dari parkiran. Bodo ah. Kolaps itu khan teori medis. Buktinya aku masih mampu jalan sendiri.

“Berobat”

Ribetnya urusan kerjaan di kantor, my boss yang seakan tidak kehabisan kata-kata tuk ngoceh terus. Berbagai omelan yang sebenarnya tidak perlu bikin bete aja. Dan masih banyak lagi. Makanya aku bela-belain ke dokter hanya untuk dapetin surat sakit, biar ada alasan terhormat tuk “bolos”. Yeeee kog bukannya dapetin “surat sakit” malah di kasih surat untuk mondok. Bodo ah…

Urusan personal juga bikin tensi segitu. Kenapa ya masalah ngga habis-habisnya. Selesai satu muncul yang lain. Kayak air mengalir terus ngga pernah selesai. Sementara ini jiwa sudah kering kehabisan energi masih juga di kunjungi masalah. Kog susah ya obatnya tuk berbagai problem jiwa satu ini…

“Dolf…ngga kangen traveling? Traveling lagi ‘dolf. Siapa tahu bisa nolong loe lega dikit. Siapa tahu lho…”. Di perjalanan pulang sms muncul yang sebenarnya bukan dari teman dekat. Aku ngga pernah curhat ke dia. Tapi muncul secara kebetulan di waktu yang tepat. Seakan dia bisa mengerti kegalauan diri ini. Ah mungkin dia kirim karena di suruh malaikat Tuhan atau…ah entahlah.

Traveling…? Ku sebut lagi…traveling…??? Iya…!!! Betul juga. Aku harus traveling. Barangkali ini obatnya. Hhhhmmm…betul. Aku harus traveling lagi. Itu obatnya. Pasti…Pertanyaannya kemana…?ke pulau…? Ngga selera. Ada tawaran ke Ujung Kulon? Hhhmmm…rame-rame ya. Ngga ah. Lagi ngga selera. Aku harus pergi yang jauuuuuhhh…naik pesawat berjam-jam, tapi masih di negeri ini. Yup pertanyaannya kemana…? Nah itu dia yang bikin bingung.

Lamunan di kamar suatu malam memikirkan akan kemana. Aku baru saja sadar dari blackout. Pandangan mata yang masih muter-muter mengarah ke tumpukan majalah dan brosur yang sempat aku singkirkan beberapa waktu lalu. Aku singkirkan karena tidak mungkin tahun ini aku pergi. Mending di simpan dulu aja. Di taruh di laci atas yang sulit terjangkau. Supaya ngga sering-sering buka dan ngga ngiler. Tokh baru tahun depan perginya.

Kepala masih terasa pusing. Mungkin karena malam tensi ku masih tinggi. Suara hati ku berteriak menyebut satu nama kota : Ambon…!! Ya. Kenapa aku ngga kesana. Aku harus ke sana. Harus…!!! Ok kalau gitu. Tanpa pikir panjang langsung bongkar kembali majalah, brosur yang sudah beberapa bulan ngga aku buka dan sekarang di hinggapi debu.

Bikin planning mau kemana aja selama disana, berapa lama, berapa budgetnya, mau naik apa. Ooo ternyata ngga sulit. Tinggal membuka itinerary yang pernah ku buat dulu. Benteng Amsterdam, daerah Hila yang terdapat gereja dan mesjid kuno, Pintu Kota, Liang, Pulau Pombo, Pantai Natsepa, Desa Waai, Teluk Ambon, Ambon War Cemetry, adalah rentetan tempat-tempat yang wajib aku kunjungi. Budget…? tinggal di update aja. Tempo hari pernah buat perkiraan.

Lalu kemana lagi…?masa 5 hari 4 malam di Ambon aja. Teringat ”doeloe” seorang rekan pernah menyarankan nyebrang ke Pulau Seram. Ora Beach sangat oke, begitu rekomendnya. Masih banyak tempat lain yang siip di Seram. Hanya Seram luas sekali. Ngga mungkin hanya satu atau dua hari disana. Biayanya jadi bengkak. No…! Out of budget. Banda Naera, yang naik daun oleh event “Sail Banda”. Ada kep Kei Kecil, Kep Tual, Lagi-lagi no…! Out of budget. Butuh waktu lama.

Pelajari peta Kep Ambon. Di sebelah pulau Ambon ada Pulau Haruku. Boleh juga. Tapi ngga ada kapal kesana. Harus carter. Wah susah…Ngga dech. Di sebelahnya ada pulau Saparua. Lho ini khan kampungnya Mr Ellyas Pical, yang pernah jadi juara dunia tinju era tahun 80. Aku masih ingat. Ok ada apa disana? Tidak sulit. Maskotnya Benteng Duurstede. Lainnya ada Benteng Victoria, Desa Ouw. Desa Nolloth terdapat gereja kuno. Itawaka, yang pantainya apik. Desa Ihamahu, terdapat home industri Bagea, cemilan khas Ambon. Rumah Pattimura, yang masih menyimpan baju asli dan pedangnya. Beres nyusun daftar tempat-tempat wajib visit selama disana. Transport penyeberangan Ambon ke Saparua bagaimana? Oooo ternyata tidak sulit. Hanya butuh sejam saja nyeberang naik kapal cepat. Yes…!!! mantap….Saparua…!!!

Ok, sejam itinerary selesai. Ngga berbelit-belit. Ngga harus bbm-an sama teman tuk rundingan tempat-tempat yang akan di datangi. Aku berangkat sendiri. Berunding sama diri sendiri aja. Bebas mau menentukan kemana. Nah itu salah satu asyiknya solo traveling.

Sekarang ngitung budget. Karena pergi sendiri biaya pasti lebih mahal dibanding pergi berdua atau rame-rame. Ini akhir tahun. THR belum turun. Lihat di tabungan berapa sisa danaku. Oke ternyata masih cukup. Done…Budget beres. Lanjut, mau berangkat kapan? Nah ini dia keuntungan lain solo traveling. Cukup berunding dengan diri sendiri maunya kapan. Jadi kapan…? harus segera pergi. Dah ngga tahan. Oke minggu depan gimana? Yess…. kenapa tidak…? Oke…done. Minggu depan.

Beruntungnya tinggal di era sekarang. Banyak pilihan pesawat. Lion Air, sang ”singa terbang” airline yang rute pilihannya lengkap, Batavia yang pernah delay berjam-jam waktu ke Bengkulu dan Surabaya, Sriwijaya, express air, dan terakhir maskapai pelat merah. Bandingkan masing-masing ETD (jam keberangkatan) dan ETA (jam tiba). Baru tentukan pilihan. Lagi-lagi simpel saja. Ngga perlu hp-hp-an atau bbm-an dengan teman, untuk memilih airline. Ngga butuh waktu lama tuk kompare. Done…!! Malam itu juga, itinerary n tiket sudah siap.

Urusan cuti gimana? Boss setuju ngga ambil cuti mendadak langsung 6 hari. Bodo amat. Itu hak karyawan. Cuti ku masih banyak. Pun tidak di setujui, ya surat sakit lah aku sodorin. Singkat kata urusan cuti harus beres atau dibuat beres….Selesai.

Lagi asyik-asyiknya menikmati pemandangan di kapal ferry Ambon-Saparua hari kedua, tiba-tiba hp terasa bergetar. Ada panggilan masuk. Tuhan semoga bukan dari kantor, Semoga bukan dari boss yang bakalan siap di ocehin, semoga bukan dari teman kerjaku, pintaku dalam hati. Ini liburan ku. Please…please jangan diganggu urusan kantor dong. Setelah di lihat Ooo ternyata dari dokter Cip. “Anda jadi di rawat…?”, tanya beliau. Jadi dok, jawab ku santai “Lho di ruangan mana, kog semua ruangan ngga ada nama anda…”. Saya berobat jalan aja dok…. “Ooo…tapi saya belum berika resep ke anda kemarin…”. Ngga apa-apa dok. Saya sudah punya obatnya. “Maksud anda pake obat apa ya…? jangan sembarang minum obat ya”. Kedengeran sekali suara khawatir dokter Cipt. Belum sempat saya jawab tiba-tiba masuk blank spot. Pembicaraan terputus

Sambil tersenyum dan tertawa sendiri. Aku ngga bohong lho sama dokter baek ini. Benar-benar aku lagi berobat jalan. Maksudnya berobat (dengan cara) jalan-jalan ke Ambon dan Saparua…

Bersambung