Tag Archives: tarif-penginapan-dumai

[indobackpacker] Ngumpulin temen2 jalan bareng..

Jalan sendiri, berdua, bertiga atau berbanyak masing-masing punya plus-minus.  Meski sendiri berangkat dari rumah, di jalan pasti akan ketemu teman.  Justru jika jalan sendirian, kondisi memaksa kita untuk berbaur dengan lingkungan sekeliling.  Kerepotan kadang muncul jika bawaan lebih dari 1 dan panggilan alam untuk ke kamar kecil tak bisa ditunda.  Tapi untuk itu ada solusi yakni coba cari warung yang agak lumayan besar yang membolehkan kamar mandinya dipakai pembelinya.  Di sana akan ada one-stop-service yang cukup menghemat waktu.  Sekalian makan, bisa ke kamar kecil, dan barang ada yang nunggu.  Jalan sendiri juga tidak ‘terlalu memberatkan’ jika ada kenalan di jalan yang menawarkan tumpangan.  Kalau mau naik gunung, karena dalam segala hal harus ’safety first’ ya jangan sendiri.  Tunggu saja di pos pendakian, siapa tahu akan ada ‘teman sejalan’.
Dulu paling sering saya jalan berdua.  Mengingat saat itu belum ada yang namanya buku panduan, internet, warnet, wartel, ATM, bahkan tabungan antar-cabang, semuanya serba meraba-raba namun bukan berarti nekad.  Kami tetap melakukan persiapan kendati materinya minim.  Paling banter kami berbekal peta, hitungan jarak kasar, perkiraan ongkos angkutan berdasarkan ongkos di Jawa dikalikan 1,5-2, perkiraan waktu tempuh, guntingan tulisan di media massa, cerita kenalan yang pernah ke tempat yang akan kami tuju, atau malah cerita dari orang asli daerah tujuan.  Perjalanan ke tujuan kami perlakukan sebagai ‘survei tambahan’.  Di dalam angkutan, di terminal, di atas ferry, di atas kapal (mana punya uang waktu itu untuk beli tiket pesawat), saya dan teman lebih sering berpencar dan duduk terpisah.  Saya mencari informasi begitu juga dengan dia.  Bisa jadi karena banyak hal-hal tak terduga, misalnya (waktu itu) antara Lombok – Sumbawa hanya ada kapal kayu, romantika perjalanannya sulit dilupakan.
Dengan kondisi ‘prasarana pendukung’ seperti di atas (paragraf 2) jalan bertiga atau dengan lebih banyak orang, seringkali malah ‘kurang produktif’.  Bisa jadi di antara rombongan yang punya ‘bakat’ jalan hanya 1-2 orang sedang yang lainnya bakatnya jadi bos .. he-he.  Alhasil yang aktif bertanya dan mencari informasi hanya 1-2 orang itu.  Sisanya menggerombol dan hanya ngobrol di kalangan sendiri.  Kesannya, mereka maunya terima bersih.  Saya percaya, setelah adanya banyak kemudahan (telepon seluler, berbagai komunitas sehobi) hal-hal negatif dari ‘pergi berombongan’ banyak sekali berkurang.
10 tahun belakangan saya rutin jalan berdua (dengan mantan pacar) lalu bertiga (plus anak).  Meski sekeluarga, tidak berarti tidak ada masalah.  Kami kadang berdebat menentukan prioritas, belum lagi anak yang maunya berbeda.  Juni 2008 lalu di Podrang Potala, baru dapat setengah jalan saat mendaki ratusan anak tangga ke istana putih anak minta turun!  Ya terpaksa istri mengalah.  Dia turun menemani dan menunggu.  Karena hampir selalu dengan keluarga, jika jalan sendiri malah terasa ‘ada yang hilang’.  Jika melihat atau menemui sesuatu yang menarik, saya hanya menikmatinya sendirian sedang keluarga hanya mendengar ceritanya.  Saat terbang dengan pesawat ‘capung’ di atas garis-garis misterius di pampa Nazca, pikiran saya melayang ke Sangatta yang jauhnya separuh bola bumi.  Anyway, bisa jalan dengan keluarga itu anugerah yang harus disyukuri.  Yang pasti, jika jalan dengan keluarga ‘tidak ada lagi pembicaraan tentang uang’.
Salam dari Sangatta 3-Januari-2009

________________________________ From: Ambar Briastuti To: indobackpacker@yahoogroups.com Sent: Saturday, 3 January 2009 1:00:55 Subject: Re: [indobackpacker] Ngumpulin temen2 jalan bareng….(was Re: Sikuai …)
Saya jarang sekali backpacking berombongan. Maksimum bertiga, paling sering berdua. Namanya ngumpulin temen untuk jalan apalagi backpacking ada resiko2 seperti terjadi konflik. Yah namanya orang Jawa- yang suka menghindari konflik agar terlihat harmonis (cieee….jadi inget alm Pak Harto), saya memilih bicara terus-terang (anomali tapi Penataran P4 itu yang ngajarin). Entah sebelum, ditengah atau setelah backpacking sebaiknya konflik dibicarakan. Intinya sih ngga boleh ada hard feeling.
1. Menyatukan tujuan itu susah banget. Ada yang pasang target kudu menjelajah sebanyak mungkin negara (tempat), ada yang disesuaikan dengan budget dan waktu yang ada. Soal persiapan sendiri terkadang udah muncul benturan. Cuman emang kudu sebisa mungkin kompromi dan terbuka. Klo saya memperlakukan sebagai individu yang merdeka, bebas untuk pergi dan tidak setuju.
2. Pelajaran berharga adalah masalah duit. Yang namanya ‘trust’ itu emang muahal, lebih mahal dari biaya perjalanan itu sendiri. Dan ‘trust’ itu seperti harga bensin. Bisa naik turun berdasar kondisi :)
3. Ngomong jujur itu terkadang menyakitkan. Tapi ya ituh kembali ke pribadi. Apakah konflik itu dikubur untuk selama-lamanya, simpan dendam hingga akhir hayat, atau sebagai proses pembelajaran? well, enaknya ngomong di depan daripada dibelakang. Secara kentut itu or apapun yang di belakang baunya lebih ngga enakkan :)
4. Emang kudu ditentukan dulu ‘hirarki’ backpacking seperti apa, terlebih sampe berombongan. Siapa jadi leader (tapi bukan berarti EO otomatis Leader loh), siapa bendahara, dan siapa bagian ketebelece. Kalau ngga jelas, bakal jadi sumber masalah. Kok di anu kerjanya dikit sih, kok si itu cuman perintah-perintah. Pola backpackingnya juga perlu ditentukan di depan. Apakah seperti tur itu yang udah bayar terpaksa kudu ngikut sampe selese, atau ada kebebasan untuk keluar kapan aja.
5. Ada satu karakter backpacker yang susah saya temukan seperti yang dicontohkan Al Amin, yakni “satunya kata dengan perbuatan”. Bagaimanapun konflik adalah manusiawi. Cuman gimana sih nyelesein konflik itu loh rasanya yang lebih penting. Dan lagi mengaku salah dan meminta maaf itu sungguh mulia. Backpacking itu bukan pertarungan super-ego.
6. Yups masih pada bingung antara travelling dan backpacking. Konsepnya masih aja bingung. Pokoknya klo jalan dengan superhemat itu namanya backpacking. But the demand still in high end facilities (McD, KFC, Starbuck, dianter kemana-mana -apa bedanya sama tour yaks, Sinyal kuat -ngabarin keselamatan itu penting tapi tech-savy juga perlu istirahat..he he). Klo aku sih gini Ris, “Warung Starbuck terdekat adalah berjarak 120km dari sini, arah Surabaya. Jadi silakan jika ingin kesana untuk dapet wi-fi gratis. Biaya dan transport ditanggung sendiri”.
7. Beberapa tahun ini saya backpacking berdua dengan mantan pacar. Yah konflik mah selalu ada, tapi kalau adem ayem jadi boring banget . Tapi biasanya siapa yang jadi leader itulah yang bertanggung jawab, dan leader itu tidak berarti si mantan pacar (aka cowok). Perannya kudu interchangeable berdasar pengetahuan dan kemampuan tempat yang kita tuju. Kembali itu tadi ‘conflict management’ dan kelegaan atas peran masing2.
Tips terakhir Om Pug juga sempet saya praktekkan. He he he manjur dah, cuman siap-siap dicap antisosial. Ternyata punya kacamata kuda itu lebih enak :)
Salam,
Ambar Briastuti www.ceritaambar. com | ym : ambar_briastuti | Adventures. Backpacking. Photography.
On 1 Jan 2009, at 23:42, puguh_imanto wrote:
Saya sendiri gak demen jalan dengan EO ato apapun namanya kecuali ada potensi penghematan biaya. Yang paling tidak menarik kalo jalan banyakan adalah akhirnya rame dengan gosip sesama peserta perjalanan dan jadi memperhatikan rekan baru selama perjalanan dibanding memperhatikan apa yang ada di tempat tujuan.
Satu tips terakhir adalah; maintain a certain degree of autism, you travel together for the sake of the destination and cost saving…hell with others! hehehe…
Ada yang mo nambahin gimana cari temen jalan2?
Tabik, Puguh
Recent Activity *  94 New MembersVisit Your Group Yahoo! News Odd News You won’t believe it, but it’s true Yahoo! Finance It’s Now Personal Guides, news, advice & more. Y! Groups blog the best source for the latest scoop on Groups. .
Get your preferred Email name! Now you can @ymail.com and @rocketmail.com http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/
[Non-text portions of this message have been removed]