<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesian Backpacker Community &#187; Taman Nasional</title>
	<atom:link href="http://www.indobackpacker.com/tag/taman-nasional/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.indobackpacker.com</link>
	<description>Just another Option</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Aug 2010 03:23:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Desa Wisata Mangrove – Bedul</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2010/06/desa-wisata-mangrove-%e2%80%93-bedul/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2010/06/desa-wisata-mangrove-%e2%80%93-bedul/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jun 2010 12:21:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekowisata / EcoTourism]]></category>
		<category><![CDATA[Info Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional / National Park]]></category>
		<category><![CDATA[alas purwo]]></category>
		<category><![CDATA[bedul]]></category>
		<category><![CDATA[mangrove tour]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=1297</guid>
		<description><![CDATA[di tulis oleh noped/ind Bedul, nama tempat wisata baru-baru ini yang berada di Banyuwangi Selatan Tepatnya di Dusun Bloksolo, Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo. Kawasan wisata Mangrove ini dibuka, tepatnya sebelum Hari raya Idul Fitri 2009 lalu walaupun belum di buka secara resmi. Di kawasan wisata bedul menawarkan wisata Mangrove alami. Untuk menuju ke Bedul, dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>di tulis oleh noped/ind</p>
<p>Bedul, nama tempat wisata baru-baru ini yang berada di Banyuwangi Selatan<br />
Tepatnya di Dusun Bloksolo, Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo. Kawasan wisata Mangrove ini dibuka, tepatnya sebelum Hari raya Idul Fitri 2009 lalu walaupun belum di buka secara resmi.</p>
<p>Di kawasan wisata bedul menawarkan wisata Mangrove alami. Untuk menuju ke Bedul, dari pusat Kota Banyuwangi anda bisa menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, baik menggunakan mobil atau motor, untuk rutenya sendiri dari Kota Banyuwangi anda bisa ke arah Rogojampi lalu Srono, melewati kota ikan Muncar, Pasar Sumberayu, Tegaldlimo, Jatirejo, Curah Jati dan akan baru sampai di pasar Sumberasri.</p>
<p>Dari pasar sumberasri anda ke arah Selatan mengikuti jalan yang sudah di aspal berjarak 8 Km melewati areal persawahan.</p>
<p>Melewati Sedikit Hutan jati yang sudah gundul akibat penebangan membabi buta yang dilakukan oleh warga sekitar.</p>
<p>Untuk Mengelilingi Mangrove ini anda tidak perlu merogoh kocek terlalu banyak. Cukup Limabelas ribu saja untuk mengelilingi bareng penumpang lain. Kapal-kapal ini muat lumayan banyak lho, bisa 10 hingga 15 orang. Walapun udara di sini agak lumayan panas tetapi sangat tidak terasa karena anginnya lumayan kencang.</p>
<p>Indahnya bedul ketika pagi hari, suara burung-burung masih terdengar, andai saja sang nahkoda mau membawa kami hingga ke Ngagelan, pasti disana ku kan menemukan ratusan penyu-penyu imut. Tapi sudah lah, lain waktu pasti kami akan kesana dengan bapak Nahkoda. Selamat menikmati Bedul, semoga anda puas dengan Banyuwangi (noped/ind)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2010/06/desa-wisata-mangrove-%e2%80%93-bedul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Napak Tilas Soe Hok Gie 1969-2009</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2009/12/napak-tilas-soe-hok-gie-1969-2009/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2009/12/napak-tilas-soe-hok-gie-1969-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 18:07:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xenrolf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Article Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jawa timur]]></category>
		<category><![CDATA[mapala ui]]></category>
		<category><![CDATA[Napak Tilas]]></category>
		<category><![CDATA[Semeru]]></category>
		<category><![CDATA[Soe Hok Gie]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[taman nasional bromo tengger semeru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indobackpacker.com/?p=1233</guid>
		<description><![CDATA[Napak Tilas 40 tahun Gie: Cintailah Kehidupan: Satu pikiran, ucapan, dan perbuatan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><em><strong>Kami adalah kelompok yang pertjaja, bahwa patriotisme tidak dapat ditanamkan hanja melalui slogan-slogan dan djendela djendela mobil. Kami pertjaja bahwa dengan mengenal rakjat dan tanah air Indonesia setjara menjeluruh, barulah seorang dapat mendjadi patriot-patriot jang baik. </strong></em></h3>
<h3><em><strong>– Soe Hok Gie, 1965</strong></em></h3>
<p><em>Mengapa Soe Hok Gie Naik Gunung?</em></p>
<p>Soe Hok Gie (1942-1969). Pemikiran dan perbuatannya ternyata masih relevan dan menjadi insiprasi generasi muda Indonesia sepanjang masa. Mengapa dulu Hok Gie naik gunung? Karena di tengah situasi sosial politik yang sudah dikotori dengan kemunafikan dan benih korupsi, dia menemukan kemurnian dan kedamaian yang ia impikan di gunung. Selain itu, ‘bermain’ di alam dan dekat dengan masyarakat adalah wujud nyata cinta tanah air.  <em></em></p>
<p><em>Sekarang, bukankah hal yang demikian itu masih relevan?</em></p>
<p>Kami akan berkumpul untuk mengenang semangat Hok Gie yang saat ini masih relevan.  Dan saat nanti, Desember 2009, tepat 40 tahun meninggalnya Soe Hok Gie, kami –kelompok dan individu penggiat alam bebas, yang beratensi terhadap ide dan pemikiran Hok Gie– berniat berkumpul mengenang dan menyoba memahami lebih dalam ide dan pemikiran Soe Hok Gie.  Semangat yang masih relevan itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata.  Momen tersebut penting, karena selain semangat Soe Hok Gie masih relevan di era sekarang ini, kami menyakini bahwa ada satu pesan dari semangat Hok Gie tersebut yang saat ini bisa diaplikasi secara bersama untuk menjadi gerakan sosial (social movement).  <em></em></p>
<p><em>Dimana lokasi yang tepat untuk berkumpul?</em></p>
<p>Kegiatan ini akan dilaksanakan di wilayah Malang, tepatnya di pinggir Danau Ranu Regulo, Desa Ranu Pani, di kaki Gunung Semeru. Pemilihan lokasi yang spesifik ini didasarkan pada karakteristik yang unik dari kota Malang yang dikelilingi oleh gunung-gunung, sehingga banyak tokoh dan kelompok penggiat alam bebas yang lahir di malang.  <em></em></p>
<p><em>Mengapa harus di Ranu Pane?</em></p>
<p>Deretan gunung di Malang tersebut seakan ‘menantang’ Soe Hok Gie dan teman-teman Mapala-UI untuk mendaki Gunung Semeru memperingati lima tahun berdirinya Mapala-UI. Namun bagi Hok Gie, ia seolah ‘menjemput maut’ dalam perjalanan itu. Akibat cuaca buruk dan menghirup gas beracun, Soe Hok Gie menemui ajalnya pada 16 Desember 1969. Turut pula tewas dalam musibah itu Idhan Lubis. Evakuasi dua jenasah dari Puncak Semeru melibatkan hampir semua kelompok dan individu pencinta alam yang ada di Malang dan sekitarnya. Makanya, tidak ada alasan lain untuk tidak menggelar acara ini di Ranu Pani.  <em></em></p>
<p><em>Siapa saja sih yang akan berkumpul itu?</em></p>
<p>Soe Hok Gie boleh pergi, tapi tidak semangatnya, karena itu yang akan kami kenang. Pengertian kami bisa jadi begitu luas, tidak terbatas pada kelompok atau individu pengiat kegiatan alam bebas, tapi juga mereka yang sepaham, punya perhatian, dan terinspirasi dengan ide dan pemikiran Hok Gie. Mereka bisa berasal dari berbagai kalangan: akademisi, artis, budayawan, militer, politikus, wakil rakyat, aktivis HAM, olah ragawan, pengusaha, pekerja kantoran, pegawai negeri, pedagang kecil, petani, buruh, dan lain-lain. Kami juga akan datang dari multigenerasi –mulai dari angkatan 1960an sampai 2000an–, multietnis, multiras, dan multiagama.  Merayakan keberagaman.  Begitu banyak perbedaan, tapi justru itu pula yang akan kami rayakan. Kami memang akan seperti hakekatnya bangsa Indonesia.  <em></em></p>
<p><em>Napak tilas dan ‘perkampungan’ di Ranu Pane.</em></p>
<p>Rangkaian acara akan diwali dengan pendakian napak tilas melalui rute Gubuklakah dan pendakian bersama melalui rute Ranu Pani. Rombongan ini akan mengganti prasasti lama yang sudah rusak, lokasi persisnya akan ditentukan kemudian berdasarkan survei. Tentunya jumlah pendaki akan dibatasi untuk menjaga kelestarian lingkungan Gunung Semeru. Rombongan pendaki akan turun ke desa Ranu Pani untuk bergabung dengan kelompok besar yang telah membuat ‘perkampungan’ di sekitar danau Ranu Regulo dan Ranu Pani.  <em></em></p>
<p><em>Aneka rupa pertunjukkan kesenian yang bersahaja.</em></p>
<p>Ya, memang pada saatnya nanti kawasan yang hening di Ranu Regulo dan Ranu Pani akan menjadi ramai oleh kami. Namun, meskipun kami akan merancang beberapa pertunjukkan kesenian dari berbagai kelompok, kami berusaha untuk tidak mengusik keheningan danau itu. Jadi hanya akan ada musik akustik, pembacaan puisi dan monolog, dan pertunjukkan seni lainnya yang selaras dengan suasana alam sekitar.  Beberapa pertunjukkan yang rencananya akan digelar antara lain: Panggung musik akustik beberapa artis yang punya kepedulian lingkungan Pertunjukkan seni oleh kelompok dari Malang dan sekitarnya dan lain-lain <em> </em></p>
<p><em>Festival alam.</em></p>
<p>Rencana pertunjukkan tersebut hanya yang akan mengisi ‘panggung utama’, dan digelar secara periodik. Ada pula ‘panggung pendukung’ sesuai dengan kelompok peserta yang datang. Jadi ini memang akan seperti festival alam. Perhelatan ini akan berlangsung sepanjang siangsore sampai malam –bahkan mungkin sampai pagi.  Pesan dari semangat Hok Gie: cintai alam dengan tidak menyampah!  Meskipun terlihat sederhana, kami akan mewujudkan pesan Soe Hok Gie berkait kecintaan terhadap lingkungan. Yaitu dengan tidak meninggalkan sampah di seluruh kawasan kegiatan. Sesungguhnya, hal ini tidaklah sederhana mengingat menyampah sembarangan seakan sudah menjadi kebiasaan banyak orang –termasuk bagi kami yang ‘berlebel pencinta alam’. Akan tetapi, apakah kita akan terus merasa nyaman dengan kebiasaan buruk dan merusak  lingkungan itu? Apakah tidak miris melihat sampah berserakan di sekitar kegiatan besar bertema go green?</p>
<p><em>Bentuk Kegiatan</em></p>
<ul>
<li> Napak Tilas ke Puncak Semeru, melalui rute Gubuk Klakah diikuti 25 orang dan pemasangan prasasti sebagai pengganti prasasti lama yang saat ini sudah rusak/patah.</li>
<li>Pendakian Bersama Gunung Semeru melalui rute Ranu Pane, diikuti sekitar 350 orang.</li>
<li>Perkemahan Persahabatan di sekitar Ranu Regulo, dengan kegiatan:Pertunjukkan musik dan seni, Sarasehan dan bincang-bincang reriungan, Permainan luar ruang</li>
<li>Bakti Sosial bagi masyarakat Desa Ranu Pani</li>
</ul>
<p><em>Waktu dan Tempat Kegiatan</em></p>
<ol>
<li> Napak Tilas dan Pendakian Bersama Gunung Semeru 13 – 17 Desember 2009</li>
<li>Perkemahan Persahabatan di Ranu Regulo, Desa Ranu Pani kaki Gunung Semeru 18 – 20 Desember 2009</li>
<li>Bakti Sosial di Desa Ranu Pani 18 Desember 2009</li>
</ol>
<p><em>Peserta Kegiatan</em></p>
<p>Kegiatan akan ini diikuti oleh kelompok pencinta alam yang berasal dari perguruan tinggi dan umum, individu yang punya atensi terhadap kegiatan alam bebas, dan organisasi atau lembaga yang bergiat di alam bebas, dari berbagai generasi. Kepanitiaan  Kepanitiaan kegiatan terbentuk dari kerja sama antara komunitas pencinta alam di Malang dan Mapala UI.  <em></em></p>
<p><em>Sekretariat Panitia:</em></p>
<p><strong>Jakarta<br />
</strong>Sekretariat Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) Gedung Pusgiwa, Kampus UI Depok Depok 16424, Jawa Barat Tel. <strong>021 7888 4872</strong> Email: 40th.gie@mapalaui.info</p>
<p><strong>Malang<br />
</strong>Sekretariat Himpunan mahasiswa Pencinta Alam Semesta (HImPAS) Vignecvara STIE malangkucecwara malang Jl. Terusan Candi Kalasan, Blimbing malang 65142, Jawa Timur Tel. <strong>0341 992 5117</strong> Email: info@himpasvignecvara.org</p>
<p>Kontak person: <strong></strong></p>
<p><strong>Ida Mayanti 0813 1008 9346<br />
</strong><strong>Slamet Handoyo 0878 7811 7475<br />
</strong><strong>Yayak M. Saat 0811 946 081<br />
</strong><strong>Dian Ekawati 0812 965 1160</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2009/12/napak-tilas-soe-hok-gie-1969-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Flores &#8211; when the dreams come true</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2008/04/flores-when-the-dreams-come-true/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2008/04/flores-when-the-dreams-come-true/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 08:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya / Cultural]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[ende]]></category>
		<category><![CDATA[Flores]]></category>
		<category><![CDATA[kelimutu]]></category>
		<category><![CDATA[kupang]]></category>
		<category><![CDATA[labuan bajo]]></category>
		<category><![CDATA[ruteng]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.backpacker-indonesia.info/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Boleh dibilang, ini adalah perjalanan yang paling sering membuat saya tersenyum. Ada beberapa alasan sebenarnya. Bertahun-tahun saya memelihara keinginan untuk bisa menginjak tanah Flores, beberapa kali rencana dibuat tapi hasil akhirnya selalu melenceng ke tempat lain. Jadi tak heran, begitu bahagianya saya saat membaca email yang berisi hasil final konfirmasi tiket yang dikirimkan teman seperjalanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="justify;"><em><span>Boleh dibilang, ini adalah perjalanan yang paling sering membuat saya tersenyum.<span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><em><span>Ada beberapa alasan sebenarnya. Bertahun-tahun saya memelihara keinginan untuk bisa menginjak tanah Flores, beberapa kali rencana dibuat tapi hasil akhirnya selalu melenceng ke tempat lain. Jadi tak heran, begitu bahagianya saya saat membaca email yang berisi hasil final konfirmasi tiket yang dikirimkan teman seperjalanan saya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span id="more-250"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><em><span>Flores adalah alam dengan segala keunikan dan keindahan disetiap jengkal tanahnya. Dan lagi-lagi saya tak bisa berhenti tersenyum, reaksi spontan saat pandangan mata saya menangkap segala kecantikannya.<span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><em></em><strong><em><span>Keberuntungan nomor satu</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span> </span></em></strong><span>Hari-hari penuh keribetan itu sudah dilewati, saat dimana kami harus membongkar pasang rencana, membolak –balik rute, berburu tiket murah dan menelpon sana sini untuk memastikan jadwal penerbangan perintis yang seringkali tiba-tiba berubah seperti disulap. Sabtu pagi itu kami sudah bisa duduk tenang diatas pesawat yang akan membawa kami ke Kupang, kota yang menjadi transit point sebelum memasuki Ende. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Rute perjalanan kami adalah Jakarta-Kupang-Ende-Riung-Bajawa-Ruteng-Labuan Bajo-Denpasar-Jakarta/Balikpapan. Kami memutuskan untuk men-<em>skip</em> Maumere karena keterbatasan waktu cuti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Panas menyengat langsung menyambut begitu turun di bandara El Tari, dan saat tiba di ruang kedatangan saya mendengar sebuah percakapan yang riuh dengan bahasa daerah yang sangat familiar dikuping saya. Seketika saya merasa agak disorientasi, melihat sekeliling untuk memastikan kalau saya benar mendarat di kawasan Nusa Tenggara Timur, bukan di Sumatera Barat. Sudah jauh-jauh terbang ke wilayah timur tapi tetap saja bahasa daerah pertama yang saya dengar persis seperti bahasa nenek saya, bahasa padang. <em>Onde mande uda….</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Kami memutuskan untuk jalan kaki saja keluar Bandara menuju jalan raya untuk mencari angkutan umum atau ojek. Tapi baru jalan beberapa meter sebuah mobil membunyikan klaksonnya dan menghampiri kami. Seorang bapak bersama putri kecilnya menawarkan kami tumpangan untuk sampai di jalan raya, yang ternyata jauhnya minta ampun. Begitu tiba di jalan raya yang banyak dilalui angkutan umum, pak Gion yang baik hati itu sepertinya tak tega menurunkan kami, dan akhirnya beliau langsung mengantarkan kami kedepan pintu penginapan. Pak Gion adalah keberuntungan awal kami, keberuntungan nomor satu. Makasih banyak pak….<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Menginap semalam di Kupang memang tak banyak yang bisa dilakukan. Cukuplah berkeliling kota naik angkutan umum, jalan kaki menyusuri jalanan dan bergabung dengan penduduk lokal menghabiskan sore di tepi laut. Naik angkot disini harus berani budeg, karena mereka memutar musik dengan volume maksimum dan bas berdentum hebat. Tapi syukurlah pilihan lagunya yang masuk top hits semua, bukan lagu ajeb-ajeb.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Selain itu juga bisa selalu ketemu sama artis terkenal. Waktu itu kami sempat satu angkot sama Britney Spears, Mariana Renata dan kelompok Westlife. Tidak dalam fisik nyata pastinya, tapi dalam bentuk poster yang menghiasi interior angkot. Meriah sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span>Moni, keheningan di kaki gunung</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em></em></strong><span>Dalam proses hitung-menghitung waktu, diputuskan Ende adalah pintu masuk kami ke Flores. Mendarat di bandara Hasan Aroeboesman sempat membuat saya geli sendiri. Ruang kedatangan yang kecil sederhana itu sudah dipenuhi oleh penjemput, tukang ojek dan supir bemo yang menawarkan jasa pada penumpang. Seorang supir bemo dengan rambut dicat merah dan highlight kuning langsung menginterogasi rencana tujuan saya, sementara teman seperjalanan saya berdesakan didepan sebuah meja tua reyot menunggu bagasi sambil khusuk mendengarkan petugas menyebutkan sederet angka. Disini harus bersabar menunggu sambil pasang kuping baik-baik, karena petugas akan berteriak memanggil satu persatu nomor bagasi seluruh penumpang. <em>Aha</em>, selamat datang di Flores dan silahkan lupakan sejenak seluruh standard kenyamanan hidup yang anda punya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Masih dengan angkot yang modelnya nggak jauh berbeda dengan angkot di Kupang, dari airport langsung menuju terminal Roworeke untuk pindah ke bus kecil yang akan membawa kami ke Moni. Bus kecil itu penuh, dan masih terus dipadatkan lagi dengan berbagai barang. Beberapa kali terdengar suara babi ber-<em>nguiknguik</em>-ria dari arah belakang. Seketika saya teringat pesan seorang kawan sebelum berangkat, ‘<em>have an adventurous trip,imas..</em>’. Dan disinilah kami, duduk terjepit dalam bus kecil yang berjalan terseok-seok bersama dengan tumpukan barang dan sekumpulan hewan ternak.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Hujan deras menyambut saat tiba di desa Koanara, tempat kami menginap sebelum trekking ke Kelimutu. Peter, orang yang kami temui di penginapan mengatakan kalau hujan terus turun beberapa hari belakangan. Mendengar itu kami tentu saja khawatir tak bisa trekking menikmati keindahan Kelimutu seandainya besok pagi hujan dan kabut tebal. Dia mengatakan, semoga nanti malam banyak bintang, yang artinya kemungkinan besar besok pagi akan cerah. Saya hanya bisa tersenyum kecut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Hujan reda begitu sore menjelang dan kami memutuskan untuk jalan-jalan keliling desa melihat pasar tradisional dan rumah adat. Beberapa anak yang sedang bermain sore itu langsung berpose ekspresif begitu kami mengarahkan kamera pada mereka. Permen dan coklat yang kami bawa pun sukses jadi rebutan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Seluruh desa gelap gulita malam itu, listrik mati. Ini memang sudah rutin setahun belakangan ini, kata Peter sambil memberikan pada kami beberapa batang lilin. Lengkaplah sudah, terdampar didesa terpencil yang sunyi dan gelap, hujan kembali turun, dan kami belum makan malam. Hening-senyap, tak ada suara apapun selain suara binatang yang kedengarannya aneh sekali. Maka terjadilah dialog konyol yang mengisi kesunyian:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>“<em>itu suara apa sih?</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>“<em>kodok</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>“<em>ah yang bener lu, kok suaranya lain. Gue belum pernah denger di tempat gue ada kodok bunyinya kayak gitu</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>“<em>ya iyalah. Disini kan kodoknya pake bahasa daerah sini. sedangkan ditempat lu pasti suara kodoknya, Bah! Bah! Bah!</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>“<em>hahahaa.. Tapi biasanya kan suara kodok nggak besar-pecah gitu</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>“<em>berarti yang biasa lu dengar itu kodoknya masih kecil. Kalo yang ini udah akil baligh, jadi suaranya udah ngebass</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>“<em>halah..</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span>Keberuntungan nomor dua</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em></em></strong><span>Tukang ojek yang kami booking datang tepat waktu, pukul 4.15 subuh mereka sudah menjemput ke penginapan. Hal pertama yang kami lakukan begitu keluar pintu penginapan adalah melihat ke atas, dan langit saat itu bertabur bintang. Alhamdulillah, cuaca akan cerah pagi ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Hawa dingin dan garis jingga di langit timur menemani perjalanan pagi itu. Setelah trekking ringan akhirnya sampai di tempat tertinggi, tepat saat matahari muncul dari balik dinding kawah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>“<em>kalian beruntung</em>” kata si bapak penjual teh pagi itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>“<em>sudah beberapa hari sampai kemarin, permukaan danau tak bisa dilihat karena tertutup kabut tebal dan cuaca jelek</em>”, lanjutnya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Cuaca memang sempurna pagi itu, cerah dan tak berkabut. Saya duduk menghadap danau hijau, merasakan terpaan angin dan mendengarkan suara satwa hutan. Menikmati ketenangan pagi ini dan mensyukuri keberuntungan kami.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Tiga danau dengan tiga warna berbeda itu dengan jelas memamerkan warna-warna indahnya, sementara kabut melapisi perbukitan disisi lainnya. Pemandangan indah radius 360 derajat, membuat kami tak mau beru-buru turun meskipun panas matahari sudah mulai menyengat.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Desa tradisional Nggela dan Jopu adalah tujuan berikutnya. Desa Jopu berada diantara Moni dan Nggela, sedangkan Nggela kira-kira 26 km kearah selatan Moni, dekat dengan laut. Nggela cantik sekali, dengan latar belakang laut biru, daerah komunalnya diisi oleh rumah tradisional dan wanita-wanita yang sedang menenun di beranda. Kain hasil tenunan mereka dipajang didepan rumah, yang tentu saja sangat indah. Beberapa dari mereka cukup agresif juga menawarkan kain tenun itu pada kami, dan terus terang saya kepingin sekali. Tapi karena harganya bisa bikin kacau budget perjalanan, akhirnya cukuplah saya hanya memiliki fotonya saja.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Melewati desa Jopu, kami mampir di salah satu rumah. Seorang ibu sedang menenun di halaman rumahnya yang dipenuhi kain tenun yang dipajang seperti jemuran. Beliau bercerita soal proses tenun, pewarnaan dan materialnya. Kembali kami ditawarkan kain tenunnya, tapi kali ini si ibu melepasnya dengan harga yang masih dalam jangkauan kantong kami, walaupun pross tawar menawarnya super alot.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Sesuai rencana perjalanan, kami meninggalkan Moni siang itu menuju Ende dengan model bus yang sama seperti saat datang. Tapi syukurlah kali ini tak ada suara ‘<em>nguik-nguik</em>’ dibelakang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Moni dan desa Koanara sudah jauh kami tinggalkan, puncak gunung Kelimutu tak terlihat karena tertutup kabut tebal. Saya tersenyum mengingat kembali semua keindahannya, sebelum tertidur dibangku belakang bus yang beguncang hebat menembus lubang jalanan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span>Mimpi Manis &#8211; kata judul lagu dangdut</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong></strong><span>Tiba-tiba saja rasanya seperti jatuh terlempar ke dimensi mimpi. Saat itu dalam perjalanan dari Ende menuju Riung, dan saya terbangun karena kepala terbentur kaca jendela. Bis tua penuh sesak itu sedang berjalan pelan diatas jalanan kecil berbatu dan penuh lubang menganga. Diluar jendela terhampar padang savanna yang luas diselingi oleh pohon-pohon aren dan barisan rumah tradisional di beberapa area. Disisi lainnya menjulang bukit-bukit yang kuning mengering dengan kontur unik ditimpa cahaya matahari sore. Lalu beberapa ekor kuda berjalan beriringan tepat di depan bis kami dan kemudian berlari melintas savanna. <em>fiuhhh</em>&#8230;seperti inilah moment tentang Flores yang selama ini saya bayangkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Kami mungkin adalah penumpang paling ribut dan norak di bis pada saat itu, menunjuk sana-sini lalu berseru penuh decak kagum. Tapi penumpang yang duduk didekat kami rupanya cukup bisa mengerti penyebab kehebohan kami, karena beberapa kali dia membantu memberitahu pemandangan indah yang menunggu didepan, disepanjang jalan ini.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Kami baru saja keluar dari Mbay, sebuah kota kabupaten di utara Flores. Dan pemandangan diantara Mbay dan Riung menurut saya adalah salah satu yang terbaik, karena nuansa khas Flores-nya kuat sekali. Sayang, tak ada foto yang berhasil dibuat karena bis berjalan terus. Tapi saya mungkin tak akan melupakan setiap detailnya, karena memang indahnya minta ampun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Teorinya, bis ke Riung berangkat jam 12 siang dari terminal Ende. Tapi selama dua jam kedepan harus keliling kota dulu menjemput penumpang, dan pak supir juga harus belanja dulu. Belanjaan pak supir biasanya barang-barang titipan penduduk Riung, yang akan diantarkan saat bis kembali memasuki Riung nantinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Mengisi pagi di Ende akhirnya kami memutuskan mencari ojek yang bisa membawa kami ke desa Punggajawa, tempat dimana sepanjang garis pantainya dipenuhi batu berwarna. Orang-orang biasa menyebutnya pantai batu biru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Dari Ende, Riung ditempuh selama 6 jam dengan kondisi jalan berkelok-kelok dengan sopir bis yang ngebut. Kami memasuki Riung sekitar pukul 8 malam, dan supir bis langsung menurunkan kami di depan penginapan. Tak ketinggalan bunyi klaksonnya yang berisik itu, sehingga pemilik penginapan pun akhirnya keluar menyambut kami.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Pagi itu saya menikmati sarapan di beranda sambil bermalas-malasan di amben bambu, mendengarkan suara burung yang ramai berkicau indah. Tak heran, karena pondok tempat saya menginap memang dikelilingi pohon-pohon rindang. Cuaca juga cerah pagi ini, dan rencananya kami akan berperahu mengelilingi pulau-pulau yang tersebar di Taman Laut Riung 17 ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Dermaga terletak tak jauh dari penginapan, dan perahu yang dipesan malam sebelumnya sudah menunggu. Pulau kelelawar adalah tujuan pertama kami. Dari jauh sudah kelihatan banyaknya titik hitam diatas sebuah pulau, dan semakin mendekati pulau samar-samar terdengar suara cicitnya. Begitu perahu merapat, ribuan kelelawar beterbangan diatas kepala kami, sampai ada pohon yang berdaun dan beranting kelelawar. <em>hiii</em>..sampai geli sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Melewati beberapa pulau-pulau kecil, lalu kami tiba dipulau dengan pantai terbaik di Riung 17 ini. Namanya pulau Rutong, dan disekitarnya adalah spot yang bagus untuk snorkeling. Laut tenang, air yang bening berwarna tosca, lalu pantai berpasir putih lembut dengan perbukitan sebagai latarnya. Kami menghabiskan waktu cukup lama menikmati pulau ini, jarang-jarang kan bisa menikmati tempat keren begini. Kapan lagiiii…. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span>Ojek Mania</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Selesai berkeliling pulau, selepas tengah hari kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Bajawa, sebuah kota berhawa dingin. Bis dari Riung ke Bajawa hanya sekali sehari, berangkat jam 7 pagi. Kami tak bisa menunggu sampai esok hari, akhirnya kami nekad ber-ojek ria. Dengan kecepatan lumayan ngebut, Riung – Bajawa dapat ditempuh dalam waktu 2,5 jam dengan kondisi jalanan menanjak menyusuri jalan pegunungan. Baru setengah jam perjalanan hujan deras mengguyur kami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Sempat berhenti sebentar untuk mengamankan barang-barang elektronik, sedangkan pakaian di backpack sejak awal memang sudah dimasukkan dalam kantong plastik. Kami langsung melanjutkan perjalanan menembus hujan deras, angin dan cuaca yang semakin dingin, karena kalau menunggu hujan berhenti mungkin bisa sebulan lagi, karena daerah Bajawa di bulan desember memang identik dengan hujan. Saya menggigil, jari-jari saya putih membeku, basah kuyup karena air menembus jaket dan amat sangat kedinginan. Sebuah pikiran sempat melintas dipikiran saya ‘<em>waduh jangan sampe gue kena hypothermia</em>’.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Bajawa berselimut kabut tebal saat kami tiba dan akhirnya penderitaan saya berakhir. Begitu check in di penginapan saya langsung memesan teh hangat lalu mandi dengan air panas. Sementara hujan deras masih terus turun sepanjang malam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Lagi-lagi mengandalkan ojek, kami mengunjungi desa Bena &amp; Luba yang berada di kaki gunung Inerie. Pantas saja waktu kami bertanya pada petugas penginapan apakah ada angkot yang melewati desa itu mereka bilang tidak ada, karena kondisi jalanannya memang tak memungkinkan untuk dilewati mobil. Di beberapa titik terlihat sedang ada perbaikan jalan, jadi seharusnya sih beberapa bulan ke depan akses jalan menuju Bena &amp; Luba sudah bisa dilewati mobil (mendukung program visit Indonesia year mungkin ya…).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Desa Bena itu cantik sekali, dan yang saya rasakan penduduknya juga tidak seagresif Nggela untuk menjual hasil kerajinan mereka. Kami bisa berjalan santai dan tenang mengitari kawasan ini tanpa gangguan apapun, dan mereka menyapa ramah saat kami ajak ngobrol. Jika cuaca sedang cerah, dari desa ini bisa terlihat pulau Sumba. <em>hhhmm</em>… next trip Insyaallah, saya dan teman saya bersepakat.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Ruteng di kabupaten Manggarai adalah kota berikutnya, dan kami berangkat dari Bajawa pukul 7 pagi dengan bis umum yang menjemput langsung kedepan penginapan. Tak jauh beda dengan Bajawa, cuaca di Ruteng juga sangat sejuk dan hujan masih terus turun walaupun gerimis. Beberapa tempat di kabupaten ini yang rencananya akan kami kunjungi terpaksa dibatalkan, karena transportasi andalan yg paling efisien menuju kesana hanya ojek. Tapi rasanya kok tiba-tiba malas berbasah kuyup lagi naik ojek, dan lebih memilih tempat yang bisa diakses dengan angkot saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Dari pasar, kami memutuskan naik angkot ke Cara, tempat yang terkenal dengan sawah Lingko yang berbentuk seperti jaring laba-laba. Filosofi pembagian lahan sawah seperti ini katanya menggambarkan kekuatan dan kekerabatan yang erat. Bahkan bentuk rumah adat di kabupaten ini juga sepertinya terinspirasi dari jaring laba-laba. Beberapa orang anak kecil menemani kami naik ke tempat yang agak tinggi agar bisa melihat bentuk jaring sawah itu. Saat teman saya menawari anak-anak itu permen, mereka menjawab “<em>kami mau uang saja</em>”. Aduh dek…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span>Komodo dan Ikan bakar sambal terasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Perjalanan dari Ruteng menuju Labuan Bajo ditempuh selama 4 jam, dan seperti biasa view sepanjang jalan indah…apalagi begitu mendekati Labuan Bajo. Hal pertama yang dilakukan begitu tiba adalah langsung menuju kantor perwakilan Transnusa. Tiket yang kami booking lewat telepon saat sebelum berangkat harus diambil, dan atas kebaikan hati staff Transnusa nama kami tetap ada di list manifest walaupun 2 hari menjelang keberangkatan masih belum dibayar. Dan lagi-lagi mereka berbaik hati memberi kami harga termurah, padahal seharusnya kami dikenakan harga tertinggi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Terus terang urusan tiket keluar dari Labuan Bajo ini adalah hal yang paling membuat kami khawatir. Tak ada booking online, daftar booking seat hanya ditulis dalam buku folio yang sudah lusuh dan penuh coretan serta tip-ex disana sini. Sementara itu booking yang kami lakukan hanyalah lewat telepon dan pembayaran melewati time limit, jadi wajar saja kalau kami sudah bersiap-siap untuk keadaan terburuk mendengar jawaban “<em>maaf, sudah penuh. Bookingan kalian sudah di cancel, jadi kalian harus menunggu penerbangan beberapa hari lagi</em>”. Ah, tapi syukurlah urusan tiket ini lancar. Tak sia-sia saya menghabiskan pulsa menelepon setiap dua hari sekali memonitor status bookingan kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Awalnya kami berharap banyak dengan makanan di Labuan Bajo ini. Terus terang sejak awal masuk ke Flores ini kami tak merasakan nikmatnya rasa makanan yang sesuai dengan lidah. Nasi padang lagi..nasi padang lagi…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Saya sudah membayangkan nikmatnya ikan segar yang dibakar dengan cara tradisional dengan sambal ulek yang segar. Maka kami pun berjalan kaki berusaha mencari tempat makan yang menyajikan menu seafood. Tapi nggak ketemu, karena menu seafood yang dihidangkan sudah disesuaikan dengan lidah bule yang memang mendominasi kawasan ini. Saya sedang tidak ingin tuna grilled dengan barbeque sauce atau apapun sejenisnya. Saya lagi sakaw ikan bakar dengan bumbu tradisional lengkap dengan sambal ulek terasi, lalap sayuran dan terong goreng.titik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Teman seperjalanan saya lebih parah lagi, selain sakaw ikan bakar juga sakaw teh botol dingin. Tapi dimana-mana yang banyak dijual itu bir dingin, dan saat kami menemukan satu toko yang menjual teh botol, yang ada bukan teh botol dingin tapi teh botol beku karena dimasukkan dalam freezer.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Dua hari di Labuan Bajo, akhirnya malam terakhir sebelum pulang kami menemukannya. <em>wuiihh</em>…rasanya seperti dapat undian. Warung Madura yang letaknya disebelah kantor pos itu menjual ikan bakar persis seperti yang kami inginkan. Setelah hampir 2 minggu perjalanan, itulah makanan ternikmat yang saya rasakan di Flores ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Di Labuan Bajo ini kami mencharter perahu untuk membawa kami ke pulau Rinca. Cuaca cukup bagus walaupun langit agak mendung sedikit, dan laut tenang. Tiket masuk Taman Nasional Komodo yang mahalnya minta ampun (kalau dibandingkan dengan TN lain di indonesia) itu sebenarnya sudah sekalian juga untuk masuk ke pulau Komodo. Tapi jaraknya yang lebih jauh sehingga harus bermalam, membuat kami memutuskan hanya sampai Rinca saja karena penerbangan kami keluar dari Flores adalah keesokan paginya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Perahu merapat di dermaga Loh Buaya lalu dilanjutkan berjalan kaki menuju pos TN. Lalu melakukan registrasi dan membayar Dana Kontribusi Konservasi berikut berbagai jenis enterance fee yang menurut saya mahal sekali untuk ukuran TN di Indonesia. Ah ya, sepertinya saya harus baca ulang lagi informasi penggunaan dana konservasi yang diberikan salah seorang staff Putri Naga Komodo yang pernah diposting di milis komunitas ini beberapa waktu lalu. Supaya nggak <em>su’udzon</em>.hehehe.. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Sebenarnya ada untungnya juga cuaca agak mendung saat trekking di pulau Rinca ini. Kalau saja saat itu matahari sedang terik dan kami berjalan melintasi savanna, wah..saya pasti sudah kering crispy. Sepasang komodo sudah terlihat di halaman sekitar pos TN. Senangnya…akhirnya saya bisa mendatangi langsung satu-satunya tempat ditemukannya habitat komodo di dunia ini. Seorang guide yang menemani kami trekking beberapa kali menunjukkan tulang-tulang kerbau korban keganasan si predator itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Sepanjang perjalanan saya deg-degan juga sambil menyiagakan mata dan telinga, khawatir kalau tiba-tiba ada komodo diantara semak jalan setapak yang kami lewati. Sepanjang jalur trekking 5 km itu beberapa ekor komodo terlihat <em>‘ngadem</em> dibawah pohon, kerbau liar sedang merumput, rusa berkeliaran bebas, monyet diantara pepohonan, burung-burung terbang melintasi savanna dan pemandangan pulau Rinca yang begitu indah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span>Badai (belum) pasti berlalu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Rencana awalnya, setelah dari pulau Rinca kami akan mampir ke beberapa pulau lagi sebelum kembali ke Labuan Bajo. Tapi cuaca sedang tidak berpihak, angin kencang, hujan deras dan gelombang mulai tinggi. Kapal kami pun mulai oleng mengikuti ayunan gelombang yang sepertinya makin menggila. Kalau saja kulit muka saya tidak sedang gosong terpanggang panas matahari flores mungkin saat itu warnanya sudah pucat pasi. Teman saya sepertinya menangkap ekspresi takut saya, dan langsung meminta bapak pengemudi perahu memutar haluan langsung kembali ke Labuan Bajo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Hujan badai masih terus menghantam tak berhenti, bahkan sampai keesokan paginya. Kami sempat bingung juga bagaimana caranya keluar dari penginapan menuju airport ditengah amuk badai seperti ini dan jalanan pun sepi sekali pagi itu. Tapi untunglah tak lama kemudian angkot kosong lewat dan bersedia mengantar kami sampai ke airport. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Tepat seperti dugaan kami, petugas Transnusa mengumumkan kalau pesawat yang akan membawa kami ke Denpasar tidak bisa mendarat di Labuan Bajo karena buruknya cuaca dan kami akan dipindahkan ke pesawat Merpati atau IAT yang akan berangkat lewat tengah hari. Berarti kami harus menunggu selama 6 jam di bandara kecil ini tanpa bisa kemana-mana karena tak ada angkutan keluar dari bandara dan hujan sangat deras. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Iseng-iseng saya dan teman saya berandai-andai, jika ternyata sampai sore badai ini belum reda berarti kami tak bisa keluar dari Labua Bajo hari ini, sedangkan keesokan harinya adalah hari Natal dan pesawat tidak beroperasi. Artinya kami harus menunggu 2 hari lagi. Untungnya sejak awal kami memang sengaja menyiapkan spare waktu beberapa hari sebelum jadwal penerbangan pulang Denpasar-Jakarta/Balikpapan, jaga-jaga seandainya ada masalah dengan jadwal penerbangan Labuan bajo-Denpasar seperti saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Menjelang siang hujan reda walaupun masih berawan, dan kami diminta check in ulang karena akan pindah ke pesawat IAT. Saat check-in bukan hanya bagasi saja yang ditimbang, namun penumpang juga diminta naik ke atas timbangan berikut barang bawaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>“<em>Miss Masniari Nasution, silahkan</em>..” kata petugas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>“<em>60 kilo</em>” petugas di dekat timbangan berteriak pada rekannya yang bertugas mencatat (sstt..tapi itu berat saya berikut daypack yang menempel di punggung loh yaaa <img src='http://www.indobackpacker.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Menyaksikan acara timbang menimbang itu, penumpang yang mayoritas bule pun menunjukkan raut geli dan tersenyum lebar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Seorang kawan pernah wanti-wanti pada saya agar jangan lupa meminta seat dekat jendela sebelah kiri pada penerbangan LBajo-Denpasar karena pemandangan dibawahnya indah sekali. Kami diberi seat nomor 4A &amp; 4B yang terletak di sisi sebelah kiri, dan memang benar pemandangan kawasan TN Komodo dari ketinggian berikut pulau-pulau kecil disekelilingnya indah sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Di penerbangan ini juga saya mengalami landing pesawat termulus yang pernah saya rasakan. Saya tak sadar kalau pesawat sudah mendarat di airport Ngurah Rai karena tidak ada guncangan sedikitpun. Saya tersadar saat teman saya berkata, “<em>wuih&#8230;landingnya mulus banget</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Kami masih punya waktu 3 hari di Bali sebelum jadwal kembali pulang dan ternyata cuaca di Bali lebih ganas dari yang kami alami di Flores, hujan badai nyaris tak ada jeda. Cuaca buruk ternyata memang sedang melanda hampir seluruh kawasan Indonesia menjelang akhir tahun. Tapi untungnya cuaca seperti ini kami alami saat perjalanan nyaris berakhir. Ini lagi-lagi keberuntungan yang kesekian kalinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>Inflight magazine yang disediakan airlines yang membawa saya pulang ke Balikpapan menyuguhkan artikel tentang pulau Komodo dan beberapa tempat di Flores. Saya tersenyum sendiri membacanya sambil berucap dalam hati “yes, <em>I’ve been there</em>”. Sementara diluar sana matahari bersinar cerah diatas pulau Kalimantan. I’m home, with another dream to realize and also insyaalah will become true.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span>[catatan perjalanan 15 – 27 Desember 2007]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span><span>Photos:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><a href="http://imassofyan.multiply.com/journal/item/117/Flores_-_when_the_dreams_come_true_1" target="_blank">Flores &#8211; when the dreams come true (1)</a></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><a href="http://imassofyan.multiply.com/journal/item/118/Flores_-_when_the_dreams_come_true_2" target="_blank">Flores &#8211; when the dreams come true (2)</a></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">
<p class="MsoNormal" style="justify;">
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span><span> </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2008/04/flores-when-the-dreams-come-true/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan-jalan ke Tanjung Puting</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2008/02/jalan-jalan-ke-tanjung-puting/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2008/02/jalan-jalan-ke-tanjung-puting/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erwin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekowisata / EcoTourism]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[camp laey]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[orang utan]]></category>
		<category><![CDATA[Palangkaraya]]></category>
		<category><![CDATA[pulau bengamat]]></category>
		<category><![CDATA[pulau kaja]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tanjung puting]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Kami menyewa perahu klotok untuk menjelajahi kawasan TNTP. Perahu bermesin L300 ini perlahan bergerak meninggalkan Kumai, memotong sungai besar dan perlahan-lahan masuk ke Sungai Sekonyer, ‘pintu gerbang’ kawasan TNTP. Perahu klotok yang kami tumpangi terdiri dari 2 lantai dan cukup untuk kapasitas 4 penumpang utama ditambah 3 awak perahu. Dilengkapi dengan kasur tidur, kelambu, dapur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kami menyewa perahu klotok untuk menjelajahi kawasan TNTP. Perahu bermesin L300 ini perlahan bergerak meninggalkan Kumai, memotong sungai besar dan perlahan-lahan masuk ke Sungai Sekonyer, ‘pintu gerbang’ kawasan TNTP. Perahu klotok yang kami tumpangi terdiri dari 2 lantai dan cukup untuk kapasitas 4 penumpang utama ditambah 3 awak perahu. Dilengkapi dengan kasur tidur, kelambu, dapur untuk masak, dan toilet yang dilengkapi dengan shower untuk mandi.<br />
<span id="more-118"></span><br />
Sebelum pesawat perlahan-lahan mendarat di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya Kalimantan Tengah, dari balik jendela pesawat saya sempat menyaksikan pemandangan hutan yang sangat lebat. Saya langsung membayangkan perjalanan kami nantinya akan banyak berada di dalam hutan untuk menyaksikan langsung hewan asli Kalimantan itu di habitatnya. Apalagi kalau bukan Orang Utan, yang mulai terancam keberadaannya karena terus di buru dan hutan tempat mereka tinggal terus dibabat.</p>
<p>Tujuan perjalanan kami kali ini adalah ke Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Setelah mendarat, kami langsung mencari taksi untuk ke penginapan di Palangkaraya. Pemandangan hijau menyegarkan yang saya lihat dari atas pesawat ternyata sangat bertolak belakang dengan kondisi udara di darat. Cuaca kota Palangkaraya sangat panas. Kalau melihat sepanjang jalan, kondisi tanahnya berpasir seperti di pantai di tambah dengan panas dari sinar matahari, cukup untuk membuat badan kegerahan. Karena tanahnya berlahan gambut, jangan harap bisa melihat sawah di Palangkaraya.</p>
<p>Penginapan kami terletak tidak jauh dari pinggir Sungai Rungan. Bentuk bangunannya bergaya country dan terasa sejuk karena atapnya tinggi dan sebagian besar bangunan itu terbuat dari kayu. Sungai Rungan ini membelah dua buah pulau; Pulau Bengamat dan Pulau Kaja. Kedua pulau ini juga menjadi pusat rehabilitasi Orang Utan binaan BOS (Borneo Orang Utan Survival) di Taman Nasional Nyaru Menteng (TNNM). Suasana di penginapan terasa sangat natural karena berbatasan dengan hutan Pulau Bengamat. Suara berbagai jenis hewan hutan terdengar sepanjang hari. Menurut cerita pemilik penginapan, malahan kadang-kadang ada Orang Utan dan Bekantan yang nyasar mencari makan sampai ke dapur.</p>
<p>Hari pertama di Palangkaraya, kami sempatkan untuk jalan-jalan ke TNNM. Tapi ternyata kondisinya tidak sesuai dengan yang kami bayangkan. Untuk melihat Orang Utan di TNNM, tidak ada bedanya dengan melihat di kebun binatang Ragunan. Pengunjung hanya diperbolehkan melihat dari sebuah ruangan Auditorium yang bersebelahan dengan kandang Orang Utan.</p>
<p>Malam hari di penginapan kami isi dengan acara bakar ikan. Semua perlengkapan kami pinjam dari pemilik penginapan. Kami membeli beberapa ekor ikan Patin di pasar dekat sungai setelah pulang dari TNNM. Pasar di sini ternyata buka hanya seminggu sekali, dan kebetulan hari itu adalah hari Sabtu saat ada hari pasar.</p>
<p>Untuk mengobati kekecewaan, besok paginya kami menyewa perahu untuk menyusuri Sungai Rungan. Setiap paginya, Orang Utan di Pulau Kaja dan Pulau Bengamat biasa diberi makan oleh petugas dari BOS, dan aktivitas ini bisa menjadi tontonan yang menarik. Sebelum memasuki kawasan “feeding”, sesuai peraturan, pengunjung wajib melaporkan diri demi keselamatan. Cerita soal keganasan Orang Utan, beberapa kali sudah kami dengar sebelumnya. Sehingga perahu yang kami tumpangi juga selalu di awasi oleh perahu patroli petugas. Dari atas perahu, bisa disaksikan Orang Utan yang lagi diberi makan oleh petugas. Supaya bisa leluasa memotret, perahu diparkir di pinggir sungai seberang pulau. Berada di tepi Sungai Rungan serasa berada di pantai karena warna pasirnya putih bersih seperti pasir di pantai-pantai.</p>
<p>Pada hari ketiga, perjalanan ke TNTP barulah dimulai. Kami sudah memiliki tiket bus malam jurusan Palangkaraya-Pangkalan Bun yang dibeli tidak jauh setelah keluar dari Bandara. Bus dijadwalkan akan lewat setelah pukul 5 sore, jadi kami tinggal menunggu saja di jalan keluar dekat penginapan. Perjalanan Palangkaraya-Pangkalan Bun ditempuh sekitar 10 jam, melewati jalan yang hanya pas untuk 2 kendaraan dengan kondisi jalan mulus, kecuali di beberapa titik selepas kota Kasongan, jalanan sedikit rusak.</p>
<p>Sepanjang perjalanan, seorang bapak yang duduk di samping saya bercerita tentang kemewahan yang dimiliki kota Pangkalan Bun, kota asalnya. Tidak mengherankan memang, banyak dijumpai kendaraan build up yang tergolong mewah berseliweran di jalan raya karena banyaknya pengusaha kayu dan kelapa sawit yang sukses. Saya jadi teringat cerita supir taksi yang membawa kami dari Bandara Tjilik Riwut ke Kota Palangkaraya. Si sopir taksi yang asli Banjar itu bercerita bahwa ia dulunya jutawan dan pernah naik haji sampai 5 kali karena pernah sukses jadi pengusaha kayu di Palangkaraya. Tetapi katanya, saat ini untuk mendapatkan kayu tidak semudah dulu.</p>
<p>Pukul 4 subuh, bus yang kami tumpangi sudah sampai di Pangkalan Bun. Begitu turun dari bus, langsung di serbu tukang ojek yang berebut menawarkan jasa. Kami memilih beristirahat dulu sambil orientasi lokasi. Barulah setelah pukul 5 subuh, kami mulai berjalan kaki ke arah Istana Kuning, untuk mencari angkot ke Kumai.</p>
<p>Sampai di Kumai 1 jam kemudian, langsung mencari perahu klotok yang akan kami sewa untuk perjalanan selama di TNTP. Kumai adalah kota pelabuhan. Kapal-kapal besar dari Jawa dan Kalimantan terlihat banyak yang sedang bersandar. Setelah negosiasi harga dengan pemilik klotok, saya mulai berbelanja keperluan logistik di pasar Kumai dengan ditemani oleh anak pemilik klotok yang nantinya akan menjadi juru masak selama dalam perjalanan. Bahan-bahan makanan seperti beras, minyak, air mineral, bumbu dapur, sayur-mayur, buah-buahan, ikan, daging, makanan ringan, dan minuman ringan bakal memenuhi kebutuhan lapar dan dahaga kami selama dalam perjalanan. Tidak lupa juga membeli es batu untuk mengawetkan bahan makanan tersebut. Sementara rekan-rekan lainnya, mengurus perijinan masuk ke TNTP yang kantornya tidak jauh dari pelabuhan.</p>
<p>Sebenarnya ada perahu reguler yang melayani rute dari Kumai ke Desa Tanjung Harapan, desa satu-satunya yang berada di dalam kawasan TNTP yaitu dengan menggunakan Speedboat. Di dalam TNTP juga terdapat Penginapan kelas resort bertarif dollar. Tetapi umumnya wisatawan yang berkunjung ke TNTP lebih memilih untuk menyewa perahu klotok dan bermalam di atas perahu, karena disinilah letak sensasi perjalanannya.</p>
<p>Kami menyewa perahu klotok untuk menjelajahi kawasan TNTP. Perahu bermesin L300 ini perlahan bergerak meninggalkan Kumai, memotong sungai besar dan perlahan-lahan masuk ke Sungai Sekonyer, ‘pintu gerbang’ kawasan TNTP. Perahu klotok yang kami tumpangi terdiri dari 2 lantai dan cukup untuk kapasitas 4 penumpang utama ditambah 3 awak perahu. Dilengkapi dengan kasur tidur, kelambu, dapur untuk masak, dan toilet yang dilengkapi dengan shower untuk mandi. Bentuk perahu klotok untuk wisatawan semua sama, juga fasilitasnya. Tapi ada juga perahu berkapasitas lebih besar untuk kelompok rombongan. Sungai Sekonyer mengalir sangat tenang. Pinggirannya di dominasi pohon Nipah. Sungai ini masih banyak buayanya. Menurut cerita Pak Abu, pemilik perahu klotok, beberapa bulan lalu seorang wisatawan asing tewas di serang buaya. Turis-turis asing yang tidak menyadari bahaya itu lagi asyik mandi di sungai. Seorang penduduk lokal juga dilaporkan tewas di seret buaya ketika sedang mencuci baju di sungai. Sungai Sekonyer, tenang tapi mematikan. Keberadaan buaya di sungai ini tapi tetap tidak membuat takut penduduk setempat. Mereka dengan tenangnya masih melakukan aktifitas mencari ikan atau menambang pasir.</p>
<p>Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Desa Tanjung Harapan. Perahu merapat di dermaga, kami bergegas turun untuk melihat isi desa ini. Beberapa Ibu yang menumpang perahu kami dari Kumai ternyata hendak mengunjungi hajatan perkawinan kerabat mereka. Tanpa bisa menolak, kami menerima ajakan ibu-ibu itu untuk ikut berkunjung. Bersama dua turis asing dan guide mereka, kami menjadi tamu tak diundang dalam pesta pernikahan yang digelar dalam adat Banjar itu. Mau tidak mau, kami ikut menyantap hidangan yang disajikan, tetapi tidak lupa juga meninggalkan ‘angpau’ sebagai tanda hormat kepada tuan rumah.</p>
<p>Kami juga sempat di ajak mampir ke beberapa rumah penduduk yang ternyata banyak di antara mereka berasal dari Jawa. Harga tanah di desa ini masih sangat murah, sehingga mereka lebih memilih tinggal di sini karena punya tanah garapan dibanding tinggal di tanah Jawa. Setelah beberapa jam kami berkeliling dan mampir ke rumah penduduk setempat, kami kembali ke perahu untuk makan siang lagi, sambil menunggu ‘feeding time’ Orang Utan di Camp Tanjung Harapan, di seberang desa.</p>
<p>Di Tanjung Harapan inilah, pertama kali kami bisa menyaksikan dari dekat proses pemberian makan Orang Utan di habitat aslinya. Sebelum mereka benar-benar dilepaskan di alam liar untuk mencari makan sendiri, mereka masih perlu penyesuaian secara bertahap. Proses pemberian makan yang sehari 2 kali merupakan bagian dari penyesuaian itu. Para ranger membawa beberapa keranjang pisang ke tengah hutan sambil berteriak-teriak memanggil Orang Utan untuk diberi makan. Sementara wisatawan bisa menyaksikan kegiatan ini dari jarak yang cukup dekat sambil memotret.</p>
<p>Hari sudah mulai gelap, kami kembali naik perahu klotok dan bergerak menuju ke sebuah danau untuk bermalam. Tetapi rupanya ‘kavling’ strategis dekat danau ini memang menjadi tempat favorit untuk parkir klotok yang bermalam. Karena dari sini kita bisa menyaksikan gerombolan bekantan dan monyet yang bergelantungan di atas pohon. Di sini sudah parkir 2 klotok yang ditumpangi wisatawan asing. Jadi kami memilih agak menjauh supaya lebih tenang dan tidak saling mengganggu. Perahu mulai menepi, tambang diikatkan pada pohon supaya tidak bergerak. Genset mulai dinyalakan oleh Pak Abu. Untuk lampu penerangan dan shower mandi. Kalau memerlukan charge battery kamera, kita bisa manfaatkan genset ini.</p>
<p>Makan malam disiapkan oleh Udin, si juru masak kami. Udin adalah anak Pak Abu. Masakannya sangat lezat. Tidak heran, rata-rata turis yang menggunakan jasanya menyatakan puas atas rasa masakannya. Malam itu sambil menunggu waktu tidur, Pak Abu bercerita soal horor yang dia pernah alami sewaktu membawa turis asing berjalan-jalan di dalam hutan TNTP. Kami mendengarkan dengan antusias dan senang, walaupun suasana sunyi senyap di atas sungai dan suara-suara hewan hutan yang kadang terdengar aneh sangat mendukung suasana. Akhirnya, rasa lelah dan kantuk yang tidak dapat ditahan, membuat kami semua akhirnya terlelap sampai pagi dan terbangun karena suara kicauan burung, suara bekantan dan monyet-monyet di atas pohon-pohon dekat perahu kami, benar-benar pengalaman yang menyenangkan. Kabut pagi yang masih menggantung di atas sungai juga pemandangan yang mempesona.</p>
<p>Setelah sarapan pagi, perahu kami mulai bergerak lagi. Kali ini tujuannya ke Camp Lakey. Pusat penelitian Orang Utan di dalam TNTP ini didirikan pada tahun 1971 oleh Dr. Birute Galdikas, seorang wanita professor berkebangsaan Kanada. Di Camp Lakey juga terdapat sebuah bangunan semacam museum Orang Utan dimana pengunjung bisa mendapatkan berbagai informasi tentang kehidupan Orang Utan.</p>
<p>Ada kejadian yang cukup menegangkan pada waktu itu. Seekor Orang Utan bernama Princess tampak tidak sabar ingin segera mendapatkan jatah makanan. Petugas pembawa makanan terus dikuntit dari belakang. Padahal posisi petugas berada di tengah-tengah rombongan turis asing yang akan menyaksikan proses “Feeding Time”. Princess mengambil jalan pintas, dan tiba-tiba sudah berada ditengah-tengah menghadang petugas. Rombongan menjadi panik.<br />
“<em>Go back, go back…!</em>”teriak Guide yang membawa rombongan turis itu. Rombongan pecah menjadi dua bagian. Sebagian terus melanjutkan perjalanan bersama petugas, sebagian lagi mundur. Kami yang masuk hutan tanpa guide, berusaha berlindung diantara rombongan turis tadi. Tapi sukurlah, keadaan akhirnya bisa terkendali. Begitulah Orang Utan, kalau sudah punya keinginan, siapapun akan sulit untuk menghalau. Beberapa kali pengunjung taman nasional juga dibuat panik oleh ulah Princess. Tiba-tiba saja dia meminta paksa botol minuman yang dibawa salah seorang turis. Si Turis berusaha bertahan, gak mau ngasih. “Give it !” perintah guidenya.<br />
Orang Utan tampak tenang dan jinak, karena mereka masih setengah liar yang secara perlahan akan dibiarkan hidup secara mandiri. Banyak cerita soal ulah orang utan ini. Pernah orang utan merebut tas yang dibawa turis dan menyebarkan seluruh isinya dari atas pohon. Perahu yang sedang ditambatkan di dermaga, tali-talinya juga pernah dilepas oleh orang utan dan mendayung perahunya sampai jauh dari dermaga. Ini pula yang menyebabkan perahu klotok tidak ada lagi yang bersandar di dermaga pada malam hari. Sehingga untuk bermalam, semua klotok bersandar di sekitar danau yang jauh dari dermaga.<br />
Uniknya, orang utan di TN Tanjung Puting semua diberi nama. Ahmad, Thomas, Samson, Tom, Kosasih dan masih banyak nama lagi. “Ibu Profesor memberi nama berdasarkan nama-nama pengunjung yang ada di buku tamu, atau nama donatur,” kata seorang petugas yang menemani kami saat trekking. Ibu Profesor yang dimaksud adalah Prof. Birute.</p>
<p>Orang Utan tidak suka hidup berkelompok. Anak orang utan masih tetap berada disamping ibunya antara usia 6-7 tahun, setelah itu mereka hidup mandiri. Sementara orang utan jantan dewasa, berusaha menjadi penguasa melalui pertarungan-pertarungan. Adalah Tom, orang utan jantan yang saat ini menjadi penguasa di TN Tanjung Puting. Ia mengambil alih kekuasaan dari tangan Kosasih setelah memenangkan perkelahian.</p>
<p>Selesai dari Camp Lakey, hari mulai gelap dan perahu kami kembali ke area sekitar danau untuk bermalam lagi. Secara bergantian kami mandi dilanjutkan dengan makan malam. Malam ini udara terasa lebih sejuk karena turun hujan.</p>
<p>Rute terakhir kami setelah dari Camp Lakey adalah Camp Pondok Tangui. Sewaktu kami ke sini, hanya ada satu Orang Utan yang muncul meskipun ranger yang memberi makan sudah menyiapkan beberapa keranjang pisang. Sewaktu kami akan kembali ke Kumai, dalam perjalanan dengan perahu kami sempat melihat 2 orang utan liar yang sedang bermain-main di pinggir sungai. Dua orang utan itu tampak ketakutan melihat perahu kami, dan pelan-pelan mereka menjauh dari pinggir sungai.</p>
<p>Mengamati kehidupan satwa di TN Tanjung Puting jelas berbeda dengan di kebun binatang. Menyusuri Sungai Sekonyer dengan perahu klotok dan bermalam di atas perahu. Menikmati suasana yang tenang di tengah hutan belantara, udaranya segar dan jauh dari polusi, membuat saya lupa waktu, lupa hari dan ternyata kami sudah harus kembali ke peradaban setelah menghabiskan waktu 3 hari 2 malam di Tanjung Puting.</p>
<p>Tips Melihat Orang Utan;<br />
1.    Sebagai pengunjung, jangan memberi makan orang utan yang ada di dalam Taman Nasional, karena bisa membuat mereka manja dan malas untuk cari makan sendiri.<br />
2.    Orang utan tampak kelihatan tenang dan jinak. Ini yang membuat pengunjung lengah, hindari menyentuh atau berada terlalu dekat jangkauannya. Cengkraman tangannya mampu mematahkan tulang manusia.<br />
3.    Hindari memakai perhiasan, membawa tas yang berisi barang berharga, dan membawa makanan karena bisa dirampas oleh orang utan. Sebaiknya dititipkan ke petugas atau ditinggal di perahu.<br />
4.    Usahakan didampingi oleh Ranger/Petugas pada saat trekking atau menyaksikan proses “Feeding Time”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2008/02/jalan-jalan-ke-tanjung-puting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Singgah Semalam di Taman Nasional Kelimutu</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2007/02/singgah-semalam-di-taman-nasional-kelimutu/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2007/02/singgah-semalam-di-taman-nasional-kelimutu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taman Nasional / National Park]]></category>
		<category><![CDATA[kelimutu]]></category>
		<category><![CDATA[moni]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[karena perjalanan untuk menikmati indahnya alam Kelimutu umumnya di lakukan banyak orang menjelang dini hari, tawaran share sewa angkot dengan 4 bule tidak kami lewatkan begitu saja, per orang kami saweran 50 rb, Deal! Jam 02.00 kami sudah di bangunkan, sementara si zahraa odesya masih terlelap tidur, duh dinginnya. ternyata si bule sudah ada di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>karena perjalanan untuk menikmati indahnya alam Kelimutu umumnya di lakukan banyak orang menjelang dini hari, tawaran share sewa angkot dengan 4 bule tidak kami lewatkan begitu saja, per orang kami saweran 50 rb, Deal!</p>
<p>Jam 02.00 kami sudah di bangunkan, sementara si zahraa odesya masih terlelap tidur, duh dinginnya.  ternyata si bule sudah ada di dalam angkot, sepanjang perjalanan kami ngobrol-ngobrol bentar, dan hanya sekitar 1,5 jam kami sudah tiba di pintu masuk Taman Nasional Kelimutu.<br />
<span id="more-199"></span></p>
<p>setelah santai dan rileks di desa banyak orang menyebutnya sebagai desa tertinggal, wodong bay&#8230;gitu.  kami melanjutkan perjalanan dengan Bus umum.  mendaki mount egon yang masih aktif terpaksa di tunda dulu.</p>
<p>pagi &#8211; pagi, kami sudah standby di pinggir di jalan, ditemani Ito penjaga wodong beach bungalow. kami menghabiskan hampir 3 jam menunggu bus yang langsung ke Ende!  tujuannya tentu Desa Moni. Berdiri di bus bukan kebiasaan orang di Maumere, tapi karena bus penuh terus, terpaksa berdiri hampir 2 jam lamanya.  menjelang sore kami tiba di desa Moni.</p>
<p>Desa moni menjadi pintu masuk Taman Nasional Kelimutu, cuaca disini lumayan dingin karena berada di wilayah pegunungan. karena masih sempat bermain, kami sempetkan untuk mandi di sumber air panas di desa yang tidak terlalu jauh dari desa Moni,  bermalam semalam di Sao Hidayah bertarif Rp. 75.000 / N.  menjadi pilihan karena banyak sao tapi lumayan mahal.</p>
<p>karena perjalanan untuk menikmati indahnya alam Kelimutu umumnya di lakukan banyak orang menjelang dini hari, tawaran share sewa angkot dengan 4 bule tidak kami lewatkan begitu saja, per orang kami saweran 50 rb, Deal!</p>
<p>Jam 02.00 kami sudah di bangunkan, sementara si zahraa odesya masih terlelap tidur, duh dinginnya.  ternyata si bule sudah ada di dalam angkot, sepanjang perjalanan kami ngobrol-ngobrol bentar, dan hanya sekitar 1,5 jam kami sudah tiba di pintu masuk Taman Nasional Kelimutu.</p>
<p>Mana Danau nya?  tiupan angin kencang mendesing menerabas hutan pinus, sementara malam kok rasanya masih gelap, rekan kami sudah duluan walking to kelimutu lake!  saya menunggu sedikit pagi, karena membaca banyak tulisan, agak sulit untuk dapat sunrise di Mount kelimutu.</p>
<p>berjalan kaki, sekitar 1-2 jam tiba di puncak kelimutu, nggak ada sunrise yang harusnya muncul setiap pagi, penjual kopi menawarkan dagangannya dengan Cofee please, coffee no cloudy, No coffee cloudy. banyak sekali orang asing di sini, hanya kami orang indonesia!</p>
<p>lelah, dingin&#8230; akhirnya samar-samar danau kelimutu terlihat, warnanya hitam pekat, di sebelah utara berwarna biru tua. sebagian orang percaya kalau warna di sebabkan oleh faktor cuaca, aktifitas vulcano, juga bisa karena kepercayaan penduduk lokal. amazing, begitu bisa melihat sedikit lebih jelas tentang Taman Nasional yang memiliki 3 kawah yang sudah berubah menjadi Danau yang lebih di kenal dengan Kelimutu color lakes.</p>
<p>sepanjang tahun terakhir, danau di puncak gunung dengan ketingguan 1690 mdpl ini sudah mengalami perubahan warna lebih dari 53 kali, kadang berwarna merah, hitam, hijau, biru..</p>
<p>penduduk lokal menyebutnya dengan nama anau Tiwu Ata Mbupu (danau arwah para orang tua) dan danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (danau arwah muda-mudi) letaknya saling berdekatan dan danau Tiwu Ata Polo (danau arwah para tukang tenung) yang letaknya agak berjauhan dengan kedua danau sebelumnya.</p>
<p>penduduk lokal khusus nya suku lio percaya apabila meninggal maka arwahnya akan masuk kedalam salah satu kawah yang ada di gunung ini.</p>
<p>selain keunikan Kelimutu yang terkenal dengan namanya, di Taman Nasional kelimutu juga banyak di jumpai burung-burung, cocok untuk birdwatching, di tetapkan sebagai Taman Nasional tahun 1992 dengan luas sekitar 5000 ha.</p>
<p>selain keindahan alamnya, di sekitar moni banyak terdapat wisata budaya dan Rumah-rumah adat yang menarik untuk dikunjungi seperti  Koanara dan Wiwipemo (Kecamatan Kelimutu), Nggela, Tenda dan Wolojita (Kecamatan Wolojita), Wolotopo, Ngalupolo, Onelako, Puutuga, Roga dan Sokoria (Kecamatan Ndona)</p>
<p>Taman Nasional Kelimutu, masuk dalam kecamatan Kelimutu, kabupaten Ende, rasanya kalau senang menjelajah, sayang sekali tidak singgah semalam di Moni dan menikmati keindahan Kelimutu the color of lake</p>
<p>menjelang siang, setelah puas dengan potret sana sini, kami ketemu lagi 2 turis rusia yang pernah kami temui di wodong,  4 bule yang share angkot dengan kami, memutuskan jalan kaki.</p>
<p>Aris<br />
email or ym: kunlun_it @yahoo.com.sg</p>
<p>Dengan Bus:<br />
Jakarta &#8211; Bima &#8211; Sape &#8211; Labuan Bajo &#8211; Ende</p>
<p>Dengan Pesawat<br />
Jakarta-Denpasar-Bima-Ende<br />
Jakarta-Denpasar-Maumare<br />
Kupang-Ende<br />
Kupang-Maumere,</p>
<p>Dengan Kapal Laut<br />
Denpasar (Benoa)-Waingapu-Ende Km. Awu<br />
Surabaya -Badas-Labuan Bajo-Waingapu-Ende dengan kapal Prima Vista<br />
Kupang-Ende dengan kapal fery cepat bisa juga dengan Kapal Pelni atau ASDP<br />
dari Ende  Naik Bus jurusan Ende, turun di desa Moni<br />
begitu juga kalau dari maumere, tarifnya sekitar 30.000</p>
<p>Akomodasi:<br />
terdapat banyak akomodasi, dengan nama Sao = Rumah yang di jadikan akomodasi, umumnya tidak menyediakan makan, harga akomodasi mulai Rp. 75.000 &#8211; Rp. 300.000 / N untuk 2 orang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2007/02/singgah-semalam-di-taman-nasional-kelimutu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak Herjumin di Taman Nasional Meru betiri</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2007/02/pak-herjumin-di-taman-nasional-meru-betiri/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2007/02/pak-herjumin-di-taman-nasional-meru-betiri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Romantika]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional / National Park]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[meru betiri]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Uang bukan lah hal yg utama bagi Pak herjumin. Dia tidak mau datang ketika dia diundang oleh petinggi BTN, karena keberanian nya menyelamatkan beberapa Nyawa petugas TN, ketika perahu yg mereka tumpangi tenggelam. &#8220;saya sendirian menyelamatkan mereka smua &#8220;katanya&#8221;. &#8220;saya nggak mau datang, karena saya tau akan di beri imbalan&#8221; Gara-gara baca buku versi pdf, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Uang bukan lah hal yg utama bagi Pak herjumin.  Dia tidak mau datang ketika dia diundang oleh petinggi BTN, karena keberanian nya menyelamatkan beberapa Nyawa petugas TN, ketika perahu yg mereka tumpangi tenggelam.<br />
&#8220;saya sendirian menyelamatkan mereka smua  &#8220;katanya&#8221;.<br />
&#8220;saya nggak mau datang, karena saya tau akan di beri imbalan&#8221;<br />
<span id="more-168"></span><br />
Gara-gara baca buku versi pdf, &#8220;bukan di negeri dongeng&#8221;.<br />
Saya bukan pengen pamer partai, apalagi buku ini buatan partai A, atau Atau partai S.  Fakta lapangan memang selalu menghendaki Cerita yg lain dari cerita hari kemarin.</p>
<p>Dalam kunjungan ke rumah duka di bilangan jakarta utara 1/2 tahun lalu, Poster besar bertuliskan &#8221; a happy ending stories&#8221;. Punya makna tersendiri Dalam hati saya.<br />
A happy ending dalam benak saya bukan happy ending dengan peti mati berisi Uang banyak atau peti mati terbuat dari kayu jati yg harganya mencapai Puluhan Juta rupiah.  Termasuk didepannya sejuta karangan bunga.<br />
Tapi, saya punya cerita sendiri tentang sebuah Happy ending.. Entah lah.</p>
<p>Dalam perjalanan panjang, juga sedikit menyenangkan kemarin, dalam jelajah<br />
3 hari 3 malam ke Taman nasional Meru betiri yg punya luas hampir 58000 ha, Masih dipercaya sebagai tempat terakhir harimau jawa. berada Di ujung timur selatan Pulau jawa, ada sedikit cerita tentang Porter di meru betiri.</p>
<p>Pak herjumin namanya yg sedikit gampang di ingat. Ini mengingatkan pesan Pak Aji untuk menggunakan Jasa pak Herjumin.</p>
<p>Dalam trekking panjang, saya selalu menguntit pak herjumin untuk mengatur irama Trekking, dan dalam sepanjang perjalanan, saya nggak ingat!<br />
Berapa kali harus bilang&#8230; &#8220;pak tahan pak&#8230; Di belakang ketinggalan&#8221;.<br />
Begitu terus, sampai akhirnya pak herjumin bilang kami adalah tercepat untuk Perjalanan trekking dari teluk permisan sampai suka made kira2x hampir 30 km.</p>
<p>Di sepanjang perjalanan itu pula lah, pak herjumin mulai bercerita tentang apa Yg pernah di alami nya selama menjadi pekerja tidak tetap alias tenaga honorer Lepas pada Balai Taman Nasional Meru betiri.</p>
<p>Gaji pak herjumin tiap bulan di bayar Rp. 450.000  cukup besar katanya, di banding ketika ia bekerja sebagai tenaga sekuriti alias satpam pada perkebunan Bande alit. Dengan gaji sebesar ini, jangan terlalu berharap punya rumah mewah, plus TV dan Kamar Mandir air hangat.<br />
Sama dengan Gaji guru honorer lepas. Bedanya guru honorer pendidikannya S1 (sarjana), pak herjumin di rekrut karena penguasaan  rute2x hutan Taman nasional, juga karena Memiliki peta mental yg baik tentang taman nasional meru betiri.</p>
<p>Uang bukan lah hal yg utama bagi Pak herjumin.  Dia tidak mau datang ketika dia diundang oleh petinggi BTN, karena keberanian nya menyelamatkan beberapa Nyawa petugas TN, ketika perahu yg mereka tumpangi tenggelam.<br />
&#8220;saya sendirian menyelamatkan mereka smua  &#8220;katanya&#8221;.<br />
&#8220;saya nggak mau datang, karena saya tau akan di beri imbalan&#8221;.</p>
<p>Sebagai porter, juga terkadang membantu operasi di kawasan Taman Nasional, Pak herjumin selalu dilibatkan. Termasuk mengantar semua pengunjung yg akan Cross/trans taman nasional yg menurut saya kira2x menempuh sekitar 50 &#8211; 60 km.</p>
<p>Pak Herjumin, kalau sudah di Hutan.  Saya lebih memilih bambu untuk pikulan ketimbang keril keren yg pernah di bawa nya.  Lebih nyaman katanya.  Dan &#8230;.</p>
<p>Saya sedikit belajar dari Pak herjumin. Yg punya prinsip&#8230; :uang bukan lah segalanya.<br />
Dan tak peduli, apakah bila tua nanti dapat uang pengsiun atau tidak.<br />
Tapi Saya yakin Tuhan akan selalu mendengarkan dan melihat pengabdian besar mu pada &#8220;Taman Nasional Meru Betiri&#8221;.</p>
<p>Insya Allah, bila ada waktu nanti, saya akan berkunjung ke bande alit, dan menumpang tidur dirumah mu yg berdinding bilik bambu dan berlantai tanah,!<br />
Di kampung nelayan Bande alit, meru betiri.</p>
<p>ARIS!</p>
<p>Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya.<br />
( Alexander Pope )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2007/02/pak-herjumin-di-taman-nasional-meru-betiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berlayar ke pulau Selayar</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2007/01/berlayar-ke-pulau-selayar/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2007/01/berlayar-ke-pulau-selayar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[bira]]></category>
		<category><![CDATA[jammeng]]></category>
		<category><![CDATA[selayar]]></category>
		<category><![CDATA[sulawesi selatan]]></category>
		<category><![CDATA[takabonerate]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Ferry penyeberangan berangkat dari pelabuhan Tanjung Bira menuju pulau Selayar hanya satu kali sehari, jam 15.30 sore (sedangkan kalau dari Selayar menuju Bira jam 10 pagi) dengan harga tiket Rp.17.500 per orang. Jadi kalau telat, silahkan anda menunggu sampai besok. Dimana Selayar?Entahlah, jangankan tahu dimana posisinya, tahu kalau Indonesia punya pulau yang namanya Selayar saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Times New Roman; color: black; font-size: small;"><span style="font-size: 12pt; color: #000000;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Verdana;">Ferry<br />
penyeberangan berangkat dari pelabuhan Tanjung Bira menuju pulau Selayar hanya satu kali sehari, jam 15.30 sore (sedangkan kalau dari Selayar menuju Bira jam 10 pagi) dengan harga tiket Rp.17.500 per orang. Jadi kalau telat, silahkan anda menunggu sampai besok.</span></span></span></span><span style="font-family: Times New Roman; color: black; font-size: small;"><span style="font-size: 12pt;"> </span></span><br />
<span id="more-107"></span><br />
<span style="font-family: Times New Roman; color: black; font-size: small;"><span style="font-size: 12pt; color: #000000;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Verdana;">Dimana Selayar?</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Entahlah, jangankan tahu dimana posisinya, tahu kalau Indonesia punya pulau yang namanya Selayar saja baru ini. Silahkan tertawakan saya, geografi saya memang payah, makanya kalau dulu pelajaran geografi sering dilempar kapur sama guru.</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Saya hanya tahu kalau Tanjung Bira adalah daerah paling selatan dari propinsi Sulawesi Selatan. Jadi saat membuka travel map dan menemukan kalau setelah menyeberang dari Tanjung Bira akan banyak ditemui pulau-pulau lainnya, sayapun mengangguk setuju pada teman seperjalanan saya. Jadilah pulau ini sebagai destination point pertama kami saat jalan-jalan di Sulsel.</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Jam 8 pagi kami sudah hadir di terminal, mencari angkutan yg akan membawa kami ke Tanjung Bira. Excited rasanya sepanjang perjalanan bisa lihat kiri kanan menikmati daerah baru. Normalnya perjalanan darat antara Makasar-Bira ditempuh 3 – 3,5 jam, dan untuk jarak tempuh itu mobil yang kami tumpangi berhenti satu kali untuk makan siang. Sempat agak heran juga, karena biasanya kalau waktu tempuh termasuk pendek seperti ini angkutan umum tidak berhenti makan. Tapi okelah, karena pilihan warung makannya juga lumayan enak. Sop konro hangat pun jadi menu utama kami siang itu, yang kami nikmati di daerah Jeneponto.</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Mobil angkutan yang kami tumpangi ternyata “flexible” sekali. Selain berhenti makan siang, ternyata penumpang bisa bebas meminta pak supir untuk berhenti mampir dimanapun kita mau. Contohnya, ibu-ibu yang duduk disebelah saya dengan spontan meminta pak supir berhenti saat kami melewati penjual semangka dipinggir jalan. Iya, belanja semangka dulu!! Begitu mobil memasuki daerah Bulukumba, giliran si supir yang mampir dulu kerumah temannya untuk mengantarkan barang titipan. Setelah mobil jalan beberapa menit, kembali si supir mampir disalah satu rumah dan kali ini urusannya ternyata adalah jual beli mobil, sementara kami penumpangnya duduk resah kepanasan didalam mobil. Saya melirik teman saya, tampang jengkel sudah ada disana. Saat sabar nyaris hilang dan siap-siap untuk turun mobil memanggil si supir itu, diapun muncul dan langsung tancap gas. Bukan apa-apa, tapi yang bikin resah karena kami harus memburu waktu sampai di pelabuhan Bira kalau tidak mau ketinggalan ferry.</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Ferry penyeberangan berangkat dari pelabuhan Tanjung Bira menuju pulau Selayar hanya satu kali sehari, jam 15.30 sore (sedangkan kalau dari Selayar menuju Bira jam 10 pagi) dengan harga tiket Rp.17.500 per orang. Jadi kalau telat, silahkan anda menunggu sampai besok. Tanjung Bira ini indah, dengan barisan pohon kelapa dipinggir pantai dan air laut bening berwarna tosca. Keasikan memotret didaerah pintu masuk pelabuhan membuat saya dan teman saya tidak sadar kalau sudah waktunya ferry harus berangkat. Pernah diklakson’in ferry? Ya itulah kami, yang langsung lari pontang-panting begitu mendengar suara klakson (eh iya, kalau buat ferry namanya klakson atau apa ya?) berulang kali plus diteriakin sama awak kapalnya. Duh..mana dermaganya jauh lagi. Begitu mencapai pintu masuk ferry, dengan napas ngos-ngosan, badan basah kuyup keringatan, langsung pasang ekspresi bersalah dan berulang kali minta maaf. Nah lho, memang enak dipelototin orang satu kapal.</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Belum lagi hilang rasanya terombang ambing dikapal selama 24 jam, saat sehari sebelumnya saya menyeberang dari Balikpapan ke Makasar, sekarang ditambah 2 jam lagi diatas ferry menuju pelabuhan Pamatata di pulau Selayar. Rasanya sudah seperti si pelaut edan versi komik Asterix, Viking yang terkenal dengan topi tanduknya tapi suka bingung karena nggak tahu rasanya takut.</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Menjelang maghrib ferry merapat di dermaga pulau Selayar. Begitu turun ferry kami langsung berusaha cari ojek atau angkot yang bisa membawa kami ke kotanya. Tapi ternyata, tidak ada satupun ojek yang mangkal, angkot apalagi. Ternyata pelabuhan ini letaknya diujung pulau, sedangkan pusat kotanya masih berjarak +40 km lagi. Sekeliling hanya ada air laut, hutan dan pohon kelapa, sedangkan hari mulai gelap. God, ini benar-benar salah perkiraan. Kami tadinya mengira kalau pelabuhannya pasti nggak jauh dari pusat kota dan pasti banyak angkutan umum yang berseliweran dari pelabuhan ke kota. Ternyata…semua orang yang datang ke pulau Selayar ini sebaiknya naik bis tujuan Benteng (ibu kota kabupaten Selayar) yang berangkat dari Makasar, karena tak ada angkutan umum yang mangkal di pelabuhan. Akhirnya kami mendatangi bis yang sedang membongkar muatannya, dan menanyakan apa masih ada tempat kosong untuk kami berdua. Alhamdulillah ada, walaupun harus duduk diatas karung beras. Saya sempat takjub sendiri melihat muatan bis yang kami tumpangi, dari mulai beras, obat nyamuk, sapu ijuk sampai sepeda motor ada disana.</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Bis berjalan pelan dijalanan yg sempit, sementara diluar malam sudah turun dan praktis tak bisa menikmati pemandangan apapun. Sepertinya seluruh angkutan umum rute Makasar – Selayar memang sudah ditakdirkan untuk selalu flexible. Kali ini bis yang kami tumpangi harus keluar masuk kampung, mengunjungi rumah demi rumah untuk menurunkan barang-barang yang ada didalam bis, karena hampir seluruh kebutuhan penduduk di pulau ini dibawa langsung dari Makasar. Maka jadilah malam itu kami berwisata keliling pulau sambil membagikan barang-barang kesetiap warung yang ada. Kondektur bis pun sibuk menurunkan beberapa karung beras di rumah A, terus sapu ijuk dan rak piring diwarung B, menyusul mie instant dan obat nyamuk di rumah C, begitu terus sampai akhirnya bis pun kosong melompong. Total waktu 3 jam yg dihabiskan untuk itu semua, sudah termasuk acara ramah tamah, bercengkerama dan silaturahmi supir dan kondektur bis dengan pemilik warung. Kalau sudah begini tak ada gunanya lagi jengkel, hanya tinggal menikmati perjalanan dan kami pun cuma bisa tertawa didalam bis. Sampai akhirnya jam 9 malam bis itupun berhenti tepat didepan penginapan yang akan menampung kami malam itu. Well, pas 12 jam waktu yang kami tempuh untuk sampai di pulau ini, dan malam itu sebelum tidur harapan kami semoga alam yang akan kami lihat besok pagi tak mengecewakan.</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Awal yang baik. Pagi itu lagit biru cerah seolah menyambut kedatangan kami di pulau ini. Kami memutuskan untuk menggunakan jasa ojek untuk berkeliling di pulau ini, karena memang tak ada angkutan umum lain yang bisa digunakan.</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Selayar adalah satu-satunya kabupaten di propinsi Sulawesi Selatan yang berada ditengah lautan dan ibukota kabupaten adalah Benteng. Potensi wisata bahari yang dimiliki pulau ini sebenarnya sangat banyak, sayangnya pengembangannya terlihat belum dilakukan maksimal. Selama ini pertanian masih menjadi andalan utama perekonomian wilayah yang sering di sebut Bumi Tana Doang yang berarti bumi tempat memohon kepada Yang Maha Kuasa.</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Untuk kawasan pantai, ada daerah pantai barat dan pantai timur. Di sebelah barat ada pantai Baloiya yang terletak lebih kurang 9 km dari kota Benteng, dengan air yang jernih dan pasir putih. Disekitarnya terdapat beberapa pulau kecil dan gua yang menurut penduduk sekitar memiliki jalan tembus menuju laut. Sedangkan di daerah timur ada pantai Bone Tapallang yang berpasir putih dengan terumbu karang yang indah. Dapat diakses dari dermaga ferry Patumbukan dengan menggunakan perahu tradisional kira-kira 20 menit. Sebuah dive resort milik investor Jerman sudah ada di tempat ini. Masih dalam satu garis pantai dengan tempat ini ada Bone Sialla, tempat yang bagus untuk snorkeling. Desa wisata Jammeng yang terletak 4 km dari Bone Sialla juga menyuguhkan sunrise yang indah di pagi hari dan disana ada air terjun juga.</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Salah satu aset Kabupaten Selayar yang dikenal dunia adalah Taman Nasional Takabonerate yang terdiri dari 21 pulau-pulau kecil dan terletak di Laut Flores. Konon, Takabonerate merupakan karang atol terbesar ketiga di dunia setelah atol Kwajifein di kepulauan Marshal dan atol Suvadiva di Maldiva. Luasnya mencapai 220.000 hektar dan memiliki aneka biota laut yang termasuk spesies langka. Taka Bonerate dapat dicapai dengan menggunakan kapal motor selama 3 jam dari dermaga ferry Patumbukan. Namun fasilitas di tempat itu termasuk penginapan, masih sangat terbatas.</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Menjelang senja, hari itu kami akhiri dengan menikmati sunset yang indah di pelabuhan Benteng yang tak jauh dari hotel tempat kami menginap, sambil menyaksikan perahu – perahu nelayan merapat.</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Sayangnya waktu kami tak cukup untuk bisa berlama-lama menjelajahi sudut pulau ini, dan pukul 7 keesokan paginya kami sudah bersiap-siap di terminal bis yang akan membawa kami kembali ke Makasar. Tepat pukul 10 pagi, kapal ferry yang kami tumpangi mulai bergerak membelah lautan yang tenang meninggalkan Selayar, pulau yang masih harus banyak ‘berhias’ untuk menampilkan pesona bahari terbaiknya.*</span><br style="font-family: Verdana;" /><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">*Catatan:</span><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">- perjalanan dilakukan penulis pada 14-16 Agustus 2006</span><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">- Pemenang Lomba Penulisan Catatan Perjalanan di 2 tahun indobackpacker.com berhadiah Buku LonelyPlanet edisi Sout East Asia</span><br style="font-family: Verdana;" /></span><br />
Photo:</p>
<p></span></span><span style="font-family: Times New Roman; color: black; font-size: small;"><span style="font-size: 12pt; color: #000000;"><br />
</span></span><span style="font-family: Times New Roman; color: black; font-size: small;"><span style="font-size: 12pt; color: #000000;"><br />
</span></span><span style="font-family: Times New Roman; color: black; font-size: small;"><span style="font-size: 12pt; color: #000000;"><br />
</span></span><span style="font-family: Times New Roman; color: black; font-size: small;"><span style="font-size: 12pt; color: #000000;"><br />
</span></span><span style="font-family: Times New Roman; color: black; font-size: small;"><span style="font-size: 12pt; color: #000000;"><br />
</span></span><span style="font-family: Times New Roman; color: black; font-size: small;"><span style="font-size: 12pt; color: #000000;"><br />
</span></span><span style="font-family: Times New Roman; color: black; font-size: small;"><span style="font-size: 12pt; color: #000000;"><br />
</span></span><span style="font-family: Times New Roman; color: black; font-size: small;"><span style="font-size: 12pt; color: #000000;"><br />
</span></span><span style="font-family: Times New Roman; color: black; font-size: small;"></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2007/01/berlayar-ke-pulau-selayar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trekking di Jalan Aspal Taman Nasional Alas Purwo</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2006/06/trekking-di-jalan-aspal-taman-nasional-alas-purwo/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2006/06/trekking-di-jalan-aspal-taman-nasional-alas-purwo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekowisata / EcoTourism]]></category>
		<category><![CDATA[Trekking]]></category>
		<category><![CDATA[alas purwo]]></category>
		<category><![CDATA[banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[ngagelan]]></category>
		<category><![CDATA[rowobendo]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[karena kami di larang untuk bermalam di Plengkung, kami putuskan untuk trekking santai ke plengkung yang berjarak sekitar 9 km dari pancur, alamak trekking di jalan Aspal lagi nih, butuh waktu 3 jam perjalanan, dalam perjalanan kami bertemu dengan biawak, burung merak, ayam hutan&#8230; Siang yang panas, saya putuskan untuk berenang di pantai yang indah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.backpacker-indonesia.info/images/thumb/alaspuwo.jpg" border="1" alt="" width="121" height="81" align="left" />karena kami di larang untuk bermalam di Plengkung, kami putuskan untuk trekking santai ke plengkung yang berjarak sekitar 9 km dari pancur, alamak trekking di jalan Aspal lagi nih, butuh waktu 3 jam perjalanan, dalam perjalanan kami bertemu dengan biawak, burung merak, ayam hutan&#8230;  Siang yang panas, saya putuskan untuk berenang di pantai yang indah dan exotic ini,  sementara untuk melihat para surfer yang beraksi di Plengkung, terlalu jauh..<br />
<span id="more-128"></span><br />
Rencana untuk menjelajah taman nasional alas purwo di memory tercepat computer tetap di miliki manusia,masih juga masih tersimpan baik di otak kecil saya.  Ya, mimpi ini setelah melihat jadwal libur yang panjang, membulatkan tekad untuk datang dan mengenal lebih dekat tentang Taman Nasional Alas Purwo yang lebih dikenal dengan Alas Purwo saja.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang dari kawasan pegunungan Ijen yang memiliki pemandangan yang menakjubkan, juga membuat saya berpikir ulang tentang bagaimana cara bertahan hidup, begitu melihat aktifitas penambangan belerang yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam.</p>
<p>Kami bermalam di Hostel Anda di jember, dan pagi hari saya dan chipi pisahan dengan kawan-kawan menuju terminal bus jember untuk jurusan Banyuwangi.  Tarif nya lumayan Rp. 20.000 sekali jalan, lewat lintas selatan, membelah pegunungan meru betiri,  dalam perjalanan lintas hutan meru, banyak penduduk yang meminta-minta uang di setiap tikungan tajam, butuh waktu 3-4 jam perjalanan dari jember untuk sampai di banyuwangi.   Benculuk, ini jalur tercepat untuk sampai di Taman Nasional Alas Purwo, tapi karena saya ada janjian dengan teman asal Bandung, Nia namanya, dan belum pernah saya kenal sebelumnya.</p>
<p>Kami janjian ketemuan di kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo di Jl. Ahmad Yani 196 Banyuwangi, saya sekalian membutuhkan sedikit informasi tentang keberadaan Taman Nasional yang berada di Ujung Timur pulau jawa ini.</p>
<p>Taman Nasional alas purwo,  alas purwo = hutan pertama, di percaya sebagai cikal bakal hutan di pulau jawa,  Taman Nasional ini di tetapkan sebagai Kawasan Konservasi Alam yang merupakan sumber daya alam hayati juga untuk menjaga kelangsungan ekosistemnya, punya luas 43.420 ha masuk dalam dua wilayah kecamatan Tegal Dlimo dan kec Purwoharjo Kab. Banyuwangi.</p>
<p>Dalam penantian lama menunggu bus jurusan Banyuwangi-kali Pait, kami di tawari untuk carter mobil tua, seharga 150.000,-  diantar sampai ke RowoBendo, pos penjagaan untuk masuk kawasan Taman Nasional ini, tampa pikir panjang oke sajalah.<br />
Dalam perjalanan, pak sopir yang asli suku Osing, mampir ke Pom bensin membeli 5 liter bensin, lalu mampir ke Toko kelontong membeli 4 liter minyak Tanah!  Buat apa pak?  Untuk oplosan, wah.. Apakah mobil bisa jalan, katanya bisa.<br />
Dan dalam perjalanan, seorang pria tua, tidak bisa melihat (buta) memberikan sehelai kain yang saya agak sulit membacanya. Katanya untuk jaga-jaga di Hutan Alas purwo, untuk menghormatinya, ya saya terima dengan baik.</p>
<p>Dibutuhkan waktu perjalanan hampir 4 jam lamanya, tentu goyangan mobil tua merk Daihatsu ini, geredek2x, dan ternyata Pak Sopir belum pernah ke rowo bendo, hutan alas Puwo.</p>
<p>Menjelang Malam, minggu 28 may  kami akhirnya sampe juga di Pos rowo bendo dan setelah membeli tiket masuk Taman Nasional, Pak Suharto, kepala resort rowo menawari kami bermalam di pos nya. kami memutuskan bermalam semalam di Pos ini.  Menjelang malam, sambutan Babi dan beberapa ekor monyet, begitu dekat dengan kami.</p>
<p>Tidak banyak yang bisa di nikmati di Pos ini, ada warung yang menyediakan makan.</p>
<p>Pagi hari senin 29 mei 2006, burung-burung terlihat banyak sekali di sekitar pos, kami trekking pendek ke sadengan, tempat berkumpulnya kawanan banteng jawa, rusa, babi, burung merak,ayam hutan dan burung pemakan bangkai..butuh waktu sekitar 1 jam dari rowobendo, berjarak sekitar 5 km. ketika kami tiba di sadengan yang luas padang savana ini lebih dari 20 ha, tidak banyak terlhat banteng, mungkin kami datangnya siang hari. Pada pagi hari katanya hewan liar yang ada disini lumayan banyak..</p>
<p>Lalu perjalanan trekking di lanjutkan menempuh rute jalan setapak yang di kenal dengan jalur burung berkicau, dalam perjalanan santai ini, kicauan burung-burung terdengar di atas pohon-pohon tinggi, trekking ini menempuh sekitar 5-6 km hingga ke bibir pantai laut selatan lalu susur pantai sunglon Ombo, sampai ke pantai Triunggulasi, tempat tersedianya akomodasi bagi wisatawan yang bermalam dengan akomodasi, disini kami menemukan sekumpulan monyet dan beberapa ekor rusa yang sedang merumput di pinggiran pantai.</p>
<p>Dari triunggulasi, perjalanan di lanjutkan untuk melihat lebih dekat keberadaan Pura Giri selaka, yang di percaya oleh kalangan umat hindu sebagai tempat bersembahyang. Hampir setiap minggu ada yang datang ke pura ini, untuk melakukan kunjungan sembahyang di pura ini, umumnya berasal dari pulau Bali.</p>
<p>Setelah puas memotret di sekitar pura, menjelang siang kami kembali ke rowo bendo.</p>
<p>Setelah Makan siang di warung di pos rowobendo, kami packing dan siap melakukan perjalanan trekking di Jalan aspal menuju Pancur, saya lihat jaraknya 5 km dari pos rowobendo. Perjalanan trekking di jalan aspal, bikin bete, apalagi sesekali ada sepeda motor yang melintas, sepanjang perjalanan, kami menjumpai kawanan monyet dan kadang ada babi yang melintas, menakjubkan untuk saya yang kebetulan menyukai wildlife adventure, walaupun saya tidak suka dengan model trekking di jalan Aspal, 2,5 jam ternyata waktu yang kami tempuh.</p>
<p>Dan, malam ini kami putuskan bermalam lagi di Pos Pancur, pos ini terlihat ramai, apalagi pancur di kenal dengan pos terakhir tempat para pencari wangsit atau untuk bersemedi di Gua padepokan atau di gua istana.<br />
Sore nya saya menunggu sunset di pantai pancur, hmm..hmm.. Ngok-ngok, suara babi yang ternyata banyak sekali di sekitar pos ini.</p>
<p>Malam nya, kami di ajak Gufron, mahasiswa IPB yang sedang melakukan penelitian Macan Jawa untuk safari malam mencari macam di sekitar Batu lawang, malam itu kami sempat bertemu sepintas dengan Anak Macan, agak susah untuk bertemu macan yang lebih cenderung menghindari keberadaan manusia, lalu tengah malam kami bersantai di tepian pantai batulawang, deburan ombak menjadikan suara alam yang indah di gelapnya malam. Menjelang tengah malam, kami kembali ke Pos Pancur, setelah menunggu lama, ternyata tak ada satupun macan yang datang malam ini.</p>
<p>Selasa pagi, 30 mei 2006. karena kami di larang untuk bermalam di Plengkung, kami putuskan untuk trekking santai ke plengkung yang berjarak sekitar 9 km dari pancur, alamak trekking di jalan Aspal lagi nih, butuh waktu 3 jam perjalanan, dalam perjalanan kami bertemu dengan biawak, burung merak, ayam hutan&#8230;  Siang yang panas, saya putuskan untuk berenang di pantai yang indah dan exotic ini,  sementara untuk melihat para surfer yang beraksi di Plengkung, terlalu jauh.. Karena memang ombaknya jauh sekali dari bibir pantai.</p>
<p>Karena sore, dan cape juga trekking di jalan aspal,akhirnya kami bernego untuk minta di antarkan ke pancur dengan sepeda motor milik nelayan yang mencari ikan di sepanjang pantai plengkung.</p>
<p>Saya tidak melihat yang istimewa dari perjalanan ini, karena memang trekking nya di jalan aspal, mau lewat pantai, pasir gotri nya biki sakit di kaki, walapun masih ada lokasi lain seperti Ngagelan, tempat penetasan telur penyu semi alami dan tempat pemeliharaan tukik, tak sempat kami kunjungi, begitu juga beberapa gua di utara pos pancur juga tak sempat kami kunjungi, perjalanan ke alas purwo, selalu menyimpan kenangan tersendiri.</p>
<p>Pagi Harinya, Rabu 31 mei 2006 kami sudah siap packing, dan memutuskan untuk cari tumpangan Mobil Bak milik pengelola Resort surfing jungle camp.  Beruntung sekali pagi ini ternyata ada yang lewat dan bersedia memberikan tumpangan kepada kami,  sampai di Dam buntung- kali pait.</p>
<p>Dari kali pait, perjalanan kami lanjutkan dengan angkot menuju benculuk tariff nya Rp. 8000,- tampa pikir panjang, kami langsung naik,walaupun awalnya kami kepengen naik truk gerandong, truk asli made in indonesia. Dari Benculuk, sudah banyak Bus Umum jurusan banyuwangi &#8211; jember, lalu.., hmm..hmm.  Siang hari kami sampai di di jember lagi, dan di lanjutkan dengan Naik Bus Patas ke Surabaya.  Di surabaya, saya pisahan dengan Nia dan Chipi, mereka menuju stasiun Gubeng, saya memutuskan bermalam di Rumah yuda di surabaya.</p>
<p>Saya masih penasaran dengan Alas purwo, tapi rasanya akan asik kalau di jajal dengan bikepacking.</p>
<p>Travel tips:</p>
<p>transport<br />
Surabaya &#8211; Jember        Rp. 40.000<br />
Jember  &#8211; Benculuk    Rp. 15.000<br />
Bus AC            Rp. 20.000<br />
Benculuk &#8211; kali Pait    Rp.  8.000<br />
Kali Pait &#8211; Pasar anyar    Rp. 30.000 (ojeg)<br />
Pasar Anyar &#8211; Rowobendo    Rp. 20.000 (ojeg)<br />
Pasar Anyar-rowo bendo, bisa numpang losbak/truk kalau ada yang lewat<br />
Perijinan / org        Rp.  4.500,-</p>
<p>Akomodasi<br />
-di pos rowobendo        Rp. 100.000 / malam<br />
-Surfing Jungle camp     USD 30</p>
<p>Food<br />
- Ada warung Makan  di Pos Rowo Bendo dan Pos Pancur</p>
<p>Local guides<br />
Jagawana Guides        Rp. 75.000 &#8211; Rp. 150.000,- / days</p>
<p>More picture visit :http://odesya.multiply.com/photos/album/33<br />
More information for detail, please contact kunlun_it at yahoo.com.sg</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2006/06/trekking-di-jalan-aspal-taman-nasional-alas-purwo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghulu Sangatta, Singgah Mentoko</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2006/04/menghulu-sangatta-singgah-mentoko/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2006/04/menghulu-sangatta-singgah-mentoko/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Santoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[bontang]]></category>
		<category><![CDATA[kutai]]></category>
		<category><![CDATA[orang utan]]></category>
		<category><![CDATA[Sangatta]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Berapa orang yang akan pergi?&#8221; tanya suara di seberang telepon. &#8220;Lima orang&#8221; &#8220;Harus dua ketinting pak, karena muka air Sangatta sedang rendah.&#8221; Saya langsung ingat dalam 10 hari terakhir, sejak 14-Maret, hujan praktis tidak turun. Gerimis tipis kadang menyiram tanah namun tak akan berpengaruh banyak di muka air sungai. Dalam kondisi muka air rendah, kedalaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: xx-small;"><img src="http://www.backpacker-indonesia.info/images/thumb/mentoko.jpg" alt="" width="121" height="90" align="left" /><span style="font-size: x-small;">&#8220;Berapa orang yang akan pergi?&#8221;<br />
tanya suara di seberang telepon. &#8220;Lima orang&#8221; &#8220;Harus dua ketinting pak,<br />
karena muka air Sangatta sedang rendah.&#8221; Saya langsung ingat dalam 10<br />
hari terakhir, sejak 14-Maret, hujan praktis tidak turun. Gerimis tipis<br />
kadang menyiram tanah namun tak akan berpengaruh banyak di muka air<br />
sungai. Dalam kondisi muka air rendah, kedalaman sungai rerata hanya<br />
sekitar 1,5m.</span></span> </span><br />
<span id="more-103"></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Verdana;">Mentoko tidak setenar Taman Nasional Kutai.  Barangkali hanya segelintir peminat kegiatan alam bebas di luar Kalimantan Timur (Kaltim) yang pernah mendengar namanya.  Sebab pertamanya berpulang ke akses.  Untuk mencapai TN Kutai orang cukup memakai jasa angkutan umum yang melewati ruas Bontang &#8211; Sangatta.  Sangatta – Bontang berjarak 60-an km.  Letak site office TN Kutai ada di kilo 22 dari Sangatta walau kantor administrasinya ada di Bontang.  Sedang untuk mencapai Mentoko, calon pengunjung mesti menyewa ketinting, perahu kayu dengan penggerak motor tempel.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Ada baiknya diluruskan bahwa bagi warga sekitar TN Kutai di tepi jalan raya Sangatta – Bontang sering disebut Sangkimah.  Sangkimah ini baru satu dari tiga entry point ke TN Kutai bagi umum.  2 lainnya adalah Teluk Kaba dan Mentoko.  Masing-masing titik punya ciri khas.  Di Sangkimah bisa dilihat pohon ulin raksasa berdiameter 2,5 meter.  Usianya diperkirakan antara 5-10 abad!  Sebagai pembanding, di usia 6 tahun tinggi pohon ulin sekitar 1,7m, diameternya 1-2cm.  Menurut sebuah sumber, pertumbuhan maksimal diameter ulin hanya pada kisaran 0,5cm/tahun.  Jika Sangkimah murni kawasan hutan hujan tropis (rainforest), maka Teluk Kaba merupakan titik temu hutan hujan tropis dan hutan bakau (mangroves).  Pertemuan ini disertai berkumpulnya berbagai jenis satwa yang berhabitat di kedua jenis hutan.  Hutan bakau sejatinya memberi pelajaran bagaimana sebuah makhluk hidup mesti beradaptasi di lingkungan yang luar biasa sulit.  Lalu apa ciri khas Mentoko?</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: Verdana;">&#8220;Berapa orang yang akan pergi?&#8221; tanya suara di seberang telepon.  &#8220;Lima orang&#8221;  &#8220;Harus dua ketinting pak, karena muka air Sangatta sedang rendah.&#8221;  Saya langsung ingat dalam 10 hari terakhir, sejak 14-Maret, hujan praktis tidak turun.  Gerimis tipis kadang menyiram tanah namun tak akan berpengaruh banyak di muka air sungai.  Dalam kondisi muka air rendah, kedalaman sungai rerata hanya sekitar 1,5m.  Makin berat muatan makin dalam ’draft’ (bagian kapal di bawah muka air) ketinting.  Draft ini penting mengingat ketinting selalu memilih jalur terdangkal.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Jawaban spontan nan mekanis itu sekali lagi menegaskan (dan mengingatkan) vitalnya sungai.  Untuk Sangatta, di mana peran untuk sarana transportasi minim, rendahnya air sudah menyulitkan.  Bagaimana di jantung Kalimantan sana tempat transportasi air masih menjadi urat nadi?  Problem itu masih diperparah oleh penggundulan dan berlanjut dengan pendangkalan!  Hampir semua penduduk di pesisir Borneo tergantung pada air permukaan.  Mengapa bukan air tanah?  Di kawasan rawa tinggi air tanah, terlebih pada saat air pasang, hanya 1-2 meter di bawah permukaan tanah.  Kualitasnya sama buruknya.  Jadi tak ada alasan untuk repot-repot menggali sumur. </span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Dengan 2 ketinting kami mesti mencari tambahan personil.  Dalam tempo kurang dari sejam 2 teman lain bergabung.  Jadilah kami bertujuh, 2 di antaranya cewek.  Meski acara santai bukan berarti keselamatan boleh di-nomor-duakan.  Life vest yang ada baru 4 dan 3 sisanya kami pinjam dari klub diving.  Sewa ketinting kini 300 ribu per hari.  Harga ini melejit 3x lipat dibanding 10 tahun silam.  Krismon, inflasi, naiknya harga BBM berulang kali, dan tingginya biaya hidup di Kaltim menjadi sutradara di balik peristiwa itu.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">*****</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Sabtu, 25-Maret-2006, pagi, kami telah siap di Papa Charlie.  Meski hanya dermaga lokal nama Papa Charlie (PC) tertera di dalam panduan rough guide!  Dalam keadaan bermuatan, ketinting dari dermaga Sangatta Lama perlu waktu 2 jam untuk sampai di PC.  Tanpa penumpang mestinya lebih cepat.  Harga sewa di depan adalah jika dihitung dari Sangatta Lama.  Kami menunggu di PC demi menyingkat perjalanan.  Sekitar 08.10 WITA, suara mesin diesel lamat-lamat terdengar dari kelokan sungai sebelah hilir.  2 ketinting nampak mendekat dan akhirnya merapat.  Kami tidak langsung berangkat.  ”Tunggu sesaat pak biar mesinnya agak dingin,” kata salah satu sopir ketinting.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Selang 10 menit kami telah meluncur menghulu.  Di tebing kiri kanan jelas terekam jejak tegas muka air sungai tertinggi.  Dengan kondisi saat itu ada selisih 2-3 meter.  Walau tidak terlalu dalam, bukan berarti bahaya sirna.  Di bawah muka air yang kecoklatan itu bersembunyi buaya keluarga salt water crocodile.  Dalam 10 tahun terakhir, di Sangatta tercatat 2 orang tewas dimakan buaya.  Salah satunya bahkan terjadi di tepi sungai yang besarnya tak sampai separuh sungai Sangatta.  Panjang buaya predator lebih dari 4 meter.  Lewat jasa pawang, buaya itu ditangkap, perutnya dibedah, mutilasi tubuh manusia diambil untuk dimakamkan selayaknya, lalu diawetkan.  Si monster Sangatta itu kini dipajang di museum Tenggarong.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Mendung yang sejak subuh bergayut bersalin rupa dalam gerimis.  Setiap kali titik air dari langit menyentuh permukaan sungai, riak kecil tercipta.  Riak itu langsung terurai terbelah lunas ketinting.  Di tebing kiri beberapa ekor biawak pulas di gosong pasir.  Binatang yang biasanya peka suara itu seakan tak terusing bising diesel di ekor ketinting.  Di tebing kanan seekor burung berayun ritmis ranting ke ranting.  Sekitar 50 meter burung itu menyebelahi kami sebelum menghilang di balik pepohonan.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">”San .. which one the national park, left side or right side?” tanya rekan ekspat yang duduk tepat di belakang saya.  “On the left side &#8230; Sangatta river is north border of the national park.”  Setelah sekira sejam di atas ketinting ia pun berkomentar, “I think the national park is practically lost.”  Saya menyahut, “Yes .. correct, mainly because of illegal logging.”  Dibanding kali pertama menghulu sungai Sangatta 1996 lalu, di kiri-kanan sungai terlihat perubahan menyolok.  Pohon-pohon bernilai ekonomi tak lagi tegak.  Rusak-binasanya ekosistem pun kian telanjang.  Tidak terhitung lagi pohon-pohon di tebing roboh.  Tanah tempat akarnya tertanam tak lagi kuat menahan beban lantaran digerus air.  Di kala air tinggi, pohon-pohon itu tersapu ke tengah alur.  Itu sebabnya, selain batu cadas alami dan singkapan seam batubara, di banyak tempat dari bawah air mencongak batang-batang pohon mati.  Tentunya batang-batang itu menahan sebagian material endapan yang terbawa air.  Proses ini berlanjut dan pendangkalan pun tak terhindarkan.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Masih ada lagi musuh lingkungan yang sama bahayanya: tambang liar.  Sejarak 20-an meter dari tebing kanan, sebuah bukit tegak tanpa daya dengan luka menganga.  Kepalanya masih dirimbuni belukar, tapi ’mudstone’ di perut dan kakinya yang telah dicabik-cabik excavator.  Penambangan mudstone ini tak lagi mengindahkan keselamatan.  Pada penambangan terencana, untuk tinggi jenjang 10m kemiringan tunggal maksimum yang diijinkan adalah 70 derajad.  Bila jenjang berurutan kemiringan totalnya 35 derajad.  Tinggi bukit yang sudah koyak dikupas itu tak kurang dari 40m.  Jangankan dibuat berjenjang per 10 meter, malah kemiringannya pun sudah minus alias menjorok ke dalam!  Keruntuhan itu serasa tinggal menunggu waktu.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Di arah depan telah muncul gugusan batu-batu besar.  Tak salah lagi itulah keiham (katarak) pertama.  Berapa kali saya menghulu sungai Sangatta tak sekalipun pernah lolos darinya.  Ketinggian air di keiham tak sampai selutut tapi arus deras meliar.  ”Bisa lewat dari sini?” penasaran saya sampaikan.  Jawabannya tertelan deru mesin.  Si pengemudi memosisikan ketinting melintang.  Anjungannya nyaris menempel batu-batu besar di pinggir, buritan menghalau arus deras.  Mesin meraung keras, saya sempat kuatir ketinting terbalik.  Perlahan anjungan bergeser ke tengah, menghadang arus dan akhirnya keiham terlewat.  Ini buah dari sekian kali upaya.  Ketinting lain, meski penumpangnya hanya 3, ternyata tak lolos.  Penumpang jalan kaki menyeberang keiham, ketinting lewat dengan hanya berpenumpang pengemudinya.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Selewat keiham pertama semak di kiri-kanan tambah rapat meski pokok-pokok besar tetap langka.  Gerimis telah berhenti mengucur.  Langit mulai cerah meski matahari belum sudi menampakkan wajah.  Sekilas kian hulu baik kedalaman maupun lebar sungai nyaris tidak berbeda.  Setengah jam dari keiham pertama tibalah kami di keiham kedua.  Keiham ini lebih panjang.  “Bisa lewat dari sini kalau airnya 3 meter, pak,” kata pengemudi sambil menepikan ketinting.  3 meter di sini berarti banjir besar di hilir sana!  30-an meter antara perhentian ketinting hingga ke keiham kedua mesti naik-turun meniti tebing licin.  3 rekan kami, yang mana menghulu Sangatta ini pengalaman pertama mereka, terlihat sangat bersemangat.  2 rekan cewek memilih mendarat tanpa susah payah ke keiham, memuaskan hobby memotretnya. </span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">******</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Sekira sejam kemudian kami telah balik kanan menghilir.  Menghilir selalu lebih cepat karena mengikuti arus.  Itu masih dilengkapi waktu psikologis di dalam tubuh yang merasa perjalanan pulang selalu lebih cepat dibanding berangkatnya.  Potongan kayu tempat penambatan ketinting di Mentoko nampak menggantung.  Ada 3 ketinting lain bersandar.  Di langit, awan menyingkir dan giliran terik matahari khatulistiwa menyapa.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Begitu tebing sungai terdaki, di belakang kayu tambatan terhampar board walk, titian dari kayu ulin.  Titian ini bercabang 2 (lihat peta).  Ke kiri menuju pondok pusat informasi (PI), terus ke arah pondok stasiun penelitian (SP).  Di sekitar pertigaan dipasang papan penunjuk bahwa sejak 2002/2203 lokasi itu berstatus kawasan rehabilitasi hutan bekas terbakar.  Proyek kerjasama WWF dan Balai TN Kutai ini meliputi areal 200 ha.  Memang berkali-kali TN Kutai terbakar (atau dibakar (?)), namun adanya proyek rehabilitasi adalah informasi baru.  Selama ini saya tahu sebatas Mentoko sebagai tempat penelitian orangutan oleh pakar Jepang Akira Suzuki.  Tentang aktivitas Prof. Suzuki saya temukan artikel pendek di nomor lama buletin internal.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">&#8230;&#8230;.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">”Tugas utama kami adalah mengamati gerak-gerik sekitar 50 orangutan yang ada di sekitar Mentoko,” kata Encah, salah satu asisten yang baru 16 hari bersama Prof. Suzuki.  Dari pengamatan para asistennya di lapangan inilah Prof. Suzuki dan rekannya di Jepang menyusun karya tulis.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Dari sekitar 50 orangutan yang hidup di wilayah Mentoko, hanya 5 yang terus menerus mereka ikuti dan menjadi obyek penelitian mereka.  Kelima orangutan itu adalah Dekong, Wiwik, Anna, Ida, dan Bill.  ”Kami mengamati kehidupan kelima orangutan ini dari saat mereka bangun hingga tidur,” tutur Encah ketika ditemui di tempat Dekong berada, sekitar setengah jam berjalan kaki dari PI.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">&#8230;&#8230;. (Kabara, buletin internal perusahaan, Desember 1997, hal. 13)</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Berjam-jam di atas ketinting adalah melelahkan.  Punggung tak bisa sandar, sementara kaki tak bisa diluruskan.  Sampai di pondok PI rombongan segera meredakan nyeri di punggung dan kaki.  Pondok PI buatan 1994 ini dibangun 2 lantai.  Kata yang berjaga, bisa menampung 10 penginap.  ”Kapan penelitinya datang ke sini, Pak?” saya coba mengorek keterangan.  ”Paling banter 6 bulan sekali.  Mereka mengambil rekaman dan membayar gaji kami.”  ”Sering orang luar nginap?”  ”Sesekali saja pak, biasanya dari Balikpapan.”</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Meluruskan kaki tentu tak lengkap tanpa mencoba rute ’Kancil’ mengitari prevab.  Kancil ini istilah resmi TN Kutai untuk menyingkat Pendidikan Cinta Lingkungan.  Walau tak selebat hutan primer beberapa jamur aneh tumbuh di kiri-kanan jalan setapak.  Begitu juga serangga berhidung panjang yang tak kami ketahui nama lokal apalagi nama ilmiahnya.  Bagaimana dengan saudara tua yang hidup di atas pohon?  Mengutip keterangan penjaga, untuk bertemu makhluk yang 97% gennya serupa manusia ini perlu ’blasakan’ 1-2 jam menusuk jantung hutan.  Yang ditemui di rute ’Kancil’ hanya bekas tempat bermalam orangutan.  Seperti Yasser Arafat atau Xanana Gusmao bergerilya, orangutan tak pernah tidur di ranjang yang sama!  Kendati hanya sekitar 1,5km rute ’Kancil’ cukup menghibur; ada jalan tanah, jalan memintas semak, jembatan kayu, jembatan gantung kabel, dan titian dari balok utuh.  Titian yang lumayan lebar ini ditumbuhi jamur.  Untuk menghindari tergelincir kami melewatinya dengan jalan sembari jongkok.</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Di luar tujuannya yang serba positif, kawasan prevab Mentoko juga memberi bukti sulitnya hal-hal negatif dihindari.  Perambahan, pembalakan, perburuan satwa liar terus berlangsung dan rasanya muskil dihentikan.  Bahkan brosur dari TN Kutai mencium kemungkinan kasus pencurian genetis.  Di buletin internal edisi awal 1997 pernah terlontar keraguan atas eksistensi TN Kutai dalam 10 tahun mendatang.  9 tahun kemudian keraguan itu tertepis meski luas hutan alami TN Kutai mengalami penyusutan drastis.  Jika pertanyaan serupa kita lontarkan, adakah TN Kutai bisa dinikmati 10 tahun ke depan saat lagu-lagu Peterpan menjadi tembang nostalgia?</span></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: Verdana;" /><span style="font-family: Verdana;">Sangatta, 4-April-2006</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2006/04/menghulu-sangatta-singgah-mentoko/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bako National Park Sarawak</title>
		<link>http://www.indobackpacker.com/2005/07/bako-national-park-sarawak/</link>
		<comments>http://www.indobackpacker.com/2005/07/bako-national-park-sarawak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erwin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[bako]]></category>
		<category><![CDATA[kuching]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[serawak]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Menurut petugas di VIC, kalau ingin camping bisa langsung mendaftar di TN Bako. Kami memang tidak ingin menginap di hostel yang tersedia di taman nasional.Kalau ingin menginap di penginapan taman nasional, memang harus booking dulu di sini. Setelah mendapatkan informasi, kami mulai berjalan ke terminal Petra Jaya untuk mencari bus umum tujuan Bako. TN Bako [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: verdana;">Menurut petugas di VIC, kalau ingin camping bisa langsung mendaftar di TN Bako. Kami memang tidak ingin menginap di hostel yang tersedia di taman nasional.</span><br style="font-family: verdana;" /><br style="font-family: verdana;" /><span style="font-family: verdana;">Kalau ingin menginap di penginapan taman nasional, memang harus booking dulu di sini. Setelah mendapatkan informasi, kami mulai berjalan ke terminal Petra Jaya untuk mencari bus umum tujuan Bako. TN Bako jaraknya masih 37 km dari kota Kuching. Dengan menggunakan bus, satu jam kemudian kami sudah berada di Bako Bazaar, Kampung Bako. Di sekitar dermaga, terdapat banyak warung dan restoran. Bis pariwisata dan minibus untuk turis, tampak parkir berderet menunggu tamu yang kembali dari taman nasional. Untuk menuju gerbang taman nasional, masih harus menggunakan perahu motor yang tarifnya sudah ditentukan. </span></span></p>
<p><span id="more-82"></span><br />
<span style="font-size: x-small;"><br style="font-family: verdana;" /></span><span style="font-size: x-small;"></span><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: verdana;">Tiba-tiba mesin perahu motor yang kami tumpangi dimatikan. “Perkenalkan, nama saya Taruna,” kata si tukang perahu membuka percakapan. Saya dan Simon juga saling memperkenalkan diri. Saat itu perahu baru saja keluar dari muara Sungai Bako dan mulai menyentuh Laut China Selatan. Ombaknya sedang tenang, jadi tidak perlu menggunakan pelampung yang sudah tersedia di atas perahu. Jauh di hadapan kami, tampak Gunung Santubong yang berketinggian 810 meter dan terkenal memiliki pantai yang indah. Setelah memberikan sedikit gambaran tentang lokasi sekitar, Pak Taruna kembali menghidupkan mesin perahunya. Sebentar lagi perahu akan merapat di Jetty Point Taman Nasional Bako. </span><br style="font-family: verdana;" /><br style="font-family: verdana;" /><span style="font-family: verdana;">Taman Nasional Bako adalah salah satu taman nasional yang tertua dari sekian banyak taman nasional di Sarawak, Malaysia Timur. Hari pertama saya dan Simon tiba di Kota Kuching, kami langsung bergegas mencari informasi untuk menuju lokasi. Sebelum mengunjungi TN Bako, kami disarankan untuk mendaftarkan diri di Visitors’ Information Centre (VIC) Kuching. Sesuai petunjuk Chan, pemilik penginapan di Kuching yang kamarnya sudah kami booking untuk keesokan harinya, kami cukup berjalan kaki saja menyusuri Water Front City. Dengan bermodal selembar peta kota, ditambah sedikit tanya sana-sini ke pejalan kaki, akhirnya ketemu gedung yang dimaksud. Sebenarnya tidak terlalu jauh, namun karena sambil memanggul ransel yang berat, cukup menguras tenaga. Gedung VIC merupakan bangunan tua peninggalan Inggris, lebih mirip istana karena pilar-pilarnya yang tinggi. Berseberangan dengan VIC, ada Water Front City yang sepanjang hari menjadi tempat bersantai semua kalangan. Tempatnya sangat teduh, dengan trotoar yang cukup luas untuk pejalan kaki. Kalau malam, separuh trotoar dimanfaatkan untuk kafe-kafe tenda. Water Front City letaknya di tepi Sungai Sarawak. Sarana angkutan air dengan perahu masih digunakan untuk ke kampung seberang atau pariwisata.</span><br style="font-family: verdana;" /><br style="font-family: verdana;" /></span><span style="font-size: x-small;"></span><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: verdana;">Menurut petugas di VIC, kalau ingin camping bisa langsung mendaftar di TN Bako. Kami memang tidak ingin menginap di hostel yang tersedia di taman nasional.</span><br style="font-family: verdana;" /><span style="font-family: verdana;">Kalau ingin menginap di penginapan taman nasional, memang harus booking dulu di sini. Setelah mendapatkan informasi, kami mulai berjalan ke terminal Petra Jaya untuk mencari bus umum tujuan Bako. TN Bako jaraknya masih 37 km dari kota Kuching. Dengan menggunakan bus, satu jam kemudian kami sudah berada di Bako Bazaar, Kampung Bako. Di sekitar dermaga, terdapat banyak warung dan restoran. Bis pariwisata dan minibus untuk turis, tampak parkir berderet menunggu tamu yang kembali dari taman nasional. Untuk menuju gerbang taman nasional, masih harus menggunakan perahu motor yang tarifnya sudah ditentukan. Satu perahu motor dapat memuat enam orang. Jadinya, kami harus menunggu muatan penuh. Satu jam berlalu, tidak ada satupun penumpang. Karena sudah kesiangan, terpaksa naik perahu dengan tarif carter RM 40. Perjalanan dengan perahu hanya dua puluh menit.</span><br style="font-family: verdana;" /><br style="font-family: verdana;" /></span><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: verdana;">“Welcome to Bako,” Mungkin itu yang ada di benak monyet-monyet dan babi hutan yang ‘menyambut’ kami saat baru melangkahkan kaki di taman nasional. Saya dan Simon cukup kecut melihat pemandangan ini. Kami langsung siaga. Masing-masing memegang satu tongkat untuk menghalau serangan babi. Saat mendaftar di loket taman nasional, kami sedikit lengah. Ransel dan snack dalam kantong plastik, kami letakkan di lantai. Gak nyadar seekor monyet nyolong minuman kaleng yang ada.</span><span style="font-family: verdana;"> Kami baru sadar setelah melihat ceceran air di dekat ransel yang ternyata menuju ke arah monyet. Si monyet lagi asyik nenggak minuman kaleng. Tetapi caranya ?</span><br style="font-family: verdana;" /><span style="font-family: verdana;">bukan membuka lewat bagian atasnya, melainkan dengan merobek bagian tengah kalengnya. Monyet-monyet di sini memang ganas. Kami khawatir kalau tenda kami sobek karena ulah monyet-monyet yang ingin cari makan. Niat nge-camp harus diurungkan. Lokasi tempat camping memang agak riskan dari serangan binatang, walaupun sudah dikelilingi oleh pagar untuk menghalau babi hutan. Kami beruntung, masih tersedia kamar kosong kelas dormitory di hostel. Dari empat tempat tidur yang ada, hanya kami yang mengisi. Sementara di kamar-kamar sebelah kami sudah penuh terisi turis.</span><br style="font-family: verdana;" /><span style="font-family: verdana;">Kalau membawa logistik, di hostel juga tersedia kulkas dan dapur untuk memasak. </span><br style="font-family: verdana;" /><br style="font-family: verdana;" /></span><span style="font-size: x-small;"></span><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: verdana;">Ada beberapa Trail atau lintasan untuk melakukan trekking di sekitar taman nasional. Jarak terpendek menurut hitungan waktu, mulai setengah jam sampai delapan jam jalan kaki. Taman nasional di sini dikelola sangat professional. Fasilitas untuk pengunjung benar-benar diperhatikan dan semuanya tersedia. Mulai dari toilet, kamar penginapan bermacam kelas, kafetaria yang selalu buka sampai jam makan malam, ruang audio visual untuk informasi, dan tempat ibadah. Trail-trail jalan setapak bersih dari sampah dan dibuat sejelas mungkin, jadi gak perlu takut nyasar walau tanpa ditemani guide. Di beberapa bagian jalan menanjak, dilengkapi tangga kayu sehingga pengunjung, baik anak-anak maupun manula masih bisa melintas.</span><br style="font-family: verdana;" /><br style="font-family: verdana;" /></span><span style="font-size: x-small;"></span><span style="font-size: x-small;"><span style="font-family: verdana;">Proboscis monkey juga dijuluki sebagai ‘orang belanda’</span><br style="font-family: verdana;" /><span style="font-family: verdana;">karena monyet ini berbulu bule dengan hidungnya yang besar dan mancung, banyak ditemui di Taman Nasional Bako. Saat kami sedang berjalan di dalam hutan, terlihat beberapa ekor sedang bergelantungan. Malahan, di sekitar hutan mangrove pinggir laut, kami sempat melihat ratusan Proboscis berhamburan menjauh karena tahu sedang diamati pengunjung. Waktu yang kami miliki sangat singkat, hanya sehari. Gak mungkin menjajal semua jalur. Trail Tanjung Sapi sangat menarik buat kami. Dari pucak sebuah bukit, kami bisa bersantai di pos peristirahatan sambil memandang ke arah pantai di bawahnya, perbukitan, dan Laut China Selatan.</span><br style="font-family: verdana;" /><span style="font-family: verdana;">Lintasannya cukup berat, banyak jalan menanjak.</span><br style="font-family: verdana;" /><span style="font-family: verdana;">“Hitung-hitung pemanasan sebelum menjajal tanjakan Gunung Kinabalu,” pikir kami. Dua hari lagi, kami akan terbang ke Kota Kinabalu untuk mendaki gunungnya.</span><br style="font-family: verdana;" /><br style="font-family: verdana;" /><span style="font-family: verdana;">Setelah sarapan di kafetaria, kami mulai packing dan bersiap akan kembali ke Kuching. Tetangga kamar kami, sepasang Backpacker dari Inggris menawarkan untuk sharing ongkos perahu motor. Ide yang bagus!. Sewaktu berangkat ke sini, kami tentu harus merogoh kocek lebih dalam karena tidak ada penumpang lain, tapi kali ini……”hmm, lumayan lah !!” Roger dan pasangannya sedang ber-backpacking selama dua belas bulan. Saat itu sudah memasuki bulan kelima dari perjalanannya sebelum terbang ke Bali dan Lombok melalui Kuala Lumpur. “Your currency is very strong!” kata Simon.</span><br style="font-family: verdana;" /><span style="font-family: verdana;">Mata uang manapun memang tidak ada apa-apanya terhadap Pounds. Di Kuching, rupanya mereka menginap di penginapan yang sama dengan kami.</span><br style="font-family: verdana;" /><br style="font-family: verdana;" /><span style="font-family: verdana;">Erwin</span><br style="font-family: verdana;" /><br style="font-family: verdana;" /><span style="font-family: verdana;">foto-foto</span><br style="font-family: verdana;" /><span style="font-family: verdana;">http://eyulianto.multiply.com/photos</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indobackpacker.com/2005/07/bako-national-park-sarawak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
